Meraih Kebahagiaan (Bagian 2)

Manakah yang menjadikan orang sakit, kuman dari luar atau kekuatan dia yang sedang menurun. Pasteur dan Robert Koch adalah penemu-penemu mikroba penyebab penyakit TBC. Tetapi pertanyaan dapat dibuat sekali lagi, orang kena TBC karena adanya kuman itu, atau karena melemahnya kondisi korban? Hal seperti ini sudah dilaporkan oleh penulis-penulis Hindu dulu, juga dalam tulisan Alexandre Dumas, La dame aus Camelias yang mengisahkan Marguerite Gauthier. Pelacur cantik yang kena penyakit TBC, setelah ia berpacaran dengan Armand Duval, penyakit itu lenyap dan ia segar dan cantik. Tetapi setelah ia pisah dan disakiti oleh pacarnya, penyakit itu timbul lagi sampai akhirnya merengut jiwanya.

Walaupun tbc dinisbahkan kepada infeksi mikroba, penelitian kedokteran mutakhir menunjukkan kebenaran cerita Alexander Dumas diatas. Adanya basil tbc tidak selalu menimbulkan penyakit. Banyak orang yang diekspose dengan agen patogenis ini tidak terinfeksi. Diantara mereka yang terinfeksi, hanya 5 sampai 15 persen sakit secara klinis. Bila dilacak lebih cermat, ternyata situasi emosional pasien sebelumnya sangat mempengaruhi perkembangan penyakit ini. Penderitaan memperparah dan kebahagiaan menyembuhkannya. Ini juga yang dilukiskan Shakespeare dalam Loves labour’s Lost.

Sampai akhir abad XX, psikolog banyak mencurahkan perhatian pada emosi-emosi negative (takut, cemas dll) terhadap berbagai penyakit, stress seperti Fobia, depresi dll. Pertanyaan selanjutnya apakah emosi positif membawa dampak sebaliknya? Apakah positif feeling ada hubungannya dengan positif character. Seperti pertanyaan Psikolog Martin Seligman, bapak psikologi positif.

Martin Seligman dalam bukunya Authentic Happines mengatakan; ada daerah-daerah tertentu (Utah) yang umur rata-rata penduduknya lebih tinggi dibanding daerah yang lain (Nevada). Apa penyebab ini? Banyak factor yang mempengaruhinya, mulai dari udara daerah itu, pekerjaan yang dipilih rata-rat orang disana, kurangnya mereka berjudi dan minum alcohol dll. Seligman untuk membuktikan teori-teorinya ia mengumpulkan 180 biarawati dari dua daerah itu (Nevada dan Utah), hampir semua latar belakang kedua kelompok itu sama hanya yang membedakan adalah “bahagia” dan yang “kurang bahagia”. Ternyata dari perhitungan statistic kelompok yang lebih bahagia memiliki kemungkinan bertahan hidup lebih tinggi dari yang kurang bahagia.

Fredrickson menyebutkan empat emosi positif yaitu; Joy (keceriaan), Interest (ketertarikan), Contentment (kepuasan), dan Love (Cinta). Banyak penelitaian dilakukan, Henry Balkwin menemukan hal yang menakjubkan di rumah sakit Bellevue tahun 1931, semula kebiasaan di rumah sakit itu, bayi yang sakit tak boleh disentuh karena alasan higinis, tetapi ia menyuruh hapus larangan itu. Bayi-bayi yang digendong, disentuh justru lebih cepat sembuh. Harriet Harlow melakukan eksperimen dengan monyet Rhesus, monyet-monyet tanpa ibu, monyet dengan ibu-ibuan boneka dan monyet dengan ibu. Monyet yang hidup sendirian lebih rentan penyakit dst. Pada tahun-tahun yang sama 126 mahasiswa Harvard ditanya hubungan dengan orang tua mereka. Yang hubungannya baik, ternyata kurang rentan terhadap penyakin (kronis, alkoholosme, depresi dll), dibanding dengan anak yang hubungannya jelek. Dalam penelitian lain yang dilakukan selama 50 tahun, hubungan yang buruk dengan orang tua menjadi satu-satunya predictor paling tepat untuk kemungkinan mengidap kanker.

Goldstein (1982) mengumpulkan pendapat pada dokter dan ilmuwan sejak abad 13 sampai abad 19 tentang pengaruh humor terhadap kesehatan. Henri de Mondeville, mengatakan; tertawa dapat digunakan untuk mempercepat penyembuhan setelah pembedahan. Abad 16 Jubert menyatakan; tertawa menghasilkan kelebihan aliran darah yang membentuk air muka yang tanpak sehat dan menimbulkan vitalitas pada wajah. Karena itu tertawa dihubungkan dengan daya penyembuh yang sangat penting untuk kesehatan pasien. Juga Ricard Mulcaster dll. Pada abad XX, Prof. Walsh dari univ kedokteran Fordhem menulis buku “Lughther and Health” (1928) ia mengatakan; “rumus terbaik bagi kesehatan individu diungkapkan secara matematis: kesehatan bervariasi sesuai dengan jumlah tertawa … efek yang baik pada pikiran ini mempengaruhi berbagai fungsi tubuh dan membuatnya lebih sehat ketimbang hal-hal lainnya.”

Norman Cousins, yang terkenal sebagai pendiri psikologi Neuroimunologi (sebuah cabang ilmu kedokteran yang mempelajari pengaruh sejala-gejala mental terhadap system imun) dalam “Anatomy of an Illness” (1979) mengatakan;  peran humor sangat penting dalam penyembuhan penyakit. Ia menemukan bahwa beberapa saat tertawa dapat mengurangi tingkat sedimentasi, yang berarti mengurangi inflammasi. Tertawa sama dengan internal jogging.

David McCleland dalam salah satu penelitiannya tentang efek humor, menemukan kosentrasi immunoglobulin tipe A (IgA) yang tinggi pada ludah orang-orang yang memiliki sense of humor yang tinggi. IgA adalah zat antibody yang aktif melawan infeksi virus seperti flu. IgA juga meningkat saat orang membayangkan hal-hal yang indah, mencintai atau dicintai. Prof Lee S.Berk dari School of Medicine and Public Health di Loma Linda univ California, meneliti dampak fisiologis dari tertawa dan perasaan bahagia lain. Ia menemukan kebahagiaan memperbaiki system pernafasan, menambah jumlah sel-sel imun, menurunkan kartisol dengan begitu mengurangi bahaya stress, menaikkan endorphin (endogenous morfin), yaitu morfin yang dihasilkan tubuh, dengan meningkatnya ini maka berguna untuk menghilangkan rasa sakit dan mengubah tubuh menjadi tenang, tentram dan enak. Menambah IgA

Tetapi mesti diingat, menagis dan tertawa tidak mesti menunjukkan emosi positi dan negative. Ada tertawa kecut karena menahan emosi, ada mengangis karena bahagia, haru, terima kasih dll. Ini disebut oleh Jonathan Haidt dengan sebutan elevation              (=  keharuan batin). Emosi ini termasuk kelompok yang seringkali lolos dari perhatian peneliti psikologi. Elevation mempunyai hampir semua  ciri emosi dasar. Ada kondisi yang melahirkan (tindakan keindahan moral), efek fisiologisnya (seperti perasaan didalam dada yang mungkin melibatkan syaraf vagus, yang memberikan perasaan hangat, terbuka, dan menyenangkan), dan kecendrungan tindakan (keinginan untuk mejadi orang yang lebih baik untuk bisa lebih penyayang atau mau menolong orang lain). Elevation memang hampir sulit diungkapkan dalam air muka tertentu (mungkin karena inilah maka sulit diteliti). Elevation mendorong orang untuk mendekati orang lain. Elevation timbul karena melihat perhatian orang yang tulus kepada orang lainnya, inilah emosi yang menyebabkan orang melakukan tindakan altruis[1].

Fredrickson mengatakan bukan hanya elevation, tetapi semua emosi positif begitu. Ia mengembangkan teori Broaden and Build (emosi positif memperluas, broaden pikiran dan tindakan serta membangun, build sumberdaya personal, emosi negative mempersempitnya).

Berbagai penelitian menunjukkan bahwa orang yang bahagia berfikir fleksibel dan inklusif, kreatif dan reseptif. Inilah makanya dalam rapat, dalam kelas harus diselingi dan diusahakan tidak tegang. Ceria, bahagia. Learing must be fun. Ketika anda bahagia, anda membangun sumber daya intelektual dengan berfikir lebih kreatif, toleran dengan perbedaan, terbuka pad ide-ide baru, dan belajar lebih efektif (building hypothesis). Ketika anda bahagia anda membangun dan mengembangkan daya fisik anda dengan lebih sehat dan lebih kuat (undoing hypothesis).

Martin Seligman, mantan Presiden Amirican Psychological Association mengatakan; “orang yang bahagia lebih cenderung menolong, lebih empati dan bersedia menyumbang dll.

Robert Browning menyimpulkan; “Oh, make us happy and you make us good. ”Walhasil kebahagiaan membuat orang berakhlak mulia. Inilah mengapa agama-agama mengajarkan kita berbuat baik, karena dengan itu kita akan bahagia. “serta berbuatlah kebaikan supaya kamu berbahagia” (QS; 22:73) kata Al Qur’an.

“Kebahagiaan tidak dicapai dengan jerih payah; kebahagiaan diperoleh dengan mengurangi keinginan”. Kebahagiaan (Ing: Happiness, Jer: Gluck, Lat: Felicitas, Yun: Eutychai, Eudaimonia. Arab: Falah, Sa’adah). Dalam bahasa arab dan bahasa eropa menunjukkan keberuntungan, peluang baik, dan kejadian yang baik. Dalam bahasa Cina, xing fu, kebahagiaan terdiri dari gabungan kata ‘beruntung” dan “nasib baik”.

Kaun Hedonis (Aristippus dan Epicurus), juga Utilitarian (Bentham dan J.S Mill), menetapkan kebahagiaan sebagai landasan moral. Baik buruknya suatu tindakan diukur sejauh mana tindakan itu membawa kita pada kebahagiaan. Jika makan itu membuat kita bahagia, maka makan itu perbuatan baik, jika makan itu membuat sakit perut, maka makan itu menjadi perbuatan buruk. Immanuel kant, mengatakan bahwa perbuatan baik adalah tuntutan etis, suatu keharusan, walau sesuatu itu jelas-jelas tidak mendatangkan kebahagiaan. Kebaikan adalah kewajiban yang harus (imperative) kita lakukan. Apapun itu.

John Kekes, dalam Encyclopedia of Ethics menulis dengan bahasa saya (SMHHJ) sendiri (SMAHJ);  kebahagiaan atau seorang dikatakan bahagia, apabila ia tidak menginginkan/menuntut perubahan, apa yang sudah dialaminya dalam hidup. Sehinga bila ia ditanya apakah ada keinginan untuk perubahan-perubahan bila ia dikembalikan seperti dulu (kesenangan dan kesedihan) yang akhirnya membuatnya seperti sekarang ini. Jawaban orang yang bahagia adalah tidak. Ia cukup dan sangat puas dengan keadaannya yang sudah ia lewati sampai sekarang.

Jadi disini (menurut kreteria diatas) kebahagiaan ada dua hal yaitu; Episode dan Sikap. 1) Episode; kebahagiaan adalah kumpulan dari kejadian-kejadian yang memuaskan kita. Baik ada yang menyakitkan, menguntungkan dst, tetapi secara total kita puas dengan itu sampai saat ini. 2) Sikap; kebahagiaan adalah makna rangkaian episode itu dari keseluruhan hidup kita.

Upaya meraih kebahagiaan adalah proses terus menerus untuk mengumpulkan semua kebaikan; kekayaan, kehormatan, kepandaian, kecantikan, persahabatan dan sebagainya yang sangat diperlukan untuk menyempurnakan fitrah kemanusiaan dan memperkaya kehidupan. Anehnya banyak orang yang hanya mengejar satu dan mengabaikan yang lain. Contoh hanya mengejar kekayaan, mengabaiakan hubungan baik dan keakraban keluarga dst.

Secara umum cara mengukur kebahagiaan adalah; 1) Menggunakan ukuran standart untuk menguji apakah pengakuan seseorang itu bahagia atau tidak benar atau salah. Ini melahirkan “kebahagiaan objektif”. Dalam hal ini kita menemukan tokoh-tokohnya Plato, Aristoteles, Thomas Aquinas, Al Ghazali dll. 2) Kita tanya kepada seseorang apakah ia bahagia atau tidak setelah ia melakukan pilihan-pilihan dalam hidupnya (seperti diatas). Ini melahirkan “kebahagiaan subjektif”. Tokohnya bisa kita sebut disini; Hobbes, Hume, Mills serta kaum emotivis, eksistensialis dan egois.

Untuk meneliti kebahagiaan objektif sulit sekali, sebab ia harus dirujukkan ke (al Qur’an atau Syari’at dalam Islam, Taurat dalam agama Yahudi dst), Hukum kodrat dll. Ilmuan lebih senang dengan melihat ukuran subjektifnya. Karena konsep ini dapat dioperasionalkan dalam penelitian. Berdasarkan konsep ini kita dapat membandingkan antara tingkat kebahagiaan satu dengan yang lain. Kita juga dapat meneliti factor-faktor apa saja yang mempengaruhi, sangat mempengaruhi kebahagiaan.

Kita bisa mengukur kebahagiaan dengan daftar pertanyaan pada penelitian Norman Bradburn dari Chicago, juga Martin Seligman dengan Satisfaction with Life Scale-nya, bisa juga dengan Approaches to Happiness Questionnaire karya Chris Peterson, dari Value in Action Institute (VIA), juga L.S Randoff dari The Center for Epideminological Studies-Depression Scale (CES-D) National Institute of Mental Health, AS (J. Rahmat; hal107-114).


[1] Bertindak atau berkorban untuk kepentingan orang lain. Lawan dari egois.

Tentang pendidikan positif

Kami adalah Pendidik, Guru, Dosen dan Trainer. Alumni Pasca Sarjana Univ Brawijaya Malang, sekarang studi lanjut di Department Psychology. Kami mengembangkan Seminar, Workshop, dan berbagai Test berbasiskan psikology. Mulai dari 1. Workshop berbasiskan Multiple Intelligence, Topografi Otak, Power Personality, Performance Barrier, Succes with Understanding Personality, Otak Kanan- Otak Kiri, bagaimana mengetahui dan memanfaatkannya untuk sukses dll. Semua itu untuk pengembnagan SDM dan Human Capital. Baik untuk Guru, anak-anak (TK, SD, SMP, SMA, PT), juga untuk karyawan Industri dan Perusahaan. 2. Test test yang mendukung workshop dan seminar diatas seperti; a) Test Multiple Intelligence, b) Test Personality, c) Test Performance Barrier dll. Konsep Kami adalah......Discovering Your Royal road to learning, achievable and Personal Satisfaction. Bagaimana caranya? Caranya dengan discovering your talent, your ability (dengan pemahaman, test), the right place....maka sukses dan bahagia akan mudah didapatkan. Positif Pendidikan adalah Pendidikan yang berusahan menjadikan pebelajar (siapapun yang belajar), akan mampu untuk meraih tidak hanya sukses (achievable) tapi juga bahagia (will-being). Success and Happy.
Pos ini dipublikasikan di Psikologi dan Pendidikan. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s