Pendidikan…oh Pendidikan..Bahayanya? Pendidikan dan Hegemoni Makna ( Bagian 1 dari 2)

“Berilah kasih sayangmu (padanya, anak-murid, siswa dst: pen), tapi jangan sodorkan bentuk pikiranmu,… jiwa mereka adalah penghuni masa depan yang tiada dapat kau kunjungi sekalipun dalam mimpi… sebab kehidupan tidak pernah berjalan mundur, pun tidak tenggelam dimasa lampau ” (Aforisma, Khalil Jibran Khalil)

Istilah pedagogy hitam, sudah keluar sejak lama…utamanya setelah Paul-Freire (Pendidik-Marxian) menulis buku tentang “Pedagogy of the oppressed” (pendidikan kaum tertindah). Dalam buku ini Freire mengeritik pendidikan sekarang yang bukan memanusiakan manusia tetapi justru menjadikan manusia menjadi bisu….buta.

Pendidikan adalah upaya menjadikan potensi menjadi aktualita…menjadikan yang awalnya ‘tidak punya menjadi punya’. Punya pengetahuan, ilmu, skill, kesadaran, kekayaan, kesehatan dst. Pendidikan akan menjadi seperti ini katanya, bila pendidikan itu melakukan tugasnya dengan baik…bila tidak maka akan sebaliknya. Sebab Kurikulum, buku, proses pendidikan, pembelajaran, strategi, metode guru itu, katanya lebih lanjut, sebenarnya mengantarkan sesuatu “Realitas” kepada para murid-nya.

Walau dalam pendidikan kontruktivism (konsep pendidikan yang sekarang banyak dianut, di Negara kita utamanya, dari filsuf Pengetahuan, Jean Piaget) mengatakan bahwa anak-lah yang mengkontruk realita (makna), dan itu memang ‘benar’. Tetapi mesti kita juga ingat, kontruk awal menentukan kontruk selanjutnya kata Piaget. Kontruk selanjutnya ditentukan oleh realita yang datang….Apa artinya?

Bettencourt (1989) juga menyebutkan beberapa hal yang menghambat kontruksi pengetahuan manusia; 1) Kontruksi pengetahuan kita yang lama, 2) Domain pengalaman kita, 3) Jaringan struktur kognitif kita.

Bila realita sudah diredusir….anak tidak melihat ‘realita sebenarnya’…tetapi realita yang disodorkan kepadanya…realita-nya seorang guru? Pendidikan model ‘bank’. Anak menghafal kejadian sesuatu, tahap demi tahap…dst. Tidak ada pertanyaan mengapa? Mengapa harus seperti ini dst. Maka bukan realita yang dilihat anak, tetapi pseudo-reality (realitas yang sudah teredusir oleh kepentingan, keinginan, skala prioritas dst seorang guru).

Kita lihat saja contoh kecil kejadian kecelakaan; kerumunan masa itu melihat berbagai macam realitas, fakta. Ana yang mengamati bagaimana otak-nya keluar dari tempurung kepala korban, bagaimana darah tercecer. Ada yang mengamati bagaimana orang-orang yang mengambil kesempatan dalam kesempitan, mengamankan dompet, jam-tangan, sepatu bahkan kaca-mata si korban. Ada yang mengamati bagaimana kerumunan massa teriak-teriak saling berdesakan, padahal si korban butuh pertolongan cepat. Ada yang mengamati bagaimana sikap lambannya petugas kepolisian datang dst…dst. Inilah realita, inilah fakta yang bermacam-macam.

Guru dalam kelas bisa meredusir itu….wartawan juga….televisi apalagi. Tergantung mana yang ditulis, tergantung mana yang diajarkan, tergantung mana yang dicatatakan, disodorkan, didokumentasikan….kalau ingin ngerjai polisi, maka polisi yang lagi kurang sigap yang didokumentasikan dst.

Antony Gidden mengatakan; Tindakan manusia dapat dibedakan menjadi; 1) Motif tidak sadar (unconciousness motives). Ke kampus bukan cari ilmu, hanya rutinitas, “kenapa kita pakai pakaian warna ini hari ini?”, “Mengapa kita naik angkutan kota line ini sekarang kok tidak nanti?” dan seterusnya. Ini semua dilakukan karena “ada rasa aman secara ontologis” (ontologis security), sehingga tidak perlu mempertanyaan setiap tindakan. Kita tidak perlu berfikir mengapa? 2) Kesadaran Praktis (practical conciousness), yaitu tindakan yang dilakukan sesuai dengan petunjuk, kebiasaan, formalisasi aturan, procedural (sehingga tidak perlu dipertanyakan lagi). Tindakannya sudah sesuai prosedur. Dalam contoh dunia pendidikan, kita lihat bagaimana rutinitas sekolah, interaksi guru-murid, diknas dst. Mengapa kita melakukan ini, itu tidak dipertanyakan lagi. Kenapa sih SD, sekolah dasar kok 6 tahun, SMP, 3 tahun dan SMA, 3 tahun? 3) Kesadaran diskursif (discursive conciousness) disini dalam melakukan tindakan, kita selalu memiliki cakrawala yang luas, menghubungkan kejadian yang satu dengan yang lain, selalu melakukan analisa social, mempertanyakan mengapa dan apa sebab harus melakukan ini itu dan seterusnya.

Tindakan yang ketiga inilah yang memungkinkan kita berubah….dari tidak tahu menjadi tahu, dari salah menjadi benar…dari terjajah menjadi merdeka..dari miskin menjadi kaya…dari tidak sadar menjadi sadar dst. Inilah inti pendidikan mestinya.

Contoh-contoh ‘Kesalahan’ berfikir tingkat dunia, yang akhirnya diubah; Galelio mengubah konsep gereja dari bumi sebagai pusat menjadi Matahari (Sehingga Paus sendiri mengakui keslahan Injil, dan mengatakan bahwa Injil itu bukan kitab Sain), Revolusi Einstein mengganti cara berfikir Newtonian, tadjid-tadjid ulama besar seperti Syafi’I dengan buku Ar-Risalah-nya, Khomeini dengan konsep Wilayah-Faqih (di madzab Syiah) dst.

Lihat saja pendidikan-pendidikan sekarang ini (Disekolah, kelas, kampus dan ditempat-tempat lain, bahkan ditempat kerja (yang katanya menghasilkan uang, kalau dikelas kan tidak dapat uang). Bila  pendidikan itu benar-benar “memanusiakan-manusia”. Maka sebenarnya tidak akan ada kata-kata seperti ini (dalam proporsi dominan); Selesai sekolah, pulang dari kampus, selesai kerja mereka sangat senang….dengan perasaan legah kebanyakan kita mengatakan; “aaah selesai sudah”, Aaaah legaaaah….sudah selesai, dst. Perasaan tidak enak itu bisa kita survey sederhana dengan bertanya pada anak-anak didik kita dikampus, kelas, karyawan-karyawan kita dll. Pertanyaan itu adalah; “Anak-anak sekarang ada pelajaran atau libur?” “Bapak-bapak atau Ibu, sekarang masuk kerja atau libur?” Jawabnya jelas, sekali lagi dengan proporsi besar dan jelas, jawabnya adalah libur…libur dan libur. Apa artinya itu? Seakan ditempat sebelumnya itu (Kelas kampus, kantor), dia (kita) menderita, dan setelah keluar dari sana (Aktivitas-aktivitas tadi), mereka, kita, menjadi lega…enak, dan ingin meninggalkan itu semua…untuk kembali sebagai ‘manusia’.

Inilah yang seharusnya menjadii tolok ukur pendidikan itu. Apakah pendidikan kita itu “memanusiakan manusia” atau tidak, dan ini juga semestinya menjadi tolok ukur apakah cara kita mengajar sudah sukses atau tidak.

(Bersambung Ke 2)

Tentang pendidikan positif

Kami adalah Pendidik, Guru, Dosen dan Trainer. Alumni Pasca Sarjana Univ Brawijaya Malang, sekarang studi lanjut di Department Psychology. Kami mengembangkan Seminar, Workshop, dan berbagai Test berbasiskan psikology. Mulai dari 1. Workshop berbasiskan Multiple Intelligence, Topografi Otak, Power Personality, Performance Barrier, Succes with Understanding Personality, Otak Kanan- Otak Kiri, bagaimana mengetahui dan memanfaatkannya untuk sukses dll. Semua itu untuk pengembnagan SDM dan Human Capital. Baik untuk Guru, anak-anak (TK, SD, SMP, SMA, PT), juga untuk karyawan Industri dan Perusahaan. 2. Test test yang mendukung workshop dan seminar diatas seperti; a) Test Multiple Intelligence, b) Test Personality, c) Test Performance Barrier dll. Konsep Kami adalah......Discovering Your Royal road to learning, achievable and Personal Satisfaction. Bagaimana caranya? Caranya dengan discovering your talent, your ability (dengan pemahaman, test), the right place....maka sukses dan bahagia akan mudah didapatkan. Positif Pendidikan adalah Pendidikan yang berusahan menjadikan pebelajar (siapapun yang belajar), akan mampu untuk meraih tidak hanya sukses (achievable) tapi juga bahagia (will-being). Success and Happy.
Pos ini dipublikasikan di Psikologi dan Pendidikan. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s