COMMPASIONATE SCHOOL (SEKOLAH WELAS ASIH)

Seberapa ‘Welas Asih’ sekolah kita??

foto muhammad AlwiSaat jalan-jalan ke toko buku, bersama dua anak kami, Khadijah Shafira dan Fatimah Shalsabila. Sambil mengantarkan mereka ke bagian anak-anak (karena mereka duduk di kelas 4 SD dan 1 SD), sayapun jalan-jalan melihat-lihat buku-buku yang mungkin bisa dan perlu saya miliki. Tanpa sengaja saya melihat buku “Compassion, 12 langkah hidup Berbelas Kasih”, karya Karel Armstrong.  Saya jadi tertarik dengan buku itu, dibenak saya, bagaimana Amstrong cerita tentang Commpasion 12 (welas Asih).

Setelah saya membacanya, seperti biasa, bacaan-bacaan itu saya hubungkan, dan menghubungkan saya dengan ide-ide yang sedang saya geluti. Sejak 5 tahun terakhir ini, tema KEBAHAGIAAN dan PENDIDIKAN POSITIF dalah sesuatu yang sering Baca lebih lanjut

Dipublikasi di Psikologi dan Pendidikan | Meninggalkan komentar

KEINDONESIAAN-KU MENENTUKAN KEISLAMAN-KU ATAU SEBALIKNYA?

“Engkau mengimani apa yang kau makan.” Kata Rumi.

Foto di Guci TegalKeindosesian-ku adalah warisan, karena aku tiba-tiba lahir disini, Ke-Islaman-ku juga warisan, karena aku terlahir (tanpa hak pilih, dari ibu bapak-ku yang kebetulan beragama Islam). Apakah Ke-Indonesian-Ku menentukan Ke-Islaman-Ku atau sebaliknya?

Heritage (warisan) menurut kamus webster adalah
something transmitted by or acquired from a predecessor (sesuatu yang ditransmisikan oleh atau diperoleh dari pendahulu) atau sesuatu yang dimiliki sebagai akibat dari situasi alam atau kelahiran seseorang. Jadi warisan adalah sesuatu yang kita terima bukan dari hasil jerih payah kita, warisan sesungguhnya seperti pada proses mendapatkan kekayaan, bentuk wajah, hidung, kulit, logat, bahasa, kebiasaan bahkan pola berbudaya tertentu. Warisan itu sebenarnya bukan hanya secara genetika, tetapi warisan itu adalah terlemparnya kita kedalam dunia.
Heidegger mengatakan being-in-the-world. Kita tiba-tiba menjadi anak si fulan, bertetangga dengan fulan, punya status sosial (ningrat, habib, kaum borjuies atau malah rakyat jelata, wong cilik).

Kesemua ke-ada-an kita (Being), menetukan cara berfikir kita, menetukan pola respon, pola persepsi dan akhirnya pola berperilaku dan beragama. Dalam Psikologi Sosial, ada istilah konsepsi/kepribadian mempengaruhi pola persepsi/sikap/disposisi. Dan Sikap kita menentukan perilaku diri kita. Kita itu menyejarah, apa-apa yang kita miliki (sebagai warisan secara genetika-sosial juga budaya), menetukan ke-diri-an kita, bahkan menentukan bagaimana proses hitung-hitungan (hisab, baik-buruk) dimata Tuhan kelak. Baca lebih lanjut

Dipublikasi di Uncategorized | Meninggalkan komentar

LOGIKA BERBAHAYA KAUM RADIKAL

Foto di Guci TegalSebenarnya mereka itu tidak banyak, tetapi pemikirannya mulai diikuti orang, setelah menemukan moment-moment tertentu. Mereka selalu mengatasnamakan ummat-Islam. padahal mereka minoritas dalam Islam. Lihat Kaum Khawarij, ISIS, Al Qaeda, HTI dan lainnya. Mereka sedikit dalam tubuh Islam karena mereka adalah kelompok Ektrim (kanan/kiri).

Mengapa mereka selalu mendapat pengikut? Tidak sulit membentuk kaum radikal, minimal itu dapat dilihat dari beberapa penelitian seperti : Dr. Elizabeth Lofthus, dalam Misinformation and Memory: The Creation of New Memaries, dimuat dalam Jurnal of Experience Psychology 188 (1), hal 100-104, juga Bob Altemeyer dan Bruce Hunsberger (2005), “Fundamentalis and Authoritarianisme”, S. Milgram, 1983 : Obedience to Authority”, New York. juga penelitian terkenal dari Phillip Zimbardo, bagaimana menempatkan orang baik dalam kondisi/situasi orang jahat (untuk mengubah kepribadian mereka). Lihat http://pdf.prisonexp.org/evil.pdf

Cara mengubah mereka kata-nya adalah: 1) Bangunlah keyakinan ideal dan superioritas kelompok mereka. Mereka paling selamat dst. 2) Berikan pembenaran logis. 3) Buat standart perilaku kelompok (tingkah-laku, pakaian, bahkan sebutan). 4) Perkuat langkah 1, 2 dan 3. Sesering mungkin. 5) Rekrut anggota dengan perjanjian, baiah (untuk memperkuat ketaatan pada pemimpin). 6) Buat hukuman tegas bagi yang membangkang atau ingin keluar. 7) Setiap kelompok harus merekrut anggota baru. 8) Batasi perspektif alternatif dan komunikasi dengan anggota kelompok lain. 9) Hindari, sebisa mungkin, hubungan dengan orang diluar kelompok anda. 10) Cari kelompok lawan keyakinan.11) Remehkan kelompok lain. 12) Tingkatkan kebencian dan serangan terhadap kelompok yang lain.12) Buat anonimitas dengan julukan atau kata-kata sesat, kafit, munafik, thogut dll. 13) Akhirnya: Singkirkan musuh (kelompok lain).
FENOMENA SAAT INI :

Untuk membuat hal seperti diatas mudah-mudah sulit, Sebab informasi dan perspektif lain selalu menyeruak dalam diri kita. Ada Media, TV, Koran, Medsos dll. Tetapi fenomena ini berubah (menurut saya) setelah, 1) Persaingan besar dan kuat antara Jokowi Vs Prabowo. Media mengikuti keberpihakan pilihan-pilhan itu dengan mencolok. Partai-partai terbelah menjadi 2 kekuatan dst. 2) Akhirnya, Kepercayaan masyarakat mulai berubah. Sedikit mulai kurang percaya dengan media-media itu, 3) Ditambah dengan kelompok radikal, yang memiliki jaringan media (Medsos, WAG, Situ-situs radikal..dst), yang mengarahkan kelompoknya hanya percaya media mereka. Karena itu pola membuat kelompok menjadi solid dan radikal (tidak melihat perspektif lain, wacana lain). Dengan mengharamkan media ini dan itu, terbitan ini dan itu, buku ini dan itu dst. 4) Kelompok klah/oposisi juga bermain, untuk kepentingannya (melawan penguasa/pemerintah). 5) Sehingga informasi yang beredar saling bertentangan, saling menegasikan, yang sulit dibendung dan ditelusuri kebenarannya. Media meanstream, abal-abal, propagandis, hoax dan juga media bentuk-bentuk lain menjamur. Keluarlah era Post-Truth ( https://pendidikanpositif.wordpress.com/2017/03/03/era-post-truth/). Dengan ini kontruksi kebenaran kacau dan semuanya serba salah dan serba benar. 6) Karena era ini, maka setiap individu kembali kekepercayaannya sendiri-sendiri.

KASUS

# Saat terjadi bom bunuh diri di Kampung Melayu. Maka polisi mengidentifikasi itu adalah Teroris, ISI dll. APA KATA MEREKA. Itu pengalihan itu, itu mereka memojokkan ummat Islam dst.

# Saat kasus beberapa pelaku MAKAR ditangkap, mereka mengatakan…pemerintah otoriter, mengkriminalisasi ulama dan anti ummat Islam.

# Saat HTI dibekukan….mereka mengatakan ini dan itu, berdalih dibalik baju hukum kah, dibalik baju dakwah, dan terakhir sellu mengatakan…..mereka anti ummat Islam.

# dst..dst.

Pertanyaannya:

1) Kalau polisi tidak dipercaya, kalau hukum tidak dipercaya dan mereka membentuk kebenarannya sendiri, lewat media manasuka.com (apa yang mereka anggap baik dan mereka minati). Apa yang terjadi di Negeri ini.

2) Kalau Polisi dan aparat pemerintah dilucuti legitimasinya dan itu diinginkan oleh kelompok radikal….karena memberikan peluang kebenaran klaim-klaimnya (tidak ada perspektif dan hanya kelompoknya yang superior dst). Apa yang terjadi di negeri ini.

3) Kalau kelompok yang punya kepentingan berbeda dengan polisi/pemerintah, ikut memprovokasi hal-hal diatas. Maka pertarungan makin luas…..kaum radikal makin mendapat angin.

LALU APA YANG SEMESTINYA DILAKUKAN?

  1. Pemerintah harus tegas dengan media abal-abal dan hoax.
  2. Tegas dengan Kaum Radikal.
  3. Mayoritas diam, harus bersuara cukup.
  4. Ormas NU dan Muhammadiyah sebagai pilar bangsa…harus kompak dan sevisi dalam hal urusan kaum Radikal/Teroris.

Mudah-mudahan dengan ini kita sudah tidak memikirkan kasus demi kasus tetapi berfikir kemajuan bangsa, kemajuan negara, bagaimana menjadi negara lebih berkembang dan maju.

 

Dipublikasi di Uncategorized | Meninggalkan komentar

Menariknya Tulisan AFI : WARISAN

foto muhammad AlwiSaya jujur baru beberapa hari lalu baca tulisan itu karena tergelitik dari tulisan orang dan lihat share yang sedemikian banyaknya.

“Engkau mengimani apa yang kau makan.” Kata Rumi.

Warisan itu sebenarnya bukan hanya secara genetika, tetapi warisan itu adalah terlemparnya kita kedalam dunia. Heidegger mengatakan being-in-the-world. Kita tiba-tiba menjadi anak si fulan, bertetangga dengan fulan, punya status sosial (Ningrat, Habib, Kaum borjuies atau malah rakyat jelata, wong cilik).
Kesemua ke-ada-an kita (Being), menetukan cara berfikir kita, menetukan pola respon, pola persepsi dan akhirnya pola berperilaku dan beragama.
Dalam Psikologi Sosial, ada istilah konsepsi/kepribadian mempengaruhi pola persepsi/Sikap/Disposisi. Dan Sikap kita menentukan diri perilaku kita. Baca lebih lanjut

Dipublikasi di Uncategorized | Meninggalkan komentar

SARTRE, BIAYA SOSIAL & PARTISIPASI KOGNITIF

Foto di Guci TegalTokoh Eksistensialis Jean Paul Sartre pernah berkata, Ke-Ada-an kitat, ada saat kita mengambil keputusan. Keputusan mengandaikan tanggung-jawab, dan ada konsekuensi/biaya (baik-buruk, dalam teologis itu dikatakan pahala/dosa dst). Kita saat diam maka tidak ubah dengan yang lain, tetapi kemampuan responability (respon dan ability, kemampuan memberikan respon, tanggung jawab), dan acuntability (acouant dan ability, kemampuan memilah-milah, mengkalkulasi) adalah kemanusiaan kita. Saat diri kita mengambil keputusan, maka ada biaya opotunity (biaya kesempatan, cost opportunity). Mengambil yang ini berarti menghilangkan kesempatan dan potensi yang itu. Dan dahsyatnya, pengambilan keputusan kita yang kecil, time-line jelas, itu bertemu dengan duree (saat). Artinya, keputusan-keputusan kita ini mempengaruhi konfigurasi alam.

Saat kita berfikir membunuh X misalnya, kematian X mempengaruhi kehidupan Keluarganya, anak-istrinya. Istrinya mungkin kawin lagi, anaknya yang semestinya kuliah di PT Y tidak jadi, dan potensi itu diisi oleh Z (yang mempengaruhi kondisi keluarga Z). karena Istri X kawin dengan lelaki R (yang sudah berkeluarga), akan mempengaruhi mertua, istri dan anak-anak keluarga R dst. Yang itu bila diteruskan akan mempengaruhi alam raya ini. Makanya Sartre mengatakan, keputusan sekalipun lewat duree (saat) konsekuensinya tak terbatas.

Kalau pribadi-pribadi itu biaya kesempatannya (kalkulasinya) jelas dan individu. Maka dalam masyarakat yang merupakan kumpulan individu, dibentuk oleh individu dan sebaliknya (saling mempengaruhi), maka biaya sosial mesti dilihat dengan baik.

Saat kita melakukan kebijakan (Politik-Ekonomi, Pembangunan, Sosial dan Budaya), Maka yang jarang dihitung dan sulit dihitung, yang ini semestinya dikembangkan oleh para ahli adalah biaya sosial manusia, biaya kehilangan-makna. Bagaimana intangible asset (kesadaran kelompok, religiositas, pilihan hidup) itu dirumuskan dengan baik, dihargai, termasuk menghitung makna.

Dalam sebuah kebijakan apapun itu (Politik-Sosial-Ekonomi dan Budaya), maka pasti itu adalah buah karya INTELEKTUAL dan PENGUASA.  Intelektual baru akan memberikan kerangka teori akan realitas abaru, lalu realitas itulah yang diobjektivasi, bahkanBaca selengkapnya… diinternalisasi sehingga diinginkan untuk dilakukan, oleh penguasa. Perkembangan itu terus terjadi dan berlanjut. Ganti penguasa, ganti intelektual dan realitas yang dilihat/dianggap ada (faktisitasnya) berganti, Objektivasi dan Internalisasi terjadi. Lalu itu diupayakan dikerjakan…ditata ulang. Bagaimana biaya sosial, keringat dan darah pelaksana/yang terkena dampaknya?

Saat ganti mentri ganti kurikulum (sebagai misal). Apakah mereka merasakan jeritan guru-guru, betapa ruwetnya disekolah? Mentri dan para intelektual dibelakangnya bahkan seringkali ‘tidak tahu kurikulum’ (lihat saja kompetensi orang-orang dibadan-badan tentang pendidikan itu), tetapi mereka memikirkan itu. Mereka menganggap diri/dianggap lebih tahu tentang itu. Pengalaman kuliah di akta-IV dahulu, disalah satu kampus pendidikan terkenal di Indonesia, dosen-dosennya (yang bergelar Doktor pendidikan) masih menggunakan gambaran realitas tahuan 80-90-an, padahal saat itu sudah KTSP dan Kurikulum 2006.

Demikian juga saat ada rekayasa sosial, penggusuran pasar, penutupan lokalisasi dst. Mereka jarang melakukan apa yang disebut PARTISIPASI KOGNITIF. Dimana mereka (YANG AKAN TERKENA DAMPAK) diajak bicara dan didengarkan. Memang ini menuntut kesadaran yang cukup dari mereka sendiri. Mereka mestinya diajak bicara dalam hal, tidak hanya pengambilan keputusan tetapi definisi-definisi dalam rangka operasionalisasi pengambilan keputusan. Bahkan yang parah, saat POAD (Pendidikan orang dewasa, penyadaran, Empowerment), bukan menyadarkan mereka, tetapi membawa mereka pada kesadaran/realitas pemateri dengan hidden-curriculum. Artinya realitas/kesadaran milik instrukturlah yang baik dan benar dan itu semestinya dianggap faktisitas/objektivasi dan di internalisasi oleh mereka. Apakah itu mungkin? Apakah itu sederhana dan mudah? Padahal urusan KESADARAN dan KEBERMAKNAAN kita sulit bisa mengatakan itu lebih dari yang lain dan seterusnya (karena mengacu pada sistem kosmologi yang dipakai/dipercayai).

Biaya sosial yang biasanya ditanggung oleh masyarakat umum, awam, kecil semestinya menjadi perhitungan serius terhadap kebijakan-kebijakan yang akan/mau diambil. Kita mesti ingat, manusia adalah PERSON, unique dan menjadi pusat, serta tujuan dalam rekayasa sosial-politik-ekonom, pembangunan dan budaya.

Saya masih ingat betul ucapan Bashofi Soedirman, saat bedah buku di hotel (saya lupa namanya, sekian tahun yang lalu). katanya, “Pembangunan itu seperti perjalanan dari Jakarta ke Jawa Timur naik mobil. Bisa berjalan di jalan cepat tapi berbatuan, bisa dijalan lambat tapi aspalnya bagus dst. Pilihan-pilihan itu sudah ditetapkan. Dan kita sudah setengan berjalan, maka sangat sulit untuk kembali atau putar arah “. (Kata-kata saya sendiri seingat intinya). Ucapan ini ada benarnya, tetapi apakah pilihan-pilihan itu sudah mengindahkan dan mengajak secara umum masyarakat yang terlibat?  Bagaimana ucapan Bashofi itu bila dihubungkan dengan kurikulum yang seakan mudah sekali ganti-menggati dan berubah? Apakah kita tidak tahu bagaimana kurikulum itu di ujicoba, sosialisasi, berjalan dan evaluasi Mungkinkah secara mudah berbelok, balik atau berganti??

Ada INTELEKTUAL BUSUK (Intelektual pesanan, sesuai yang bayar dan terikat oleh sponsor/investor), dan itu bukan rahasia lagi.  Ada juga PENGUASA/POLITIKUS BUSUK. Dimana standartnya bukan benar-salah, baik-buruk, untung-rugi skala makro. Tetapi apa untungnya buat saya dan kelompok saya (saat ini dan disini). Saya ibaratkan seperti ini. “Saat ada yang menawari buku LKS disekolah, dan kitalah pengambil keputusan. Harga dipasaran Rp.6000. Tetapi tawaran dari distributor yang kesekolah adalah Rp. 9000, dengan embel-embel, kita dapat Rp.1.500/Exp”. Kalau murid sekolah kita itu 1000 siswa. Maka kita mendapat 1,5 juta, Distributor mungkin dapat Rp. 1.5juta (Plus bonus, karena aslinya Rp.5000. berarti Rp. 1 juta). Sekolah kita dirugikan Rp. 3juta.

Kita tidak MEMPERMASALHKAN  kerugian sekolah (negara), yang penting kita dapat untung. Kalau saya menyelamatkan uang sekolah/negara Rp. 3jt, saya dapat apa? Kalau yang rugi negara, itu  bukan uang saya, yang pasti saya mendapat Rp.1.5 juta (dari transaksi itu). Negara kacau, rugi secara umum (termasuk dirinya secara tidak langsung tidak masalah, yang penting saya/kita untung). Fenomena ini ada di BUMN, dan di semua institusi negeri ini (Dengan modus dan pola yang sangat variatif). Demikian juga KELOMPOK RADIKAL, IRASIONAL dipelihara, karena dapat digunakan untuk kepentingannya, untuk melawan kelompok lawan dst. Padahal kelompok radikal, irasional itu akan mengganggu semuanya (termasuk dirinya). dst.

Saat biaya sosial itu tidak dipikirkan serius, maka ekses dan simtom-simtom dari kebijakan itu nantinya akan berbalik mengcacel apa-apa yang sudah sekian lama kita bangun dan perjuangkan.

KAUM INTELEKTUAL akan menunaikan tanggungjawabnya dengan baik bila tetap setia pada tugasnya (mau politik, ekonomi, pembangunan, sosial-budaya), yaitu secara kritis bertugas untuk memperoleh pengertian yang jelas, lengkap dan jujur, serta membongkar kepalsuan-kepalsuan pisau-silogisme (yang membeku menjadi ideologi atau apapun) dalam segala bentuknya.  Mestinya kita berpedoman dengan ini secara keagamaan dan rasional-filosofis. “Jika kamu berbuat baik (berarti) kamu berbuat baik bagi dirimu sendiri dan jika kamu berbuat jahat, maka (kejahatan) itu bagi dirimu sendiri” (Al Isra’ 17:7).

Muhammad Alwi

Dipublikasi di Uncategorized | Meninggalkan komentar

GARIS BELAH : APA & SIAPA ‘RADIKAL’

Foto di Guci TegalSetelah Pilkada DKI, ramai didiskusikan bahwa di Indonesia kelompok radikal makin kuat dan menemukan momentumnya. Benarkah ini? Banyak diskusi dan tulisan baik yang sederhana atau serius membahasnya. Juga banyak hasil penelitian dilansir untuk pembuktian hal itu. Definisi, batasan dan ciri-ciri perlu kita ketahui sebelum kita mampu menarik garis belah diantara dua sisi tersebut.

Pertanyaan untuk menggelitik dan memberikan gambaran kasus. 1) Apakah mengupayakan “Syariatisasi Indonesia” itu bukan radikal? 2) Apakah gerakan Khilafah itu bukan islam Radikal? 3) Apakah menggunakan dan menguatnya isu sektarian serta SARA dan seterusnya, yang terjadi saat dan setelah Pilkada itu ekuivalen/sama dengan menguatnya Islam-Radikal? 4) Apakah FUI, HTI, FPI, dan ormas lainnya yang mengusung atau mengupayakan Negara-Islam di Indonesia itu bukan Islam-Radikal?? Baca lebih lanjut

Dipublikasi di Uncategorized | Meninggalkan komentar

DUNIA A-POLITIK

Sintesa Globalisasi dan Radikalisme

foto muhammad Alwi

Muhammad Alwi

Beberapa waktu yang lalu karena euforia Pilkada dst, ada banyak jargon dan ucapan-ucapan berseliweran semacam Save-NKRI, Pribumi dan Non-Pribumi, Pancasila adalah harga mati dst. Bahkan kita membuka diskusi-diskusi lama tentang hubungan Agama dan Negara, gonjang-ganjing Khilafah dan seterusnya. Padahal era globalisasi dan informasi-tehnologi, hal-hal semacam itu sudah banyak berjungkir-balik dan tidak banyak menentukan. Sebab dunia sudah semakin a-politis dan kemenangan sebuah negara, kesuksesannya sudah berubah dari paradigma-paradigma lama.
Dengan adanya globalisasi, dunia maya, internet, era informasi juga post-truth. Maka menang-kalah didefinisikan tidak seperti dulu lagi. Kekuasaan Negara hampir sangat terbatas kalau tidak boleh mengatakan tidak ada lagi. Konsepsi lama tentang sesuatu sumber daya yang harus; Bernilai, Langka, mahal/sulit untuk ditiru (costly to Imitate), juga substitutable, sudah berjungkirbalik. Demikian juga dengan konsep 5C Kenichi Ohmae, konsultan Mc Kensey, customer, competitor, company, country, dan curency. Sebagai contoh Customer akan sulit diprediksi sebab Baca lebih lanjut

Dipublikasi di Uncategorized | Meninggalkan komentar

SEKOLAH FILSAFAT, PERLUKAH?

Sekalipun kita percaya bahwa kejayaan Islam dikarenakan semangat yang dibalurkan oleh Islam/semangat al Qur’an pada sum-sus ke-Araban dan Muslimin. Tetapi kita juga mesti melihat realitas sejarah bahwa…Islam jaya karena adopsi pemikiran filsafat khususnya Aristotelian (dengan penerjemahan buku-buku…..yang menjadikan Agama/Teologi dirasionalisasikan, objektivasi dan mendorong berfikir induksi dan penelitian. Seandainya yang diadopsi/dominan adalah ide Platonian, mungkin akan lain lagi. Baca lebih lanjut

Dipublikasi di Uncategorized | Meninggalkan komentar