TERAPI-PSIKOLOGI UNTUK ‘DIRI SENDIRI’ (Bag-I)

TERAPI-PSIKOLOGI UNTUK ‘DIRI SENDIRI’) BAGI MASYARAKAT UMUM (AWAM-TERPELAJAR)

Dalam lingkungan kami, saya…..saya sering mendengar orang-orang yang dainggap ‘gila’ atau kena sesuatu. Sesuatu itu biasanya adalah kena guna-guna, kena jin atau lainnya. Dan untuk menyelesaikan kasus-kasus seperti ini. Biasanya orang itu atau orang tuanya (bila yang kena adalah anak-anak) atau keluarganya….membawanya pergi ke Kiayi, Habib atau orang ‘pintar’ lainnya. Atau kalau tidak mereka akan dibawa kepada dokter ahli syaraf atau juga psikiatri. Jarang sekali mereka dibawa untuk berobat ke psikolog.

Apabila orang itu dibawa ke kiayi atau habib atau orang ‘pintar’, maka biasanya mereka akan mendapatkan air, atau sesajian lainnya dan ‘resep’, berupa bacaan atau amalan-amalan dan doa. Apabila mereka datang kepada ahli syaraf dan psikiatri maka mereka akan mendapatkan resep berupa obat-obatan anti-depresan. Sebenarnya resep dari kiayi atau habib yang berupa bacaan atau doa-doa itu juga mirip dengan obat anti depresan. Al bi dhizrillahi tat ma innal Qulb (dengan mengingat kepada Allah, maka hati akan tenang).

Yang ingin saya bahas disini adalah, “Apa penyakitnya, apa kemungkinan terbesar penyebab penyakit-nya, lalu apa obatnya yang paling memungkinkan, dan kepada siapakah semestinya kita berobat?

 

Depresi

Sudah dipercaya para ahli bahwa hampir sangat dominan penyakit diakibatkan karena factor pikiran. Dan disinyalir bahwa Depresi adalah penyakit terbesar yang diderita oleh manusia di dunia ini (walaupun bukan penyakit yang paling mematikan).  Depresi adalah penyakit yang berhubungan dengan ‘mood’, perasaan murung, mudah sekali tersinggung atau sedih yang berlebihan). Yang akibatnya bisa sangat bermacam-macam. Tergolong dari bagian penyakit kecemasan. Kecemasan adalah tanggapan dari sebuah ancaman, nyata ataupun hayal. Individu mengalami kecemasan karena adanya ketidakpastian dimasa mendatang. Misalnya seseorang menghadapi masalah penting dan belum mendapatkan penyelesaian yang pasti. Kecemasan-kecemasan itu bisa berkembang menjadi suatu gangguan (depresi) jika menimbulkan ketakutan yang hebat dan menetap pada individu.

Kata pepatah, ‘Kalau kita memegang palu, maka semuanya terlihat seperti Paku’. Apakah benar mereka kena guna-guna, jin atau lainnya? Memang kalau kita datang kepada kiayi, habib, dukun maka arahnya adalah kesana….diganggu orang, persaingan kerja, cekcok rumah tangga dst. Intinya bahwa si pasien diganggu orang dengan guna-guna. Atau terkena jin, sehingga pengobatannya harus menggunakan cara-cara tertentu. Kalau datang ke ahli syaraf atau psikiatri, dianggap ini kecemasan, maka perlu ditenangkan berupa pemberian obat anti-depresan. Apa ini benar? Apa sebenarnya masalah depresi ini semestinya?

Kalau kita lihat, umumnya orang yang terkena jin, dianggap diguna-guna atau ada yang lain. Kadang mereka dianggap ‘tidak kuat mengamalkan sesuatu’, baik itu ingin berprestasi, olah kanuragan, membaca doa-doa yang terlalu berat dan seterusnya. Apa ini benar? Mungkin benar, mungkin tidak. Tetapi fenomena yang terjadi kebanyakan adalah;

Manusia ini mengalami kecemasan sedemikian rupa. Mengapa mereka cemas? Itu memang dari sono-nya. Ketidakpastian itu menyebabkan kecemasan, oleh karenanya tubuh selalu berupaya mencari homeostasis (keadaan kembali normal). Dalam diri kita ada mekanismen syaraf simpatik dan para-simpatis (mendorong dan mengerem, menaikkan dan menurunkan). Jadi kecemasan itu adalah lumrah, biasa. Tetapi akan menjadi masalah bila kecemasan itu berlebihan sehingga tingkat kekuatan kita tidak memadahi untuk mengembalikan ke kondisi normal. Sebagai contoh;

a)    Seorang anak yang didorong oleh keluarga untuk selalu berprestasi. Maka sekuat dorongan itu, maka kecemasan, kesedihan akan sebesar itu juga, bila anak itu mengalami kegagalan. Karenanya kecemasan timbul bila ada ujian atau lainnya (walaupun itu menjadi pendorong untuk berprestasi).

b)   Seorang yang ingin kaya, punya target tinggi. Atau seorang yang saat transaksi berharap sangat tinggi keuntungannya dst. Tiba-tiba meleset dari perkiraan itu. Maka kecemasan diawal akan keluar dan kesedihan akan dialami oleh orang tadi.

c)    Seorang anak dari keluarga pedagang, bercita-cita ingin menjadi agamawan. Mengapa ia ingin menjadi ulama? Apa karena panggilan Tuhan? Jelas niatan seperti itu sangat kecil untuk anak-anak. Yang pasti adalah karena dia melihat pamannya yang agamawan hidupnya mapan, dihormati orang bahkan keluarganya dst..dst. Oleh karenanya dia ingin seperti itu. Sebuah hal yang sangat lumrah hal-hal yang ‘menyenangkan, mengenakkan’ itu ingin diraih. Lihat saja, mengapa kalau ditanya mau jadi apa nanti kalau sudah besar? Jawabannya adalah jadi Dokter. Mengapa?

d)   Seorang yang agamawan, lulusan luar negeri, atau memiliki ilmu yang tinggi. Lumrah sebagai manusia dia ingin ‘kaya’, ingin dihormati dan seterusnya dengan kepemilikian ilmu dan lain sebagainya. Ternyata orang itu tidak kaya, orang itu tidak dihormati orang (karena mungkin lingkungannya melihat uang adalah segala-galanya). Ia cemas, ia kurang puas bahkan ‘sedih’, dengan kadar tertentu. Sebuah hal yang cukup lumrah. Lalu dia mengamalkan hal-hal tertentu (tujuannya adalah untuk menggapai salah satu dari 2 hal, yaitu kemasyhuran, dihormati orang atau kaya). Ternyata tetap seperti ini, bahkan keluarganya sendiri mencemoohnya, mengeluarkan kata-kata yang menyakitkan. Kesedihan, kecemasan seperti ini, bisa menyebabkan depresi

e)   Seorang istri yang menganggap suaminya adalah segala-galanya, ternyata mendapati suaminya selingkung dengan orang yang di kenalnya, atau malah kawin lagi dengan orang dekatnya dst. Kesedihan ini, kecemasan ini, akan menjadikan yang namanya depresi (‘seakan-akan mirip dengan ‘gila’).

f)     Kadang orang itu punya pola hidup sederhana, biasa-biasa saja, tetapi dorongan kehidupan global seperti ini, dorongan lingkungan, hidup di kota Jakarta, Pendidikan Mahal, biaya hidup mahal. Kadang keinginan Suami atau istri yang ingin ‘lebih’ tidak sekedar cukup. Maka seorang akan berusaha untuk memenuhi tuntutan-tuntutan itu. Saat berupaya mendapatkan tuntutan itu, maka kecemasan akan timbul. Apabila tuntutan itu tidak mampu dicapainya, maka makin cemas, sedih….bila ini berkelanjutan dan dengan intensitas cukup….depresi akan muncul.

Mengapa semua ini sering terjadi? Banyak factor penyebabnya, tetapi ini semua didorong, didukung oleh konsepsi dasar, yaitu; secara langsung ataupun tidak langsung dari saat kita kecil, kita ditanamkan keyakinan-keyakinan umum, yang itu kita internalisasi (kita yakini, semacam agama-agama pribadi kita). Contoh-contoh keyakinan (believe) itu antara lain.

  1. Bahwa sangat perlu kita sebagai manusia untuk hidup rukun, dicintai atau disetujui oleh  masyarakat sekeliling kita (kalau tidak sama, kurang sesuai maka cemas, mencoba mencari cara agar sama…..bila tidak, maka),
  2. Kita percaya, gagasan bahwa kita hidup ini mesti sukses, kompeten, berprestasi dst, jika ingin dihormati orang bahkan dicintai. (kalau tidak berprestasi, tidak kompeten….maka harus kerja keras, belajar serius, harus sukses. Saat menempuhnya kita cemas, bila gagal kita sedih yang akhirnya……)
  3. Kepercayaan tentang ide bahwa orang yang buruk, keji, atau jahat mesti dihukum dan dikutuk atas kejahatannya. (maka kitapun kalau buruk, lumrah kalau dikucilkan, bahkan sebelum dihukum atau lainnya, kita sudah merasa seperti itu).
  4. Kepercayaan pada gagasan yang mengakatan bahwa, merupakan bencana yang mengerikan bila hal-hal menjadi tidak seperti yang diharapkan;
  5. Kepercayaan pada gagasan bahwa ketidakbahagiaan manusia terjadi dari factor luar dan kita hanya sedikit atau tidak memiliki kemampuan untuk mengendalikan kesusahan-kesusahan dan gangguan-gangguannya;
  6. Kepercayaan pada gagasan bahwa masa lampau adalah determinan yang terpenting dari tingkah laku seseorang sekarang dan bahwa karena dulu sesuatu pernah mempengaruhi kehidupan seseorang, maka sesuatu itu sekarang memiliki efek yang sama.

Keyakinan-keyakinan kita inilah yang menyebabkan kita, untuk berupaya sekuat tenaga untuk sukses karier, pendidikan, keluarga dan seterusnya. Ingin berpenghasilan tinggi, ingin ini, ingin itu dan lain sebagainya. Sebab itu semua adalah dorongan dari diri kita, yang dikarenakan kita meyakini hal-hal tersebut harus dimiliki.

(Bersambung Ke bangian 2)

Tentang pendidikan positif

Kami adalah Pendidik, Guru, Dosen dan Trainer. Alumni Pasca Sarjana Univ Brawijaya Malang, sekarang studi lanjut di Department Psychology. Kami mengembangkan Seminar, Workshop, dan berbagai Test berbasiskan psikology. Mulai dari 1. Workshop berbasiskan Multiple Intelligence, Topografi Otak, Power Personality, Performance Barrier, Succes with Understanding Personality, Otak Kanan- Otak Kiri, bagaimana mengetahui dan memanfaatkannya untuk sukses dll. Semua itu untuk pengembnagan SDM dan Human Capital. Baik untuk Guru, anak-anak (TK, SD, SMP, SMA, PT), juga untuk karyawan Industri dan Perusahaan. 2. Test test yang mendukung workshop dan seminar diatas seperti; a) Test Multiple Intelligence, b) Test Personality, c) Test Performance Barrier dll. Konsep Kami adalah......Discovering Your Royal road to learning, achievable and Personal Satisfaction. Bagaimana caranya? Caranya dengan discovering your talent, your ability (dengan pemahaman, test), the right place....maka sukses dan bahagia akan mudah didapatkan. Positif Pendidikan adalah Pendidikan yang berusahan menjadikan pebelajar (siapapun yang belajar), akan mampu untuk meraih tidak hanya sukses (achievable) tapi juga bahagia (will-being). Success and Happy.
Pos ini dipublikasikan di Psikologi dan Pendidikan. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s