PERBANDINGAN PSIKOLOGI IBN-SINA DAN SIGMUND FREUD (Bag 1 – Ibn Sina)

Definisi Jiwa/Ruh atau Nafs

Jiwa, Ruh atau nafs adalah satu jenis yang sama, karena perbedaan sifat-sifat dan hubungan kerjanya, maka disebut dengan cara-cara berbeda.

Ibn Sina mengatakan dalam teori psikologinya;  Jiwa atau kadang disebut an Nafs menurut Ibn Sina adalah Sesuatu/fakultas yang mampu bekerja sendiri. Contoh Batu, itu material, tetapi batu adalah kumpulan dari atom-atom, dan atom disepakati dari dulu adalah bagian terkecil. Diyakini bulat dan punya sifat selalu bergerak. Nah kemampuan selalu bergerak ini dari mana? Itu bukan sifat dari materialisasi batu itu, tetapi dikatakan, batu/atom itu punya jiwa. Jiwa sekali lagi adalah sesuatu fakultas yang mampu bekerja sendiri.

Setelah mendefinisikan Jiwa itu, maka Ibn Sina membagi-bagi kemampuan-kemampuan itu yaitu; Jiwa yang bekerja sendiri BERDASAR PILIHANNYA SENDIRI (A) dan BERDASARKAN KETERPAKSAAN (B). A.1. Pilihannya banyak dan tujuannya banyak (Jiwa Malakiyah, Akaliyah). Disini dalam jiwa Malakiyyah/Akliyah, terdapat daya yaitu ‘Akal Praktis’ dan ‘Akal Teoritis’. A.2. Pilihannya banyak dan 1 tujuan (Jiwa Hayawaniyah). Contohnya kemampuan Bergerak (disni ada Motif dan bergerak sebagai subjek) dan Berpersepsi. B.1. Terpaksa dan hanya 1 tujuan (disebut Thabatiyah), contoh Api yang selalu keatas. B.2. Terpaksa tetapi banyak tujuan (Jiwa Nabatiyah). Menjulurkan anggota tubuh pada hewan dan tumbuhan. Misalnya Tumbuhan mengarah pada sinar matahari. Disini ada Daya Makan, daya Tumbuh dan daya Reproduksi.

Jadi secara sederhana dengan penjelasan lain sebagai berikut; Makhluk dialam ini ada 3 yaitu 1) Makhluk Material (batu, air dst). Material ini hanya memiliki ‘jiwa’ Tabiiyah yaitu suatu fakultas yang membuatnya mampu bergerak sendiri. 2) Tumbuhan (ini mengandung atom + Jiwa Nabatiyah). Yaitu mampu bergerak, punya kemampuan tumbuh, berkembang, makan dst. 3) Hewan (ini mengandung atom + Jiwa nabatiyah + Jiwa hayawaniyah), sehingga hewan itu bisa bergerak terpaksa (atom-atomnya), tumbuh dan berkembang, makan dst, juga bisa punya kehendak, belajar dst..dst. 4) Manusia (punya atom + jiwa nabatiah + Jiwa hayawaniyah + Jiwa Akliyah/malakiyah). Sehingga manusia punya kemampuan bergerak, berkembang, makan, minum reproduksi, belajar, berkehendak dan berfikir. Makanya terkadang manusia disebut Hewan Rasional (Ada daya Hayawaniyah + Akliyah)

Bagaimana penciptaan Ruh (Jiwa Akliyah/Malakutiyah). Menurut Mulla Sadra, dengan Teorinya Al Harakah al Jauhariyah, intinya adalah bahwa Ruh itu awalnya adalah material dan menjadi non-material kelanggengannya (seterusnya). Penjelasan singkatnya sebagai berikut. Saat kita makan, maka makanan itu adalah material, tumbuhan atau hewan, dicerna oleh tubuh. Hasil pencernaan itu, maka zat-zat itu menjadi enzim, hormone dst..dst (lewat proses tubuh kita). maka material-material itu menjadi lebih halus…dan bagian-bagian itu menjadi lebih tinggi lagi yaitu saat zat-zat itu diolah oleh tubuh dan menghasilkan sel, sperma dan ovum (ini sudah naik sifatnya…mereka sudah memiliki jiwa Hayawaniyah dan Nabatiyah). Saat sperma dan ovum bertemu, maka menjadilah lebih sempurna lagi yaitu zygote, janin, bakal manusia. Dan saat usia kandungan 4 bulan, dikatakan..ditiupkan Ruh oleh Allah, maksudnya adalah saat itu kesempurnaan jiwa-jiwa tadi sudah berpotensi menjadi jiwa-akliyah/jiwa malakutiyah. Sebenarnya secara syariat, manusia itu diakui atau dianggap sebagai manusia saat mereka baligh yaitu saat kewajiban Tuhan berlaku pada mereka.

Kalau ditanya, lalu bagaimana ayat QS: 7: 172 yang berbunyi “Dan ingatlah ketika Tuhanmu mengeluarkan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian dari jiwa mereka (seraya berfirman): Bukankah Aku ini Tuhan kalian? Mereka berkata  Benar, kami menjadi saksi.” “Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari suatu Saripati  (berasal) dari tanah. Kemudian Kami jadikan saripati itu air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim)” (23:12-13).

Implementasi Daya-daya dalam Manusia

Manusia bila merasa lapar maka ingin makan, bila kepanasan ingin berteduh, bila bernafsu ingin mencari lawan jenis dst..dst.  Begitu kawin ingin reproduksi, menyayangi anaknya, kalau diserang akan menghindar atau melawan (ada otak reptile kalau bahasa sekarang….ada saraf simpatis dan para simpatis, dst). Ini semua adalah daya-daya Nabati dan Hewaniyah. Semua perbuatan-perbuatan itu adalah perbuatan-perbuatan ‘fitriyah’, naluri dari bawaan manusia. Artinya disini adalah netral, tidak ada kebaikan dan keburukan. Mulai dari manusia awam sampai yang paling sempurna melakukan itu semua. Walaupun dalam daya-daya hewaniyah sudah ada motif dan kehendak juga persepsi (seperti memori, Phantasia, dan daya indrawi yang 5)….makanya hewan bisa diajar dalam hal-hal yang sederhana. Tetapi semua itu masih instinctual (seperti Hewan-hewan yang ada). Dia bisa makan atau tidak makan….?

Dikatakan manusia itu sebenarnya setelah ada Akal (Jiwa Malakiyyah atau Jiwa Akliyyah). Sebab Jiwa ini punya daya selain daya-daya sebelumnya juga ditambah dengan kemampuan berfikir praktis (Akal Praktis) dan Teoritis. Yang isinya adalah Imajinatif dan Estimasi. Artinya dengan tambahan itu maka manusia mampu menggunakan kehendaknya, ikhtiyarnya dengan memilih mana yang layak dan tidak layak. Mana yang menyimpang dan tidak menyimpang. Baik menyimpang ditinjau dari sisi agama atau morallitas. Disini akal-lah yang mengatakan sesuatu itu baik dan sesuatu itu tidak baik (dan disinilah letak syari’at dalam agama mulai berlaku).

Makanya dalam konsep filosofis dikatakan bahwa, “baik dan buruk” itu hanya ada diakal saja. Sebab diluar itu hanya ada makan, minum, melawan, lari, reproduksi, sex..dst. Yang memberikan penilaian (judgment) adalah akal. Ini layak dilakukan, tidak layak dilakukan..ini baik dan ini buruk. Jadi penilaian baik buruk itu hanyalah ada dalam daya-akal atau jiwa malakiyyah (yang potensinya adalah ‘akal praktis’ dan ‘akal teoritis’).  Disinilah nantinya dalam agama, ada sisi pertanggung-jawaban dan sisi pahala dan dosa atau baik dan buruk. Daya daya akal atau jiwa malakiyyah atau Ruh atau Jiwa Akliyyah itu, yang menjadikan manusia itu secara Syar’I  terkenan tanggung-jawab.

Jadi Daya/jiwa Nabatiyah, Hayawaniyah dan Akliyah itu semua adalah fitrah, dengan tingkatannya masing-masing. Perbuatan daya Hayawaniyah dan Nabatiyah dinilai oleh daya Akliyah/Ruh sebagai Baik atau buruk.  Dan kalau ada pertanyaan mengapa manusia mengabaikan fitrah-nya (atau Fitrah Akalnya, ini dikarenakan disamping daya-daya diatas, manusia punya Ikhtiyar (Kehendak Bebas, Free Will). Kalau Ikhtiyar-nya memilih mengalahkan fitrah Akliyah dari fitrah Hayawaniyah, maka Akal-nya mengatakan perbuatanmu itu salah atau tidak baik (dalam agam keluar istilah Pahala dan Dosa).

 Disinilah mengapa manusia itu dikatakan manusia, atau mendapatkan taklif-syar’I (kewajiban syariat) setelah daya akal-nya cukup (balegh). Dan disinilah mungkin juga salah satu hikmah atau penjelasan, mengapa dalam agama Niat jelek itu tidak dianggap jelek (mendapat dosa), sebelum dilakukan (diamalkan), sebab  itu semua masih dalam kecendrungan-kecendrungan didalamnya.

Penulis  : Muhammad Alwi, Pasca Unibrwa, UM, Sekarang Studi lanjut Psikologi. Triner untuk Pendidikan. Pengarang Buku, “Belajar Menjadi Bahagia dan Sukses Sejati, Penerapan Multiple Intelligence dalam Keluarga, lembaga Pendidikan dan Bisnis”, Elexmedia-Gramedia, 2011. 304 hal.

 

Sumber :  Akhwal an-Nafs Risalah fi an-Nafs wa baqaiha wa Ma’adiha (Terj: Psikologi Ibn Sina), Pustaka Hidayah, 2009. Diskusi dengan Sinar Agama, Diolah.

 

Tentang pendidikan positif

Kami adalah Pendidik, Guru, Dosen dan Trainer. Alumni Pasca Sarjana Univ Brawijaya Malang, sekarang studi lanjut di Department Psychology. Kami mengembangkan Seminar, Workshop, dan berbagai Test berbasiskan psikology. Mulai dari 1. Workshop berbasiskan Multiple Intelligence, Topografi Otak, Power Personality, Performance Barrier, Succes with Understanding Personality, Otak Kanan- Otak Kiri, bagaimana mengetahui dan memanfaatkannya untuk sukses dll. Semua itu untuk pengembnagan SDM dan Human Capital. Baik untuk Guru, anak-anak (TK, SD, SMP, SMA, PT), juga untuk karyawan Industri dan Perusahaan. 2. Test test yang mendukung workshop dan seminar diatas seperti; a) Test Multiple Intelligence, b) Test Personality, c) Test Performance Barrier dll. Konsep Kami adalah......Discovering Your Royal road to learning, achievable and Personal Satisfaction. Bagaimana caranya? Caranya dengan discovering your talent, your ability (dengan pemahaman, test), the right place....maka sukses dan bahagia akan mudah didapatkan. Positif Pendidikan adalah Pendidikan yang berusahan menjadikan pebelajar (siapapun yang belajar), akan mampu untuk meraih tidak hanya sukses (achievable) tapi juga bahagia (will-being). Success and Happy.
Pos ini dipublikasikan di Psikologi dan Pendidikan. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s