Konsep Spiritual Multiple intelligence dalam Diri Kita (IQ, MI, SQ dan SMI) (Seri 2)

SPIRITUAL MULTIPLE INTELLIGENCe     Oleh : Muhammad Alwi

Hidup kita zaman ini adalah hidup dalam istilah John Naisbitt “High Tech High Touch”, zaman dengan segala macam penawaran, perubahan dan era-permainan dan informasi, sehingga manusia sulit untuk menemukan MAKNA (Ada kebodohan Budaya secara Spiritual). Karena kecepatan perubahan, karena banyaknya penawaran, maka kita belum mampu menguasai, menikmati suatu sajian (apakah itu tehnologi, permainan, hiburan dst, sudah berjubel mengantri yang akan menggantikannya).

Kita bisa lihat dalam keseharian kita sekadar contoh adalah dunia Komputer, Laptop, Handphone, IPod, Tablet dst. Dalam dunia computer, belum mampu kita menguasai OS (Operation System) Windows XP, keluar Vista, lalu keluar Windows7 dst. Dalam Microsof Office, kita kenal Word 2003, Excel, PowerPoint dst, lalu berubah 2007, belum lengkap kita mempelajarinya, sekarang keluar Office-2010. Perubahan itu lebih cepat lagi dalam dunia Handphone dan mobile lainnya.

Karena serba instan, cepat, maka kita kehilangan sentuhan, kehilangan pemahaman cukup dan menghayati makna. Refleksi tidak dimungkinkan dengan keadaan itu.

Dalam hubungannya dengan Character dan Pendidikan Masyarakat dan Remaja, bukti Kebodohan Budaya secara spiritual itu bisa kita lihat dari ucapan Thomas Lickona (pakar Pendidikan Karakter dan Psikolog Perkembangan Dunia) yang mengatakan;  Ada 10 Tanda Kemunduran suatu Bangsa yaitu; 1) Meningkatnya kekerasan di kalangan remaja. 2) Penggunaan bahasa dan kata-kata yang buruk, 3) Pengaruh peer group yang kuat dalam tindak kekerasan, 4) Meningkatnya perilaku yang merusak diri seperti narkoba, sex bebas dan alcohol, 5) Kaburnya pedoman moral baik dan buruk, 6) Penurunan etos kerja, 7) Rendahnya rasa hormat kepada orangtua dan guru, 8) Rendahnya rasa tanggungjawab baik sebagai individu dan warganegara, 9) Ketidakjujuran yang telah membudaya, 10) Adanya rasa saling curiga dan kebencian di antara sesama.

Konsep Spiritual Intelligence

Danah Zohar dan Ian Marshall (Penggagas Spiritual Quotient) mengatakan, kita hidup dalam budaya yang “bodoh secara spiritual”. Kita telah kehilangan pemahaman terhadap nilai-nilai mendasar. Kehidupan yang “bodoh secara spiritual” ini ditandai dengan materialisme, egoisme, kehilangan makna dan komitmen. Bahkan  kekeringan spiritual ini anehnya, walaupun tidak terlalu aneh mestinya, terjadi sebagai produk dari IQ (Intelligence Quotient) manusia yang tinggi. Oleh karenanya kata dia, dunia ini perlu sentuhan kecerdasan lain.

Sentuhan-sentuhan untuk menanggulangi masalah-masalah diatas sebenarnya sudah dimulai sejak cukup lama. Dalam Psikologi keluar yang namanya psikologi Humanistik (Dengan tema-tema penting tentang Kematian, Penderitaan, Pencarian Makna, Kebahagiaan dst). Lalu diteruskan sekarang dengan Psikologi Transpersonal, dimana para ilmuwan psikologi sudah mengarah kepada pertanyaan-pertanyaan seputar Ruh, Spirit bahkan Tuhan.

Tulisan ini mencoba untuk membahas apa itu Kecerdsan Spitirual dan Hubungannya dengan Multiple Intelligence, sebagai upaya generasi akhir-akhir ini untuk mencari manfaat lain dari bahaya “Kebodohan Budaya” secara spiritual itu.

Definisi Intelligence (Kecerdasan)

 Alfred Binet, mungkin boleh dikatakan adalah pengagas masalah Intelligence pertama (yang banyak dipakai didunia ini) dengan konsepnya tentang IQ (intelligence Quotient). Ia mengatakan Intelligence adalah; 1) Kemampuan mengarahkan pikiran atau mengarahkan tindakan. Sehingga individu mampu menetapkan tujuan untuk dicapainya (goal-setting).            2) Kemampuan untuk mengubah arah tindakan bila dituntut demikian, sehingga individu mampu melakukan penyesuaian diri dalam lingkungan tertentu {adaptasi). 3) Kemampuan untuk mengkritik diri sendiri atau melakukan auto-kritik, sehingga individu mampu melakukan perubahan atas kesalahan-kesalahan yang telah diperbuatnya dan mampu mengevaluasi dirinya sendiri secara objektif.

Sedangkan David Wechsler memandang inteligensi sebagai kumpulan atau totalitas kemampuan individu untuk bertindak dengan tujuan tertentu, berpikir secara rasional, serta menghadapi lingkungannya dengan efektif (Wechsler, 1958). George D. Stoddard mendefinisikan inteligensi sebagai bentuk kemampuan untuk memahami masalah-masalah yang bercirikan: 1) Kesukaran, 2) Kompleks, yang mengandung berbagai macam jenis tugas yang harus dapat diatasi dengan baik dalam arti bahwa individu yang cerdas mampu menyerap kemampuan baru dan memadukannya dengan kemampuannya yang sudah dimiliki untuk kemudian digunakan dalam menghadapi masalah. 3) Abstrak, yaitu mengandung simbol-simbol yang memerlukan ana-lisis dan interpretasi, 4) Ekonomis, yaitu dapat diselesaikan dengan menggunakan proses mental yang efisien dari segi penggunaan waktu, 5) Diarahkan pada suatu tujuan, yaitu tindakan yang mengandung tujuan yang berharga, 5) Mempunyai nilai sosial, yaitu cara dan hasil pemecahan masalahnya dapat diterima oleh nilai dan norma sosial. 6) Berasal dari sumbernya, yaitu pola pikir yang membangkitkan krea-tivitas untuk menciptakan sesuatu yang baru dan lain (Azwar, 1997).

Edward Lee Thorndike menformulasikan teori tentang inteli­gensi menjadi tiga bentuk kemampuan, yaitu: 1) Kemampuan Abstraksi, yaitu bentuk kemampuan individu untuk bekerja dengan menggunakan gagasan dan simbol-simbol. 2) Kemampuan Mekanika, yaitu suatu kemampuan yang dimiliki individu untuk bekerja dengan mengunakan alat-alat mekanis dan kemampuan untuk melakukan pekerjaan-pekerjaan yang memerlu­kan aktivitas gerak {sensory-motor), dan 3) Kemampuan Sosial, yaitu suatu kemampuan untuk menghadapi orang lain di sekitar diri sendiri dengan cara-cnra ynng efektif.

Ketiga bentuk kemampuan ini tidak terpisahkan secara ekslusif dan juga tidak selalu berkolerasi satu sama lain dalam diri sendiri. Ada kelompok individu yang menonjol pada kemampuan abstrak, dan ada pula kelompok individu yang menonjol pada kemampuan mekanika (Azwar, 1997).

Raymond Bernard Cattell mengklasifikasikan kemampuan mental menjadi dua macam, yaitu Inteligensi fluid (gf) yang merupakan fatktor bawaan biologis, dan Inteligensi crystallized (gc) yang merefleksikan adanya pengaruh pengalaman, pendidikan dan kebudayaan da­lam diri seseorang (Stoddard,1949). Inteligensi crystallized dapat dipandang sebagai endapan pengalaman yang terjadi sewaktu intelligence fluid bercampur dengan apa yang dapat disebut intelligence budaya. Intelligence crystallized akan meningkat kadarnya dalam diri seorang seiring dengan bertambahnya pengetahuan, pengalaman dan keterampilan-keterampilan yang dimiliki oleh individu.

Sedangkan Inteligensi fluid lebih merupakan kemampuan ba­waan yang diperoleh sejak kelahirannya dan lepas dari pengaruh pendi­dikan dan pengalaman. Inteligensi ini dapat dipandang sebagai faktor yang tak berbentuk, mengalir ke dalam berbagai kemampuan intelektual individu. Menurutnya Inteligensi fluid cenderung tidak berubah setelah usia 14 tahun atau 15 tahun, sedangkan inteligensi crystallized masih dapat terus berkembang sampai usia 30-40 tahun, bahkan lebih.

Namun teori kecerdasan yang saat ini menjadi acuan dalam mengembangkan potensi anak adalah teori kecerdasan Howard Gardner yang merumuskan teori Inteligensi Gandanya yang biasa disebut sebagai multiple intelligence, yang pada dasarnya menolak pandangan psikometri dan kognitif tentang kecerdasan.

Kecerdasan menurut nya, merupakan kemampuan untuk menangkap situasi baru serta kemampuan untuk belajar dari pengalaman masa lalu seseorang. Kecerdasan bergantung pada konteks, tugas serta tuntutan yang diajukan oleh kehidupan kita, dan bukan tergantung pada nila IQ, gelar perguruan tinggi atau reputasi bergengsi.

Intellegence (Kecerdasan) katanya adalah kemampuan untuk memecahkan persoalan dan menghasilkan produk dalam suatu setting yang bermacam-macam dan dalam situasi nyata (Gardner; 1983;1993).

Gardner (1999) memunculkan 9 macam kecerdasan yang menurutnya bersifat universal. 9 Macam kecerdasan tersebut antara lain, 1) Linguistik, 2) Logis-Matematis, 3) Visual-Spatial, 4) Musik, 5) Kinestetik, 6) Intrapersonal, 7) Intrapersonal, 8) Naturalis dan 9) Eksistensialis.

Kalau Boleh saya sedikit menyimpulkan (dalam hubungannya dengan tulisan ini) adalah; Kecerdasan adalah kemampuan daya serap dan daya nalar yang berhubungan dengan penyelesaian masalah dan adaptasi  lingkungan, yang dimiliki manusia. Dan Kecerdasan itu beraneka ragam dalam bentuknya (ada 9) kecerdasan.

 Makna

 Secara Empirirs, Makna ada hubungannya dengan Kebahagiaan. Kebahagiaan adalah ‘Rasa Puas’ yang disebabkan oleh Hidup yang Baik yang ditambatkan (dikaitkan, dicantolkan) untuk Pemenuhan Makna. Hidup yang baik atau otentik adalah hidup dimana manusia benar-benar jadi subjek, sama sekali tidak jadi objek. Dengan kesubjekan ini, manusia menjadi otentik. Dengan ini penemuan makna terjadi, bertindak otentik sesuai dengan kemanusiaannya (yaitu mencari makna, mencari kebahagiaan, bebas dalam bertindak).

Makna adalah pengenalan tempat-tempat segala sesuatu didalam suatu system. Pengenalan seperti itu terjadi jika relasi sesuatu yang lain dalam system tersebut menjadi terjelaskan atau terpahamkan. Tetapi Kita Mesti ingat: Jangan mencari sukses –semakin keras kamu berupaya dan menjadikan sukses sebagai target, semakin sulit kamu meraihnya. Kerena sukses, seperti juga kebahagiaan, tidak dapat dikejar; dia harus terjadi, dan itu hanya bisa diraih sebagai efek samping dari dedikasi pribadi seseorang terhadap upaya yang lebih bermakna, sebagai produk samping dari penyerahan seseorang kepada orang lain diluar dirinya sendiri. Kebahagiaan akan didapat, begitu juga keberhasilan; kamu harus membiarkan datangnya tanpa memedulikannya.

Maka disini ada dimensi-dimensi dalam makna yaitu, menemukan diri kita (apa yang ingin kita lakukan, sehingga kita puas disana dan itu berhubungan dengan kebaikan ultimate. Dan makna juga berhubungan dengan Kebebasan menentukan pilihan, sehingga kita benar-benar menjadi subjek pelaku, seterusnya ada rasa tanggung-jawab serta transendensi (menghubungkan sesuatu diluar diri-kita yang lebih luas. Bisa disini berhubungan dengan Tuhan).

 SQ (Spiritual Quotient)

 SQ dalam bukunya Danah Zohar dan Ian Marshall (SQ : Spiritual Intelligence – The Ultimate Intelligence, 2000) dikatakan adalah Kecerdasan untuk menghadapi dan memecahkan masalah makna dan nilai menempatkan perilaku dan hidup manusia dalam konteks makna yang lebih luas dan kaya; menilai bahwa tindakan atau jalan hidup seseorang lebih bermakna dibandingkan dengan yang lain.

SQ adalah kecerdasan yang bertumpu pada bagian dalam diri kita yang berhubungan dengan kearifan di luar ego atau jiwa sadar. SQ menjadikan manusia yang benar-benar utuh secara intelektual, emosional dan spiritual. SQ adalah kecerdasan jiwa. Ia adalah kecerdasan yang dapat membantu manusia menyembuhkan dan membangun diri manusia secara utuh.

Namun, pada zaman sekarang ini terjadi krisis spiritual karena kebutuhan makna tidak terpenuhi sehingga hidup manusia terasa dangkal dan hampa. Ada tiga sebab yang membuat seseorang dapat terhambat secara spiritual, yaitu tidak mengembangkan beberapa bagian dari dirinya sendiri sama sekali, telah mengembangkan beberapa bagian, namun tidak proporsional, dan bertentangannya / buruknya hubungan antara bagian-bagian.

Zohar (SQ, Mizan : 2001) mengatakan “Enam Jalan Menuju Kecerdasan Spiritual yang Lebih Tinggi” dan “Tujuh Langkah Praktis Mendapatkan SQ Lebih Baik”.  Tetapi sebelum Zohar menguraikan jalan-jalan itu, ia membagi Kepribadian Manusia (dengan menggunakan Topografi Kepribadian Jung yang dimodifikasi) menjadi 6 yaitu; 1) Kepribadian Konvensional, 2) Kepribadian Sosial, 3) Kepribadian Incestigatif, 4) Kepribadian Artistik, 5) Kepribadian Realistik, 6) Kepribadian Pengusaha. (Semestinya di MBTI-Jung ada 16 Type Kepribadian).

Karena ada 6 Type Kepribadian, maka ada 6 Jalan katanya yaitu; 1) Jalan Tugas, jalan      2) Pengasuhan, 3) Jalan Pengetahuan, 4) Jalan Perubahan Pribadi, 5) Jalan Persaudaraan, 6) Jalan Kepemimpinan yang penuh pengabdian.

Sedangkan Tujuh Langkah Menuju Kecerdasan Spiritual Lebih Tinggi adalah (1) Menyadari di mana saya sekarang, (2) Merasakan dengan kuat bahwa saya ingin berubah, (3) Merenungkan apakah pusat saya sendiri dan apakah motivasi saya yang paling dalam, (4) Menemukan dan mengatasi rintangan, (5) Menggali banyak kemungkinan untuk melangkah maju, (6) Menetapkan hati saya pada sebuah jalan, (7) Tetap menyadari bahwa ada banyak jalan.

Zohar selanjunya mengatakan; Bila SQ seseorang telah berkembang dengan baik, maka tanda-tanda yang akan terlihat pada diri seseorang adalah (1) Kemampuan bersikap fleksibel, (2) Tingkat kesadaran diri tinggi, (3) kemampuan untuk menghadapi dan memanfaatkan penderitaan, (4) kemampuan untuk menghadapi dan melampaui rasa sakit, (5) kualitas hidup yang diilhami oleh visi dan nilai-nilai, (6) keengganan untuk menyebabkan kerugian yang tidak perlu, (7) kecenderungan untuk melihat keterkaitan antara berbagai hal (berpandangan holistik), (8) kecenderungan nyata untuk bertanya “Mengapa?” atau “Bagaimana jika?” untuk mencari jawaban yang mendasar, (9) memiliki kemudahan untuk bekerja melawan konvensi.

Menurut Roberts A. Emmons, dalam The Psychology of Ultimate Concerns: ada 5 karakter orang yang dikatakan cerdas secara spiritual; 1) Kemampuan untuk mentransendensikan yang fisik dan material; 2) Kemampuan untuk mengalami tingkat kesadaran yang memuncak; 3) Kemampuan untuk mensakralkan pengalaman sehari-hari; 4) Kemampuan untuk menggunakan sumber-sumber spiritual buat menyelesaikan masalah; dan kemampuan untuk berbuat baik. 5) Memiliki rasa kasih yang tinggi pada sesama makhluk Tuhan

SQ kata Zohar, tidak bergantung pada budaya maupun nilai, tetapi menciptakan kemungkinan untuk memiliki nilai-nilai itu sendiri. SQ membuat agama menjadi mungkin (bahkan mungkin perlu ), tetapi SQ tidak bergantung pada agama.

Walaupun tidak seheboh dan tenar Danah Zohar, Dean Hamer dalam bukunya “The God Gene, how Faith is Hardwired into Our Genes”. Juga menjelaskan secara neurosain adanya bagian-bagian otak kita yang memiliki sifat fitri mengenal Spiritual, Keberagamaan (Religiositas).

Hubunga SQ, IQ, MI dan SMI

Didepan telah dijelaskan tentang apa itu IQ, apa itu SQ. dan apa itu MI (Multiple Intelligence). Inti dari Multiple Intelligence adalah bahwa manusia itu memiliki 9 kecerdasan, sehingga dengan ke 9 kecerdasan itu, mereka menangkap pola yang berbeda dari sekian banyak stimulus yang diterimanya. Karenanya mereka punya kecendrungan yang berbeda.

Dalam hubungannya dengan SMI (Spiritual Multiple intelligence). Dikatakan bahwa kecendrungan manusia dalam menangkap ‘Kabar Batin’, berupa God Spot atau Suara Hari atau Ruh atau Inspirasi Tuhan atau Spiritual Intelligence juga Implementasi-nya dan pemenuhan Maknanya sebagai wujud dari rasa adanya ‘Kabar Batin’ itu. Setiap orang berbeda-beda. Ada yang pemenuhannya secara konseptual seperti kata-kata ini;

“Affectus, qui passio est, desinit esse passio simulatque eius claram et distinctam formamus ideam.” Emosi yang sedang menderita, tidak akan lagi menderita setelah kita membuat gambaran yang jelas dan benar dari penderitaan tersebut. (Spinoza).

Orang-orang semacam Spinoza, Nietzche, Viktor Frankl, Immanuel Kant, Mulla Sadra, Ibn Sina, Al Farabi dst. Mencapai pemenuhan makna dalam sebuah konsep penjelasan. Apabila ‘semua’nya terjelaskan, maka mereka akan merasa puas. Bahagia dan sudah terpenuhilah makna batin mereka. Yang lain ada semacam Freud, Bunda Theresa ada yang lain yaitu Mahatma Gandi dan Khomeini, dll.

Sekadar contoh, dalam beragama-pun saat manusia menangkap dan memaknai teks-teks agama, maka ada yang berkecendrungan linguistic (makna kata, permainan bahasa dst yang ditonjolkan dan banyak menghiasi pemahaman keberagamaannya). Filosofis, Logis- Matematis (Permasalahan Perbintanngan, Hukum-hukum Fisika, Hubungan agama dengan  Sain, logis dst yang banyak mewarnai). Interpersonal (Politik, Pergerakan), Intrapersonal (Pembahasan-pembahasan makna batin, jeratan hati, sufi dst), demikian yang musikan (Bacaan Indah, Nasyid, lagu-lagu dst) dan lain-lain, sekadar memberikan contoh.

Secara detail kami tidak mungkin menjelaskan disini. Tetapi inilah secara konseptual, mengapa dalam diri kita itu punya pencarian makna yang berbeda-beda, sesuai dengan preferensi, type kepribadian atau kecerdasan yang terdapat dalam diri kita. Apakah preferensi, type kepribadian atau kecerdasan itu given, build in? Jawabnya ya dan tidak. Sebab secara psikologis kita punya Gen Tuhan, tapi semuanya itu juga dipengaruhi oleh lingkungan. Ada semacam Inteligensi fluid (gf) faktor bawaan biologis, dan Inteligensi crystallized (gc). Semacam perbedaan Need and Want dalam konsep Manajemen-Pemasaran.

 

Wallahu a’lam

Muhammad Alwi : Trainer Corporate Multiple Intelligence (CMI), Spiritual Multiple Intelligence (SMI), Integrasi Multiple Intelligence dan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP), dan Understanding Personality for Success. Alumni Pasca Sarjana, Human Resource Management, Univ Brawijaya Malang. Sekarang Studi lanjut di Departemen Psychology. Penulis buku, “Belajar Menjadi Bahagia dan Sukses Sejati”, Elexmedia Kompas-Gramedia, 2011, 304 hal.

 

Daftar Pustaka :

Alwi, Muhammad, 2011, “Belajar Menjadi Sukses dan Bahagia Sejati, Elexmedia Kompas-Gramedia, Jakarta.

______, Tujuan dan Makna Hidup, Renungan Kebahagiaan dan Makna dalam kehidupan,

 http://www.facebook.com/note.php?note_id=279681102071040

Azwar, Dr. MA, Saifuddin, 2010, Pengantar psikologi Inteligensi, Pustaka Pelajar, Yogyakarta.

Frankl, Viktor, E, “Man Search For Meaning”, Revised and Updated. Washinton Square Press, Cet-21, 1985

Hamer, Dean, 2006, “Gen Tuhan, Iman sudah Tertanam dalam Gen Kita, Gramedia, Jakarta.

Hanna Djumhana Bastaman, M.Psi, “Meraih Makna Hidup”, Tesis S-2 Psikologi-UI, 1993

Martin E.P. Seligman, “Authentic Happiness: Using the New Positive Psychology to Realize Your Potential for Lasting fulfillment, Free Press, New York, 2002

Naisbitt, John, 2001, “High Tech High Touch”, Mizan, Bandung

Zohar, Danah dan Ian Marshall, 2001. SQ : Memanfaatkan Kecerdasan Spiritual Dalam Berpikir Integralistik dan Holistik Untuk Memaknai Kehidupan. Mizan, Bandung.

 

Tentang pendidikan positif

Kami adalah Pendidik, Guru, Dosen dan Trainer. Alumni Pasca Sarjana Univ Brawijaya Malang, sekarang studi lanjut di Department Psychology. Kami mengembangkan Seminar, Workshop, dan berbagai Test berbasiskan psikology. Mulai dari 1. Workshop berbasiskan Multiple Intelligence, Topografi Otak, Power Personality, Performance Barrier, Succes with Understanding Personality, Otak Kanan- Otak Kiri, bagaimana mengetahui dan memanfaatkannya untuk sukses dll. Semua itu untuk pengembnagan SDM dan Human Capital. Baik untuk Guru, anak-anak (TK, SD, SMP, SMA, PT), juga untuk karyawan Industri dan Perusahaan. 2. Test test yang mendukung workshop dan seminar diatas seperti; a) Test Multiple Intelligence, b) Test Personality, c) Test Performance Barrier dll. Konsep Kami adalah......Discovering Your Royal road to learning, achievable and Personal Satisfaction. Bagaimana caranya? Caranya dengan discovering your talent, your ability (dengan pemahaman, test), the right place....maka sukses dan bahagia akan mudah didapatkan. Positif Pendidikan adalah Pendidikan yang berusahan menjadikan pebelajar (siapapun yang belajar), akan mampu untuk meraih tidak hanya sukses (achievable) tapi juga bahagia (will-being). Success and Happy.
Pos ini dipublikasikan di Psikologi dan Pendidikan. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s