Learn UnLearn dan Relearn (Belajar Positif)

Learn Un learn dan relearn

Belajar tidak belajar dan Belajar Kembali

Dalam hidup maka semua hal atau hampir semua adalah sesuatu yang kita dapatkan dari Belajar. Apakah itu kebaikan atau keburukan….semua-nya kita pelajari. Belajar bahkan dimulai sejak kita menjadi “Manusia”. Dimana kata ini (MANUSIA), kata Ibn Sina dan juga Al qur’an (mudah-mudahan saya tidak salah). Manusia menjadi manusia, saat Ruh ditiupkan, saat jiwa rasional melakukan evolusinya. Karena disanalah mulai ada “daya belajar-rasional”. Kalau Ibn Sina, al farabi dkk percaya dari atas kebawah (Teori Emanasi, dari Tuhan ke materi, Akal 1 sampai 10). Maka dari atas kebawah dirumuskan oleh Mullah Sadra (dengan konsep al haraqah al Jauhariyyah. Dari Material ke immaterial.)
Ibn Sina mengatakan ada daya nabati (bergerak tanpa kebebasan), Jiwa Hewani (berberak dengan kebebasan tanpa kehendak…lebih) dan Jiwa Akal (Bergerak, dengan kebebasan dan mampu menimbang). Kemampuan menimbang (rasional) inilah inti kemanusiaan kita. Maka-nya sekan-akan, sekali lagi seakan-akan, manusia tanpa akal, dikeluarkan oleh ISLAM dari kemanusiaannya. Dengan bukti bahwa benar-salah, baik-buruk, nilai plus-minus, dosa-pahal, taklif syar’i tidak disematkan pada orang-orang yang tidak berakal.
Orang Pingsan, orang gila..dst…..tidak dibebani kewajiban syariat. Sehingga baik-buruk, sehingga nilai surga-neraka tidak lagi menjadi bagian dirinya. saat itu Lutf Allah….Rahman dan Rahim Allah yang “murni” bekerja.
Kita perlu belajar….supaya menjadi sadar akan pengalaman-pengalaman kita. Akan tumpukan informasi dan mampu menimbang-nimbangnya. Tetapi kita perlu juga Tidak Belajar (unlearn). Sebab selalu mempelajari bahkan hal-hal yang sangat jelek, pengalaman buruk, detail peristiwa dll adalah sebuah keburukan. Unlearn akan sesuatu menjadi sangat-sangat baik.
Manusia-manusia GAGAL karena TIDAK BELAJAR SESUATU, tetapi manusia-manusia SUKSES dan BAHAGIA, juga karena TIDAK BELAJAR SESUATU. Sama-sama tidak belajar yang satu sukses dan bahagia dan yang lainnya gagal. Disinilah kita semua perlu tidak hanya focus pada belajar, belajar dan belajar……….tetapi kita mesti seimbang antara LAERN (belajar), UNLERAN (Tidak belajar) dan RELEARN (refleksi…mempelajari kembali). Tiga hal ini seakan menjadi “tesis” (belajar), antithesis (tidak belajar) dan sintesis (refleksi) ala-HEGEL. Filosof yang pemikirannya sangat rumit difahami dari buku-buku aslinya…sehingga dahi harus mengerutkan dirinya dan kadang menjadikan migraine….tapi mengasyik-kan.
Pertanyaanya (meta-question): Apakah, siapakah, bagian manakah yang mengarahkan orang-orang X, tidak belajar tertentu, dan orang-orang Y, Tidak belajar tertentu. Sekali lagi disinilah kita perlu Learn, Unlearn dan Relearn.
Dalam Dunia Pendidikan, Maka guru, orang tua harus mampu mengajarkan bukan hanya learn, belajar..belajar dan belajar. Tetapi juga unlearn dan Relearn. Belajar yang mesti dipelajari, tidak belajar dari hal-hal yang mesti tidak dipelajari dan belajar kembali.
Karena kita seringkali hanya belajar dan belajar…..maka terkadang lupa…pada refleksi (relearn) dan tidak belajar (unlearn).
Sekadar contoh; betapa banyak kurikulum yang berganti, betapa banyak studi-banding dilakukan…mulai dari eropa, amerika, Singapore, Korea, Australia, India dst. Tetapi kita lupa pada unlearn (mana-mana yang mesti dibuang, mana-mana yang tidak cocok, mana-mana yang bias budaya, mana-mana….mana-mana dan dimana-mana).
Saya memberikan contoh Konsep Multiple Intelligences (MI), kebetulan saya agak mengerti konsep ini. Konsep yang ciamik menurut saya. Tapi mana-mana yang mesti kita pelajari (learn), dan mana-mana yang perlu kita unlearn (buang, lupakan, ganti, perkecil, dst..dst).
Karena semua konsep apapun, dalam hal ini saya berbicara masalah pendidikan. Ada unsure yang perlu kita learn, unlearn dan relearn. Baik itu konsep Kontruktivisme (konsep besar dan hebat, menjadi tulang-punggung aplikasi CTL di Negara kita. Penemunya J. Piaget dengan konsep skema, asimilasi, akomodasi dan equilibrium sebagai epistemology ilmu pengetahuannya dan Vygotsky, dengan konsep Zona approximal dan scaffolding-nya), Cooperative learning, lesson-study ala Jepang (yang berjalan dengan intent dan disponsori oleh yayasan Sampoerna Foundation) dst. Di Multiple Intelligence-pun, Amstrong punya masalah saat implementasi, Branton shearer ‘berantem’ dengan Amstrong. Gardner sendiri mengatakan ada 12 cara implementasi yang salah pada MI dst. Disinilah sekali lagi LEARN, UNLEARN DAN RELEARN…sangat diperlukan.
Yang repot adalah Kelompok X [sebagian dari kita, belajar saja tidak tuntas (learn tidak selesai…..), lalu mencoba mengimplementasikan..dari Learn (belajar), tanpa tahu unlearn, bagaimana sampai pada relearn. Apa yang terjadi……LIHATLAH APA YANG TERJADI]. Atau kelompok Y [sebagian kita, karena pengalaman atau belajar dari para implementer yang hanya learn, tanpa unlearn tadi, yaitu X, akhirnya kitapun tidak unlearn (membuang yang salah dan mengambil yang baik dst). Sekali lagi tetap hanya learn dan tanpa unlearn, keluarlah fobia, mis-consepsi, fallacy of thinking (Mulai dari Fallacy of Retrospective Determinism, Post Hoc Ergo Propter Hoc, Fallacy of misplaced concretness, argumentum ad Verecundiam, Fallacy of Composition dan Circular Reasoning, dst, saya menyebutkan ini semua supaya kelihatan keren dan hebat…padahal saya sendiri bingung dengan istilah-istilah itu…he..he……he….), dst.
Guru, Lingkungan bahkan Orang Tua, juga Agama, punya sisi negatif dan positif. Karenanya Belajar kelenturan, kekenyalan (resilience), dan Ketidakpastian efek, mestinya sedikit banyak….diberikan pada Anak-anak kita.
Sekolah yang baik, bukan sekolah yang hanya mengajarkan sesuatu (learn). Sekolah Positif dan Pendidikan Positif, sekali lagi bukan sekolah yang hanya memberikan anak-anak kita agar belajar (hal-hal positif), tetapi juga mengajarkan, memberikan pengalaman unlearn. Tidak belajar (hal-hal negatif), lalu mampu merasakan, lalu mampu menimbang-nimbang, sehingga akan naik level mempelajari Relearn (Belajar kembali yang baik, bangkit dari ketidakbaikan, menimbang-nimbang mana-mana yang baik dan tidak baik), dst. Disinilah rasa syukur diajarkan, disinilah adversity diajarkan, disilah diajarkan psychology positif yang bukan sama dengan positive thinkking, disinilah diajarkan resilience dst..dst. Karen hidup tidak hanya belajar, hidup perlu learn, unlear dan relearn.
Dan apabila kalian berusaha sungguh-sungguh maka…Allah pasti akan menunjukkan jalan-jalan-Nya. Insya Allah…….

Wallau a’lam bi al Shawab
La Haula walla Quwwata Illa Billah
Muhammad Alwi, Trainer Pendidikan Positif dan Integrated Multiple Intelligences.

Tentang pendidikan positif

Kami adalah Pendidik, Guru, Dosen dan Trainer. Alumni Pasca Sarjana Univ Brawijaya Malang, sekarang studi lanjut di Department Psychology. Kami mengembangkan Seminar, Workshop, dan berbagai Test berbasiskan psikology. Mulai dari 1. Workshop berbasiskan Multiple Intelligence, Topografi Otak, Power Personality, Performance Barrier, Succes with Understanding Personality, Otak Kanan- Otak Kiri, bagaimana mengetahui dan memanfaatkannya untuk sukses dll. Semua itu untuk pengembnagan SDM dan Human Capital. Baik untuk Guru, anak-anak (TK, SD, SMP, SMA, PT), juga untuk karyawan Industri dan Perusahaan. 2. Test test yang mendukung workshop dan seminar diatas seperti; a) Test Multiple Intelligence, b) Test Personality, c) Test Performance Barrier dll. Konsep Kami adalah......Discovering Your Royal road to learning, achievable and Personal Satisfaction. Bagaimana caranya? Caranya dengan discovering your talent, your ability (dengan pemahaman, test), the right place....maka sukses dan bahagia akan mudah didapatkan. Positif Pendidikan adalah Pendidikan yang berusahan menjadikan pebelajar (siapapun yang belajar), akan mampu untuk meraih tidak hanya sukses (achievable) tapi juga bahagia (will-being). Success and Happy.
Pos ini dipublikasikan di Psikologi dan Pendidikan. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s