COMMPASIONATE SCHOOL (SEKOLAH WELAS ASIH)

Seberapa ‘Welas Asih’ sekolah kita??

foto muhammad AlwiSaat jalan-jalan ke toko buku, bersama dua anak kami, Khadijah Shafira dan Fatimah Shalsabila. Sambil mengantarkan mereka ke bagian anak-anak (karena mereka duduk di kelas 4 SD dan 1 SD), sayapun jalan-jalan melihat-lihat buku-buku yang mungkin bisa dan perlu saya miliki. Tanpa sengaja saya melihat buku “Compassion, 12 langkah hidup Berbelas Kasih”, karya Karel Armstrong.  Saya jadi tertarik dengan buku itu, dibenak saya, bagaimana Amstrong cerita tentang Commpasion 12 (welas Asih).

Setelah saya membacanya, seperti biasa, bacaan-bacaan itu saya hubungkan, dan menghubungkan saya dengan ide-ide yang sedang saya geluti. Sejak 5 tahun terakhir ini, tema KEBAHAGIAAN dan PENDIDIKAN POSITIF dalah sesuatu yang sering Baca lebih lanjut

Dipublikasi di Psikologi dan Pendidikan | Meninggalkan komentar

SARTRE, BIAYA SOSIAL & PARTISIPASI KOGNITIF

Foto di Guci TegalTokoh Eksistensialis Jean Paul Sartre pernah berkata, Ke-Ada-an kitat, ada saat kita mengambil keputusan. Keputusan mengandaikan tanggung-jawab, dan ada konsekuensi/biaya (baik-buruk, dalam teologis itu dikatakan pahala/dosa dst). Kita saat diam maka tidak ubah dengan yang lain, tetapi kemampuan responability (respon dan ability, kemampuan memberikan respon, tanggung jawab), dan acuntability (acouant dan ability, kemampuan memilah-milah, mengkalkulasi) adalah kemanusiaan kita. Saat diri kita mengambil keputusan, maka ada biaya opotunity (biaya kesempatan, cost opportunity). Mengambil yang ini berarti menghilangkan kesempatan dan potensi yang itu. Dan dahsyatnya, pengambilan keputusan kita yang kecil, time-line jelas, itu bertemu dengan duree (saat). Artinya, keputusan-keputusan kita ini mempengaruhi konfigurasi alam.

Saat kita berfikir membunuh X misalnya, kematian X mempengaruhi kehidupan Keluarganya, anak-istrinya. Istrinya mungkin kawin lagi, anaknya yang semestinya kuliah di PT Y tidak jadi, dan potensi itu diisi oleh Z (yang mempengaruhi kondisi keluarga Z). karena Istri X kawin dengan lelaki R (yang sudah berkeluarga), akan mempengaruhi mertua, istri dan anak-anak keluarga R dst. Yang itu bila diteruskan akan mempengaruhi alam raya ini. Makanya Sartre mengatakan, keputusan sekalipun lewat duree (saat) konsekuensinya tak terbatas.

Kalau pribadi-pribadi itu biaya kesempatannya (kalkulasinya) jelas dan individu. Maka dalam masyarakat yang merupakan kumpulan individu, dibentuk oleh individu dan sebaliknya (saling mempengaruhi), maka biaya sosial mesti dilihat dengan baik.

Saat kita melakukan kebijakan (Politik-Ekonomi, Pembangunan, Sosial dan Budaya), Maka yang jarang dihitung dan sulit dihitung, yang ini semestinya dikembangkan oleh para ahli adalah biaya sosial manusia, biaya kehilangan-makna. Bagaimana intangible asset (kesadaran kelompok, religiositas, pilihan hidup) itu dirumuskan dengan baik, dihargai, termasuk menghitung makna.

Dalam sebuah kebijakan apapun itu (Politik-Sosial-Ekonomi dan Budaya), maka pasti itu adalah buah karya INTELEKTUAL dan PENGUASA.  Intelektual baru akan memberikan kerangka teori akan realitas abaru, lalu realitas itulah yang diobjektivasi, bahkanBaca selengkapnya… diinternalisasi sehingga diinginkan untuk dilakukan, oleh penguasa. Perkembangan itu terus terjadi dan berlanjut. Ganti penguasa, ganti intelektual dan realitas yang dilihat/dianggap ada (faktisitasnya) berganti, Objektivasi dan Internalisasi terjadi. Lalu itu diupayakan dikerjakan…ditata ulang. Bagaimana biaya sosial, keringat dan darah pelaksana/yang terkena dampaknya?

Saat ganti mentri ganti kurikulum (sebagai misal). Apakah mereka merasakan jeritan guru-guru, betapa ruwetnya disekolah? Mentri dan para intelektual dibelakangnya bahkan seringkali ‘tidak tahu kurikulum’ (lihat saja kompetensi orang-orang dibadan-badan tentang pendidikan itu), tetapi mereka memikirkan itu. Mereka menganggap diri/dianggap lebih tahu tentang itu. Pengalaman kuliah di akta-IV dahulu, disalah satu kampus pendidikan terkenal di Indonesia, dosen-dosennya (yang bergelar Doktor pendidikan) masih menggunakan gambaran realitas tahuan 80-90-an, padahal saat itu sudah KTSP dan Kurikulum 2006.

Demikian juga saat ada rekayasa sosial, penggusuran pasar, penutupan lokalisasi dst. Mereka jarang melakukan apa yang disebut PARTISIPASI KOGNITIF. Dimana mereka (YANG AKAN TERKENA DAMPAK) diajak bicara dan didengarkan. Memang ini menuntut kesadaran yang cukup dari mereka sendiri. Mereka mestinya diajak bicara dalam hal, tidak hanya pengambilan keputusan tetapi definisi-definisi dalam rangka operasionalisasi pengambilan keputusan. Bahkan yang parah, saat POAD (Pendidikan orang dewasa, penyadaran, Empowerment), bukan menyadarkan mereka, tetapi membawa mereka pada kesadaran/realitas pemateri dengan hidden-curriculum. Artinya realitas/kesadaran milik instrukturlah yang baik dan benar dan itu semestinya dianggap faktisitas/objektivasi dan di internalisasi oleh mereka. Apakah itu mungkin? Apakah itu sederhana dan mudah? Padahal urusan KESADARAN dan KEBERMAKNAAN kita sulit bisa mengatakan itu lebih dari yang lain dan seterusnya (karena mengacu pada sistem kosmologi yang dipakai/dipercayai).

Biaya sosial yang biasanya ditanggung oleh masyarakat umum, awam, kecil semestinya menjadi perhitungan serius terhadap kebijakan-kebijakan yang akan/mau diambil. Kita mesti ingat, manusia adalah PERSON, unique dan menjadi pusat, serta tujuan dalam rekayasa sosial-politik-ekonom, pembangunan dan budaya.

Saya masih ingat betul ucapan Bashofi Soedirman, saat bedah buku di hotel (saya lupa namanya, sekian tahun yang lalu). katanya, “Pembangunan itu seperti perjalanan dari Jakarta ke Jawa Timur naik mobil. Bisa berjalan di jalan cepat tapi berbatuan, bisa dijalan lambat tapi aspalnya bagus dst. Pilihan-pilihan itu sudah ditetapkan. Dan kita sudah setengan berjalan, maka sangat sulit untuk kembali atau putar arah “. (Kata-kata saya sendiri seingat intinya). Ucapan ini ada benarnya, tetapi apakah pilihan-pilihan itu sudah mengindahkan dan mengajak secara umum masyarakat yang terlibat?  Bagaimana ucapan Bashofi itu bila dihubungkan dengan kurikulum yang seakan mudah sekali ganti-menggati dan berubah? Apakah kita tidak tahu bagaimana kurikulum itu di ujicoba, sosialisasi, berjalan dan evaluasi Mungkinkah secara mudah berbelok, balik atau berganti??

Ada INTELEKTUAL BUSUK (Intelektual pesanan, sesuai yang bayar dan terikat oleh sponsor/investor), dan itu bukan rahasia lagi.  Ada juga PENGUASA/POLITIKUS BUSUK. Dimana standartnya bukan benar-salah, baik-buruk, untung-rugi skala makro. Tetapi apa untungnya buat saya dan kelompok saya (saat ini dan disini). Saya ibaratkan seperti ini. “Saat ada yang menawari buku LKS disekolah, dan kitalah pengambil keputusan. Harga dipasaran Rp.6000. Tetapi tawaran dari distributor yang kesekolah adalah Rp. 9000, dengan embel-embel, kita dapat Rp.1.500/Exp”. Kalau murid sekolah kita itu 1000 siswa. Maka kita mendapat 1,5 juta, Distributor mungkin dapat Rp. 1.5juta (Plus bonus, karena aslinya Rp.5000. berarti Rp. 1 juta). Sekolah kita dirugikan Rp. 3juta.

Kita tidak MEMPERMASALHKAN  kerugian sekolah (negara), yang penting kita dapat untung. Kalau saya menyelamatkan uang sekolah/negara Rp. 3jt, saya dapat apa? Kalau yang rugi negara, itu  bukan uang saya, yang pasti saya mendapat Rp.1.5 juta (dari transaksi itu). Negara kacau, rugi secara umum (termasuk dirinya secara tidak langsung tidak masalah, yang penting saya/kita untung). Fenomena ini ada di BUMN, dan di semua institusi negeri ini (Dengan modus dan pola yang sangat variatif). Demikian juga KELOMPOK RADIKAL, IRASIONAL dipelihara, karena dapat digunakan untuk kepentingannya, untuk melawan kelompok lawan dst. Padahal kelompok radikal, irasional itu akan mengganggu semuanya (termasuk dirinya). dst.

Saat biaya sosial itu tidak dipikirkan serius, maka ekses dan simtom-simtom dari kebijakan itu nantinya akan berbalik mengcacel apa-apa yang sudah sekian lama kita bangun dan perjuangkan.

KAUM INTELEKTUAL akan menunaikan tanggungjawabnya dengan baik bila tetap setia pada tugasnya (mau politik, ekonomi, pembangunan, sosial-budaya), yaitu secara kritis bertugas untuk memperoleh pengertian yang jelas, lengkap dan jujur, serta membongkar kepalsuan-kepalsuan pisau-silogisme (yang membeku menjadi ideologi atau apapun) dalam segala bentuknya.  Mestinya kita berpedoman dengan ini secara keagamaan dan rasional-filosofis. “Jika kamu berbuat baik (berarti) kamu berbuat baik bagi dirimu sendiri dan jika kamu berbuat jahat, maka (kejahatan) itu bagi dirimu sendiri” (Al Isra’ 17:7).

Muhammad Alwi

Dipublikasi di Uncategorized | Meninggalkan komentar

GARIS BELAH : APA & SIAPA ‘RADIKAL’

Foto di Guci TegalSetelah Pilkada DKI, ramai didiskusikan bahwa di Indonesia kelompok radikal makin kuat dan menemukan momentumnya. Benarkah ini? Banyak diskusi dan tulisan baik yang sederhana atau serius membahasnya. Juga banyak hasil penelitian dilansir untuk pembuktian hal itu. Definisi, batasan dan ciri-ciri perlu kita ketahui sebelum kita mampu menarik garis belah diantara dua sisi tersebut.

Pertanyaan untuk menggelitik dan memberikan gambaran kasus. 1) Apakah mengupayakan “Syariatisasi Indonesia” itu bukan radikal? 2) Apakah gerakan Khilafah itu bukan islam Radikal? 3) Apakah menggunakan dan menguatnya isu sektarian serta SARA dan seterusnya, yang terjadi saat dan setelah Pilkada itu ekuivalen/sama dengan menguatnya Islam-Radikal? 4) Apakah FUI, HTI, FPI, dan ormas lainnya yang mengusung atau mengupayakan Negara-Islam di Indonesia itu bukan Islam-Radikal?? Baca lebih lanjut

Dipublikasi di Uncategorized | Meninggalkan komentar

DUNIA A-POLITIK

Sintesa Globalisasi dan Radikalisme

foto muhammad Alwi

Muhammad Alwi

Beberapa waktu yang lalu karena euforia Pilkada dst, ada banyak jargon dan ucapan-ucapan berseliweran semacam Save-NKRI, Pribumi dan Non-Pribumi, Pancasila adalah harga mati dst. Bahkan kita membuka diskusi-diskusi lama tentang hubungan Agama dan Negara, gonjang-ganjing Khilafah dan seterusnya. Padahal era globalisasi dan informasi-tehnologi, hal-hal semacam itu sudah banyak berjungkir-balik dan tidak banyak menentukan. Sebab dunia sudah semakin a-politis dan kemenangan sebuah negara, kesuksesannya sudah berubah dari paradigma-paradigma lama.
Dengan adanya globalisasi, dunia maya, internet, era informasi juga post-truth. Maka menang-kalah didefinisikan tidak seperti dulu lagi. Kekuasaan Negara hampir sangat terbatas kalau tidak boleh mengatakan tidak ada lagi. Konsepsi lama tentang sesuatu sumber daya yang harus; Bernilai, Langka, mahal/sulit untuk ditiru (costly to Imitate), juga substitutable, sudah berjungkirbalik. Demikian juga dengan konsep 5C Kenichi Ohmae, konsultan Mc Kensey, customer, competitor, company, country, dan curency. Sebagai contoh Customer akan sulit diprediksi sebab Baca lebih lanjut

Dipublikasi di Uncategorized | Meninggalkan komentar

SEKOLAH FILSAFAT, PERLUKAH?

Sekalipun kita percaya bahwa kejayaan Islam dikarenakan semangat yang dibalurkan oleh Islam/semangat al Qur’an pada sum-sus ke-Araban dan Muslimin. Tetapi kita juga mesti melihat realitas sejarah bahwa…Islam jaya karena adopsi pemikiran filsafat khususnya Aristotelian (dengan penerjemahan buku-buku…..yang menjadikan Agama/Teologi dirasionalisasikan, objektivasi dan mendorong berfikir induksi dan penelitian. Seandainya yang diadopsi/dominan adalah ide Platonian, mungkin akan lain lagi. Baca lebih lanjut

Dipublikasi di Uncategorized | Meninggalkan komentar

KELOMPOK BERISIK/Radikal dan FILSAFAT/PENDIDIKAN KONTRUKTIVISTIK

Dalam mendapatkan pengetahuan, sebenarnya manusia itu bukan menemukan pengetahuannya (Keyakinan), melainkan pengetahuan itu bentukannya sendiri, pengethuan itu hasil kontruksinya sendiri. Saat informasi itu masuk, maka ada proses, kata Von Glasersfeld, 1) Kemampuan mengingat dan mengungkapkan kembali pengalaman, 2) Kemampuan membandingkan, mengambil keputusan (justifikasi) mengenai persamaan dan perbedaan, dan 3) kemampuan untuk lebih menyukai pengalaman yang satu dari pada yang lain. Jadi disi sebenrnya, pengetahuan Baca lebih lanjut

Dipublikasi di Uncategorized | Meninggalkan komentar

MUSLIM vs MUKMIN dan MAL-PRAKTEK “USTAD”

Dalam sebuah riwayat dikatakan, Rasulullah saw berkata: “Seorang muslim adalah bersaudara dengan sesama muslim lainnya.” (HR. Ibnu Majah).
Hadist ini tidak mengatakan…MUKMIN saudara MUKMIN lainnya mengapa?
Untuk menjadi seorang Muslim itu mudah, hanya perlu mengisi formulir pendaftaran….sedangkan MUKMIN itu anggota aktif, dengan berbagai syarat DAN Ketentuan berlaku……yang sangat bergradasi (Al Hujurat : 14-15).
Banyak Manusia yang Muslim tetapi tidak dianggap Mukmin oleh Madzab lainnya. Contoh : Sunnah-Syiah dan Wahabi.
Menurut Sunnah = Syiah dan Wahab itu Muslim, tetapi bukan Mukmin.
Menurut Syiah = Sunnah dan Wahabi itu Muslim tetapi bukan Mukmin.
Menurut Wahabi/Salafi = Sunnah dan Syiah itu Muslim tetapi bukan Mukmin.
Itu pandangan umumnya kecuali kelompok yang TAKFIRI.
Baca lebih lanjut

Dipublikasi di Uncategorized | Meninggalkan komentar

DELIGHT DAN SATISFACTION

Dalam pemasaran umum, kita sangat mengenal customer satisfaction (kepuasan pelanggan), tetapi jarang berfikir tentang customer delight (benar-benar puas, merasa senang dan bahagia). Mengapa ini harus dilihat dengan jeli?? Sebab Kepuasan pelanggan tidak cukup dijadikan dasar sebagai alat untuk memenangkan kompetisi/persaingan.

Kepuasan pelanggan hanya commonly reacheable goal, sehingga perlu didorong ke zona delight (suatu wilayah dimana pelanggan merasa bahagia dan gembira). Setelah masuk dalam zona delight, Disinilah tercipta komitmen dan loyalitas (Verma, 2003). Baca lebih lanjut

Dipublikasi di Uncategorized | Meninggalkan komentar