EMPATI = Ku TaHu aPA yang KAu Mau

SIMPATI VS EMPATI

Dalam sebuah perusahaan, organisasi, ada sebuah konsep umum yang mengatakan bahwa, “The Right Man on The Right Place.” Kata-kata ini cukup gampang diucapkan, tetapi kesederhanaan dan pendeknya kata itu menyiratkan sejuta makna dan penafsiran. Bahkan ini adalah jantung dari setiap keberhasilan dalam kehidupan kita.

Lakukan kepada orang lain sebagaimana Anda ingin orang lain memperlakukan Anda. Kata-kata ini adalah kata-kata yang sudah diterima umum, dan dianggap memiliki kebenaran yang cukup didalamnya. Tetapi sebenarnya dalam upaya untuk berhasil di sebuah pergaulan, sukses ditempat kerja bahkan berhubungan dengan keluarga (anak-istri). Maka konsep ini semestinya harus disempurnakan. Mestinya konsep ini menjadi “lakukan kepada orang lain sebagaimana mereka menginginkan Anda memperlakukan mereka.” Disinilah konsep empati dan simpati berhadap-hadapan.

Secara sederhana, Simpati adalah kita merasakan orang lain, sebagaimana kita merasakan diri kita. Kalau kita melihat teman kita terkena musibah atau penderitaan, maka kita merasakan, bersimpati. Seperti seandainya kita terkena musibah atau penderitaan itu. Sedangkan Empati adalah, kita berusaha merasakan seandainya kita menjadi diri mereka.

Melakukan simpati jauh lebih mudah dibandingkan dengan empati. Tetapi dengan simpati, terkadang kita disalah-artikan, berkonflik dan mis-communication. Ini semua disebabkan setiap pribadi dalam menafsirkan bencana, penderitaan, dan lain sebagainya menggunakan cara-cara dan pendekatan yang berbeda-beda. Misalnya seorang yang cenderung tertutup, introvert, intrapersonal, kalau terkena musibah pinginnya sendirian. Lalu karena kita ber-Kepribadian (style kecerdasan) kita berbeda. Kita eksptovert, interpersonal dan terbuka, Kita menggunakan pendekatan dengan kaca-mata kita (bersimpati). Kita menemani mereka, mengajak ngobrol mereka berlama-lama, dan seterusnya. Prilaku kita ini berniat baik, tetapi niat baik ini, kadang-kadang justru menjengkelkan mereka.

Ketika kita tidak mempunya cara untuk memahami Kepribadian (style kecerdasan) orang lain, kita cenderung mengadili orang lain menurut perspektif kita sendiri (baca = simpati). Dan menghukum mereka kalau mereka tidak sesuai dengan citra kita sendiri. Misalnya kata-kata yang keluar dari diri kita seperti; Kamu ini tidak rasional, cengeng, mendramatisir masalah, tidak punya perasaan, sudah dibantu tapi…. dan seterusnya. Ini kita labelkan kepada orang lain disebabkan kita berfikir, berperasaan menggunakan kaca-mata diri kita, menggunakan kepribadian (style kecerdasan) kita, saat kita mengalami sesuatu masalah. Padahal orang lain menggunakan kepribadian (style kecerdasan) yang berbeda.

Orang yang Intrapersonal (dalam Style Kecerdasan Multiple Howard Gardner) jangan diajak atau dipaksakan bersenang-senang dengan jalan-jalan ke Mall. Seorang yang Kinestetik jangan dipaksakan dibelakang meja dengan pekerjaan akuntansi yang rumit. Demikian juga bila kita membuka konsepnya DISC (Dominant, Influence, Steadiness, Compliance) William Moulton Marston, alumni Harvard University. Orang yang Dominant jangan dipaksakan diajak bersantai-santai, sekadar ikut-ikutan dalam tugas yang tidak jelas. Biasanya kita akan mengatakan kepada mereka. Kamu ini tidak bisa santai, kamu ini selalu sibuk. Kadang kita mengatakan mereka yang senangnya sendiri dengan sebutan cliker, cupuk, ndak gaul dan seterusnya. Ini semua karena kita bersimpati (menggunakan kaca-mata kita, berusaha baik kepada mereka). Konsep yang kita gunakan adalah; Lakukan kepada orang lain sebagaimana Anda ingin orang lain memperlakukan Anda. Padahal karena pola penghayatan hidup (disebabkan oleh Genetik, lingkungan dan seterusnya yang terajut menjadi Kepribadian atau Style Kecerdasan) yang berbeda. Mereka berprilaku dengan cara yang berbeda. Maka konsenya sekarang adalah ber-Empatilah.

Disinilah kita perlu memahami pola kepribadian (style kecerdasan) dan menyadari bahwa orang-orang lain ini, tidak bermaksud “mencelakaan kita”. Mereka hanya melihat kehidupan dari segi pandang yang berbeda.

Marilah kita ambil contoh dalam DISC. Type Dominankonsep dasarnya adalah “Mari kita melakukan dengan cara SAYA (ambisius dan suka bersaing, cepat membuat keputusan, berorientasi tugas, mengambil resiko, memaksa, memimpin dll). Type Influentkonsep dasarnya adalah “Mari kita melakukan secara MENYENANGKAN” (sangat ramah, persahabatan, kerjasama team, tidak sistematik dll). Type Steadinesskonsep dasarnyaadalah “Mari kita melakukan dengan cara yang MUDAH.” Type ComplienceKonsep dasarnya adalah “Mari Kita melakukan dengan cara yang BENAR.”

Jelas dengan perbedaan type kepribadian (style kecerdasan) ini mereka bertindak, berprilaku, baik dalam menghadapi pekerjaan, dirumah, ditempat kerja atau saat bekerjasama dalam team, juga berbeda-beda. Mereka menunjukkan pola prilaku yang berbeda-beda. Kita bisa melihat type kerpribadian (style kecerdasan) lain yaitu type Pemimpin (= Dominant dalam Disc), Penggembira, Analisi (senang ilmu, cerdas, sadar rincian dst) dan Pegawai.

Kepribadian kita, style kecerdasan kita menentukan persepsi kita. Persepsi kita menentukan tindakan-tindakan kita, sikap kita, bahkan ability dan skill kita. Itu semua akhirnya menentukan productivity, performance dan creativity kita dalam pola hubungan dengan kehidupan, orang lain dan pekerjaan.

Dalam sebuah contoh Implementasi di periklanan misalnya (sekadar memberikan contoh); maka antara satu type kepribadian dengan yang lain akan berbeda-beda dalam tanggapannya. Orang yang popular, penggembira, senang dengan iklan yang menjanjikan kesenangan, pelarian, gairah, liburan, berpergian-melancong dll. Teks seperti; ajaib, fantastis, kesempatan yang mempesona dan tidak ada habis-habisnya dst, akan menyentuh mereka. Tetapi para Pemimpin, menganggap acara itu pembuangan waktu yang produktif. Type analis akan melihat biaya dengan kesenangan yang diperoleh dari tawaran itu. Bagaimana Data angka-angka, statistic pengunjung dan seterusnya. Kata-kata seperti, perspektif yang semestinya, mendapat imbalan pengertian, menyentuh langsung jiwa anda dan seterusnya, ini menyentuh para analis (orang-orang yang bergelut diangka-angka, akuntan, analis data, programer dll).

Dalam sebuah permainan, tempat kerja atau suatu kegiatan, beberapa orang datang dengan harapan untuk bersenang-senang; beberapa orang bermain mengikuti peraturan secara ketat dan tidak mau dibelokkan; beberapa orang mengatakan kepada setiap orang lain apa yang harus dan semestinya dilakukan, walaupun mereka tidak memegang kepemimpinan; dan beberapa yang lain membuat kompromi-kompromi secara konsisten kalau dan yang penting menghindari konflik.

Dalam kehidupan ini, hubungan antar manusia ini semacam puzzle of live dan puzzle of destination. Bila setiap kepingan itu ditempatkan ditempat yang benar, maka akan menghasilkan gambar, makna yang jelas. Dan satu bagian membantu, memperbaiki bagian lainnya.

Setiap dari kita punya kelebihan dan kelemahan masing-masing. Untuk berhasilnya sebuah organisasi, perusahaan maka pemimpin, manajer, CEO harus mampu memastikan bahwa setiap orang berfungsi dalam kekuatannya dan bukan kelemahannya, dan dia harus membuat setiap orang bisa diandalkan secara jujur.

Saling menyesuaikan diri dengan rekan kerja merupakan keahlian yang semakin dibutuhkan saat ini. Kemampuan ini bisa dikarenakan memang penempatanya sesuai dengan style kecerdasannya (bagian Recruitmen, HRD, mampu meng-klop-kan antara talenta, style kecerdasan dengan job analisis dan job description yang diharapkan). Atau masing-masing orang lewat pelatihan tertentu, workshop atau seminar, memiliki pemahaman akan pola-pola kepribadian dan style kecerdasan, sehingga saling memahami kepribadian antara satu orang dengan orang lain.

Bila diantara kita tahu bahwa karakteristik, style kecerdasan antar kita berbeda, yang itu menyebabkan pola prilaku dan penyikapan akan sesuatu juga berbeda-beda. Maka upaya menyesuaikan diri akan lebih mudah dan kesuksesan dalam kerja bersama, kerja team akan lebih mudah.

 

Muhammad Alwi: Pengajar Communication Business, Organization Behavior, Trainer “Type Personality for Success Communication”, “Belajar berbasis Topografi Otak, Integrasi Multiple Intelligence”, Corporate Multiple Intelligence (CMI). Alumni Pasca Sarjana, Human Resource Management, Univ Brawijaya Malang. Sekarang Studi lanjut di Departemen Psychology. Penulis buku, “Belajar Menjadi Bahagia dan Sukses Sejati”, Elexmedia Kompas-Gramedia, 2011. Yang akan terbit, “Belajar Berbasis Topografi Otak, Integrasi KTSP dan Multiple intelligence”.

Tentang pendidikan positif

Kami adalah Pendidik, Guru, Dosen dan Trainer. Alumni Pasca Sarjana Univ Brawijaya Malang, sekarang studi lanjut di Department Psychology. Kami mengembangkan Seminar, Workshop, dan berbagai Test berbasiskan psikology. Mulai dari 1. Workshop berbasiskan Multiple Intelligence, Topografi Otak, Power Personality, Performance Barrier, Succes with Understanding Personality, Otak Kanan- Otak Kiri, bagaimana mengetahui dan memanfaatkannya untuk sukses dll. Semua itu untuk pengembnagan SDM dan Human Capital. Baik untuk Guru, anak-anak (TK, SD, SMP, SMA, PT), juga untuk karyawan Industri dan Perusahaan. 2. Test test yang mendukung workshop dan seminar diatas seperti; a) Test Multiple Intelligence, b) Test Personality, c) Test Performance Barrier dll. Konsep Kami adalah......Discovering Your Royal road to learning, achievable and Personal Satisfaction. Bagaimana caranya? Caranya dengan discovering your talent, your ability (dengan pemahaman, test), the right place....maka sukses dan bahagia akan mudah didapatkan. Positif Pendidikan adalah Pendidikan yang berusahan menjadikan pebelajar (siapapun yang belajar), akan mampu untuk meraih tidak hanya sukses (achievable) tapi juga bahagia (will-being). Success and Happy.
Pos ini dipublikasikan di Psikologi dan Pendidikan. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s