Bagaimana Memilih Sekolah yang “Baik” Buat Anak KIta?

Bagaimana Memilih Sekolah yang “Baik” Buat Anak KIta?

Dalam memilih sekolah dinegara kita masih terdikotomi swasta dan Negeri. Sekolah Negeri baik dan Swasta ‘kurang baik’. Kecuali swasta-swasta ‘mahal’. Benarkah sekolah favorit (baik negeri atau swasta) itu baik? Apa kriterianya? Apakah Nilai UAN Tinggi, banyak masuk PTN, Sering melakukan event-event itu, yang menjadikan mereka dikatakan baik? atau karena proses-nya yang baik atau jangan-jangan karena…Input yang ‘baik’ (dikaranakan Perbandingan yang mendaftar dan yang diterima 1: 5 atau malah 1:10. Lihat saja contoh-contoh sekolah favorit SDN MIN Malang, SMA 3 Malang, SMA 5 Surabaya dst..dst). Seringkali sekolah favorit ini, secara proses tidak ada bedanya dengan sekolah lain…tetapi karena Sumber-daya berlimpah…seperti; Jaringan PTN, Anak yang pandai-pandai, jumlah murid banyak, bakat cukup dst….maka sekalipun prosesnya ‘biasa-biasa’ saja…sangat mungkin ‘hasil’ masih tetap unggul.

Sebenarnya gampang-gampang ‘sulit’ menilai sekolah yang baik. Sebab sekolah baik itu harus memenuhi 3 kriteria minimal. 1) Masyarakat Merasa terpuaskan dengan sekolah itu. Ini sangat subjektif, sebab tingkat kepuasan seorang itu berbeda-beda. Seoarang puas, bisa yang lain tidak. Sebab nilai tertinggi setiap orang itu berbeda-beda. Ada yang ingin karakternya bagus, ada yang ingin akademisnya bagus. Penekanannya berbeda-beda. 2) Secara Intertain bagus…ini yang membuat banyak wali-murid menitipkan anaknya kesekolah itu. ini bisa berupa nilai UAN bagus, bisa sering juara Paskibraka, juara olah-raga, mengadakan event-event besar dll. 3) Secara Proses sekolah itu memang mampu mengaktualisasikan potensi peserta didiknya….ini tersulit ukurannya. Dan ini sebenarnya ukuran ‘asli’ sekolah yang baik semestinya.

Badan akreditasi sekolah milik pemerintah (mestinya bekerja lebih dari sekarang yang ada), atau badan independen penilai sekolah semestinya perlu diadakan, sehingga rekomendasi badan-badan ini ikut membantu meng-edukasi masyarakat perihal ‘sekolah yang baik’. Kriteria jelas….semacam PISA

(Programme for International Student Assesment, ditingkat dunia). Semacam golongan hotel berbintang 4, 5 dst, atau semacam golongan saham-obligasi AAA, BBB dst…Badan-badan ini terdaftar dan bertanggungjawab pada pemerintah (hukum) bila mereka semena-mena.

Cara sederhana menilai sebuah sekolah yang baik buat anak kita

Cobalah kita amati tingkah laku anak kita dan sekolahnya dengan melihat pertanyaan dan pernyataan dibawah ini.

  • Ø Apakah anak kita mempunyai hobi, keterampilan, minat atau kemampuan yang membangkitkan semangatnya dirumah? Jika Ya, apakah ia mendapatkan kesempatan untuk menggunakan bakat atau kemampuan itu disekolah?
  • Ø Kapan terakhir kali anak kita bergegas pulang kesrumah seusai sekolah untuk memberitahukan sesuatu yang penting yang dipelaja-rinya hari itu?
  • Ø Apakah anak Kita suka berada di sekolah seusai pelajaran, ber-bicara dengan seorang guru, mengembangkan sebuah proyek, atau mempraktekkan suatu keterampilan, atau apakah ia cepat-cepat pergi begitu bel berdering?
  • Ø Ketika Kita berbicara dengan guru anak Kita, kelompok kata apa yang paling sering ia gunakan: masalah, kebutuhan, kesulitan, dan ketidakmampiian, atau bakat, prestasi, minat, dan kemampuan’!
  • Ø Apakah anak Kita sering mengeluh sakit perut, sakit kepala, dan gelisah di pagi hari sebelum berangkat ke sekolah, atau apakah ia berbicara di meja sarapan mengenai semua hal menyenangkan yang akan dilakukannya hari itu?
  • Ø Apakah anak Kita membawa pulang banyak buku pelajaran, buku tugas, dan kertas PR, atau apakah ia sebaliknya mempunyai proyek yang harus dikerjakan yang benar-benar membutuhkan pemikiran, kreativitas, dan inovasi?
  • Ø Bila semuanya jawabnya tidak, maka ada yang tidak beres dalam sekolah itu, harus ada suatu usaha perbaikan-perbaikan sebelum merenggut kemampuan alami anak-anak kita.

Sekilas Teropong, Pendidikan Terbaik buat Anak Kita

Teropong Ruang Kelasnya

  • Apakah kelas itu sangat hidup, menggairahakn, bukan justru terlihat  membosankan dan lesu?
  • Apakah kelas itu penuh berbagai materi belajar yang menarik—’ peralatan seni, materi ilmu pengetahuan, benda-benda untuk disentuh, dibelai, dimanipulasi, dan dipertanyakan—atau apakah kelas itu, kosong dan hanya berisi beberapa buku pelajaran berdebu serta poster kuno di dinding?
  • Apakah anak-anak membangun, menggambar, membaca, mengoleksi, menulis, berinteraksi, melakukan percobaan, dan menciptakan, atau apakah mereka mengerjakan lembar latihan, mempelajari buku pela­jaran, dan mendengarkan ceramah guru?
  • Apakah tersedia tempat untuk kelompok diskusi, gerakan fisik, belajar dalam hati, dan “eksperimen” kreatif, atau apakah hanya ada deretan bangku dan beberapa meja?
  • Apakah ada banyak penekanan pada tes stkitar untuk menentukan hasil belajar anak-anak, atau apakah ada keyakinan bahwa penilaian adalah proses yang tak pernah berhenti yang sangat erat kaitannya dengan pelajaran?

Teropong terhadap Perilaku Guru

  • Apakah guru menjadikan mengundah diskusi, curah pendapat, menghargai pendapat, dialog atau sebaliknya ingin jawaban tekstual, cepat, singkat sesuai petunjuk teks-book dan diarahkan oleh guru?
  • Apakah ia berkeliling dalam kelas membantu murid satu per satu atau menghabiskan sebagian besar waktunya di depan kelas ber-bicara kepada semua anak?
  • Ketika berbicara dengannya tentang anak Kita, apakah Kita lebih banyak mendengar mengenai pencapaian anak Kita atau mengenai masalahnya?
  • Apakah tampaknya ia mempunyai banyak variasi metode untuk mengajar berbagai topik, atau apakah ia terutama mengkitalkan bu­ku latihan atau buku pelajaran?

Teropong terhadap Anak-anak Kita

  • Bagaimana ketika anak kita berbicara mengenai sekolahnya, kelasnya. Apakah penuh semangat, riang, antusias atau justru merasakan keputusasaan, kepasrahannya dan tidak ingin membicarakannya.
  • Apakah ia tampaknya belajar demi pengetahuan atau belajar untuk mendapat hadiah, nilai, penghargaan, atau pujian?
  • Apakah ia mendapat kesempatan untuk mengungkapkan berbagai keunikannya—kelebihan, bakat, dan kemampuannya—di sekolah, atau apakah ada banyak penekanan terhadap kesalahannya, ketidak-mampuannya, dan kekurangannya?
  • Apakah ia diperlakukan sebagai seorang manusia dengan cara bela­jarnya sendiri, atau apakah ia diharapkan untuk belajar dengan cara yang sama seperti murid-murid yang lain?

Jawaban bagi semua pertanyaan ini, dan pertanyaan lain yang serupa, akan membantu menentukan apakah anak-anak kita mendapatkan pendidikan yang Baik atau Tidak. Jika tidak, Kita bisa mencari alternative lain (diubah, pindah kelas, pindah kamar bagi yang boarding school atau pindah sekolah).

Muhammad Alwi: Trainer Belajar berbasis Topografi Otak, Integrasi Multiple Intelligence dan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP), Corporate Multiple Intelligence (CMI). Alumni Pasca Sarjana, Human Resource Management, Univ Brawijaya Malang. Sekarang Studi lanjut di Departemen Psychology. Penulis buku, “Belajar Menjadi Bahagia dan Sukses Sejati”, Elexmedia Kompas-Gramedia, 2011. Yang akan terbit, “Belajar Berbasis Topografi Otak, Integrasi KTSP dan Multiple intelligence”.

Tentang pendidikan positif

Kami adalah Pendidik, Guru, Dosen dan Trainer. Alumni Pasca Sarjana Univ Brawijaya Malang, sekarang studi lanjut di Department Psychology. Kami mengembangkan Seminar, Workshop, dan berbagai Test berbasiskan psikology. Mulai dari 1. Workshop berbasiskan Multiple Intelligence, Topografi Otak, Power Personality, Performance Barrier, Succes with Understanding Personality, Otak Kanan- Otak Kiri, bagaimana mengetahui dan memanfaatkannya untuk sukses dll. Semua itu untuk pengembnagan SDM dan Human Capital. Baik untuk Guru, anak-anak (TK, SD, SMP, SMA, PT), juga untuk karyawan Industri dan Perusahaan. 2. Test test yang mendukung workshop dan seminar diatas seperti; a) Test Multiple Intelligence, b) Test Personality, c) Test Performance Barrier dll. Konsep Kami adalah......Discovering Your Royal road to learning, achievable and Personal Satisfaction. Bagaimana caranya? Caranya dengan discovering your talent, your ability (dengan pemahaman, test), the right place....maka sukses dan bahagia akan mudah didapatkan. Positif Pendidikan adalah Pendidikan yang berusahan menjadikan pebelajar (siapapun yang belajar), akan mampu untuk meraih tidak hanya sukses (achievable) tapi juga bahagia (will-being). Success and Happy.
Pos ini dipublikasikan di Psikologi dan Pendidikan. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s