TERAPI-PSIKOLOGI UNTUK ‘DIRI SENDIRI’ (Bag-II Habis)

TERAPI-PSIKOLOGI UNTUK ‘DIRI SENDIRI’ , BAGI MASYARAKAT UMUM (AWAM-TERPELAJAR)

Cara Berfikir

Tidak ada yang bisa membuat anda sakit (secara mental) kecuali diri anda sendiri. Sebagai contoh, kita bertemu pada sebuah fakta (F = Fakta), Bercerai. Kita sedih (C = Konsekuensi), murung bahkan depresi karena perceraian. Pertanyaannya yang mestinya kita ajukan adalah, Apakah perceraian itu yang membuatnya depresi, atau (G = gagasan-gagasan atau keyakinan kita tentang Perceraian itu yang membuat kita sedih?). Keyakinan-keyakinan, konsep diri kita itu seperti; bahwa saya gagal, saya tidak ada apa-apanya, bagaimana hidup saya nanti, anak-anak saya dididik bagaimana oleh suami saya atau istri saya dll. Keyakinan-keyakinan inilah yang menyebabkan depresi, bukan fakta perceraian itu. Kalau konsepsi keyakinan kita akan perceraian tidak se-dramatis itu, maka perceraian kita tidak menjadikan kita stress berat atau depresi (‘gila’). Demikian juga kegagalan Kuliah, melihat anak-anak tidak sesuai dengan harapan kita, suami selingkuh atau sebaliknya, anak terjerat narkoba, hidup kita tidak mapan. Semua itu patut dilawan, patut diupayakan. Tetapi tidak patut untuk menjadikan kita depresi atau ‘gila’ atau setengah gila. Itu terbukti banyak orang yang mengalami hal yang sama tetapi tidak ‘separah kita’ kesedihannya dan depresi-nya.

Emosi kita itu disebabkan oleh cara kita memandang berbagai hal. Dan sudah dibuktikan secara neurologis yang jelas  bahwa sebelum kita dapat mengalami saatu peristiwa apapun kita harus memprosesnya dengan pikiran kita serta memberikan arti padanya. Kita harus memahami apa yang sedang terjadi pada diri kita sebelum kita dapat merasakannya.

Saya kadang heran melihat seorang yang bunuh diri, saat melihat suaminya selingkuh atau sebaliknya. Atau mellihat ibu yang membunuh anaknya umur 5 tahun….karena jengkel dengan suaminya. Ini jelas depressi berat….tetapi coba kita cek, apakah F = fakta (suami atau Istri selingkuh), anak umur 5 tahun yang tidak bisa diberi makan, atau karena G = gagasan-gagasan kita, yang membuat kita stres berat. gagasan kita yang mengatakan; Suami atau istri itu semestinya harus begini, dia harusnya seperti ini, saya sudah sangat baik, saya….dan ini dan itu. Gagasan-gagasan inilah yang meyebabkan C= Konsekuensi (sedih, murung bahkan depresi).

Demikian juga, tidak bisa memberikan makan anak (F), C = konsekuensinya adalah, sedih, depresi sehingga dibunuh, bunuh diri. Yang menyebabkan C adalah G = gagasan dalam diri kita berupa; saya ini ibu yang tidak berguna, saya semestinya tidak melahirkan anak ini, saya malu, bagaimana nasib anak ini nanti, saya sudah berusaha….saya bukan manusia yang baik, semestinya saya…..seharusnya, mengapa Tuhan….dll, dst. Keyakinan akan gagasan-gagasan inilah yang menyebabkan C = Konsekuensi (kemurungan, kesedihan dan depresi).

Karenanya dalam Terapi Kognitif (terapi bicara pada diri sendiri, juga dilakukan para ahli), yang saya anjurkan, Kita dilatih untuk mengubah cara kita menafsirkan dan memandang segala sesuatu saat kita mengalami kekecewaan, kegagalan sedemikian rupa sehingga kita lebih baik dan bertindak lebih produktif. Ini bisa dilakukan oleh psikolog, tetapi ini sangat berguna juga untuk pribadi. Dengan berdiskusi dengan diri kita sendiri.

Kesalahan-kesalahan berfikir yang seringkali dimiliki oleh orang yang depresi dan menyebabkan dari Kecemasan Biasa menjadi depresi lebih lanjut, yaitu;  

1.  Segalanya atau tidak sama sekali.

Saya sering berbicara dengan orang-orang yang secara kopetensi tinggi tapi tidak bisa kerja dan murung. Kalau ditanya mengapa tidak kerja seadanya dulu. Jawabnya; saya ini mantan kepala bagian perusahaan x dengan gaji Y. Bagaimana saya bisa kerja dengan gaji hanya sekian? Dalam politik (baik itu tingkat rektorat, organisasi atau lainnya) juga terjadi. Karena kalah pemilihan,  maka sekan tidak jadi apa-apa. Saya gagal total, saya tidak berhuna dst. Karena terbiasa dengan prestasi (juara), lalu pernah drop….pikirannya melayang-layang. Saya sudah tidak seperti dulu, saya…saya yang negative.

Pemikiran yang salah disini adalah; “kalau saya tidak seperti ini, maka saya bukan apa-apa sama sekali.”  

2.  Terlalu Menggeneralisir.

Kegagalan dianggap selalu. Saya memang sial, saya memang tidak pernah berprestasi. Ditolak wanita dipikirkan dengan, memang saya tidak bisa dengan wanita, saya tidak menarik dst. Saat kita gagal, dan itu masih dalam batas toleransi….lalu kita mencoba dan gagal lagi, keluarlah konsep itu.  

3.  Filter Mental

Orang yang depresi itu mengambil hal negative yang kurang tanpak, tetapi membesar-besarkannya. Saat kita miskin atau jatuh miskin, lalu ada teman kita yang lewat kebetulan tidak menegur kita. Maka dalam konsepsi gagasan kita adalah, mengapa dia tidak menegur saya? Sombong atau mungkin karena saya tidak punya….dunia memang kejam, dst..dst.  Bila depresi awal ini dicoba dilawan dan gagal…..maka depresi yang kuat akan sangat mungkin muncul.

4. Mendiskualifikasi yang Positif

Saat kita depresi, pujian-pujian dianggap basa-basi malah mencemooh. Kita tidak percaya diri…dan cenderung melihat kejelekan yang dominan dan yang positif tidak diyakini.

 

5. Loncatan kepada Kesimpulan

Misalnya….kita menelpon teman atau SMS teman lalu tidak dijawab. Kita langsung berkesimpulan. Dia sudah tidak mempedulikan saya. Ya karena saya sekarang tidak punya kekayaan, saya miskin, saya gagal. Dia sukses dst….mengapa kita tidak mengeceknya? Ternyata seringkali karena dia lupa atau operatornya yang error.

Atau saat anda dalam keadaan depresi….datang dalam resepsi mewah. Lalu ada orang yang berbincang-bincang dan anda mendengar nama anda disebut….sambil tertawa-tawa. Anda sangat-sangat jengkel. Anda menyimpulkan orang-orang itu mengosipkan anda dst..dst. padahal nama itu sama dengan belakang nama anda….tapi bukan anda. Dan mereka sama sekali tidak membicarakan anda, bahkan tidak kenal anda.

6. Pembesaran dan Pengecilan

Memperbesar yang jelek dan negatif dan memperkecil yang baik dan positif.

7. Penalaran yang emosional

Saya merasa tidak mampu, maka pasti saya adalah seorang yang tidak berguna. Saya tidak bisa berbuat apa-apa maka sebaiknya saya berbaring saja tidur-tiduran. Saya merasa kewalahan dan tidak berdaya, karena itu, pasti persoalan saya mustahil untuk dipecahkan.

8. Pernyataan “Harus”.

Pernyataan saya harus sukses, saya harus menjadi bapak yang bijaksana, saya harus bisa membagi waktu dengan baik, saya harus kaya, saya harus berprestasi. Keharusan-keharusan itu membuat kita merasa bersalah jika tidak….bahkan walau kita sudah mendapatkan sebagiannya. Apalagi ditambah dengan “Segalanya atau tidak sama sekali”. Maka 1 kali kegagalan, sebagiannya saja tidak tercapai, kita akan sangat cemas, dan akhirnya bisa depresi.

9.  Memberi cap dan salah member Cap.

Saat kita bertengkar dengan istri atau malah ditinggal istri atau suami. Atau anak kita terjerat narkoba atau prestasinya jelek. Lalu kita menyalahkan diri kita dan melabelli diri kita dengan; ‘memang saya bukan orang tua yang baik’, sejak dulu saya tidak merencanakan dengan baik, saya orang yang tidak berguna….bukan manusia….dst..dst. Padahal kegagalan itu adalah bagian dari kita, bukan keseluruhan diri kita.

10.  Personalisasi

Nomor 9 diatas….saya bukan bapak yang baik….saya memang bukan manusia….saya….saya. seakan-akan kesalahan itu dari diri kita total. Padahal jelas tidak sama sekali. Setiap manusia punya kebebasan untuk melakukan sesuatu. Bahkan Nabi Nuh mempunyai anak yang durhaka (kafir) demikian juga Nabi Luth, istrinya bukan termasuk orang-orang yang baik (membangkang, kafir).

 

Bagaimana cara Terapinya (Pribadi)

Ada beberapa cara yang bisa dilakukan………tetapi yang paling penting adalah

1)      Dialog diri….mengkonfrontasikan konsepsi-konsepsi kita yang salah, tidak masuk akal. Lihat 6 dan 10 diatas. Mengapa saya sedih….apa yang harus saya sedihkan. Layakkan saya sedih sedemikian rupa, siapa yang rugi dan untung dengan kesedihan saya? Dst…dst. Memang ini tidak mudah saat kita depresi, saat normal is oke. Disinilah kita butuh diskusi dengan teman yang menaruh perhatian pada kita, bahkan ke psikolog dengan pendekatan cognitive atau habib yang bisa mengajak dialog kita, tidak sekadar member air atau doa.

2)      Berfikirlah untuk siap menjadi orang biasa. Ini sangat penting sekali. Kendurkan target, siaplah menjadi orang-orang lain. Lihat orang-orang yang tidak hebat, tidak kaya, tidak terhormat. Manusia-manusia biasa, teman-teman anda, saudara anda bahkan orang tua anda. Mereka hidup biasa-biasa saja dan bahagia. Jadi menjadi orang biasa itu tidak masalah.

3)      Dekatlah kepada Tuhan, sebab ini adalah anti-depresan yang paling manjur…dan tanpa effek samping.

4)      Carilah kegiatan…apapun kegiatannya. Kalau memungkinkan yang bermanfaat dan bernilai guna. Seringkali ini akan menjadi alternative kerja anda selanjutnya.

5)      Kalau menggunakan konsep Logo-terapi (sebagiannya mirip disini) yaitu;

Suffering (derita)….lalu Hidup tanpa makna (depresi, meaningless life)……lalu mengubah Sikap (Change Attitute, ini tidak mungkin dilakukan tanpa mengubah cara berfikir, konsep diri….dll, seperti diatas)………..menemukan makna (Fulfilling Meaning, dengan sadar, mengubah pola hidup, siap menjadi manusia biasa, bekerja apapun pekerjaannya dengan hasil yang mungkin masih kecil dst)………Hidup Bermakna (Meaning Life. Hidup normal, sebagai manusia biasa dengan bertanggung jawab penuh)………….Bahagia (Happiness).

Jadi sebenarnya saat-saat hidup kita, sudah menjadi kelaziman kita mengalami kecemasan bahkan depresi ringan. Tetapi kalau depresi-depresi ringan itu dibarengi dengan pemikiran-pemikiran dan kepercayaan-kepercayaan diatas, maka depresi itu makin menjadi-jadi. Saat depresi itu menjadi-jadi….masuklah kita dalam kategori ‘sakit’ (Depresi yang sakit). Disini dalam pandangan orang awam biasanya dianggap kena guna-guna, kena Jin dll (bukan kami tidak mempercayai itu semua, tetapi terlalu menggeneralisir semuany, atau sangat banyak yang disebabkan itu).

Padahal sebenarnya itu semua banyak sekali diakibatkan oleh emosi yang tidak terkontrol dengan baik. Bila salah penyembuhan……….misalnya diyakini kena Jin….maka obat tidak ada artinya, sebab si pasien yakin terkena jin atau guna-guna. Bila dibawa ke ahli syaraf dan psikiatri, maka diberilah anti-depresan yang seringkali dibuat fly (gampang tidur) dan menyebakan ketergantungan terhadap obat.

Saran kami adalah….datangi psikolog, sebab secara umum efeknya ‘hampir tidak ada’, dan untuk penyakit kecemasan terbukti melebihi jauh tingkat penyembuhannya dibanding dengan obat anti-depresan. Bahkan cara-cara pengobatan dengan bincang-bincang dan mengubah “cara-berfikir” dapat digunakan untuk menyembuhkan depresi lain saat menyerang.

 

Referensi :

Bastaman, Hanna Djumhana, M. Psi, 1996, “ Meraih Hidup Bermakna”, Paramadina, Jakarta.

Burns, David D. M.D. 1980, Feeling Good The New Mood Theraphy.

Corey Gerald, 2010, “Konseling & Psikoterapi”, Cet-VI, Refika Aditama, Bandung.

Ellis, Albert, How to stubbornly Refuse to make Yourself Misarable About Anything Yes Anything. Citadel Press, AS.

_________, The Practice of rational Emotive Behavior Therapy.

Guttman, David, 2008, “ Finding Meaning in Life at Midlife and Beyond”, Preager, USA.

 

Wallahu a’lam bi al Shawab

Muhammad Alwi,

Trainer, Motivator, SMI (Spiritual Multiple Intelligence), CMI (Corporate Multiple Intelligence), Belajar Berbasis Topografi Otak, Integrasi Multiple intelligence dan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan. Alumni Pasca Sarjana univ Brawijaya Malang, Studi lanjut di Depatement Psychology. Penulis, “Belajar menjadi Sukses dan Bahagia Sejati”, Elexmedia, Kompas-Gramedia, Jakarta, 2011.

 

Tentang pendidikan positif

Kami adalah Pendidik, Guru, Dosen dan Trainer. Alumni Pasca Sarjana Univ Brawijaya Malang, sekarang studi lanjut di Department Psychology. Kami mengembangkan Seminar, Workshop, dan berbagai Test berbasiskan psikology. Mulai dari 1. Workshop berbasiskan Multiple Intelligence, Topografi Otak, Power Personality, Performance Barrier, Succes with Understanding Personality, Otak Kanan- Otak Kiri, bagaimana mengetahui dan memanfaatkannya untuk sukses dll. Semua itu untuk pengembnagan SDM dan Human Capital. Baik untuk Guru, anak-anak (TK, SD, SMP, SMA, PT), juga untuk karyawan Industri dan Perusahaan. 2. Test test yang mendukung workshop dan seminar diatas seperti; a) Test Multiple Intelligence, b) Test Personality, c) Test Performance Barrier dll. Konsep Kami adalah......Discovering Your Royal road to learning, achievable and Personal Satisfaction. Bagaimana caranya? Caranya dengan discovering your talent, your ability (dengan pemahaman, test), the right place....maka sukses dan bahagia akan mudah didapatkan. Positif Pendidikan adalah Pendidikan yang berusahan menjadikan pebelajar (siapapun yang belajar), akan mampu untuk meraih tidak hanya sukses (achievable) tapi juga bahagia (will-being). Success and Happy.
Pos ini dipublikasikan di Psikologi dan Pendidikan. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s