BAGAIMANA INFORMASI DAPAT DIAKSES

gagne gambarBelajar secara umum dapat dikatakan sebagai mengakses informasi (baik itu verbal ataupun praktik dan pengalaman). Menurut Gagne, setiap kegiatan belajar terdiri atas empat fase yang terjadi secara berurutan yaitu : Pertama. Fase Aprehensi (apprehention phase).  Yaitu fase dimana seseorang memperhatikan stimulus tertentu kemudian menangkap artinya dan memahami stimulus tersebut untuk kemudian ditafsirkan sendiri dengan berbagai cara. Misalnya “golden eye” bisa ditafsirkan sebagai jembatan di Amerika atau sebuah judul film. Stimulus itu dapat spontan diterima atau seorang. Guru dapat memberikan stimulus agar siswa memperhatikan apa yang akan diucapkan. Pada fase ini siswa melakukan pencermatan terhadap stimulus tersebut antara lain dengan mencermati ciri-ciri dari stimulus tersebut dan mengamati hal-hal yang ia anggap menarik atau penting. Baik itu buku, penampilan gurunya, apa yang diucapkan dst.  Disini berlaku hukum “Semuanya berbicara”.

Kedua. Fase Akuisisi/ stage of Acquition (acquisition phase). Fase dimana siswa melakukan akuisisi (pemerolehan, penyerapan internalisasi) terhadap berbagai fakta ketrampilan, konsep atau prinsip yang menjadi sasaran dari kegiatan belajar tersebut. Pada fase ini seseorang akan dapat memperoleh suatu kesanggupan yang belum diperoleh sebelumnya dengan menghubung-hubungkan informasi yang diterima dengan pengetahuan sebelumnya. Atau boleh dikatakan pada fase ini siswa membentuk asosiasi-asosiasi antara informasi baru dan informasi lama.

Ketiga. Fase Penyimpanan ( storage phase ). Pada fase ini siswa menyimpan hasil-hasil; kegiatan belajar yang ia diperoleh dalam ingatan jangka pendek (short-term memory) dan ingatan jangka panjang (long-term memory).

Keempat. Fase pemanggilan (retrieval phase). Fase dimana siswa berusaha memanggil kembali hasil-hasil dari kegiatan belajar yang telah ia peroleh dan telah ia simpan dalam ingatan, baik itu yang menyangkut fakta, keterampilan konsep maupun prinsip.

Kemudian ada fase-fase lain yang dianggap tidak utama, yaitu (5) Fase Motivasi sebelum pelajaran dimulai guru memberikan motivasi kepada siswa untuk belajar, (6) Fase Generalisasi adalah  fase transfer informasi, pada situasi-situasi baru, agar lebih meningkatkan daya ingat, siswa dapat diminta mengaplikasikan sesuatu dengan informasi baru tersebut. (7) Fase Penampilan adalah fase dimana siswa harus memperlihatkan sesuatu penampilan yang nampak setelah mempelajari sesuatu, seperti mempelajari struktur kalimat dalam bahasa mereka dapat membuat kalimat yang benar, dan (8)  Fase umpan balik, siswa harus diberikan umpan balik dari apa yang telah ditampilkan (reinforcement).

GagneKondisi atau tipe pembelajaran

1. Signal learning (belajar isyarat).

Belajar isyarat merupakan proses belajar melalui pengalaman-pengalaman menerima suatu isyarat tertentu untuk melakukan tindakan tertentu. Misalnya ada “Aba-aba siap” merupakan isyarat untuk mengambil sikap tertentu, tersenyum merupakan isyarat perasaan senang.

2. Stimulus-response learning  (belajar melalui stimulus-respon).

Belajar stimulus-respon (S-R), merupakan belajar atau respon tertentu yang diakibatkan oleh suatu stimulus tertentu. Melalui pengalaman yang berulang-ulang dengan stimulus tertentu sesorang akan memberikan respon yang cepat sebagai akibat stimulus tersebut

3. Chaining (rantai atau rangkaian).

Chaining atau rangkaian, terbentuk dari hubungan beberapa S-R, oleh sebab yang satu terjadi segera setelah yang satu lagi. Misalnya : Pulang kantor, ganti baju, makan, istirahat.

4. Verbal association (asosiasi verbal).

Mengenal suatu bentuk-bentuk tertentu dan menghubungkan bentuk-bentuk rangkaian verbal tertentu. Misalnya : seseorang mengenal bentuk geometris, bujur sangkar, jajaran genjang, bola dlsbnya. Lalu merangkai itu menajdi suatu pengetahuan geometris, sehingga seseorang dapat mengenal bola yang bulat, kotak yang bujur sangkar

5. Discrimination learning (belajar diskriminasi).

Belajar diskriminasi adalah dapat membedakan sesuatu dengan sesuatu yang lainnya, dapat membedakan manusia yang satu dengan manusia yang lainnya walaupun bentuk manusia hampir sama, dapat membedakan merk sepedamotor satu dengan yang lainnya walaupun bentuknya sama. Kemampuan diskriminasi ini tidak terlepas dari jaringan, kadang-kadang jika jaringan yang terlalu besar dapat mengakibatkan interferensi atau tidak mampu membedakan

6. Concept learning  (belajar konsep).

Belajar konsep mungkin karena kesanggupan manusia untuk mengadakan representasi internal tentang dunia sekitarnya dengan menggunakan bahasa. Mungkin juga binatang bisa melakukan tetapi sangat terbatas, manusia dapat melakukan tanpa terbatas berkat bahasa dan kemampuan mengabstraksi. Dengan menguasai konsep ia dapat menggolongkan dunia sekitarnya menurut konsep itu misalnya : warna, bentuk, jumlah dllnya

7. Rule learning  (belajar aturan).

Belajar model ini banyak diterapkan di sekolah, banyak aturan yang perlu diketahui oleh setiap orang yang telah mengenyam pendidikan. Misalnya : angin berembus dari tekanan tinggi ke tekanan rendah, 1 + 1 = 2 dan lainnya. Suatu aturan dapat diberikan contoh-contoh yang konkrit.

8. Problem solving. (memecahkan masalah).

Memecahkan masalah merupakan suatu pekerjaan yang biasa yang dilakukan manusia. Setiap hari dia melakukan problem solving bayak sekali. Untuk memecahkan masalah dia harus memiliki aturan-aturan atau pengetahuan dan pengalaman, melalui pengetahuan aturan-aturan inilah dia dapat melakukan keputusan untuk memecahkan suatu persoalan. Seseorang harus memiliki konsep-konsep, aturan-aturan dan memiliki “sets” untuk memecahkannya dan suatu strategi untuk memberikan arah kepada pemikirannya agar ia produktif.

Kejadian-kejadian Instruksional (Pembelajaran, Gagne)

9 Tahap gagneApakah yang terjadi dalam mengajar? Mengajar dapat kita pandang sebagai usaha mengontrol kondisi ekstern (bahkan mungkin memantik kondisi intern). Kondisi ekstern merupakan satu bagian dari proses belajar, namun termasuk tugas guru yang utama dalam mengajar. Mengajar terdiri dari sejumlah kejadian-kejadian tertentu yang menurut Gagne terkenal dengan “Nine instructional events” yang dapat diuraikan sebagai berikut :

  1. Gain attention (memelihara/mendapatkan perhatian). Dengan stimulus ekstern kita berusaha membangkitkan perhatian dan motivasi siswa untuk belajar. Kita harus mengingat bahwa, sebenarnya stimulus yang masuk pada siswa saat belajar itu sangat banyak. Suara seorang guru, suara ruang sebelah, penampilan gurunya, baju yang dipakai, ketampanan-kecantikan gurunya, background ruangan, papan dst. Semua stimulus itu masuk kesiswa lewat semua indranya (telingan, mata dan indra lainnya). Kita harus mampu merebut perhatian (attention), agar stimulus yang kita “inginkan”, suara kita, atau gambar kita…..yang mendapatkan perhatian siswa. sehingga itulah yang dominan masuk sebagai stimulus.
  2. Inform learners of objectives (penjelasan tujuan pembelajaran). Menjelaskan kepada murid tujuan dan hasil apa yang diharapkan setelah belajar. Ini dilakukan dengan komunikasi verbal. Ini penting sebab dengan ini maka anak akan tahu manfaat dan dapat menghubungkan dalam apa-apa yang dia butuhkan, dia alami dst…dst (menjawab AMBAK = Apa Manfaatnya Buatku). Dengan ini maka motivasi siswa diharapkan akan lebih (sebab mereka tahu, apa manfaat, tujuan pembelajaran ini sekarang dan mungkin akan datang. Dalam hubungannya dengan kariernya, kehidupannya atau lain-lainnya).
  3. Stimulate recall of prior learning (merangsang murid). Merangsang murid untuk mengingat kembali konsep, aturan dan keterampilan yang merupakan prasyarat agar memahami pelajaran yang akan diberikan. Kita mesti ingat setiap manusia selalu mengaitkan apa yag dia terima sekarang dengan apa-apa yang sudah mereka punya, sehingga dalam suatu system integral (manusia selalu mencari makna). Dengan merangsang itu maka kontruk apa-apa yang sudah mereka punya dan informasi yag baru saja datang akan mudah mendapatkan penataannya kembali (dengan ini maka pengingatan, pemanggilan kembali dst….lebih mudah nantinya).
  4. Present the content (menyajikan stimuli). Menyajikan stimuli yang berkenaan dengan bahan pelajaran sehingga murid menjadi lebih siap menerima pelajaran. Seperti pertama…stimuli harus difokuskan (sehingga memenangkan dalam persaingan masuk ke otak dan memori kita). Ingat kecantikan-ketampanan, postur, grafik, gambar kadang lebih merangsang otak kita daripada informasi “asli’ yang ingin kita berikan (atau mestinya diterima oleh murid).
  5. Provide “learning guidance” (memberikan bimbingan). Memberikan bimbingan kepada murid dalam proses belajar. Ini jelas sebab pembelajaran itu mestinya memampukan anak untuk mencapai apa yang kalau dia pelajari sendiri tidak mampu (Zona Scaffolding meminjam kata Vygotzky).
  6. Elicit performance /practice (pemantapan apa yang dipelajari). Memantapkan apa yang dipelajari dengan memberikan latihan-latihan untuk menerapkan apa yang telah dipelajari itu.
  7. Provide feedback (memberikan feedback). Memberikan feedback atau balikan dengan memberitahukan kepada murid apakah hasil belajarnya benar atau tidak.
  8. Assess performance (menilai hasil belajar). Menilai hasil-belajar dengan memberikan kesempatan kepada murid untuk mengetahui apakah ia telah benar menguasai bahan pelajaran itu dengan memberikan beberapa soal. Tapi disini perlu diingat bahwa assessment harus authentic bukan sekadar menilai (karena itu akan membuat motivasi, kreatifitas anak turun), bila penilaian hanya sekenanya….apalagi hanya orientasi hasil bukan going prosses.
  9. Enhance retention and transfer to the job  (mengusahakan transfer). Mengusahakan transfer dengan memberikan contoh-contoh tambahan untuk menggeneralisasi apa yang telah dipelajari itu sehingga ia dapat menggunakannya dalam situasi-situasi lain. Disini perlu banyaknya contoh-contoh kasus, analogi, pengetrapan dikehidupan sehari-hari ds….dst.

proses informasi 2Setelah selesai belajar, penampilan yang dapat diamati sebagai hasil belajar adalah kemampuan-kemampuan (capabilities). Kemampuan-kemampuan tersebut dibedakan berdasarkan atas kondisi mencapai kemampuan yang berbeda-beda. Ada lima kemampuan (kapabilitas) sebagai hasil belajar yang diberikan Gagne yaitu :

1. Verbal Information (informasi verbal), adalah kemampuan siswa untuk memiliki keterampilan mengingat informasi verbal, ini dapat dicontohkan kemampuan siswa mengetahui benda-benda, huruf alphabet dan yang lainnya yang bersifat verbal.

2. Intellectual skills (keterampilan intelektual), merupakan penampilan yang ditunjukkan siswa tentang operasi-operasi intelektual yang dapat dilakukannya. Keterampilan intelektual memungkinkan seseorang berinteraksi dengan lingkungannya melalui pengunaan simbol-simbol atau gagasan-gagasan. Yang membedakan keterampilan intelektual pada bidang tertentu adalah terletak pada tingkat kompleksitasnya.

3. Cognitive strategies (strategi kognitif), merupakan sesuatu macam keterampilan intelektual khusus yang mempunyai kepentingan tertentu bagi belajar dan berpikir. Proses kontrol yang digunakan siswa untuk memilih dan mengubah cara-cara memberikan perhatian, belajar, mengingat dan berpikir. Beberapa strategi kognitif adalah : (1) strategi menghafal, (2) strategi elaborasi, (3) strategi pengaturan, (4) strategi metakognitif, (5) strategi afektif.

4. Attitudes (sikap-sikap) merupakan pembawaan yang dapat dipelajari dan dapat mempengaruhi perilaku seseorang terhadap benda, kejadian atau mahluk hidup lainnya. Sekelompok sikap yang penting ialah sikap-sikap kita terhadap orang lain. Bagaimana sikap-sikap sosial itu diperoleh setelah mendapat pembelajaran itu yang menjadi hal penting dalam menerapkan metode dan materi pembelajaran.

5. Motor skills (keterampilan motorik) merupakan keterampilan kegiatan fisik dan penggabungan kegiatan motorik dengan intelektual sebagai hasil belajar. Keterampilan motorik bukan hanya mencakup kegiatan fisik saja tapi juga kegiatan motorik dengan intelektual seperti membaca, menulis, dll-nya.

Maka sangat jelas bahwa apakah subjek yang dipelajari dan apa kapabilitas (tujuan dari mempelari itu), sangat berhubungan dengan strategi bagaimana kita belajar dan mengajar.

Klasifikasi Pengetahuan dalam hubungannya dengan Strategi Pembelajaran di Kelas

Dalam perspektif kognitif, pengetahuan dibagi menjadi 2 bagian. Dimana dalam klasifikasi materi pembelajaran juga dibedakan seperti itu.  Pengetahuan deklaratif dan pengetahuan prosedural (Marzano & Kendall, 1996:16). Disamping itu ada juga pembagian klasifikasi Pengetahuan menjadi 4 jenis, yaitu: fakta, konsep, prinsip dan prosedur (Reigeluth, 1987: 98).

Pengetahuan deskriptif,  atau pengetahuan deklaratif atau pengetahuan proposisional, adalah jenis pengetahuan yang, pada dasarnya, dinyatakan dalam kalimat deklaratif atau proposisi indikatif.  ini membedakan pengetahuan deskriptif dari apa yang dikenal sebagai “know-how”, atau pengetahuan prosedural (pengetahuan tentang bagaimana, dan terutama bagaimana cara terbaik, untuk melakukan tugas tertentu).

Pengetahuan deklaratif berisi informasi, konsep, generalisasi, fakta, dan lain sebagainya. Pengetahuan prosedural berisi keterampilan proses.

a)      Standar Deklaratif

1)         Pengetahuan deklaratif bersifat hierarkis. Pengetahuan deklaratif yang paling dasar adalah perbendaharaan kata, dan yang paling umum adalah konsep.

2)         Fakta: menyampaikan informasi tentang orang, tempat, suatu kejadian atau peristiwa yang spesifik.

3)         Urutan waktu: urutan tejadinya peristiwa.

4)         Urutan sebab akibat: peristiwa yang memberikan hasil tertentu.

5)         Episode: peristiwa spesifik yang mempunyai setting, pelaku, waktu, urutan kejadian, dan sebab akibat khusus.

6)         Generalisasi: Pemberlakuan secara umum dari hal-hal yang bersifat khusus.

7)         Prinsip: jenis generalisasi yang bersifat khusus yang menggambarkan hubungan antara beberapa konsep.

8)         Konsep: cara berpikir yang paling umum tentang pengetahuan.

b)      Standar Prosedural

1)      Algoritma: Tipe paling khusus dari pengetahuan prose­dural. Contoh: langkah-langkah penambahan dan pengurangan.

2)      Strategi: Merupakan aplikasi dari hukum dasar. Misalnya menganalisis kesalahan pengukuran.

3)      Makroprosesor: Merupakan tipe paling umum dari penge­tahuan prosedural. Contoh: prosesor tugas umum, penyaring informasi, prosesor jaringan ide, prosesor kata, pembangkit struktur makro, dan lain sebagainya.

Klasifikasi kedua, jenis materi pembelajaran dibedakan menjadi 4 yaitu; fakta, konsep, prinsip, dan prosedur.

  • Materi jenis fakta adalah materi berupa nama-nama objek, nama tempat, nama orang, lambang, peristiwa sejarah, nama bagian atau komponen suatu benda, dan lain sebagainya.
  • Materi konsep berupa pengertian, definisi, hakikat, inti isi.
  • Materi jenis prinsip berupa dalil, rumus, postulat adagium, paradigma.
  • Materi jenis prosedur berupa langkah-langkah mengerjakan sesuatu secara urut, misalnya langkah-langkah menelpon, cara-cara pembuatan telur asin, cara-cara pembuatan bel listrik, dsb.

Materi yang akan diajarkan perlu diidentifikasi apakah termasuk fakta, konsep, prinsip, prosedur, atau gabungan lebih dari satu jenis materi. Dengan mengidentifikasi jenis-jenis materi yang harus dipelajari siswa, maka guru akan mendapatkan kemudahan dalam cara mengajarkannya. Hal ini disebabkan, setiap jenis materi pembelajaran memeriukan strategi pembelajaran atau metode, media, dan sistem penilaiannya yang berbeda-beda. Misalnya metode mengajarkan materi fakta atau hafalan adalah dengan menggunakan “jembatan keledai”, sedangkan metode untuk mengajarkan prosedur adalah “demonstrasi”.

Dengan mengacu pada kompetensi dasar, kita akan mengetahui apakah materi yang harus dipelajari siswa itu berupa fakta, konsep, prinsip, atau prosedur. Cara yang paling mudah untuk menentukan jenis materi pelajaran yang harus dipelajari siswa adalah dengan jalan mengajukan pertanyaan tentang kompetensi dasar yang harus dikuasai siswa:

(1)    Apakah kompetensi dasar yang harus dikuasai siswa berupa mengingat nama suatu objek, simbol atau suatu peristiwa?  Kalau  jawabannya  “ya”  maka  materi pembelajaran  yang  harus dipelajari  adalah “fakta”. Contoh: Nama dan lambang zat kimia, nama-nama organ tubuh manusia.

(2)    Apakah kompetensi dasar yang harus dikuasai siswa berupa konsep yang menyatakan suatu definisi, menuliskan ciri khas sesuatu, mengklasifikasikan atau mengelompokkan beberapa contoh objek sesuai dengan suatu definisi ? Kalau jawabannya “ya” berarti materi yang harus diajarkan adalah “konsep”. Contoh : Seorang guru Biologi menunjukkan beberapa tumbuh-tumbuhan kemudian siswa diminta untuk mengklasifikasikan atau mengelompokkan mana yang termasuktumbuhan berakar serabutdan berakar tunggang.

(3)    Apakah kompetensi dasar yang harus dikuasai siswa berupa menjelaskan atau melakukan langkah-langkah atau prosedur secara urut atau membuat sesuatu ? Bila “ya” maka materi yang harus diajarkan adalah “prosedur”. Contoh: Seorang guru Sosiologi mengajarkan bagaimana proses penyusunan langkah-langkah untuk mengatasi perma-salahan dalam mewujudkan masyarakat madani. Seorang guru Fisika mengajarkan bagaimana membuat magnit buatan. Seorang guru Kimia mengajarkan bagaimana membuat sabun mandi.

(4)    Apakah kompetensi dasar yang harus dikuasai siswa berupa menentukan hubungan antara beberapa konsep, atau menerapkan hubungan antar berbagai macam konsep? Bila jawabannya “ya”, berarti materi pelajaran yang harus diajarkan termasuk dalam kategori “prinsip”. Contoh: Seorang guru Ekonomi menerangkan hubungan antara penawaran dan permintaan suatu barang dalam lalu lintas ekonomi. Jika permintaan naik sedangkan penawaran tetap, maka harga akan naik. Seorang Guru Matematika menerangkan cara menghitung luas persegi panjang. Luas persegi panjang adalah panjang dikalikan lebar.

Tipe, klasifikasi, atau jenis-jenis materi pembelajaran juga mempunyai hubungan yang erat dengan perumusan indikator dan tes. Materi pembelajaran yang termasuk dalam kategori “fakta”, perumusan indikatornya berbunyi “Siswa dapat menyebutkan”, sedangkan tesnya berbunyi “Sebutkan” dan seterusnya.

Untuk membantu memudahkan memahami keempat jenis materi pembelajaran tersebut, perhatikan tabel di bawah ini.

Fakta Konsep Prosedur Prinsip
Menyebutkan kapan, berapa, nama dan dimana Definisi, identifikasi, klasifikasi dan cirri-ciri Diagram alir (flowchart), langkah-langkah mengerjakan secara urut Penerapan dalil, hukum atau rumus; hipotesis, hubungan antar variable (jika….maka).

 

Diambil dari berbagai bagian dari
Buku : Belajar Menjadi Sukses dan Bahagia Sejati, Implementasi Multiple intelligence di Keluarga, Pendidikan dan Bisnis  (Elexmedia, 2011).

Tentang pendidikan positif

Kami adalah Pendidik, Guru, Dosen dan Trainer. Alumni Pasca Sarjana Univ Brawijaya Malang, sekarang studi lanjut di Department Psychology. Kami mengembangkan Seminar, Workshop, dan berbagai Test berbasiskan psikology. Mulai dari 1. Workshop berbasiskan Multiple Intelligence, Topografi Otak, Power Personality, Performance Barrier, Succes with Understanding Personality, Otak Kanan- Otak Kiri, bagaimana mengetahui dan memanfaatkannya untuk sukses dll. Semua itu untuk pengembnagan SDM dan Human Capital. Baik untuk Guru, anak-anak (TK, SD, SMP, SMA, PT), juga untuk karyawan Industri dan Perusahaan. 2. Test test yang mendukung workshop dan seminar diatas seperti; a) Test Multiple Intelligence, b) Test Personality, c) Test Performance Barrier dll. Konsep Kami adalah......Discovering Your Royal road to learning, achievable and Personal Satisfaction. Bagaimana caranya? Caranya dengan discovering your talent, your ability (dengan pemahaman, test), the right place....maka sukses dan bahagia akan mudah didapatkan. Positif Pendidikan adalah Pendidikan yang berusahan menjadikan pebelajar (siapapun yang belajar), akan mampu untuk meraih tidak hanya sukses (achievable) tapi juga bahagia (will-being). Success and Happy.
Pos ini dipublikasikan di Psikologi dan Pendidikan. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s