Informasi Yang Masuk Otak Kita Tidak akan Hilang

Beberapa  bulan yang lalu, saya berdiskusi dengan seorang teman, dimana pengetahuan filsafat sangat mumpuni, walau ‘mungkin’ kurang memahami ilmu-ilmu empiristik (sain), saya tidak berani memastikannya. Tetapi memang, Kita harus mengetahui bahwa, saat sain mentok, maka filsafatlah yang harus mulai jalan, bukan sebaliknya.

Sekadar contoh: Dalam ilmu pengetahuan (sain) dikatakan bahwa partikel terkecil dialam itu bulatan, (apakah itu electron/neutron dst), yang sekarang menjadi quark dan Spin dst, saya kurang tahu seterusnya. Kalau fisika mengatakan itu terkecil, maka filsafat mengatakan, masih bisa dibelah (belum terkecil). Sebab ada dalil dalam filsafat: “Apapun yang masih memiliki sisi kanan dan kiri, maka berarti, sesuatu itu masih bisa dibagi”. Logika ini memang benar tetapi sekaligus aneh? Mengapa? Sebab sesuatu yang terbatas (misalnya Kertas, meja dst), ternyata dapat dibagi-bagi terus sampai ‘tak terbatas’. Sebab setiap pembelahan, pasti menyisakan sisi kanan dan kiri. (Saya tidak ingin meneruskan ini).

Karenanya dalam Matematika dikatakan: Kalau kita tanya apakah itu garis? Jawabnya adalah kumpulan dari titik-titik. Lalu apakah titik itu? Bukankah titik itu juga garis? Dst..dst. Jangan heran bahwa dalam sebuah segitiga yang dalam sekolah diajarkan itu 180 derajat, sebenarnya tidak cukup benar. Dia menjadi benar sebab dianggap benar (untuk sesuatu yang tidak terlalu kecil atau sangat-sangat besar). Inilah beda Matematika/Fisika Newton dan Fisika Quatum. Fisika Newton ‘salah’ bila digunakan untuk alam semesta yang sangat besar atau melihat partikel-partikel yang sangat kecil.

Dalam salah satu Tulisan dikatakan; Otak kita mampu menampung informasi sebenar 280 quintiliun atau 280 x 10 (nolnya 18) bit informasi (Hunt: Communication in The Classroom, 1982 hal 85). Kalau ini kita jadikan dalam bentuk buku; ini sebenarnya pengalaman saya sendiri saat menulis test tahun 90an, dimana disket kecil itu memuat kurang-lebih 200 lembar halaman test saya (berbentuk Word). Artinya apa? Kalau kita hitung-hitungan maka; 1,4 Kb = 200 lembar buku, jadi 280 (nolnya 18)/1400 x 200 lembar = 4. 10 (nolnya 17) = 400 trilyun buku dimana @ tebalnya 500 halaman.

Mengapa  kapasitas otak sebesar itu? Ini sangat mafhum sebab; otak kita itu dirancang untuk senang dengan ekstensi film dan gambar (avi, jpeg, mpeg, jpg dst), dia tidak suka dengan ekstensi (.doxc atau .xlc). Artinya  apa? Bila informasi yang kita sampaikan ke otak itu dengan bicara, menulis dipapan (seperti pengajaran tempo doeloe), maka penyimpanan informasinya kurang baik (sebab informasinya berekstensi .doxc). Tetapi bila dengan sentuhan gambar, film dst (ini akan mengaktifkan bagian otak yang namanya sistem limbik; emosi). Dan informasi itu akan diterima dengan baik oleh otak kita. Karena dditerima dengan baik (dalam pengarsipannya dst) maka nantinya akan mudah dipanggil kembali.

Sekadar contoh: bila saya mengatakan kepada anda (Hasan misalnya). Hasan tolong kamu cari polpen bapak ini, nanti akan bapak letakkan polpen ini di Surabaya. Apa yang terjadi? Hasan jelas tidak akan mampu mencarinya. Apakah polpen itu hilang? Jawabnya tidak, tetapi karena luasnya tempat, maka sangat-sangat sulit, bahkan mustahil mencarinya. demikian juga informasi yang masuk otak kita. karena luasnya daya tampung otak kita (bak hutan belantara), maka bila informasi itu diletakkan seenaknya, maka akan sulit dicari kembali (recalling dst). Tetapi coba kita ganti informasinya: Hasan coba cari polpen bapak ya, yang akan bapak letakkan di Surabaya, jalan Sepat, gang 14 Nomer 5, di dapur diatas Kulkas. Jelas bolpen itu akan ditemukan. Mengapa? Adanya cleu, petunjuk, emosi, gambar, warna, film, sentuhan emosi dll, akan membuat informasi itu menemukan jalan-jalannya di dalam ‘kesemwawutan’ kabel-kabel saraf dan neuron otak kita. Inilah yang juga semestinya kita lakukan dalam pendidikan dan pengajaran serta pemberian informasi…agar tidak ‘seakan’ menguap hilang tanpa bekas.

Disini saya sedikit bisa menerima informasi lain yang mengatakan; “Setiap informasi yang masuk ke Otak kita, maka informasi itu tersimpan. Dia tidak hilang, hanya saja kita tidak mampu untuk memanggilnya kembali, recalling, remembering dst). Apa buktinya? Sering kali kita berkata; “Sepetinya Saya pernah mendengar informasi ini”, “Anak atau kita yang pernah mendapatkan informasi X, walau lupa sama sekali, bila informasi itu diberikan kembali, diajarkan kembali, maka anak-anak yang pernah mendapatkan itu akan lebih mudah menerimanya, dibanding yang belum pernah”, dst…dst.

Bagi saya informasi ini bisa diterima, walau memang belum pasti tingkat kebenarannya. Tetapi bagi seoarang yang cara berfikirnya filosofis mengatakan; “bukti-bukti itu, informasi-informasi itu belum membuktikan kebenaran bahwa apa yang masuk ke otak kita tidak hilang”. Sekian banyak bukti belum memberikan sebuah kepastian, tetapi  satu kesalahan membuktikan itu memang salah. Sebagai contoh: Kalau kita melihat 1 juta burung Bangau berwarna putih, kita katakana burung bangau berwarna putih, maka itu belum pasti benar. Tetapi yang pasti benar adalah Tidak semua burung bangau berwarna Hitam (ini pasti benar).

La Haula Wala Quwwata illa Billah

Muhammad Alwi, Pernah Kuliah di Kedokteran Umum (Univ Airlangga Surabaya), Alumni PPS Univ Brawijaya Malang, sekarang Study lanjut di Psychology Department. Peminat; Pendidikan, Psikologi dan Filsafat.

Tentang pendidikan positif

Kami adalah Pendidik, Guru, Dosen dan Trainer. Alumni Pasca Sarjana Univ Brawijaya Malang, sekarang studi lanjut di Department Psychology. Kami mengembangkan Seminar, Workshop, dan berbagai Test berbasiskan psikology. Mulai dari 1. Workshop berbasiskan Multiple Intelligence, Topografi Otak, Power Personality, Performance Barrier, Succes with Understanding Personality, Otak Kanan- Otak Kiri, bagaimana mengetahui dan memanfaatkannya untuk sukses dll. Semua itu untuk pengembnagan SDM dan Human Capital. Baik untuk Guru, anak-anak (TK, SD, SMP, SMA, PT), juga untuk karyawan Industri dan Perusahaan. 2. Test test yang mendukung workshop dan seminar diatas seperti; a) Test Multiple Intelligence, b) Test Personality, c) Test Performance Barrier dll. Konsep Kami adalah......Discovering Your Royal road to learning, achievable and Personal Satisfaction. Bagaimana caranya? Caranya dengan discovering your talent, your ability (dengan pemahaman, test), the right place....maka sukses dan bahagia akan mudah didapatkan. Positif Pendidikan adalah Pendidikan yang berusahan menjadikan pebelajar (siapapun yang belajar), akan mampu untuk meraih tidak hanya sukses (achievable) tapi juga bahagia (will-being). Success and Happy.
Pos ini dipublikasikan di Psikologi dan Pendidikan. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s