“AGAMA KITAB” DAN “AGAMA MASYARAKAT”, SEBUAH PEMBELAJARAN DALAM KONFLIK SUNNAH-SYIAH

Tulisan ini saya tulis setelah saya mencoba untuk mengkaji, melihat-lihat berbagai website-website seperti http://abusalafy.wordpress.com/, http://arrahma.com, http://hakekat.com, http://jakfari.wordpress.com/ dll. Dan mencoba untuk berdiskusi dan mencaritahu problema yang terkandung dalam konflik aliran dalam Islam. Dalam website-website itu keduanya saling menyerang dan mempertahankan dengan kepandaian para ulama (pameran literature sangat banyak disana) dan sebagiannya dikemas dalam berita. Yang memiliki waktu dan ingin menimba keduanya dapat langsung mengunjunginya.

Dalam Aliran-aliran agama Islam, potensi konflik itu mudah terjadi. Dan yang lebih bahaya adalah “Tidak ada peperangan, pembunuhan yang lebih banyak ditumpahkan dan tragis kecuali disulut oleh “sentiment agama”.

Kita mengatahui skisme atau perpecahan dalam Islam yang paling besar dan awal adalah Sunnah dan Syiah. Secara prosentase jumlah Sunnah adalah 75% dan Syiah 25% dari total jumlah Muslim di dunia (karena yang lain sangat-sangat kecil). Dalam Sunnah (Ahl Sunnah) ada berbagai Aliran (Yang masih dalam koridor adalah Maliki, Hanafi, Syafi’I dan Hambali) dan dalam Syiah (yang masih dalam koridor adalah Istna Asyariyyah dan Zaidiyah), menurut Risalah Amman (Amman Massage).  Secara lengkap dan siapa-siapa saja yang menandatangani risalah itu, lihat; http://ammanmessage.com/index.php?option=com_content&task=view&id=17&Itemid=31

Yang Perlu diketahui

Pertama; Dalam realitas beragama, ada “Agama Kitab” dan ada “Agama Masyarakat”. Artinya apa? Pemiliki agama/madzab seringkali melihat agamanya sebagai agama Masyarakat yaitu agama/madzab yang bukan hanya dibuku-buku, tetapi sudah di rekontruksi menjadi sesuatu yang dianggap Indah/baik. Sehingga tidak semua yang ada dibuku-buku dan dikitab-kitab itu merefleksikan suatu madzab (aliran yang dianut oleh sebuah masyarakat).

Sekadar memberi contoh:  Para Habaib (Habaib adalah sebutan para keturunan Nabi Muhammad saw, dari anak Fatimah, baik yang lewat Husein, biasa disebut sayyid maupun dari Hasan yang kadang disebut Syarief). Biasa Habaib ini disebut juga dengan Kelompok Alawiyyin. Di Indonesia mereka secara madzab kebanyakan beraliran Sunny-Syafi’i.  Apa betul mereka Syafi’i sesuai kitab-kitab Syafi’i (Al Umm, Qoul Jadid dst), jelas itu tidak benar 100%, sebab habaib yang atas-atas itu banyak yang mujtahid, sehingga mereka meramu, madzab/ajaran Syafi’i dengan keyakinan-keyakinannya sendiri, strategi dakwahnya, lingkungan dia berdakwah, bertempat dst. Ramuan ini, rekontruksi ini yang dinamakan “Agama/madzab Masyarakat”. Untuk sekadar bukti, kita bisa lihat adanya Haul, Mauled, Pujian-pujian yang sangat kuat oleh mereka kepada Keluarga Nabi (khususnya Ali, Fatimah, Hasan dan Husein). Kita bisa membaca buku-buku yang dikarang ataupun yang sering dibaca oleh para Habaib seperti mauled Barzanji atau kitab-kitab lainnya. mereka cukup Syiah disini, kalau sekadar melihat hal-hal ini (Tradisi NU banyak mengikuti ajaran para Habaib Indonesia). Demikian juga yang bermadzab Syiah, mereka juga melakukan ramuan-ramuan ini.

Tapi lawannya? Biasanya melihat agama/madzab lawan mereka dengan agama Kitab. Artinya sesuatu yang ada dalam sebuah kitab pemilik sebuah madzab, itu diyakini sebagai keyakinan sebuah madzab itu.

Dalam diskusi-diskusi Sunnah-Syiah sering kita dengar; “ini lho dikitabmu ada, ini lho di Bukhari-Muslim ada, ini lho di Nahjul-Balaghah ada, ini lho di Al Kafi ada, ini lho ucapan ulama-ulama-mu, dst, dst…..padahal pemilik agamanya (baik itu sunnah dan syiah) tidak mengikuti itu (walau dalam kitab-kitabnya ada).

 

Kasus Sunnah-Syiah

Sunnah menuduh Syiah dengan argument dikitab-kitab Syiah yang seringkali syiah-nya sendiri tidak mengakui atau melaksanakan keyakinan itu, demikian juga Syiah menuduh Sunnah……dst.

Contoh Kasus di Kitab-kitab Sunnah; Keributan sahabat, saling membunuh, saling menjelekkan bahkan ‘mengkafirkan’, peristiwa pemilihan kekhalifah, kasus Muawiyyah dst..dst ini ada, seabrek. Tetapi dikitab yang sama juga bercerita bagaimana kebaikan-kebaikan mereka, afdholiyah mereka dst-dst. Setelah diramu jadilah madzab yang sekarang ini (Khusus-nya dalam tulisan ini, para Habaib Indonesia). Memuji Ahl Kisa (Rasul saw, Ali, Fatimah, Hasan, Husein) sedemikian Rupa, tetapi juga khalifah yang lain termasuk Aisyah bahkan sedikit sekali, kadang-kadang Muawiyah (ini ramuan, ini “Agama Masyarakat” Habaib, NU banyak ikut disini). Sekali lagi di Syiah juga sama. Inilah masalahnya, inilah repotnya.

Masalahnya tidak banya dari kita yang mencoba untuk iqra ( baca: mengambil jarak), membaca masalahnya, mencoba untuk membuka keduanya dan melakukannya dengan sangat serius (saya tidak mengatakan saya sudah cukup melakukannya). Dan lebih bermasalah lagi, sekarang potensi konflik itu di glontorkan untuk konsumsi masyarakat umum yang cenderung awam.  Kita mestinya mencoba untuk keluar dari Islam-mu, Islam-ku dan mencoba untuk mengupayakan Islam-Kita.

Sekadar contoh Kasus Konflik

1. Tahrif Al Qur’an.

Baik Sunnah, maupun Syiah mampu menunjukkan bahwa lawannya mempercayai adanya Tahrif Qur’an. Lewat buku masing-masing, lewat berbagai ucapan para ulamanya. Tapi kalau kita mau menyimak, maka kita akan pasti mempercayai bahwa keduanya percaya bahwa al Qur’an itu tidak ada pengurangan (walaupun ada segelintir ulama dikedua aliran itu yang mempercayai adanya tahrif Qur’an).

Bahkan Prof, Dr A.A al A’zami pakar al Qur’an dan Hadist dunia, saat mengkritik habis para orientalism mengatakan, salah satu bukti keotentikan al-Qur’an dan kita mesti “meragukan” sebagian sejarah pengumpulan al-Qur’an yang kontradiktif (yang biasanya digunakan oleh pakar-pakar al-Qur’an dan Hadis barat dalam mengkritik islam). Dengan mengatakan; sejak awal Islam sunnah-syiah sudah berbeda, bila sejarah pengumpulan itu seperti itu, maka pasti al-Qur’an antara Sunnah-Syiah itu berbeda, tetapi buktinya adalah tidak. Jadi sebagian sejarah dikitab-kitab tentang sejarah pengumpulan al-Qur’an itu sesti diragukan (lemah).

2.  Problema Sahabat

Syiah menyimpan konflik sejarah sahabat, sebab madzab itu keluar dari pembelaannya terhadap Ali dalam Suksesi kepemimpinan pasca nabi dan peperangan Ali melawan Muawiyah bin Abi Shofyan. Sehingga Syiah sangat kritis bahkan menghujat terhadap sebagian para sahabat. Sedangkan Sunnah, walaupun juga ada yang menghujat sahabat khususnya Ali (yang keras seperti Ibn Taymiyyah), tetapi karena Sunnah sejarahnya adalah ‘kompromistis’ (dan pemenang), maka mereka tidak menyimpan sejarah konflik itu (kecuali sebagian kecil). Sehingga mereka menganggap ‘sudah selesai’ masalah-masalah itu.

Apa yang Mesti Dilakukan?

Ada beberapa hal yang semestinya dilakukan untuk kebaikan kita bersama, dalam hal pemahaman keberagamaan kita, dalam hal persatuan ummat Islam maupun dalam konsep berbangsa dan bernegara. Beberapa itu antara lain;

  1. Pemahaman akan sejarah keberagamaan kita, sehinga kita tidak berfikir hitam-putih. Seakan hanya kita yang benar. Ini semestinya dilakukan oleh Kementrian Keagamaan dan MUI.
  2. Sejak dini penanaman Islam yang rahmatan lil-alamin, dan pemahaman akan perbedaan itu sebuah hal keniscayaan mesti ditanamkan. Ini dapat dilakukan lewat lembaga-lembaga pendidikan dan kampus-kampus.
  3. Mengelinimir sejak dini kelompok-kelompok ekstrem yang kerjanya adalah memperlebar dan memperuncing perbedaan dan menyulut permusuhan.
  4. Pemerintah semestinya memiliki kesadaran dan keseriusan dalam masalah ini, tidak kalah pentingnya dengan menggarap urusan ekonomi dan politik. Sebab potensii konflik keberagamaan dapat menggagalkan atau meng-cancel upaya-upaya pembangunan berbangsa dan bernegara kita.
  5. Dan Kita semua mesti sadar bahwa perang antar Negara, hegemeni yang ingin ditancapkan oleh sebuah negara (khususnya barat) tidak hanya menggunakan senjata, politik-ekonomi, tetapi rongrongan dari dalam dengan memanfaatkan potensi konflik antara suku, ras dan agama yang ada di Negara kita.

Wallahu A’lam

la Haula wala quwwata illah billah

Muhammad Alwi

Tentang pendidikan positif

Kami adalah Pendidik, Guru, Dosen dan Trainer. Alumni Pasca Sarjana Univ Brawijaya Malang, sekarang studi lanjut di Department Psychology. Kami mengembangkan Seminar, Workshop, dan berbagai Test berbasiskan psikology. Mulai dari 1. Workshop berbasiskan Multiple Intelligence, Topografi Otak, Power Personality, Performance Barrier, Succes with Understanding Personality, Otak Kanan- Otak Kiri, bagaimana mengetahui dan memanfaatkannya untuk sukses dll. Semua itu untuk pengembnagan SDM dan Human Capital. Baik untuk Guru, anak-anak (TK, SD, SMP, SMA, PT), juga untuk karyawan Industri dan Perusahaan. 2. Test test yang mendukung workshop dan seminar diatas seperti; a) Test Multiple Intelligence, b) Test Personality, c) Test Performance Barrier dll. Konsep Kami adalah......Discovering Your Royal road to learning, achievable and Personal Satisfaction. Bagaimana caranya? Caranya dengan discovering your talent, your ability (dengan pemahaman, test), the right place....maka sukses dan bahagia akan mudah didapatkan. Positif Pendidikan adalah Pendidikan yang berusahan menjadikan pebelajar (siapapun yang belajar), akan mampu untuk meraih tidak hanya sukses (achievable) tapi juga bahagia (will-being). Success and Happy.
Pos ini dipublikasikan di Filsafat dan Agama. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s