SEKOLAH MENGAJARI ANAK BELAJAR UNTUK TIDAK BELAJAR

Hasil survey menunjukkan bahwa 82% anak-anak masuk sekolah usia 5 sampai 6 tahun memiiki citra yang positif tentang kemampuan belajar mereka sendiri. Tetapi angka ini turun drastic menjadi 18% pada usia 16 tahun. Artinya 4 dari 5 anak remaja (SMP/SMA) memulai belajarnya dengan rasa tidak nyaman.

“Learned Helplessness”, Ketidakberdayaan yang Dipelajari.
Hidup ini dimulai dalam ketidakberdayaan. Bayi baru lahir tidak bisa apa-apa kecuali menangis. Ketika si bayi menangis, ibunya datang. Seberapa cepat ibunya menggendong si bayi, membiarkan berlama-lama dalam menangis atau lainnya. Ini membuat ‘pembelajaran’ apakah ia akan menjadi manusia-manusia optimis atau pesimis. Bila si bayi mengalami kesulitan bagaimana sikap kedua orang tuanya? Langsung membantunya, membiarkannya sampai menangis baru membantunya atau lainnya. Pembelajaran-pembelajaran ‘kecil’ ini berpengaruh pada mekanisme control saat dewasa.
Mekanisme control diri yang didefinisikan sebagai kemampuan untuk merubah sesuatu dengan suatu tindakan sukarela, merupakan hal yang berlawanan dengan ketidakberdayaan. Dan cara kita berfikir mengenai kehidupan nyata, ini dapat memperkecil atau memperluas control kita terhadapnya. Pikiran kita tidak hanya sebuah reaksi terhadap sebuah kejadian atau peristiwa, mereka mengubah apa yang terjadi.
Contoh : Tahukah Anda bagaimana cara seorang pawang menjinakkan seekor gajah liar? Begini caranya. Dari kejauhan, pawang membius gajah itu menggunakan senapan bius. Ketika gajah tidak sadarkan diri, pawang memasangkan sebuah rantai besi yang besar kekakinya dan mengikatkannya ke sebuah pohon besar.
Kemudian ketika gajah itu tersadar, dia menjadi lapar. Apa yang terjadi Ketika gajah itu mencoha berjalan untuk mencari makan? Gajah itu terjatuh karena kakinya terikat pada pohon. Gajah itu mencoba berkali-kali tetapi usahanya selalu sia-sia. Gajah menjadi sangat lelah dan menjadi semakin lapar.
Saat itu, pawang datang membawa sekeranjang rumput dan meletakkannya di dekat gajah. Karena lapar, gajah itu kemudian langsung memakan rumput yang sudah tidak segar lagi. Beberapa hari kemudian, gajah itu lapar lagi, dia kembali mencoba mencari makan, tapi lagi-lagi dia terjatuh. Dia mencoba lagi, terus terjatuh. Kemudian sang pawang datang lagi membawa rumput. Gajah makan rumput tersebut. Dan seterusnya dan seterusnya.
Suatu ketika sang pawang melepaskan rantai besi dan menggantikannya dengan seutas tali tambang yang diikatkan kesebuah pasak kecil yang tertancap di tanah. Tetapi sang gaja tidak pernah mencoba lari atau berbuat apapun. Kenapa? Karen dalam pikirannya rantai besi itu masih mengikat kakinya. Di merasa bahwa apapun cara yang dilakukannya, tidak mungki ia akan mendapatkan rumput segar. Sejak itu hingga akhir hayatnya, dia selalu merasa bahwa dia hanyalah makhluk kecil yan tidak berdaya. Kemampuan, kebebasan gajah yang seharusnya luar biasa telah dikerdilkan oleh lingkungannya.
Sang Gajah mengembangkan kegagalan itu bersifat stabil, berlangsung lama dimana saja dan ber sifat global.
Penelitian ini dilakukan oleh Martin Seligman dengan tikus-tikus dalam percobaan terkontrol yang menggoncangkan konsep psikologis modern. Dimana akhirnya menghasilkan konsep “learned helplessness”, ketidakberdayaan yang dipelajari.
KETIDAKBERDAYAAN YANG DIPELAJARI BANYAK DITEMUI PADA ANAK-ANAK KITA, LANTARAN KITA SEBAGAI ORANG TUA YANG MENGAJARINYA (TANPA SENGAJA) ATAU JUGA GURU-GURU DISEKOLAH-SEKOLAH KITA.
Inilah yang menyebabkan manusia menjadi inferiority complek, pesimis, minder, tidak percaya diri, menilai kemampuannya sangat rendah, tidak siap bersaing dst…dst.
SEKOLAH POSITIVE (positive Education) berupaya menghilangkan itu semua dengan berbagai konsep pembelajarannya.

Tentang pendidikan positif

Kami adalah Pendidik, Guru, Dosen dan Trainer. Alumni Pasca Sarjana Univ Brawijaya Malang, sekarang studi lanjut di Department Psychology. Kami mengembangkan Seminar, Workshop, dan berbagai Test berbasiskan psikology. Mulai dari 1. Workshop berbasiskan Multiple Intelligence, Topografi Otak, Power Personality, Performance Barrier, Succes with Understanding Personality, Otak Kanan- Otak Kiri, bagaimana mengetahui dan memanfaatkannya untuk sukses dll. Semua itu untuk pengembnagan SDM dan Human Capital. Baik untuk Guru, anak-anak (TK, SD, SMP, SMA, PT), juga untuk karyawan Industri dan Perusahaan. 2. Test test yang mendukung workshop dan seminar diatas seperti; a) Test Multiple Intelligence, b) Test Personality, c) Test Performance Barrier dll. Konsep Kami adalah......Discovering Your Royal road to learning, achievable and Personal Satisfaction. Bagaimana caranya? Caranya dengan discovering your talent, your ability (dengan pemahaman, test), the right place....maka sukses dan bahagia akan mudah didapatkan. Positif Pendidikan adalah Pendidikan yang berusahan menjadikan pebelajar (siapapun yang belajar), akan mampu untuk meraih tidak hanya sukses (achievable) tapi juga bahagia (will-being). Success and Happy.
Pos ini dipublikasikan di Psikologi dan Pendidikan. Tandai permalink.

4 Balasan ke SEKOLAH MENGAJARI ANAK BELAJAR UNTUK TIDAK BELAJAR

  1. aulan putri berkata:

    selamat sore pak, bisakah saya minta informasi dimana saya bisa mendapatkan buku Learned Helplessness seperti yang bapak cantumkan di tulisan bapak ini dalam bentuk cetaknya? saya membutuhkan buku tersebut untuk keperluan tugas akhir saya, terima kasih🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s