Narsisme, Akar Kekerasan (Dinamika “Tawuran” dan Kekerasan)

NARSISME, AKAR KEKERASAN (DINAMIKA “TAWURAN” dan KEKERASAN )

Dunia internet utamanya FB, Twitter, BBM adalah ajang kita ber Narsis ria. Lihat saja…rata-rata bagaimana yang kita tulis di wall, foto-foto kita, note dst.  Semua hal dan gambar diri yang kita sodorkan di wilayah public, tentu hanya gambar yang menonjolkan citra positif  diri kita sendiri.  Gaya hidup sekarang ini adalah gaya hidup hedonis dan Narsis. Istilah NARSIS menjadi hal yang biasa. Padahal dalam bukunya “Akar Kekerasan (The Anatomy of Human Destructiveness ) Eric From mengatakan, Narsis adalah salah satu akar kekerasan yang ada di dunia.

From mengatakan,  Agresi yang merupakan dorongan untuk merusak atau bersifat destruktif.  Dan salah satu sumber agresi defensif (agresi untuk bertahan) terpenting adalah terlukainya perasaan narsisistik.

Erich Fromm,  menggambarkan istilah narsis atau narsisisme sebagai kondisi pengalaman seseorang saat mana dia merasakan bahwa sesuatu yang benar-benar nyata hanyalah tubuhnya, kebutuhannya, perasaannya, pikirannya, kekayaannya, atau benda-benda serta orang-orang yang masih ada hubungan dengannya. Sedangkan orang-orang yang tidak menjadi bagian darinya atau tidak dia butuhkan, tidak sepenuhnya nyata, dan hanya dipahami sebatas nalar. Hanya dirinya dan benda-benda yang ada hubungan dengannyalah yang memiliki arti; lain dari itu tidak memiliki nilai atau tidak menarik.

Ini bisa kita lihat saat terjadi Tawuran antar pelajar; Mereka menggunakan senjata apa saja, kata-kata apa saja, dimana kemungkinan terbunuh dan terjadinya tindak anarkhis lain, dengan senjata-senjata itu sangat besar. Mereka jarang berfikir tentang rasionalitas kebenarannya, resikonya, hubungan antara masalah dan penyelesaiannya dan tuntutan balasnya. Gara-gara ejek-ejekan terjadi tawuran, gara-gara gadis sekolah/kampus sebelah diganggu terjadi tawuran…yang yang lebih aneh adalah senjata yang digunakan tidak tanggung-tanggung. Senjata mematikan; Golok, budhing dan senjata tajam lainnya, juga besi. Keadaan mirip seperti ini juga terjadi saat PROVOKASI antar aliran yang dilancarkan dalam pamflet, ceramah atau lainnya.

Orang-orang narsistik biasanya memperoleh rasa aman melalui keyakinan subyektifnya bahwa ia sempurna atau unggul atas orang lain, bukan melalui penilaian orang lain atas karya nyata ataupun prestasinya. Ini bisa kita  lihat perilaku-perilaku aneh ‘secara standart umum’, tapi mereka bangga dengan itu. Jika seseorang narsistik mendapat kritikan, ralat ataupun kekalahan, ia akan merasa terancam. Biasanya ia lantas akan bereaksi dengan kemarahan yang amat sangat, dengan atau tanpa memperlihatkannya, bagaimana efek samping tindakan itu, disadari atau tidak. Lihat penyebab-penyebab kasus antar pelajar dan mahasiswa, juga antar kampong.

Yang menarik ternyata Narsisme itu berlaku pada individu juga pada kelompok. Erich Fromm mengatakan Narsisisme jenis ini meletakkan kelompok sebagai obyek Narsisisme-nya.

Individu narsistik dapat sepenuhnya menyadari narsisismenya, dan mengungkapkannya tanpa hambatan apa pun dengan kelompoknya. Kelompok akan menerima sepenuhnya ungkapan narsistik individu tersebut, bahkan dianggap sebagai bagian dari kesetiaan terhadap kelompok.

Kelompok narsistik ini biasanya membangun kenyataan berdasarkan konsensus yang dibangun, bukan pemikiran atau pengkajian kritis. Narsisisme kelompok berguna dalam meningkatkan solidaritas kelompok, dan memberikan kepuasan bagi para anggota kelompok terutama dalam hal kepercayaan diri.

Sekalipun dia tidak merupakan bagian penting dalam kelompok, tapi ia merasa bangga diri, bahkan sangat bangga dengan berani dan siap mengorbankan apa saja demi kelompok, untuk kelompok.  Karena disana mereka memiliki semacam kompensasi dari dirinya menjadi kelompok. Lihatlah para supporter sepak bola, supporter salah satu partai dst. Mereka siap bentrok bahkan mempertaruhkan dirinya.

Narsisme kelompok itu menjalari semua anggotanya. Disinilah munculnya fanatisme, militansi kelompok sebagai hasil dari narsisme kelompok. Sama halnya dengan narsisisme individu, narsisisme kelompok ini mudah bereaksi keras terhadap segala bentuk pelecehan kelompoknya.

Dalam konteks Indonesia, kita bisa dengan mudah menemukan narsisisme kelompok ini diterapkan lewat kelompok-kelompok radikal. Lewat ciri khas fanatisme yang menonjol, serta menganggap kelompoknya sebagai paling benar berdasarkan konsensus internal. Kelompok Takfiri (yang mudah menyatakan kelompok lain sesat, kafir dst), dan kelompok ekstrem lainnya merupakan contoh dari narsisisme kelompok ini.

Narcisme bisa masuk dalam narcisme kelompok bila perilakunya adalah menganggap hanya dirinya yang benar dan yang lain tidak ada apa-apanya.  AS bisa masuk disini, dengan arogansi,  dengan tidak mampu menahan diri bila ada kelompok lain atau negera lain yang seakan melecehkan dirinya. Ini bisa kita lihat dari inisiatif perang yang dimainkannya di Afghanistan, Iraq, Libya, Suriah dan lain-lain.

 Apa yang Mesti dilakukan?   

Kecenderungan narsisisme pada dasarnya selalu ada pada setiap individu maupun kelompok. Pertama; Agar tidak berkembang menjadi kekerasan, dibutuhkan keberanian untuk membuktikan kepada masyarakat luas bahwa impian narsisismenya bukan omong kosong belaka. Jika merasa paling benar, jika merasa paling bermoral dst, itu harus dibuktikan sehingga penerimaan itu terjadi, bukannya melakukan klaim kebenaran, menyatakan kelompok lain salah, sesat dan kafir dst. Yang itu semua adalah kebenaran subjektif dirinya.

Kedua, dalam lembaga pendidikan perlunya reward dalam berbagai hal, sehingga setiap anak merasa dihargai dan berprestasi. Sehingga tidak mengembangkan ‘sukses-internal/subjektif’. Disini perlu ditanamkan konsep bahwa sukses itu individual dan setiap anak adalah juara. Sehingga anak-anak menengah kebawah secara intelektual tetap memiliki rasa dan hak mobilitas keatas, reward dan merasa berharga.

Ketiga, Pemerintah lawat aparat sekolah seperti Diknas dan kepala sekolah sangat perlu mengeleminir potensi-potensi itu, sehinnga tidak menjadikan narsisme individu menjalar menjadi narsisme kelompok.

Keempat, alternative, pilihan berkarya, informasi, buku dst, sangat perlu dan layak disediakan, digalakkan dan disosialisasikan. Sebab penilaian subjektif itu dikarenakan alternative opini jaranng didapatkan dan diadakan.

Terakhir, Kelima; Narcisme adalah salah satu akar dari kekerasan. Ada penyebab atau akar kekerasan lainnya, seperti; kemandekan, jalan buntu, totalitas hegemoni, sehingga mobilitas untuk membuktikan sebuah impian narsisme (positif) terbendung dst. Ini semua memicu internalisasi-subjektif akan kesuksesan dan ini merupakan jalan masuk kekerasan dalam bentuknya yang lain.

Marilah kita sama-sama mengkoreksi diri, sampai seberapa sah narsisme kita, dan bagaimana kita mengkompensasinya serta mencoba untuk menwujudkannya.

About these ads

Tentang pendidikan positif

Kami adalah Pendidik, Guru, Dosen dan Trainer. Alumni Pasca Sarjana Univ Brawijaya Malang, sekarang studi lanjut di Department Psychology. Kami mengembangkan Seminar, Workshop, dan berbagai Test berbasiskan psikology. Mulai dari 1. Workshop berbasiskan Multiple Intelligence, Topografi Otak, Power Personality, Performance Barrier, Succes with Understanding Personality, Otak Kanan- Otak Kiri, bagaimana mengetahui dan memanfaatkannya untuk sukses dll. Semua itu untuk pengembnagan SDM dan Human Capital. Baik untuk Guru, anak-anak (TK, SD, SMP, SMA, PT), juga untuk karyawan Industri dan Perusahaan. 2. Test test yang mendukung workshop dan seminar diatas seperti; a) Test Multiple Intelligence, b) Test Personality, c) Test Performance Barrier dll. Konsep Kami adalah......Discovering Your Royal road to learning, achievable and Personal Satisfaction. Bagaimana caranya? Caranya dengan discovering your talent, your ability (dengan pemahaman, test), the right place....maka sukses dan bahagia akan mudah didapatkan. Positif Pendidikan adalah Pendidikan yang berusahan menjadikan pebelajar (siapapun yang belajar), akan mampu untuk meraih tidak hanya sukses (achievable) tapi juga bahagia (will-being). Success and Happy.
Tulisan ini dipublikasikan di Lain-lain. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s