PENDIDIKAN KARAKTER, TERORISME, DIKNAS DAN GURU AGAMA

TERORISME DAN PENDIDIKAN KARAKTER

Sekarang lagi digalakkan Pendidikan Karakter. Dimana diupayakan dengan pendidikan Karakter itu akan terciptalah Indonesia yang lebih baik. Dan untuk mencapai itu pemerintah melakukan intervensi berupa kurikulum disekolah. Ini sebuah upaya yang sangat baik. Mengingat problem bangsa ini sudah sangat-sangat mencolok mata. Ini bisa kita lihat dari 10 tanda-tanda kemunduran suatu bangsa yang dikemukakan oleh Thomas Lickona (Professor Perkembangan anak, pakar pendidikan karakter AS, mulai dari 1) Meningkatnya kekerasan di kalangan remaja. 2) Penggunaan bahasa dan kata-kata yang buruk, 3) Pengaruh peer group yang kuat dalam tindak kekerasan, 4) Meningkatnya perilaku yang merusak diri seperti narkoba, sex bebas dan alcohol, 5) Kaburnya pedoman moral baik dan buruk, 6) Penurunan etos kerja, 7) Rendahnya rasa hormat kepada orangtua dan guru, 8) Rendahnya rasa tanggungjawab baik sebagai individu dan warganegara, 9) Ketidakjujuran yang telah membudaya, 10) Adanya rasa saling curiga dan kebencian di antara sesama.

Ke-sepuluh-sepuluhnya secara kasat mata kita miliki. Mungkin Inilah yang membuat pemimpin bangsa ini gusar, dan melakukan penetrasi dengan mengembangkan, “Pendidikan Karakter” masuk kedalam kurikulum. Sehingga sekarang kurikulum KTSP (Kurikulum Tingkat satuan pendidikan), ditambah menjadi KTSP-Berkarakter. Tetapi upaya KURIKULUM PENDIDIKAN KARAKTER itu menurut kami belum menyentuh suatu masalah yang sangat besar dinegeri ini yaitu DISINTEGRASI-BANGSA dan upaya PECAH-BELAH yang dilakukan oleh para oknum yang tidak bertanggung-jawab.

Dari berbagai bukti mulai dari Bom Bali 1 (Ali Imron cs), Bom Bali 2, Bom Js Merriot, apa yang dikatakan oleh Kepala Divisi Humas Polri, tentang jaringan Abu-Oemar di Indonesia (yang katanya akan menyerang dan menghidupkan kembali perang terhadap Syiah di Inddonesia dan akan menyerang serta mengganggu pemerintah dimulai dipolsek-polsek), bom buku, Bom Bunuh Diri (di kantor kepolisian), yang mungkin modus baru, infomasi dari Wikiliek, informasi dari pengamat Sydney-Jones serta informasi-informasi lainnya. Sangat terlihat bahwa upaya-upaya mengacaukan negeri ini sudah sedemikian serius.

Orang-orang pelaku ini, atau yang direkrutnya adalah anak-anak dan pemuda-pemuda yang “BAIK” secara kejujuran, tingkah laku, pandai (umumnya cukup pandai saat sekolah atau kuliah dst), beragama dengan ‘baik’ (sholat, puasa, mengaji dst). Artinya secara konseptualisasi “Karakter” mereka bisa dikatakan “Ber-karakter”. Tetapi mereka punya suatu “Pemahaman” yang in-toleransi. Yang berbeda dengan mereka dikatakan kafir, thogut, maka layak untuk dilawan dengan cara apapun termasuk halal untuk dibunuh.

Yang Perlu Diketahui Oleh DIKNAS dan Guru Agama

Biasanya rekruitmen secara konsep-ajaran mereka-mereka ini dimulai sejak SMP dan SMA. Sebab anak-anak usia SMP, SMA itu adalah anak-anak dalam usia pencarian. Baru tahap rekruitmen kelompok itu ditempat lain atau saat mahasiswa. Mereka tidak akan mungkin seperti itu kalau tidak ada yang mengajari, memberikan informasi dan memprovokasi. Bila sejak dini, kebencian kepada kelompok lain, kelompok minoritas, kelompok yang berbeda pandangan dan aliran. Kalau sejak dini diajarkan intoleransi, yang berbeda menjadi Thogut, takfir (mengkafirkan) kelompok lain. Maka akan sangat mungkin dan jelas potensi itu kedepannya. Akan sangat mungkin potensi konflik yang lebih berdarah bisa terjadi kedepannya. Tidak hanya itu; bila pelajaran takfiriah (pengkafiran kelompok lain) itu dibiarkan, bahkan tidak diantisipasi sejak dini, maka akan sangat mungkin terror dan terorisme di Negara ini tidak akan berhenti, tanpa harus dieksport dari negara lain, bahkan bisa lebih parah dimasa mendatang.

Seperti dilansir beberapa waktu lalu, dimana terorisme yang melanda Indonesia itu disebabkan oleh faham-faham yang mudah mengkafirkan kelompok lain (Faham-faham takfiriyyah), dimana mereka akan mengkafirkan kelompok yang tidak sepemahaman dengan kelompok mereka. Akhirnya menghalalkan darah, dan seterusnya. Itulah rentetan logis mengapa mereka mampu, mau dan merasa tidak berdosa untuk melakukan Teror, bahkan Bom Bunuh Diri dan lain sebagainya, dimana korbannya adalah warga Indonesia juga sebagian besar kaum sesama Muslim.

 Kepada Aparat, Diknas Terkait dan Guru Agama

Karena pendidikan, sekolah mulai dari SD, SMP, SMA adalah tempat paling layak mendapatkan informasi dan pembelajaran. Maka pembelajaran disekolah, semua guru dan khususnya Pelajaran Agama, nota-bene guru agama, semestinya memberikan pembelajaran agama yang sejuk dan Rahmatan Lil Alamin. TIDAK HANYA PENDIDIKAN KARAKTER (jujur, disiplin, antusias, bisa bergaul dst yang ada di lesson-plan, RPP dan Silabus).

Disamping itu mestinya semua guru, khususnya guru-guru agama mendapatkan bekal yang cukup akan pluralisme agama, pluralisme madzab dan pemikiran. Dengan itu maka Madzab Takfiriyyah (pemahaman yang mudah mengkafirkan kelompok lain yang tidak sependapat dan sefaham), tidak bersemai subur dan mendapatkan pembenaran sejak awal.  Dan kelompok-kelompok seperti diatas tidak tumbuh subur dinegeri ini, Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) yang Demokratis, dan berlandaskan Pancasila.

 

Wassalammu’alaikum Wr Wb

Tentang pendidikan positif

Kami adalah Pendidik, Guru, Dosen dan Trainer. Alumni Pasca Sarjana Univ Brawijaya Malang, sekarang studi lanjut di Department Psychology. Kami mengembangkan Seminar, Workshop, dan berbagai Test berbasiskan psikology. Mulai dari 1. Workshop berbasiskan Multiple Intelligence, Topografi Otak, Power Personality, Performance Barrier, Succes with Understanding Personality, Otak Kanan- Otak Kiri, bagaimana mengetahui dan memanfaatkannya untuk sukses dll. Semua itu untuk pengembnagan SDM dan Human Capital. Baik untuk Guru, anak-anak (TK, SD, SMP, SMA, PT), juga untuk karyawan Industri dan Perusahaan. 2. Test test yang mendukung workshop dan seminar diatas seperti; a) Test Multiple Intelligence, b) Test Personality, c) Test Performance Barrier dll. Konsep Kami adalah......Discovering Your Royal road to learning, achievable and Personal Satisfaction. Bagaimana caranya? Caranya dengan discovering your talent, your ability (dengan pemahaman, test), the right place....maka sukses dan bahagia akan mudah didapatkan. Positif Pendidikan adalah Pendidikan yang berusahan menjadikan pebelajar (siapapun yang belajar), akan mampu untuk meraih tidak hanya sukses (achievable) tapi juga bahagia (will-being). Success and Happy.
Pos ini dipublikasikan di Psikologi dan Pendidikan. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s