Landasn Ideologi Ekstrimisme Radikalisme

RADIKAL IDEOLOGIS DAN RADIKAL HARAKI (Wahabi-Salafi-Takfiri Indonesia)

Wahabi

al_quran

Alquran adalah Pasti : Tetapi semua Ulama/Madzab ingin menggapainya. Yang dilarang adalah mengklaim dialah yang mempu menggapai (yang lain tidak/salah , sesat, bid’ah, syirik bahkan Kafir).

Sekarang ramai dibicarakan orang tentang WAHABI-SALAFI dan TAKFIRI. Apa sebenarnya mereka ITU? Bagaimana hubungan antara ketiganya (Wahabi-Salafi-Takfiri)? Ini adalah tulisan yang sangat singkat, yang mencoba menghubungkan ketika term WAHABI-SALAFI-TAKFIRI.

Wahabi adalah ajaran yang dibawa oleh Muhammad bin Abdul Wahab. Dinama ajaran-ajaran ini berkolaborasi dengan pemerintahan Saudi-Arabia sampai sekarang ini. Karena sejarahnya yang kelam, karena timbulnya ajaran ini sangat berdarah-darah, maka mereka sendiri enggan disebut sebagai Wahabi. Inti ajarannya adalah percampuran antara ajaran Imam ibn Hambali (termasuk imam 4 Ahl-Sunnah wal Jamaah), Ibn Taymiyyah dan Muhammad bin Abdul Wahab sendiri.

Inti ajaran yang menonjol adalah mereka melakukan purifikasi (pemurnian agama). Sebab menurut mereka Islam sudah bercampur dengan Bid’ah, Syirik dst…sehingga Islam perlu dimurnikan kembali. Orang-orang Islam perlu di Islam-kan kembali. Disinilah banyak, kalau tidak boleh mengatakan mayoritas mereka berdakwah terhadap sesama muslim, bahkan berperang dengan sesama Muslim, karena bertujuan memurnikan dan menganggap banyak kaum muslimin pelaku Bid’ah.

Kata mereka Ummat Islam adalah Ahli Bid’ah dan sesat, kafir dst, sehingga mereka perlu di-Islamkan lagi, didakwahi bahkan diperangi (dibunuh). Buku Muhammad bin Abdul Wahbb, Kafsyu al Subhat sangat memperlihatkan itu. (Lihat ini secara detail: terjemahan dan komentar buku itu, https://abusalafy.wordpress.com/2008/06/16/judul-judul-serial-%E2%80%9Ckitab-kasyfu-asy-syubuhat-doktrin-takfir-wahhabi-paling-ganas-secara-berurutan/).

isis jIBRIL 1

Saat Demo-demo dan acara lain…Banyak Bendera ISIS digunakan

Lalu mungkin kita akan bertanya, mengapa mereka bisa berkembang pesat di beberapa negara dan termasuk di Negera Kita? Jawabnya ada dua hal minimal yang menyebabkan mereka bisa melenggang seperti sekarang ini. 1) Mereka mengatas namakan pemurnian Islam (purifikasi), agenda ini banyak kesamaan di Islam Indonesia, seperti Muhammadiyah, PKS, Persis, dll. Sehingga mereka berkelindan didalamnya. Walaupun agak berbeda Muhammadiyah dengan Wahabi, PKS dengan Wahabi, tingkat isu-isu dan ektrimitasnya. Ide pemurniannya sama, tetapi yang lainnya sanga berbeda.

Kedua (2) mereka mengatas-namakan Ahl-Sunnah wal Jamaah, padahal aqidah mereka mengkafirkan para pengikut Ahl-Sunnah, Asyariyyah, dll. Tetapi karena mereka menyembunyikan aqidah-aqidah itu (mirip Taqiyyah model Syiah), mereka berhasil masuk didalam Ahl-Sunnah.

3) Mereka (Wahabi) adalah penguasa Haramain (Mekkah-Madina), sehingga ummat seakan menganggap mereka adalah simbol Islam, pemegang ajaran Islam dst. Disamping yang ke, 4) Permainan dan dakwah mereka dikampus. Dimana rata-rata adalah masih murni, dan sebagian besar cenderung awam secara agama. Sehingga jangan heran. Dikampus-kampus PTN-lah mereka banyak berkembang, tetapi bukan di IAIN (dewasa ini di IAIN pun mereka mulai bercokol). 5) Pendanaan dan kekayaan finansial Saudi (Negara Wahabi). Dengan beaiswa, pengiriman guru-guru, Buku-buku, al Qur’an, Pembangunan masjid dll, membuat mereka cukup diapresiasi dan mampu berkembang. Dan terakhir, 6) Islam maenstrem NU dan Muhammadiyah banyak kehilangan elan-vitalnya, sehingga kaderisasinya cenderung ‘mandek’. Sehingga para pemudanya mencari tambatan untuk idelisme Islamnya ditempat lain.

Salafi

isis pksKarena bau tidak sedap nama Wahabi (Bisa di Googling sangat banyak cerita itu, dan bisa dibaca di buku Syaikh Idahram, dll) mereka tidak ingin disebut Wahabi, sehingga mereka bermetamorfosis dengan memberi nama gerakannya dengan nama SALAFI. Semua madzab dalam Islam, senang dengan nama Salafi ini (inilah pengkelabuan mereka). Disebagian tempat mereka bermetamorfosis menjadi Ikhwanul Muslimin.

Nama-nama yang mereka pakai adalah nama-nama yang secara umum disenangi, bahkan diminati didunia khususnya ahl-Sunnah wal Jamaah. Inilah cara-cara mereka masuk, sehingga dakwahnya tidak banyak diketahui dan melenggang dengan sukses.

Mereka berdakwah dengan mengajak sholat, mengaji, puasa, bagi-bagi al Qur’an (Saudi Arabia) dll. Dan yang paling penting adalah memurnikan aqidah (Tauhid). Mereka disenangi banyak orang, utamanya yang awam dengan nilai-nilai agama. Sebab awam tidak tahu bahwa ajakan sholat itu adalah sholat cara mereka dan cara lain adalah salah, cara lain adalah bid’ah, cara lain adalah sesat bahkan kafir. Tetapi bagi awam, mereka tidak tau atau tidak mau tahu tentang ini. Yang penting ajakannya adalah sholat, ajakannya adalah membaca al qur’an maka itu baik (lihatlah : bagaimana MTA, majlis-tafsir al Qur’an bentrok dengan Anshor-NU di Gresik. Link: http://www.muslimedianews.com/2013/12/gp-ansor-gresik-siap-melawan-majelis.html).

Mereka selalu berpedoman dengan satu dua ayat dan hadist, untuk meyakinkan ummat. Awam karena memang pengetahuannya lemah, mudah yakin dengan satu, dua ayat dan hdist. Padahal pemaknaannya tidak seperti itu, dan banyak hadist lain yang tidak atau berbeda dengan itu. Bagaimana mereka Mengkafirkan, membid’ahkan kelompok yang lain, Ahl Sunnah wal Jamaah. Lihatlah link-link ini, ada video-nya : https://www.facebook.com/photo.php?v=4463571426790.

Takfiri

Karena ajaran dari sana-nya berawal dari membid’ahkan, mensesat-kan, mengkafirkan orang lain (dengan tujuan awal katanya : pemurnian Islam). Maka mereka dan kelompok-kelompok yang berafiliasi dengan mereka gampang sekali mengkafirkan orang, membid’ah-kan kelompok lain, mensesat-kan kelompok lain dst.

Dengan alasan pemurnian tauhid, bahkan Ibn Wahab, mengatakan ummat Islam kebanyakan tidak mengerti makna Tauhid dst. Karena urusannya dengan Tauhid-Syirik dan Bid’ah. Maka faham ini gampang mengkafirkan (Takfiri). Dan karena urusannya adalah kafir, sesat, bid’ah, dholal dll, maka konsekuensinya madzab ini rawan konflik, rawan untuk bentrok dengan yang lainnya. Dan bila ini tensi-nya dinaikkan sedikit, maka membunuh, melakukan bom bunuh diri, melakukan terror, mencuri atas nama mereka kaum kafir, dar-harb (daerah perang) dll sangat-sangat mudah.  Lihatlah link-link ini : http://www.youtube.com/watch?v=U9nnCKLg4EE&list=UUfh4uX3Gf5Rdp5MXeWjRsFw. Bagaimana para pelaku bom, teroris, perampok menggunakan pembenaran, bahwa musuhnya adalah kafir, musushnya adalah thogut dst. Sehingga boleh dibunuh, boleh ditawan, dirampok dst-dst.

Fenomena dari Takfiri ke Terorisme

Islam NusantaraGeopolitik Timur Tengan (Permainan yang diulang)

ISIS (Islamic State Iran and Syuria) itu keluar saat terjadi konflik di Syuria. Antara Pemerintah (Bashar Assad, yang Syiah Alawi) dan Oposisi. Basyar Asad yang Syiah (konon juga dikatakan Sunny) dijadikan Simbol, bahwa perang ini (yang aslinya perang antara opoisis dan pemerintah bashar Assad) adalah perang Sunnah-Syiah, Jihad, dst. Disebarlah data-data, gambar dst, yang sebagian dengan kebohongan-kebohongan yang mencolok dan rekayasa untuk memotivasi semangat itu. Untuk bukti-bukti itu, Lihatlah situs-situs HTI (Resmi), situs-situs PKS (Resmi, dengan nama PKS Piyungan, PKS ini dan itu), juga situs Wahabi-Salafi-Takfiri lainnya (VOA-ISLAM, Arrahmah.com, Dakwatuna, dan underbownya).

Padahal kalau kita mau melihat realitanya, peperangan itu tidak seperti yang digambarkan. Realita Statistic, memang Syuria itu pemerintahannya adalah Syiah (80% Sunnah, 20% Syiah). Tapi Mentri luar negeri, mentri-mentri lainnya kebanyakan Sunny. Kita juga bisa lihat di Iraq (Pemerintahan Sunnah, Saddam, 65% Syiah, dan 35% Sunnah). Karena info dan provokasi kasus peperangan itu, Keluarlah sukarelawan, demo, penggalangan dana dan Jihadist Indonesia kesana (Indonesia dikabarkan 50 orang lebih yang ikut  berjihad disana dan meninggal dunia).

SIAPA YANG TERLIBAT PEPERANGAN INI

Peperangan di Syuria, Peperangan ini siapa yang akan terlibat? Seandainya dunia lain tidak ikut-ikutan, kasus dalam negeri syuria itu, maka kasus itu akan selesai dengan cepat. Sebab pada dasarnya yang pro Pemerintah (Bashar Assad) lebih banyak daripada yang pro-oposisi. Tapi sayang ada agenda bersama antara Saudi-Qatar yang sangat membenci Syiah dan Syuria (yang sangat dekat dengan Iran). Dan AS-Israel yang punya kepentingan melemahkan Syuria-Iran, demi kepentingan dia di Timur-Tengah (jalur minyak dan jual senjata), Disamping permusuhannya secara umum dengan Islam.

Ini sama persis seperti kasus di Afghanistan, dimana pemerintah (Pro-Soviet) bertempur dengan oposisi (yang Pro AS). AS menciptakan gerilyawan, mendanainya, memberikan pelatihan dst. Disinilah keluar Nama pahlawan jihadist, Oesama bin Laden, dengan Al Qaeda-nya. Keluarlah alumni-alumninya di Indonesia (Iman Samudra, Amrozi, Abu Jibril, dan para ektrimis, terorris lainnya, dll).

Di Syuria juga dibuat seperti itu. Dibuatlah FSA, ISIS, sisa dari al Qaeda dst. Dan ini didanai secara terang-terangan oleh Saudi dan Qatar. Dengan bantuan AS juga Israel (data sangat banyak, bisa dilihat link-linknya). http://www.ibtimes.co.uk/republic-senator-rand-paul-accuses-us-arming-isis-terrorists-1453714.

Dan sekali lagi, sama persis, juga seperti kasus Afghanistan tempo dulu. Bagi aktivis mahasiswa Islam, akhir tahun 80an, akan tahu persis ini. Maka kasus Syuria juga diekspor ke dunia lainnya. untuk menemukan anggota, semangat, dana dan jaringan lainnya. Di Indonesia ada demo, ada road show, ada penggalangan dana dan sukarelawan ke Syuria. Sekali lagi sama persis dengan kasus Afghanistan. Methode, Strategi, kelompok yang terlibat dst. Kalau dulu yang terlibat adalah para tarbiyah, halaqah-halaqah dikampus-kampus. Yang akhirnya menjadi KAMMI, PKS dan HTI. Maka sekarangpun sama.

SIAPA YANG MEMBESARKAN ISIS DI INDONESIA??

ISIS siapa yang dukung

Contoh : Lihatlah Disain, Warna, Background dan Bendera ISIS.

Siapa yang secara serempak dan sukarena mendukung dan membesarkan ISIS dan Perjuangan Syuria?? Mereka adalah Wahabi-Salafi-Takfiri (Baik yang terorganisir, serta kelompok lain yang tidak terorganisasi lain yang tertarik dengan mereka. Karena ada agenda yang sama). Target mereka biasanya adalah: 1). Mendukung Perjuangan, Semangat Syahid, dan Harakah mereka. Karena mereka punya ide-ide semacam itu. 2) Mencari dukungan dana, untuk Syuria dan juga untuk organisasinya. 3) Menebarkan kebencian terhadap Syiah (Karena klaim mereka ini perang Sunnah-Syiah. Ini agenda langsung buat Saudi, sebagai sponsor, karena kebenciannya pada Iran. Dan agenda AS-Israel, untuk melemahkan Islam di Timur-Tengah), juga agenda kelompok-kelompok lain di Indonesia. 3) Rekruitmen Anggota. Demi membesarkan partai/halaqahnya (dengan mendapat simpati masyarakat). Ini biasanya dilakukan oleh Wahabi-Salafi-takfiri yang cukup terorganisasi (seperti PKS dan HTI). Kita bisa lihat bagaimana para aktivis di kedua organisasi itu ( baik PKS dan HTI, MMI), foto-foto atau video saat Road Show Bumi-Syam (Syuria), Foto-Video saat ISIS deklarasi, saat mereka demo dibundaran HI, dll. Bahkan diskusi-diskusi mereka di internal mereka, dimana karena kekacauan informasi antara FSA dan ISIS. Tetapi mereka sepakat melihat ISIS yang harus didukung daripada FSA, Jabha-Nusra, dst. http://shoutussalam.com/2014/03/komandan-al-qaeda-yaman-kagum-melihat-besarnya-dukungan-umat-islam-indonesia-untuk-isis/

MENGAPA MEREKA CENDERUNG RADIKAL/EKSTREM??

Dalam ektrimisme dan radikalisme (Yang sudah dijelaskan diatas. Diawali oleh ideologi takfiri, lalu mengkafirkan, mensesatkan, mengsyirikkan dst), bisa kita bedakan menjadi 2, yaitu; a) Radikal secara Ideologi, b) Radikal Haraki (gerakan). a) Kelompok yang radikal secara ideologi itu biasanya mereka yang menginginkan negara Islam., memurnikan ajaran dst. Lalu mereka akan mengatakan sesuatu yang tidak sesuai syariat maka, mereka akan fasiq, munafik, bahkan kufur dst. Banyak ulama Indonesia yang berideologi ini. Tetapi mereka tidak meneruskan radikalisme itu dalam practis tindakan. Baik mungkin karena tidak punya kesempatan, keberanian, terlatih, terstruktur atau sarana lainnya. Radikal Ideologi semacam ini bisa memasuki semua orang, madzab, bila cara berfikir mereka kurang heterogen dan luas (Cognitive Complexity). Walaupun ada ideiologi yang secara ajaran memang cederung takfiri. B) Radikal secara Haraki. Ini biasanya mereka menginginkan sesuatu (Negara Islam, Keadilan dst), tetapi secara ideologi, diskusi ilmiah mereka tidak cukup intent. Tetapi keberanian, kesempatan, semangat, terlatih, mereka miliki. Ini biasanya para praktisi jihad, alumni Afghanistan dll. Contoh ini bisa kita lihat para terorisme di Indonesia (Bom Bali 1, 2 dst).

BAGAIMANA DENGAN FENOMENA ISIS DI INDONESIA???

Hal-hal Radikal dari pengalaman konflik, semangat perang di medan tempur seperti Afghanistan dan Syuria, itu masuk secara umum di Indonesia. Seperti yang saya katakan diatas. Aktivis Tarbiyah, Halaqah, MMI, PKS dan HTI (sebagian). Sebab secara Ideologi mereka SAMA. Hanya yang satu masih wacana, sementara lainnya praktisi (jihad). PKS dan HTI sudah memberikan landasan ideologi, semangat dan lain-lainnya, untuk hal-hal yang berbau Ektrim. Mengapa saya katakana seperti itu? Ada beberapa alasannya yaitu; 1) Mereka menginginkan Negara Islam dan pemurnian agama, 2) Paling mudah adalah melihat fenomena pujian Anis-Matta (Presiden PKS) terhadap Oesama Bin Laden (Tokoh Ektrism, Keras, Wahabi). Bagaimana para aktivis HTI mengatakan negara ini Tgohut, Kafir dst.

Sehingga jangan heran, aktivis MMI, PKS dan HTI-lah yang paling mesra merangkul Ideologi ISIS ini. Sebagian Mereka memang belum siap dengan haraki-nya, walaupun sebagiannya sudah. Apalagi dengan PKS-Resminya (yang sudah menjadi partai, sehingga tidak mungkin berlaku keras). Tetapi dukungan ideologi yang sama itu membuat aktivisnya sangat antusias menerima ISIS di Indonesia.

Fenomena PKS lebih membawurkan kejelasan-kejelasan itu. Inilah 2 ranah kepentingan mereka (PKS). 1) Menyebarkan Idologi Wahabi-Salafi-Takfiri, 2) Mendapatkan Kekuasaan.

Pertama, Demi mendapatkan kekuasaan, maka mereka harus bersikap pluralis. Lihat saja bagaimana mereka mengatakan PKS bukan Wahabi, PKS dan tahlilan, PKS dan Maulid Nabi saw, PKS dan Ziarah Kubur dst (Dalam Situs resmi-nya). Tapi disitus yang sama mereka menggunakan fatwa Ibn Basz (Tokoh ulama sentra Wahabi Saudi), Ibn Utaimin dan Al Bani, dst.

Bagaimana mereka harus merangkul caleg Hindu di Bali, dst. Disini mereka tidak menampakkan dirinya. Dan masyarakat secara umum banyak simpatik kepadanya. Ditempat-tempat tertentu mereka mengucapkan selamat dengan spanduk besar, adanya Haul Ulama tertentu dst.

Kedua, Demi menyebarkan Ideologi, mereka membangun jaringan pendidikan (SD-IT, SMP-IT dst, dimana ideologinya adalah Wahabi). Jaringan Mubaligh, pengkaderan di kampus-kampus. Dan mereka menyingkirkan yang tidak sejalan (seperti, Berbau Syiah, Liberal atau NU, bahkan Muhammadiyah). Lihatlah perseteruan mereka dengan Islam Liberal dan Syiah, Lihatlah kegeraman NU karena masjid-masjidnya diambil, lihatlah kegeraman Muhammadiyah karena kader-nya dan propertinya banyak diambil dan dieksploitasi oleh PKS dan HTI.

PENUTUP

Akhirnya saya ingin mengatakan bahwa, Idiologi Wahabi-Salafi-takfiri (baik itu teroganisis secara rapi atau tidak, besar atau kecil) adalah Organisasi dan Ideologi yang memberikan landasan para pengikutnya untuk bertindak Ektrem/Radikal. Baik itu Radikal Ideologi atau Radikal Haraki (Praktis). Karena mereka itu sekarang terhubung dan dapat informasi, motivasi dll, baik dari media, ceramah dan sebagian aktivisnya sendiri mantan Jihadist. maka organisasi-organisasi itu cenderung untuk melakukan hal-hal yang radikal. Penerimaannya terhadap ISIS dengan genggap gempita, Mengatakan Negara ini Kafir, Pujian terhadap Oesamah (sangat banyak). Adalah sebuah Indikasi semestinya negara ini mewaspadai organisasi-organisasi itu.

Dalam hal penanggulangan radikalisme, ektrimisme dan terrorisme, maka, “Jangan hanya membunuh nyamuk saat mengganggu kita, tetapi kita membiarkan sarang-sarang nyamuk dan air tergenang, karena itulah  tempat berkembanya mereka.”

Wallahu a’lam bi al Shawab.

 

Link-link :

Tentang Kekejaman dan Kelakuan Islam Garis Keras ISIS. Yang anehnya banyak didukung oleh kelompok Islam garis keras di Indonesia

http://syriaonline.sy/?f=Details&pageid=11020&catid=24. …Abu Bakar Al Bagdadi Pernah dilatih Mossad,

http://syriaonline.sy/?f=Details&pageid=11020&catid=24

http://www.ibtimes.co.uk/republic-senator-rand-paul-accuses-us-arming-isis-terrorists-1453714 (RAND PAUL American Republican Senator, mengatakan….ISIS dilatih AS).

http://bicarasalafy.wordpress.com/2009/02/01/ulama-wahabi-berfatwa-haram-demo-anti-israel-dan-dukung-palestina/

Link-link Kekejaman ISIS (Jabha-Nusra dst).

  1. Membongkar makam sahabat Nabi saw

http://nu.or.id/a,public-m,dinamic-s,detail-ids,45-id,44279-lang,id-c,internasional-t,Al+Azhar+Kutuk+Aksi+Penghancuran+Makam+Sahabat+Hujr-.phpx

  1. Membedah dadah dan Memakan Jantung Mayat

http://www.youtube.com/watch?v=F3z5HTwqq-Y

  1. melemparkan manusia hidup-hidup dari atas apartemen

http://www.youtube.com/watch?v=aGTnhyKbyAQ

  1. Menyembelih bocah-bocah tak berdosa

http://www.washingtonpost.com/blogs/worldviews/wp/2013/06/11/report-syrian-rebels-executed-a-14-year-old-boy-for-insulting-islam/

http://berita.plasa.msn.com/internasional/antara/lsm-warga-suriah-protes-eksekusi-anak-oleh-ekstremis

  1. ISIS/Daisy Menyembelih Pemuda Suriah

http://www.youtube.com/watch?v=UBb0p4PRoUk

  1. Ar’ur mengancam akan mencincang daging kaum Alawiyin dan menjadikannya sebagai makanan anjing…!!

youtube=http://www.youtube.com/watch?v=WbkDiWZh2fI

  1. Jabhat Nushrah Meng-eksekusi 3 orang Saudi yang berperang di pihak Daisy (ISIS)

youtube=http://www.youtube.com/watch?v=f8qOMwRwC98

8) Al Qaeda dengan biadab membakar hidup-hidup 3 orang kurdi Irak, Sumber dan keterangan perihal pelaku kebiadaban ini silahkan buka link dibawah ini: http://www.alhadathnews.net/archives/93212

Link :

link video diatas: youtube=http://www.youtube.com/watch?v=BwqyIcZmD9

9) Kekejaman ISIS Membantai Supir Truk (penduduk Sipil) setelah gagal menjalani tes tentang berapa raka’at sholat Subuh!

Link video diatas: youtube=http://www.youtube.com/watch?v=oKRrLnESvK

Link :

ISIS didukung oleh AS…..ini diucapkan oleh Senator AS sendiri. dan didanai oleh SAUDI dan QATAR???

http://www.ibtimes.co.uk/republic-senator-rand-paul-accuses-us-arming-isis-terrorists-1453714

http://shoutussalam.com/2014/03/komandan-al-qaeda-yaman-kagum-melihat-besarnya-dukungan-umat-islam-indonesia-untuk-isis/

Diambil dari beberapa Sumber, FB, Twitter, dan diolah dengan Izin.

Dipublikasi di Uncategorized | Meninggalkan komentar

MEMBELA TERORISME

(Perspektif dan Paradigma tidak Mainstream)

laskar mawar 2PEKRTANYAAN KLASIK SOAl Terorisme masih terus mengambang belum terjawab secara tuntas: mengapa mereka melakukan teror? Meskipun gerakan perlawanan bersenjata itu tersebar dari Srilangka, Palestina, Chechnya, Spanyol, sampai dengan Irlandia, lonjakan perhatian baru terjadi sesudah kejadian 11 September 2001. Sesudah serangan teror di Amerika itu, begitu besar sumber daya dialokasikan untuk menjawab pertanyaan ini. Menurut salah satu database buku terbesar di dunia, WordCat, dalam waktu kurang dari dua tahun telah terbit lebih dari empat ribu buku tentang terorisme. Dan, tak terhitung analisis berupa artikel tentang topik yang sama. Melihat besarnya perhatian terhadap terorisme, maka menarik untuk dikaji kerangka analitis (analytical framework) yang digunakan dan implikasi penggunaan sebuah kerangka terhadap pemahaman kita tentang terorisme.

Begitu juga dalam membaca buku Army of Rose, karya Barbara Victor ini. Kita perlu memahami kerangka yang digunakan oleh Barbara Victor dan para analis dalam menganalisis perlawanan bersenjata. Pemahaman Ini akan membantu kita untuk bisa mencerna tulisan dan menempatkan buku ini dalam konteks llteratur perlawanan bersenjata.

Akar KekerasanSecaragaris besar, terorisme memiliki tiga komponen: pelaku teror (terorls), tindak teror, dan sasaran teror. Adapun sebab terjadinya teror bisa ditelusun dengan menggunakan dua kerangka analitis, yaitu kultural dan rasional. Pertama, Kerangka kultural memandang perilaku, sikap, dan perbuatan sebagai penjelmaan nilai, sistem kepercayaan, atau ideologl (Berger, 1995; Ross, 1999). Dalam konteks terorisme, kerangka kultural memfokuskan pada korelasi antara nilai/ideologi dan teroris. Kerangka ini mencari penjelasan tentang sebab teror dengan cara mengkaji ideologi dan nilai para teroris. Dengan kata lain, inti kerangka ini adalah interpretasi nilai terhadap aksi (Darnton, 1985; Taylor, 1985).

Kedua, kerangka rasional memandang perilaku, sikap, dan perbuatan sebagai fungsi pilihan-pilihan yang ada di hadapan sang aktor (North, 1981; Olson, 1965). Aktor ini bisa berupa individu ataupun kelompok (Przeworski, 1993). Kerangka rasional memandang tindakan teror sebagai bentuk interaksi dan kontlik antara teroris dan sasaran teror (Crenshaw, 1998). Oleh karena itu, kerangka rasional memfokuskan analisisnya pada kore­lasi antara teroris dan sasaran teror. Untuk tujuan analisis, pendekatan rasional ini tidak memandang sasaran teror semata-mata sebagai korban, tetapi sebagai aktor. Inti kerangka rasional adalah aktor yang berinteraksi secara kalkulatif (Levi, 1999).

Dalam serangan teror yang menyedot perhatian dunia— misalnya 9-11 di AS, Bom Bali, Serangan Bunuh Diri Palestina, dan Bom London—pelakunnya diidentifikasi sebagai Muslim dan ekstremis. Hal ini berimplikasi pada lonjakan perhatian tentang hubungan antara Islam dan terorisme. Lonjakan perhatian ini tercermin pada peningkatan luar biasa dalam penerbitan/penjualan buku dan artikel, konferensi, program TV dokumenter, dan dana penelitian untuk mengkaji Islam dan kekerasan/teror. Lonjakan perhatian terhadap agama yang dipeluk oleh pelaku teror mengindikasikan dominasi kerangka kultural dalam diskursus tentang terorisme.

Dalam kerangka kultural ini, para analis menganalisis soal terorisme dengan fokus pada nilai-nilai Islam dan umat Islam. Contoh yang menggunakan kerangka ini secara ekstrem adalah Jerry Farwell yang tegas-tegas mengatakan bahwa ajaran Islam bermuatan terorisme. Atau yang lebih moderat dan intelektual seperti Bernard Lewis dan Paul Berman di AS sekadar menyebut sebagian kecil saja, yang menganalisis soal terorisme dengan fokus pada nilai-nilai Islam dan umat Islam. Atau juga kolumnis terkemuka harian The New York Tune, Thomas Friedman, yang berkeliling dunia terutama ke negara-negara Muslim, menganalisis kompleksitas sosial-politik-religius masyarakat Muslim untuk menjelaskan mengapa pemuda Muslim sampai melakukan teror. Buku Friedman, Longilnde and Attitudes: Exploring the Wortd After September 11, dan program TV dokumenternya, Tracing the RooKt of 9/11, mencerminkan kerangka kultural ini.

Terlepas dari analisis komprehensif dan mendalam yang bisa dihasilkan, fokus analisisnya hannya mencakup dua komponen yaitu: (1) tindak teror, dan (2) pelaku teror termasuk nilai, sistem kepercayaan, serta ideologi pelaku teror tersebut.

Di satu sisi, dominasi kerangka kultural bisa me-perkaya khazanah ilmu pengetahuan. Di sisi lain, dominasi ini adalan simbol keterjebakan paradigma (paradigm entrapment). Disebut jebakan paradigma karena makin banyak analisis dan penelitian yang dilakukan dalam kerangka ini, makin sulitlah menjelaskan secara tuntas, komplet, dan objektif sebab terjadinya teror. Hal ini terjadi karena terlewatkannya komponen ketiga, yaitu sasaran teror.

Kerangka kultural memang bermanfaat untuk men­jelaskan modus teror. Tetapi, kerangka ini gagal men­jelaskan (1) mengapa sekelompok orang memilih teror?, (2) mengapa teroris menjadikan pihak tertentu scbagai sasaran teror?, dan (3) mengapa tindakan teror muncul pada waktu-waktu tertentu padahal variabel-variabel kultural yang dijelaskan ltu sudah eksis berabad-abad? Jawaban atas pcrtanyaan-pertanyaan ini memerlukan analisis tentang korelasi antara teroris dan sasaran teror. Di sinilah kerangka rasional diperlukan.

Berbeda dengan kerangka kuitural, dalam kerangka rasional fokusnya terletak pada korelasi antara teroris dan sasaran teror. Kerangka rasional ini mengeksplorasi (1) kebijakan/langkah yang dibuat baik oleh teroris maupun oleh sasaran teror dan (2) implikasi kebijakan/Iangkah ltu pada hubungan keduanya. Kerangka ini mengkaji korelasi antara teroris dan sasaran teror dalam aspek kesamaan-kepentingan, konflik-kepentingan, dan pola interaksi di antara keduanya.

Dalam kerangka rasional, teroris maupun sasaran teror dipandang sebagai aktor rasional dan strategis. Mereka bersifat rasional dalam arti tindakan mereka konsisten dengan kepentingannya dan semua tindakannya mencerminkan tujuan mereka. Mereka strategis dalam arti pilihan tindakan mereka (1) dipengaruhi oleh langkah yang sudah dan yang akan dilakukan aktor lainnnya (lawannya) dan (2) dibatasi oleh kendala (constrain) yang dimilikinya.

Di sinilah perbedaan kedua kerangka itu dalam menganalisis terorisme. Kerangka Kultural memfokuskan pada satu aktor, yaitu teroris, sedangkan kerangka rasional memfokuskan pada dua aktor, yaitu teroris dan sasaran teror. Kerangka kultural menganalisis korelasi nilai-nilai dengan tindakan teroris, sedangkan kerangka rasional menganalisis korelasi tindakan teroris dengan tindakan sasaran teror. Dengan kata lain, kerangka kuitural berasumsi bahwa nilai-nilai menghasilkan teror, sedangkan kerangka rasional berasumsi bahwa kalkulasi strategis antaraktor menghasilkan teror.

Dominasi kerangka Kultural ini berdampak pada konstruksi pemahaman yang parsial tentang terorisme. Parsial karena publik diarahkan untuk memberikan perhatian pada teroris dan tindakan teror, sementara sasaran teror dilewatkan. Pemahamanyang parsial ini cenderung mengarah pada solusi yang parsial dan temporer.

Di Eropa, misalnya, sejak 1960-an sampai 1980-an, terorisme merebak. Penculikan, pembunuhan, dan pengeboman yang dilakukan kelompok teroris semacam Red Brigades di Italia, Red Army Faction di Jerman, ETA dan GRAPO di Spanyol, atau Irish Republican Army di Inggris berhasil menggetarkan Eropa. Akan tetapi, akhirnya kelompok-kelompok itu tenggelam karena— salah satunya—kerangka analitis yang digunakan dalam menilai dan memformulasikan respons terhadap terorisme adalah kerangka rasional.

Meskipun kelompok-kelompok ini pun melakukan aksi brutal dan mematikan, pemerintah, rakyat, dan analis di Eropa tidak kemudian berkutat mengeksplorasi koreiasi antara teroris dan Marxisme di Italia, Jerman, Spanyol, atau dengan Katolikisme di Irlandia, sebab dari korelasi itu memang tidak akan ditemukan sebab terorisme. Begitu juga di Lebanon, komposisi ideologi/agama para pelaku teror adalah 71% Kristen, 21% komunis/sosialis, dan 8% Islam tetapi analis tidak membuang waktunya menganalisis koreiasi antara ajaran Kristen dan serangan-serangan bom mematikan di Lebanon (Pape, 2004). Mereka memilih mengkaji korelasi teroris dan sasaran teror. Dari korelasi antardua-aktor ini ditemukan akar persoalannya. Persoalan yang menyebabkan kelompok-kelompok memiih teror sebagai bentuk “interaksi” dengan lawan-lawannya. Pengalaman ini memberikan isyarat tentang pentingnya membebaskan diri dari jebakan paradigma ini dengan cara mengadopsi kerangka rasional.

Pengadopsian kerangka rasional memang lebih menantang daripada kerangka kultural. Kerangka rasional mengharuskan analis untuk mcngevaluasi langkah, kebijakan, dan strategi yang digunakan oleh kedua pihak: teror dan sasaran teror. Menganalisis secara kritis lang­kah dan tindakan yang dilakukan oleh teroris itu mudah dan “politically correct”. Tetapi, menganalisis secara kritis langkah dan tindakan yang telah dilakukan oleh sasaran teror bisa jadi adalah persoalan tersendiri.

Di sini, analis berhadapan dengan batas tipis antara dua anggapan, yaitu (1) dianggap sebagai analis yang objektif dan rasional, atau (2) dianggap sebagai simpatisan teroris karena menganalisis sccara kritis sasaran teror, pada saat “sasaran” sedang menjadi “korban”. Oleh karena batas yang tipis itulah, hanya sedikit analis mainsteam yang “berani”dan mau mengadopsi kerangka rasional ini dalam analisisnya.

Di sini jugalah kita tempatkan buku Army of Rose itu. Barbara Victor secara jernih dan jeli berhasil mem­bebaskan diri dan keterjebakan paradigma itu. Di satu sisi, Victor berhasil mengombinasikan pendekatan kultural dan rasional dalam sebuah narasi yang ilustratif dan informatif. Dia tidak saja menjelaskan kemunculan perlawanan kaum perempuan Palestina, tetapi menganalisis posisi strategis kaum perempuan di dalam konflik Palestina-Israel. Posisi kaum perempuan Palestina—yang sering terlewatkan dalam mengkaji penderitaan bangsa Palestina—tergambar jelas dalam buku ini. Di sisi lain, kita perlu menempatkan posisi perempuan Palestina pelaku bom bunuh diri di antara berbagai grup yang melibatkan perempuan dalam perlawanan bersenjatanya. Chicago Project on Suicide Terrorism mengompilasi data serangan bunuh diri sebagai berikut:

Laskar Mawar 3

Dari tabel ini, terlihat bahwa proporsi perempuan Palestina lebili kecil dibandingkan dengan berbagai kelompok perlawanan pendudukan seperti di Chechnya ataupun di Kurdistan (Turki) di mana lebih dari separuh serangan bunuh diri dilakukan oleh kaum perempuan.

Saat mengkaji buku ini, pembaca akan merasakan betapa kayanya buku ini dengan narasi yang detail dan partikularistik, yang menunjukkan kekuatan Barbara Victor dalam memenetrasi subjek yang dianalisisnya. Di sisi lain, pembaca bisa terlena dan kehilangan kompas untuk mencerna buku ini secara proporsional dan kontekstual. Dengan memahami konteks perjuangan perem­puan Palestina dan alat analisis yang digunakannya, maka pembaca buku Army of Rase ini akan bisa lebih mengapresiasi karya Barbara Victor ini.

Mudah-mudahan dengan semakin banyaknya penulis yang mengadopsi pendekatan kultural dan rasional, makin terbukalah mata publik internasional atas penderitaan luar biasa yang dialami bangsa Palestina. Kemunculan penulis-penulis macam ini diharapkan bisa meningkatkan tekanan publik internasional, menghasilkan alternatif solusi yang realistis dan bisa diterapkan secara permanen.

 Salt Lake City, 18 Agustus 2005

Diambil dari : Pengantar buku : Laskar Mawar, “Memetakan Konteks untuk Memahami Laskar Mawar”, Oleh, Anies Baswedan. Ph.D.

Dipublikasi di Uncategorized

Apa itu Islam Nusantara

Latarbelakang
Islam NusantaraLepas dari unsur Penegasan, Kepentingan politik, pragmatisme dan mengambil kesempatan dll. Penegasan Konsep “Islam Nusantara” adalah Menarik.
Secara sederhana, Gus Mus menjelaskan maksud Islam Nusantara yakni Islam yang ada di Indonesia dari dulu hingga sekarang yang diajarkan Walisongo. “Islam ngono iku seng digoleki wong kono (Islam seperti itu yang dicari orang sana), Islam yang damai, guyub (rukun), ora petentengan (tidak mentang-mentang), dan yang rahmatan lil ‘alamin,” terangnya. “Islam Nusantara ini didakwahkan merangkul budaya, melestarikan budaya, menghormati budaya, tidak malah memberangus budaya,” kata Agil Siraj kepada BBC Indonesia.
Elaborasi
Menurut saya, Islam Nusantara adalah upaya penegasan. Ini kami, ini yg kami pilih, ini yg kami kedepankan (dan ini yg sebenarnya). Dari sekian banyak wajah dalam Agama Islam.
1) Epistemologinya: Pertanyaan mana yang benar dan Salah? Disini dipertanyakan Mana Wajah Islam yg Benar dan sebenarnya? Sebab banyak wujud Islam saat ini yang justru bukan Islam dan dianggap seakan itulah Islam. Kekerasan, polemik Madzab (Sunnah-Syiah-Wahabi), Fenomena ISIS, Khilafah Islam, dll.
2) Pertanyaan Axiology: Yg benar secara Epistemologis, maka akan menghasilkan yg baik. Islam adalah Rahmatan lil aalamin. Bukan Islam yang menafikkan yang lain, mudah mengkafirkan, menegasikan, seram dst. Islam itu Indah, damai dst.
3) Pragmatisme. Pertanyaan kebergunaan, manfaat. Dengan ke dua diatas (Epistemology dan Axiology), maka Islam akan dan pasti bisa toleran, bersatu, tidak jumud dan berkemadjoean. Tidak takfiri, perang dan perang dan saling menegasikan. Dengan itu kemajuan Islam, pembangunan dll sangat mungkin dilakukan. Karena tidak saling men-cancel satu dengan yang lain.

Kasus Jilbab

Islam Nusantara 2

Istri KH. Wahid Hasyim/Menantu KH. Hasyim Asyari

Ada satu contoh menarik tentang pemahaman Islam Nusantara (dulu-dulu). Agil Siraj saat berdiskusi di Sidogiri beliau sempat mengatakan; “Burdah, Pakaian menutupi seluruh wajah itu adalah Tradisi Arab, bukan Islam yang sebenarnya”. Sebelum Agil Siraj ada yang lebih ‘ekstrem’ yaitu Quraish Syihab. Beliau mengatakan Jilbab (dalam definisinya yang sekarang, itu tidak wajib, atau bukan ajaran “Islam”. Yang ajaran Islam, maksud jilbab  adalah “Pakaian Kepantasan”).
Yang menarik walaupun berbeda perspektif, keduanya menggunakan dalil Pakaian Para Istri Kiayi. Ada yang mengatakan; “Praktek Pakaian Istri Kiayi itu bukan dalil dalam kebenaran Islam”. Jawabnya “Ya”. Tetapi dengan keyakinan dan kesepakatan bahwa kiayi-kiayi besar (Pendiri NU, Pendiri Muhammadiyah, Para Tokoh-tokoh Besar Habaib/Sayyid dll), itu taat dengan ajaran Islam, tahu, faham dan taat dengan hukum Islam, bahkan di klaim Wali, dst. Bila semua atau kebanyakan mereka, Istrinya tidak menggunakan burdah/Jilbab seluruh tubuh (seperti definisi jilbab sekarang), Maknanya adalah Pemahaman mereka terhadap literatur tentang Jilbab itu, menghasilkan pembacaan dan kesimpulan yang berbeda dengan kesimpulan ulama-ulama sebagian sekarang. Jelas bukan karena mereka tidak tahu hukum, meremehkan atau tidak taat dengan ajaran Islam.
Agil Syiraj mengatakan, kalau pakaian burdah itu “Islam”, Mengapa istri-istri Kiayi-kiayi besar tidak mengunakan itu. Yang ingin ditegaskan oleh Aqil Siraj adalah, memberikan contoh-contoh praktek Islam-Arab dan  Islam Nusantara, yang sudah dikerjakan oleh wali songo, para kiayi sepuh (Hasyim Asyari, Ahmad Dahlan dan Para Habaib/Sayyid Indonesia) sebelum-sebelumnya.

Fakta Sejarah.
Sebuah Klaim atau penegasan, harus memiliki basis sejarah, fakta sejarah dst. Dalam sejarah pengislaman Nusantara (Indonesia), ada sejarah, fakta dan bukti serta konsep pemikiran dst. Maka dipilih Wali Songo, sebuah fakta sejarah Representasi pengislaman Jawa-Indonesia. Wali Songo dijadikan simbol ide, konsep Islam Nusantara itu. Artinya bahwa, sejak awal Islam Indonesia, Islam Nusantara itu ada (Omtologi-nya) dan itulah Islamnya Wali Songo yang nota-bene mengislamisasi Indonesia (Jawa).
Walaupun kalau mau ditelisik lebih jauh, Wali Songo sendiri, ada gradasi dalam pemahaman islamnya. Mulai yang paling berbaur dengan Budaya (Sunan Kalijaga, Syech Siti Jenar dst), sampai ada yg Puritan (Seperti Sunan Giri). Yang dipilih dan ditonjolkan adalah yang inklusif/Singkretis (mungkin ada pembenarannya, karena umumnya wali songo seperti itu, dan sekarang itu diambil alih representasinya oleh NU). Dan ini sebenarnya upaya penegasan Bahwa Islam Indonesia, Islam Nusantara adalah Islam Wali Songo, Islam yang bukan berwajah seram (Salafi-wahabi-takfiri). Anasir-anasir Inilah yang saya melihat menyebabkan kelompok yang berbau puritan berkeberatan dengan konsep dan penegasan Islam-Nusantara itu.
Sekali lagi, sebenarnya ini hanya sebuah penegasan, pilihan, lalu mencoba menegasikan yang bukan dia. Konsep seperti ini sama dengan  konsep “Islam Tradisionalis” (Yang digagas/ditawarkan oleh Sayyid Husein Nasr), Islam Modernisme (Fazlur-Rahman), Bahkan walaupun sedikit beda, “Islam Kiri” (Hasan-Hanafi).
Bahwa Wajah Islam, Bahwa Wali Songo itu tidak seindah dan se-idealis diatas. Karena memang konon terjadi hukuman mati atas Syech Siti Jenar. Ada Wali Songo yang punya Ide Negara Islam dst, jawabannya Ya. Ada bukti-bukti sejarah yang dapat memberikan pembenaran itu. Bahkan tidak hanya tindakan para Wali, bahkan ajarannyapun (Islam sendiri) juga membuktikan itu. Artinya Memang Islam (Al Qur’an-Hadist,  bisa ditarik kemana2, atau bisa memberikan argumentasi tentang arah-arah itu). Tetapi sekali lagi, saya melihat, Islam Nusantara ingin mengatakan; Inilah kami, inilah pilihan kami dan inilah yg seharusnya dari Islam (yg kami pahami). Dan inilah Islam Indonesia (Islam Nusantara).

Wallahu A’lam bi Al Shawab
Muhammad Alwi
Pendidikan Positif dan Integrated Multiple Intelligence

Dipublikasi di Uncategorized | Meninggalkan komentar

Triple Filter Test Informasi/Gosip menurut Socrates

Socrates adalah Filosof terkenal. Dimana beliau adalah Guru dari Plato (Tokoh Idealisme), Sokratesdan seterusnya Aristoteles. Dari merekalah keluar banyak kebijaksanaan, cara berfikir dan logika (yang dipakai sampai sekarang).
Saat Socrates dipenjara dan besoknya beliau harus dihukum mati dengan meminum racun. Karena dia dituduh sesat, kafir, Zindiq dll, juga dianggap merusak moral anak-anak muda. Padahal sejatinya dia hanya mengajarkan cara berfikir benar, mengajarkan kaidah-kaidah kebenaran. Sehingga dengan itu kadang menyinggung kekuasaan dan kemapanan.
Saat malam dimana besoknya Sokrates harus dihukum mati dengan meminum racun. Malam itu murid-muridnya, menyuap penjaga penjara dan membuka penjara Sokrates dan Mereka berharap Sokrates melarikan diri. Sebab ketidak adilan penguasa dan keyakinan mereka hukuman yang salah. Saat murid-murid Sokartes tiba dalam penjara, terjadilah dialog dengan Sokrates. Sebentar kata Soktrates…..”Apakah benar saya harus melarikan diri atau meminum racun besok sebagai hukuman mati?” Walaupun saya yakin saya tidak bersalah. (Melawan Penguasa Tertinggi, Representasi Hukum/Raja, Walaupun Kita sebagai pemakai Hukum, yakin 100% itu salah?). Dialog itu sangat-sangat dalam maknanya. Dan ternyata Sokrates tidak mau melarikan diri. Dan besoknya dia menerima hukuman mati dengan meminum racun.
Dialog itu menghiasi ilmu Politik, Etika Politik…..dan dibaca sebagai Kebijaksanaan dan bacaan Wajib saat kita belajar Filsafat Praktis.

Sokrates MatiGOSIP danINFORMASI
Konon suatu hari seorang kenalannya bertemu dengan filsuf besar itu dan berkata, “Tahukah Anda apa yang saya dengar tentang teman Anda?”
“Tunggu sebentar,” Socrates menjawab. “Sebelum Anda menceritakan apapun pada saya, saya akan memberikan suatu test sederhana yang disebut Triple Filter Test.

1) Filter petama adalah KEBENARAN.
“Apakah Anda yakin bahwa apa yang akan Anda katakan pada saya itu benar?”
“Tidak,” jawab orang itu, “Sebenarnya saya HANYA MENDENGAR tentang itu.”
“Baik,” kata Socrates. “Jadi Anda tidak yakin itu benar. Baiklah sekarang saya berikan filter yang kedua.

2) Filter ke 2, KEBAIKAN.
Apakah yang akan Anda katakan tentang teman saya itu sesuatu yang baik?”
“Tidak, malah sebaliknya…”
“Jadi,” Socrates melanjutkan, “Anda akan menceritakan sesuatu yang buruk tentang dia, tetapi Anda tidak yakin apakah itu benar. Anda masih memiliki satu kesempatan lagi, masih ada satu filter lagi, yaitu filter ke 3.

3) Filter ke 3, KEGUNAAN.
Apakah yang akan Anda katakan pada saya tentang teman saya itu berguna bagi saya?”
“Tidak, sama sekali tidak.”
“Jadi,” Socrates menyimpulkannya, “bila Anda ingin menceritakan sesuatu yang belum tentu benar, bukan tentang kebaikan, dan bahkan tidak berguna, mengapa Anda harus menceritakan itu kepada saya?”

Cerita diatas sederhana, tetapi mendalam dan Universal. 3 Filter Test itu mestinya harus kita pegang erat-erat dalam dunia yang sudah seperti ini. Banyak bahkan kebanyakan informasi tetapi kebenarannya tidak jelas….bahkan sulit memilah-milah mana yang benar dan salah. Gosip, Opini bahkan perang informasi menjadi sebuah keniscayaan. Penggiringan opini, black campaign, provokasi dst. Bahkan sampai-sampai ada istilah “Jihad Media”. Yang terakhir ini (Jihad Media) semestinya baik…tetapi karena over semangat sehingga lupa bahkan melupakan filter-filter itu. Padahal klaimnya sudah berbau Agama/Sakral (Wajib dilakukan, Pahala dst…dst).
Disinilah Nilai Socrates, sebagai filsuf besar dan sangat dihormati.

Mestinya Kita Gunakan triple filter test setiap kali kita mendengar/menyampaikan sesuatu tentang Informasi/Gosip. Jika bukan KEBENARAN, bukan KEBAIKAN, dan tidak ada KEGUNAAN positif, tidak perlu kita terima atau kita sampaikan. Dan apabila kita terlanjur mendengarnya (Di Medsos atau lainnya), jangan sampaikan pada orang lain (share and share), dan jangan menyakiti hati orang lain.

Uji secara Epistemologi (Benar-salah), Uji secara Axiologi (Baik-buruk-nya) dan terakhir Uji secara Pragmatis (Berguna/Tidak berguna). Karena Informasi/Kognitif akan menentukan penilaian, Sikap……dan dari Sikaplah akan muncul Perilaku Kita…..tentang dan terhadap sesuatu.
Wallahu A’lam Bi al Shawab.

Muhammad Alwi,
Pendidikan Positif dan Integrated Multiple Intelligences

Dipublikasi di Uncategorized | Meninggalkan komentar

INDONESIANISASI-ILMU DAN PRAKTEK PENDIDIKAN Mungkinkah???

Ki Hajar DewantaraBanyak Konsep dan Teori yang berkembang dan diterima oleh banyak pihak bukanlah teori yang terbaik/terbenar secara Ilmiah. Banyak teori yang baik harus menunggu waktu untuk kelengkapannya sementara…teori yang aplicable kadang menemukan moment-moment…..pelaksanaannya.
Ini diskusi panjang antara Epistemplogi Kebenaran dan Sosiologi Pengetahuan..
Ambil saja contoh: Konsep Pendidikan Ki Hajar Dewantara. Konsep ini lebih pas untuk Indonesia…..tetapi siapa yang mengelaborasinya, siapa yang mem-breakdown sehingga menjadi konsep yang kokoh.
Pendidik lebih kenal konsep Kontruktivisme, CTL, Colaborative Learning, Vitgosky, Piaget…dll. Daripada konsep Ki. Hajar Dewantara. Mengapa?
Dari konsep lintas-budaya, dari konsep ilmu itu tidak bebas nilai, dari tinjauan sosiologi-pengetahuan dll. Maka teori-teori itu khas barat (Bukan berarti harus salah). Artinya memiih konsep pendidikan indogeies (ke-Indonesiaan) adalah sangat penting.
Sebagai contoh : Dalam buku David Matsumoto, yang bicara “Psychology From Culture Perpektive”, dikatakan bahwa, buku-buku Teks Psikologi rata-rata peneltiannya, kuesioner yang di pakai dan diedarkan adalah diisi oleh mahasiswa dikampus-kampus dimana profesor-profesor itu mengajar. Bahkan salah satu Ilmuwan besar psikologi mengataan. Mahasiswa itu seperti kelinci percobaan, gampang di dapat dan murah (Untuk test, mengisi kuesioner, wwancara dl).
Ki Hadjar Dewantara BukuDi Indonesia saat-saat kita kuliah, kita jarang mendapatkan isian-isian kuesioner, dst. Ada 2 kemungkinan. Pertama kita tidak dijadikan kelinci percobaan atau Dosennya tidak ada yang melakukan penelitian (He…..he….he…. Sepertinya yang no 2 lebih pas).
Dari Penjelasn diatas kita bisa mengartikan. Ada Bias penelitian-penelitian itu dimana diisi oleh kelas menengah/Mahasiswa, Eropa-AS, dll sangat memungkinkan. Yang berarti hasil temuan-temuannya bisa jadi akan berbeda atau tidak jalan bila diupayakan generalisasinya kedalam dunia ke-3 apalagi ke-4. Disini tidak mesti teori-teori itu salah. tetapi bias itu pasti.Artinya apa? Indonesianisasi sangat-sangat diperlukan.
Yang agak lebih aneh??? Pemerintahpun yang konon senang Indonesianisasi…………Tidak mencoba mendorong dengan kuat, Indonesianisasi teori-teori dan konsep-konsep pendidikan tersebut.
TANYA KEMANA….TANYA KENAPA?????

Dipublikasi di Uncategorized | Meninggalkan komentar

UMR Guru, Sebagai Instrumen Menanggulangi Dampak Negatif Bantuan Operasional Sekolah (BOS) dan Sertifikasi Guru Dari Sekolah-Sekolah “Asal”.

Foto di Guci TegalDitulis Oleh : Muhammad Alwi.

Abstrak: Pemerintah untuk Tujuan Peningkatan Pemerataan Pendidikan dan Peningkatan Mutu Pendidikan mengeluarkan Intrumen (Peraturan) Berupa BOS (Bantuan Operasional Sekolah) dan Serifikasi Pendidik. Dua hal itu secara umum cukup menghasilkan capaian dari dasar tujuannya. Tetapi Sekolah-Sekolah ‘Asal’, secara langsung ataupun tidak langsung menghambat laju capaian kedua tujuan Intrumen Pemerintah itu. Dengan adanya UMR (Upah Minimum Guru), dimana ada semacam konversi/perbandingan antara Gaji Guru dan Gaji Karyawan Pabrik. Akan meningkatkan Profesionalisme Guru dan Mengurangi Hambatan Laju Pembangunan Pendidikna oleh sekolah ‘Asal’.

Kata Kunci : Dampak Intrumen UMR, Sertifikasi Guru, BOS dan Sekolah ‘Asal’

Latarbelakang

Sebentar lagi mau atau tidak mau, suka atau tidak suka pasar bebas segera berlaku. Dimana dunia menjadi tidak besar lagi, bahkan menjadi global village, kata Kenichi Ohmae dalam bukunya The Borderless World (1991). Senada dengan Ohmae, Tom Peter (1987) mengatakan dalam bukunya “Triving on Chaos”, Organisai dewasa ini harus bergulat dengan trend-trend revolusioner, akselerasi produk dan perubahan tehnologi, persaingan yang makin mengglobal, deregulasi, perubahan demografi, dan kecenderungan-kecenderungan kearah masyarakat jasa dan zaman elektronik.

Seri kekuatan seperti, ketidakpastian umum, revolusi tehnologi, pesaing baru dan selera yang berubah-ubah, menciptakan keluaran (outcame) –ketidakpastian, lebih banyak pilihan, dan lebih besar kerumitan, serta berakhirnya kemassalan. Akibatnya para pemenang organisasi sekarang dan yang akan datang adalah mereka yang lebih tanggap, lebih kecil, lebih datar dan lebih berorientasi pada manusia. Karena manusialah sebagai pelaku yang melaksanakan organisasi. Dengan ini maka manajemen sumber daya manusia lebih diperlukan lagi dimasa-masa mendatang.

Peter L. Berger mengatakan– tidak ada sistem yang lebih baik untuk mobilitas sosial, yang merupakan alat pembangunan kecuali dengan perbaikan kualitas tenaga kerja yang dilakukan dengan bentuk-bentuk pendidikan (Berger, 1990).

Senada dengan itu, Handayani (2009) mengatakan, Kekuatan utama yang harus dimiliki dan dipersiapkan oleh organisasi untuk menghadapi tantangan zaman yang semakin canggih terletak pada sumber daya manusia yang dimiliki organisasi tersebut. Sebagai asset yang paling berharga bagi suatu organisasi, sumber daya manusia dengan segala potensi yang dimilikinya dapat memberikan kontribusi dan prestasinya yang optimal untuk mencapai tujuan organisasi. Karenanya pengembangan sumber daya manusia seringkali menjadi prioritas dalam suatu organisasi.  Dan untuk mengimplementasikan itu semuanya, diperlukan wadah, tempat penempaan sumber daya tersebut. Disinilah diperlukan untuk memberikan penekanan dan perhatian lebih pada– lembaga/institusi pendidikan (baik pendidikan dasar, menengah maupun perguruan tinggi) sebagai kawah untuk penempaan sumber daya manusia.

Dalam laman Bappenas, kita bisa melihat bagaimana arah pembangunan Pendidikan Indonesia, khususnya yang berhubungan dengan Angka Partisipasi Sekolah (APS), sebuah indikator/ukuran daya serap lembaga pendidikan terhadap penduduk usia sekolah. Juga Angka Partisipasi Kasar (APK), yang menunjukkkan partisipasi penduduk yang sedang mengenyam pendidikan sesuai dengan jenjang pendidikannya. APK digunakan untuk mengukur keberhasilan program pembangunan pendidikan yang diselenggarakan dalam rangka memperluas kesempatan bagi penduduk untuk mengenyam pendidikan. APK merupakan indikator yang paling sederhana untuk mengukur daya serap penduduk usia sekolah di masing-masing jenjang pendidikan. BOS dan Wajib Belajar 9 tahun, berupaya untuk meningkatkan APS dan APK diatas. (www.bappenas.go.id/index.php/download_file/view/9564/1781/).

Guru adalah penunjang utama dalam persekolahan. Sejumlah penelitian memang memberikan bukti bahwa kualifikasi dan sertifikasi guru memberikan dampak terhadap percepatan belajar siswa. Sejumlah penelitian yang dihimpun oleh tim Pengembangan Program BERMUTU menyatakan bahwa, (1) pengetahuan dan keterampilan guru berpengaruh kuat terhadap prestasi siswa dibanding variabel lain seperti pengalaman guru, ukuran kelas, dan rasio siswa-guru (sesuatu yang dengan mudah kita pahami); (2) ada bukti yang konsisten dan kuat bahwa prestasi siswa yang diajar oleh guru bersertifikat daripada oleh guru yang tidak bersertifikat, para siswa mencapai prestasi yang lebih tinggi dalam matematika jika diajar guru bersertifikat standar dalamm matematika, dan hal yang sama juga terjadi dalam sains; (3) persiapan dan sertifikasi guru memiliki korelasi yang paling kuat dengan prestasi siswa dalam membaca dan matematika; dan (4) ada bukti kecil bahwa meningkatkan gaji guru mempunyai dampak langsung terhadap prestasi siswa. Ada kesepakatan pandangan yang luas bahwa gaji guru berpengaruh dalam memasuki profesi guru, dan berapa lama mereka mengajar, yang dapat berdampak terhadap prestasi siswa (termuat dalam Draft Project Operational Manual Program BERMUTU, Depdiknas, 2007, dalam Suparno dan Kamdi, 2008 : 3).

Sekolah pada dasarnya sebuah organisasi. Sekolah dengan demikian dapat dikatakan baik apabila mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Biasanya tingkat pencapaian ditandai dengan prestasi lulusan dalam bidang keterampilan dasar yang diukur dengan prestasi standart (Sergiovani, 1987). Prestasi standart secara umum dikatakan dengan Hasil Belajar. Hasil Belajar amat bergantung pada kurikulum. Sementara Pencapaian kurikulum di suatu sekolah ditentukan oleh kualitas Proses Belajar Mengajar (PBM). Salah satu faktor yang menentukan kualitas proses belajar mengajar adalah tersedianya prasarana (fasilitas) belajar mengajar yang memenuhi persyaratan PBM. Beberapa faktor yang dapat dipertimbangkan sebagai prasarana PBM antara lain (1) fasilitas sekolah (ukuran ruang kelas, organisasi  sekolah,  fasilitas  laboratorium), (2) Jumlah waktu yang digunakan untuk proses belajar mengajar, (3) kepribadian guru, (4) kualitas guru dalam mengajar (Madaus, Airasian & Kellaghan,1980, dalam, Nugaan Y.W.S Usman Barat, 1991).

Menurut Direktorat Pendidikan Dasar (1997, dalam Bafadhal, 1999) ada 5 komponen yang menentukan mutu pendidikan, yaitu: 1) Kegiatan Belajar Mengajar, 2) Manajemen Pendidikan yang Efektif dan Efisien, 3) Buku dan sarana belajar yang memadai dan selalu dalam kondisi siap pakai, 4) Fisik dan penampilan 5) Partisipasi aktif masyarakat.

Secara profesionalisme, guru-guru di Indonesia masih sangat kurang, hanya 50% guru se- Indonesia yang memiliki standarisasi dan kompetensi.  Sementara dari data statistik Human Development Index (HDI) terdapat 60% guru SD, 40% guru SLTP, 43% guru SMA, dan 34% guru SMK dianggap belum layak untuk mengajar dijenjang masing-masing. Selain itu, 17,2% guru atau setara dengan 69.477 guru mengajar bukan dibidang studinya. Oleh karena itu, tugas pemerintah dan lembaga-lembaga terkaitlah untuk memperhatikan tingkat pendidikan guru-guru tersebut agar keterpurukan ini tidak berlanjut lama. (http://bolimoso.blogspot.com/2010/04/faktor-faktor-yang-mampu-menciptakan.html)

Untuk meningkatkan serta menunjang itu semua, undang-undang Nomor 14 tahun 2005 tentang guru dan dosen mengamanatkan usaha untuk mengatasi permasalahan mutu guru ditanah air melalui peningkatan kualifikasi dan kompensasi bagi sekitar 2,7 juta guru di tanah air. Undang-undang itu juga mengamanatkan bahwa pada akhir periode 10 tahun setelah diundangkan, seluruh guru dapat memenuhi persyaratan kualifikasi pendidikan minimum S1 dan D-IV, dan mengikuti proses sertifikasi pendidikan. Dengan berbagai ketentuan dan dan rincian tunjangannya seperti tertera dibawah ini (Gambar 1). (http://www.kurikulum.info/2015/03/hak-guru-beserta-tunjangannya-sesuai.html).

Gambar 1: Perbandingan Guru PNS, Non PNS dan Guru Sertifikasi dan Non Sertifikasi.

UMR Guru dan PNS

Disamping itu, Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional mengamanatkan bahwa setiap warga negara yang berusia 7-15 tahun wajib mengikuti pendidikan dasar. Pasal 34 ayat 2 menyebutkan bahwa Pemerintah dan pemerintah daerah menjamin terselenggaranya wajib belajar minimal pada jenjang pendidikan dasar tanpa memungut biaya, sedangkan dalam ayat 3 menyebutkan bahwa wajib belajar merupakan tanggung jawab negara yang diselenggarakan oleh lembaga pendidikan Pemerintah, pemerintah daerah, dan masyarakat. Konsekuensi dari amanat undang-undang tersebut adalah Pemerintah dan pemerintah daerah wajib memberikan layanan pendidikan bagi seluruh peserta didik pada tingkat pendidikan dasar (SD dan SMP) serta satuan pendidikan lain yang sederajat. Besar biaya satuan BOS yang diterima oleh sekolah  pada tahun anggaran 2014, dihitung berdasarkan jumlah siswa dengan ketentuan: SD/SDLB : Rp 800.000,-/siswa/tahun dan SMP/SMPLB/SMPT : Rp 1.000.000,-/siswa/tahun http://bos.kemdikbud.go.id/home/about)[2] Dari gambar diatas (Gambar 1) akan sangat terlihat betapa timpangnya antara guru biasa (honorer, baik Honorer Yayasan atau Honorer di Sekolah Negeri), guru PNS dan guru sertifikasi. Karena ketimpangan itulah beberapa waktu yang lalu beredar upaya, keinginan Pak Mentri untuk membuat upah minimum guru. Mengapa itu penting dan apa dampaknya terhadap pendidikan kita? Disinilah tulisan ini berupaya untuk menjawabnya. Akhirnya, kita bisa melihat bahwa peningkatan SDM, kemampuan daya saing nasional tergantung kualitas SDM bangsa ini. Dan untuk meningkatkan itu semua maka mutu pendidikan adalah hal yang wajib menjadi pilihannya. Sekolah harus bermutu, berkualitas. Untuk kualitas pendidikan, dua instrumen pendidikan yang dijalankan sekaligus oleh pemerintah, disamping banyak instrumen lainnya. Dalam tulisan ini yang dilihat adalah BOS (Bantuan Operasional Sekolah), dimana tujuannya agar semua anak bangsa mampu bersekolah dan Sertifikasi Guru, dengan tujuan meningkatkan profesionalisme guru serta kesejahteraan guru sekaligus. Disamping itu ada upaya lain yang masih dalam belum jelas aturannya adalah membuat upah minimum guru dengan UMR.

Apa dampaknya ketiga intrumen itu terhadap persekolahan? Khususnya sekolah-sekolah “asal”. Karenanya, penulis mencoba untuk menggali saling keterkaitan diantara komponen-komponen itu. Oleh karenanya penulis mengambil judul, “Instrumen UMR Guru, sebagai upaya menanggulangi dampak negatif BOS dan Sertifikasi guru terhadap sekolah-sekolah “Asal”.

Batasan Masalah dan Ruang Lingkup Kajian:

Untuk membatasi masalah dan cakupan yang akan diurai dalam tulisan ini, maka perlu diberikan batasan dan definisi operasionalnya.

  1. Penegertian Guru. Guru Menurut Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005 (tentang guru dan dosen) dikatakan; Guru adalah pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikananak usia dinijalur pendidikan formal, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah. (Pasal 1 ayat 1). Dalam Tulisan ini, yang dimaksud guru adalah guru biasa, bukan guru privat atau guru keterampilan khusus, bukan guru PNS atau Guru penerima Sertifikasi. Guru disini adalah guru Honorer Yayasan atau Honorer sekolah negeri, yang mengajar disekolah-sekolah SD, SMP maupun SMA sederajat, biasanya ditandai dengan surat SK Pengangkatan Yayasan/Sekolah.
  2. Pengertian BOS. BOS Menurut Peraturan Mendiknas nomor 69 Tahun 2009, standar biaya operasi nonpersonalia adalah standar biaya yang diperlukan untuk membiayai kegiatan operasi nonpersonalia selama 1 (satu) tahun sebagai bagian dari keseluruhan dana pendidikan agar satuan pendidikan dapat melakukan kegiatan pendidikan secara teratur dan berkelanjutan sesuai Standar Nasional Pendidikan. BOS adalah program pemerintah yang pada dasarnya adalah untuk penyediaan pendanaan biaya operasi nonpersonalia bagi satuan pendidikan dasar sebagai pelaksana program wajib belajar.

Yang dimaksud disini adalah bantuan pemerintah kepada sekolah per bulan, dengan rincian Rp. 800.000/Siswa/Bulan (Untuk SD sederajat) dan Rp. 1.000.000/Siswa/Bulan (Untuk SMA sederajat). Disini tidak memasukkan bantuan-bantuan lainnya dari Kabupaten maupun Propensi.

  1. UMR (upah Minimum Regional). Disini sebenarnya mengacu pada Upah minimum Kabupaten/Propensi. Misalnya Guru mengajar di Jakarta, maka hitungannya adalah UMR Propensi Jakarta. Yang Tinggal di Pasuruan hitungannya dengan UMR Kabupaten Pasuruan, dan seterusnya.
  2. Pengertian Serifikasi. Yang dimaksud dengan sertifikasi disini adalah sertifikat mendidik, yang didapatkan oleh seorang guru setelah menempuh point/standart tertentu. Yang biasanya ditandai dengan kepemilikian sertifikat Pendidikan, dengan nomer sertifikasi dan seterusnya. Serta tunjangan yang melekat bagi guru yang menyandang sertifikasi tersebut. Besarnya tergantung golongan/kepangkatannya. Secara umum antara 1.500.000/Bulan sampai Rp. 2000.000/Bulan.
  3. Sekolah ‘Asal’. Ini masih berupa kontruk teoritis. Tetapi bisa dilihat, yang kami maksudkan dengan sekolah asal, adalah sekolah-sekolah dengan mutu pendidikan rendah. Dengan ciri-ciri kebalikan dengan sekolah/pendidikan bermutu, 1) Kegiatan Belajar Mengajarnya seadanya, ditandai dengan absensi kelas, jurnal kelas dan RPP dan kelengkapan PBM lainnya cukup rendah/seadanya. 2) Manajemen Pendidikan yang tidak Efektif dan Efisien, ditandai dengan jumlah murid tidak berkembang, minim bahkan cenderung stagnan/merosot, 3) Buku dan sarana belajar yang memadai dan selalu dalam kondisi siap pakai, sangat kurang 4) Fisik dan penampilan luar sekolah sederhana bahkan terkesan jelek. 5) Partisipasi aktif masyarakat rendah. Ini ditandai dengan SPP rendah, iuran-iuran lainnya seadanya dan seterusnya. Intinya sekolah ini adalah sekolah yang mati tidak mau dan hidup pas-pasan.

Landasan Teoritis

Untuk lebih memperjelas pemahan tentang hal-hal yang ingin dibahas, maka perlu sedikit diuraikan makna komponen-komponennya.

Komponen Kepribdian dan Profesionalitas Guru

Secara teoritik dan konseptual kegiatan mengajar yang dilakukan oleh guru selamanya berorientasi dan bermuara pada tujuan belajar. Banyak tujuan belajar seperti yang dikemukakan oleh Bloom (dalam Inlow, 1983), Gagne dan Briggs (1979), Leith (1970), Mager dan Breach (1967) dan Merrill (1983). Melihat itu semua, maka betapa rumitnya pekerjaan mengajar yang harus dilaksanakan dalam upaya mencapai tujuan belajar tersebut. Misalnya Bloom, membagi menjadi;  1) Cognitive Domain yang meliputi, a) Knowledge, b)Comprehension, c) Application, d) Analysis, e) Synthesis, f) Evaluation. 2) Affective Domain meliputi, a) Receiving, b) Responding, c) Valuing, d) Organization, e) Characterization by a value complex. 3) Psikomotor Domain, meliputi, a) Perception, b) Set, c) Guided response, d) Machanism, e) Complex overt response, f) Adaptation, g) Organization (dalam Inlow, 1983, him. 142, dalam Surna, 1999 ).

Sedangkan Gagne dan Briggs (1979) mengemukakan tujuan belajar sebagai berikut,           1) Intellectual skills, 2) Cognitive strategies, 3) Verbal information, 4) Motor skills, 5) Attitudes ( hal 49-51).

Dalam jiwa guru yang akan mengajar, terjadi proses berpikir sebab ia akan dihadapkan dengan “apa yang akan diajarkan, prosedur yang bagaimana yang harus dilalui untuk mencapai tujuan dan bagaimana mengetahui bahwa subjek didik telah belajar” (Muhammad, 1989, him. 1). Melalui proses berpikir yang demikian maka guru akan mengambil keputusan-keputusan instruksional yang menyangkut: a) Bahan apa ( dari sumber mana ) yang akan diajarkan ? b) Bagaimana cara mengajarkan bahan tersebut? Dan c) Bagaimana menilai,  sehingga dapat diketahui  apakah tujuan pengajaran telah tercapai?

Berbicara tentang keputusan pertama maka hal ini berkaitan dengan kemampuan menguasai “materi pelajaran” yang mendukung tercapainya tujuan pengajaran. Disamping itu bahan pengajaran tersebut harus dapat dicernak oleh subjek didik, yang berarti bahan tersebut cocok dengan kemampuan subjek didik. Keputusan yang kedua merupakan keputusan yang berkaitan dengan kegiatan belajar mengajar, berarti prosedur, langkah-langkah yang ditempuh dalam upaya mencapai tujuan. Keputusan yang ketiga merupakan keputusan yang berkaitan dengan evaluasi, yaitu upaya yang dilakukan untuk mengetahui apakah tujuan pengajaran telah tercapai.

Dari penelitian I Nyoman Surya (Disertasi, 1999), yang juga mengambil penelitian-penelitian sebelumnya diketahui bahwa, Variabel dominan yang terdapat dalam diri pribadi guru yang membentuk komitmen pribadi sebagai penyandang profesi guru adalah (1) kesadaran sebagai tenaga pendidik, (2) penghargaan terhadap norma dan nilai kependidikan, (3) keinginan membentuk subyek didik, (4) keterpanggilan untuk menjadi guru, (5) keinginan untuk berkorban, (6) penghayatan terhadap pekerjaan guru, (7) tanggung jawab guru,  (8)  minat menjadi guru,  (9) kemampuan intelektual,  (10) komitmen terhadap etika profesi,  (11)  sikap  terhadap  profesi  guru,  (12) kreativitas guru, (13) motif berprestasi, (14) bakat menjadi guru,  (15) cita-cita,  (16) kebutuhan hidup guru, (17) kemauan untuk bekerja, (18) suara hati, (19) kepercayaan diri sebagai guru, (20) konsep diri guru, (21)  bobot  ilmu  yang dimiliki,  (22)  keterampilan mengajar, (23) keinginan untuk mewujudkan aktualisasi diri, (24) rasa cinta kasih kepada subjek  didik, (25) ketabahan dan kesabaran, dan (26) keinginan mengabdi untuk kepentingan subjek didik.

Sementara, Variabel  dominan  yang  terdapat  dalam  lingkungan psikologis yang menggoyahkan komitmen pribadi sebagai penyandang profesi guru adalah (1) status guru dalam masyarakat  kurang  diperhitungkan,   (2) tuntutan peningkatan  kualitas  diri,  (3)  pelaksanaan  tugas administrasi, (4) sistem pengawasan kanwil, (5) sistem kenaikan pangkat, (6) gaya hidup masyarakat, (7) tugas ekstra, (8) sistem budaya birokrasi daerah, (9) sarana pendidikan,  (10)  penghargaan  masyarakat  terhadap profesi guru, (11) kepemimpinan kepala sekolah, (12) kondisi masyarakat, (13) orang tua subjek didik yang kurang  memperhatikan  pendidikan  anak-anak,   (14) peraturan yang kaku, (15) teman sekerja, (16) harapan orang tua dan masyarakat, (17) kondisi sekolah yang kurang mendukung semangat kerja, dan (18) masyarakat yang terlalu banyak mengharap kepada guru.

Bila guru tidak memiliki komitment pribadi sebagai guru, maka banyak hal yang tidak akan dan tidak mungkin dilakukan. Kecuali itu berbalikan dengan lingkup psikologis yang menggoyahkan komitmen pribadi. Sebagai contoh Komitmen rendah, tetapi status guru yang diperhitungkan dalam masyarakat, akan mengubah atau sedikit banyak mengimbangi komitmen itu. Tetapi bila terdukung, sama-sama minus hasilnya akan sangat parah.

Gambar 2: Contoh, Hubungan Umum Variabel Komitmen (X) dan  Variable Yang Menggoyahkan X, (Non X)Variable UMR Gb 2Komponen Biaya Sekolah.

Untuk mengetahui komponen-komponen biaya sekolah standart, maka kita dapat mengacu pada rincian dana penggunaan dana BOS. Dalam laman resmi BOS (http://bos.kemdikbud.go.id/home/about) disebutkan, Komponen penggunaan dana BOS meliputi;

  1. Pembelian/penggandaan buku teks pelajaran, yaitu untuk mengganti yang rusak atau untuk memenuhi kekurangan.
  2. Pembiayaan seluruh kegiatan dalam rangka penerimaan siswa baru, yaitu biaya pendaftaran, penggandaan formulir, administrasi pendaftaran, dan pendaftaran ulang, pembuatan spanduk sekolah bebas pungutan, serta kegiatan lain yang berkaitan langsung dengan kegiatan tersebut (misalnya untuk fotocopy, konsumsi panitia, dan uang lembur dalam rangka penerimaan siswa baru, dan lainnya yang relevan);
  3. Pembiayaan kegiatan pembelajaran remedial, PAKEM, pembelajaran kontekstual, pembelajaran pengayaan, pemantapan persiapan ujian, olahraga, kesenian, karya ilmiah remaja, pramuka, palang merah remaja, Usaha Kesehatan Sekolah (UKS) dan sejenisnya (misalnya untuk honor jam mengajar tambahan di luar jam pelajaran, biaya transportasi dan akomodasi siswa/guru dalam rangka mengikuti lomba, fotocopy, membeli alat olah raga, alat kesenian dan biaya pendaftaran mengikuti lomba);
  4. Pembiayaan ulangan harian, ulangan umum, ujian sekolah dan laporan hasil belajar siswa (misalnya untuk fotocopi/ penggandaan soal, honor koreksi ujian dan honor guru dalam rangka penyusunan rapor siswa);
  5. Pembelian bahan-bahan habis pakai seperti buku tulis, kapur tulis, pensil, spidol, kertas, bahan praktikum, buku induk siswa, buku inventaris, langganan koran/majalah pendidikan, minuman dan makanan ringan untuk kebutuhan sehari-hari di sekolah, serta pengadaan suku cadang alat kantor;
  6. Pembiayaan langganan daya dan jasa, yaitu listrik, air, telepon, internet, modem, termasuk untuk pemasangan baru jika sudah ada jaringan di sekitar sekolah. Khusus di sekolah yang tidak ada jaringan listrik, dan jika sekolah tersebut memerlukan listrik untuk proses belajar mengajar di sekolah, maka diperkenankan untuk membeli genset;
  7. Pembiayaan perawatan sekolah, yaitu pengecatan, perbaikan atap bocor, perbaikan sanitasi/WC siswa, perbaikan pintu dan jendela, perbaikan mebeler, perbaikan sanitasi sekolah, perbaikan lantai ubin/keramik dan perawatan fasilitas sekolah lainnya;
  8. Pembayaran honorarium bulanan guru honorer dan tenaga kependidikan honorer. Untuk sekolah SD diperbolehkan untuk membayar honor tenaga yang membantu administrasi BOS;
  9. Pengembangan profesi guru seperti pelatihan, KKG/MGMP dan KKKS/MKKS. Khusus untuk sekolah yang memperoleh hibah/block grant pengembangan KKG/MGMP atau sejenisnya pada tahun anggaran yang sama tidak diperkenankan menggunakan dana BOS untuk peruntukan yang sama;
  10. Pemberian bantuan biaya transportasi bagi siswa miskin yang menghadapi masalah biaya transport dari dan ke sekolah, seragam, sepatu/alat tulis sekolah bagi siswa miskin yang menerima Bantuan Siswa Miskin . Jika dinilai lebih ekonomis, dapat juga untuk membeli alat transportasi sederhana yang akan menjadi barang inventaris sekolah (misalnya sepeda, perahu penyeberangan, dll);
  11. Pembiayaan pengelolaan BOS seperti alat tulis kantor (ATK termasuk tinta printer, CD dan flash disk), penggandaan, surat-menyurat, insentif bagi bendahara dalam rangka penyusunan laporan BOS dan biaya transportasi dalam rangka mengambil dana BOS di Bank/PT Pos;
  12. Pembelian komputer (desktop/work station) dan printer untuk kegiatan belajar siswa, masing-masing maksimum 1 unit dalam satu tahun anggaran;
  13. Bila seluruh komponen 1 s.d 12 di atas telah terpenuhi pendanaannya dari BOS dan masih terdapat sisa dana, maka sisa dana BOS tersebut dapat digunakan untuk membeli alat peraga, media pembelajaran, mesin ketik, peralatan UKS dan mebeler sekolah.

Dari rincian-rincian itu, setelah dihitung per komponen, pemerintah menganggap cukup dengan angka Rp. 800.000/Bulan/Siswa (SD sederajat) dan Rp. 1000.000/Bulan/Siswa (SMP sederajat) (untuk tahun 2014).

 UMR (Upah Minimum Regional)   

Upah Minimum Regional adalah suatu standar minimum yang digunakan oleh para pengusaha atau pelaku industri untuk memberikan upah kepada pegawai, karyawan atau buruh di dalam lingkungan usaha atau kerjanya. Pemerintah mengatur pengupahan melalui Peraturan Menteri Tenaga Kerja No. 05/Men/1989 tanggal 29 Mei 1989 tentang Upah Minimum. Penetapan upah dilaksanakan setiap tahun melalui proses yang panjang. Mula-mula Dewan Pengupahan Daerah (DPD) yang terdiri dari birokrat, akademisi, buruh dan pengusaha mengadakan rapat, membentuk tim survei dan turun ke lapangan mencari tahu harga sejumlah kebutuhan yang dibutuhkan oleh pegawai, karyawan dan buruh. Setelah survei di sejumlah kota dalam propinsi tersebut yang dianggap representatif, diperoleh angka Kebutuhan Hidup Layak (KHL) – dulu disebut Kebutuhan Hidup Minimum (KHM). Berdasarkan KHL, DPD mengusulkan upah minimum regional (UMR) kepada Gubernur untuk disahkan. (http://the-kadi.blogspot.com/2012/11/pengertian-umr-upah-minimum-regional.html).

Daftar UMR setiap Kabupaten/Kota dan Propensi bisa berbeda-beda tergantung kesepakatan daerah masing-masing dengan menghitung kebutuhan-kebutuhannnya. Sebagai contoh UMR kabupaten-Kota Propensi Jawa Timur tahun 2015.

1. Kota Surabaya Rp. 2.710.000
2. Kab. Gresik Rp. 2.707.500
3. Kab. Sidoarjo Rp. 2.705.000
4. Kab. Pasuruan Rp. 2.700.000
5. Kab. Mojokerto Rp. 2.695.000
6. Kab. Malang Rp. 1.962.000
7. Kota Malang Rp. 1.882.250
8. Kota Batu Rp. 1.877.000
9. Kab. Jombang Rp. 1.725.000
10. Kab. Tuban Rp. 1.575.500
11. Kota Pasuruan Rp. 1.575.000
12. Kab. Probolinggo Rp. 1.556.800
13. Kab. Jember Rp. 1.460.500
14. Kota Mojokerto Rp. 1.437.500
15. Kota Probolinggo Rp. 1.437.500
16. Kab. Banyuwangi Rp. 1.426.000
17. Kab. Lamongan Rp. 1.410.000
18. Kota Kediri Rp. 1.339.750
19. Kab. Bojonegoro Rp. 1.311.000
20. Kab. Kediri Rp. 1.305.250
21. Kab. Lumajang Rp. 1.288.000
22. Kab. Tulungagung Rp. 1.273.050
23. Kab. Bondowoso Rp. 1.270.750
24. Kab. Bangkalan Rp. 1.267.300
25. Kab. Nganjuk Rp. 1.265.000
26. Kab. Blitar Rp. 1.260.000
27. Kab. Sumenep Rp. 1.253.500
28. Kota Madiun Rp. 1.250.000
29. Kota Blitar Rp. 1.243.200
30. Kab. Sampang Rp. 1.231.650
31. Kab. Situbondo Rp. 1.209.900
32. Kab. Pamekasan Rp. 1.201.750
33. Kab. Madiun Rp. 1.196.000
34. Kab. Ngawi Rp. 1.150.000
35. Kab. Ponorogo Rp. 1.150.000
36. Kab. Pacitan Rp. 1.150.000
37. Kab. Trenggalek Rp. 1.150.000
38. Kab. Magetan Rp. 1.150.000.

Gambar 3 : UMR Kabupaten-Kota Jawa Timur. Sumberhttp://yangenak.com/2014/arus-utama/inilah-daftar-lengkap-umk-2015-untuk-propinsi-jawa-timur/.

Gaji Guru Swasta/Yayasan

Sistem penggajian guru swasta sangat beraneka ragam. Itu semua tergantung kesepakatan kontrak antara pihak guru dan pihak sekolah/Yayasan. Ada sekolah yang menerapkan gaji pokok, gaji mengajar, gaji tetap dan lain-lain. Tetapi secara umum ada  dua sistem penggajian guru. 1) Sistem penggajian guru yang dihitung dengan gaji perjam/minggu dikalikan dengan jumlah jam mengajar. Misalnya sekolah X, menetapkan gaji per jam/minggu sebesar Rp. 25.000. Maka kalau seorang guru mengajar satu minggu sebanyak 24 SKS atau 24 Jam/minggu. Maka gaji yang didapatkan sebesar Rp. 25.000 x 24 jam/minggu = Rp. 600.000.

2) Ada sebagian sekolah yang cukup kuat, melakukan penggajian tetap, dimana seorang guru diharapkan masuk sekolah selama 5 sampai 6 hari, terhitung jam 07.00 sampai jam 13.00 ada yang sampai jam 15.00 sore. Dengan gaji tertentu. Misalnya Rp. 1.000.000 atau Rp.1.500.000. Apa yang dilakukan sang guru disekolah itu? Kepala sekolah atau yayasanlah yang nantiya memberikan beban padanya. Bisa sebagai guru piket, guru kelas, Perpustakaan atau lainnya. Yang penting waktu selama itu adalah milik sekolah.

Tetapi panggajian yang ke dua ini kurang lazim atau jarang, hanya sekolah-sekolah yang mampu sajalah yang melakukan seperti itu. Sekolah seperti ini biasanya muridnya cukup banyak, atau sekolah cukup favorit dengan biaya yang cukup lumayan dibandingkan sekolah lainnya. Secara umum sekolah-sekolah di Indonesia menggunakan sistem penggajian yang pertama.

Dari sistem penggajian itu kita akan melihat betapa timpangnya gaji yang diterima oleh Guru dan pegawai Pabrik. Dan antara diantara guru sendiri (Guru honorer dengan guru sertifikasi dan guru PNS).Gambar 4 UMR Sekolah “Asal”

Sekolah  “Asal” atau Asal-Sekolah, adalah sekolah-sekolah dengan kebalikan dibanding sekolah bermutu. Seperti yang             disampaikan dalam tulisan Bafadhal diatas (1999), dimana Menurut Direktorat Pendidikan Dasar ada 5 komponen yang menentukan mutu pendidikan, yaitu: 1) Kegiatan Belajar Mengajar, 2) Manajemen Pendidikan yang Efektif dan Efisien, 3) Buku dan sarana belajar yang memadai dan selalu dalam kondisi siap pakai, 4) Fisik dan penampilan 5) Partisipasi aktif masyarakat.

Sekolah “Asal” adalah 1) Sekolah dengan kegiatan PBM yang seadanya. Guru yang secara umum tidak cukup memiliki komitmen pribadi sebagai penyandang profesi guru (dengan segala kelengkapannya. Seperti yang dikemukakan oleh I. Nyoman Surna diatas). Gurunya asal mengajar, penguasaan materi rendah, seringkali tidak sama dengan jurusan mengajarnya, komponen PBM (Strategi, silabus, RPP dan lainnya seadanya, atau tidak memiliki dengan baik). 2) Manajemen Pendidikan yang tidak Effektif dan efisien. Ini dicirikan dengan kemampuan mengelola guru, mengelola sekolah dan keadministrasian yang rendah. Itu semua bisa dilihat dari gaji guru bahkan yang diterima kepala sekolah rendah, bantuan dari pihak lain rendah, dan seterusnya. 3) Buku Paket, Laboratorium, Ruang Kelas, kantor dan lainnya sangat minim. Kalaupun ada, dengan kondisi yang pas-pas-an dan kualitas rendah atau tidak memilikinya.           4) Fisik dan Penampilan sekolah yang seadanya bahkan terkesan sangat sederhana.                            5) Partisipasi Aktif Masyarakat Rendah. Ini sangat mudah dilihat dari jumlah murid yang sedikit, stagnan bahkan cenderung menurun. Penarikan Iuran lainnya hampir tidak ada atau minim. Mengapa itu bisa terjadi?

Ini semua dikarenakan saling interlinked antara stakeholder sekolah (meliputi Siswa, Guru, Kepala sekolah, Yayasan dan masyarakat penggunanya) yang tidak saling mendukung.

Pembahasan

Dengan adanya BOS, maka beban sekolah swasta menjadi sangat ringan, sebab hampir semua komponen sekolah sudah dibiayai oleh pemerintah. Sekolah hanya perlu mengembangkan PBM (Proses Belajar Mengajar), sehingga materi kurikulum benar-benar tersampaikan. Ada kelegaan di sebagian besar sekolah dengan adanya BOS itu. Kepemimpinan Kepala Sekolah dan Yayasan, sudah tidak lagi disibukkan oleh kewajiban mencari dan membiayai sekolahnya. Sebab kebutuhan minimal hidup sekolah, sudah ditanggung oleh pemerintah. Apakah ini berdampak baik? Jawabnya pasti, sebab itulah tujuan pemerintah dan amanat undang-undang. Tetapi upaya baik itu belum tentu ditangkap dengan baik oleh pihak-pihak tertentu. Sekolah “Asal” Salah satunya. Sekolah ini, dengan adanya BOS, daya hidupnya makin panjang.

Sekolah “Asal”, dikarenakan pengurusnya (Kepala Sekolah dan Yayasan) komitment pribadi sebagai guru (Variable X) nya rendah. Maka BOS hanya memberikan daya sekadar hidup. Sekolah-sekolah “Asal” mampu bertahan (tidak tutup), bukan karena mempertahankan diri untuk hidup dengan daya upaya pengurus sekolahnya (stakeholdernya), tetapi bertahan hidup karena suntikan dana (BOS) dari pemerintah.

Karena komitmen pengurus sekolah rendah, maka lingkup psikologis sekolah akan mengikuti irama pengurus sekolahnya. Kepala sekolah komitmentnya rendah dan bergaji rendah, sehingga mengurus sekolah dengan serius tidak dilakukan. Mengapa Yayasan bertahan dengan kepala sekolah seperti itu? Sebagian karena Kepala sekolahnya adalah juga pengurus yayasan atau malah keluarga pemilik. Bisa yang lain, karena memang Yayasan tahu bahwa mereka hanya mempu mendapatkan kepala sekolah seperti itu dengan gaji sekecil itu. Disamping aslinya kepedulian Komitmen sebagai guru tidak ada.

Mengapa kepala sekolahnya menerima digaji rendah? Jawabnya karena 1) Gaji seperti itu sudah cukup lumayan buat mereka, 2) Akan ada tambahan insentif-insentif kecil lainnya dari operasional sekolah. 3) Karena tuntutan pihak yayasan kepadanya juga sangat rendah. 4) Faktor lain adalah harapan kepala sekolah, setelah sekian tahun akan mendapatkan tunjangan profesi dengan sertifikasi.

Bagaimana dengan Gaji guru-guru sekolah “asal”? Tidak hanya sekolah “asal”, tetapi secara umum gaji guru di negara kita sangat rendah. Data yang penulis bisa dapatkan di daerah Pasuruan, Cirebon, Pekalongan dan sebagian Madura. Menunjukkan bahwa gaji guru sekolah itu berkisar antara Rp. 12.500 sampai Rp. 35.000/Jam/Minggu. Kalau kita rata-rata, gaji guru sekolah itu sebesar Rp. 25.000/jam/minggu. Maka dengan beban sebesar sertifikasi (24 jam/minggu). Maka guru akan mendapatkan gaji sebesar Rp. 25.000/jam/minggu dikalikan 24 jam/minggu) sama dengan Rp. 600.000/bulan. Sebuah gaji yang sangat rendah sekali dan sangat memprihatikan.

Mengapa guru-guru digaji serendah itu dan menerima? Jawabnya adalah 1) Tidak ada pilihan lain, kecuali menjadi guru. Asal menjadi guru walaupun dengan gaji rendah. 2) Tuntutan guru, sekolah ‘asal’ sangat rendah. Tidak ada tuntutan profesional. Baik tuntutan oleh masyarakat pengguna (wali murid), juga tuntutan dari kepala sekolah dan yayasan, bahkan pemerintah. 3) Dalam banyak hal, menjadi guru, itu tetap memiliki waktu untuk bekerja lainnya, dibandingkan bekerja pabrik. 4) Status guru masih dianggap  terhormat dimata masyarakat. 5) Berharap setelah sekian tahun, akan mendapatkan tunjangan sertifikasi. Dan lain sebagainya.

Bila ini dibiarkan, maka lingkaran setan akan terus terjadi. Sekolah-sekolah “asal” akan tetap bertahan dengan tanpa beban apa-apa. Kualitas tidak ada perubahan apapun, semantara beban operasional makin rendah karena adanya BOS. Dengan ini sekali lagi sekolah-sekolah itu akan makin santai tanpa beban apa-apa. Padahal niatan pemerintah dengan adanya BOS dan sertifikasi bukan sekadar angka patisipasi sekolah tetapi juga sekolah makin berkualitas dan guru makin profesional. Bila sekolah “asal” tetap, maka pemerintah akan terbebani. Alokasi dana pembangunan diarahkan di sektor pendidikan sebagai investasi sumber daya manusia. Tetapi akan sangat timpang sebab data kasar menunjukkan, sekolah-sekolah “asal” itu jumlahnya cukup besar.

 Intrumen UMR Sebagai Pisau Bedah Lingkaran Setan.

Bila kita melihat Permendiknas No 22/2006 tentang Standar isi untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah. Beban belajar bagi SD/MI/SDLB, SMP/MTs/SMPLB, SMA/MA/SMALB dan SMK/MAK dimuat pada Bab III. Permendiknas ini memuat aturan standar isi sebagaimana dimaksud oleh Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan, disana disebutkan bahwa SD/MI/SDLB berlangsung selama 35 menit; SMP/MTs/SMPLB berlangsung selama 40 menit; SMA/MA/SMALB/ SMK/MAK berlangsung selama 45 menit.

Bila kita mencoba untuk memmberlakuan kesetaraan UMR Guru/Daerah, maka skenario perhitungannya sebagai berikut. Untuk penyetaraan sederhana, maka bisa kita buat sama-sama 8 jam kerja. Pegawai Pabrik bekerja sebanyak 8 Jam x 60 menit x 5 hari = 2400 menit/minggu. Guru setiap SKS = 40 menit (sesuai dengan beban kurikulum Tingkat SMP/MTs/SMPLB). Jadi bila dibuat kesetaraan, maka guru mesti mengajar 2400 menit/40 menit = 60 SKS/Minggu. Coba kita lihat perbandingan sistem gajinya:

Gambar 5 UMR

Dilihat dari gambar diatas, maka kita melihat sebuah ketimpanga yang sangat jelas. Beberapa Kejanggalan Penggajian Guru dibandingkan Pegawai Pabrik yaitu; 1) Dengan beban kerja yang sama bahkan lebih berat, mendapatkan imbalan gaji, honor yang berbeda. Rp. 1.150.000 (Pegawai Pabrik),  dan Rp. 750.000 (Guru Honorer), daerah minus. Dan                     Rp. 2.500.000 (Gaji Pegawai Pabrik), dan Rp.1.800.000 (Guru Honorer), untu daerah plus.

2) Pekerja pabrik tidak dituntut dengan kualifikasi tertentu, apalagi Sarjana (S-1). Sementara guru SD keatas, bahkan sekarang TK/Paud, wajib sarjana (S1). 3) Pekerja pabrik dengan gaji/honor itu, adalah jam masuk-kerjanya (bukan jam kerja riil, sebab ada istirahat dan lain sebagainya). Sementara guru dengan 60 Sks (hitungan diatas), artinya dia wajib mengajar dikelas jam (kerja riil-nya). Bukan sekedar keberadaannya di sekolah dan tidak terhitung istirahat, seperti pegawai pabrik. 4) Guru dituntut ujian, membuat persiapan mengajar, mengevaluasi dan keadministrasian lainnya. 5) Dalam dunia “bisnis murni” sekalipun (sedikit menyederhanakan), bila ‘rejek’ itu ditoleransi, karena yang dikerjakan bukan hal yang sangat bernilai, maka nilai pekerjaan itu menjadi rendah/biasa (penggajiannya dst). Sementara kita tahu dan bisa dibandingkan pekerjaan pabrik dengan pengelolaan manusia, pengelolaan SDM. Jelas sangat jauh dan timpang. 6) Dan 60 SKS/Minggu itu sama dengan 12SKS/Hari (5 hari per-minggu), itu adalah hal yang mustahil.

Dengan gambara ini, maka pemerintah seharusnya mengkonversi UMR untuk guru ini dengan Jam/SKS. Misalnya kalau bekerja 24 SKS (sesuai dengan hitungan pemerintah untuk beban guru profesional/sertifikasi), itu semestinya mendapatkan rupiah tertentu, disesuaikan dengan daerahnya masing-masing. Saya ambil contoh sederhana-nya.

Skenario I :

Daerah Minus UMR sekita Rp. 1.150.000 = 60 SKS, maka 1 SKS = 19.166 ( ini naik Rp.6.500 dari aslinya, Rp. 12.500/jam/Minggu). Ini skenario sangat minim.

Daerah Plus UMR sekitar Rp. 2.500.000 = 60 SKS, Maka 1 SKS = 41.666 (Naik Rp.14.000 dari aslinya). Ini skenario minimal.

Menurut saya, Ini minimal harus dilakukan oleh pemerintah, walaupun masih jauh dari penghargaan guru, dengan kualifikasi yang diatas pegawai pabrik dalam semua hal.

Skenario II:

Daerah Minus, UMR sekitar Rp. 1.150.000 = 24 SKS (Sesuai dengan bebab sertifikasi). Maka 1 SKS = 47.916/SKS/Jam/Minggu.

Daerah Plus, Rp. 2.500.000 = 24 SKS/Minggu, maka 1 SKS = Rp.104.166/SKS/Jam/Minggu.

Dengan skenario diatas, maka akan banyak dampak positifnya (khususnya skenario II) Yaitu; 1) Tidak akan mudah mendirikan sekolah swasta (karena biaya guru yang besar). Operasional Cost yang besar. Disinyalir, banyak sekolah swasta sekarang yang didirikan dan bergerak secara operasional, hanya mengandalkan BOS. Sekolah-sekolah ini, “mencari untung”, dan tidak bergerak dengan aktif (sekolah ‘asal’). 2) Guru juga akan dituntut oleh sekolahnya, karena secara penggajian cukup besar. Dengan ini guru “Asal” tidak akan mendapatkan toleransi yang cukup. Asal mau mengajar, asal punya waktu, asal masuk kelas, asal punya gelar sarjana, asal ini dan itu, tidak punya tanggung jawab pengajaran, pendidikan dan keilmuan yang jelas. 3) Dengan konsep baru ini, sekolah akan diberi dua pilihan. a) Mematok SPP yang tinggi. Bila ini dilakukan sekolah, maka mereka pasti diharuskan bertindak profesional, memberikan layanan yang baik (bukan standart). Karena wali-murid (orang tua) akan komplain dan meminta sesuatu layanan tertentu kepada sekolah, karena SPP yang cukup tinggi. b) Jumlah murid sekolah itu harus cukup banyak, sehingga cost/unit dan overhead yang lainnya mencukupi (skala-economy-nya) dst. Sehingga mereka tidak perlu menaikkan SPP. c) Sekolah-sekolah harus siap rugi. Ini tidak mungkin dilakukan, kecuali sekolah-sekolah “Serius”, dimana mereka siap rugi demi pendidikan, demi kemajuan visi dan misi mereka. 4) Banyak sekolah-sekolah yang tidak layak harus tutup, atau ada sedikit barrier/hambatan untuk mendirikan sekolah yang “Asal”.

Beberapa tahun lalu ada wacana merger sekolah. Dimana sekolah-sekolah yang wala yamut wala yahya (Tidak mutu dan berjaya = tidak berkualitas dan muridnya tidak banyak). Harus digabungkan dengan sekolah lainnya yang dekat. Tapi banyak sekolah ‘asal’ tidak mau, dengan alasan nama dia (Pendiri, bahkan sekolah sekolah tertentu menggunakan nama orang), nama yayasan, sekolah tinggalan dari nenek-moyang mereka, ‘ini tinggalan orang tua yang harus dipertahankan’, dst. Dengan adanya UMR mereka tidak bisa mengelak, kalau ngotot, harus siap tekor/rugi.

5) Bahkan dengan skenario ini, percepatan minat menjadi tenaga pendidik akan lebih besar lagi (walaupun dengan sertifikasi), peminatan terhadap calon guru di LPTK sudah meningkat pesat.

Kesimpulan dan Saran

Dari penjabaran diatas, maka pembenahan pendidikan, utamanya sekolah ‘asal’ harus dilakukan bila bangsa Indonesia ingin SDMnya meningkat dan berdaya saing. Dengan pembenahan ini, maka ada tindakan dan penataan yang serius sekolah-sekolah ASAL. Sebab sekolah-sekolah ini jumlahnya cukup banyak, dan semuanya bersandar dalam kelangsungan sekolahnya dari BOS dan lainnya.

Bila skenario Intrumen ini dilakukan, maka profesionalisme guru dan sekolah akan mengalami percepatan. Percepatan itu sudah sangat didorong oleh pemerintah, tetapi pihak swasta belum cukup ikut mendorong. Dengan skenario ini semua-nya ikut bergerak bersama demi mutu pendidikan bangsa ini. Sekali lagi sekolah “Asal”, tidak boleh diam bahkan menjadi beban pemerintah dalam percepatan pendidikan. Sekolah “ASAL“, dimana asal mengajar, asal punya waktu, mengajar dibuat sampingan pengisi waktu daripada bengong dirumah. Asal sekolah jalan, bagaimana jalannya, bagaimana ruang kelasnya, kurikulumnya, buku-bukunya, gurunya, tidak terurus dengan jelas.

Dan mirisnya, sangat banyak sekolah-sekolah semacam ini di Negara kita, dan lebih miris lagi, justru dominan itu ada di tingkat TK/PAUD/SD/MI. Padahal sekolah dasar TK/SD/PAUD/MI adalah awal mula pendidikan selanjutnya dan merupakan hal yang sangat penting dalam pembentukan karakter, disiplin dlsb.

Tulisan ini adalah tulisan awal, sehingga perlu pendalaman lagi, batasan, dan tambahan data kongkretnya. Mudah-mudahan tulisan dapat memberikan gambaran buat pengambil kebijakan, bagaimana seharusnya dalam menangani sekolah-sekolah semacam itu. Apapun dalam manajemen maka seringkali dalam POAC (Planning, Organizing, Actuating dan Controlling),  Actuating / Implementasi yang didalamnya terkadung Kepemimpinan dan Motivasi yang bermasalah. Jangan sampai negara kita melakukan penyiraman, pemupukan sebuah pohon pendidikan, tetapi ada benalu/parasit yang memanfaatkan itu tanpa memberikan kontribusi cukup terhadap tumbuhnya sebuah pohon.

Mudah-mudahan kedepan dan tidak lama lagi, negara kita sudah mampu menjadi Swedia atau Jepang dalam pendidikan. Dimana tertinggi dalam TIMM, PIRLS dan lain-lain. Serta calon tenaga pendidik diperebutkan oleh generasi-generasi terbaik bangsa ini.

Daftar Kepustakaan :

Alwi, Muhammad, 2011, Belajar Menjadi Bahagia dan Sukses Sejati, Jakarta, Elexmedia.

_______, 2014, Anak Cerdas dan Bahagia dengan Pendidikan Positif”, Jakarta, Nourabook.

Bafadhal, Ibrahim, Peningkatan Mutu Pendidikan di SD melalui Pendekatan Whole School Development”. Jurnal Manajemen Pendidikan, tahun 9, Nomor 1, Agustus 1999, IKIP Malang.

Berger, Peter L, 1990, Revolusi Kapitalis, Cetakan 1, Jakarta, LP3ES.

Gagne, Robert, 1977. The Conditions of Learning, Ed-3, Holt, Rinehart and Wilson. Inc.

Handayani, Rr. Dewi, 2009, Persepsi Peserta Pendidikan dan Pelatihan terhadap Kualitas Penyelenggaraan    Pendidikan dan Pelatihan di Badan Pengembangan SDM Hukum dan Ham. Tesis UI. Tidak di terbitkan.

Nugaan Y.W.S Usman Barat, 1991, Hubungan Potensi Belajar, Motivasi Berprestasi, sikap dan kebiasaan belajar dan kualitas Sekolah dengan Hasil Belajar. Tesis UI. Tidak di terbitkan.

Ohmae, Kenichi, 1991, Dunia Tampa Batas, kekuatan dan strategi di dalam ekonomi yang saling mengait. Jakarta, Bina Aksara.

Peter, Tom, 1987, Thriving on Chaos, New York, Harper and Row.

Sergiovanni, T.J. 1987. The Principlship : A Reflective Practice Perspective. Boston : Allyn and Bacon. Inc.

Suparno, Prof. Dr. H dan Dr. Waras Kamdi, M.Pd, 2008, Pengembangan Profesionalitas Guru”, Departemen Pendidikan Nasional. Universitas Negeri Malang.

Surna, I Nyoman, 1999, Ruang Hidup Psikologis dan Kinerja Mengajar Guru, Disertasi PPs UI. (Tidak diterbitkan).

http://bolimoso.blogspot.com/2010/04/faktor-faktor-yang-mampu-menciptakan.html

http://www.kurikulum.info/2015/03/hak-guru-beserta-tunjangannya-sesuai.html

http://bos.kemdikbud.go.id/home/about http://thekadi.blogspot.com/2012/11/pengertian-umr-upah-minimum-regional.html                          (diakses, 8/24/2015, jam 12:26).

https://pendidikanpositif.wordpress.com/2014/12/02/anies-baswedan-daftar-umr-guru-dan-sertifikasi/

http://yangenak.com/2014/arus-utama/inilah-daftar-lengkap-umk-2015-untuk-propinsi-jawa-timur/  (Diakses 8/24/2015, 12:52).

www.bappenas.go.id/index.php/download_file/view/9564/1781/). (Diakses 8/28/2015, 13:15).

[2] Angka Rp. 800.000/siswa/tahun untuk SD/MI/SDLB Dan Rp. 1.000.000/Siswa/Tahun untuk SMP/SMPLB/SMPT, mengacu pada Juknis BOS, tahun 2014).

Dipublikasi di Uncategorized | Meninggalkan komentar

BERIKAN HAK ILMU PADA ILMU DAN HAK “AGAMA” PADA “AGAMA” (Hubungan Agama dan Sain)

Hubungan Science dan Agama

Hubungan Science dan Agama

Upaya mengurai, tesis-tesis hubungan antara  Agama dan Ilmu-Sain.

Abstraksi : Sejarah awal menunjukkan bahwa banyak hal diterangkan oleh Agama, setelah renaisance, revolusi Ilmiah, terjadi persaingan antara sain/Ilmu Pengetahuan dan Agama. Hubungan antar keduanya seperti pasang-surut, kadang naik, turun dan mendatar. Terdapat empat varian hubungan sain dan agama : konflik, independensi, dialog dan integrasi. Dalam hubungan konflik, sains menegasikan eksistensi agama dan agama menegasikan sains, masing-masing hanya mengakui keabsahan eksistensi dirinya. Sementara itu dalam hubungan independensi, masing masing mengakui keabsahan eksistensi yang lain dan menyatakan bahwa antra sains dan agama tidak ada titik temu satu sama lainnya. Sedangkan dalam hubungan diolog diakui bahwa antara sains dan agama terdapat kesamaan yang bisa didialogkan antara para ilmuan dan agamawan, bahkan bisa saling mendukung. Sedangkan yang keempat adalah integrasi, dia menyatakan bahwa ada dua varian integrasi yang menggabungkan agama dan sains. Yang pertama disebutnya sebagai teologi natural dan yang kedua teologi alam. Pada varian teologi natural menurut Barbour teologi mencari dukungan pada penemuan-penemuan ilmiah, sedangkan pada varian teologi alam pandangan teologis tentang alam justru harus diubah dan disesuaikan dengan penemuan-penemuan yang mutakhir tentang alam.

Kata Kunci : Ilmu Pengetahuan, Agama, Konflik, Independensi, dialog, integrasi

 LATARBELAKANG            

Al KhaibariBeberapa waktu lalu ramai dikritik bahkan dicemooh sebuah pendapat yang dikeluarkan oleh seorang ulama muda Saudi, tentang Matahari itu mengelilingi Bumi, bukan sebaliknya. Pendapat ini dilansir dalam al Arabiiyah, dikemukakan oleh Syech Bandar al Khaibari. Demikian juga pendapat yang sama dikemukakan oleh ulama saudi lainnya Ibn Baz serta Ibn Utsaimin (Salafi).  Bahkan al Khaibari menyangkal adanya manusia ke Bulan. Itu hanyalah efek hollywood katanya.  http://www.skanaa.com/en/news/detail/ulama-saudi-sebut-matahari-kelilingi-bumi/infospesial. Pendapatnya menggunakan dalil-dalil Nash (al Qur’an dan Hadist). Saat mencoba memberikan argumentasi rasional, tampak sekali lemahnya pengetahuan tentang fisika dan grafitasi. Lepas mana yang benar dan salah, inilah contoh salah satu hubungan antara Sain dan Agama. Hubungan antara agama dan ilmu pengetahuan telah menjadi pembahasan dan subjek penelitian sejak lama.  Hubungan ini naik turun, kadang friksi, lalu meningkat konflik, kadang harmoni dan biasa-biasa saja.

Ilmu mengakui argumentasi, empirisme dan bukti-bukti, sementara agama mengakui itu, filsafat, metafisika, tetapi juga menerima wahyu, iman dan kesucian sebagai landasannya. Dahulu  sebelum revolusi ilmiah banyak hal yang dicapai oleh masyarakat itu diselenggarakan dan diinspirasi oleh tradisi agama. Banyak dari metode ilmiah dirintis pertama kali oleh ulama Islam, dan kemudian oleh orang-orang Kristen, dst.

Karena peristiwa Galileo, yang terkait dengan revolusi ilmiah dan Abad Pencerahan,  John William Draper percaya dengan Tesis konflik. Ia Percaya bahwa sejarah agama dan sains memiliki konflik dalam metodologis, faktual dan politik. Tesis ini dipegang oleh beberapa ilmuwan kontemporer seperti Richard Dawkins, Steven Weinberg dan Carl Sagan, dan beberapa kreasionis.  Walaupun tesis konflik tetap populer bagi publik, tetapi telah kehilangan dukungan di kalangan sebagian besar sejarawan kontemporer ilmu dan mayoritas ilmuwan di universitas elit di AS tidak memegang pandangan konflik ini. 

Banyak ilmuwan, filsuf, dan teolog sepanjang sejarah telah melihat kompatibilitas atau kemerdekaan antara agama dan ilmu pengetahuan seperti Francisco Ayala, Kenneth R. Miller dan Francis Collins. Biolog Stephen Jay Gould, ilmuwan lain, dan beberapa teolog kontemporer berpendapat bahwa agama dan sains adalah magisteria tidak tumpang tindih, menangani bentuk dasar yang terpisah dari pengetahuan dan aspek kehidupan. Beberapa teolog atau sejarawan sains, termasuk John Lennox, Thomas Berry, Brian Swimme dan Ken Wilber mengusulkan interkoneksi antara ilmu pengetahuan dan agama, sementara yang lain seperti Ian Barbour percaya ada hubungan bahkan paralel.

Penerimaan publik dari fakta-fakta ilmiah dapat dipengaruhi oleh agama; banyak masyarakat Amerika Serikat menolak gagasan evolusi melalui seleksi alam, terutama mengenai manusia. Namun demikian, American National Academy of Sciences telah menulis bahwa “bukti evolusi dapat sepenuhnya kompatibel dengan keyakinan agama,” pandangan resmi didukung oleh berbagai agama secara global.  (https://en.wikipedia.org/wiki/Relationship_between_religion_and_science ).

Sains cenderung menjadi otonom sehingga karenanya ia lebih sering dipandang sebagi satu-satunya jalan menuju kebenaran, sehingga sebagai akibatnya kita sering menghadapi benturan antara sains dan agama. Persoalannya sains sebenarnya hanya berbicara tentang realitas obyktif tentang alam dan manusia, padahal sesungguhnya agama berbicara tentang manusia seutuhnya yaitu tubuh, ruh dan alam seluasnya (alam nyata dan alam gaib). Sebenarnya terdapat titik temu antara keduanya.

Namun dalam perjalanan sejarahnya beberapa abad setelah renaisans, revolusi sains diikuti revolusi industri dan revolusi informasi, pengetahuan ilmiah kita tentang diri dan alam lingkungan kita telah berubah secara tajam, sayangnya gambaran yang baru itu untuk banyak orang cenderung menegasikan gambaran yang diberikan oleh agama-agama dunia yang manapun, karena itulah agama makin ditinggalkan. Hal ini terjadi jika kita hanya melihat pada tataran permukaan saja, padahal seharusnya kita melihat bahwa sebenarnya teologi hanyalah merupakan konstruksi intelektual manusia yang mencoba memahami pesan-pesan religius para nabi.

Dengan demikian, kita harus berani menghadapkan teologi dengan sains dan membuat keduanya berkembang secara dialektis dan komplementer untuk memecahkan permasalahan umat manusia yang ditimbulkan oleh penerapan sains yang semakin maju itu.

Dari latar belakang itu, dalam tulisan ini, kami mencoba untuk mencari tahu,

  1. A) Apa itu Agama, Apa itu Sain?
  2. B) Bagaimana hubungan antara keduanya?
  3. C) Dan mengapa hubungan itu terjadi?

 DEFINSI-DEFINISI

 Definisi Agama

Agama adalah sebuah koleksi terorganisir dari kepercayaan, sistem budaya, dan pandangan dunia yang menghubungkan manusia dengan tatanan/perintah dari kehidupan. Émile Durkheim juga mengatakan bahwa agama adalah suatu sistem yang terpadu yang terdiri atas kepercayaan dan praktik yang berhubungan dengan hal yang suci. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KKBI), Agama adalah sistem yang mengatur tata keimanan (kepercayaan) dan peribadatan kepada Tuhan Yang Mahakuasa serta tata kaidah yang berhubungan dengan pergaulan manusia dan manusia serta lingkungannya. Kata “agama” berasal dari bahasa Sanskerta, āgama yang berarti “tradisi”. Kata lain untuk menyatakan konsep ini adalah religi yang berasal dari bahasa Latin religio dan berakar pada kata kerja re-ligare yang berarti “mengikat kembali”. Maksudnya dengan berreligi, seseorang mengikat dirinya kepada Tuhan. Menurut filolog Max Müller, akar kata bahasa Inggris “religion”, yang dalam bahasa Latin religio, awalnya digunakan untuk yang berarti hanya “takut akan Tuhan atau dewa-dewa, merenungkan dengan hati-hati tentang hal-hal ilahi, kesalehan”. Banyak bahasa memiliki kata-kata yang dapat diterjemahkan sebagai “agama”, tetapi mereka mungkin menggunakannya dalam cara yang sangat berbeda, dan beberapa tidak memiliki kata untuk mengungkapkan agama sama sekali. Sebagai contoh, dharma kata Sanskerta, kadang-kadang diterjemahkan sebagai “agama”, juga berarti hukum.

Manusia memiliki kemampuan terbatas, kesadaran dan pengakuan akan keterbatasannya menjadikan keyakinan bahwa ada sesuatu yang luar biasa di luar dirinya. Sesuatu yang luar biasa itu tentu berasal dari sumber yang luar biasa juga. Dan sumber yang luar biasa itu ada bermacam-macam sesuai dengan bahasa manusianya sendiri. Misal Tuhan, Dewa, God, Syang-ti, Kami-Sama dan lain-lain atau hanya menyebut sifat-Nya saja seperti Yang Maha Kuasa, Ingkang Murbeng Dumadi, De Weldadige, dan lain-lain. Keyakinan ini membawa manusia untuk mencari kedekatan diri kepada Tuhan dengan cara menghambakan diri, yaitu: Menerima segala kepastian yang menimpa diri dan sekitarnya dan yakin berasal dari Tuhan, dan menaati segenap ketetapan, aturan, hukum dll yang diyakini berasal dari Tuhan. Dengan demikian, agama adalah penghambaan manusia kepada Tuhannya. Dalam pengertian agama terdapat 3 unsur, ialah manusia, penghambaan dan Tuhan. Maka suatu paham atau ajaran yang mengandung ketiga unsur pokok pengertian tersebut dapat disebut agama. Lebih luasnya lagi, agama juga bisa diartikan sebagai jalan hidup. Yakni bahwa seluruh aktivitas lahir dan batin pemeluknya diatur oleh agama yang dianutnya. Bagaimana kita makan, bagaimana kita bergaul, bagaimana kita beribadah, dan sebagainya ditentukan oleh aturan/tata cara agama.

Montgomery Watt mengatakan; Bagi orang yang memandang agama mengandung suatu makna dan bukan sekedar ketaatan terhadap namanya semata, terdapat dua point yang dapat ditegaskaskan; Pertama, gagasan keagamaannya membangun kerangka intelektual dirinya darimana dia memandang segenap aktivitasnya berlangsung. Dari keterikatan ini, aktivitasnya dalam konteks yang lebih luas memperoleh arti penting, dan pertimbangan atas keterikatannya ini dapat mempengaruhi perencanaan umum terhadap kehidupannya secara lebih khusus.

Kedua, karena agama membawa suatu kesadaran terhadap konteks aktivitasnya yang lebih luas seperti disebutkan diatas, dimana tujuan-tujuan yang mungkin bagi kehidupan manusia sudah ditentukan, maka hal itu kerap kali bisa membangkitkan motif yang melandasi aktivitas yang tentu saja tanpa motif yang diberikan oleh agama beberapa aktifitas tidak bisa dilaksanakan. (Watt : 1980 :  43-44).

 Definisi Sain

Kata Science dari bahasa Latin scientia, “pengetahuan, cara mengetahui, keahlian,” dari sciens (scientis genitive) “cerdas, terampil,” mungkin awalnya “untuk memisahkan satu hal dari yang lain, untuk membedakan , “terkait dengan scindere” untuk memotong, membagi. Science/Ilmu secara definisi adalah usaha yang sistematis untuk membangun dan mengatur pengetahuan dalam bentuk diuji penjelasan dan prediksi tentang alam semesta. Dalam dunia modern “ilmu” yang paling sering, mengacu pada cara mengejar pengetahuan, tidak hanya pengetahuan itu sendiri. Selama abad ke-19, kata “ilmu” menjadi semakin terkait dengan metode ilmiah, sebagai cara disiplin untuk mempelajari alam, termasuk fisika, kimia, geologi dan biologi. Pada abad 19, istilah ilmuwan mulai diterapkan kepada mereka yang mencari pengetahuan dan pemahaman tentang alam. Ilmu pengetahuan modern biasanya dibagi ke dalam ilmu-ilmu alam (Eksak), dan ilmu-ilmu sosial (IPS) yang mempelajari orang-orang dan masyarakat, dan ilmu-ilmu yang formal seperti matematika. Ilmu-ilmu formal sering dikecualikan karena mereka tidak tergantung pada data empiris/pengamatan, bahkan terkadang dianggap bukan Ilmu. Disinilah seringkali dalam masa renaisance, pencerahan, upaya science menjadi sciencism (dari sain menjadi saintism).

 Definisi Kepercayaan/Iman dan Bukti (Proof).

Apa itu  Keyakinan (Belief)? Belief menurut The Oxford English Dictionary, adalah a) Suatu perasaan bahwa sesuatu itu ada atau benar, terutama hal-hal yang tidak memiliki bukti. b) Pendapat yang dipegang teguh, c) Sesuatu yang dipercaya, d) Keimanan.  Apabila kita berbicara tentang keyakinan, maka kita tidak akan lepas dari Bukti (proof). Bukti (proof) menurut kamus Webster, adalah rangkaian langkah, pernyataan, atau demontrasi yang mengarahkan kepada kesimpulan yang sah. Walaupun kita tahu, penegakan, methode, standart-standart sah tidaknya sebuah bukti, itu ada perbedaan antara satu kajian dengan kajian lain, antara agama dan ilmu pengetahuan (Newbwrg, 2013 : 60).

Disini timbul pertanyaan, Bagaimana sebuah keyakinan (yang merupakan intisari dari agama) masuk dalam diri manusia? Siapakah sebenarnya yang berkeyakinan itu? Bagaimana keyakinan itu diproses, dipertahankan, bahkan diganti serta mengalami perkembangan? Inilah pertanyaan-pertanyaan menarik yang perlu didiskusikan, dan inilah penyebab diskusi yang tidak akan selesai antara Ilmuwan/Saintis dan Agamawan (Antara Sain dan Agama).

Hubungan antara Sain dan Agama mengalami pasang naik dan surut. Paling tidak ada beberapa hubungan antara Ilmu dan agama. Ada hubungan konflik diantara keduanya, ada Interdependensi, dialog dan Pararellitas.

 PEMBAHASAN

 Karena Agama selalu mengklaim memberikan panduan pada manusia secara menyeluruh, mulai dari A sampai Z kehidupan, sementara dalam perkembangannya banyak hal-hal yang dulunya diterangkan oleh Agama ditantang kebenarannya oleh Akal-Rasional dan Ilmu Pengetahuan. Dengan perkembangan Akal-Rasional dan Ilmu Pengetahuan, Kepercayaan (Agama) diharapkan memberikan Proof (pembuktian) klaim kebenarannya. Sain makin lama makin otonom, sehingga sain menjadi bersaing dalam memberikan proof akan solusi yang diberikan pada manusia. Disinilah relasi agama dan sain berkembang.

Berbagai Hubungan antara Ilmu/Sain dan Agama

Ian G Barbour (2000 : 47-94) mencoba memetakan hubungan sains dan agama. Menurutnya antar sains dan agama terdapat empat varian hubungan yaitu: konflik, independensi, dialog dan integrasi. Dalam hubungan konflik, sains menegasikan eksistensi agama dan agama menagasikan sains, masing-masing hanya mengakui keabsahan eksistensi dirinya. Sementara itu dalam hubungan independensi, masing masing mengakui keabsahan eksistensi yang lain dan menyatakan bahwa antra sains dan agama tidak ada titik temu satu sama lainnya. Sedangkan dalam hubungan diolog diakui bahwa antara sains dan agama terdapat kesamaan yang bisa didalogkan antara para ilmuan dan agamawan, bahkan bisa saling mendukung. Sedangkan yang keempat adalah integrasi, disini menyatakan bahwa ada dua varian integrasi yang menggabungkan agama dan sains. Yang pertama disebutnya sebagai teologi natural dan yang kedua teologi alam. Pada varian teologi natural menurut Barbour teologi mencari dukungan pada penemuan-penemuan ilmiah, sedangkan pada varian teologi alam pandangan teologis tentang alam justru harus diubah dan disesuaikan dengan penemuan-penemuan yang mutakhir tentang alam.

Tesis-Konflik

Berbagai sejarah, argumen filosofis, dan ilmiah telah dikemukakan dalam mendukung gagasan bahwa sains dan agama berada dalam konflik. Banyak contoh individu, agama atau lembaga mempromosikan klaim yang bertentangan tentang konsensus ilmiah modern, termasuk Kreasionisme (lihat tingkat dukungan untuk evolusi), sikap oposisi Gereja Katolik Roma untuk Heliocentrism, termasuk urusan Galileo. Selain itu, klaim agama yang telah lama dipegang telah ditantang oleh penelitian ilmiah seperti STEP,  yang meneliti kemanjuran doa. Sejumlah ilmuwan termasuk Jerry Coyne telah membuat argumen untuk ketidakcocokan filosofis antara agama dan ilmu pengetahuan. Sebuah Argumen terhadap konflik antara agama dan ilmu pengetahuan dengan  menggabungkan pendekatan historis dan filosofis telah disajikan oleh Neil Degrasse Tyson. Tyson berpendapat bahwa para ilmuwan agama, seharusnya bisa mencapai lebih –dari Newton –seandainya mereka tidak menerima jawaban-jawaban keagamaan terhadap isu-isu ilmiah yang belum terselesaikan.

Tesis konflik, yang menyatakan bahwa agama dan ilmu pengetahuan telah dalam konflik terus-menerus sepanjang sejarah, dipopulerkan di abad ke-19 oleh John William Draper dan Andrew Dickson White. Tetapi Kebanyakan sejarawan kontemporer ilmu pengetahuan sekarang menolak tesis konflik dalam bentuk aslinya, dengan alasan bahwa hal tersebut telah digantikan oleh penelitian sejarah berikutnya yang menunjukkan pemahaman yang lebih bernuansa /jelas. 

Meskipun gambaran populer tentang kontroversi permusuhan kekristenan terhadap teori-teori ilmiah baru berlanjut, penelitian telah menunjukkan bahwa kekristenan sering dipelihara dan didorong usaha ilmiah, sementara di lain waktu, keduanya secara bersama-ada tanpa ketegangan atau dalam upaya yang harmonis. Jika Galileo dan pengadilan Scopes datang ke pikiran sebagai contoh konflik, mereka adalah pengecualian dan bukan aturan. (Gary Femgren, Sains & Agama).

Saat ini, banyak pengetahuan di mana tesis konflik dasar awalnya, dianggap tidak akurat. Misalnya, klaim bahwa orang-orang di Abad Pertengahan yang banyak percaya bahwa Bumi itu datar pertama disebarkan pada periode yang sama yang berasal thesis konflik dan masih sangat umum dalam budaya populer. Sarjana modern menyatakan bahwa klaim tersebut sebagai keliru, sebagai sejarawan kontemporer ilmu pengetahuan David C. Lindberg dan Ronald L. Numbers menulis: “hampir tidak ada seorang sarjana Kristen Abad Pertengahan yang tidak mengakui kebulatan [bumi] dan bahkan tahu lingkar perkiraan nya.

Kesalahpahaman lain seperti: “Gereja melarang otopsi dan pembedahan selama Abad Pertengahan,” “kebangkitan Kristen membunuh ilmu kuno,” dan “Gereja Kristen abad pertengahan menekan pertumbuhan ilmu pengetahuan alam”    adalah merupakan Angka-angka laporan sebagai contoh dari banyaknya mitos populer yang masih ada sebagai kebenaran sejarah, meskipun mereka tidak didukung oleh penelitian sejarah saat ini. Mereka membantu menjaga citra populer.” Peperangan antara ilmu pengetahuan dan agama”.

Sementara H. Floris Cohen menyatakan bahwa kebanyakan sarjana menolak mentah artikulasi dari tesis konflik, seperti Andrew D. White, ia juga menyatakan bahwa versi lebih ringan dari tesis ini masih cukup kuat. Cohen  menganggap hal ini sebuah Paradoks karena ia beranggapan “bahwa bangkitnya sains modern awal disebabkan setidaknya sebagian dengan perkembangan pemikiran Kristen- khususnya, untuk aspek-aspek tertentu dari Protestantisme” (Sebuah tesis pertama kali dikembangkan sebagai apa yang sekarang disebut tesis Merton). Dalam beberapa tahun terakhir, sejarawan Oxford Peter Harrison telah mengembangkan lebih lanjut ide bahwa Reformasi Protestan memiliki pengaruh signifikan dan positif terhadap perkembangan ilmu pengetahuan modern. Sebuah tinjauan alternatif untuk tesis konflik White/Draper telah disusun oleh Ian G. Barbour

Kemerdekaan/Independen

hans-kungSebuah pandangan modern, yang dijelaskan oleh Stephen Jay Gould sebagai “non-overlapping magisteria” (NOMA), adalah bahwa sains dan agama memiliki kesepakatan dengan aspek fundamental terpisah dari pengalaman manusia dan sebagainya, ketika masing-masing tetap berada dalam domain sendiri, mereka hidup berdampingan dengan damai. Disini teolog Karl Barth (Gereja Dogmatics), Emil Brunner dan Hans Kung (dalam  Teologi untuk Milenium Ketiga (1988). Sementara Gould berbicara tentang kemerdekaan dari perspektif ilmu, W.T.Stace melihat kemerdekaan dari perspektif filsafat agama. Stace merasa bahwa ilmu pengetahuan dan agama, ketika masing-masing dilihat di domain sendiri, keduanya konsisten dan lengkap.

Baik sains dan agama menunjukkan  cara yang berbeda dari pengalaman pendekatan dan perbedaan-perbedaan tersebut adalah merupakan sumber perdebatan. Sains adalah terkait erat dengan matematika-sebuah pengalaman yang sangat abstrak, sedangkan agama lebih terkait erat dengan pengalaman kehidupan biasa sehari-hari. Sebagai interpretasi pengalaman, ilmu adalah deskriptif (bersifat menggambarkan) dan agama adalah preskriptif (bersifat menentukan). Ilmu pengetahuan berbicara pembuktian dan empiris/real, sementara agama murni deduksi dengan premis-premis kepercayaan/Iman.

Kasus Al Khaibari diatas adalah contoh Iman/Agama yang terlalu masuk diluar dunianya, sementara kasus Saintisme (Positivisme Logik) adalah kasus dimana Ilmu-Pengetahuan keluar melebihi klaim-klaimnya.

Metode Parallel (Kemerdekaan II)

Banyak Filsuf bahasa (misalnya, Ludwig Wittgenstein) dan eksistensialis religius (misalnya, mereka yang menerima terhadap neo-ortodoksi) diterima oleh Ian Barbour dan John Polkinghorne dalam  kategorisasi Type II Kemerdekaan. Di sisi lain, banyak filsuf ilmu, berpikir sebaliknya. Thomas S. Kuhn menegaskan ilmu yang terdiri dari paradigma yang muncul dari tradisi budaya, yang mirip dengan perspektif sekuler pada agama (religi). Michael Polanyi menegaskan bahwa itu hanyalah sebuah komitmen untuk menjadikannya universalitas yang melindungi subjektivitas dan tidak ada kaitannya dengan semua yang dilakukan dengan sikap pribadi seperti yang ditemukan dalam banyak konsepsi metode ilmiah. Polanyi menambahkan bahwa ilmuwan sering hanya mengikuti intuisi “keindahan intelektual, kesimetrian dan “kesepakatan empiris.”  Polanyi berpendapat bahwa ilmu pengetahuan membutuhkan komitmen moral yang sama dengan yang ditemukan dalam agama.  Dua fisikawan, Charles A. Coulson dan Harold K. Schilling, keduanya mengklaim bahwa “metode sains dan agama memiliki banyak kesamaan” Schilling menegaskan bahwa kedua bidang-sains dan agama-memiliki” tiga lapisan struktur : pengalaman, interpretasi teoritis, dan aplikasi praktis. Coulson menegaskan bahwa ilmu pengetahuan, seperti agama, “Maju dengan imajinasi kreatif” dan bukan oleh  hanya “mengumpulkan fakta-fakta belaka”, sementara dinyatakan bahwa agama harus dan dapat” melibatkan refleksi kritis atas pengalaman yang tidak sama dengan yang terjadi di dalam ilmu pengetahuan. Bahasa agama dan bahasa ilmiah juga menunjukkan kesejajaran.

Dialog

Sebuah taraf persesuaian antara sains dan agama dapat dilihat dalam keyakinan agama dan ilmu pengetahuan empiris. Keyakinan bahwa Allah menciptakan dunia dan karena itu manusia, dapat menuntun pada pandangan bahwa Manusia diatur untuk memahami dunia. Hal ini digarisbawahi dengan sebuah doktrin Imago Dei. Dalam kata-kata Thomas Aquinas, “Karena manusia dikatakan berada dalam citra Allah, dalam kebajikan, memiliki sifat Tuhan yang mencakup intelek,  sifat  ini adalah sifat yang paling penting dalam citra Allah dalam kebajikan yang paling mampu ditiru. Banyak tokoh terkenal sejarah yang mempengaruhi ilmu pengetahuan Barat menganggap diri mereka Kristen seperti Copernicus, Galileo, Kepler dan Boyle.

Kekhawatiran atas Sifat Realitas

Ilmu pengetahuan di era Pencerahan dipahami sebagai penyelidikan/investigasi ontologis dimana ‘fakta’ tentang alam fisik dibongkar. Hal ini sering secara eksplisit menentang Teologi Kristen dan pernyataan yang terakhir tentang kebenaran didasarkan pada doktrin. Perspektif ilmu pengetahuan ini memudar di awal abad 20 dengan penurunan logika-empirisme dan munculnya pemahaman linguistik dan sosiologis ilmu pengetahuan. Ilmuwan modern  kurang peduli dengan penetapan kebenaran universal atau kebenaran ontologis, dan lebih cenderung ke arah penciptaan yang pragmatis dari model fungsional dari sistem fisik. Teologi Kristen – tidak termasuk gereja-gereja fundamentalis yang bertujuan untuk menegaskan kembali ajaran kebenaran – juga banyak telah melunak dalam klaim ontologis, karena meningkatnya paparan baik wawasan ilmiah dan teologis kontras dengn klaim agama lainnya.

Perspektif ilmiah dan teologis sering hidup berdampingan secara damai. Agama non-Kristen secara historis terintegrasi dengan baik dengan gagasan ilmiah, seperti dalam penguasaan teknologi Mesir kuno diterapkan untuk tujuan monoteistik, berkembangnya Logika dan matematika di bawah Hindu dan Buddha, dan kemajuan ilmiah yang dibuat oleh para sarjana Muslim selama imperium Utsmani. Bahkan banyak masyarakat abad ke-19 Kristen menyambut ilmuwan yang mengklaim bahwa ilmu pengetahuan sama sekali tidak peduli dengan penemuan hakikat terdalam dari realitas.

Integrasi

Islam

Dari sudut pandang Islam, ilmu pengetahuan, penelitian alam, dianggap terkait dengan konsep Tauhid (keesaan Tuhan), seperti juga semua cabang lain dari ilmu pengetahuan. Dalam Islam, alam tidak dilihat sebagai entitas yang terpisah, melainkan sebagai bagian integral dari pandangan holistik Islam tentang Tuhan, manusia, dan dunia. Berbeda dengan agama-agama Ibrahim lainnya monoteistik, Yudaisme dan Kristen, pandangan Islam tentang ilmu pengetahuan dan alam terus menerus berhubungan dengan agama dan Allah. Banyak tulisan menyiratkan aspek suci untuk mengejar pengetahuan ilmiah oleh kaum Muslim, seperti alam itu sendiri dilihat dalam Al-Qur’an sebagai kompilasi dari tanda-tanda yang menunjuk ke Ilahi.  Ini adalah  pemahaman ilmu pengetahuan yang  dipelajari dan dipahami dalam peradaban Islam, khususnya selama abad keenam belas delapan, sebelum kolonisasi dunia Muslim.

Menurut sebagian besar sejarawan, metode ilmiah modern pertama kali dikembangkan oleh ilmuwan Islam yang dipelopori oleh Ibn al-Haytham, yang dikenal barat sebagai “Alhazen”. Robert Briffault, dalam The Making of Humanity, menegaskan bahwa keberadaan ilmu yang sangat, seperti yang dipahami dalam pengertian modern, berakar dalam pemikiran ilmiah dan pengetahuan yang muncul dalam peradaban Islam selama waktu ini.

Namun, kekuatan kolonial dari dunia barat dan kehancuran tradisi ilmiah Islam memaksa wacana Islam dan Science kedalam sebuah periode baru. Hal ini secara drastis mengubah praktek ilmu pengetahuan di dunia Islam, ilmuwan Islam harus berinteraksi dengan pendekatan barat untuk belajar ilmiah, yang didasarkan pada filosofi alam yang benar-benar asing bagi mereka. Sehingga hasil-hasil penyelidikan itu, tidak ada yang secara universal diterima atau dipraktekkan. Namun, Pandangan bahwa perolehan  pengetahuan dan pengejaran ilmiah pada umumnya tidak dalam perselisihan dengan pemikiran Islam dan keyakinan agama tetap mereka terima dan pertahankan.

Agama Islam memiliki sistem sendiri. Sistem pandangan termasuk keyakinan tentang “realitas tertinggi”, epistemology, ontologi, etika, tujuan, dll.

Kristen

Sains dan Agama digambarkan berada dalam harmoni di jendela Pendidikan Tiffany (1890). Sebelumnya upaya rekonsiliasi Kristen dengan mekanika Newtonian tampil cukup berbeda dari usaha berikutnya dari rekonsiliasi dengan ide-ide baru ilmiah tentang evolusi atau relativity. Banyak interpretasi awal evolusi menjadikan diri mereka terpolarisasi di sekitar perjuangan akan sebuah keberadaan. Ide-ide ini secara signifikan dimentahkan oleh temuan kemudian tentang pola universal kerjasama biologis. Menurut John Habgood, semua orang benar-benar tahu bahwa alam semesta tampaknya menjadi campuran baik dan jahat, keindahan dan rasa sakit, dan penderitaan yang entah bagaimana dapat menjadi bagian dari proses penciptaan. Habgood menyatakan bahwa orang Kristen tidak perlu heran bahwa penderitaan dapat digunakan secara kreatif oleh Allah, diberikan iman mereka dalam simbol Salib. Habgood menyatakan bahwa orang Kristen selama dua milenium percaya pada kasih Allah karena ia mengungkapkan “diriNya sebagai Cinta dalam Yesus Kristus.” bukan karena adanya alam semesta secara fisik atau tidak menunjuk ke Nilai cinta. ”

Rekonsiliasi di Inggris pada awal abad 20

Di Inggris Abad 20, Agama dan Sain mengalami upaya rekonsiliasi, yang diperjuangkan oleh para ilmuwan intelektual konservatif, didukung oleh teolog liberal namun ditentang oleh para ilmuwan muda dan sekularis dan Kristen konservatif. Upaya-upaya rekonsiliasi runtuh pada 1930-an akibat ketegangan sosial meningkat, bergerak ke arah neo-ortodoks teologi dan penerimaan synthesis evolusi modern

Pandangan Baha’i

Suatu prinsip dasar Iman Baha’i adalah keselarasan agama dan sains. Kitab Suci Baha’I menegaskan bahwa ilmu sejati dan agama sejati tidak pernah berada dalam konflik. ‘Abdu’l-Baha, putra pendiri agama, menyatakan bahwa agama tanpa ilmu adalah takhayul dan ilmu tanpa agama adalah materialisme. Dia juga mengingatkan bahwa agama yang benar harus sesuai dengan kesimpulan ilmu.

Kajian Sarjana Saat ini

Dialog modern antara agama dan ilmu pengetahuan berakar dalam buku Ian Barbour “Isu Sains dan Agama” tahun 1966.  Sejak saat itu telah berkembang ke bidang akademik yang serius, ada dua jurnal akademik khusus : Zygon (Jurnal Agama dan  Sains) dan Journal  Teologi dan Sains.  Artikel itu  juga kadang-kadang ditemukan dalam jurnal-jurnal ilmu pengetahuan seperti Journal Fisika America dan Sains.

Baru-baru ini filsuf Alvin Plantinga berpendapat bahwa ada konflik superfisial tetapi kerukunan yang mendalam antara ilmu pengetahuan dan agama, dan bahwa ada kerukunan yang dangkal tetapi konflik mendalam antara ilmu pengetahuan dan naturalisme.

Floris Cohen berpendapat dengan berbagai argumentasi, tentang gagasan bahwa bangkitnya sains modern awal adalah karena kombinasi unik dari kesimpulan pemikiran Yunani dan Alkitab.

Sejarawan dan Professor Agama dari Oxford Peter Harrison berpendapat bahwa pandangan dunia alkitabiah (Khususnya pendekatan Protestan) signifikan bagi pengembangan ilmu pengetahuan modern. Sejarawan dan profesor agama Eugene M. Klaaren menyatakan bahwa “kepercayaan dalam penciptaan ilahi” adalah pusat munculnya ilmu pengetahuan di abad ketujuh belas di Inggris. Filsuf Michael Foster telah menerbitkan filsafat analitis yang menghubungkan doktrin Kristen penciptaan dengan empirisme. Dst.

Dalam abad pertengahan beberapa pemikir terkemuka dalam Yudaisme, Kristen dan Islam, melakukan sebuah proyek sintesis antara agama, filsafat, dan ilmu alam. Sebagai contoh, Filsuf Islam Averroes, 1681 :  Filsuf Yahudi Maimonides, dan Filsuf Kristen Agustinus dari Hippo; berpendapat bahwa jika ajaran-ajaran agama ditemukan bertentangan pengamatan langsung tertentu tentang dunia alam, maka akan wajib untuk mengevaluasi kembali baik interpretasi fakta-fakta ilmiah atau pemahaman dari tulisan suci.

Konflik dan diskusi serius antara Ilmu Pengetahuan dan Agama dalam Islam tidak seperti sejarah di Kristen. Era modern beberapa pendekatan agama mengakui hubungan historis antara sains modern dan doktrin-doktrin kuno. Misalnya, Yohanes Paulus II, pemimpin Gereja Katolik Roma, pada tahun 1981 berbicara tentang hubungan dengan cara ini: “Alkitab itu sendiri berbicara kepada kita tentang asal-usul alam semesta dan penyusunannya, bukan untuk memberi kita sebuah risalah ilmiah, tetapi untuk membentuk hubungan yang benar manusia dengan Allah dan dengan alam semesta. Sebuah contoh lain tentang evolusi teistik. Pemahaman tentang peran Kitab Suci dalam hubungannya dengan ilmu ditangkap oleh frase: “Tujuan Roh Kudus adalah  mengajarkan kita bagaimana untuk pergi ke surga, bukan bagaimana langit pergi.” Thomas Jay Oord mengatakan: “Alkitab memberitahu kita bagaimana menemukan kehidupan yang berkelimpahan, bukan rincian bagaimana hidup menjadi berlimpah. ”

Albert Einstein salah seorang yang mendukung kompatibilitas dari beberapa interpretasi agama dengan ilmu pengetahuan. Dalam sebuah artikel yang awalnya muncul di Majalah New York Times pada tahun 1930, ia menulis:

Dengan demikian, orang yang taat agama dalam arti bahwa ia tidak meragukan arti dan keagungan dari objek-objek superpersonal dan tujuan yang tidak membutuhkan kemampuan pondasi rasional. … Untuk ilmu pengetahuan hanya dapat memastikan apa yang ada, tetapi tidak apa yang harus, dan di luar penilaian domain penuh nilai dari semua jenis tetap diperlukan. Agama, di sisi lain, hanya berurusan dengan evaluasi pemikiran dan tindakan manusia: tidak dapat dibenarkan berbicara tentang fakta dan hubungan antara fakta. Menurut interpretasi konflik yang terkenal antara agama dan ilmu pengetahuan di masa lalu semuanya harus dikaitkan dengan kesalahpahaman situasi telah dijelaskan.

Banyak penelitian telah dilakukan di Amerika Serikat dan umumnya menemukan bahwa para ilmuwan cenderung lebih sedikit yang percaya pada Tuhan daripada seluruh populasi. Definisi yang tepat dan statistik bervariasi, tetapi umumnya sekitar 1/3 adalah ateis, 1/3 agnostik, dan 1/3 percaya pada Tuhan. Orang yang percaya Tuhan juga bervariasi dengan bidang : psikolog, fisikawan dan insinyur cenderung kurang percaya pada Tuhan dibandingkan ahli Mathematika, ahli biologi dan ahli kimia.  Dokter di Amerika Serikat jauh lebih mungkin untuk percaya pada Tuhan (76%).

Beberapa penelitian terbaru terhadap Laporan pribadi para ilmuwan, melaporkan bahwa kepercayaan pada Allah dibahas oleh Profesor Howard Ecklund Elaine. Beberapa temuan yang paling menarik lainnya adalah bahwa ilmuwan-orang yang beriman umumnya me/dianggap diri mereka  adalah penganut “liberal agama” (bukan fundamentalis), dan bahwa agama mereka tidak mengubah cara mereka melihat ilmu pengetahuan, melainkan cara mereka tercermin pada implikasinya. Ecklund juga membahas bagaimana ada stigma terhadap kepercayaan kepada Tuhan dalam komunitas ilmiah profesional, yang mungkin telah berkontribusi untuk Rendahnya representasi dari suara-suara agama di lapangan.

Studi Ilmiah Agama

Banyak studi ilmiah telah dilakukan pada religiusitas sebagai sebuah fenomena sosial atau psikologis. Ini termasuk studi tentang korelasi antara religiusitas dan kecerdasan, religiusitas dengan tingkat stres dan kebahagiaan dst. Studi oleh Keith Ward menunjukkan bahwa agama secara keseluruhan merupakan kontributor positif untuk kesehatan mental. Michael Argyle dan lainnya mengklaim bahwa ada bukti yang sedikit atau tidak bahwa agama pernah menyebabkan gangguan mental. Penelitian lain menunjukkan bahwa gangguan mental tertentu, seperti skizofrenia dan gangguan obsesif-kompulsif, juga terkait dengan tingkat religiusitas yang tinggi. Selain itu, Obat anti-psikotik, yang terutama ditujukan untuk memblokir reseptor dopamin, biasanya mengurangi perilaku agama dan delusi keagamaan. Buku Newberg (2013) banyak menceritakan jenis penelitian-penelitian ini.

KESIMPULAN DAN SARAN

Diawali oleh klaim menyelesikan permasalah manusia, agama dan sain saling bersaing. Dalam memberikan penyelesaian itu, keduanya merasa independen, sehingga ada semacam persaingan diantara mereka. Disinilah tesis konflik diantara agam dan sain terjadi. Tetapi tesis itu sebenarnya tidak cukup besar kecuali dibesar-besarkan. Utamanya oleh media atau kelompok tertentu. Lalu ada tesis Independensi, dimana mereka mengatakan, agama dengan wilayahnya dan ilmu pengetahuan dalam wilayahnya. Seperti yang dikemukakan oleh Einstein diatas. Agama jangan mencoba memberikan penjelasan hubungan antara fakta, biarlah itu dilakukan oleh sain, demikian sebaliknya. Ilmu jangan berbicara diluar bagiannya.

Tetapi tesis kedua masih belum memberikan kepuasan pada sebagian kelompok sebab mereka mengatakan bahwa ada kesamaan antara sain dan agama dalam banyak hal. Sebab agama dan sain sama-sama berhubungan dengan pengalaman dan interpretasi. Yang keempat, Integrasi, dimana satu dengan yang lain saling memberikan tambahan proof (bukti, rasionalisasi) pada upaya penyelesaian masalah pada manusia.

Saran yang kami bisa berikan agar Agama dan Sain bisa saling beriringan antara lain, 1) Pahamilah Ilmu dengan baik dan Agama dengan baik. Bila sang ilmuwan sedikit memahami kaidah yang benar tentang agama dan sang agamawan/teolog mampu memahami kaidah sain, maka kebijaksanaan sikap tidak saling menyalahkan akan terjadi. Disini akan menjadi masalah bila agamawan menjadi fundamentalis dan Saintis menjadi Konservative. 2) Kita semestinya memahami bahwa realitas itu banyak, ada yang real, ada eksistensi, essensi, aksiden dan ada yang supra-natural. Akal hanya mampu kepada hal-hal yang kulliyah (umum) dan real, sementara diluar itu, semestinya “mengikuti” (untuk sementara) penjelasan-penjelasan Iman (Agama). 3) Kalaupun sudah banyak yang kita ketahui, pahami dan banyak manfaat darinya (Sain), tidak berarti itulah segala-galanya. Banyak penelitian neurosain, fisika quantum makin memberikan bukti akan hal ini. Maka tidak bisa dibenarkan dari sain menjadi saintisme. Karena realita-nya banyak hasil sain yang masih pada dugaan, yang belum jelas dst, dan manusia hasil evolusinya menunjukkan akan kesukaan pada dugaan/ramalan/gaib. 4) Apabila seakan terjadi perbedaan antara iman dan sain, maka kita semestinya tidak dengan serta-merta menyalahkan satu dengan yang lain. Ilmu adalah dugaan sementara walaupun telah dibuktikan dengan eksperimental, sementara iman/wahyu juga hanyalah pemahaman/interpretasi kita akan teks.       Bisa jadi bukan wahyunya/iman yang salah, tetapi interpretasi tentang sebuah teks yang salah, demikian sebaliknya.

Referensi :

Barbour, Ian. When Science Meets Religion. SanFrancisco: Harper, 2000.

Barbour, Ian. Religion and Science: Historical and Contemporary Issues. SanFrancisco: Harper, 1997.

Barbour, Ian, Juru Bicara Tuhan Antara Sains dan Agama, Terj. E.R. Muhammad, Bandung: Mizan, 2002

Barbour, Ian, Menemukan Tuhan Dalam Sains Kontemporer dan Agama,terj. Franciskus borgias M, Bandung: Mizan, 2005.

Bruno Guiderdoni, Membaca Alam Membaca Ayat, terj. Anton Kurnia dan Andar Nubowo,Bandung Mizan, 2004.

Drummond, Henry. Natural Law in the Spiritual World. London: Hodder & Stoughton Ltd, 29th Edition, 1890 [2]

Fritjof Capra, Jaring-Jaring Kehidupan, Terj. Saut Pasaribu, Yogyakarta: Fajar,2002.

Frithjof Schuon, The Transfiguration of Man, Blooming ton: World Wisdom Books, 1995.

Haught, John F. Science & Religion: From Conflict to Conversation. Paulist Press, 1995.

Larson, Edward J. and Larry Witham. “Scientists are still keeping the faith” Nature Vol. 386, pp. 435 – 436 (3 April 1997)

Larson, Edward J. and Larry Witham. “Leading scientists still reject God,” Nature, Vol. 394, No. 6691 (1998), p. 313. online version.

Newberg, Andrew & Robert Waldman, God, Science, and the Original of Ordinary and Extraordinary Belief. 2006, Free Press, New York. Terj Born to Believe : Gen Dalam Otak, 2013, Mizan Bandung.

Einstein on Religion and Science from Ideas and Opinions (1954), Crown Publishers.

Soetopo, Hendyat, Prof Dr, Kompilasi Filsafat Ilmu, Modul Kuliah S3, Universitas Negeri Malang. Tidak diterbitkan.

The Oxford Handbook of Religion and Science Philip Clayton(ed.), Zachary Simpson(associate-ed.)—Hardcover 2006, paperback July 2008-Oxford University Press.

http://www.skanaa.com/en/news/detail/ulama-saudi-sebut-matahari-kelilingi-bumi/infospesial. Diakses, 9 September, 2015.

https://en.wikipedia.org/wiki/Relationship_between_religion_and_science Diakses, 9 September, 2015.

http://bagusmakalah.blogspot.co.id/2014/04/relasi-sains-dan-agamavalues-menurut.html

Dipublikasi di Uncategorized | Meninggalkan komentar