GAGASAN “SPIRITUAL MULTIPLE INTELLIGENCE” DAN MINDSET KITA ( Seri 1)

GAGASAN “SPIRITUAL MULTIPLE INTELLIGENCE” DAN MINDSET KITA ( Seri 1)

Kalau kita boleh menganalogikan manusia dengan sebuah program computer, semacam OS (Operation System) Windows XP atau Windows7. Maka manusia adalah Windows itu ditambah Kebebasan. Windows adalah program yang canggih dengan segala kerumitannya dan kebergunaan fungsinya. Siapa yang paling tahu program itu? Jawabnya adalah perancangnya (kalau manusia maka itu adalah Tuhan). Manusia itu sebenarnya diciptakan, di program untuk kebaikan dirinya, sesuai dengan tujuan penciptaannya, sesuai dengan Kesempurnaan Penciptaannya. Dengan bahasa lain, manusia itu diciptakan untuk “Sukses dan Bahagia”. Dengan kata lain default factory setting (Fitrah) asli manusia adalah Sukses dan Bahagia. Tapi mengapa banyak yang gagal? Sebab program itu tidak digunakan sesuai petunjuk penggunaannya. Tidak dijalankan sesuai dengan default factory setting-nya, sehingga program rancangan canggih yang berupa manusia itu mudah menjadi crash, error dan not-compatible dengan yang lain. Dalam bahasa kita adalah; kita menjadi mudah stress, mis-communication, takut, frustasi, fobia, neurosis dst.

Gagsan “Sukses dan Bahagia” sebenarnya adalah gagasan dasar dari Spiritual Multiple Intelligence (ini sebuah gagasan kami, dalam banyak pelatihan dan diskusi dengan berbagai teman). Dimana karena kesalahan pemaknaan akan gagasan Sukses dan Bahagia, serta gagasan itu tidak dihubungkan dengan default factory setting manusia, maka banyak dari kita yang merasa tidak berhasil dalam mewujudkan sukses dan bahagia. Padahal sukses dan bahagia itu bulid-in, given dalam penciptaan kita.

Salah satu gagasan dari sekian banyak gagasan Spiritual Multiple Intelligence adalah gagasan yang bernama ‘Mindset’     ( baca : Paradigma atau Pola Pikir). Banyak bahkan seringkali dari kita salah dalam memaknai arti kata “Sukses dan Bahagia”. Sukses itu sebenarnya adalah individual, sukses itu internal bukan eksternal (seperti punya mobil bagus, makan makanan dihotet berbintang, tabungan berisi 1 milyar dst). Seorang bersungut-sungut karena sandalnya hilang dalam masjid, tapi hilang setelah melihat seorang yang kehilangan kedua kaki-nya berbarengan dengan dirinya keluar dari masjid yang sama. Sukses dan bahagia setiap orang berbeda-beda.

Menurut American Heritage Dictionary, Mindset adalah “a fixed mental attitude or disposition that predetermines a person’s responses to and interpretations of situations.” Terjemahannya kurang lebih: Keyakinan teguh yang menjadi dasar dari respons-respons dan interpretasi yang dimiliki oleh seseorang. Seseorang bermindset X ( Misal: Analis, Pegawai, Sukses dst),  mempunyai respons dan interpretasi yang berbeda dengan seseorang yang bermindset Y (misalnya, Pemimpin, Penggembira, atau Gagal, dst).

MindSet adalah sikap mental yang menetap (fixed mental attitude) terbentuk melalui pendidikan, pengalaman serta prasangka. Mind set ini dipakai oleh seseorang sebagai dasar untuk bersikap dan berprilaku. Tiga komponen utama MINDSET yaitu; 1) Paradigma, yaitu cara pandang seseorang terhadap sesuatu, 2) Keyakinan dasar, adalah kepercayaan yang dilekatkan sesorang terhadap sesuatu, dan  3) Nilai – nilai dasar, ini adalah batasan – batasan untuk melakukan suatu tindakan oleh seseorang yang dijunjung tinggi olehnya serta mewujud dalam sikap dan karakternya…

Sebagai contoh analogi mempermudah adalah Mindset orang Setengah Penuh dan Setengah Kosong.  

Orang Pesimis (Setengah Kosong) bermindset antara lain; membuat atribusi internal  (kalau tertimpa kegagalan, ada kesalahan, maka mereka selalu menyalahkan  mereka sendiri, saya memang seperti ini), menganggap  kesalahan atau kegagalan itu bersifat stabil, berlangsung lama (memang saya seperti ini, mulai dulu saya seperti ini, nantipun akan seperti ini, ini memang kelemahan saya) dan global, menentukan apapun yang mereka lakukan. Saya memang seperti ini, maka kalau saya mendapat pekerjaan, menemui keadaan seperti ini, saya pasti seperti ini juga. Hal Ini memang kelemahan saya.

Itu semua berbeda dengan Orang Optimis (Setengah Penuh). Orang Optimis membuat atribusi eksternal  (kalau mereka mengalami kegagalan, kesalahan, misalnya; tidak menepati target dst, maka mereka tidak menganggap itu kesalahan mereka. Ini tidak berarti menghindari tanggung-jawab. Tapi mereka akan berfikir dan mengatakan; It’s not my day, ucapan yang sering dilakukan oleh Michael Jordan, bila dia tidak tampil prima dalam kejuaran NBA (Bola basket). Artinya hanya hari ini saya gagal. Saya sudah benar, tapi karena orang itu atau kondisi lainnya, dst yang membuat gagal). Tidak stabil tapi temporer, artinya sekarang gagal, tapi besok akan sukses. Sekarang gagal, tapi mungkin akan sukses bila dengan orang lain, dengan keadaan lain dst. Spesifik, bermasalah hanya dalam situasi ini. Keadaan sekarang yang menyebabkan kesalahan, kegagalan, tapi lain waktu tidak boleh seperti ini, dan tidak akan seperti ini.

Cobalah kita lihat dalam diri kita. Semua yang kita lakukan itu pasti dan pasti akan mengarah pada hanya, sekali lagi hanya pada 2 tujuan yaitu; 1) Menambah Kebaikan kita (Sehat, Kaya, Bahagia, Pahala dst) dan yang ke 2) Adalah menghilangkan keburukan Kita (Sakit, Penyakit, kemiskinan, Ketidak-bahagiaan, dosa dst).  Makanya dalam Agamapun (baik itu Islam, Nasrani, Yahudi, Hindu, Budha dst), Tuhan menyapa kita, Tuhan mengajak bicara kita dengan 2 hal, yaitu Perintah dan Larangan. Surga dan Neraka, Baik dan Buruk. Bila kalian mengikuti….maka Surga (Seluruh unsur kebaikan disana ; Ilmu, Kesehatan, Kebahagiaan, Kekayaan, Kebanggaan dst), Bila kalian mengingkari, melanggar….maka Neraka (seluruh unsur Kejelekan disana : Kebodohan, Sakit, Stress, Miskin, Kehinaan, dst).

Karena Tuhan adalah perancang program itu (Windows + Kebebasan), maka Dialah yang paling tahu jalan kerja program itu. dan ‘Syariat’ (Perintah dan larangan) sebenarnya tidak lebih sebagai konfirmasi, buku petunjuk penggunaan rancangan tadi, sehingga bila Si-Manusia, menggunakan sesuai buku petunjukkan, default factory settingnya (Fitrahnya), akan optimumlah penggunaannya, tidak mudah crash atau error, serta life-time nya tidak terganggu.

Memang manusia bisa menggunakan tidak mengindahkan default factory setting-nya, sehinga sepertinya; lebih cepat, lebih cerah, lebih ini dan itu. Ini memang benar dalam pandangan sempit, benar hanya tampaknya saja. Sebab itu akan mengganggu keberfungsian lainnya. Sekali lagi, Rancangan Tuhan adalah sempurna secara Topografi, Komposisi, Disain dan juga Fungsionalitasnya.

 

Dan Tidak ada yang memahami dan mengambil pelajaran dari itu semua kecualli Ulil Albab.

Wallahu a’lam

 

 

Muhammad Alwi : Trainer Corporate Multiple Intelligence, Integrasi Multiple Intelligence dan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP), dan Understanding Personality for Success. Alumni Pasca Sarjana, Human Resource Management, Univ Brawijaya Malang. Sekarang Studi lanjut di Departemen Psychology. Penulis buku, “Belajar Menjadi Bahagia dan Sukses Sejati”, Elexmedia Kompas-Gramedia, 2011, 304 hal.

Tentang pendidikan positif

Kami adalah Pendidik, Guru, Dosen dan Trainer. Alumni Pasca Sarjana Univ Brawijaya Malang, sekarang studi lanjut di Department Psychology. Kami mengembangkan Seminar, Workshop, dan berbagai Test berbasiskan psikology. Mulai dari 1. Workshop berbasiskan Multiple Intelligence, Topografi Otak, Power Personality, Performance Barrier, Succes with Understanding Personality, Otak Kanan- Otak Kiri, bagaimana mengetahui dan memanfaatkannya untuk sukses dll. Semua itu untuk pengembnagan SDM dan Human Capital. Baik untuk Guru, anak-anak (TK, SD, SMP, SMA, PT), juga untuk karyawan Industri dan Perusahaan. 2. Test test yang mendukung workshop dan seminar diatas seperti; a) Test Multiple Intelligence, b) Test Personality, c) Test Performance Barrier dll. Konsep Kami adalah......Discovering Your Royal road to learning, achievable and Personal Satisfaction. Bagaimana caranya? Caranya dengan discovering your talent, your ability (dengan pemahaman, test), the right place....maka sukses dan bahagia akan mudah didapatkan. Positif Pendidikan adalah Pendidikan yang berusahan menjadikan pebelajar (siapapun yang belajar), akan mampu untuk meraih tidak hanya sukses (achievable) tapi juga bahagia (will-being). Success and Happy.
Pos ini dipublikasikan di Psikologi dan Pendidikan. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s