Man’s Search For Meaning (bagian 1)

Pencarian Makna  dalam perspektif  “Logoterapi”)

Pendahuluan

Viktor Frankl
Bapak Logo-Terapi

Salah satu tema utama psikologi dan filsafat eksistensial adalah Penderitaan.  Katanya kehidupan identik dengan penderitaan, sejak kita lahir, diawali oleh penderitaan seorang ibu, dengan mengejangkan perutnya. Dan Tema penderitaan serta bertahan hidup adalah tema kehidupan kita sehari-hari. Bahkan saat awal, sperma kita berjuang bersama sperma-sperma lainnya, dan hanya dipilih satu atau dua untuk menjadi zygote (bakal bayi). Bertahan hidup identik dengan menemukan makna didalam penderitaan dengan sebuah perjuangan. Jika hidup memang memiliki tujuan, maka penderitaan dan kematian yang itu adalah identik dari keberadaan kita, seharusnya dan pasti juga memiliki tujuan. Meskipun demikian, tidak ada orang yang bisa menunjukkan tujuan hidup orang lain.

Dalam penderitaan-penderitaan tertentu; terkadang orang bertindak irasional (ini seringkali dialami orang-orang yang tertekan, depresi dst).  Apatis terkadang adalah mekanisme pertahanan yang dibutuhkan saat penderitaan memuncak, seperti di kamp kosentrasi Nazi. Sehingga karena tidak tahan sakit kita berharap cepat-cepat pingsan, atau malah ada yang mengakhirinya dengan BUNUH DIRI. Realitas menjadi kabur, semua upaya dan emosi terpusat pada satu tujuan yaitu mempertahankan hidupnya dan hidup orang lain. Mudah dipahami, jika kondisi tertekan, ditambah keharusan untuk terus memusatkan perhatian pada upaya untuk bertahan hidup maka kehidupan batin para tahanan (seperti di dalam kamp kosentrasi Nazi, Guantanamo) ditekan sampai pada titik yang paling primitive. Sehingga ada benarnya kalau dikatakan;  “Reaksi abnormal terhadap situasi abnormal merupakan tingkah laku yang normal”. Setiap orang, setiap manusia harus menemukan sendiri tujuan hidup mereka masing-masing, dan harus menerima tanggung jawab yang muncul didalamnya. Jika berhasil, dia akan terus berkembang, meskipun hidup ditengah kehinaan. Frankl mengutup kata-kata Nietzsche yang saya sangat kagumi teks ini; He who has a why believe for can bear whith almost any how (‘Dia yang memiliki mengapa untuk hidup, akan bisa bertahan dalam hampir semua bagaimana”)

Orang-orang yang peka, yang terbiasa menjalani kehidupan intelektual yang kaya, mungkin saja sangat menderita (tubuh mereka pun biasanya rentan), tetapi kerusakan batin mereka lebih kecil. Mereka mampu mengasingkan diri dari kehidupan diseputar mereka yang sulit, kedalam kehidupan batin yang kaya dan kehidupan spiritual yang bebas. Hanya inilah yang bisa menjelaskan kontradiksi; mengapa orang-orang yang tubuhnya rentan mampu mengatasi kehidupan kamp secara lebih baik dibandingkan mereka yang bertubuh lebih kokoh. Lihatlah cerita-cerita Guantanamo dll.

Jangan mencari sukses –semakin keras kamu berupaya dan menjadikan sukses sebagai target, semakin sulit kamu meraihnya. Kerena sukses, seperti juga kebahagiaan, tidak dapat dikejar; dia harus terjadi, dan itu hanya bisa diraih sebagai efek samping dari dedikasi pribadi seseorang terhadap upaya yang lebih bermakna, sebagai produk samping dari penyerahan seseorang kepada orang lain diluar dirinya sendiri. Kebahagiaan akan didapat, begitu juga keberhasilan; kamu harus membiarkan datangnya tanpa memedulikannya.

Friedrich-Nietzsche

Meskipun jumlahnya sedikit, orang-orang yang mampu bertahan di kamp dengan moralitas yang “cukup” menjadi bukti yang cukup, bahwa apapun bisa dirampas dari manusia kecuali satu; kebebasan terakhir seorang manusia –kebebasan untuk menentukan sikap hidup dalam setiap keadaan, kebebasan untuk memilih jalannya sendiri.

Sebuah kehidupan yang aktif memberi manusia kesempatan untuk meraih nilai-nilai hidup dalam bentuk karya kreatif, sementara kehidupan yang pasif dan penuh kebahagiaan memberi manusia kesempatan untuk meraih kepuasan dengan kenikmatan, keindahan, seni, atau alam. Tetapi hidup yang hampir-hampir tidak diisi kreatifitas dan kebahagiaan, yang hanya memberi seorang kemungkinan untuk menerapkan sikap moral yang tinggi, bisa juga memiliki tujuan; yaitu melalui cara orang itu menyikapi hidupnya sebab kehidupannya dibatasi oleh berbagai tekanan luar. Dia tidak bisa menjalani hidup yang kreatif dan bahagia. Tetapi, bukan hanya kreatifitas dan kebahagiaan saja yang memberi makna. Jika hidup benar-benar memiliki makna, maka harus ada makna didalam penderitaan. Karena penderitaan merupakan bagian tak terpisahkan dari kehidupan manusia, meskipun penderitaan itu merupakan nasib dan dalam bentuk kematian. Tanpa penderitaan dan kematian, hidup manusia tak sempurna.

Pengamatan terhadap kondisi kejiwaan para tahanan menunjukkan bahwa para tahanan yang membiarkan batin mereka melepaskan nilai-nilai moral dan spiritual diri mereka, pada akhirnya akan menjadi korban dari pengaruh kehidupan kamp yang rendah. Pertanyaan yang muncul kemudian adalah, apa yang bisa, atau apa yang seharusnya dilakukan seseorang agar bisa tetap berpegang pada “nilai-nilai batin” tersebut.

Kata Latin finis memiliki dua arti; yaitu akhir atau selesai, dan sebuah tujuan untuk diraih. Seseoarang yang tidak bisa melihat akhir “kehidupan sementara”-nya, tidak akan bisa meraih sasaran tertinggi dalam hidupnya. Dia tidak lagi hidup untuk masa depan, berbeda dengan kehidupan manusia normal. Spinosa dalam bukunya “Ethics” mengatakan; Affectus, qui passio est, desinit esse passio simulatque eius claram et distinctam formamus ideam.” Emosi yang sedang menderita, tidak akan lagi menderita setelah kita membuat gambaran yang jelas dan benar dari penderitaan tersebut.

Setiap situasi ditandai oleh sifatnya yang unik, dan hanya ada satu jawaban untuk setiap permasalahan yang dihadapi. Ada banyak penderitaan yang harus kita jalani. Karenanya, kita perlu menghadapi seluruh penderitaan kita, dan berusaha menekan perasaan lemah dan takut. Tetapi, kita juga tidak perlu malu untuk menangis, karena airmata merupakan saksi dari keberanian manusia yang paling besar, keberanian untuk menderita.

Apabila orang yang karena penderitaannya, karena tak ada lagi yang bisa diharapkan dari hidup, ingin bunuh diri. Kita harus membuatnya sadar bahwa hidup masih mengharapkan sesuatu dari mereka; sesuatu dimasa depan mengharapkan dari mereka. Anak-anak mereka, cucu, tetangga, suami, istri atau peradaban bila mereka ilmuwan dan lain-lain (termasuk Surga dan Neraka).

Keunikan dan kekhasan yang mencirikan setiap manusia dan memberi makna bagi hidupnya, tercermin dalam karya-karya kreatifnya dan dalam rasa cintanya sebagai manusia. Jika kemustahilan untuk menggantikan dirinya disadari, maka orang tersebut akan bertanggungjawab terhadap hidupnya dan kelangsungan hidupnya sesuai dengan nilai masing-masing. Seorang manusia yang menyadari tanggungjawabnya terhadap manusia lain yang menunggunya dengan kasih sayang, atau tanggung jawabnya terhadap pekerjaan yang belum selesai, tidak akan pernah mengabaikan hidupnya.

Dia tahu “mengapa” ia hidup, akan mampu menghadapi yang “bagaimana” pun. Kata Nietzsche; “was mich nicht umbringt, macht mich staeker” (segala sesuatu yang tidak membunuh saya, membuat saya jadi lebih kuat)”.  Ada kata-kata lain; Was du erlebst, kann keine Macht der Welt dir rauben (Tidak ada satu kekuatan pun dibumi ini yang bisa merampas darimu pengalaman hidup yang sudah kamu jalani). Tidak hanya pengalaman, tetapi juga semua perbuatan kita, gagasan hebat yang mungkin pernah kita pikirkan dan semua penderitaan kita; semua itu tak akan hilang, meskipun sudah berlalu, semuanya bisa dihidupkan kembali, barangkali kehidupan yang paling nyata.

Salah jika orang berfikir bahwa seorang tahanan (kamp Nazi, Guantanamo dll misalnya) yang baru dibebaskan tidak lagi membutuhkan perawatan spiritual. Harus diperhitungkan, bahwa orang yang hidup dibawah tekanan mental yang sangat besar untuk jangka waktu panjang pasti akan menghadapi bahaya sesaat setelah dia dibebaskan, terutama karena tekanan tersebut dilepaskan secara mendadak.

Penjara
yg Lebih Kejam dari Nazi

Tidak ada orang yang berhak bertindak semena-mena, meskipun dirinya telah diperlakukan dengan semena-mena. Selain penurunan moral akibat terlepasnya beban mental secara menadadak, ada dua hal penting yang bisa merusak karakter para tahanan yang dibebaskan yaitu; kepahitan dan kekecewaan saat dia kembali kekehidupan lamanya.

Kepahitan terjadi saat ia kembali, dan hanya disambut dengan biasa-biasa saja, misalnya dengan kata-kata, “kami tak tahu akan hal itu” atau “kami juga menderita’. Maka si tahanan akan bertanya pada dirinya; “apa guna semua kepahitan itu?” perasaan kecewa muncul saat melihat hal-hal lain dalam hidupnya; anaknya diambil oleh ayah lain dan hidup bahagia, istrinya kawin lagi, saudaranya meninggal dan seterusnya. Si tahanan yang selama bertahun-tahun berfikir bahwa dia telah mencapai titik tertinggi dari penderitaan, sekarang mendapati bahwa penderitaan tidak memiliki batas, bahwa dia masih bisa lebih menderita lagi; penderitaan yang lebih dalam (diabaikan, dianggap biasa dst).

Mereka harus diyakinkan dan ditunjukkan sebuah masa depan, bahwa ada sesuatu yang menunggu (anak, istrinya, keluarganya dst).  Jika ternyata keluarganya berpaling, masih ada yang menunggu lain yaitu peradaban, dunia, mahasiswa (jika ia dosen, ilmuwan) dan terakhir masih ada yang menunggunya yaitu akhirat (dimana semuanya sudah tidak ada duka lagi). Semua penderitaannya akan dihitung secara adil oleh yang maha adil. ada balasannya dan lain-lain. Jangan sampai ia merusak semuanya, setelah sekian lama sudah menderita, dan perlu disadarkan bahwa sebentar lagi akan finis untuk mendapat hasil.

Logoterapi Viktor E. Frankl

Logoterapi adalah upaya menyelesaikan (mengobati) masalah pasien dengan terapi eksistensial. Sekadar bincang-bincang dan Si Terapis berusaha menunjukkan pandangan-pandangan yang mestinya diikuti, dirubah. Si terapis berusaha menunjukkan sipasien bagaimana menemukan pencarian masa depan lewat pencarian makna hidup. Dengan menghadapi dan menemukan makna hidupnya (yang dituntun oleh Terapis) si pasien diharapkan akan meningkatkan kemampuannya untuk mengatasi neurosisnya.

Logoterapi dari kata “logos” (Yunani), yang artinya “makna”. Logoterapi percaya bahwa perjuangan untuk menemukan makna hidup seseorang merupakan motivator utama orang tersebu dalam kehidupant.[1] Mencari makna hidup beda dengan pleasure principle (prinsip kesenangan atau lazim dikenal dengan keinginan untuk mencari kesenangan) dasar dari “Terapi Psiko Analislis”, juga beda dengan “Will to Power” (keinginan untuk mencari kekuasaan) dasar dari psikologi Adler.

Bersambung ke bagian 2

Tentang pendidikan positif

Kami adalah Pendidik, Guru, Dosen dan Trainer. Alumni Pasca Sarjana Univ Brawijaya Malang, sekarang studi lanjut di Department Psychology. Kami mengembangkan Seminar, Workshop, dan berbagai Test berbasiskan psikology. Mulai dari 1. Workshop berbasiskan Multiple Intelligence, Topografi Otak, Power Personality, Performance Barrier, Succes with Understanding Personality, Otak Kanan- Otak Kiri, bagaimana mengetahui dan memanfaatkannya untuk sukses dll. Semua itu untuk pengembnagan SDM dan Human Capital. Baik untuk Guru, anak-anak (TK, SD, SMP, SMA, PT), juga untuk karyawan Industri dan Perusahaan. 2. Test test yang mendukung workshop dan seminar diatas seperti; a) Test Multiple Intelligence, b) Test Personality, c) Test Performance Barrier dll. Konsep Kami adalah......Discovering Your Royal road to learning, achievable and Personal Satisfaction. Bagaimana caranya? Caranya dengan discovering your talent, your ability (dengan pemahaman, test), the right place....maka sukses dan bahagia akan mudah didapatkan. Positif Pendidikan adalah Pendidikan yang berusahan menjadikan pebelajar (siapapun yang belajar), akan mampu untuk meraih tidak hanya sukses (achievable) tapi juga bahagia (will-being). Success and Happy.
Pos ini dipublikasikan di Psikologi dan Pendidikan. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s