FILM THE LAST SAMURAI DAN 1 MUHARRAM / 1 SURO

Dan Sang Kaisarpun Bertanya……”Tolong Ceritakan Bagaimana Sang Ksatria Sejati Meninggal? Lalu Dijawablah; Saya Akan Ceritakan kepada Anda, Bagaimana Dia Menjalani Hidup-nya”.

Dalam Film The Last Samurai dicerikan bahwa Jepang melakukan modernisasi, dan Karena Kebijakan yang ‘serampangan’ serta Pemimpinnya Sang-Kaisar (dipercaya Titisan Tuhan) yang kurang ‘Bijaksana’ akhirnya menghadapi Perlawanan yang ‘Serius’ (semacam Oposisi Loyal kepada penguasa). Perlawanan atau pemberontakan itu dipimpin oleh seorang yang sangat bijaksana, agung dan kesatria. Yang menjalani hidup-hidupnya dengan penuh kebajikan,  Ritual, Meditasi, Mengurus Rakyat daerahnya, keluarga dst dengan sangat-sangat “sempurna”. Sang Kesatria itu bernama Katsumoto (digelari difilm ini sebagai The Last Samurai).

Katsumoto taat pada Kaisar, karena dia sendiri percaya bahwa sang kaisar adalah kebenaran tertinggi. Sehingga waktu dia dipanggil untuk rapat dewan (semacam DPR di Indonesia), dan dia disuruh menanggalkan atribut-atribut ke-Kesatria-nya (Ke-Samuraian-nya), dia menolak. Kecuali kalau itu perintah kaisar. Katanya; “Kalau sang Kaisar mau, dia hanya menyuruhnya untuk mati…maka dia akan membunuh dirinya”. Tapi Sang Kaisar (Kebenaran Tertinggi, Diyakini sebagai Titisan Tuhan) menjawabnya dengan Diam. Inilah ketidakpastian..ini yang akhirnya Katsumoto meyakini bahwa Negara itu sudah tercengkeram atau terpengaruh oleh keinginan ‘kurang baik’ dari ‘wakil kaisar’ (manusia biasa) yang bernama Oumura (Bukan keinginan Kaisar = Kebenaran tertinggi). Ini menarik bila dihubungkan dengan diskusi teologis serta “Pemerintahan Islam yang Teokrasi” (semacam pertanyaan kaum khawarij pada Ali Bin Abi Tholib. Kamu ‘kebenaran’ mengapa kamu ikuti suara mayoritas pengikutmu untuk tahkim, saat terjadi peperangan antara Ali bin Abi Tholib Vs Muawiyyah bin Abu Sofyan? Berarti kamu (Ali) salah (kata orang Khawarih)….maka….maka dst).

Katsumoto

Dan Katsumoto melakukan perlawanannya sampai titik darah penghabisan dengan terbunuh mati secara Kesatria sebagai seorang Samurai. Keseharian Katsumoto yang sangat-sangat menarik dan mengharukan dalam film itu, diiringi dengan music yang betul-betul menyentuh. Kadang tanpa terasa kita meneteskan air mata.

1 Muharram = 1 Suro….adalah Tahun “Tahun Baru Islam”….dan Salah 1 yang sudah dianggap umum adalah bahwa Bulan ini adalah bulan sedih, Lebarannya anak-anak Yatim dst..dst. Bubur Suro diedarkan, Keris-keris dimandikan (Tradsi Jawa). Tidak diizinkan melakukan Perkawinan dan hajatan bersenang-senang (Tradisi Jawa dan Keturunan Arab dll di Indonesia), Peristiwa Tabut digelar (di Sumatra). Mengapa? Intinya adalah MENGHORMATI KEMATIAN TRAGIS CUCUNDA RASUL SAW (Husein Bin Ali Bin Abi Tholib kw). Mengapa Husein Bin Ali, mengorbankan dirinya semacam itu? Ini yang jarang dipelajari masyarakat umum (bahkan yang memperingatinya dengan Tabut, Bubur Suro dll).

Kita sering mengenang KEMATIANNYA. kita sering meratapi kepergiannya. Tapi..tapi….Pernahkan kita, mengenang, menceritakan, mempelajari secara “baik” KEHIDUPANNYA?

Saat akhir Film The Last Samurai, Sang Kaisar (yang dipercayai Titisan Dewa = Kebenaran Tertingi) meminta pada Kapten Augrean, “Tolong Ceritakan Bagaimana Sang Ksatria Sejati (The Last Samurai = Katsumoto ) Meninggal? Sang Kapten Menjawab; Saya Akan Ceritakan kepada Anda, Bagaimana Dia Menjalani Hidup-nya”. Saya pribadi terus terang tanpa terasa menangis dan sering mengulang-ulang Film ini…bahkan mencari lewat browsing Internet lagu klasik…yang mengiringinya.

“Manusia bisa meninggal seperti meninggalkan Husein…manusia bisa berdedikasi total seperti dedikasinya Husein bin Ali. Itu bukan tiba-tiba….bukan sekonyong-konyong. Persiapan, olah tubuh, rasa, jiwa, pikiran harian, didikan, lingkungan dst..dst..Beliaulah yang akhirnya mengantarkan kesiapan seperti itu.

Apabila kita membaca Tragedi Karbala (yang melatari Kepercayaan hari-hari Muharram), baik buku standart atau berupa novel-novel. Ada teks yang sangat mengaharukan yang diucapkan Husein bin Ali. Sambil melemparkan darah (anaknya yang masih kecil, yang meninggal, dipanah oleh musuhnya), ke-udara, Beliau mengatakan; ”Ya Allah Semua ini Murah….semua ini murah demi Ridhomu….untuk pengabdian pada-MU.

Semoga kita tidak hanya mengenang kematiannya, menangisinya tetapi kita tidak mentauladani kesehariannya….bagaimana dia menjalani hidup-hidupnya. Bagaimana hubungan Dia dengan Tuhannya, dengan Keluarganya, dengan Tetangganya…hubungan dengan sesama muslim dan memilih pilihan-pilihan Pribadinya.

 Doa  :

Tuhanku, tunjukkan daku cara Engkau “melihat perkara”. Atau bagaimana Kau menghukumi. (Sehingga aku tidak tergelincir dengan buramnya masalah-masalah didepanku).  Apakah Agama itu cinta terhadap “nama-nama”? ataukah mengenali teladan-teladan dan pola-pola dasar? Apakah mungkin ia adalah sebentuk pengenalan biografis?

Tuhanku, anugerahkan padaku hidup yang ketika mati tiba di saat yang tidak berbuah apapun, aku tidak menyesalinya. Berikan aku hidup yang tidak kusesali dan penyia-nyiannya. Tuhanku, gariskan jalan hidupku. Agar ketika ajal tiba, aku dapat menggariskan jalan matiku sendiri. Biarkan aku yang memilihnya, asalkan Kau meridhainya.

Tuhanku, berikan aku keselamatan di tengah bencana besar penyakit kebodohan yang terlupakan karena telah menyerang (mengktritik dengan cara tidak baik) semua orang. Bahkan setiap orang yang belum menderita pun, tampak sakit. Tuhanku, selamatkan aku dari penyakit “menyembelih hakikat di pejagalan syariat”.

Tuhanku, jangan jadikan imanku terhadap Islam dan cintaku kepada Ahlulbait (Keluarga Nabi saw), seperti iman para pedagang agama yang fanatik dan reaksioner. Supaya kebebasanku tidak tertawan oleh kerelaan “orang awam”, agamaku terkubur di balik gengsi keagamaan dan aku menjadi peniru para peniru. Dan pada gilirannya, aku tidak akan berbicara tentang apa yang aku anggap benar, hanya karena orang lain menganggapnya tidak baik.

Tuhanku, aku tahu bahwa Islamnya Nabi-Mu telah dimulai dengan “Tidak”. Dan aku pun tahu bahwa pengikut dan yang mentauladani Husein, juga diawali dengan “Tidak”! Tuhanku, jadikan aku “Kafir” terhadap “Islam Ya” dan “Pengikut Ya”!

Dr. Ali Shariati

Tuhanku, Ingatkan daku selalu akan tanggung jawab menjadi Islam dan Pecinta Husein. Yaitu menjadi seperti Husein. Hidup seperti Husein. Mati seperti Husein. Menyembah seperti Husein menyembah. Berpikir serupa dengan pikiran Husein. Berjihad sepertinya, Beramal seperti beliau. Berbicara seperti beliau. Berdiam diri seperti Husein. Itu semua yang sebatas kemampuanku saja. Ingatkan aku selalu untuk mencari “ego” yang mirip Husein dalam jiwa yang multi dimensional.

Buatlah diriku Mampu bicara dengan baik, mampu beribadah dengan baik, mampu bekerja dengan baik, mampu berjuang denngan baik, punya kelembutan, punya tanggung jawab dalam masyarakat, punya pena yang baik dalam tulisan-tulisan, Mukmin dalam segenap kehidupan, Punya pengetahuan mendalam tentang Islam, berkeadilan dalam pemerintahan,  kebapakan dalam pendidikan dan rumah tangga. Meskipun demikian, bila itu semua kau berikan padaku….Jadikan Aku tetap salah seorang hambaMU Ya Allah! Tidak terbersit sedikitpun kesombongan dan sifat penyakit hati lainnya.

Tuhanku, jadikan hamba seorang Islam, Pecinta yang bertanggung jawab dan setia terhadap ideologi, persatuan dan keadilan yang merupakan tiga sila yang diperjuangkan Husein dalam kehidupannya, yaitu Setia kepada kepemimpinan dan persamaan yang merupakan “agama” beliau, dan setia kepada pengorbanan semua keuntungan demi jayanya kebenaran yang telah menjadi sikap hidupnya.  Amien….amien……..amien3x Ya Robbal Alamien.

(teks Doa, Diringkaskan dari buku “Doa” Karya Ali Syariati, dengan Modifikasi).

Tentang pendidikan positif

Kami adalah Pendidik, Guru, Dosen dan Trainer. Alumni Pasca Sarjana Univ Brawijaya Malang, sekarang studi lanjut di Department Psychology. Kami mengembangkan Seminar, Workshop, dan berbagai Test berbasiskan psikology. Mulai dari 1. Workshop berbasiskan Multiple Intelligence, Topografi Otak, Power Personality, Performance Barrier, Succes with Understanding Personality, Otak Kanan- Otak Kiri, bagaimana mengetahui dan memanfaatkannya untuk sukses dll. Semua itu untuk pengembnagan SDM dan Human Capital. Baik untuk Guru, anak-anak (TK, SD, SMP, SMA, PT), juga untuk karyawan Industri dan Perusahaan. 2. Test test yang mendukung workshop dan seminar diatas seperti; a) Test Multiple Intelligence, b) Test Personality, c) Test Performance Barrier dll. Konsep Kami adalah......Discovering Your Royal road to learning, achievable and Personal Satisfaction. Bagaimana caranya? Caranya dengan discovering your talent, your ability (dengan pemahaman, test), the right place....maka sukses dan bahagia akan mudah didapatkan. Positif Pendidikan adalah Pendidikan yang berusahan menjadikan pebelajar (siapapun yang belajar), akan mampu untuk meraih tidak hanya sukses (achievable) tapi juga bahagia (will-being). Success and Happy.
Pos ini dipublikasikan di Filsafat dan Agama. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s