Fungsionalitas Seorang Guru

FUNGSIONALITAS SEORANG ‘GURU’

Dan barangsiapa menghidupkan seorang manusia maka dia seolah-olah telah menghidupkan manusia semuanya” (QS. Al Maidah : 32).

Berdasarkan tafsir yang diambil dari Iman Jakfar Shodiq (dalam buku: Husain Madzahiri, “Jihad an Nafs”), dikatakan bahwa menghidupkan dalam ayat diatas adalah MENGAJARKAN, MEMBERIKAN PETUNJUK dari kesesatan menuju jalan yang baik. Sungguh mulia jasa seorang guru, ustad, pembimbing yang dengan ikhlas…menginginkan anak didiknya menjadi lebih baik…dan lebih baik.

Inilah mungkin yang menyebabkan saat terjadi peperangan (zaman Ali bin Abi Tholib kw) dan ada seorang yang bertanya tentang sesuatu yang penting (kebutuhan akan pengajaran), maka peperangan itu ditunda (dihentikan sejenak) demi menjawab pertanyaan itu.

Jika kalian, Engkau (siapapun para guru), kata ISLAM, mampu mendidik seorang manusia dan mempersembahkan kepada masyarakat….maka ganjarannya/nilainya melebihi dari pada Jihad. Inilah mungkin kebenaran perkataan: “Tinta ulama akan ditimbang dengan darah suhada”. Sebab pengajaran yang “BAIK” dapat membatalkan berbagai hal, mulai dari; 1) Faktor Genetika (J. Watson dll). 2) Pendidikan Keluarga (saat urgennya pendidikan saat kecil dan seterusnya, lihat konsepsi Psiko-Analisa, Freud dkk), 3) Faktor Makanan, juga 4) Lingkungan. Inilah nilai besar dari sebuah PENDIDIKAN DAN PENGAJARAN. Tetapi mengapa Pendidikan itu sekarang tidak “Berharga” (dinominalkan dengan angka yang kecil?)

Sebagai contoh, ada beberapa tokoh yang mencuat menerjang dan melawan semua prediksi 4 determinasi diatas. Salah satunya adalah Umar bin Abdul Aziz dan Muawiyah bin Yazid bin Muawiyyah bin Abu Sofyan. Dua tokoh ini menerjang hampir semua kebiasaan yang mendarah daging keluarganya…tradisi kedinastian saat itu. Bila dilihat dari 4 faktor diatas; Genetika, Pendidikan Keluarga, Makanan dan Lingkungan, maka dua nama ini sama dengan saudara-saudaranya, orangtuanya, adik kakaknya dan lain-lainnya. Tapi sentuhan gurunya…percikan api guru-nya yang menyebabkan mereka berubah 180 derajat dibandingkan ayahnya, saudaranya dan penerusnya. Karena sangat berbahaya, maka guru keduanya (Umar bin Abdul Aziz dan Muawiyah bin Yazid bin Muawiyyah) dihukum mati dengan cara keji oleh kelompok keluarga Kerajaan (Madzahiri, 2009; 11).

Guru/Pendidik/Ustad Betapa Mulia dan Besar Pahala anda, jika karena “sentuhan” Anda, Ada seorang yang menjadi tergila-gila dengan Matematika, dengan Kimia, dengan Logika, dengan ilmu Hadist, dengan Sejarah, dengan Tafsir dst, sehingga karena itu mereka menjadi Habibie, menjadi Quraish Shihab, menjadi Yohanes Surya, Khomeini, Gandi, menjadi…dan menjadi. Mereka sangat berguna dan bermanfaat buat yang lain. Tetapi kadang karena Para Guru juga, anak menjadi Trauma, anak menjadi tidak percaya diri dan tidak suka itu semua.

Guru-guru TK, SD, utamanya, berbahagialah Anda semua, tetapi tugas Anda cukup “serius”. Sudahkan mereka diposisikan sebagaimana porsinya (Gaji-nya, Sekolah-nya, Pelatihan-pelatihannya, Recruitment-nya, Penghormatannya dst, dst. Baik oleh Diri Mereka Sendiri, Pemerintah, terlebih oleh Kita, para Wali murid, yang menitipkan anak-anak kita pada mereka). Sudahkah kita melihat jalannya, prosesnya, perlakuan mereka pada anak-anak kita? Mungkinkan semua ini diciptakan dengan sia-sia? Dan mengikuti nasib-nya, jelas jawabnya adalah..TIDAK!!!

Formalisasi Pendidikan sekarang ini menjadikan proses ta’lim wa tarbiyah yang sangat mulia itu merosot sedemikian rupa, sehingga menjadi industrialisasi Pendidikan, Komersialisasi Pendidikan. Sehingga sekarang sulit sekali dikatakan bahwa mendidik, mengajar adalah pekerjaan paling mulia dan guru adalah profesi yang sangat-sangat mulia.

“Harga” Sebuah Pengetahuan

Kita adalah apa yang kita kerjakan berulang-ulang. Karena itu, Keunggulan bukanlah suatu perbuatan, melainkan sebuah Kebiasaan (Aristoteles).

Kebiasaan sebenarnya adalah pertemuan dari berbagai titik. Pertemuan dari PENGETAHUAN, KETERAMPILAN  dan KEINGINAN. PENGETAHUAN adalah sebuah Paradigma konseptual-teoritis, yang mengatakan apa yang harus dilakuan dan mengapa itu harus dan perlu dilakukan. Setelah itu, KETERAMPILAN adalah sebuah pertanyaan tentang bagaimana melakukannya dan KEINGINAN atau kehendak adalah semacam motivasi diri, tentang keinginan untuk melakukan. Supaya sesuatu itu menjadi sebagai KEBIASAAN dalam hidup kita, maka kita harus punya ketiganya sekaligus. Pengetahuan-Keterampilan dan Keinginan (Sthephen Covey: Seven Habits of Highly Effective People : 1993).

PENGETAHUAN TIDAK BERHARGA KECUALI KALAU PENERAPANNYA MENGHASILKAN SUATU YANG BERHARGA.  Pengetahuan tidak akan menarik uang/kekuatan, kecuali kalau diorganisisr dan diarahkan secara cerdik, melalui tindakan praktis, dengan tujuan pasti untuk mengumpulkan uang/kekuatan tertentu (Napoleon Hill: 1993).

Kurangnya pengertian akan fakta ini merupakan sumber kebingungan bagi jutaan orang yang mempunyai keyakinan palsu bahwa “Knowledge is Power”.  Setiap orang merupakan orang yang berpendidikan (tidak harus sarjana S1, S2 atau S4) kalau dia tahu kemana harus mendapatkan pengetahuan ketika dia memerlukan, dan bagaimana mengorganisasikan pengetahuan tersebut menjadi rencana tindakan yang pasti…

Apakah pengetahuan para guru Fisika Quantum menjadi power buat dirinya/masyarakat? Jawabannya jelas-jelas tidak….secara umum dan kebanyakan….kenapa????

Makna Sukses dan Kebahagiaan

Hidup kita ingin Sukses dan Bahagia. Kadang kita salah, karena kita berfikir bahwa untuk itu semua, kita perlu memperbaiki kekuranngan-kekurangan kita. Padahal menurut Martin Seligmant, directur APA (American Psychology Association, yang beranggotakan lebih dari 160.000 orang) dalam bukunya Authentic Happiness mengatakan; “Untuk sukses dan bahagia, kita lebih baik mengoptimalkan apa yang kita miliki…bukan memperbaiki apa yang kurang pada diri kita.” (Apa ini Benar? Wallahu a’lam) (Seligmant; 2005).

Kebahagiaan adalah ‘Rasa Puas’ yang disebabkan oleh Hidup yang Baik yang ditambatkan (dikaitkan, dicantolkan) untuk Pemenuhan Makna. Hidup otentik adalah hidup dimana manusia benar-benar jadi subjek, sama sekali tidak jadi objek.. dengan kesubjekan ini, manusia menjadi otentik. Dengan ini penemuan makna terjadi, bertindak otentik sesuai dengan kemanusiaannya (yaitu mencari makna, mencari kebahagiaan, bebas dalam bertindak).

Rasa Puas terdiri dari 2 kata yaitu; ‘Perasaan’ dan ‘Kepuasan’ atau kita boleh katakan dengan bahasa lain adalah PERASAAN POSITIF.

Perasaan adalah keadaan (kejadian semenatara), yang bukan sebuah Kepribadian. Kalau Kepribadian (baca = watak), karakteristik negative/positif yang terus muncul pada berbagai keadaan, situasi. Ada watak optimis dan pesimis. Hidup yang baik adalah menggunakan kekuatan khas kita setiap hari untuk menghasilkan kebahagiaan yang authentic dan gratifikasi berlimpah. Gratifikasi = Keadaan menyenangkan yang mengikuti pencapaian hasrat. Ini beda dengan Kepuasan = keadaan menyenangkan yang diperoleh setelah suatu motif terpenuhi.

Perasaan Positif yang tumbuh dari penumbuhkembangan kekuatan dan kebajikan, alih-alih melalui jalan pintas adalah perasaan positif yang authentic (baca = benar). Perasaan Positif membuat orang mendekati itu, Perasaan Negative menghindari sesuatu itu.

Makna adalah pengenalan tempat-tempat segala sesuatu didalam suatu system. Pengenalan seperti itu terjadi jika relasi sesuatu yang lain dalam system tersebut menjadi terjelaskan atau terpahamkan.

Cara Mendidik

Pendidikan itu semacam tukang kebun, yang melakukan tindakan-tindakan supaya pohon atau tumbuh-tumbuhan tumbuh sempurna. Yang dilakukan adalah membajak tanah untuk persiapan menanam benih, menyemai benih sedemikian rupa supaya mendapat sinar matahari dan udara cukup, lalu dengan tepat waktu benih disirami dan dipupuk yang sesuai, begitu juga hama-hama diberantas, dan rumput-rumput serta tanaman pengganggu disingkirkan. Jika Tukang kebun mengerjakan ini semua dengan baik maka potensi kehidupan yang terkandung dalam benih akan tumbuh menjadi kehidupan riil, yang secara berlahan menjadi tumbuh dan berkembang dengan sempurna dan berbuah. (Ta’lim wa Tarbiyyah, Ibrahim Amini, 2006: 1)

Setiap anak-anak memerlukan methode penanganan tersendiri, karena setiap individu manusia itu sangat unik. seluruh karakter manusia harus didekati dan dipahami secara spesifik dan maksimal. sel-sel otak manusia juga sangat luar biasa dan memerlukan pemahaman yang cukup juga…Perbedaan seorang anak bukan hanya karena faktor IQ tetapi juga faktor lainnya seperti karakter yang didalamya termasuk akhlaq, kepribadian, pembawaan dll. Karena Rumitnya itu…maka ada satu obat untuk menyelesaikan, minimal tidak membuatnya berbahaya (menurut therapi psikologi-sufi) yaitu, NIAT TULUS MENDIDIK dan MENGINGINKAN KEBAIKAN pada mereka. Dengan ini maka kekurangan pengetahuan akan hal-hal diatas tidak sampai “MERUSAK” anak didik…..(Nurbakhsy, Psychology of Sufism (Del Wa Nafs), 1992

TEMUAN PARA AHLI NEUROSAIN Howard Gardner menemukan kita punya 9 Kecerdasan, Damasio, Ledeoux dan Goleman menemukan, kita punya Otak-Emosional yang dominan di Amigdale dan Sistem Limbik, Paul McLeud menemukan kita punya otak Tribune, Otak Reptile (Lawan-lari..sehingga kalau guru Killer anak malah rendah kemampuannya..kelas harus enjoy), Sistem Limbik (Otak emosional, bila kita menggunakan pendekatan emosi maka informasi akan masuk sampai ditingkat long-term Memory), Otak Atas, Neo-Korteks (otak berfikir). Roger Sperry menemukan Otak Kanan-Kiri (yang fungsinya sangat beda-beda). Dan Freud dkk menemukan Otak Sadar dan Bawah Sadar (Makanya kita bisa menangis melihat Telenovela, padahal kita sadar kalau itu bohong-bohongan? Banyak dari kita yang tidak berani bicara didepan kelas, takut kecoa, darah dst). Bahkan mereka (para ahli itu) membuat sampai tingkat pengetesannya. Gardner untuk mengetahui 9 kecerdasan ada test-nya. Goleman untuk menemukan Kecerdasan Emosional (EQ) ada alat test-nya. Demikian juga Otak Kanan-Kiri, ada alat-alat test-nya. APAKAH KITA, SEKOLAH-SEKOLAH KITA, sudah mencoba untuk dengar, tahu…atau mencoba menerapkan itu semua?

LINGKARAN SETAN PENDIDIKAN,

Dalam pendidikan kita, ada semacam kesemrawutan mulai dari atas ke bawah, atau kalau menggunakan istilah Naquib Al Attas, ada Lingkaran Setan dalam Pendidikan Kita yaitu; 1) Kebingungan dan kekeliruan persepsi mengenai ilmu-pengetahuan dan pendidikan…., karena salah orientasi keilmuan dan salah didikan (sekolahnya tidak benar…dst), maka timbul 2) Ketiadaan Adab, Ketiadaan karakter dalam masyarakat….dst. Karena ketiadaan Adab/karakter ini maka timbul 3) Munculnya para pemimpin yang tidak layak, tidak memiliki akhlak luhur dan juga kapasitas keilmuan yang tidak memadai..dst. Karena No 3 ini, maka kembali ke No 1 lagi…..Pendidikan orientasinya tidak jelas, fenomena korupsi di kepemimpinan, di lembaga pendidikan, ada UAN, kurikulum ganti terus padahal hanya ganti kata-kata dan kop surat, semua adalah kepentingan dan proyek. Bukan cari ilmu tapi cari gelar..dst..dst. Inilah lingkaran setan Kita semua…..(Wan Mohd Nor Wan Daud, Filsafat Dan Praktik Pendidikan Islam Naquib Al Attas, 2003).

Bagaimana memotong lingkaran ini? Caranya adalah memotong bagian yang nomor 2…..dengan cara mencari orang-orang yang baik untuk menjadi guru yang ‘baik’, sehingga muncul generasi yang baik, dan akhirnya generasi itu mampu berfikir tentang konsepsi pendidikan yang baik dan sebenarnya.

Imam Khomeini saat setelah Revolusi Islam Iran ditanya oleh sekelompok pekerja minyak. Ya imam apa yang revolusi islam inginkan dari kami? Jawab Khomeini; 1) Penyucian diri kalian. Manusia harus menyucikan dirinya terlebih lagi bagi pengajar, pengelola. Dia harus terlebih dahulu menyucikan dirinya supaya dia mampu menyucikan orang lain. Kata al Qur’an: Katakanlah, “Tiap-tiap orang berbuat menurut keadaannya” (Qs: Al Isra’: 84). 2) Anda harus melaksanakan kewajiban-kewajiban yang diletakkan diatas pundak anda secara baik dan benar.

Itulah mengapa dalam Islam dikatakan ta’lim wa tarbiyyah (Pendidikan dan Pengajaran), “menyucikan mereka dan mengajarkan mereka (Qs: al Jumu’ah: 2).

Wallahu a’lam

 

Referensi:

Covey Sthephen, “Seven Habits of Highly Effective People,” Bina-Aksara, Jakarta, 1993.

Napoleon Hill, “Think and Grow Rich”, Terj: Berfikir dan Menjadi Kaya”, Binarupa Aksara, Jakarta, 1996.

Nurbakhsy, “Psychology of Sufism” (“Del Wa Nafs)”, Khaniqani-Nikmatullah Publication, Teheran, 1992.

Madzahiri, Husein, “Jihad an Nafs”, Beirut-Lebanon, 1993.

Seligman, Martin, E.P. “Authentic Happiness, Mizan, Bandung, 2005

Wan Mohd Nor Wan daud, “Filsafat dan Praktik Pendidikan Islam Naquib Al Attas”, Mizan, Bandung, 2003.

Muhammad Alwi: Konsultan Pendidikan, Trainer dan Pendampingan Guru. Penulis Buku, “Belajar Menjadi Bahagia dan Sukses Sejati” (Elexmedia, Kompas-Gramedia, 2011, 304 hal).

Tentang pendidikan positif

Kami adalah Pendidik, Guru, Dosen dan Trainer. Alumni Pasca Sarjana Univ Brawijaya Malang, sekarang studi lanjut di Department Psychology. Kami mengembangkan Seminar, Workshop, dan berbagai Test berbasiskan psikology. Mulai dari 1. Workshop berbasiskan Multiple Intelligence, Topografi Otak, Power Personality, Performance Barrier, Succes with Understanding Personality, Otak Kanan- Otak Kiri, bagaimana mengetahui dan memanfaatkannya untuk sukses dll. Semua itu untuk pengembnagan SDM dan Human Capital. Baik untuk Guru, anak-anak (TK, SD, SMP, SMA, PT), juga untuk karyawan Industri dan Perusahaan. 2. Test test yang mendukung workshop dan seminar diatas seperti; a) Test Multiple Intelligence, b) Test Personality, c) Test Performance Barrier dll. Konsep Kami adalah......Discovering Your Royal road to learning, achievable and Personal Satisfaction. Bagaimana caranya? Caranya dengan discovering your talent, your ability (dengan pemahaman, test), the right place....maka sukses dan bahagia akan mudah didapatkan. Positif Pendidikan adalah Pendidikan yang berusahan menjadikan pebelajar (siapapun yang belajar), akan mampu untuk meraih tidak hanya sukses (achievable) tapi juga bahagia (will-being). Success and Happy.
Pos ini dipublikasikan di Psikologi dan Pendidikan. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s