SEBESAR PIKIRANMU ITULAH KEBAHAGIAAN-MU (Bagian 2, Habis)

Megetahui dan Menyembuhkan Pesimistik/Keterpurukan

Apakah anda, anak anda, saudara dan istri anda itu tergolong manusia-manusia yang optimistic atau pesimistik. Untuk mengetahui itu yang termudah adalah dengan test skala optimism kita (yang dirancang oleh alhi-ahli psikologi tentang ini). Pesimistik biasanya berhubungan dengan depresi, cemas, kecewa yang berkepanjangan. Bagaimana menyembuhkan itu bila kita memang manusia-manusia yang pesimistik?

Ada beberapa cara yang perlu digabungkan sekaligus yaitu; 1) Terapi Kognitif (intinya mendiskusikan, belajar mengenali pikiran-pikiran otomatis yang muncul di kepala kita pada waktu kita merasa terburuk. Dan kita belajar untuk membantah pikiran-pikiran otomatis kita dengan mencoba memberikan bukti yang sebaliknya. kita belajar membuat penjelasan yang berbeda, yang disebut reattributions, dan menggunakannya untuk membantah pikiran-pikiran otomatis kita. Kita belajar bagaimana untuk mengalihkan diri dari depresing pikiran. Kita belajar untuk mengenali dan mempertanyakan depresi yang melingkupi asumsi-asumsi yang mengatur begitu banyak apa yang kita lakukan).

2) Terapi Spiritual; antara lain, mengembangkan rasa syukur, ikhlas, yakin bahwa Tuhan tidak membebani ummatnya melebihi kemampuannya, Tuhan Maha Rahman-Rahim, Tuhan memiliki segalanya, bukan zero sum game. Dan apapun dalam genggamanNya, apapun dalam penglihatanNya, apapun dalam KuasaNya, dan semuanya dariNya, serta Dia dapat merubah segala-galanya dan seterusnya. Keasadaran akan hal ini sangat-sangat membantu dalam mengurangi rasa sakit, keterpurukan dan upaya bangkit untuk mengisi sesuatu dengan hidup yang lebih bermakna.

Pola pikir zero sum game adalah pola pikir yang menjadikan kita hasad, iri, dengki dan dongkol terhadap kegagalan kita dan kesuksesan orang lain. Bila kita melihat orang lain, teman sekantor atau tetangga kita berhasil, sukses maka kita merasa iri, hasud, dengki. Seakan kita berfikir kalau dia mendapatkan, maka saya tidak mendapatkan demikian sebaliknya. Kalau ia mendapatkan promosi berarti dia sukses dan saya gagal. Kalau teman kita berlimpah rizki, berarti kita tidak dan lain sebagainya. Pemikiran ini berasal dari konsep zero sum game, dan ini berarti kita tidak bertauhid, beragama dengan baik. Kita lupa bahwa Tuhan, Allah swt mampu menjadikan kita kaya, senang, bahagia dan teman-teman sekantor kita lainnya juga bahagia, kaya dan senang. Tuhan kita, Allah swt memiliki segalanya, apapun melebihi perkiraan kita. Jangan berfikir kita akan kehabisan jatah, stok kebahagiaan, kekayaan dan lain sebagainya, bila itu dimiliki, diberikan kepada teman kita, saudara kita dan tetangga kita.

Seringkali kita ini hanya bayangan kita, hanya waham kita dalam melihat itu. Dalam bahasa jawa dikatakan ‘sawang si nawang’ (orang lain melihat kita bahagia, padahal kita menderita atau juga sebaliknya, kita melihat orang lain bahagia, padahal dia sangat-sangat menderita melebihi kita).

Untuk bangkit dari rasa keterpurukan, pesimisme dan kegagalan (walau itu persepsi yang diperparah) maka diperlukan menggeluti apa yang kita mampu, apa yang kita suka (sesuai dengan talenta kita), dengan ini maka kepercayaan diri, pesimistik dan depresi yang mengenai kita, sedikit demi sedikit akan hilang.

3) Terapi Eksistensialis. Mengikuti tesis dari Logoterapi dan Psikologi fenomenologi mengatakan; Derita(Suffering), ini bisa cemas, stress bahkan depresi, akan menghasilkan Hidup tanpa Makna (Meaningless Life), bila kita menggunakan Terapi kognitif (mendiskusikan pikiran-pikiran kita, menyangga pikiran-pikiran kita dan seterusnya, dan yakin dengan keberagamaan kita, pertolongan Allah swt, mengembangkan rasa ikhlas, syukur, ridha), itu akan mampu menjadikan kita Mengubah Sikap (Change Attitude), dengan mulai kita melakukan hal-hal yang kita sukai, sesuai dengan talenta kita, sesuai dengan multiple intelligence kita, apapun itu. Menjahit, bercocok tanam, pergi ke gunung, mengajar dan seterusnya. Dengan memulai aktivitas-aktivitas itu akan menghilangkan, mengganti pikiran kita sebelumnya. Kemudian mulailah kita sedikit demi sedikit merasa Menemukan Makna Hidup (Finding Meaning). Hidup tidak segelap sebelumnya, matahari mulai sedikit demi sedikit bersinar. Memenuhi makna-makna itu (Fulfilling Meaning), kegiatan-kegiatan itu diintensifkan, digalakkan, bahkan sampai menghasilkan sesuatu. Sesuatu itu bisa berupa hanya sebuah kesibukan atau menghasilkan uang (bercocok tanam bunga hias, dijual, mendaki gunung diorganisir, mengikuti klub pendaki dan seterusnya). Hidup menjadi Bermakna (Meaningful Life) dan Happiness (hidup normal dan bahagia kembali).

4) Terapi Spiritual Multiple Intelligence (SMI). Dengan menggunakan pendekatan diatas, dan pilihan-pilihan untuk finding meaning-nya, dengan disesuaikan hasil test multiple intelligence. Ada 9 (Sembilan) pilihan-pilihan yang bisa dipilih atau kombinasinya. Sehingga penemuan itu menjadi mudah dan tidak memaksakan (akan diterangkan lebih lanjut…Insya Allah).

Kebahagiaan Tanpa Efek Samping

“Kebahagiaan tidak dicapai dengan jerih payah; kebahagiaan diperoleh dengan mengurangi keinginan”. Kebahagiaan (Ing: Happiness, Jer: Gluck, Lat: Felicitas, Yun: Eutychai, Eudaimonia. Arab: Falah, Sa’adah). Dalam bahasa arab dan bahasa eropa menunjukkan keberuntungan, peluang baik, dan kejadian yang baik. Dalam bahasa Cina, xing fu, kebahagiaan terdiri dari gabungan kata ‘beruntung” dan “nasib baik”.

John Kekes, dalam Encyclopedia of Ethics menulis dengan bahasa saya sendiri [MA]; kebahagiaan atau seorang dikatakan bahagia, apabila ia tidak menginginkan/menuntut perubahan, apa yang sudah dialaminya dalam hidup. Sehinga bila ia ditanya apakah ada keinginan untuk perubahan-perubahan bila ia dikembalikan seperti dulu (kesenangan dan kesedihan) yang akhirnya membuatnya seperti sekarang ini. Jawaban orang yang bahagia adalah tidak. Ia cukup dan sangat puas dengan keadaannya yang sudah ia lewati sampai sekarang.

Kebahagiaan itu bisa berupa Episode dan Sikap. Kebahagiaan Episode adalah kumpulan dari kejadian-kejadian yang memuaskan kita. Baik ada yang menyakitkan, menguntungkan dst, tetapi secara total kita puas dengan itu sampai saat ini. Kebahagiaan sikap adalah makna rangkaian episode itu dari keseluruhan hidup kita.

Upaya meraih kebahagiaan adalah proses terus menerus untuk mengumpulkan semua kebaikan; kekayaan, kehormatan, kepandaian, kecantikan, persahabatan dan sebagainya yang sangat diperlukan untuk menyempurnakan fitrah kemanusiaan dan memperkaya kehidupan. Anehnya banyak orang yang hanya mengejar satu dan mengabaikan yang lain. Contoh hanya mengejar kekayaan, mengabaiakan hubungan baik dan keakraban keluarga dst.

Orang banyak tau bahwa kebahagiaan bukan kekayaan, tetapi banyak hal baik yang harus kita miliki supaya kita bahagia. Tidak kaya belum tentu tidak bahagia, dan kaya tidak mesti bahagia. Kaya adalah salah satu komponen kebahagiaan. Tetapi banyak orang salah, mereka mengejar satu komponen itu, melupakan yang lain, bahkan kebahagiaan itu sendiri. Ini terbukti dengan success yang toxic diatas.

Pertanyaan yang bisa diajukan, apakah kebahagiaan meningkat seiring dengan kenaikan kekayaan? Kita bisa melihat dalam Negara AS, david Myesr menceritakan dalam buku, The Amirican Paradox: Spiritual Hunger in an Age of Plenty, Paradox Amerika. Disini menunjukkan makin banyak uang Negara itu makin menderita. Ed Diener, psikolog di universitas of Illinois, meneliti 100 orang AS terkaya yang dicatat dalam Forbes, mereka hanya sedikit lebih bahagia dari rata-rata. Bahkan sebagian besar menemukan uang telah membuatnya menderita. Kita dengan mudah menemukan milyarder yang hidupnya kacau balau; Howard Hughes, Christina Onassis, J.Paul Getty. Warren Buffet melaporkan penelitian terhadap orang-orang kaya dan hasilnya konsisten dengan Ed Diener. Tambahkan contoh-contoh disini; Elvis Priesley, Marilyn Monroe dll.

Robert E.Lane dan Myers dalam The loss of Happiness in market Democracies, menunjukkan penurunan kebahagiaan pada Negara-negara kaya dengan naiknya tingkat depresi.[2] Ada beberapa factor-faktor penting yang mempengaruhi kebahagiaan yaitu; kepuasan akan perkawinan, pekerjaan, uang dan tempat tinggal juga saling curiga, anomi dan pesimisme.

Mengapa pertambahan pendapatan tidak menambah kebahagiaan? Beberapa ilmuan menjelaskan; 1) ketika mereka memperoleh tambahan kekayaan, mereka juga menaikkan ekspektasi (harapan). Ketika penghasilan 2 juta, hanya ingin kredit sepeda motor. Gaji naik 5 juta, sudah ingin kredit mobil atau nyicil beli rumah dst. Juga ada teori yang namanya revolution of risisng demand, revolusi tuntutan yang semakin meningkat, sewaktu pembangunan suatu negara. Awalnya hanya ingin kenaikan pendapatan, lalu ingin tunjangan pendidikan, kesehatan, lalu menuntut kebebasan berpendapat dst. Saat pemerintah tidak mampu memenuhinya terjadi kekecewaan dan kerusuhan-kerusuhan social dst. 2) hedonic treadmil, ini dapat diterangkan dengan hukum laws of diminishing return. Kenaikan pendapatan akan memuaskan pada awalnya, setelah naik lagi, kepuasannya tak seperti awal, naik juga seperti itu. Sebab dia butuh yang lain selain pendapatan itu. Akhirnya kenaiakan pendapatan tidak sama sekali diinginkan, karena tidak membawa kepuasan buatnya. Ia lebih mencari kepuasan kerja, ketenangan dll. 3) pandangan hidup yang materialis. Ini terjadi bila orang hanya meletakkan pemilikan kekayaan sebagai tujuan hidup, maka akan membuatnya selalu tak puas.

Manusia yang paling bahagia adalah orang yang meninggalkan kelezatan yang sementara untuk kelezatan yang abadi (Ali bin Abi Thalib kw).

 Banyak orang kaya yang senang bahwa dia memiliki, walau ia tidak menikmatinya sama sekali. Punya membuatnya ia senang seperti anak kecil (yang senang dengan banyak mainan). Ini bisa kita lihat, banyak orang-orang yang punya rumah mewah, villa, padahal itu tak ia tempati, hanya pembantunya yang ada disana. Ia sendiri mungkin satu tahun, sekali atau dua kali menikmatinya. Punya mobil mewah selusin dll. Mengapa tidak sewa saja bila mereka perlu. Kata Eric Fromm, orang seperti itu kesenangannya masih having (memiliki) bukan being (mengada).

Orang bahagia pasti senang tetapi tidak semua yang senang pasti bahagia. Apa yang membedakannya. “kesenangan” kata Norman E. Rosenthal dalam The Emotional Revolution, adalah pengalaman sekilas, yang berkaitan dengan ganjaran tertentu. Kebahagiaan adalah keadaan yang berlangsung lebih lama, yang berhubungan dengan penilaian pada kehidupan secara keseluruhan. Orang bahagia mengalami kesenangan dalam kehidupannya sehari-hari. Dalam pada itu, kesenangan tidak membawa kepada kebahagiaan bila tidak sejalan dengan atau bertentangan dengan, tujuan seseorang”. (Rahmat hal 184).

Kesenangan adalah emosi positif yang bisa diamati secara fisik pada kegiatan otak, arus neurotransmitter, atau mekanisme hormonal. Dengan merangsang dengan elektroda pada hipotalamus (bagian otak) kita, dimana dibagian tertentunya ada “pusat kesenangan” (pleasure center). Rangsangan ini akan merangsang keluarnya Dopamin[3] dengan deras. Dan ini akan menimbulkan rasa senang atau enak. Kesenangan dapat ditimbulkan dengan rangsangan elektrik pada Hipotalamus, tetapi kebahagiaan tidak. Walaupun begitu, manusia memerlukan berbagai kesenangan untuk meraih kebahagiaan. Karena manusia diberi akal, ia harus memilih kesenangan mana yang akan membawa kebahagiaan, dan kesenanngan mana yang justru akan membuatnya tidak bahagia.

Bricman dan Campbell menyebut kesenangan yang tak pernah terpuaskan sebagai hedonic treadmill. Jika kita naikkan kesenagan itu kita merasa senang, tetapi setelah kita kita menyesuaian diri atau “bosan”. Dan kembali tidak senang lagi atau butuh peningkatan pasokan/naiknya kesenangan. Ukuran kesenangan makin lama makin tinggi, karena awalnya senang, penyesuaian/bosan, lalu butuh yang lain yang lebih tinggi, dan sterusnya..[4] akhirnya timbul kejenuhan.

Kejenuhan (Acedia) dari bahasa Yunani, yang artinya acuh tak acuh atau hilang perhatian. Ini ditandai dengan kelesuan, kemalasan, kelemahan, tidak menghiraukan pekerjaan dsb. Nico Frijda peneliti emosi dari Belanda berkata, “terus menerus kesenangan akan habis juga… kesenangan selalu tergantung pada perubahan dan lenyap setelah terus menerus dipuaskan.”  Situasi lenyapnya kenikmatan menimbulkan Acedia. Yang paling berat, setelah pemuasan kesenangan timbul kesedihan.

Kita bisa menyenangkan diri kita dengan konsumsi zat aditif keras, seperti cocaine. Cocaine membanjiri sel-sel otak dengan neurotransmitter yang membuat fly (atau menyenangkan). Tetapi otak akhirnya mengurangi pasokan neurotransmitter-nya sendiri. Ketika pengaruh obat itu hilang, kita akan mengalami depresi. Sehingga untuk menyenangkannya lagi (dengan tingkat pasokan neurotransmitter yang sama), kita butuh pasokan Cocaine yang lebih banyak lagi. Fenomena ini disebut drug tolerance. Makin banyak dosis yang kita konsumsi makin berat kepedihan kita setelahnya. Richard Solomon, peneliti psikologi dari Universitas of Pensylvania, menyebut gejala ini sebagai opponent process: emosi yang akan memicu emosi yang berlawanan. Manusia yang paling bahagia adalah orang yang meninggalkan kelezatan yang sementara untuk kelezatan yang abadi (Ali bin Abi Thalib kw). Maka gunakanlah akalmu untuk memilih kesenangan kesengan yang lebih abadi dan tidak banyak terpengaruh oleh perubahan. Maka..berbahagialah orang yang mengikuti ajarannya.

“Atau siapakah yang akan memperkenakan (do’a) orang yang ada dalam kesulitan apabila ia berdo’a kepada-Nya” (Qs. An-Naml : 62).

“Aku akan menjawab seruan seorang penyeru apabila ia menyeruKu” (QS. Al-Baqarah: 186),

“Berdo’alah kalian kepada-Ku Aku akan Menjawab kalian” (QS: Al-Mukmin: 60),

“Hanya bagi Allahlah (hak mengabulkan) do’a yang benar. Dan berhala-berhala yang mereka sembah selain Allah tidak dapat memperkenankan sesuatu apapun bagi mereka” (QS. Ar-Ra’du: 14).

Manusia yang paling bahagia adalah orang yang meninggalkan kelezatan yang sementara untuk kelezatan yang abadi (ali bin abi Thalib as)

 

catatan:

 [1] Bertindak atau berkorban untuk kepentingan orang lain. Lawan dari egois.

[2] ini sangat mudah dicontohkan; orang akan puas dengan gaji/pendapatan 2 juta, bila ia tinggal didesa yang rata-rata orangnya masih banyak yang memakai sepeda, sebagian menggunakan motor dan jarang yang punya mobil. Dengan gaji ditingkatkan 2 kali, tetapi dia tinggal di kota Jakarta, maka akan kelihatan sangat miskin. Punya rumah dengan harga 200 atau 400 juta, sudah tampak mewah dan mungkin puas di kota atau pinggiran kota Malang, tetapi rumah itu akan tampak sederhana dan rendah bila sebelah sebelahnya rumahnya harganya 1 atau 2 milyar, seperti di jalan Ijen Malang (kawasan elit kota malang), dst.

[3] Zat kimia yang dikeluarkan neuron untuk menimbulkan rasa senang atau enak.

[4]  Contoh yang menarik bisa kita lihat di permainan “game”. Waktu pertama kita sangat senang level satu, setelah bisa dan faham, sudah tidak menyenangkan lagi dan butuh level lebih menarik dan menantang (level dua), asyik, tetapi setelah faham dan bisa. Sudah tidak menarik lagi dst. Akhirnya “game” itu tak menarik lagi buat kita dan kita ingin pindah bentuk “game” yang lain yang belum pernah kita bisa atau kuasai. Kembali dari awal lagi dst.

 

Daftar Pustaka

Alwi, Muhammad, 2011, “Belajar Menjadi Sukses dan Bahagia Sejati”, Elexmedia Kompas-Gramedia, Jakarta.

______, Tujuan dan Makna Hidup, Renungan Kebahagiaan dan Makna dalam kehidupan,

http://www.facebook.com/note.php?note_id=279681102071040

Amstrong, T. 1994. Multiple Intelligences in the Classroom. Alex­andria, VA: Association for Supervision and Cur­riculum Development.

______,http://www.thomasarmstrong.com/articles/ADHD_Demise_of_Play.php)

Bastaman, 1996, “Meraih Hidup Bermakna”, dari tesis S-2 (UI), Paramadina, Jakarta

Burns, David D, M.D, 1988, “Terapi Kognitif”, Erlangga, Jakarta

Ellis, Albert, Phd, 2007, “Terapi R-E-B, Rational Emotive Behavior”, B-First, Bandung

Frankl, Viktor, E, “Man Search For Meaning”, Revised and Updated. Washinton Square Press, Cet-21, 1985

Hall, C & G. Linzey, “Theory of Personality”, Willey, New York, 1970.

Hawari, Dadang, 2004, Al-Qur’an; Ilmu Kedokteran Jiwa dan Kesehatan Menial, Yogyakaita, PT. Dana Bhakti Prima Yasa.

Kaplan, Sandok, dkk, 2010, “Sinopsis Psikiatri, Ilmu Pengetahuan Perilaku Psikiatri Klinis”, Jilid 1 & 2, Binarupa Aksara, Ciputat-Tangerang.

Lumongga, DR. Namora, 2009, “Depresi Tinjauan Psikologis” (dari Disertasi S-3), Kencana, Jakarta.

Martin E.P. Seligman, 2002“Authentic Happiness: Using the New Positive Psychology to Realize Your Potential for Lasting fulfillment, Free Press, New York

_____,“Authentic Happiness, Mizan, Bandung, 2005

_____, 2008, “Menginstal Optimisme”, Momentum, Bandung.

Poniman, Farid dkk, 2008, “Kubik Leadership”, Cet-VII, Gramedia, Jakarta

Rahmat, Jalaluddin, “Meraih Kebahagiaan”, Simbiosa Rekatama Media. 2004

Robert J. Sternberg, 2006, “Cognitive Psychology”, Pustaka Pelajar, Yogyakarta.

Zohar, Danah dan Ian Marshall, 2001. SQ : Memanfaatkan Kecerdasan Spiritual Dalam Berpikir Integralistik dan Holistik Untuk Memaknai Kehidupan. Mizan, Bandung.

 

Muhammad Alwi: Trainer Corporate Multiple Intelligence (CMI), Spiritual Multiple Intelligence (SMI), Belajar berbasis Topografi Otak, Integrasi Multiple Intelligence dan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP), dan Understanding Personality for Success. Alumni Pasca Sarjana, Human Resource Management, Univ Brawijaya Malang. Sekarang Studi lanjut di Departemen Psychology. Penulis buku, “Belajar Menjadi Bahagia dan Sukses Sejati”, Elexmedia Kompas-Gramedia, 2011.

 

Tentang pendidikan positif

Kami adalah Pendidik, Guru, Dosen dan Trainer. Alumni Pasca Sarjana Univ Brawijaya Malang, sekarang studi lanjut di Department Psychology. Kami mengembangkan Seminar, Workshop, dan berbagai Test berbasiskan psikology. Mulai dari 1. Workshop berbasiskan Multiple Intelligence, Topografi Otak, Power Personality, Performance Barrier, Succes with Understanding Personality, Otak Kanan- Otak Kiri, bagaimana mengetahui dan memanfaatkannya untuk sukses dll. Semua itu untuk pengembnagan SDM dan Human Capital. Baik untuk Guru, anak-anak (TK, SD, SMP, SMA, PT), juga untuk karyawan Industri dan Perusahaan. 2. Test test yang mendukung workshop dan seminar diatas seperti; a) Test Multiple Intelligence, b) Test Personality, c) Test Performance Barrier dll. Konsep Kami adalah......Discovering Your Royal road to learning, achievable and Personal Satisfaction. Bagaimana caranya? Caranya dengan discovering your talent, your ability (dengan pemahaman, test), the right place....maka sukses dan bahagia akan mudah didapatkan. Positif Pendidikan adalah Pendidikan yang berusahan menjadikan pebelajar (siapapun yang belajar), akan mampu untuk meraih tidak hanya sukses (achievable) tapi juga bahagia (will-being). Success and Happy.
Pos ini dipublikasikan di Psikologi dan Pendidikan. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s