Buku “BELAJAR MENJADI BAHAGIA DAN SUKSES SEJATI”

Alhamdulillah buku pertama saya sudah terbit,”BELAJAR MENJADI BAHAGIA DAN SUKSES SEJATI”, Bimbingan Praktis Penerapan Multiple Intelligence di Keluarga, Lembaga Pendidikan dan Bisnis”. Elexmedia Kompas Gramedia, 304 halaman.

SINOPSIS:

Kita mestinya bertanya/melakukan survey pada wali-murid dan stakeholder lainnya….saat memasukkan  anaknya disekolah. Untuk apa anak itu disekolahkani?; jawabnya sangat bermacam-macam; mulai dari untuk “Kebahagiaan,” “Memiliki Kepercayaan,” “Kepuasan,” “Pemenuhan,” , Jadi orang yang berguna, ” memiliki Cinta Kasih, “Menjadi beradab, ” dst..dst. jawaban-jawaban ini bisa dikelompokkan bahwa Stakeholder ingin BAHAGIA. Jawaban kelompok lain; bisa seperti, agar supaya  ber “Prestasi”, “Keterampilan Berpikir,” “Sukses,” “Siap Kerja,” “Berpendidikan”, “Faham Matematika, Bahasa Inggris dan Komputer ,” “Bisa Bekerja,” , ” “Disiplin,” Diterima di sekolah fanorit selanjunya, Diterima di PTN ternama dst..dst. Jawaban ini bisa dikelompokkan bahwa Stakeholder ingin SUKSES . Kalau survey ini benar dilakukan maka kita akan memiliki langkah yang jelas……sesuai dengan permintaan Customer (peminat pendidikan). Dan hasil survey dari beberapa kota besar di Indonesia..pilihan pertama yang dominan..dengan % cukup significant.

*

Pendidikan (bisa di kluarga-Sekolah atau Bisnis) adalah salah satu ilmu terapan (applied science).  Karenanya, kita sering mendengar, pendekatan-pendekatan baru, penerapan metode baru dan lain sebagainya,  sebagai akibat temuan-temuan baru dalam riset dan teori ilmu-ilmu murni (semacam Neurosain, Psikology juga Biology).

Untuk tidak ketinggalan dan up to date dalam pendekatan pendidikan dan pelatihan maka diskusi, temuan, riset ilmu-ilmu tadi, sangat penting untuk diintip. Salah satu hasil riset dan temuan ilmu-ilmu diatas (psikologi, neurosain dan biology), yang sedang marak diaplikasikan didunia pendidikan, khususnya di Indonesia adalah Multiple ilntelligence (penemunya adalah Howard Gardner) dan Hubungan Otak-Emosi (Antonio Damasio dan Joseph LeDeoux). Sebuah kajian teori intelligence (kecerdasan) yang membawakan aroma baru dan lebih optimis serta humanis. Dengan mengkritik teori sebelumnya yang sudah bertahan lama, yaitu teori IQ (Alfred Binet).

Dalam buku ini tidak mendiskusikan teori itu, apalagi kebenarannya, diskusi-diskusi didalamnya dan argumentasi pendukungnya serta para kritisi teori itu. Itu bukan kemampuan kami dan diluar tujuan penulisan buku ini. Tetapi yang dapat kita percayai dari teori Multiple intelligence secara “common sense” adalah; secara kasat mata kita tahu bahwa ada beda antara, Hamingway, J.K. Rollin (Cerdas Bahasa, Linguistik), Einstein, Sthephen Hawking (Cerdas Logis-Matematis), Pablo Picasso, Afandi (Visual-Spatial), Bethooven, Mozart, Michel Jackson (Musik), Zidane, Zlatan, Ronaldo (Kinestetik) dan seterusnya. Semua orang itu adalah orang hebat, orang super dibidangnya masing-masing. Kita tidak bisa atau dengan bahasa lain, kita tidak boleh membandingkan satu orang dengan orang lain. Misalnya, mana yang lebih cerdas antara Maradona, Bethooven dan Einstein. Kita mungkin akan mengatakan bahwa dalam masalah gerak, sepak-bola maka Maradona yang lebih hebat. Dalam masalah fisika-matematika jelas semua orang akan sepakat, symbol kejenuisan itu ada pada Einstein, demikian juga untuk masalah music maka jangan ada yang berfikir mengalahkan Bethooven dan Mozart.

itui semua berarti bahwa kecerdasan itu ada banyak, diberbagai bidang dan tidak hanya satu bagian, satu bidang. Kita bisa sukses, bisa jadi top, jenius, super, dibidangnya masing-masing. Urusan balap mobil Scumacher ahlinya, bulutangkis, Rudy Hartono, Tinju, Muhammad Ali, Wiraswastawan ada Bill Gate dan seterusnya.

Kalau ini kita sepakati, maka ini bisa kita anggap sebagai kesimpulan “Kebenaran teori Multiple Intelligence” (walau hanya secara common sense). Dan Menurut kaidah umum, bahwa kebenaran Rasional, kebenaran teoritis, akan menuntut pelaksaan praktis. Artinya, bila kebenaran rasional “Multiple Intelligene” itu dianggap benar (bahwa kecerdasan manusia itu banyak), maka menuntut konsekuensi praktis-nya adalah; dilembaga pendidikan, bahwa dalam rangka mendekati pada anak (murid, peserta pelatihan, karyawan dst), dalam rangka mengajarkan sesuatu pada mereka, supaya mereka menjadi “super” atau gampang menerima informasi dibidang-nya masing-masing, maka kita harus menggunakan “Multiple-Approach” = Pendekatan Jamak (sejumlah kecerdasan yang ada).

Anak, murid, siswa di kelas, diseminar, dirumah, diperusahaan,  mestinya didekati dengan berbagai kecendrungan kecerdasannya. Dengan bahasa lain; Gaya (cara, metode, strategi, pendekatan dan istilah-istilah lainnya) mengajar guru harus sama atau menyesuaikan dengan kecendrungan kecerdasan Siswa.  

Bila ini dilakukan, maka akan banyak anak yang sukses, akan banyak dan mudah ilmu, informasi diterima oleh anak didik. Dan secara umum akan sukseslah pendidikan atau sekolah itu dalam ‘mentranfer’ ilmu-pengetahuan ke anak didik. Tidak hanya dalam hal mentranfer, tetapi keceriaan, harga diri, perkembangan kesehatan mental (yang meliputi biologis, psikis dan social) betul-betul dapat dioptimalkan. Betul-betul pendidikan dikatakan sebagai proses, upaya mengaktualisasi dari potensi.

Tetapi kalau boleh mengatakan kelebihan buku ini, kami tidak hanya berurusan dengan masalah pendidikan ‘secara umum’ diatas. Sebab pendidikan sekarang seakan urusannya dengan kognitif, pemikiran dan asah otak. Padahal kalau kita mau masuk lebih dalam, maka pendidikan itu mestinya mengarahkan peserta didik ke- keadaan ‘Sukses’, ke-keadaan ‘kebahagiaan’. Bukan sekadar sukses dikepala (rasional-kognitif). Apa itu bahagia, bagaimana definisinya, bagaimana ciri-ciri manusia yang bahagia, bagaimana ukurannya serta cara-cara untuk meraihnya itulah juga yang dibahas dalam buku ini.

Buku ini ingin membahas (dengan keluasan bagian-bagiannya, tetapi secara serba singkat), Mulai dari pendidikan, definisi, startegi pendidikan, hubungan pendidikan dengan topografi otak manusia dan penemuan-penemuan terbaru dalam bidang psikologi dan neurosain. Hubungan pendidikan, otak dan pelibatan emosi. Seperti bagaimana neurotarnmitter keluar, apa fungsi Sistem Limbik, Amygdale, lobus Frontal, gyrus-gyrus dalam otak dan lain sebagainya. Juga bagaimana menerapkan temuan-temuan itu kedalam system pembelajaran dikelas dan pelatihan-pelatihan, sehingga akhirnya kita mampu untuk meraih sukses yang sebenaranya (yaitu Kebahagiaan, Assa’adah).

Oleh karenanya dalam bab 1 kita membicarakan tentang kesuksesan, kebahagiaan dan belajar. Sebagai pengantar untuk pembahasan selanjutnya. Disini dibicarakan apa itu bahagia, bagaimana konsep umum pendidikan dan lingkaran-lingkaran (komponen-komponen) yang saling berhubungan dalam pendidikan. Bab 2, 3, 4 dan 5, membahas tentang konsep teknis tentang apa itu belajar, definisi belajar dan mengajar, kejadian-kejadian pembelajaran menurut Robert Gagne dan seterusnya. Juga membahas konsep-konsep penting Pembelajaran mulai dari Behaviorisme, Cognitivisme dan Humanisme. Serta apa itu strategi pembelajaran, model pembelajaran dan teknik pembelajaran. Definisinya,  serta pengetrapannya di kelas. Ini sangat teknis dan bisa diabaikan pembacaannya bagi yang kurang berminat urusan masalah teknik pendidikan dan pelatihan.

Bab selanjutnya bab 6, 7 dan 8, membahas bagaimana komunikasi yang efektif dalam menyampaikan informasi kepada peserta didik, pengolahan informasi, penyimpanannya serta bagaimana komponen-komponen otak itu bekerja secara sedemikian rupa sehingga informasi itu dapat diterima dan disimpan dengan baik serta mudah untuk pemanggilan kembali.

Bab 9, membahas tentang bagaimana hubungan antara IQ, EQ dan sukses dalam karier, kesehatan emosi serta bagaimana menghindari gangguan emosi dan stress.

Bab 10, membahas bagaimana semua teori-teori diatas itu diterapkan didalam kelas dan pembelajaran. Baik pembelajaran pribadi (individual), pembelajaran kelompok oleh seorang guru. Dengan mengetahui ini diharapkan kita akan faham bagaimana memenejemeni system pembelajaran kita, untuk menghasilkan pembelajaran yang sukses dan enjoy full.

Bab 11, membahas pemrosesan kesan dan pengelolaannya dalam komunikasi. Bab 12 dan 13, membahas dua hal dalam teori pendidikan terbaru, yaitu masalah Kontruktivisme pendidikan dari Jean-Piaget dan Multiple-Intelligence dari  Howard Gardner. Ini membahas kecerdasan itu banyak dan bahwa kita dalam menerima apapun informasi itu sebenarnya mesti akan kita hubungkan dengan informasi milik kita sebelumnya. Bila informasi, ilmu yang baru kita terima itu tidak ada hubungannya sama sekali dengan informasi kita sebelumya, atau dengan bahasa lain, kita tidak mampu membuat asosiasi ilmu, informasi baru dengan stock of knowledge kita sendiri. Maka informasi, ilmu yang baru ini akan sangat sulit kita terima atau kita transfer kepada yang lain.

Saya sangat senang dengan penulisan buku ini, sehingga hampir semua hal ingin saya ceritakan dan hampir-hampir tidak akan selesai. Ada yang mengatakan mengapa buku ini tidak dikembangkan saja menjadi beberapa buku, karena memang topiknya bisa dipecah-pecah. Tapi saya bilang itu bagian demi bagian yang bisa berhubungan maka biar saja.

Penulisan buku ini sangat panjang sejarahnya, mulai dari dipilihnya kami menjadi direktur sebuah sekolah, sehingga ‘memaksa’ kami untuk menggeluti psikologi pendidikan, mengisi diskusi-diskusi sewaktu pasca sarjana di Malang dengan topic Filsafata Eksistensialisme, Kontruktivisme-Pendidikan, Multiple Intelligence, juga Filsafat Manusia dan kaitan Psikologi dan Manusia. Dari diskusi-diskusi itu, ditambah dengan pegalaman lebih dari 10 tahun sebagai guru dan kepala sekolah, maka lahirlah buku ini sebagai upaya mensistematisasikan pembacaan teori dan implementasi dilapangan, serta keinginan idealisme pendidikan bagaiman semestinya ‘untuk’ diupayakan.

Tentang pendidikan positif

Kami adalah Pendidik, Guru, Dosen dan Trainer. Alumni Pasca Sarjana Univ Brawijaya Malang, sekarang studi lanjut di Department Psychology. Kami mengembangkan Seminar, Workshop, dan berbagai Test berbasiskan psikology. Mulai dari 1. Workshop berbasiskan Multiple Intelligence, Topografi Otak, Power Personality, Performance Barrier, Succes with Understanding Personality, Otak Kanan- Otak Kiri, bagaimana mengetahui dan memanfaatkannya untuk sukses dll. Semua itu untuk pengembnagan SDM dan Human Capital. Baik untuk Guru, anak-anak (TK, SD, SMP, SMA, PT), juga untuk karyawan Industri dan Perusahaan. 2. Test test yang mendukung workshop dan seminar diatas seperti; a) Test Multiple Intelligence, b) Test Personality, c) Test Performance Barrier dll. Konsep Kami adalah......Discovering Your Royal road to learning, achievable and Personal Satisfaction. Bagaimana caranya? Caranya dengan discovering your talent, your ability (dengan pemahaman, test), the right place....maka sukses dan bahagia akan mudah didapatkan. Positif Pendidikan adalah Pendidikan yang berusahan menjadikan pebelajar (siapapun yang belajar), akan mampu untuk meraih tidak hanya sukses (achievable) tapi juga bahagia (will-being). Success and Happy.
Pos ini dipublikasikan di Psikologi dan Pendidikan. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s