Uji Coba Kurikulum? Mengapa Tidak…Ini? Bagaimana Mengaplikasikan “Sekolah Positive” di Lembaga Pendidikan

HappinesKita adalah apa yang kita kerjakan berulang-ulang. Karena itu, Keunggulan bukanlah suatu perbuatan, melainkan sebuah Kebiasaan (Aristoteles).

Pengantar

Pertama-tama sebelum kita membahas banyak hal, maka kita mesti tahu apa itu pendidikan dan apa tujuan pendidikan yang sebenarnya. Secara umum tanpa ingin berpanjang-panjang definisi pendidikan adalah mengupayakan maksimalisasi potensi yang ada pada anak didik kita, pada diri kita, pada manusia. Artinya dalam pendidikan itu sebenarnya hanyalah menumbuhkan, bukan membuat sesuatu yang ‘tiada’ menjadi ‘ada’. Dari pilihan definisi ini, maka mau atau tidak mau, suka atau tidak suka, sebenarnya tujuan pendidikan kita adalah supaya anak itu sukses sekaligus bahagia. Pengolahan pendidikan dalam sekolah (lembaga pendidikan apapun), semestinya tidak mengalami ketimpangan, hanya olah piker saja, tetapi mesti ada keseimbangan dengan olah raga dan olah rasa.

Karenanya, sekali lagi tanpa memperpanjang-panjang (karena banyak hal yang sudah kami tulis, ditulisan-tulisan sebelumnya). Pendidikan semestinya menjadi PENDIDIKAN POSITIVE. Apa itu Pendidikan Positive (Positive Education)? Pendidikan Positive adalah pendidikan yang tidak hanya berusaha untuk membuat anak-anak menjadi sukses (mampu Matematika, Bahasa asing, Komputer, diterima di PTN ternama, bisa bekerja ditempat-tempat yang menjanjikan dst), tetapi juga Well-Being (Bahagia, punya AQ yang baik, optimist, belajar emotion positive, Gratitude, memiliki rasa syukur dan terima kasih, strength, memiliki kemampuan untu swot analsis diri sendiri, creativity, punya self-efficacy, percaya diri dst.

Dan kita mengetahui bahwa banyak anak yang baik disekolah (ranking bagus, nilai bagus, sekolah dan kuliah bagus) tetapi tidak sukses dalah kehidupan pribadinya. Gaji pas-pasan, seumur hidup menjadi pegawai, tidak memiliki kekayaan yang cukup dan sebagainya. Tetapi tidak hanya itu, banyak orang yang sukses secara material, kaya raya, bisnis lancar, tetapi kehidupan emosionalnya rapuh. Sehingga frustasi, stress, depresi bahkan bunuh diri. Disinilah kita memerlukan sekolah yang sejak dini mengajarkan tidak hanya sukses (sekolah, belajar, berani mengambil resiko, cerdas financial dst) yang mengarahkan pada kehidupan sukses, tapi juga harus mengajarkan yang lain seperti emosi positif, Adversity quotient, optimistic, gratitude, swot analisis diri dst, yang mengarahkan pada kebahagiaan.

Jadi kalau boleh kita katakan, maka tahapan sekolah ada tiga yaitu; Tahapan pertama. Sekolah saat ini hanya mengajarkan melek ilmu pengetahuan (cognitive). Tetapi belum mengajarkan sukses dalam kehidupan. Tahapan Kedua, adalah Sekolah untuk Sukses dimana sekolah-sekolah ini tidak hanya mengajarkan untuk mengerti ilmu pengetahuan, tetapi juga mengajarkan untuk sukses. Kalau boleh saya istilahkan, sekolah-sekolah ini semacam sekolah bisnis. Dimana keberanian mengambil resiko, melek financial dst diajarkan disini. Dan rata-rata lulusan sekolah seperti ini, akan lebih sukses dalam meraih kehidupan didunia. Tahapan ketiga adalah Sekolah Positive. Sekolah ini membekali anak-anak dengan kedua hal yang diberikan pada dua sekolah sebelumnya. Tetapi memberikan tambahan sentuhan untuk sukses mengelola pribadi-nya. Mengenalkan rasa-syukur dst (ada sentuhan religiositas dan karakter). Dengan tahapan sekolah ketiga ini maka, anak diharapkan tidak hanya punya ilmu (melek ilmu pengetahuan), tetapi juga melek financial (sukses secara material atau berkecukupan), tanpa meninggalkan ketenangan jiwa, batin, dimana ini adalah inti dari kebahagiaan dalam hidup.

Mengapa SEKOLAH POSITIF sangat perlu? 1) Fakta dan sesuai dengan banyak riset yang mengatakan bahwa banyak anak pandai yang sukses tapi tidak bahagia, stress, depresi dan bunuh diri. 2) Banyak riset yang menunjukkan bahwa; Kenaikan kekayaan material tertentu (setelah manusia itu berpenghasilan menengah), sangat sedikit bahkan tidak berhubungan dengan kebahagiaan. 3) fakta yang dikonsepkan oleh ucapan Thomas Lickona (pakar pendidikan karakter dan ahli perkembangan anak) yang mengatakan;   Ada 10 Tanda Kemunduran suatu Bangsa yaitu; a) Meningkatnya kekerasan di kalangan remaja. b) Penggunaan bahasa dan kata-kata yang buruk, c) Pengaruh peer group yang kuat dalam tindak kekerasan, d) Meningkatnya perilaku yang merusak diri seperti narkoba, sex bebas dan  alkohol, e) Kaburnya pedoman moral baik dan buruk, f) Penurunan etos kerja, g) Rendahnya rasa hormat kepada orangtua dan guru, h) Rendahnya rasa tanggungjawab baik sebagai individu dan warganegara, i) Ketidakjujuran yang telah membudaya, j) Adanya rasa saling curiga dan kebencian di antara sesama.

Ke sepuluh tanda-tanda ini sangat kasat matadimiliki oleh banyak Negara saat ini, termasuk Negara kita. Pertanyaannya adalah; “Apakah idealism sekolah semacam ini bisa diupayakan, bisa dilaksanakan dan dikerjakan? Inilah tujuan, yang akan diupayakan dalah tulisan ini.

otak kakan-kiri 2

Presmis-Premis yang digunakan:

  1. Manusia diciptakan dengan potensi yang cukup untuk meraih Sukses dan Bahagia. Bahkan default factory setting manusia adalah Sukses dan Bahagia.
  2. Setiap orang akan sukses apabila dia melaksanakan sesuatu yang ia cintai. Karena mengerjakan sesuatu yang ia membakatinya, pasti akan membuatnya expert. Dan apa itu, ‘sesuatu’ yang ia, seseorang, siswa cintai? Sesuatu yang ia cintai itu adalah ‘karakter’ dirinya, potensi dirinya, talenta dirinya atau dengan bahasa lain, itulah asli bakatnya. Secara umum dikatakan bahwa; Sukses akan terjadi bila Bakat + Usaha atau lingkungan yang mendukung.
  3. Bahagia itu adalah olah pikir dan perasaan. Sebab untuk bahagia kita tidak perlu pandai, tidak perlu kaya. Tetapi rasa syukur, menyadari, mampu mengintegrasikan sesuatu kedalam lingkup yang lebih besar itulah kebahagiaan.
  4. Tidak ada anak yang gagal, tidak ada anak yang bodoh, tidak ada karyawan yang tidak berperforma. Yang ada adalah anak yang salah diajar, yang ada adalah gaya belajar anak, kegemaran belajar anak, beda dengan gaya mengajar guru. Karyawan yang tidak berperforma itu disebabkan kesalahan dalam recruitment. Bila the right man on the right place benar, maka sukses, berperforma pasti didapatkan.
  5. Bila diketahui raw materialnya (bakatnya, kepribadiannya, swot analisi dirinya, kelebihan dan kelemahannya). Disini perlu dijelaskan bahwa ini dilakukan secara umum (kepastian tidak bisa didapatkan). Sebab kita berpandangan manusia itu makhluk pencari makna, bukan behaviorisme. Lalu bakat itu, kepribadian itu diolah, diasah, diasuh dengan benar, maka sukses akan lebih mudah didapatkan.

Proses Pendidikan

Dalam sebuah lembaga pendidikan (sekolah), maka banyak komponen yang mempengaruhi untuk sebuah kesuksesan. Tetapi bila kita melakukan analisis factor, maka factor-faktor dominan yang mempengaruhi kesuksesan seorang anak didik dalam sebuah lembaga pendidikan adalah; 1) Anak itu sendiri (makin tinggi tingkatannya makin besar factor ini), 2) Guru dan 3) Orang Tua.

Oleh karenanya dalam lembaha pendidikan, dimana ada Input, proses dan Output. Maka kita mesti melihatnya sebagai sebuah system tanpa memisahkan satu dengan yang lain.

Input.

Untuk mendapatkan sebuah input yang nantinya dari input itu akan dilakukan proses. Maka ada hal-hal yang perlu dilakukan yaitu;

  1. Input dalam PSB (Penerimaan Siswa baru) tidak boleh hanya mengandalkan kecerdasan anak (IQ) dan test tulis sepeti umumnya. Kita mesti menggabungkan berbagai ranah, sehingga bukan hanya anak yang pandai secara akademik saja yang diterima. Apakah test masih dimungkinkan? Jawabnya masih dimungkinkan. Mengingat seringkali yang menginginkan bersekolah ditempat tersebut sangat banyak, sementara daya tamping sekolah itu terbatas. Semestinya PGB (Penerimaan Guru Baru) juga melewati tahapan-tahapan yang mirip sama.
  2. Test-test Psikologi diantaranya;

Test OMI (observation Multiple Intelligence). Dengan test ini, maka akan diketahui 8 kecerdasan anak tersebut, mulai yang paling tinggi sampai yang paling rendah. (Lihat disini)

Ada beberapa tujuan dari test ini;

  • Dengan test OMI, akan diketahui kecendrungan kecerdasan seorang anak.
  • Dengan test OMI , akan diketahui bagaimana kecendrungan gaya belajar anak
  • Dengan test OMI, akan diketahui bagaimana cara mengajar anak itu, sehingga akan mudah diserapnya.
  • Dengan test OMI, akan diketahui, bagaimana memupuk kecerdasan itu, dengan memberikan tambahan lest, buku bacaan, permainan dst.
  • Dengan test OMI, akan diketahui jurusan apa yang layak untuk diambil diperguruan tinggi. Misalnya anak yang 3 kecerdasan tertingginya adalah Interpersonal, Lingustik dan Naturalis serta Logismatematis. Maka ada kemungkinan-kemungkinan pekerjaan dan jurusan kuliah yang mesti diambil. Antara lain; Agrobisnis, Jurusan Biologi dst.
  • Dengan test OMI, akan bisa diketahui pekerjaan apa yang pas dan cocok dengannya. Dst.

Dan Test Kepribadian lainnya.

Proses

Otak Gerak okeDalam Proses sebuah sekolah, itu ada beberapa bagian, salah satu yang terpenting adalah Bagian Proses Belajar Mengajar. Disini akan didapatkan antara lain; materi apa yang diajarkan, berapa jumlah jam pelajarannya, bagaimana proses pemberian materinya dst. Secara umum itu dapat dilakukan sesuai dengan kondisi sekolahnya masing-masing. Tetapi pada intinya, setelah input didapatkan (ini dilakukan dengan OMI), lalu dipetakan menjadi kecendrungan kelas per kelas. Misalnya (ini sudah dicobakan dibeberapa sekolah yang kami dampingi); Kelas A (Kecendrungan kecerdasan adalah; Linguistik, Logis-matematik, Visual dan Musik). Kelas B   (Kecendrungan Keceradasan : Logismatematis, Naturalis, Interpersonal dan Kinesthetik). Dst.

Dengan mengetahui kecendrungan kelasnya, kita akan dapat menyesuaikan lesson plan kita, strategi mengajar kita (para guru) dengan kecerdasan siswa-siswa kelas kita. Ini akan sangat bermanfaat di dalam penyajian materi di ruang kelas saat PBM (proses belajar mengajar). Disamping itu OMI akan memiliki fungsi-fungsi lainnya seperti disebutkan diatas.

Tetapi OMI dan PBM ini bisa menghasilkan kurang lebih 76% sampai 83% keinginan sekolah positive. Tetapi masih belum 100% lengkap, bila kita ingin benar-benar sekolah positive. Untuk mencapai idealisme sekolah positive (tahap ketiga), Kita perlu tambahan pelatihan-pelatihan guru terhadap 7 hal indikator yang mesti diajarkan di Sekolah Positive dan memberikan 4 jam pelajaran setiap minggu yang berhubungan dengan pencapaian kebahagiaan yang diharapkan dalam sekolah positive. Apa itu 7 indikatornya?

  1. Emotion (Belajar Emosi Positive). Disini siswa, guru dan juga orang tua diberikan pelatihan-pelatihan tentang emosi-positive. Siswa diberikan dikelas mengambil 4 jam setiap minggunya, dengan menghadikan guru yang mampu untuk itu. Sedangkan guru diberikan pengayaan dan upgrading, sementara orang tua diberikan saat parenting.
  2. Gratitude (Syukur, Terima Kasih)
  3. Strengths (Swot Analsis diri)
  4. Creativity
  5. Self-efficacy : Merupakan suatu bentuk kepercayaan yang dimiliki seseorang terhadap kapabilitas masing-masing untuk meningkatkan prestasi kehidupannya. Bagaimana meningkatkan perasaan, cara berpikir, motivasi diri, dan keinginan untuk memiliki susuatu target positive.
  6. Resilience (Ketahanan) dan
  7. Mindfulness (Kesadaran)

Output

Apa itu sukses? Apa yang ingin dikejar, yang ingin dicapai dalam sebuah out-put proses pendidikan? Sukses adalah mencapai apa yang diinginkan, apa yang dituju. Maka Keberhasilan disini diukur dengan tercapainya target dan tujuan, disamping kemampuan untuk tetap bertahan dengan resilience dan kesadaran serta gratitude yang cukup bila tidak mencapai target-nya.

Untuk menilai Out-put, maka perlu dilakukan sebuah bentuk evaluasi, penilaian. Penilaian, evaluasi, untuk menentukan sebuah out-put nantinya, mesti diambil sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai. Maka test kertas, portofolio, unjuk kerja juga test-test psikologi untuk mengukur peningkatan indicator-indikator sekolah positive perlu dilakukan. Ranking kelas tidak diberikan hanya pada anak yang pandai, tetapi ranking diberikan pada progress antara kemarin dan sekarang. Sekadar contoh; anak yang akademiknya semester lalu rata-rata 7.0 dan sekarang 7,5 akan lebih baik dibandingkan anak yang rata-rata semester kemarin 8,0 dan sekarang 8,0 atau 7,9. Disamping itu ranking diberikan tidak hanya berhubungan dengan akademik tetapi juga lainnya. Seperti emosi positive, gratitude, resillience, dst.

Intinya penilaian tidak dilakukan dengan kurva normal, kita mendapat nilai 8 karena ada yang 7 dan 4. Atau kita hanya dibandingkan dengan orang lain. Kita memang harus bersaing dengan orang lain, tetapi kita juga mesti bersaing terlebih dahulu dengan diri sendiri. 8,0 menjadi 7,9 adalah ‘kurang baik’ dibandingkan dengan 7,0 menjadi 7,5.

Bahkan pemberian materi dikelas tidak mesti klasikan (seperti sekolah-sekolah umumnya). Pemberian materi, penyelesaian sebuah materi bisa dilakukan dengan “pelajaran yang dikontrol oleh pebelajar” (lihat ini). Artinya setelah kita mengetahui target kurikulum, apa yang diharapkan, berapa kompetensi yang diharapkan. Maka kita dapat menempuhnya dengan cara-cara kita sendiri. Tidak mesti sama rata, dan sama rasa.

Penutup

Setiap bagian diatas sebenarnya ada rincian masing-masing, tetapi kami tidak ingin membahas ditulisan yang pendek ini (bisa dirujuk ditulisan-tulisan kami yang lain). Pada intinya bila kita mampu memetakan kecendrungan kecerdasan siswa, dengan menggunakan konsep Multiple Intelligence, dan melakukan test pemataan itu dengan OMI (Observasi Multiple intelligence), disempurnakan dengan test personality. Lalu hasil itu dipetakan, diintegrasikan dikelas dengan lesson plan guru-gurunya, juga motivasi pada murid dan orang tuanya serta upgrading guru dengan target pemahaman 7 indikataor sekolah positive. Maka akan diharapkan keuarlah out-put berupa anak-anak yang sukses dan bahagia.

Reffrence:

Muhammad Alwi, “Belajar menjadi bahagia dan Sukses Sejati, Implementasi Multiple Intelligence di Keluarga, lembaga Pendidikan dan Bisnis”. Elexmedia, Kompas-Gramedia, 2011.

____________, https://pendidikanpositif.wordpress.com/2012/09/30/buku-belajar-menjadi-bahagia-dan-sukses-sejati-2/

____________, https://pendidikanpositif.wordpress.com/2012/10/17/tips-belajar-yang-baik-dengan-memahami-karakteristik-otak-kita/

____________,  https://pendidikanpositif.wordpress.com/2012/09/30/belajar-berbasis-topografi-otak-dan-multiple-intelligence/

____________, https://pendidikanpositif.wordpress.com/2012/09/30/pelajaran-yang-dikendalikan-oleh-pelajar/

____________, https://pendidikanpositif.wordpress.com/2012/09/29/positive-education-2/

____________, https://pendidikanpositif.wordpress.com/2012/09/25/sekolah-positive-mungkinkah/

Dll

Tentang pendidikan positif

Kami adalah Pendidik, Guru, Dosen dan Trainer. Alumni Pasca Sarjana Univ Brawijaya Malang, sekarang studi lanjut di Department Psychology. Kami mengembangkan Seminar, Workshop, dan berbagai Test berbasiskan psikology. Mulai dari 1. Workshop berbasiskan Multiple Intelligence, Topografi Otak, Power Personality, Performance Barrier, Succes with Understanding Personality, Otak Kanan- Otak Kiri, bagaimana mengetahui dan memanfaatkannya untuk sukses dll. Semua itu untuk pengembnagan SDM dan Human Capital. Baik untuk Guru, anak-anak (TK, SD, SMP, SMA, PT), juga untuk karyawan Industri dan Perusahaan. 2. Test test yang mendukung workshop dan seminar diatas seperti; a) Test Multiple Intelligence, b) Test Personality, c) Test Performance Barrier dll. Konsep Kami adalah......Discovering Your Royal road to learning, achievable and Personal Satisfaction. Bagaimana caranya? Caranya dengan discovering your talent, your ability (dengan pemahaman, test), the right place....maka sukses dan bahagia akan mudah didapatkan. Positif Pendidikan adalah Pendidikan yang berusahan menjadikan pebelajar (siapapun yang belajar), akan mampu untuk meraih tidak hanya sukses (achievable) tapi juga bahagia (will-being). Success and Happy.
Pos ini dipublikasikan di Psikologi dan Pendidikan. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s