“Islam” dan Kesadaran Sejarah-sejarah Kebenaran (bagian 1)

“Berilah kasih sayangmu (padanya: pen), tapi jangan sodorkan bentuk pikiranmu,… jiwa mereka adalah penghuni masa depan yang tiada dapat kau kunjungi sekalipun dalam mimpi… sebab kehidupan tidak pernah berjalan mundur, pun tidak tenggelam dimasa lampau “                             Aforisma, khalil Jibran khalil

“Agar orang, bangsa dan kebudayaan dapat hidup dengan sehat, baik yang histories maupun yang non histories sama-sama berguna ”                                                                                                                                             Nietzche

Kita membutuhkan akan sejarah, sebab sejarah adalah pengetahuan tentang masa lampau yang memperlihatkan perspektif masa kini. Dan masa kini memberikan jejak-jejak masa depannya. Sekalipun demikian sebagai manusia yang meyakini eksistensi dan ‘kebebasan’nya kita tidak harus terjebak pada “sejarah”. Mesti kita melihat mana-mana yang perlu ditapaki sebagai archethype masa lalu, dan mana yang tidak, seperti kata-kata Nietzsche dan Khalil Jibran diatas.

Dalam banyak hal kita membutuhkan sejarah, baik sebagai pengetahuan masa lalu, bukti, maupun tempat berpijak, sebagai arah kompas (guide). Apalagi dalam beragama, bukti-bulti kesejarahan menjadi sangat urgent, sebab dialah satu-satunya prasasti pembuktian yang dapat kita ambil mengenai keberadaan akan sesuatu masa lampau.

Sejarah sebagai “Objek” telaah.

Sejarah dalam istilah bahasa Arab dikenal dengan tarikh, yang artinya adalah menulis atau mencacat, atau dari kata Syajarah yang berarti pohon atau silsilah.[1]Dalam kamus filsafat berarti, informasi atau pencarian, dalam arti luas adalah peristiwa atau kejadian masa lampau. Dalam arti yang lain adalah suatu peristiwa manusiawi yang mempunyai akarnya pada realisasi diri dengan kebebasan dan keputusan rohani.[2] Tentang keobjektifan sejarah banyak yang mengkritik, sekalipun semua ahli sepakat ia termasuk ilmu (karena validitas-nya mencukupi untuk memperoleh generalisasi, sehingga dianggap ilmu).

Problem utama dari sejarah dan penulisan sejarah adalah kecendrungan, preferensi manusia atau sejarawan tersebut. Dan memang sebenarnya, kebanyakan sejarah adalah sejarah manusia-manusia yang menang (yang dianggap perlu). E.H Carr mengatakan :

” Fakta sejarah tidak pernah sampai kepada kita secara “murni”, karena fakta tidak terdapat dan tidak dapat berada dalam bentuk yang murni. Fakta selalu dipantulkan lewat pikiran perekam. Akibatnya, jika kita mengambil suatu karya sejarah, perhatian jangan (Pen: hanya) terarah pada fakta yang terdapat didalamnya, tetapi (juga) tertuju kepada sejarawan yang menulisnya. “Fakta sejarah tidak murni objektif karena menjadi fakta sejarah hanya karena arti yang diberikan oleh sejarawan “[3].

Daya fantasi, preferensi, dan life-space manusia itu demikian kuatnya hingga buah fantasi dan seterusnya itu mengerumuninya. Dan pada akhirnya kenyataan serta unsur-unsur kepercayaan (buah imajinasi dll itu) bercampur menjadi satu. Maka tidak heran, dan tidak sedikit sejarah yang tertulis maupun lisan, bila ditinjau dari rasio tertentu (metodologi sejarah) hanyalah penuh dengan mitos, dongeng, sekalipun didalamnya ada unsur-unsur kenyataan yang terjadi.

Makanya dalam melihat sejarah (dalam kajian-kajian modern, abad xx) kita tidak hanya harus berfokus pada teks tertulis yang dikemukakan oleh si pengarang, tetapi melihat juga gejala-gejala pandangan dunia yang timbul dalam zaman pengarang itu. Micheal Foucault (1926-1984), seorang filosof stukturalis, mengatakan;

Michel Foucault

” Setiap zaman memiliki pengandaian-pengandaian tertentu, prinsip-prinsip tertentu, syarat-syarat kemungkinan tertentu, cara pendekatan tertentu… setiap zaman mempunyai suatu apriori histories tertentu. Keseluruhan pengandaian-pengandaian itu membentuk suatu system yang teguh. Semua itu tidak diinsyafi dengan jelas oleh orang-orang bersangkutan, tetapi secara tersembunyi menentukan pemikiran, pengamatan dan pembicaraan mereka. Semua itu dinamakan episteme, yaitu suatu system pemikiran yang menjuruskan cara mempraktekkan ilmu pengetahuan pada zaman tersebut. Dan dalam setiap masa terlihat regularitas, yaitu keseluruhan kondisi yang memainkan peran dalam suatu diskursus dan menjamin serta menentukan jadinya diskursus itu. [4]

Pendek kata, kita tidak mungkin melepaskan unsur subjektivitas dalam sejarah. Tetapi apakah memang kita memungkinkan untuk menginginkan mencari sejarah yang “objektif”?. DR. W. Poespoprodjo dalam bukunya, “Subjektivitas dalam Historiografi”, mengatakan;

“Kita tidak perlu takut dengan subjektivitas. Karena memang itulah satu-satunya cara untuk studi yang biasa dilakukan dalam sejarah. Tetapi kita dengan menggunakan telaah fenomenologi, kita bisa menghindarkan diri dari subjektivisme.”[5]

BENTUK-BENTUK PENDEKATAN SEJARAH

Menurut Nietzsche, pendekatan sejarah dibagi menjadi tiga hal pokok yaitu; 1) Pendekatan Monumental à ini melihat dan memperhatikan sejarah pada kebesaran-kebesaran dan kelangkaan monumental dimasa lampau. Dalam sejarah bentuk ini ditampilkan keberhasilan dan kebesaran yang menakjubkan masa silam. Sehingga (sejarah masa lampau itu) seakan dipandang sebagai bentuk aktualisasi manusia. Orang sering rasanya ingin kembali kesana. Kebesaran masa lampau dihadirkan kembali, sehingga seakan timbul dalam diri kita, mengapa kita tidak dapat seperti itu dst. Dan akhirnya kebesaran orang atau kebudayaan masa lampau menjadi model bagi mereka yang ingin mendirikan kebesaran dimasa kini dan masa datang.

Orang yang terhinggapi penyakit ini, tidak ubahnya menggunakan topeng untuk menutupi wajah orang zaman ini yang enggan mencari kebesaran sendiri. Apa yang mereka anggap budaya sebenarnya adalah bentuk nostalgia masa lampau, dan pada gilirannya menjadi ibadat akan kebesaran masa lampau. Mereka hanya melihat hasilnya tanpa peduli mengapa mereka bisa seperti itu[6]. Ciri masyarakat dengan pendekatan seperti ini adalah mereka banyak tahu dan mengenal kebesaran-kebesaran masa lampau, namun mereka sendiri tidak mempunyai kemampuan untuk menjadi besar.

Kajian diatas ini sangat menarik bila kita lihat dan apresiasikan dalam sejarah Islam. Dimana ada namanya masa “kemurnian Islam” (khalifah empat par-exellence), “keemasan Islam” (dinasti Muawiyyyah dan Abbasiyah), dan lain-lain. Disana digambarkan sebagai contoh: Bagaimana kebesaran Umar bin Khattab, Ali bin Abi Thalib yang katanya sangat adil, egaliter dan lain-lain. Bahkan ada cerita sejarah tentang pedang Umar yang untuk mengangkatnya perlu 2 sampai 5 orang, setan-pun takut kepadanya. Ali bin Abi Thalib merobohkan benteng Khaibar sendirian., dimana 25 orang tidak mampu untuk merobohkannya, dan lain-lain. Bagaimana administrasi dan pengaturan tata kota zaman Harun ar-Rasyid, al-Mutawakkil, dan lain-lain. Disini bukan bermaksud untuk menolaknya, sebab; penerimaan dan penolakkannya perlu penelitian sejarah yang komprehensif. Tetapi yang ingin kita tekankan disini adalah bagaimana umat Islam saat ini terjebak dan terkungkung dengan masa silam. Romantisme sejarah, dimana apa-apa tindakan dan upaya kita untuk memajukan dan mengaktualkan islam kita merujuk “ke arah lampau “. Seakan mereka segala-galanya, sangat baik dan tanpa cela. Inilah yang dikatakan Nietzsche sebagai “sakit sejarah”.

Padahal kita lihat dalam sejarah yang sama menceritakan kejadian di atas[7], akan tanpak hal lain, seperti : Bagaimana sejak saat nabi masih ada, permusuhan antar sahabat itu terlihat. Bahkan seperti sejarawan Sunnah-Syi’ah sepakat. Ali, Fatimah (putri nabi) tidak membaiat Abu Bakar. Terjadi peperangan antara Ali (menantu nabi) dengan Aisyah (istri nabi). Pemilihan khalifah mulai pertama sampai ke empat “tidak bisa diakatakan demokrasi”. Pemilihan Abu Bakar tidak mengajak perwakilan yang seharusnya ada yaitu bani Hasyim (Quraisy yang paling punya otoritas, khususnya Ali sendiri). Pemilihan khalifah yang kedua atas penunjukkan langsung, dari Abu Bakar ke Umar lewat wasiat. Pemilihan ke tiga sebenarnya hampir demokrasi, perwakilan 6 orang, tetapi syarat-syarat penentuannya kurang fair juga. Pemilihan khalifah ke empat, “hampir demokrasi”, tetapi setelah Usman bin Affan digulingkan oleh masyarakat (mungkin sekarang terkenal dengan “People Power“) dan ia sendiri terbunuh[8], maka Ali oleh masyarakat khususnya para pemberontak itu, dipilih sebagai khalifah yang ke empat, dan lain-lain. Ini hanyalah sekelumit problem yang terjadi pada masa yang dikatakan par-exellence oleh sebagian besar umat Islam (baik ulama, intelektual, cendikiawan, bahkan yang memahami, ahli sejarah sekalipun).

Mungkin benar apa yang dikatakan Foucalt di atas kekeliruan dalam melihat dan memahami serta bertindak dengan cara itu bukan karena kesalahan cara berpikir yang masih kabur, tetapi merupakan konsekwensi logis dari sistem pemikiran yang ada pada zaman itu (nya)[9].

Pendekatan Antikurian, yaitu dimana dalam penulisan sejarah, mencari asal-usul dan identitas seorang atau kelompok dari masa silam. Ini terjadi karena usaha untuk melindungi dan menghormati apa yang dianggapnya sebagai sumber identitas atau asal-usul. Kesadaran masa lampau dianggap terusan yang menjadikan kita sekarang ini. “Disini kita boleh berjalan dan disini batas-batas kita tak boleh berjalan”. Itu semua dilihat untuk kehidupan kita sekarang (dari masa lampau). Identitas kita, apa yang boleh dan tidak, apa yang baik dan buruk bahkan benar dan salah dilihat lewat kerangka masa lalu sejarah. Dalam sejarah bentuk ini orang percaya bahwa segala sesuatu terasa paling berharga dan paling murni saat kelahiran[10] (thing are most precious and essential at the moment of birth), dan lain-lain.

Makanya dalam (pemahaman sejarah bentuk ini) orang selalu mencari asal-usul, genesis. Padahal kalau kita mau telaah lebih dalam, tidak mesti seperti itu; banyak kejadian awal itu hanya karena ketepatan momen, hubungan relasional yang ada, sehingga sesuatu itu muncul dan berada. Juga dalam pendekatan ini, seolah orang mengatakan bahwa kejadian sekarang itu linier karena kejadian kemarin. Ada “hubungan sebab akibat tertentu” kejadian sekarang, kemarin dan akan datang [11].

Disini kita bisa lihat; praktek para nabi, sahabat, tabi’in yang selalu kita jadikan acuan benar atau salahnya tindakan kita. Baik dalam hukum, tingkah laku atau yang lainnya. Ada kata-kata yang sering digunakan yaitu Aslafuna (leluhur kita). Argumen yang diberikan adalah mereka (orang-orang dahulu) itulah yang sangat baik dan dekat dengan nabi. Padahal banyak hal yang sebenarnya tidak seperti itu[12]. Kita lihat saja bagaimana tingkah laku dan kebiasaan dalam banyak hal, kita mengikuti tradisi masa lampau. Dan banyak kebiasaan-kebiasaan lain yang semestinya kita bisa tinggalkan tetapi karena kita, “Sakit Sejarah”, berpegang teguh dan tidak mau berubah sama sekali dengan pendapat-pendapat atau kebiasaan ‘leluhur’ kita.

Pendekatan kritis, yaitu pendekatan dimana melihat masa lampau tidak sebagai beban, tetapi berusaha melihatnya dengan cara kritis, dengan maksud memandirikan manusia sekarang dengan jalan “memisahkan diri dengan masa lampau“. Sejarah dilihat dan ditulis dengan upaya untuk menyeret masa lampau dan mengadilinya, memerikan dengan seksama, dan akhirnya menghukumnya. Untuk itu digunakan ukuran yang cukup ampuh, berupa “Kebenaran dan keadilan”[13]. Kebenaran yang dimaksud adalah, “kesesuaian dengan obyek”, misalnya bukti tertulis, prasasti dan lain-lain. Koherensi, keberurutan logis, dan lain-lain. Intinya adalah menelanjangi dua pendekatan di atas. Kebesaran-kebesaran monumental, hal-hal yang diagungkan dan sakral perlu dilihat dengan kaca mata kritis dan rasional. Sehingga dengan ini “mungkin” kita dapat menemukan gejala “hukum sejarah”, dimana ada hal-hal yang “tidak berubah” sesuai dengan zamannya. Melihat sesuatu ciri “abadi” dalam kejadian-kejadian sejarah tersebut[14]. Sehingga dengan cara, metode ini-pun nantinya, lewat bantuan pendekatan tertentu semacam filsafat dan kajian sejarah, fenomenologi dan eksistensialisme (mengatasi subyektivisme), strukturalisme, Michael Foucault dan dekonstruksi, Jacques Derrida, lewat penelaahan teks. Kita dapat menelusuri bahkan sampai kepada sejarah yang tak tertulis.

(Bersambung ke bagian 2)….bagaimana Episteme Terbentuk?

Tentang pendidikan positif

Kami adalah Pendidik, Guru, Dosen dan Trainer. Alumni Pasca Sarjana Univ Brawijaya Malang, sekarang studi lanjut di Department Psychology. Kami mengembangkan Seminar, Workshop, dan berbagai Test berbasiskan psikology. Mulai dari 1. Workshop berbasiskan Multiple Intelligence, Topografi Otak, Power Personality, Performance Barrier, Succes with Understanding Personality, Otak Kanan- Otak Kiri, bagaimana mengetahui dan memanfaatkannya untuk sukses dll. Semua itu untuk pengembnagan SDM dan Human Capital. Baik untuk Guru, anak-anak (TK, SD, SMP, SMA, PT), juga untuk karyawan Industri dan Perusahaan. 2. Test test yang mendukung workshop dan seminar diatas seperti; a) Test Multiple Intelligence, b) Test Personality, c) Test Performance Barrier dll. Konsep Kami adalah......Discovering Your Royal road to learning, achievable and Personal Satisfaction. Bagaimana caranya? Caranya dengan discovering your talent, your ability (dengan pemahaman, test), the right place....maka sukses dan bahagia akan mudah didapatkan. Positif Pendidikan adalah Pendidikan yang berusahan menjadikan pebelajar (siapapun yang belajar), akan mampu untuk meraih tidak hanya sukses (achievable) tapi juga bahagia (will-being). Success and Happy.
Pos ini dipublikasikan di Filsafat dan Agama. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s