Penelitian Psychology : Rasa Syukur

Hanya sedikit sekali dari hamba-hamba-KU yang tahu ber-syukur (QS, 34:13)

Bersyukurlah kepada Allah. Dan barangsiapa yang bersyukur (kepada Allah), maka sesungguhnya ia bersyukur untuk dirinya sendiri; dan barangsiapa yang tidak bersyukur, maka sesungguhnya Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji.” (Luqman, 31:12)

Syukur  telah mulai dipelajari secara ilmiah oleh ilmu psikologi baru-baru ini. Sudah ribuan tahun yang lalu pentingnya syukur telah diakui oleh para filsuf, pemikir agama, dan guru spiritual. Ternyata syukur sangat terkait dengan beberapa aspek psikologis dan kesejahteraan fisik. Menurut penelitian, orang bersyukur memiliki emosi yang lebih positif, kepuasan hidup, vitalitas, optimisme, perasaan menyenangkan, empati, kemurahan hati, dan jarang depresi dan stres.

Dr Ed Diener dari Universitas Illinois, pakar Kebahagiaan membuat Satisfiction With Life Scale (Skala Kepuasan Hidup). Dengan 5 pertanyaan dibawah ini. Jawabannya 1 sampai 7. 1 sangat tidak setuju, 7 sangat setuju.

  1. Dalam banyak hal kehidupan saya mendekati ideal.
  2. Kondisi hidup saya sangat baik.
  3. Saya puas dengan hidup saya.
  4. Sejauh ini saya mendapatkan hal-hal penting yang saya inginkan dalam hidup.
  5. Jika saya menjalani hidup  selamanya, hampir tidak ada yang akan saya rubah.

Jika jawaban anda adalah;

(30-35) : Ada sangat puas sekali; (25-29) Anda sangat puas; (20-24) Cukup puas; (15-19)  Agak Kurang Puas; (10-14)  Tidak puas; (5-9) Tidak puas sama sekali.

 

Tapi pertanyaannya; bagaimana para peneliti psikologi tahu itu? Bukankah karena orang yang bahagia lalu menyebabkan rasa syukur? Atau karena memiliki kehidupan yang baik, bahagia dan juga akibatnya ada rasa syukur? “Syukur tidak hanya kebajikan terbesar, tapi induk dari semua kebajikan yang lain” (Cicero).

Robert Emmons dan Mike McCullough adalah dua peneliti terkemuka pada topik ini. Berikut adalah beberapa hasil mereka:

Studi Pertama: Dikelompokkan peserta penelitian  dalam dua kelompok, dimana mereka dipantau terus dan harus menuliskan kegiatan-kegiatan yang menyebakan dia bersyukur dan sebaliknya. Peserta yang membuat daftar syukur lebih banyak, cenderung membuat kemajuan pribadi yang lebih penting (akademik, interpersonal, dan kesehatan-dasar) selama dua bulan dibandingkan dengan peserta dalam kelompok eksperimen lain.

Studi Kedua: Dalam studi lain menggunakan latihan harian yang dipandu dengan orang dewasa muda, para peserta dalam kelompok intervensi syukur melaporkan tingkat yang lebih tinggi pada keadaan-keadaan yang positif seperti; kewaspadaan, antusiasme, perhatian, tekad, dan energi dibandingkan dengan dua kelompok lain (yang selalu berfokus pada kerepotan, atau pada bagaimana mereka berpikir untuk lebih baik daripada yang lain). Juga, para peserta dalam kelompok intervensi syukur, lebih mungkin untuk melaporkan memiliki seseorang yang membantunya dalam masalah pribadi atau merasa memiliki dukungan emosional dari seseorang, dibandingkan dengan dua kelompok lainnya.

Dalam studi ketiga, kali ini orang dewasa dengan penyakit neuromuskuler, intervensi syukur 21-hari menghasilkan durasi tidur yang lebih baik dan kualitas tidur, jumlah yang lebih besar dari energi tinggi suasana hati positif, Perasaan lebih terhubung dengan orang lain, dan penilaian optimis lebih dari seseorang hidup, relatif terhadap kelompok pembanding.  Efek yang paling kuat di semua tiga studi itu adalah dampak pada suasana hati yang positif.

Dan janganlah engkau tujukan pandangan kepada kenikmatan yang telah kami berikan kepada beberapa golongan dari mereka, (sebagai) bunga kehidupan dunia. agar kami uji mereka dengan (kesenangan) itu. Karena Tuhanmu lebih baik dan lebih kekal.(Qs Thoha: 131).

Sesiapa yang puas dengan yang Allah bagikan untuknya maka ia adalah orang yang paling kaya. Dan Ridho atas qadho Allah adalah derajat keyakinan yang paling Tinggi (Tufaqul ‘Uqul 200-201).

Air Mukamu (Kehormatanmu) itu beku yang akan mencair karena meminta-minta. Maka lihatlah kepada siapa kau mencairkannya (Ali bin Abi Tholib kw).

Tentang pendidikan positif

Kami adalah Pendidik, Guru, Dosen dan Trainer. Alumni Pasca Sarjana Univ Brawijaya Malang, sekarang studi lanjut di Department Psychology. Kami mengembangkan Seminar, Workshop, dan berbagai Test berbasiskan psikology. Mulai dari 1. Workshop berbasiskan Multiple Intelligence, Topografi Otak, Power Personality, Performance Barrier, Succes with Understanding Personality, Otak Kanan- Otak Kiri, bagaimana mengetahui dan memanfaatkannya untuk sukses dll. Semua itu untuk pengembnagan SDM dan Human Capital. Baik untuk Guru, anak-anak (TK, SD, SMP, SMA, PT), juga untuk karyawan Industri dan Perusahaan. 2. Test test yang mendukung workshop dan seminar diatas seperti; a) Test Multiple Intelligence, b) Test Personality, c) Test Performance Barrier dll. Konsep Kami adalah......Discovering Your Royal road to learning, achievable and Personal Satisfaction. Bagaimana caranya? Caranya dengan discovering your talent, your ability (dengan pemahaman, test), the right place....maka sukses dan bahagia akan mudah didapatkan. Positif Pendidikan adalah Pendidikan yang berusahan menjadikan pebelajar (siapapun yang belajar), akan mampu untuk meraih tidak hanya sukses (achievable) tapi juga bahagia (will-being). Success and Happy.
Pos ini dipublikasikan di Psikologi dan Pendidikan. Tandai permalink.

Satu Balasan ke Penelitian Psychology : Rasa Syukur

  1. Terima kasih artikelnya….semakin bersyukur

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s