MAKNA HIDUP MANUSIA DENGAN KEBEBASANNYA (Serial 3 : Spiritual Multiple Intelligence)

MAKNA HIDUP MANUSIA DENGAN KEBEBASANNYA

“Sesungguhnya Kami telah mengemukakan Amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh. (QS Al Ahzab : 72).

Hidup ini bukanlah sekadar suatu sebagaimana kita fikirkan, tetapi hidup sebenarnya adalah apa yang sebenarnya kita hayati. Bukan dalam konsep dan ide, tetapi dalam Teoria dan Praxis (Mengerti dan bertindak berdasarkan pengertian itu). Makin menghayati hidup, hidup makin bermakna.

Hidup zaman sekarang banyak kesemuan, karena kita sering bergaul dengan abstraksi-abstraksi. Pada image, intertain bukan pada konten, isi dan realita. Zaman ini  adalah zaman kejayaan Ilmu Pengetahuan, sain. Era informasi tehnologi, High Tech High Touch. Sehingga apapun yang benar, harus terukur, universal, bahkan dinyatakan dengan rumus-rumus umum. Pada zaman  seperti ini mestinya kita sedikit kembali menengok kebelakang, merenungkan sejenak untuk berefleksi.

Kita harus tahu, bahwa bukan image, intertain, budaya massa dan kebanyakan. Tetapi yang mesti diingat dan yang lebih penting adalah, mengakui kenyataan bahwa pangkal tolak segala pengamatan, pangkal tolak segala kemassalan, image adalah manusia itu sendiri; yaitu manusia sebagai kenyataan subjektif?  Sebab apapun, semuanya itu bergantung dari diri manusia, dari kemanusiaan manusianya. Subjektivitas ( Ke-unikan, ke individualan, ke-diri-an) manusia, manusia sebagai individu, person adalah yang terpenting dan sangat penting. Disini bukan berarti mengajak kepada subjektivisme.

Dalam Either/Or Soren Keirkegaard mengatakan; yang kongkrit dan nyata adalah apa yang individu dan subjektif, bukan apa yang dipukul rata dan objektif. Manusia adalah pengambil keputusan dalam eksperimental yang paling objektif sekalipun. Apapun yang diambilnya tak pernah ia mantap dan sempurna.

Sekadar mengambil contoh. Kita dengan seenaknya mengatakan Lingkaran, Titik, Tinggi, Rendah dst. Itu semua adalah asumsi, bukan realita. Realitanya; kalau kita belajar matematika sedikit lebih dalam. Tidak ada itu lingkaran. Sebab alam ini bagian terkecilnya adalah bulatan semacam kelereng. Jadi lingkaran itu tidak ada realitanya (hanya ada dalam konsep), yang ada adalah mirip lingkaran.

Dalam hidup ini kita selalu terkena dari kemungkinan-kemungkinan, dari pilihan-pilihan. Dan kata Keirkegaard, kita hanya selalu bisa mengakatan, kalau tidak ini ya itu.   Yes, I perceive perfectly that there are two possibilities, one can do either this organisasi that.  Ya sejak semula saya menyaksikan bahwa ada dua kemungkinan, seorang hanya bisa melakukan Atau ini, Atau Itu (Either, or). Dalam hidup kita selalu dihadapkan pada pilihan-pilihan dan kita hanya bisa berkata, ini atau itu, dengan semua keterbatasan informasi yang kita miliki.

Walaupun kita selalu dalam kemungkinan? Tetapi kita harus mengadakan pilihan-pilihan. Oleh karenanya, Setiap orang harus lebih dulu menetapkan bagi dirinya: siapa dia, lalu memutuskan ingin jadi apa dia, barulah kemudian ia bertindak sesuai dengan pilihannya yang telah diungkapkan sebagai keputusan baginya. Pilihlah sesuatu (baik/buruk), lalu melangkah dan hiduplah dengan pilihanmu sendiri, dengan kebebasanmu dan bertanggungjawablah dengan itu. Sekalipun itu semua tidak dengan kepastian.

Dalam dunia sekarang terjadi proses penyamarataan, ini bukan diakibatkan oleh akibat tindakan seseorang, tetapi hasil dari tangan-tangan kekuatan abstrak (ilmu pengetahuan, massalisasi, kapitalisasi dan globalisasi dan seterusnya). Berjuang melawan para tiran, serangan-seranga fisik, pertempuran lebih mudah dibanding serangan-serangan budaya massa, tirani kesamaan, melawan kedangkalan, omong kosong, ketiadaan asas-asas serta kebinatangan. Dalam massa itu pribadi terasing dari dirinya sendiri, mengalami alienasi diri, dan tidak menjalani eksistensinya secara sejati.

Dalam massa atau kolektivitas yang menyamaratakan itu, manusia bukan saja dirampas ketunggalannya, akan tetapi juga direduksikan sekadar menjadi suatu fraksi, dan bahkan menjadi berkuranglah kesadaran tanggung jawab.  “Becoming subjective is the task proposed to every human being…“. Menjadi subjektif (Diriku, Saya, Aku, dengan semua kemungkinan dan keterbatasanku) adalah tugas yang dihadapkan pada setiap individu”.

Setiap orang adalah campuran dari KETAKBERHINGGAAN  dan KEBERHINGGAAN. Manusia adalah gerak kepada Allah dan sekaligus terpisah dari Allah. Manusia hidup dalam dua dimensi; keabadian dan waktu, dan keduanya bertemu pada “saat”.  Kita menjadi eksistensi pada “saat”, yaitu saat memilih. Pilihan adalah “loncatan” dari waktu ke keabadian.

[Penjelasannya; Karena “saat memilih”, walau itu ada dalam waktu, bisa menjadi permanent “hasilnya”, “tanggung-jawabnya” dan lain-lain.  “Manusia selalu diminta pertanggungan jawab oleh Allah dalam setiap “saat” apa yang ia gunakan dalam seluruh yang ia “miliki dan diberikan”. Setelah kita memilih (saat, dalam waktu), hasil itu akan merubah konfigurasi alam, merubah kemungkinan-kemungkinan kita, terus dan selama-lamanya. Makanya manusia menjadi manusia pada “saat” pilihan. Contoh memperjelas; “dalam permainan catur, satu kali langkah maka seluruh potensi, konfigurasi baik diri, orang lain bahkan “alam” (seluruh tatanan catur tadi) berubah. Inilah “saat” (dalam pengambilan keputusan) terjadi dalam waktu tertentu, tetapi hasilnya, pengaruhnya menjadi “Takberhingga, terus menerus dan kontinyu”. Sebab tidak ada kembali, bahkan pengalaman kita sendiripun tidak bisa kembali. Tidak mungkin melewati jembatan, dengan pengalaman sama. Minimal lewat jembatan kedua sudah memiliki pengalaman lewat jembatan pertama].

Menjadi Manusia dengan Kemanusiaannya (Baca : Bereksistensi)  adalah merealisasikan diri, engagement, mengikatkan diri dengan bebas, mempraktekkan keyakinannya dan mengisi kebebasannya (Hamersma; 1992; 75). Manusia bisa mengungkapkan kebebasannya sebagai manusia dengan tiga cara yaitu, Bersikap Hedonis, Bebas bergaya Don Juan. Mencoba apa saja, memaksimalkan apapun yang mungkin. Filsafat yang digunakan adalah hedonisme. Menikmati sebanyak mungkin kemungkinan yang membuatnya Nikmat.

Lalu bersikap Etis semacam Filosof Sokrates, menerima kaidah-kaidah moral. Dengan konsep logikanya, dengan Fitrah akalnya, dengan kebebasnnya, mencoba maksimalisasi dirinya. Siap dan terikat (secara bebas) dengan tindakan-tindakan Etis/Moral.  Lalu yang Ketiga, ini sikap paling tinggi adalah Sikap Religius; Prototipenya adalah Ibrahim. Disamping diatas (sebagai Sokrates) manusia itu percaya akan keterbatasannya, tahu ada yang lebih dari dia dan mengikatkan aturan-aturan terkecil dalam hidupnya (secara bebas) dengan agama. (lihat Bab, ‘Gagasan “Spiritual Multiple Intelligence” dan Mindset Kita’)

Jean-Paul Sartre, seorang filosof Humanistik (Ateis) mengatakan; Manusia mengada dengan kesadaran sebagai dirinya sendiri. Katanyanya; “Man is nothing else but what he makes of himself. Such is the first principle of existenstialism.” Manusia tidaklah lain daripada bagaimana ia menjadikan dirinya sendiri. Sartre, (“Existential and Human Emotion”, Philosophical Library, New York 1945, hal 15 http://www.libertycore.org/Philosophy/Sartre/human_emotion.htm. )

Kita sebagai manusia adalah pencipta diri kita sendiri, dan perealisasian Kediri-an kita, tidak akan selesai dengan ikhtiarya itu. Hidup adalah Perjuangan, Perjuangan menuju kesempurnaan (walau kita tahu kesempurnaan itu tidak akan pernah selesai).

“Man is nothing else but his plan; he exist only to the extent that he fulfills himself; he is therefore nothing else than the ensemble of his acts, nothing else than his life.  Manusia tiada lain adalah rencananya sendiri; ia mengada (menjadi Manusia dengan kemanusiaannya = Bereksistensi) hanya sejauh ia menempuh dirinya sendiri: oleh karenanya, maka ia tidak lain daripada kumpulan tindakan-tindakannya, tidak lain daripada hidupnya sendiri. (Sartre: Hal 32)

Ini mengandung arti bahwa manusia  bertanggungjawab terhadap dirinya sendiri, apa pun jadinya eksistensinya. Apa pun makna yang hendak diberikan kepada eksistensinya. Soalnya apa pun pilihan yang diambil oleh manusia sebagai pribadi, pada akhirnya merupakan keputusan yang sebenarnya menyangkut seluruh kemanusiaan. Meskipun sesuatu pilihan itu dibuat atas dasar pertimbangan-pertimbangan pribadi, namun sebenarnya tindakan memilih itu didasarkan pula pada suatu imago tentang manusia umumnya yang sebagai pribadi kita cita-citakan. Apa yang kita pilih selalu merupakan sesuatu yang baik, atau yang lebih baik dan antara alternatif yang kita hadapi. Dengan memilih apa yang baik, atau tindakan memilih itu didasarkan pula pada suatu image tentang manusia akan melakukan hal yang sama dengan kita.  Oleh karena itu maka tanggungjawab yang menjadi beban kita jauh lebih besar daripada sekedar tanggungjawab terhadap diri kita sendiri.

“I am responsible for myself and for everyone else. I am creating a certain image of man of my own choosing. In choosing myself, I choose man.” Saya bertanggungjawab bagi diri sendiri maupun bagi setiap orang lainnya. Saya menciptakan gambaran tertentu tentang manusia atas dasar pilihan saya sendiri. Dalam memilih bagi diri sendiri, saya memilih bagi manusia.

lnilah antara lain yang menyebabkan manusia selalu menghayati kecemasan, sebab ia harus memilih dan waktu memilih ia meyakini itulah yang terbaik atau alternative terbaik. Dan iapun berfikir dan berharap bahwa orang lain akan melakukan hal yang sama dengannya pada situasi seperti dia. Tetapi itu semua tidak ada kepastian bahwa orang lain akan memilih seperti itu. disamping itu manusia pun tak punya kepastian bahwa pilihannya adalah yang paling tepat. Itulah kata Sartre mengapa eksistensi (inti dari keharusan memilih dengan kebebasan) dijalani dengan serba-kecemasan. “Keputusan untuk memilih tidak pernah disertai dengan kepastian, akan tetapi tanggungjawabnya yang besar tidak bisa dielakkan.” (Penyelesaian Masalah ini; Lihat dalam Tulisan: Birokrasi Kebenaran Tuhan).

Dengan penghayatan demikian (ia memilih yang terbaik dan berharap orang lainpun sepertinya dalam kondisi yang sama walau yakin tidak ada kepastian ketepatannya), maka manusia menghayati eksistensinya sebagai kesendirian mutlak. Ia mencipta dirinya sendiri, ia memikul tanggungjawab yang lebih dari sekedar terhadap dirinya sendiri; akan tetapi ia tidak menemukan tempat berpijak atau bergantung yang memberikan kepastian-kepastian. Manusia menemukan kebebasannya, akan tetapi justru kebebasannya itu dirasakannya sebagai beban yang berat. (Inilah Kebenaran Ayat, “Sesungguhnya Kami telah mengemukakan Amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh. QS Al Ahzab : 72).

Eksistensi manusia adalah suatu kenyataan yang bukan pilhan sendiri oleh manusia; ia terdampar dalam kenyataan itu untuk selanjutnya menerima kenyataan itu sebagai fakta yang tak dapat dihindarinya. Kita terlahir sebagai manusia, maka kebebasan melekat pada kita, juga tanggungjawabnya. Taklif (kewajiban-kewajiban). Kita menghadapi keharusan untuk mewujudkan diri pribadi kita dalam keberadaan kita didunia. Seperti juga awal kehadiran kita sebagai manusia dengan kemanusiaannya (baca: Bereksistensi), maka juga akhir keberadaannya itu pada hakekatnya terletak diluar pilihannya sendiri.

 

Muhammad Alwi: Trainer Corporate Multiple Intelligence (CMI), Spiritual Multiple Intelligence (SMI), Belajar berbasis Topografi Otak, Integrasi Multiple Intelligence dan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP), dan Understanding Personality for Success. Alumni Pasca Sarjana, Human Resource Management, Univ Brawijaya Malang. Sekarang Studi lanjut di Departemen Psychology. Penulis buku, “Belajar Menjadi Bahagia dan Sukses Sejati”, Elexmedia Kompas-Gramedia, 2011, 304 hal.

Tentang pendidikan positif

Kami adalah Pendidik, Guru, Dosen dan Trainer. Alumni Pasca Sarjana Univ Brawijaya Malang, sekarang studi lanjut di Department Psychology. Kami mengembangkan Seminar, Workshop, dan berbagai Test berbasiskan psikology. Mulai dari 1. Workshop berbasiskan Multiple Intelligence, Topografi Otak, Power Personality, Performance Barrier, Succes with Understanding Personality, Otak Kanan- Otak Kiri, bagaimana mengetahui dan memanfaatkannya untuk sukses dll. Semua itu untuk pengembnagan SDM dan Human Capital. Baik untuk Guru, anak-anak (TK, SD, SMP, SMA, PT), juga untuk karyawan Industri dan Perusahaan. 2. Test test yang mendukung workshop dan seminar diatas seperti; a) Test Multiple Intelligence, b) Test Personality, c) Test Performance Barrier dll. Konsep Kami adalah......Discovering Your Royal road to learning, achievable and Personal Satisfaction. Bagaimana caranya? Caranya dengan discovering your talent, your ability (dengan pemahaman, test), the right place....maka sukses dan bahagia akan mudah didapatkan. Positif Pendidikan adalah Pendidikan yang berusahan menjadikan pebelajar (siapapun yang belajar), akan mampu untuk meraih tidak hanya sukses (achievable) tapi juga bahagia (will-being). Success and Happy.
Pos ini dipublikasikan di Psikologi dan Pendidikan. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s