Manajemen Kepemimpinan : “Doing thing The right bukan Doing right the thing.”

KEPEMIMPINAN

Dalam bicara manajemen, secara sederhana kita bisa mengatakan dengan menggunakan rumus POAC (ini paling kuno dan sederhana). P = Palnning (kita tidak kekurangan manusia-manusia yang mampu menyusun rencana dengan baik. apalagi dinegara kita. justru seakan semuanya hanya mampu untuk planning saja). O = Organizing (mengorganisasikan, hirarkhi span of control dst. Siapa bertugas apa, melapor pada siapa, dengan target apa dst). A = Actuating dimana isinya adalah Leadership dan Motivation. Disini diri kita, institusi kita, perusahaan kita, bahkan lebih dahsyat lahi negara kita, kadang  sangat kekurangan masalah ini. C = Controlling. Mengontrol apa-apa yang sudah di planning-kan, diorganizing-kan, apakah dilaksanakan secara benar atau sesuai tidaknya dengan SOP (petunjuk standarat operasioanl). Kalau Actuating tidak jalan, artinya kepastian dilaksanakan atau tidak dilaksanakan sebuah rencana dan pengorganisasian tidak jelas. disini juga dipertanyakan; Apakah kita, pekerja, pegawai kita,  mempunyai motivasi yang cukup dalam melaksanakan yang diplanning dan organizing-kan dengan baik?. Bila tini semua jawabannya ragu-ragu atau tidak, maka controlling pasti akan amburadul atau kalau tidak akan disiasati dengan kecurangan-kecurangan.

Dalam  era globalisasi, era tehnologi dan informasi, perubahan terjadi dalam semua aspek terasa sangat cepat. Dengan semua kecepatan-kecepatan ini, maka Actuating (yang berisi Kepemimpinan dan Motivasi) akan sangat dan lebih diperlukan lagi dari pada sebelumnya. Drucker (Filosof dan bapak Manajemen) mengatakan; inti kepemimpinan/pemimpin adalah penentu arah effektivitas, bukan effisiensi. Doing thing The right bukan Doing right the thing.

APA ITU KEPEMIMPINAN

Menurut Handbook of leadhership kepemimpinan adalah suatu interaksi antara anggota suatu kelompok. Pemimpin merupakan agen perubahan, orang yang perilakunya akan lebih mempengaruhi orang lain dari pada perilaku orang lain yang mempengaruhi mereka. Kepemimpinan timbul ketika suatu kelompok mengubah motivasi atau kompetensi anggota lainnya didalam kelompok. Kepemimpinen diperlukan untuk menentukan arah, tujuan, mengalokasikan sumber-daya yang langka, memfokuskan pada tujuan-tujuan perusahaan, mengkoordinasikan perubahan, membina kontak pribadi dengan pengikutnya, menetapkan arah yang benar atau paling baik bila kegagalan terjadi.

BENTUK-BENTUK KEPEMIMPINAN

MODEL VROOM-JAGO (REVISI)

Model ini menetapkan prosedur pengambilan keputusan kepemimpinan. Kepemimpinan paling efektif dalam masing-masing dari beberapa situasi yang berbeda yaitu 1) Autokrasi — dibagi menjadi ; AI (dimana pemimpin memutuskan sendiri), AII (mencari informasi dari bawahan dan memutuskan sendiri). 2) Konsultatif —- dibagi menjadi ; CI (Pemimpin berbagi masalah dengan bawahan, mendapat ide dan usulan mereka, lalu pemimpin membuat keputusan), CII (sama hanya ada rapat kelompok bawahan dengan pemimpin sebelum membuat keputusan). 3) Satu bauran keputusan pemimpin dan kelompok yaitu GII (Pemimpin dan bawahan berbagi masalah bersama-sama, membangkitkan, mengevaluasi alternative-alternatif dan berusahan mencapai consensus).

TEORI ATRIBUSI KEPEMIMPINAN

Teori ini adalah suatu teori hubungan antara persepsi individu dan prilaku antar pribadi. Teori ini mengatakan bahwa pemahaman akan dan kemampuan memprediksi bagaimana orang akan bereaksi atas suatu peristiwa dapat ditingkatkan dengan mengetahui penjelasan sebab dari peristiwa itu.

Teori ini menyangkut ATRIBUSI PEMIMPIN — dimana pemimpin harus dapat menggolongkan sebab dari prilaku pengikut/bawahan apa termasuk kategori: : manusia, kesatuan, atau konteks. Contoh peristiwa jeleknya kualitas. Ini apa disebabkan manusia (missal: kemampuan tidak memadai), Tugas (kesatuan administrasi, koordinasi bagian atau lainnya yang ada), atau beberapa kejadian unik yang mengelilingi kejadian (konteks).

ATRIBUSI TENTANG SEORANG PENGIKUT —- dimana disini kejadian, tingkah laku bawahan digolongkan menjadi : Keistimewaan, konsistensi, dan Konsensus. Misalnya; seorang bawahan melakukan tugas sehingga kualitas hasil berkualitas jelek. Apa ini hanya pada tugas itu saja, tugas-tugas yang lainnya tidak jelek (keistimewaan). Apa sering ia melakukan kejelekan ini, dibagian tertentu sering, atau dibagian-bagian yang lainpun untuk bawahan ini sering (konsistensi). Apa bawahan yang lain untuk pekerjaan ini, dibagian ini, kualitasnya jelek (consensus).

Apakah sebab itu internal (kurangnya upaya bawahan) atau sebab eksternal (diluar kendali bawahan, misal: alatnya sudah tua, kondisi kerja yang tidak baik dll).

Bila pemimpin membuat atribusi internal maka gaya kepemimpinannya cenderung menghukum, kekerasan dll.:

KEPEMIMPINAN KARISMATIK

Karisma dari bahasa Yunani yang artinya “Bakat”. Kepemimpinan Karismatik adalah kemampuan untuk mempengaruhi pengikut berdasarkan pada baker supranatural dan kekuatan yang menarik. Pengikut menikmati karismanya pemimpin karena mereka merasa memperoleh inspirasi, kebenaran dan penting. Mereka biasanya bekerja berdasarkan visi dan dalam kondisi kritis. Perkembangan pemimpin karismatik: Pertama: pemimpin secara kontinyu menilai lingkungan, menyesuaikan dan merumuskan sebuah visi tentang apa yang harus dilakukan. Sasaran pemimpin dibentuk . Kedua : Pemimpin menyampikan visinya kepada para pendukung, menggunakan cara apapun yang perlu. Ketiga : Dititik beratkan dengan bekerja berdasarkan kepercayaan dan komitmen. Mengerjakan hal-hal yang tak terduga, mengambil resiko dan menjadi ahli secara teknis. Keempat : Pemimpin karismatik bekerja sebagai model dan motivator.

KEPEMIMPINAN TRANSAKSIONAL DAN TRANFORMASIONAL

Kepemimpinan Transaksional adalah kepemimpinan dimana pemimpin membantu para pengikut mengenali apa yang disenangi dan diinginkan dan membantu mereka mencapai tingkat pelaksanaan yang menghasilkan penghargaan yang memuaskan dari pencapaian keinginan mereka. Pendekatan ini menggunakan konsep Path-goal sebagai kerangka kerjanya. Contoh: Upah-prestasi, Jabatan-gaji dll.

Kepemimpinan Tranformasional adalah kepemimpinan dimana pemimpin memiliki kemampuan untuk memberikan inspirasi dan memotivasi para pengikut untuk mencapai hasil-hasil yang lebih besar dari pada yang direncanakan secara orisinil/formal untuk imbalan internal.

Faktor-faktor kepemimpinan tranformasional dalam penelitian Bass (Leadhership Performance) adalah:  Karisma : Pemimpin mampu menanamkan suatu rasa nilai, hormat, dan kebanggaan dan untuk mengutarakan sutau visi dengan jelas. Perhatian individual : Pemimpin memberi perhatian pada kebutuhan para pengikut dan menugaskan proyek-proyek berarti sehingga para pengikut tumbuh sebagai pribadi. Rangsangan Intelektual : Pemimpin membentu para pengikut berfikir kembali dengan cara-cara rasional untuk memeriksa sebuah situasi. Ia mendorong para pengikut agar kreatif. Penghargaan yang tak terduga : Pemimpin memberitahu para pengikut tentang apa yang harus dilakukan untuk menerima perhargaan yang lebih mereka sukai. Manajemen dengan pengecualian : Pemimpi pengijinkan para pengikut untuk mengerjakan tugas dan tidak mengganggu kecuali bila sasaran-sasaran tidak dicapai dalam waktu yang masuk akal dan biaya yang pantas.

C. TEORI-TEORI KEPEMIMPINAN

TEORI SIFAT

Teori ini berusaha mengidentifikasi karakteristik khas (fisik, mental, kepribadian) yang diasosiasikan dengan keberhasilan kepemimpinan. Diidentifikasi ; Intelegensia: Penyesuaian diri, mampu memutuskan, pengetahuan dan kelancaran bicara dll. Kepribadian: individualisme, kreatif (independent dalam melakukan respon), penyesuaian diri, kesigapan, integritas pribadi, percaya diri dan keseimbangan emosional dan kemandirian control (non-conformity) dll, dianggap cirri kepmimpinan yang baik/effektif.  Karakteristik Fisik : lenih besar dan tinggi diasosiasikan memiliki peluang yang lebih untuk memimpim dibandingkan lainnya. Kemampuan :  Kemampuan untuk mendapatkan kerjasama, Populer dan berpengaruh, Sosiabilitas, partisipasi sosial, taktis dan diplomatis.

Teori ini dikritik karena: 1) daftar sifat takterbatas hanya itu, 2) Skor tes yang dilakukan mengandung subjektifitas ada jalinan pengaruh lain 3) pola prilaku effektif sangat bergantung pada situasinya.

TEORI PRIBADI-PRILAKU

Teori ini mencari tahu bagaimana prilaku pemimpin menentukan effektifitasnya. Ada beberapa penelitian disini: Studi dari universitas of Michigan, ada dua kategori yaitu 1) Kepemimpinan yang berpusat pada pekerjaan —- disini pemimpin mengawasi secara ketat pekerjaan dan kinerja bawahan. 2) Pemimpin berpusat pada Karyawan —-pemimpin hanya mengawasi secara umum pekerjaan orang lain. Ia berusaha agar orang lain merasakan otonoi dan dukungan. Kritik pada teori ini adalah siplifikasi, hanya dua kategori saja.

Studi dari Ohio State University, ada dua kategori yang dilihat dari pemimpin yaitu 1) Membentuk struktur —- Tindakan dari kepemimpinan berarti pembentukan struktur tugas dan tanggung jawab dari pengikut. 2) Konsiderasi — Tindakan dari pemimpin yang menunjukkan dukungan bagi pengikutnya dalam suatu kelompok.

TEORI SITUASIONAL

Suatu pendekatan terhadap kepemimpinan yang menyatakan bahwa pemimpin memahami perilakunya,sifat-sifat bawahannya dan situasi sebelum menggunakan suatu gaya kepemimpinan tertentu. Pendekatan ini mensyaratkan pemimpin untuk memiliki keterampilan diagnostic dalam perilaku manusia. Pemimpin yang effektif disini harus menyesuaikan terhadap perbedaan-perbedaan bawahan dan situasinya.

MODEL KONTINGENSI

Teori ini mengatakan effektifitas kepemimpinan tergantung dari interaksi gaya kepemimpinan dan situasi yang mendukung. gaya kepeimpinan, Dalam GAYA KEPEMIMPINAN yang dilihat seperti : 1) Berpusat pada karyawan dan pekerjaan (pencetusnya Likert) —- ini menghasilkan peningkatan produksi namun dalam waktu lama menimbulkan penekanan dan penolakan, melalui absensi, turn-over karyawan —- Gaya terbaik berpusat pada karyawan. 2) Membentuk Struktur dan Konsiderasi (pencetusnya: Fleisman, Stogdill dan Shartle) —- kombinasi dari menciptakan struktur dan konsiderasi dalam situasi menentukan effektifitasnya. Dalam SITUASI yang dilihat adalah: 1) Hubungan Pemimpin-Anggota — ini mengacu pada derajat keyakinan, kepercayaan dan rasa hormat yang didapatkan pemimpin dari pengikutnya. 2) Struktur tugas —- ini mengacu pada bagaimana terstrukturnya tugas dengan mempertimbangkan persyaratan, alternative pemecahan masalah dan unpan balik pada keberhasilan kerja. 3) Kekuasaan Posisi — ini mengacu pada kekuatan inheren dalam posisi kepemimpinan.

MODEL PATH-GOAL (jalur tujuan)

Teori ini beranggapan bahwa seorang pemimpin perlu mempengaruhi persepsi pengikutnya mengenai tujuan kerja, tujuan pengembembangan diri dan cara-cara pencapaiannya.

Disini disimulasikan ada 4 prilaku pemimpin yaitu; 1) Direktif – cenderung membiarkan bawahan mengetahui apa yang diharapkan dari mereka. 2) Suportif – memperlakukan bawahan dengan derajat yang sama. 3) Partisipatif – meminta pendapat bawahan dan mempertimbangkan saran dan ide mereka sebelum mencapai suatu keputusan. 4) Orientasi pada prestasi – menetapkan tujuan-tujuan yang menantang, mengharapkan bawahan untuk memberikan prestasinya pada tingkat yang paling tinggi, dan secara terus menerus melakukan perbaikan prestasi.

Tiga (3) sikap bawahan yaitu 1) Kepuasan kerja, 2) penerimaan terhadap pemimpin dan 3) pengharapan terhadap hubungan usaha- prestasi- penghargaan.

Hasil studi empiris menemukan: Ketika struktur tugas (pengulangan dan rutinitas pekerjaan) tinggi, prilaku pemimpin yang direktif berhubungan negative terhadap kepuasan. Juga, ketika struktur tugas rendah, perilaku kepemimpinan direktif berhubungan positif terhadap kepuasan. Ketika struktur tugas tinggi, kepemimpinan Supportif berhubungan positif terhadap kepuasan, dst.

TEORI KEPEMIMPINAN SITUASIONAL HERSEY- BLANCHARD

Penekanan teori ini pada pengkut dan tingkat kematangan mereka. Disini Pemimpin harus dapat menilai secara benar atau intuitif mengenai tingkat kematangan pengikut-pengikutnya kemudian menyesuaian gaya kepemimpinannya dengan kematangan pengikut-pengikutnya.

Disini Hersey-Blanchard menggunakan studi Ohio State dan mengembangkan empat (4) gaya kepemimpinan, yaitu 1) Mengatakan/Telling —- Pemimpin mendefinisikan peran-peran yang dibutuhkan untuk melakukan tugas dan mengatakan pada pengkutnya apa, dimana, bagaimana dan kapan untuk melakukan tugas-tugasnya. 2) Menjual/Selling —– Pemimpin menyediakan intruksi-intruksi terstruktur bagi pengikutnya, tetapi juga suportif. 3) Berpartisipasi/Participating —– Pemimpi dan pengikut saling berbagi dalam keputusan-keputusan mengenai bagaimana yang paling baik untuk menyelesaikan suatu tugas dengan kualitas tinggi. 4) Mendelegasikan/Delegating —– Pemimpin menyediakan sedikit pengarahan secara seksama, spesifik atau dukungan pribadi terhadap pengikut-pengikutnya. Problem disini adalah: Apakah orang dalam posisi kepemimpinan semudah ini untuk menyesuaikan?

PENDEKATAN HUBUNGAN BERPASANGAN VERTIKAL

Teori ini mengatakan bahwa tidak ada hal seperti perilaku kepemimpinan yang konsisten terhadap seluruh bawahan. Tiap hubungan satu-satu memiliki keunikannya sendiri-sendiri.

Disini dibedakan dua kelompok yaitu; 1) kelompok dalam —- dimana keterbukaan, kultur,dan peluang mobilitas keatasnya lebih berpotensi. Biasanya kelompok ini menerima tugas-tugas yang menantang dan imbalan yang berarti. 2) Kelopok luar—– dimana keterbukaan, kultut dan mobilitas keatas lebih rendah, karena tidak dipilih oleh pemimpin sebagai setipe.

SUBSTTUSI KEPEMIMPINAN

Ini adalah karakteristik tugas, organisasional, dan bawahan yang dapat menggantikan prilaku kepemimpinan. Seorang pemimpin akan memiliki sedikit atau tidak sama sekali pengaruh bila ada situasi ini. Misalnya: Pegawai yang berpengalaman, terlatih secara baik, berpengetahuan tidak membutuhkan seorang pemimpin untuk menstruktur tugas (bagi seorang pemimpin yang berorientasi pada tugas). Dll.

Daftar kepustakaan terpilih

Gary Yulk, “Leadership in Organizations 3th ” , (1994).                                                                                                                             Gibson dkk, “Organisational 8th ” , (1995)                                                                                                                                                              Paul Hersey & Ken Blanchard, “Management of organizational Behavior 4th “, (1982)

Tentang pendidikan positif

Kami adalah Pendidik, Guru, Dosen dan Trainer. Alumni Pasca Sarjana Univ Brawijaya Malang, sekarang studi lanjut di Department Psychology. Kami mengembangkan Seminar, Workshop, dan berbagai Test berbasiskan psikology. Mulai dari 1. Workshop berbasiskan Multiple Intelligence, Topografi Otak, Power Personality, Performance Barrier, Succes with Understanding Personality, Otak Kanan- Otak Kiri, bagaimana mengetahui dan memanfaatkannya untuk sukses dll. Semua itu untuk pengembnagan SDM dan Human Capital. Baik untuk Guru, anak-anak (TK, SD, SMP, SMA, PT), juga untuk karyawan Industri dan Perusahaan. 2. Test test yang mendukung workshop dan seminar diatas seperti; a) Test Multiple Intelligence, b) Test Personality, c) Test Performance Barrier dll. Konsep Kami adalah......Discovering Your Royal road to learning, achievable and Personal Satisfaction. Bagaimana caranya? Caranya dengan discovering your talent, your ability (dengan pemahaman, test), the right place....maka sukses dan bahagia akan mudah didapatkan. Positif Pendidikan adalah Pendidikan yang berusahan menjadikan pebelajar (siapapun yang belajar), akan mampu untuk meraih tidak hanya sukses (achievable) tapi juga bahagia (will-being). Success and Happy.
Pos ini dipublikasikan di Lain-lain. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s