SEBESAR PIKIRANMU ITULAH KEBAHAGIAAN-MU ( Bagian 1)

serta berbuatlah kebaikan supaya kamu berbahagia” (QS; 22:73).

“dan apabila aku sakit, Dialah Yang menyembuhkan aku”, (QS. Asy-Syu’ara: 80).

(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram. (QS, Ar Ra’d, 13: 28).

Definisi-definisi

Mindset adalah kata atau nama lain yang sering diucapkan dan didengang-dengungkan dalam buku-buku self-help (motivasi diri). Mindset adalah kata lain dari Pandangan dunia (world view), paradigm atau pola pikir yang cukup menetap. Sehingga dalam berpersepsi dan bertindak kita sangat dipengaruhi olehnya. Mindset itu sangat-sangat penting dalam kehidupan kita. Sebab ia menentukan hampir seluruh hidup kita. Mindset itu dapat diibaratkan sebagai kaca-mata kita dalam melihat sesuatu. Maka bila kaca mata kita itu berwarna hitam, maka tidak ada sesuatu yang terlihat terang oleh diri kita. Seterang apapun suatu tempat, daerah, maka buat kita itu tidak lebih dari mendung dan agak gelap.

Dalam psikologi prilaku dikatakan; Persepsi menentukan tindakan, tindakan yang berulang-ulang menjadi kebiasaan kita dan kebiasaan yang diulang-ulang menjadikan karakter kita. Karakter kita itulah sebenarnya ‘takdir’, konsekuensi logis dari kehidupan kita, ‘Jadi apa kita nantinya.’

Sebagai gambaran; awalnya adalah memimpin suatu kegiatan, karena itu bagus, mengenakkan, mendapatkan apresiasi, maka diulang-ulangi. Menjadikan kebiasaan kita untuk mempimpin. Bila itu terus berulang-ulang dan hampir di semua tempat dan waktu, maka kita dikatakan punya jiwa pemimpin, kepemimpinan (karakter kita adalah pemimpin). Lalu apa konsekuensi logis-nya, takdir kita. kita akan menjadi pemimpin baik itu diperusahaan, disekolah atau diorganisasi lainnya.

Demikian dengan marah-marah, menjadi suka marah, seterusnya menjadi pemarah (karakter). Dan konsekuensi logisnya, takdir kita mungkin adalah sering bertengkar, berkelahi. Kemungkinan orang dengan karakter itu mati terbunuh atau masuk penjara gara-gara perkelahian, dan seterusnya. Disini tanpa menafikan adanya predisposisi, warisan genetika dan keturunan.

Persepsi kita yang sudah ‘jadi’ itulah yang kita sebut dengan Mindset, Paradigma, world-view, atau dalam bahasa lain kita bisa katakan, mindset adalah sekumpulan keyakinan-keyakinan kita (belief). Dengan maindset itu kita melihat apapun dunia ini. Bila kaca-mata kita berwarna gelap, sementara kita ingin mencari seorang gadis yang cantik dan berkulit putih, maka akan sangat sulitlah kita menemukannya. Bukan karena didunia ini tidak ada wanita berkulit putih. Tetapi kaca-mata kita yang membuat sangat sulit, bahkan mustahil kita menemukan wanita itu. Demikian sebaliknya. Inilah pentingnya sekaligus berbahaya-nya mindset yang kita miliki. Dan ini pula kebenaran kata bahwa, Sukses, Kaya, Bahagia, itu didapat atau tidak tergantung dari bagaimana pola pikir kita, bagaimana mindset kita. Bila kaca-mata kita itu cekung, maka semua akan tampak lebih kecil, dan kita punya kepercayaan diri (confidence). Sebaliknya bila kaca-mata kita itu cembung, maka semuanya akan tampak besar, dan kita merasa lebih kecil, kurang percaya diri, agak takut, minder dan seterusnya. Bukan apa, sesuatu yang menyebakan kita…tapi bagaimana persepsi kita terhadap apa, sesuatu itulah yang menjadikan kita bagaimana.

Jadi bukan mereka yang hitam (wanita-wanita setengah putih, agak putih dan seterusnya), bukan mereka yang lebih besar (lebih sukses, bahagia, terhormat dan seterusnya) dan lebih kecil dari kita (tidak mampu, menderita dan seterusnya), tetapi semua itu ada dalam persepsi kita, ada dalam gambaran otak kita, kognisi kita, bukan realita yang sebenarnya.

 Konsekuensi dari Mindset

Sebagai contoh dalam salah satu test yang kami lakukan untuk mengetahui kepribadian seorang, maka ada seorang bermindset ANALIS, dimana sifat turunannya adalah, ia mempunyai sifat-sifat, karakter, kecendrungan seperti  ini; 1) Senang akan pengetahuan, ide-ide, suka belajar dan ingin tahu. 2) Senang menganalisa, cenderung menjadi pengamat diam-diam (quiet observers). 3) Mandiri (independent) dan lebih terlibat dengan pemikiran & ide dari pada dengan perasaan. 4) Mengikuti peraturan, jika peraturan itu masuk akal (make-sense) dan logis . 5) Ingin terlihat sebagai seorang yang mampu, competent dan juga menghimpun pengetahuan baru (to accumulate knowledge). 6) Senang berdebat dan berdiskusi tentang ide-ide (terutama hal-hal baru). 7) Cenderung bersifat perfeksionis (perfectionist), sulit untuk menangani kesalahan-kesalahan mereka sendiri serta cenderung sulit mengakui kesalahannya. 8) Perencana besar, melihat segala alternatif dan perspektif secara mendalam. 9) Terlalu merencanakan, perfeksionist, terorganisis & rapi, Hemat/pelit, Hich-class, jaga image, Senang belajar, takut Gagal. 10) Senang sendiri, bila ingin dimotivasi harus diberi data lengkap. Rasional tapi peka perasaannya (mudah tersentuh).

Kira-kira, dengan pola pikir seperti ini…apa ‘takdir’ dia? Akan menjadi apa orang itu? Bahkan mungkin kita bisa menyarankan semestinya tempat apa yang layak dan tidak layak dalam pemilihan karier dia? Pekerjaan apa yang cocok buat dia dan seterusnya.

 Depresi dan Optimism

Dalam bukunya “Learned Optimism: How to Change Your Mind and Your Life”, (2nd edition. New York: Vintage Press, 2006), Martin Seligman, Bapak Psikologi Positive membongkar akar masalah pessimism dan optimism, dua hal yang banyak menentukan bagaimana pemaknaan kita, rasa kita akan kebahagiaan kita. Bahagia dan tidak bahagia itu semua bergantung dari ‘rasa’, olah batin, persepsi, mindset, bukan realilta. Orang dengan pemilikan semua atribut kekayaan belum tentu bahagia, demikian juga sebaliknya. Untuk bahagia itu tidak memerlukan kekayaan tertentu, ilmu tertentu bahkan kesehatan tertentu. Itu semua hanya penunjang dan tidak sangat significant. Mindset, pola-pikir, ‘rasa-kebahagiaan’ itulah yang membuat kita bahagia.

Contoh orang ber-maindset Pesimis (‘Setengah Kosong’) dimana kecendrungannya antara lain; Membuat atribusi internal (kalau tertimpa kegagalan, ada kesalahan, maka mereka selalu menyalahkan  diri mereka sendiri, saya memang seperti ini dan sebagainya), menganggap  kesalahan atau kegagalan itu bersifat stabil, berlangsung lama (memang saya seperti ini, mulai dulu saya seperti ini, nantipun akan seperti ini, ini memang kelemahan saya) dan global, menentukan apapun yang mereka lakukan. Saya memang seperti ini, maka kalau saya mendapat pekerjaan, menemui keadaan seperti ini, saya pasti seperti ini juga. Hal Ini memang kelemahan saya, dan seterusnya.

Maka orang ini cenderung mendramatisir keadaan, mudah depresi, tertekan dan stress. Sementara manusia yang lain dengan karakter yang lain, cenderung cuek, sehingga cukup puas dalam hidupnya, tidak mudah stress dan seterusnya. Mengapa ada orang seperti A dan orang seperti B? Jawabnya disamping karena factor bawaan, predisposisi (=bakat), kepekaan (sensitivity), juga pengalaman-pengalaman (lingkungan) dan itu bercampur menjadikan pola pikir, mindset orang-orang itu. Dan karenanya membentuk type kepribadian seseorang. Baik itu ber-type optimis atau pesimis.

Stress, Penyakit dan Doa

Dalam sebuah diskusi ditanyakan; Manakah yang menjadikan orang sakit? Kuman dari luar atau kekuatan orang itu yang sedang menurun. Pasteur dan Robert Koch para penemu mikroba yang penyebab penyakit TBC mendiskusikan masalah itu. Dan pertanyaan yang diajukan sekali lagi adalah; “Orang terkena penyakit TBC karena adanya kuman itu, atau karena melemahnya kondisi korban?”

Walaupun TBC dinisbahkan kepada infeksi mikroba, penelitian kedokteran mutakhir menunjukkan kebenaran cerita Alexander Dumas. Adanya basil tbc tidak selalu menimbulkan penyakit. Banyak orang yang diekspose dengan agen patogenis ini tidak terinfeksi. Diantara mereka yang terinfeksi, hanya 5 sampai 15 persen yang sakit secara klinis. Bila dilacak lebih cermat, ternyata situasi emosional pasien sebelumnya sangat mempengaruhi perkembangan penyakit ini. Penderitaan memperparah dan kebahagiaan menyembuhkannya.

Sebuah survey yang dilakukan CNN dan TIME serta USA Weekend pada tahun 1996 menyatakan bahwa lebih dari 70% pasien percaya bahwa keimanan terhadap Tuhan Yang Maha Esa, doa, dan dzikir dapat membantu mempercepat proses penyembuhan penyakit (Hawari, 2004:32).

Sampai akhir abad XX, psikolog banyak mencurahkan perhatian pada emosi-emosi negative (takut, cemas dll) terhadap berbagai penyakit, stress seperti Fobia, depresi dll. Pertanyaan selanjutnya apakah emosi positif membawa dampak sebaliknya? Apakah positif feeling ada hubungannya dengan positif character. Seperti pertanyaan Psikolog Martin Seligman, bapak psikologi positif itu.

Martin Seligman dalam bukunya Authentic Happines (New York: Free Press, 2003) mengatakan; ada daerah-daerah tertentu (Utah) yang umur rata-rata penduduknya lebih tinggi dibanding daerah yang lain (Nevada). Apa penyebab ini? Banyak factor yang mempengaruhinya, mulai dari udara daerah itu, pekerjaan yang dipilih rata-rata orang disana, kurangnya mereka berjudi dan minum alcohol dll. Seligman untuk membuktikan teori-teorinya ia mengumpulkan 180 biarawati dari dua daerah itu (Nevada dan Utah), dipilih hampir semua latar belakang kedua kelompok itu sama hanya yang membedakan adalah “rasa-bahagia” dan yang “rasa kurang bahagia”. Ternyata dari perhitungan statistic kelompok yang lebih bahagia memiliki kemungkinan bertahan hidup lebih tinggi dari yang kurang bahagia. Fredrickson menyebutkan empat emosi positif yaitu; Joy (keceriaan), Interest (ketertarikan), Contentment (kepuasan), dan Love (Cinta).

Banyak penelitaian dilakukan, Henry Balkwin menemukan hal yang menakjubkan di rumah sakit Bellevue tahun 1931, semula kebiasaan di rumah sakit itu, bayi yang sakit tak boleh disentuh karena alasan higinis, tetapi ia menyuruh hapus larangan itu. Bayi-bayi yang digendong, disentuh justru lebih cepat sembuh. Harriet Harlow melakukan eksperimen dengan monyet Rhesus, monyet-monyet tanpa ibu, monyet dengan ibu-ibuan boneka dan monyet dengan ibu. Monyet yang hidup sendirian lebih rentan penyakit dst.

Pada tahun-tahun yang sama 126 mahasiswa Harvard ditanya hubungan dengan orang tua mereka. Yang hubungannya baik, ternyata kurang rentan terhadap penyakin (kronis, alkoholosme, depresi dll), dibanding dengan anak yang hubungannya jelek. Dalam penelitian lain yang dilakukan selama 50 tahun, hubungan yang buruk dengan orang tua menjadi satu-satunya predictor paling tepat untuk kemungkinan mengidap kanker.

Goldstein (1982) mengumpulkan pendapat pada dokter dan ilmuwan sejak abad 13 sampai abad 19 tentang pengaruh humor terhadap kesehatan. Henri de Mondeville, mengatakan; tertawa dapat digunakan untuk mempercepat penyembuhan setelah pembedahan. Abad 16 Jubert menyatakan; tertawa menghasilkan kelebihan aliran darah yang membentuk air muka yang tanpak sehat dan menimbulkan vitalitas pada wajah. Karena itu tertawa dihubungkan dengan daya penyembuh yang sangat penting untuk kesehatan pasien. Juga Ricard Mulcaster dll. Pada abad XX, Prof. Walsh dari univ kedokteran Fordhem menulis buku “Lughther and Health” (1928) ia mengatakan; “rumus terbaik bagi kesehatan individu diungkapkan secara matematis: kesehatan bervariasi sesuai dengan jumlah tertawa … efek yang baik pada pikiran ini mempengaruhi berbagai fungsi tubuh dan membuatnya lebih sehat ketimbang hal-hal lainnya.”

Norman Cousins, yang terkenal sebagai pendiri psikologi Neuroimunologi (sebuah cabang ilmu kedokteran yang mempelajari pengaruh sejala-gejala mental terhadap system imun) dalam “Anatomy of an Illness” (1979) mengatakan;  peran humor sangat penting dalam penyembuhan penyakit. Ia menemukan bahwa beberapa saat tertawa dapat mengurangi tingkat sedimentasi, yang berarti mengurangi inflammasi. Tertawa sama dengan internal jogging.

David McCleland dalam salah satu penelitiannya tentang efek humor, menemukan kosentrasi immunoglobulin tipe A (IgA) yang tinggi pada ludah orang-orang yang memiliki sense of humor yang tinggi. IgA adalah zat antibody yang aktif melawan infeksi virus seperti flu. IgA juga meningkat saat orang membayangkan hal-hal yang indah, mencintai atau dicintai. Prof Lee S.Berk dari School of Medicine and Public Health di Loma Linda univ California, meneliti dampak fisiologis dari tertawa dan perasaan bahagia lain. Ia menemukan kebahagiaan memperbaiki system pernafasan, menambah jumlah sel-sel imun, menurunkan kartisol dengan begitu mengurangi bahaya stress, menaikkan endorphin (endogenous morfin), yaitu morfin yang dihasilkan tubuh, dengan meningkatnya ini maka berguna untuk menghilangkan rasa sakit dan mengubah tubuh menjadi tenang, tentram dan enak. Menambah IgA

Tetapi mesti diingat, menagis dan tertawa tidak mesti menunjukkan emosi positi dan negative. Ada tertawa kecut karena menahan emosi, ada mengangis karena bahagia, haru, terima kasih dll. Ini disebut oleh Jonathan Haidt dengan sebutan elevation (=  keharuan batin). Emosi ini termasuk kelompok yang seringkali lolos dari perhatian peneliti psikologi. Elevation mempunyai hampir semua  ciri emosi dasar. Ada kondisi yang melahirkan (tindakan keindahan moral), efek fisiologisnya (seperti perasaan didalam dada yang mungkin melibatkan syaraf vagus, yang memberikan perasaan hangat, terbuka, dan menyenangkan), dan kecendrungan tindakan (keinginan untuk mejadi orang yang lebih baik untuk bisa lebih penyayang atau mau menolong orang lain). Elevation memang hampir sulit diungkapkan dalam air muka tertentu (mungkin karena inilah maka sulit diteliti). Elevation mendorong orang untuk mendekati orang lain. Elevation timbul karena melihat perhatian orang yang tulus kepada orang lainnya, inilah emosi yang menyebabkan orang melakukan tindakan altruis[1].

Fredrickson mengatakan bukan hanya elevation, tetapi semua emosi positif begitu. Ia mengembangkan teori Broaden and Build (emosi positif memperluas, broaden pikiran dan tindakan serta membangun, build sumberdaya personal, emosi negative mempersempitnya).

Berbagai penelitian menunjukkan bahwa orang yang bahagia berfikir fleksibel dan inklusif, kreatif dan reseptif. Inilah makanya dalam rapat, dalam kelas harus diselingi dan diusahakan tidak tegang. Ceria, bahagia. Learing must be fun. Ketika anda bahagia, anda membangun sumber daya intelektual dengan berfikir lebih kreatif, toleran dengan perbedaan, terbuka pad ide-ide baru, dan belajar lebih efektif (building hypothesis). Ketika anda bahagia anda membangun dan mengembangkan daya fisik anda dengan lebih sehat dan lebih kuat (undoing hypothesis).

Martin Seligman, mantan Presiden Amirican Psychological Association mengatakan; “orang yang bahagia lebih cenderung menolong, lebih empati dan bersedia menyumbang dll.

Robert Browning menyimpulkan; “Oh, make us happy and you make us good. ”Walhasil kebahagiaan membuat orang berakhlak mulia. Inilah mengapa agama-agama mengajarkan kita berbuat baik, karena dengan itu kita akan bahagia. “serta berbuatlah kebaikan supaya kamu berbahagia” (QS; 22:73) kata Al Qur’an.

Mengapa ada orang ber-Mindset Pesimis

Hidup ini dimulai dalam ketidakberdayaan. Bayi baru lahir tidak bisa apa-apa kecuali menangis. Ketika si bayi menangis, ibunya datang, walaupun ini tidak berarti ia mengontrol ibunya untuk dating. Peristiwa semacam ini sangat banyak. Kemampuan, control diri dan seterusnya itu yang membuat ‘pembelajaran’ apakah ia akan menjadi manusia-manusia optimis atau pesimis. Mekanisme control diri yang didefinisikan sebagai kemampuan untuk merubah sesuatu dengan suatu tindakan sukarela, merupakan hal yang berlawanan dengan ketidakberdayaan. Dan cara kita berfikir mengenai kehidupan nyata, ini dapat memperkecil atau memperluas control kita terhadapnya. Pikiran kita tidak hanya sebuah reaksi terhadap sebuah kejadian atau peristiwa, mereka mengubah apa yang terjadi.

Contoh : Pawang Gajah

Tahukah Anda bagaimana cara seorang pawang menjinakkan seekor gajah liar? Begini caranya. Dari kejauhan, pawing membius gajah itu menggunakan senapan bius. Ketika gajah tidak sadarkan diri, pawang memasangkan sebuah rantai besi yang besar kekakinya dan mengikatkannya ke sebuah pohon besar.

Kemudian ketika gajah itu tersadar, dia menjadi lapar. Apa yang terjadi Ketika gajah itu mencoha berjalan untuk mencari makan? Gajah itu terjatuh karena kakinya terikat pada pohon. Gajah itu mencoba berkali-kali tetapi usahanya selalu sia-sia. Gajah menjadi sangat lelah dan menjadi semakin lapar.

Saat itu, pawang datang membawa sekeranjang rumput dan meletakkannya di dekat gajah. Karena lapar, gajah itu kemudian langsung memakan rumput yang sudah tidak segar lagi. Beberapa hari kemudian, gajah itu lapar lagi, dia kembali mencoba mencari makan, tapi lagi-lagi dia terjatuh. Dia mencoba lagi, terus terjatuh. Kemudian sang pawang datang lagi membawa rumput. Gajah makan rumput tersebut. Dan seterusnya dan seterusnya.

Suatu ketika sang pawang melepaskan rantai besi dan menggantikannya dengan seutas tali tambang yang diikatkan kesebuah pasak kecil yang tertancap di tanah. Tetapi sang gaja tidak pernah mencoba lari atau berbuat apapun. Kenapa? Karen dalam pikirannya rantai besi itu masih mengikat kakinya. Di merasa bahwa apapun cara yang dilakukannya, tidak mungki ia akan mendapatkan rumput segar. Sejak itu hingga akhir hayatnya, dia selalu merasa bahwa dia hanyalah makhluk kecil yan tidak berdaya. Kemampuan, kebebasan gajah yang seharusnya luar biasa telah dikerdilkan oleh lingkungannya.

Sang Gajah mengembangkan kegagalan itu bersifat stabil, berlangsung lama dimana saja dan ber sifat global. Penelitian ini dilakukan oleh Martin Seligman dengan tikus-tikus dalam percobaan terkontrol yang menggoncangkan konsep psikologis modern. Dimana akhirnya menghasilkan konsep “learned helplessness”, ketidakberdayaan yang dipelajari.

 

Megetahui dan Menyembuhkan Pesimistik/Keterpurukan

(Bersambung ke bagian : 2)

 

Tentang pendidikan positif

Kami adalah Pendidik, Guru, Dosen dan Trainer. Alumni Pasca Sarjana Univ Brawijaya Malang, sekarang studi lanjut di Department Psychology. Kami mengembangkan Seminar, Workshop, dan berbagai Test berbasiskan psikology. Mulai dari 1. Workshop berbasiskan Multiple Intelligence, Topografi Otak, Power Personality, Performance Barrier, Succes with Understanding Personality, Otak Kanan- Otak Kiri, bagaimana mengetahui dan memanfaatkannya untuk sukses dll. Semua itu untuk pengembnagan SDM dan Human Capital. Baik untuk Guru, anak-anak (TK, SD, SMP, SMA, PT), juga untuk karyawan Industri dan Perusahaan. 2. Test test yang mendukung workshop dan seminar diatas seperti; a) Test Multiple Intelligence, b) Test Personality, c) Test Performance Barrier dll. Konsep Kami adalah......Discovering Your Royal road to learning, achievable and Personal Satisfaction. Bagaimana caranya? Caranya dengan discovering your talent, your ability (dengan pemahaman, test), the right place....maka sukses dan bahagia akan mudah didapatkan. Positif Pendidikan adalah Pendidikan yang berusahan menjadikan pebelajar (siapapun yang belajar), akan mampu untuk meraih tidak hanya sukses (achievable) tapi juga bahagia (will-being). Success and Happy.
Pos ini dipublikasikan di Psikologi dan Pendidikan. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s