“Tidak Mungkin Mengubah Buah, Tanpa Mengubah Akarnya.”

SEBUAH “IRONI” FILOSOFI PENDIDIKAN KARAKTER KITA

Seringkali ada perkataan dalam lembaga pendidikan, “MARI KITA BEKERJASMA…, SIAPA YANG TERBAIK AKAN MENDAPATKAN HADIAH. Ini sebuah perkataan yang sering kita dengar, walau sebenarnya Kontradiktif. Sebab ingin mendapatkan buah kerjasama dari paradigm kompetisi, tidaklah mungkin. Kita tidak dapat mengubah Buah, tanpa mengubah Akarnya.

Dalam pendidikan juga berlaku hukum “Kurva Normal” utamanya dalam penilaian Akademik (Pendidikan). Ini adalah sebuah Paradiqma Menang/Kalah, paradigma kompetisi.  Sebab seseorang mendapat A karena yang lain mendapat C. Disini seorang siswa, murid, tidak diberi angka berdasarkan potensi mereka atau berdasarkan pemanfaatan penuh kapasitas mereka yang sekarang. Mereka diberi angka dalam hubungannya dengan orang lain. Dan anehnya justru, Angka ini nantinya membawa nilai social, angka ini, membuka atau menutup sebuah peluang Kerja, dihargai bahkan mungkin untuk dicintai, seorang anak dengan orang tua-nya. Dalam system pendidikan kita, utamanya dalam system penilaian kita, Kompetisi, bukan nilai-nilai Kerjasama yang terletak dalam inti Proses Pendidikan.

Apakah Pendidikan Karakter kita menginginkan seperti ini? Budaya Kompetisi diatas sedemikian rupa dibandingkan dengan budaya Kerjasama? Kalau kita menyimak seperti yang dikatakan oleh prof Suyanto – Direkturtur Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah dalam tulisan di laman Mandikdasmen – mengatakan, yang mesti dikembangkan (dalam hubungannya dengan pendidikan karakter) di Indonesia adalah : 1) Karakter cinta Tuhan dan segenap ciptaan-Nya; 2) Kemandirian dan tanggungjawab; 3) Kejujuran/amanah, diplomatis; 4) Hormat dan santun; 5) Dermawan, suka tolong-menolong dan gotong royong/kerjasama; 6) Percaya diri dan pekerja keras; 7) Kepemimpinan dan keadilan; 8) Baik dan rendah hati, dan; 9) Karakter toleransi, kedamaian, dan kesatuan.

Disini akan nampak bahwa budaya kerjasama sangat menonjol dibandingkan dengan budaya kompetisi yang hanya samar-samar terlihat. Artinya apa? Artinya visi dan misi (filosofi) pendidikan character-building yang ingin dicangkokkan dalam kurikulum pendidikan kita, tidak mengakar kebawah. Antara cita-cita visi dan system kompetisi, utamanya disistem penilaian tidak akur. “Tidak mungkin mengubah buah, tanpa mengubah akarnya.”

Oleh karena itu, ada 2 hal yang semestinya diupayakan dalam pendidikan, utamnya pendidikan karakter kita yaitu;

Pertama, Dalam memilih karakter apa yang akan diambil (mau sembilan, lima atau dua belas), kita mestinya tidak ‘sekadar’ mengambil nilai-nilai universal. Tetapi kita mestinya menggunakan cara, seperti yang dilakukan dalam penelitian Abraham H. Maslow, saat dia melakukan penelitian untuk konsep Khiraki-nya, khususnya, ‘Kebutuhan Aktualisasi Diri’. Orang-orang seperti ini (orang yang sudah sampai di Tingkat Kebutuhan Tertinggi, Kebutuahn Aktualisasi Diri) adalah manusia-manusia puncak, manusia-manusia ‘sukses-sejati’.

Pertanyaannya adalah; sifat, karakter bahkan pendidikan apa yang dimiliki oleh manusia-manusia itu? Sehingga mereka bisa sampai mampu mengoptimalisasikan seluruh potensinya. Dimana kita tahu inti dari pendidikan adalah “Optimalisasi Potensi”. Orang-orang seperti ini adalah figure, contoh orang-orang sukses yang mampu dihasilkan dari sebuah lembaga Pendidikan.

Kalau kita mengetahui variable-variable yang menyebabkan mereka mampu menjadi Manusia ‘Unggul’, dimana itu diraih oleh prosentasi sangat sedikit dari manusia pada umumnya. Maka kita perlu upgrade diri kita untuk seperti mereka dan itulah yang semestinya kita jadikan tolok ukur dalam pendidikan kita. Dengan itu semua, kita akan mampu menghasilkan manusia-manusia Indonesia yang unggul. Tanpa ini semua, maka akan sulit menjadikan manusia-manusia unggul itu. Sebab 1) Manusia unggul itu harus mampu menaklukkan Dirinya (emosi, psikologi juga fisiologi-nya) serta tantangan sosialnya. Tantanngan social itulah yang ‘unik’. Tantangan yang dimiliki oleh Presiden AS, Einstein dan Eddison (Contoh-contoh Maslow) beda dengan tantangan yang dimiliki oleh manusia-manusia Indonesia, seperti Habibie, Sukarno, Agus Salim, Quraish Shihab dan lain-lain, sekadar contoh.

Kadang kecerdasan dan kemampuan seseorang sama, tetapi karena mereka hidup di tepat yang berbeda dan dunia yang berbeda maka tantangannya berbeda. Misalnya di Eropa dan AS manusia yang punya karakter A sampai R itu yang dihormati, sementara karakter yang lain dianggap jelek.  Sedangkan di Indonesia karakter A sampai O yang dihormati, sedangkan lainnya tidak. Anak yang IQ Tinggi, senang kompetisi, Egois dst, mungkin bisa sangat sukses di AS, tapi tidak di Indonesia. Kalau kuliah, mungkin anak itu di AS bisa cum-laude, di Indonesia akan sulit. Sayang penelitian tentang manusia Indonesia yang sudah ‘dianggap’ Mengaktualisasikan Dirinya (= baca, Unggul), sejauh ini belum ada (ini saya buktikan dengan survey kecil. Bertanya kepada teman-teman pengambil Doktoral Psikologi di UI. Dari yang saya tanya, semua mengatakan belum pernah mendengar).

Kedua, dalam penilaian haruslah penilaian proses dan Penilaian ‘Optimalisasi Potensi’. Dalam Penilaian Proses, kita melihat tahap demi tahap proses sampai hasil akhir berupa evaluasi, ujian atau penyelesaian sebuah proyek (ini standar evaluasi proses). Sedangkan dalam penilaian ‘Optimalisasi Potensi’, reward, hadiah, rangking adalah perbandingan antara hasil kemarin dibandingkan dengan sekarang (dengan bobot tertentu, dengan penyesuaian-penyesuaian tertentu lain-nya). Artinya anak yang bulan kemarin mendapat nilai 7 sekarang naik menjadi 8, akan lebih baik dibandingkan anak yang mendapat angka 8, tetapi bulan kemarin 8. Anak yang berpotensi mendapat nilai 8 tetapi mendapat nilai 7, akan lebih rendah dibanding anak yang berpotensi mendapat nilai 7 tetapi mendapatkan angka 7. Memang disini pengukuran potensi dasar bisa diperdebatkan. Tetapi essensi penilaian semacam itu yang saya harapkan tertangkap.

Bila system reward seperti ini dilakukan, maka anak, siswa disamping dipacu untuk bersaing dengan teman lainnya (kompetisi masih tetap ada), tetapi berpacu dengan dirinya sendiri, berpacu memperbaiki diri sendiri, dan optimalisasi potensi akan lebih dihargai dan nampak. Dan apabila dua hal ini dilakukan, maka diharapkan kita akan mampu membangun pendidikan kita, tidak hanya sekadar reaksi, karena nilai-nilai karakter kita anjlok, tetapi kita memiliki landasan fondasi visi yang kuat untuk diimplementasikan ke bawah dan betul-betul melihat kondisi social-budaya bangsa kita sendiri. “Tidak mungkin mengubah buah, tanpa mengubah akarnya.”.

 

Muhammad Alwi : Pendidik, Mantan Kepala Sekolah. Sekarang adalah Pendamping (Konsultasi), Pelatihan Guru/Karyawan/ Siswa. Penggiat, “Belajar Berbasis Multiple Intelligence dan Integrasinya dengan KTSP”. “Penulis Buku..“Belajar Untuk Bahagia dan Sukses Sejati, Penerapan Multiple Intelligence dalam Keluarga, Lembaga Pendidikan dan Bisnis” (Elexmedia, 2011). Buku Yang akan Terbit “Pembelajaran Berbasis Topografi Otak”, Multiple Intelligence dan Emotional Question & Integrasinya Terhadap Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP)”. Sinopsis buku ini; http://www.facebook.com/notes/muhammad-alwi/belajar-berbasis-topogarfi-otak/217098911662593

Tentang pendidikan positif

Kami adalah Pendidik, Guru, Dosen dan Trainer. Alumni Pasca Sarjana Univ Brawijaya Malang, sekarang studi lanjut di Department Psychology. Kami mengembangkan Seminar, Workshop, dan berbagai Test berbasiskan psikology. Mulai dari 1. Workshop berbasiskan Multiple Intelligence, Topografi Otak, Power Personality, Performance Barrier, Succes with Understanding Personality, Otak Kanan- Otak Kiri, bagaimana mengetahui dan memanfaatkannya untuk sukses dll. Semua itu untuk pengembnagan SDM dan Human Capital. Baik untuk Guru, anak-anak (TK, SD, SMP, SMA, PT), juga untuk karyawan Industri dan Perusahaan. 2. Test test yang mendukung workshop dan seminar diatas seperti; a) Test Multiple Intelligence, b) Test Personality, c) Test Performance Barrier dll. Konsep Kami adalah......Discovering Your Royal road to learning, achievable and Personal Satisfaction. Bagaimana caranya? Caranya dengan discovering your talent, your ability (dengan pemahaman, test), the right place....maka sukses dan bahagia akan mudah didapatkan. Positif Pendidikan adalah Pendidikan yang berusahan menjadikan pebelajar (siapapun yang belajar), akan mampu untuk meraih tidak hanya sukses (achievable) tapi juga bahagia (will-being). Success and Happy.
Pos ini dipublikasikan di Psikologi dan Pendidikan. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s