Pendidikan..oh Pendidikan..Bayahanya? Pendidikan dan Hegemoni Makna (Bagian 2, Habis)

Dalam karya besarnya pemikir komunis Italia (Antonio Gramsci, 1891-1937) ‘Prison Notebooks’ (sudah ada edisi Indonesia-nya) mengatakan, “Hegemoni kekuasaan dapat dijadikan alat menjadi hegemoni makna”. Manusia secara ontologism memang bebas; ada kebebasan secara fisik (yaitu bebas dari belenggu, tidak terikat dll) dan bebas secara rohani (yaitu kemampuan untuk menentukan diri sendiri, apa yang kita fikirkan, bergerak kemana, untuk menghendaki sesuatu, untuk bertindak secara terencana dll). Kebebasan rohani kita bersumber dari akal budi kita, Kebebasan rohani kita seluas jangkauan fikiran dan bayangan kita. Makin luas jangkauan fikiran kita makin luas kebebasan kita. Sedangkan keluasan jangkauan kita, itu tergantung dari wacana, cakrawala berfikir, dan langit langit pikiran kita. Ini semua tergantung dari pengalaman kita, atau informasi yang kita miliki. Makin luas pengalaman dan informasi yang kita miliki makin banyak alternatif-alternatif yang kita punya dan makin besar pula kebebasan kita

Ada ucapan yang sering saya ulang-ulang; “Tidak mungkin anak dari pedalaman papua, yang masih tidak mengenakan pakaian lengkap, berimajinasi, berhayal untuk merampok bank dengan membobol security computer ATM”. Apa arti, makna kata ini? Kurang lebihnya adalah; kita berfikir, mengatakan salah-benar, berguna-tidak berguna (yang ini sering membuat beda pendapat, ribut-ribut, demo, bahkan perang), perlu-tidak perlu, dikerjakan sekarang atau nanti, skala prioritas, tergantung wacana kita masing-masing. Darimana wacana itu?

Contoh lain, kita pengguna internet (kita pasti ingat… GOOGLE, seach-engine yang sangat berkuasa). Bila kita, anda ‘tidak disukai’ oleh-nya. Maka anda masuk daftar pencarian lembar ke 12. Apa artinya itu? Informasi yang ingin anda tampilkan tidak ‘mungkin’ terbaca, diketahui orang. Makanya jangan heran kursus SEO (Search engine operation, bagaimana menempatkan daftar web kita di 10 teratas) sangat mahal. Dan teman-teman penggemar FB (Supaya pesanya terbaca banyak…menulis di wall sambil mengatakan….terusannya di comment. Karena wall halamannya terbatas).

Dalam pembelajaran ekonomi (kebetulan saya praktisi pendidikan, guru, dosen Matematika/Ekonomi) misalnya….saat kita membahas pengaruh permintaan-penawaran dan subsidi, tax (pajak) dst. Dengan menggunakan grafik-grafik, gambar-gambar, limit, turunan differensial dst (rumus-rumus matematika). Pasti disni akan terlihat bahwa campur-tangan (pemerintah) apapun (subsidi ataupun pajak) akan merugikan, baik dari sisi penjual atau pembeli. Apa benar seperti ini realitanya? (ini bukan realita tapi pseudo-realita….yang semestinya guru-guru memahami itu. Bila tidak kita ikut kesepakatan umum…bertindak dalam kesadaran no 2…bukan Diskursif. Tidak akan merubah apa-apa. Pendidikan menjadikan Status-Quo).

Kita perlu lihat….banyak realita yang kita lihat, yang disodorkan pada kita….yang lebih parah adalah mulai dari anak-anak realita itu di konstruk. Sebenarnya sudah teredusir oleh kelompok tertentu…kepentingan tertentu.

Dalam pendidikan nasional misalnya; Awalnya tujuan pendidikan ada di GBHN (mau dijadikan apa anak didik kita, remaja kita….sebenarnya ini guide-nya), disini peran lembaga legislative sangat penting. Lalu masuk ke UU Sisdiknas (lihat demo-demo dan gonjang-ganjing UU ini waktu itu. Karena muatan, arah, tujuan, sarat disini. Lihat juga dulu tahun 80 akhir atau awal 90an, demo-demo tentang pakaian jilbab disekolah, foto tidak boleh menggunakan jilbab karena harus terlihat telinganya…mengapa bisa seperti itu? Bukankah presiden, mentri dll adalah orang Islam???), lalu Perpu atau peraturan setingkat kementrian (lihat masalah UAN, masalah jurusan IPA, IPS, dulu ada A1, A2, A3, A4, sekarang kembali IPA, IPS dan Bahasa. Bagaimana gonjang-ganjing-nya UAN, kalah di MK tetap jalan dst). Lalu keluarlah kurikulum (yang diacu adalah kompetensinya, indicator-indikator pencapaian keberhasilannya). Dst…dst.

Kurikulum kita sudah berubah-ubah mulai dari Kurikulum 84, 89, 94, 99/KBK (Kurikulum Berbasis Kopetensi), KTSP (Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan), sekarang keluar SBI (Sekolah Bertaraf Internasional), SBI dengan Cambridge Certificate. Disini kita bisa lihat arah-tujuan, kepentingan dst….dst. kita juga bisa lihat proporsi pelajaran social, pelajaran Character building, moral dan agama, pelajaran sain dan bahasa dst….mengapa proporsi-nya seperti ini? Jelas ada tujuan, kepentingan, proyek dst…dst.

Dari kurikulum-kurikulum itu, komperensi dasar dan indicator-indikator itu keluarlah buku-buku yang ditulis oleh para ‘pakar’ dan penerbit. Dan inilah yang dibaca oleh anak-anak kita…diajarkan oleh guru dst. Mereka (para guru, sekolah) takut keluar dari itu, sebab ada ulangan bersama (standartrisasi sama satu kabupaten, kecamatan dst), ada kisi-kisi, mereka takut keluar dari itu, sebab bisa muspro (tidak berguna) sebab diajarkan tapi tidak kelaur UAN. Diajarkan tapi tidak kelauar di SPMB, UMPTN, SIMAK atau apalah istilah penjaringan ke perguruan tinggi negeri.

Belum lagi ada BHPN (badan Hukum Pendidikan Nasional) atau bahasa lain swastanisasi perguruan tinggi negeri, sehingga PTN-PTN ternama seperti UI, ITB, UGM, UNDIP, dll mematok harga masuk sangat tinggi. Lihat saja contoh; masuk kedokteran sekarang rata-rata tertinggi 75 sampai 150 juta rupiah. Apa anak-anak menengah mampu? Berapa prosen penduduk Indonesia yang mampu secara ekonomi (bukan secara kemampuan bersaing kognitif). Bandingkan dengan 20 tahun lalu (penulis mengalami sendiri). Masuk Kedokteran Umum UNAIR uang gedung atau KOPMA atau apalah istilahnya hanya 1,5 juta rupiah. SPP hanya 120/semester. Kalau ada yang mengatakan bahwa itu kan 20 tahun lalu? Jawabnya adalah kita pakai standart kesetaraan daya beli (ini indicator yang cukup rasional, atau mungkin pakai inflasi misalnya). Tahun 1989 atau 1990 harga Motor Honda terbaru harganya 1,5 juta. Sekarang 15 juta. Maka mestinya masuk Unair Kedokteran Umum sekitar 15 juta. Kalau menggunakan Inflasi….menggunakan suku bunga bank rata-rata mungkin malah lebih kecil. BHPN kalah di MK baru-baru ini (tapi sama dengan UAN) bukan berarti surut tetap jalan saja. Lihat pedoman masuk Perguruan tinggi negeri tahun 2010. Artinya apa ini? Anak miskin dilarang masuk disana? Apa seperti ini amanat UUD 45, GBHN, dan komitmen pendidikan kita?

Anehnya yang mengusulkan BHPN dan paling bersemangat adalah para dosen, senat-rektor. Argument yang sering kami dengar adalah; gaji professor kita sangat jauh dengan professor di Negara jiran….gaji dosen kita sangat jauh dengan Negara sebelah (mereka hanya membandingkan angka, bukan kesetaraan daya beli). AS itu kalah Income perkapita-nya dengan Negara-negara Jepang, Sebagian Negara Timur Tengah dll. Tapi bila dihitung dengan kesetaraan daya beli, AS adalah Negara terkaya di dunia. Sedikit penjelasn; kesetaraan daya beli itu seperti ini hitungannya; berapa lama kita kerja untuk beli motor, kulkas, rumah, TV dll. Sebagai contoh apa gaji Rp 2.500.000; di Pasuruan, Tergalek, Tulungagung, dan gaji Rp 4.000.000 di Aceh dan Jakarta lebih besar atau sama? Jelas tidak, hitungan riilnya kita akan tahu dengan kesetaraan daya beli (Lebih lengkap lihat dalam; HAMISH MC RAE,1995).

Mengapa para dosen, rector (tidak semua) dll itu bisa seperti itu? Jawabnya ‘mungkin sebagian’ karena pendidikan yang mereka peroleh adalah pendidikan bisu…..pendidikan yang menjadikan mereka intelegensia (pintar, berpendidikan di bidangnya saja..diluar sama seperti orang awam) bukan intelektual (ini mirip dengan ulil al bab…dalam konsep Islam) kata Sayyid Husein Alattas (Syed Husein Alatas, “Intelektual Masyarakat Berkembanga “, LP3ES, 1988).

Apa kita akan pesimis dengan ini semua? Jawabnya adalah tidak. Sebab sudah ada ‘sedikit’ komitmen tentang pendidikan kita, yaitu sertifikasi guru. Dengan tambahan per bulan sekitar 1,5 juta (artinya rata-rata naik 100%). Juga anggaran pendidikan nasional dan daerah. Subsidi pendidikan semacam BOS (baik SMP maupun SMA). Walau ini belum terasa secara signifikat pengaruhnya…tapi gerak kearah sana sudah sangat terlihat. Kecerdasan untuk memasuki pendidikan guru, jadi pegawai negeri untuk guru….bukan kecerdasan kelas 3 atau 4. Tapi sudah kecerdasan tingkan 1 minimal 2. Dahulu anak yang pandai-pandi, masuk ke UI, ITB dst…lalu ke level 2. Setelah itu baru masuk IKIP (Jurusan-jurusan Pendidikan). Tetapi sayang komitmen tingkat menengah ini (SMP-SMA) dihambat atau terhambat ditingkan PTN dengan BHPN.

Ini semua adalah wacana bagaimana gambaran problema pendidikan, antara ide dan realita, antara kepentinngan dan semestinya. Disnilah keharusan ada pemikiran mendasar buat para pengkaji, pembuat kebijakan tentang pendidikan nasional kita. Bila kita ingin pendidikan kita menjadikan seperti tujuannya. Dari tertinggal menjadi setara dan pemenang, dari terjajah, terintimidasi menjadi punya harga diri dan kesetaraan. Dari Negara miskin menjadi kaya dan sejahtera. Anis Basewedan dengan “Indonesia mengajar”, kami yakin mellihat ini semua dan memang semestinya melihat realita ini.

Dengan gambaran-gambaran ini, dengan refleksi ulang, maka kita bisa memiliki “Strategi Kebudayaan” meminjam kata-kata C.A. Paursen. Kalaupun ikut arus, itu karena dengan sadar, karena tidak ada pilihan atau sulit untuk melawan, tetapi mengetahui lubang-lubang didalamnya, atau bila mungkin melawan arus atau mungkin ikut dengan mengupayakan perubahan-perubahan baik dari dalam atau melakukan perlawanan-perlawanan untuk menentang arusnya dikemudian.

Dan peringatan, sejarah, pengalaman masa lampau itu mestinya kita ambil, dan yang mampu mengambil peringatan-peringatan itu hanyalah mereka yang kata tuhan sebagai “ulil albab”.  “Ya Allah, Berilah kami keberanian untuk mengubah apa yang dapat, dan harus kami ubah, dan ketenangan untuk menerima apa yang tidak dapat Kami diubah, serta kebijaksanaan untuk mengetahui perbedaan keduanya”. Amien3x…

Wallahu al a’lam bi al Shawab. La Hau la wala Quwwata Illa Billah.

Penulis : Pendidik (Guru dan Dosen, Matematika, Economic, Character Building, Organization Behaviour dan Bussiness Communication). Mantan Kepala Sekolah, Sekarang disamping mengajar juga Trainer; Pendidikan Berbasis Topografi Otak, Integrasi Multple intelligence dan KTSP-Berkarakter. Power personality dan Performance Barrier. Buku yang pernah ditulis; “Belajar Menjadi Bahagia dan Sukses Sejati, Penerapan Multiple Intelligence dalam Keluarga, Lembaga Pendidikan dan Bisnis” (Elexmedia, Kompas-Gramedia, 2011). 

Tentang pendidikan positif

Kami adalah Pendidik, Guru, Dosen dan Trainer. Alumni Pasca Sarjana Univ Brawijaya Malang, sekarang studi lanjut di Department Psychology. Kami mengembangkan Seminar, Workshop, dan berbagai Test berbasiskan psikology. Mulai dari 1. Workshop berbasiskan Multiple Intelligence, Topografi Otak, Power Personality, Performance Barrier, Succes with Understanding Personality, Otak Kanan- Otak Kiri, bagaimana mengetahui dan memanfaatkannya untuk sukses dll. Semua itu untuk pengembnagan SDM dan Human Capital. Baik untuk Guru, anak-anak (TK, SD, SMP, SMA, PT), juga untuk karyawan Industri dan Perusahaan. 2. Test test yang mendukung workshop dan seminar diatas seperti; a) Test Multiple Intelligence, b) Test Personality, c) Test Performance Barrier dll. Konsep Kami adalah......Discovering Your Royal road to learning, achievable and Personal Satisfaction. Bagaimana caranya? Caranya dengan discovering your talent, your ability (dengan pemahaman, test), the right place....maka sukses dan bahagia akan mudah didapatkan. Positif Pendidikan adalah Pendidikan yang berusahan menjadikan pebelajar (siapapun yang belajar), akan mampu untuk meraih tidak hanya sukses (achievable) tapi juga bahagia (will-being). Success and Happy.
Pos ini dipublikasikan di Psikologi dan Pendidikan. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s