DAYA SAING BANGSA, SITUASI DISSONAN DAN TEORI BELAJAR

competition_advantagePersaingan dunia semakin ketat, dunia sudah tidak besar lagi, jangkauan antara satu tempat dengan tempat lain laiknya sebuah desa. Isolasi, proteksi dan kemenangan persaingan antar Negara ditentukan oleh kemampuan daya saing Negara tersebut. Dalam istilah manajemen strategic ada istilah competitive advantage. Kemenangan sebuah bangsa ditentutan oleh bagian-bagian dari bangsa itu. Dengan kata lain, kemenangan sebuah bangsa tergantung kemampuan daya saing, tiap-tiap individu bangsa itu. Bagaimana Daya saing bangsa kita? Sementara ini, disinyalir dengan aroma yang menyengat bahwa bangsa Indonesia dalam banyak hal daya saingnya cukup rendah. Dalam peringkat HDI Pada 2012 menduduki peringkat 124 (dari 178 negara), dan 2013 menjadi urutan ke-121 (dari 185 negera). Dalam TIMSS (Trends in Mathematics and Science Study), untuk Matematika Indonesia urutan 38 dari 42 negara (skor Indonesia turun 11 point dari penilaian tahun 2007). Bidang sain, urutan 40 dari 42 negara (turun 21 angka dari tahu 2007). Kalau kita lihat daya saing global, maka Indonesia tahun 2012-2013, urutan 50, 2013-2014 meningkat menjadi urutan 42.

Sementara dalam hal karakter, moralitas sebuah bangsa, Thomas Lickona mengatakan, Ada 10 Tanda Kemunduran suatu Bangsa, yaitu. Meningkatnya kekerasan di kalangan remaja. Penggunaan bahasa dan kata-kata yang buruk, Pengaruh peer group yang kuat dalam tindak kekerasan, Meningkatnya perilaku yang merusak diri seperti narkoba, sex bebas dan  alkohol, Kaburnya pedoman moral baik dan buruk, Penurunan etos kerja, Rendahnya rasa hormat kepada orangtua dan guru, Rendahnya rasa tanggungjawab baik sebagai individu dan warganegara, Ketidakjujuran yang telah membudaya, Adanya rasa saling curiga dan kebencian di antara sesama. Dan dengan kasat mata kita bisa mengatakan bangsa kita memiliki ke-10 ciri-ciri diatas.

Disamping itu, hal-hal yang berbau separatism, disintegrasi NKRI, terror, terrorisme, bom bunuh-diri, serta upaya-upaya mendirikan Negara Islam terus merongrong bahkan menjadi semakin bergejolak.  Indonesia memiliki sejarah panjang dalam hal separatism,  seperti DI/TII, Peemesta/PRRI sampai G-30-S-PKI merupakan bukti bahwa kita pernah terancam perpecahan itu. Apakah sekarang sudah tidak ada lagi hal-hal seperti itu? Kita bisa lihat kasus GPK Aceh, RSM (Maluku), bahkan sekarang tanpa disadari kelompok-kelompok seperti HTI adalah sebuah keadaan dimana sudah ingin menganti Ideologi Pancasila, mengatakan itu tidak relevan dan berkeinginan mendirikan Negara Islam dst. Ini mirip walaupun dengan gerakan, situasi yang berbeda dengan DI/TII dulu.

Sebagian pengamat menyatakan bahwa gerakan-gerakan separatis itu timbul karena ketiadaan identitas bangsa atau karena adanya identitas suku atau kedaerahan yang lebih kuat ketimbang idenlitas bangsa (yang hanya didasarkan pada keterikatan politik). Tetapi di pihak lain, identitas bangsa yang kuat saja, tidak menjamin bisa terjadinya rasa persatuan dan kesatuan yang tebal. Buktinya adalah bangsa Arab yang pada hakikatnya berasal dari satu tradisi dan berbahasa sama, akan tetapi terpecah-pecah dalam banyak negara yang saling bermusuhan, bahkan dalam satu Negara-pun (misalnya: Libanon, Suriah), bahkan yang tidak banyak diprediksi adalah Mesir akhir-akhir ini.

Lalu pertanyaannya sekarang adalah bagaimana caranya agar bangsa Indonesia dapat bertahan dalam menghadapi perkembangan dunia yang sulit diramalkan sekarang ini serta dengan persaingan yang semakin ketat? Apa Yang mesti diupayakan?  Bagaimana kita mencari variabel-variabel apa saja yang bisa mendukung atau sebaliknya bisa menghambat tercapainya keunggulan bersaing dan kesatuan dan persatuan bangsa. Jika variabel-variabel ini sudah diketahui, maka selanjutnya bisa diusahakan agar persatuan dan kesatuan itu bisa dipertahankan terus dengan cara mengontrol variabel-variabel tsb.

Prestasi Sebuah Bangsa

Jeruk ApleMau atau tidak mau kita akan bersepakat bahwa prestasi suatu bangsa ditentukan oleh prestasi individu-individu anggola bangsa itu. Kepribadian dan “jiwa” bangsa tergantung kepada kepribadian dan jiwa individu-individu warganya. Jika Jepang, Korea, Cina saat ini bisa tampil sebagai bangsa yang unggul, maka itu adalah karena sejak jaman Restorasi Meiji, orang Jepang misalnya, secara sistematis, melalui proses yang berlangsung ratusan tahun, dibentuk menjadi orang-orang yang mempunyai semangat kerja yang tinggi, punya semangat bersaing dan sekaligus juga punya rasa kesetiakawanan yang kuat ( lihatlah, etos kerja mereka, rasa kesetiakawanan dan Jumlah tabungan dalam negeri negara itu).

Bagaimanakah dengan Indonesia? Mampukah kita secara sengaja (walaupun harus melalui proses yang panjang) membentuk kerpibadian manusia-manusia Indonesia, sedemikian rupa sehingga akhirnya bisa mengembangkan kepribadian atau “jiwa” bangsa Indonesia yang unggul dan mampu mempertahankan eksistensinya dalam menghadapi tantangan zaman?

Kita melihat bahwa Gejala Korupsi, pungli, sudah membudaya, rendahnya semangat kerja dan jeleknya pelayanan petugas apemerintah, birokrasi berbelit-belit, perilaku menyontek, mencari bocoran soal saat ujian UN, gelar ijazah instan  (bahkan sampai tingakt S1, S2 dan S3), kenakalan remaja, disiplin nasional rendah (sarlito & Susianto 1991). Semua itu menyebabkan bangsa ini sulit bersaing dengan bangsa lain, karena efisiensi rendah dalam banyak hal (bisa terlihat dari skore dan urutan  HDI, Human Development Index, negeri ini).

Kemenangan sebuah bangsa, organisasi, team, disamping ditentukan oleh manajemen bangsa itu, organisasi itu dan team itu. Tetapi yang paling penting adalah sebuah bangsa akan unggul, apabila individu-individu bangsa itu unggul.

Berbicara mengenai keunggulan, performa seseorang, maka ada dua hal yang berlaku. Yang pertama adalah teori bakat (Nativisme) dan kedua adalah Teori Belajar. Dalam Psikologi Belajar dikatakan, bahwa sebenarya kepribadian-kepribadian unggul dan berperforma tinggi itu berasal dari upaya pembelajaran yang dilakukan oleh individu-individu tersebut. Artinya bahwa individu-individu unggul itu bisa dibentuk melalui pemberian stimuli (rangsang-rangsang) tertentu.

Individu yang dididik di lingkungan yang disiplin akan berkepribadian disiplin, anak yang di ajar bertanggung jawab dan bekerja keras akan menjadi orang yang bertanggung jawab dan bekerja keras pula. Dengan demikian secara teoritis sebetulnya bangsa Indonesia, melalui pemerintah dan organisasi-organisasi kemasyarakatannya, dapat dengan sengaja merekayasa terbentuknya insan-insan Indonesia yang berkepribadian unggul.

Salah satu bukti dari keberhasilan perekayasaan tingkah-laku bangsa Indonesia adalah perubahan dari KB (Keluarga Besar) ke KB (Keluarga Berencana) yang tercapai hanya dalam waktu sekitar 15 tahun (Darroch dkk, 1981). Lihatlah Transmigrasi di Lampung, Swasembada Beras, puskesmas dan posyandu dll. Disini diperlukan perekayasaan tingkah laku tersebut.

Tetapi lihatlah hal lainnya, Tranmigrasi selanjutnya (tanah-tanahnya tidak subur), Birokrasi, kasus bulog, import beras, kasus import Sapi, kedelai mahal, pakan-ayam yang melambung, pembangunan layaknya sebuah hotel di Lapas dst. Ada INKONSISTENSI antara yang semestinya dilakukan, diharapkan dengan realita dilapangan. Kita bisa melihat itu di televisi dan media lainnya.

Psikologi Situasi Disonansi

andaDalam lingkungan yang serba inkonsisten itu, menurut seorang tokoh Psikologi Kognitif bernama Festinger, maka akan terjadi situasi “disonan” dalam alam kesadaran manusia. Situasi disonan adalah keadaan di dalam alam kesadaran (kognisi) manusia di mana ada dua atau lebih elemen kesadaran yang saling bertentangan. Misalnya, orang tahu bahwa kejujuran adalah sikap yang baik, sumber kepercayaan orang lain dan kunci sukses untuk masa depan (elemen kognisi 1). Tetapi seorang karyawan yang jujur melihal bahwa temannya yang tidak jujur malah lebih dipercaya dan lebih sukses dari dia sendiri (elemen kognisi 2). Pertenlangan antara kedua elemen ini menimbulkan disonansi kognitif.

Karena tidak ada manusia yang senang dengan keadaan disonan terus menerus, maka menurut Festinger, orang yang dalam keadaan disonan akan melakukan sesuatu agar ia tidak disonan lagi (kembali kepada keadaan “konsonan”). Tiga hal yang dapat dilakukan orang dalam mengurangi atau menghindari disonansi kognitif adalah:  Menambah elemen kognisi baru, Merubah elemen kognisi yang ada atau Merubah tingkah laku.

1) Menambah elemen baru misalnya orang itu mengacu kepada ajaran agama  yang mengatakan bahwa walaupun orang yang tidak jujur nampaknya beruntung di dunia, akan tetapi diakhirat ia akan menerima hukuman yang setimpal. Dalam hal ini maka orang yang jujur  tersebut  akan tetap mempertahankan kejujurannya (tetapi menambah do’anya, perubaan tingkah laku). 2) Di pihak lain, merubah elemen kesadaran yang sudah ada misalnya bisa dengan mengatakan bahwa orang lain itu bukannya tidak jujur, nilai-nilai budayalah yang sudah berubah. 3) Atau elemen kesadaran yang satu lagi yang dirubah: Kejujuran bukan lagi merupakan kunci sukses. Yang jelas, elemen kesadaran yang manapun yang dirubah, orang yang bersangkutan tidak lagi mempertahakan kejujuran, melainkan ikul-ikutan tidak jujur (perubahan tingkah laku).

Disonansi kognitif inilah yang pada hakikatnya mendasari timbulnya berbagai tingkah laku yang tidak diharapkan. Pelajar atau mahasiswa menyontek karena dia tidak percaya lagi bahwa jika ia be]ajar dengan baik ia akan mendapat nilai yang tinggi. Pejabat menyalahgunakan wewenangnya karena dia tahu tidak akan bisa mengandalkan masa depannya pada, pensiun. Pedagang menaikkan harga barang karena ia tidak yakin bahwa dengan harga lama ia bisa memperoleh pasokan baru dalam kualitas dan kualitas yang sama. Bankir bermain valuta asing karena dia tidak percaya pada rupiah. Pengemudi saling serobot karena dia lahu bahwa yang sabar-sabar antri malah akan terlambat sampai ke tujuan.

Kalau orang Indonesia yang bertingkah laku tidak seperti yang diharapkan ini terlalu besar jumlahnya, maka dengan sendirinya bangsa Indonesia secara keselumhan akan merosot kualitasnya sehingga kehilangan daya saingnya terhadap bangsa-bangsa lain.

Sekarang bagaimana caranya menghilangkan atau mengurangi tingkah laku yang tidak diharapkan itu? Sebanyak mungkin stimuli dalam lingkungan negara Indonesia dibuat konsisten dengan tujuan pembangunan. Pelajar atau mahasiswa yang rajin belajar dan pandai harus mendapat nilai yang lebih baik dari pada teman-temannya yang malas dan bodoh. Disini diperlukan ujian yang mengurangi penyontekan, ujian tulis atau lainnya. Nilai UN harus dibuat semurni mungkin, dan sekolah yang ketahuan diberikan efek jera yang cukup dst.

Pegawai harus dapat mengandalkan masa depannya pada gaji dan pensiunnya. Artinya gaji, tunjangan dan lainnya harus mencukupi, sehingga tergiur akan penyalahgunaan, korupsi, pungli bisa dikurangi, selain hukuman dan efek jera harus dilakukan. Pedagang dan bankir harus kembali percaya kepada nilai rupiah. Pengemudi yang sabar antri harus diprioritaskan, sedangkan yang menyerobot ditilang.

Pada intinya, Teori Belajar, memberikan acuan pada penguatan tingkah-laku baik, dan mengurangi yang jelek. Dengan apa? Dengan reward yang cukup baik, adil dan rasional, serta punishment yang cukup membuat jera, adil dan rasional juga.

Problem Implementasi

Dalam manajemen perilaku, apalagi dalam sekala cukup luas (organisasi dan Negara), maka planning, organizing, actuating dan controlling harus benar-benar pas. Tetapi masalah yang cukup merepotkan adalah dalam tataran implementasi. Dalam hal planning (perencanaan) mungkin bukan hal yang sulit, demikian juga organizing (siapa melakukan apa, siapa bertanggung jawab pada apa dan siapa. Disini job-diskription dan job-analisis perlu dilakukan). Ini-pun tidak cukup sulit dan merepotkan. Yang menjadi masalah di negari ini adalah dalam masalah Actuating (Impelemntasi), yang isinya adalah motivasi dan leadership. Bagaimana apa-apa yang sudah di-planning-kan itu dapat dipastikan dan terjaga dilaksanakan dengan baik, dengan motivasi tinggi. Kalau Actuating jelas pelaksanaannya, maka controlling otomatis dapat dilaksanakan dengan baik. Bukan rekayasa, benar dalam laporan tertulis diatas kertas.

Disinilah perlunya pelatihan-pelatihan bahkan identifikasi The Right man on the right place, identifikasi pemimpin-pemimpin, bukan hanya pemimpin tingkat nasional, tetapi pemimpin-pemimpin tingkat RT, RW, Kabupaten dst. Sebab mereka-merekalah yang secara cukup significant membuat dan mampu membuat perubahan-perubahan.

Sumber :

Jalaluddin Rahmat, Psikologi Komunikasi.

Pidato pengukuhan Prof. Sarlito Wirawan Sarwono di UI.

http://id.wikipedia.org/wiki/Laporan_Daya_Saing_Global

http://www.weforum.org/issues/global-competitiveness

Thomas Lickona, Pendidikan Karakter.

Muhammad Alwi, S.Psi, MM

Tentang pendidikan positif

Kami adalah Pendidik, Guru, Dosen dan Trainer. Alumni Pasca Sarjana Univ Brawijaya Malang, sekarang studi lanjut di Department Psychology. Kami mengembangkan Seminar, Workshop, dan berbagai Test berbasiskan psikology. Mulai dari 1. Workshop berbasiskan Multiple Intelligence, Topografi Otak, Power Personality, Performance Barrier, Succes with Understanding Personality, Otak Kanan- Otak Kiri, bagaimana mengetahui dan memanfaatkannya untuk sukses dll. Semua itu untuk pengembnagan SDM dan Human Capital. Baik untuk Guru, anak-anak (TK, SD, SMP, SMA, PT), juga untuk karyawan Industri dan Perusahaan. 2. Test test yang mendukung workshop dan seminar diatas seperti; a) Test Multiple Intelligence, b) Test Personality, c) Test Performance Barrier dll. Konsep Kami adalah......Discovering Your Royal road to learning, achievable and Personal Satisfaction. Bagaimana caranya? Caranya dengan discovering your talent, your ability (dengan pemahaman, test), the right place....maka sukses dan bahagia akan mudah didapatkan. Positif Pendidikan adalah Pendidikan yang berusahan menjadikan pebelajar (siapapun yang belajar), akan mampu untuk meraih tidak hanya sukses (achievable) tapi juga bahagia (will-being). Success and Happy.
Pos ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s