ADAKAH..AKU INGIN SEKOLAH YANG LAIN?

Setiap memasuki ajaran baru…sekolah disibukkan dengan PSB (penerimaan siswa baru), mulai dari penyiapan ruang kelas, jadwal pelajaran, test masuk anak-anak, masa orientasi (MOS), buku-buku paket, silabus dst…dst. Para orang tua disibukkan dengan yang lain; mempersiapkan putra-putrinya memasuki jenjang pendidikan berikutnya (SD, SMP, SMA atau PT). Persiapan ini dimulai dari pakaian seragam, sepatu, peralatan tulis hingga pernak-pernik keperluan sekolah lainnya. Yang tak luput juga lest-lest bimbingan sebelumnya.

Namun terkadang kita (Sekolah dan Para Wali-murid) melupakan hakikat dari bersekolah yang sebenarnya. Dimana itu sebenarnya merupakan perwujudan, tujuan asli mengapa mereka bersekolah. Sekolah adalah salah satu cara untuk mewujudkan mimpi dan harapan bagi siswa maupun orang tua. Baik orangtua dan siswa pada umumnya pasti mempunyai mimpi dan harapan untuk menjadikan dirinya dan anak-anaknya menjadi “Sukses”. Tetapi Mengapa hanya sebagian saja orang yang Sukses? Apakah sebenarnya syarat-syarat sukses? dan Apakah ada hubungan antara Sukses, Sekolah dan Karakter (Sikap Mental)?

Sejak dini anak-anak seharusnya sudah diajarkan untuk bertanggung-jawab menggunakan potensi diri sepenuhnya. Tanggung-jawab untuk menggunakan potensi dirinya tidak hanya ditujukan kepada keluarga saja, tetapi juga kepada Tuhan. Dan Potensi diri itu baru dapat diwujudkan secara penuh apabila seseorang memiliki Tujuan Hidup (Life Goal) yang jelas dan diharapkan.

Kebanyakan orang mengalami kegagalan hidup bukan karena kurang cerdas atau kurang kaya atau kurang beruntung. Namun itu semua dikarenakan mereka tidak atau kurang memiliki Tujuan Hidup atau Mimpi yang jelas untuk dicapai. TUJUAN adalah sasaran kita, alasan keberadaan kita, alasan kenapa kita dilahirkan , termasuk alasan kenapa kita harus bangun dari tidur setiap pagi. Perdefinisi ‘Sukses’ adalah mencapai apa yang dituju atau apa yang diinginkan. Maka dari itu Tujuan, tujuan hidup (Life Goal), adalah sangat penting.

Untuk mempunyai “Tujuan Besar” maka kita harus memiliki MIMPI yang BESAR, dan supaya memiliki mimpi yang besar, setiap orang harus: 1) BERPIKIR UNTUK SUKSES, Jangan Berpikir untuk Gagal, 2) CAMKANLAH BAHWA KAMU/Kita LEBIH BAIK, dari yang kamu/Kita duga, 3) LIPAT GANDAKAN KEPERCAYAANMU, 4) GELUTILAH TUJUAN BESAR, maka kamu juga akan mendapat HASIL YANG BESAR. “ Your Only Limitations Are those YOU place on YOUR OWN MIND”.

Namun bermimpi besar saja tidak cukup, tetapi harus disertai dengan: 1) PERBUATAN BESAR, yakni melalui GOAL SETTING dan ACTION PLANS. 2) GOAL SETTING adalah suatu TUJUAN HIDUP atau TARGET HIDUP yang JELAS, 3) FOKUS dan TERTULIS, 4) Makanya ;  Sebagai guru, Mintalah Anak-anak  Anda (siswa) untuk membuat esai dengan judul “AKU” yang menginventarisikan KEKUATAN dan KELEMAHAN mereka, jelaskan SIAPAKAH DIRI MEREKA sekarang dan akan menjadi PRIBADI seperti apakah kelak nanti.

Bantulah putra-putri Anda untuk membuat Goal Setting berdasarkan Jangka Waktu, misalnya: Tujuan Jangka Pendek (kurang dari 1 tahun), Tujuan Jangka Menengah (antara 1 hingga 5 tahun), Tujuan Jangka Panjang (lebih dari 5 tahun).

Goal Setting harus disertai dengan ACTION PLANS

Setelah menuliskan Goal Setting perlu ada suatu RENCANA TINDAKAN untuk merealisasikan Goal Setting, misalnya bagaimana caranya, kapan serta dengan siapa akan mencapainya.

Disini diperlukan MOTIVASI yang besar untuk melaksanakan Action Plans, dan disini juga diperlukan KOMITMEN yang tinggi, dan untuk mewujudkannya perlu pengulangan-pengulangan (SPACED REPETITION) dan penggambaran terus menerus (VISUALIZATION). Contoh visualisasi adalah dengan menempel foto-foto idaman, idola atau target kedepan di kamar.

Bagaimana caranya?

Dalam bekerja sama dengan orang lain, anak harus diajarkan untuk: Berbagi, Memperhatikan, Mendengarkan dan Mengasihi (Mungkin bisa ditambah yang lain). Denngan itu maka Anak bisa membuat perbedaan dalam kehidupan dirinya dan orang lain.

Bagaimana cara menerapkannya pada putra-putri Anda agar sukses dalam studi?

1)      Milikilah tujuan hidup yang tertulis.

2)      Pilihlah bidang yang disukai dan yang menunjang pencapaian obsesi anak Anda.

3)      Tanamkan kepada anak Anda kebiasaan untuk Gemar Membaca.

4)      Selalu belajar mendahului pelajaran yang akan diberikan di sekola

5)      Menyimak dan Gemar Bertanya

6)      Mengulangi pelajaran

7)      Pergaulan yang kondusif

8)      Miliki Pola Hidup yang sehat

Disamping itu..Gunakan dan tanamkanlah pada anak didik kelengkapan hidup dengan Motto HIDUP BAROKAH, dimana didalam berisi; 1) Hidup harus berusaha bahagia, 2) Hidup harus Sehat, 3) Hidup harus ber-ilmu, 4) hidup kita harus cukup kaya…5) semua itu ditujukan dilakukan dalam kehidupan untuk Bermanfaat buat Sesama. Dalam Islam dikatakan, Khoirun nash anfauhun linnas (Sebaik-baik manusia adalah orang paling banyak manfaatnya buat yang lain). Oleh karenanya hidup ini harus “Seimbang”. Ya mencari bahagia (dengan manajemen pikiran, perasaan dan persepsi), mencari sehat (berolahraga, pola makan dst), Cari ilmu (mencari Ilmu itu dari lahir sampai mati), Cari Uang (sadar nilai uang, nilai guna) dan membantu sesama (kepedulian sosial).

Inilah mengapa tahun 70-an dan 80-an, seringkali kita melihat anak-anak SD bahkan SMP mereka membuat jadwal harian, jam per jam, juga mingguan…tetapi sekarang itu sudah jarang dilakukan disekolah-sekolah. Semua ini adakah disekolah-sekolah kita? Jika tidak, kita perlu siap-siap untuk keluar dari sekolah itu? Atau….

Bagaimana men-survey tingkat “Menyenangkan Disekolah” (Indikator Sekolah Baik)?

Cobalah kita amati tingkah laku anak kita dan sekolahnya dengan melihat pertanyaan dan pernyataan dibawah ini.

  • Apakah anak kita mempunyai hobi, keterampilan, minat atau kemampuan yang membangkitkan semangatnya dirumah? Jika Ya, apakah ia mendapatkan kesempatan untuk menggunakan bakat atau kemampuan itu disekolah?
  • Kapan terakhir kali anak kita bergegas pulang kesrumah seusai sekolah untuk memberitahukan sesuatu yang penting yang dipelaja-rinya hari itu?
  • Apakah anak Kita suka berada di sekolah seusai pelajaran, ber-bicara dengan seorang guru, mengembangkan sebuah proyek, atau mempraktekkan suatu keterampilan, atau apakah ia cepat-cepat pergi begitu bel berdering?
  • Ketika Kita berbicara dengan guru anak Kita, kelompok kata apa yang paling sering ia gunakan: masalah, kebutuhan, kesulitan, dan ketidakmampiian, atau bakat, prestasi, minat, dan kemampuan’!
  • Apakah anak Kita sering mengeluh sakit perut, sakit kepala, dan gelisah di pagi hari sebelum berangkat ke sekolah, atau apakah ia berbicara di meja sarapan mengenai semua hal menyenangkan yang akan dilakukannya hari itu?
  • Apakah anak Kita membawa pulang banyak buku pelajaran, buku tugas, dan kertas PR, atau apakah ia sebaliknya mempunyai proyek yang harus dikerjakan yang benar-benar membutuhkan pemikiran, kreativitas, dan inovasi?

Bila semuanya jawabnya tidak, maka ada yang tidak beres dalam sekolah itu, harus ada suatu usaha perbaikan-perbaikan sebelum merenggut kemampuan alami anak-anak kita.

Sekilas Teropong, Pendidikan Terbaik buat Anak Kita

Teropong Ruang Kelasnya

  • Apakah kelas itu sangat hidup, menggairahakn, bukan justru terlihat  membosankan dan lesu?
  • Apakah kelas itu penuh berbagai materi belajar yang menarik—’ peralatan seni, materi ilmu pengetahuan, benda-benda untuk disentuh, dibelai, dimanipulasi, dan dipertanyakan—atau apakah kelas itu, kosong dan hanya berisi beberapa buku pelajaran berdebu serta poster kuno di dinding?
  • Apakah anak-anak membangun, menggambar, membaca, mengoleksi, menulis, berinteraksi, melakukan percobaan, dan menciptakan, atau apakah mereka mengerjakan lembar latihan, mempelajari buku pela­jaran, dan mendengarkan ceramah guru?
  • Apakah tersedia tempat untuk kelompok diskusi, gerakan fisik, belajar dalam hati, dan “eksperimen” kreatif, atau apakah hanya ada deretan bangku dan beberapa meja?
  • Apakah ada banyak penekanan pada tes stkitar untuk menentukan hasil belajar anak-anak, atau apakah ada keyakinan bahwa penilaian adalah proses yang tak pernah berhenti yang sangat erat kaitannya dengan pelajaran?

Teropong terhadap Perilaku Guru

  • Apakah guru menjadikan mengundah diskusi, curah pendapat, menghargai pendapat, dialog atau sebaliknya ingin jawaban tekstual, cepat, singkat sesuai petunjuk teks-book dan diarahkan oleh guru?
  • Apakah ia berkeliling dalam kelas membantu murid satu per satu atau menghabiskan sebagian besar waktunya di depan kelas ber-bicara kepada semua anak?
  • Ketika berbicara dengannya tentang anak Kita, apakah Kita lebih banyak mendengar mengenai pencapaian anak Kita atau mengenai masalahnya?
  • Apakah tampaknya ia mempunyai banyak variasi metode untuk mengajar berbagai topik, atau apakah ia terutama mengkitalkan bu­ku latihan atau buku pelajaran?

Teropong terhadap Anak-anak

  • Bagaimana ketika anak kita berbicara mengenai sekolahnya, kelasnya. Apakah penuh semangat, riang, antusias atau justru merasakan keputusasaan, kepasrahannya dan tidak ingin membicarakannya.
  • Apakah ia tampaknya belajar demi pengetahuan atau belajar untuk mendapat hadiah, nilai, penghargaan, atau pujian?
  • Apakah ia mendapat kesempatan untuk mengungkapkan berbagai keunikannya—kelebihan, bakat, dan kemampuannya—di sekolah, atau apakah ada banyak penekanan terhadap kesalahannya, ketidak-mampuannya, dan kekurangannya?
  • Apakah ia diperlakukan sebagai seorang manusia dengan cara bela­jarnya sendiri, atau apakah ia diharapkan untuk belajar dengan cara yang sama seperti murid-murid yang lain?

Jawaban bagi semua pertanyaan ini, dan pertanyaan lain yang serupa, akan membantu menentukan apakah anak-anak kita mendapatkan pendidikan yang Baik atau Tidak. Jika tidak, Kita bisa mencari alternative lain (diubah, pindah kelas, pindah kamar bagi yang boarding school atau pindah sekolah).

Muhammad Alwi: Guru/Dosen, Bekas Kepala Sekolah, Alumni Pasca Univ Brawijaya Malang, UM Malang, studi lanjut di Departement Psikology. Sekarang Trainer, Pendidikan Berbasis Topografi Otak dan Integrasi Multiple Intelligen dan KTSP. Menulis buku, “Belajar Menjadi Bahagia dan Sukses Sejati”, Impelemntasi Multiple Intelligence di Keluarga, Lembaga pendidikan dan Bisnis (Elexmedia, 2011, 304 hal). Yang akan terbit; “Pendidikan Berbasis Topografi Otak, implementasi Integrasi Multiple intelligence dan KTSP”.

Tentang pendidikan positif

Kami adalah Pendidik, Guru, Dosen dan Trainer. Alumni Pasca Sarjana Univ Brawijaya Malang, sekarang studi lanjut di Department Psychology. Kami mengembangkan Seminar, Workshop, dan berbagai Test berbasiskan psikology. Mulai dari 1. Workshop berbasiskan Multiple Intelligence, Topografi Otak, Power Personality, Performance Barrier, Succes with Understanding Personality, Otak Kanan- Otak Kiri, bagaimana mengetahui dan memanfaatkannya untuk sukses dll. Semua itu untuk pengembnagan SDM dan Human Capital. Baik untuk Guru, anak-anak (TK, SD, SMP, SMA, PT), juga untuk karyawan Industri dan Perusahaan. 2. Test test yang mendukung workshop dan seminar diatas seperti; a) Test Multiple Intelligence, b) Test Personality, c) Test Performance Barrier dll. Konsep Kami adalah......Discovering Your Royal road to learning, achievable and Personal Satisfaction. Bagaimana caranya? Caranya dengan discovering your talent, your ability (dengan pemahaman, test), the right place....maka sukses dan bahagia akan mudah didapatkan. Positif Pendidikan adalah Pendidikan yang berusahan menjadikan pebelajar (siapapun yang belajar), akan mampu untuk meraih tidak hanya sukses (achievable) tapi juga bahagia (will-being). Success and Happy.
Pos ini dipublikasikan di Psikologi dan Pendidikan. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s