“MELAMPAUI KEADILAN, MELAMPAUI WIN-WIN SOLUTION” (Bag 1 dari 2)

Kreatif“Bila Anda adalah orang baik, berwawasan dan punya integritas, berselisih dengan saya, yang saya juga orang baik, berwawasan dan punya Integritas. Maka pasti…dan pasti, ada hal dalam diri Anda yang belum saya fahami, dan juga ada sesuatu dalam diri saya yang belum anda pahami.” 

 Marilah kita melihat konflik hebat ditempat kerja antara buruh dan Perusahaan….tentang outsourching, UMR, dll. Lihatlah perselisihan dalam rumah tangga, antara suami dan Istri, Orang tua dan Anak. Perselisihan dalam Pendidikan, antara Pemerintah dan Guru, antara Perusahaan dan Sekolah….dst.

Lihatlah Perseteruan pandangan dalam Beragama…..Lihatlah protes tentang Lingkungan hidup antara pemerintah, perusahaan dan pecinta lingkungan…dst.  Mengapa konflik itu terjadi dan apa penyebabnya. Mengapa itu semua tidak mampu diselesaikan dan bagaimana mestinya itu di/ter-selesaikan.

Mereka biasanya saling menyalahkan satu dengan yang lain. Kadang terdengar suara, kamu tidak adil. Yang lain berkata kamu-lah yang serakah. Mana yang benar? Biasanya sebagiannya mengatakan marilah kita carikan kompromi. Sehingga semuanya merasa enak dan puas.

Ada sebuah hal yang mesti kita ketahui adalah; “Bila Anda adalah orang baik, berwawasan dan punya integritas, berselisih dengan saya, yang saya juga orang baik, berwawasan dan punya Integritas. Maka pasti…dan pasti, ada hal dalam diri Anda yang belum saya fahami, dan juga ada sesuatu dalam diri saya yang belum anda pahami.”  Teks dan argumentasi yang terdapat dalam ucapan itulah sebenarnya yang melandasi mengapa kita harus duduk menyelesaikan perbedaan pendapat kita. Apapun itu.

Sering kita dengar ada yang berkata, bahwa hidup ini di dedikasikan untuk sebuah kesuksesan dan kebahagiaan. Bahkan konon ada para penulis yang mengatakan bahwa hidup ini secara setting awal (default factory setting), secara fitrah dibua untuk mencapai itu. Walaupun sebagian yang lain, para ahli, penulis-penulis terkenal juga mengatakan bahwa hidup ini pada dasarnya penuh masalah, penuh kesulitan. Dengan mengetahui kebenaran itu, sebenarnya kita akan siap dengannya, dengan perjuangan itu, maka kesulitan akan otomatis menghilang atau menurun tingkat intensitas mengganggu-nya.

Seperti kemacetan di Jakarta. Orang-orang dari daerah lain mungkin akan sangat risau, jengkel dengan kemacetan-kemacetan Jakarta, tapi orang Jakarta, sudah terbiasa dengan itu, sudah menyiapkan dirinya, sehingga tensi kerisauan, tensi kejengkelan tentang kemacetan akan menurun. Mana dari kedua hal itu yang benar? Selalu ada alternative lain, alternative ke-3 disetiap dikotomi dua hal. Walaupun untuk mengetahui itu kadang butuh waktu, kadang butuh pemikiran yang kreatif.

Muhammad AlwiDalam filsafat, ada dua pemikiran antara Idealisme (Plato) dan Realisme (Aristoteles). Antara Rasionalisme dan Empirisme. Dua pemikiran ini berhadap-hadapan sedemikian rupa, kecuali akhirnya ada ilmuwan, filosof seperti Immanuel Kant dan Edmund Husserl yang mencoba mencari alternative ke-3 (melampaui keduanya) untuk itu.

Dalam kehidupan kita juga ada dikotomi antara ilmu-pengetahuan dan agama, keduanya saling menyalahkan. Antara Filosof, Tasawwuf, Figh dalam agama. Antara Sunnah-Syiah, antara Sunnah dan Wahabi dst. Dalam pekerjaan, antara majikan dan buruh, antara serikat pekerja dan perusahaan. Dalam pendidikan juga ada, antara industry (pengguna jasa lulusan lembaga pendidikan) dan lembaga pendidikan (penyedia jasa pendidikan), dst.

Semuanya itu adalah konsep dan realita yang berhadap-hadapan, yang menunggu manusia-manusia kreatif untuk mencari alternative lain, alternative ke-3, kompromi, sinergi, dimana itu melampaui konflik yang sedang berhadap-hadapan.

ALTERNATIF ke-3 berbeda dengan kompromi. Sebab kompromi yang kadang dikatakan win-win solution sebenarnya dalam realitanya adalah lost-lost Solution.  Dalam kompromi biasanya semua pihak menurunkan klaimnya, menurunkan tuntutannya, sehingga dicapai kata mufakat. Semua puas…tetapi disini tidak ada kegembiraan. Sebab Si A yang menuntut 10 dan Si B yang menuntut 10, akhirnya disepakati menjadi Si A mendapat 7 dan Si B mendapat 7. Artinya 10+10, bukan 20, tetapi 14. Sementara alternative yang ke-3 berupaya…untuk mencapai Si A mendapatkan 10 bahkan lebih dari itu dan Si B mendapatkan 10 bahkan lebih. Semuanya mendapatkan tuntutannya, tidak hanya merasa puas (karena konflik terselesaikan) tetapi juga gembira.

Bagaimana hal yang indah ini terjadi?? Bagaimana hal yang semua orang inginkan ini bisa diwujudkan?? Apakah ini hanya sebuah idealism, sebuah omong-kosong, hanya konsep yang tiada realitanya?? Disinilah menariknya tulisan ini.

Pertanyaan-pertanyaan yang sering diajukan adalah mungkinkah cerita menarik diatas itu terwujud? Mungkinkah hal-hal itu dapat diaplikasikan dalam dunia real yang sederhana, dst?? Pertanyaan-pertanyaan ini menyangkut paradiqma kita, menyangkut pola pikir, peta, mind-set kita. Banyak yang meragukannya. Sebab sejak kecil kita selalu dan hanya diajari zero-sum game. Artinya kalau orang lain mendapatkan sesuatu kita akan tidak mendapat jatahnya. Kalau orang lain untung kita akan rugi. Atau maksimal kalau orang lain untung, kita juga akan untung tetapi dengan berbagi. Teks, “Sama-sama untung” itu artinya kamu tidak maksimal keuntungan-mu dan saya tidak maksimal keuntungan saya. Tetapi kita berbagi, sama-sama untung. Inilah konsep win-win solution, inilah konsep Kompromi yang kita yakini selama ini.

Karena keyakinan itu, sehingga kalau ada orang yang mengatakan, kita dalam persaingan bisnis, dalam persengketaan, konflik kepentingan, kita dapat mencari alternative ke-3, sehingga setiap orang mendapatkan klaim-nya, keuntungannya maksimal sesuai tuntutan awalnya, bahkan melebihinya, kita pasti meragukannya. Kita enggan untuk mempercayainya, cenderung meragukanya, dst…dst. Ini adalah problem paradiqma…problem cara berfikir kita.

Paradiqma berarti sebuah pola atau model berfikir yang mempengaruhi perilaku kita. Itu adalah sebuah peta yang membantu kita memutuskan arah mana yang akan kita ambil. Peta yang kita lihat menentukan apa yang kita lakukan, dan apa yang kita lakukan menentukan hasil yang kita peroleh. Bila kita mengubah paradiqmanya, kita merubah peta-nya, perilaku kita, maka hasilnya juga akan berubah.

Contoh menarik yang pernah saya lakukan di salah satu kelas, di sekolah yang saya bina (anggap saja sekolah X di Jawa Timur). “Ada anak-anak yang cukup pandai dikelas, punya tanggung-jawab cukup …tetapi anak itu mengalami kejenuhan dengan pola penjadwalan dan struktur disiplin sekolah”. Dia bermasalah dengan guru-guru, karena tuntutan guru terlalu rendah buat dia, tetapi kalau kelas harus mengikuti pola iramanya, maka akan terlalu tinggi buat anak-anak kelas itu. Anak itu menginginkan kebebasan buat dirinya…dalam hal disiplin masuk kelas dll.”

Setelah para TG (teacher guide)[1] yang menangani anak itu mengeluh, dalam sesi diskusi mingguan, kami mencoba mencari alternatifnya. Saya mengatakan; “Dalam sekolah ini kita ingin apa?” Semua sepakat, kita ingin anak-anak kita Sukses dan Bahagia. Dimana didalamnya ada achievable yang berupa nilai ujian dan lain-lain standart sekolah, disiplin dan tidak mengekang anak-anak. Lalu saya bertanya, dalam kasus anak diatas, “Mungkinkan kita menemukan pemikiran alternative, dimana anak itu tetap sukses dan bahagia, tetapi tidak menggangu disiplin sekolah dan dia tidak merasa terkekang?” jawabnya adalah “Mungkin” (Pasti). Dari jawaban ini terjadilah diskusi mencari alternative-alternatif         ke-3.

Stephen CoveySetelah ditemukan, dimana anak diperbolehkan izin, tidak masuk kelas, bahkan izin tidak bersekolah (dengan limit tertentu) dengan syarat, hasil nilainya sama atau melebihi nilai sebelunya. Tugas sekolah selalu harus dikerjakan dst..dst. Dengan alternative ini, banyak anak lain yang menginginkan kebebasan tersebut…..dengan memenuhi syarat-syarat yang diberikan. Hasilnya sekolah merasa bangga, tidak hanya nyaman, sebab prestasi anak-anaknya meningkat, Siswa bangga dan nyaman, karena memperoleh kebebasan, memperoleh yang diinginkan, mulai belajar manajemen waktu dan mamajemen diri. Guru kelas juga bangga, karena prestasi anak melebihi sebelumnya, tidak ada anak yang merasa ingin tidur dikelas, dan nyaman (karena tidak merasa diremehkan dan tetap sesuai aturan kelas dan sekolah).

Alternatif ke-3 ini sama dengan Sinergi. Dimana perdefinisi Sinergi adalah satu tambah satu melebihi penjumlahan bagian-bagiannya. Ini adalah hasil dahsyat yang terjadi ketika dua manusia atau lebih secara bersama-sama memutuskan untuk menjangkau gagasan baru yang melampaui gagasan awal mereka untuk menghadapi tantangan. Disini sebenarnya berhubungan dengan hasrat, energy, kecerdikan, kegembiraan untuk menciptakan realitas baru yang jauh lebih baik daripada realitas lama.

Sinergi tidak sama dengan kompromi atau teks win-win solution (dimana realitas sebenarnya  adalah lost-lost solution). Win-win solution itu reallitanya adalah satu tambah satu samadengan kurang dari dua. Hasilnya kurang dari penjumlahan bagian-bagiannya. Setiap orang kehilangan klaim maksimalnya…itulah kompromi, yang sering menggunakan kata win-win solution. Sinergi tidak hanya mengatasi konflik. Sinergi melampaui konfliknya (seperti contoh kelas dan Sekolah X diatas). Pola pikir Sinergi adalah bukan cara-saya, bukan cara anda tetapi CARA KITA.

Kita bisa lihat contoh-contoh Sinergi dialam kehidupan. Sinergi adalah prinsip fundamental yang bekerja di seluruh dunia. Pohon redwood mencampur akarnya agar bisa berdiri kokoh melawan angin dan tumbuh menjadi luar biasa tinggi. Ganggang hijau dan jamur menyatu dalam lumut dan tumbuh di bebatuan yang tidak ditumbuhi tanaman lain. Burung-burung dalam formasi V bisa terbang hampir dua kali lebih jauh daripada burung yang terbang sendirian, karena gerak udara naik yang dihasilkan oleh kepakan sayap burung. Bila kita menggabungkan dua batang kayu, keduanya akan mampu mengangkat beban yang lebih berat secara eksponensial daripada beban yang dapat diangkat sepotong kayu secara terpisah.

Besi patah dengan tekanan 60.000 pon kuadrat Inci (PSI). Kromium dengan ukuran yang sama, akan patah pada sekitar 70.000 PSI. Sebatang nikel akan patah pada sekitar 80.000 PSI. Bila ketiganya digabung seluruhnya kekuatannya adalah 210.000 PSI (dari 60.000 + 70.000 + 80.000). Tetapi penjumlahan itu salah, sebab bila ketiganya dicampur dengan campuran tertentu, besi, kromium, dan nikel akan mampu bertahan pada 300.000 PSI. Ada tambahan 90.000 pon kekuatan (300.000 – 21.000). 90.000 tambahan dari gabungan bagian-bagiannya, inilah sinergi. Logam itu menjadi 43 persen lebih kuat dari pada saat terpisah. Kekuatan ekstra inilah yang memungkinkan dibuatnya mesin jet.

Ingatlah dalam kehidupan kita, anak-anak kita, sekolah dan lembaga pendidikan. Bahwa semua anak itu adalah ajaib. Seperti kata Pablo Picaso, “sebab tidak akan pernah lahir didunia ini anak seperti dia.” Dalam kehidupan kita…dalam keseharian kita, dan mekanisme standart anatomi kita, ada otak reptite (mekanisme lawan lari, yang dikendalikan oleh syaraf simpatis dan para simpatis), system limbic (emosi) dan neo-kortek (otak berfikir).

Saat kita mendapat tekanan, saat kita mendapat problem, konflik, kita bisa lawan, maki-maki, membalas, atau lari, menghindarinya. Ini adalah penyelesaian tanpa alternative ke-3, tanpa Sinergi. Dengan berfikir sinergi, maka kita melalui konflik itu, melampaui kejengkelan standart itu untuk memberikan respon lain. Sehingga menghasilkan tidak hanya pada kita, tetapi juga pada mereka yang menyakiti kita atau berkonflik dengan kita.

Contoh (terus terang saya agak risau dengan masalah ini) Kasus dalam “Madzab Islam” (Kasus Wahabi-Sunnah-Syiah). Mereka saling menyalahkan, mereka saling menjelekkan dengan semua data yang mungkin bisa mereka peroleh. Mereka saling menghujat, bahkan menyesatkan dan mengkafirkan. Tidak hanya bukti-bukti dibuku-buku masing-masing, sudah sampai tingkat opini, rekayasa, saling fitnah dan masuk keranah social, politik dan kenegaraan.

Tidak ada yang mau mundur seinci-pun dalam masalah ini. Mereka bertahan dengan argumentasinya masing-masing, dengan paradiqma konflik masing-masing, dengan sudut-pandang sejarah masing-masing. Seakan mereka tidak pernah belajar berapa juta ummat Islam yang sudah meninggal gara-gara kasus-kasus itu, berapa banyak anak yatim yang dihasilkan, berapa janda akibat perseteruan itu, berapa kerugian moril-materiil karena konflik-konflik tersebut dst.  Bahkan yang lebih parah, mereka saling serang dengan atas-nama agama yang sesama (ISLAM). Padahal mereka sama-sama mengharap keridhoan, pahala, nilai baik dari TUHAN yang sama dan Nabi yang sama (Muhammad saw).

Apakah tidak ada alternative ke-3, bukan sekadar win-win solution (sebab ini ranah keyakinan…yang akan sulit dikompromikan?). Dengan berfikir alternative ke-3, sinergi  maka semuanya diharapkan bisa puas, semuanya nyaman dan semuanya gembira. Ini pasti mungkin dihasilkan, diupayakan, bila mereka mengatakan, bahwa itu memang mungkin, ada alternative ke-3. Jawaban “MUNGKIN”, sudah menurunkan tensi konflik masing-masing, sebab masing-masing sudah mulai yakin bahwa, semuanya perlu dan bisa diupayakan. Paradiqma saya 100% benar kamu 100% salah, sudah mulai berubah. (Semuanya!).

Belajar Menjadi Sukses dan BahagiaDalam upaya mencari alternative ke-3, maka berfikir bipolar harus dihilangkan dulu. Berfikir Bipolar seperti, saya Islam kamu sesat, kamu kafir. Saya rasional kamu tidak, saya jujur kamu bohong, penuh intrik. Saya memegang tali agama Allah, kamu menuruti hawa nafsu dst. Perangkap- perangkap berfikir seperti ini harus diturunkan tensinya, baru upaya mencari Sinergi bisa dilakukan.

Kita bisa lihat ini dalam Dunia Pendidikan. Dimana ada dikotomi antara pendidikan agama dan pendidikan umum/sain. Yang berfikir agama membentuk semacam pesantren, sedangkan yang berorientasi keilmuan/sain, membentuk sekolah umum (SD, SMP, SMA, SMK, dst). Ada dikotomi disini. Sehingga yang sekolah umum, kebanyakan ilmu agamanya rendah dan yang pesantren ilmu sainnya rendah. Lalu dicoba dipadukan atau dijembatani dengan sekolah Madrasah/MTS/ALIYAH, dimana ini adalah paduan antara sekolah umum/sain dan agama. Konsepnya disini baik, tetapi menurut saya, Madrasah/MTS/ALIYAH adalah contoh berfikir win-win solution atau kompromi. Artinya agamanya diturunkan tensinya dan sain/umum diturunkan tensinya. Dan apa yang terjadi? Kebanyakan Madrasah/MTS/ALIYAH itu kurang di dua-duanya. Agamanya kurang dan Umumnya Kurang. Inilah konsep kompromi, inilah konsep win-win solution. 1+1 = Kurang dari 2.

Marten Seligman, dengan Psychology Positive dan dikembangkan menjadi Positive Education, adalah sebuah upaya berfikir alternative ke-3. Dimana sekolah ini memadukan antara meraih kesuksesan (achievable) dan Well-Being (Kesejahteraan, Kebahagiaan). SUKSES adalah sebuah tingkat pencapaian yang khas ingin diraih dalam sekolah-sekolah sain/umum. Dan Bahagia, happiness adalah sebuah tingkat pencapaian yang khas ingin diraih dalam sekolah-sekolah agama. Menggabungkannya menjadi satu, adalah berfikir Sinergi, berfikir alternative ke-3.[2]

Memang akan sulit bersinergi dengan orang yang lemah secara kognitif dan emosional, yang tidak mempunyai kendali impuls. Makanya semestinya yang melakukan upaya untuk mencari alternative ke-3 adalah orang yang yang tahu masalah, punya integritas dan punya kebebasan dalam kendali-kendali kepentingan.

Bagaimana Syarat Sinergi dapat dilakukan? (lihat bagian 2….).

Oleh : Muhammad Alwi, S.Psi, MM


[1] TG (Teacher Guide) adalah Guru-guru senior yang memandu guru-guru lainnya. Ada 12 TG disekolah itu, dan setiap TG memandu 4 guru. Total Gurunya ada 60 orang. Sekolah ini adalah sekolah yang mencoba mengimplementasi “Sekolah-Positif” (Konsep sekolah yang saya cobakan dibeberapa sekolah dengan Integrated of Multiple Intelligence dan Kurikulum Nasional). Secara lengkap bagaimana mengimplementasikan itu, lihat di buku saya, “Pendidikan dan Sekolah Positif”, Noorabooks, 2014.

[2] Lihat detail, Muhammad Alwi, “Anak Cerdas Bahagia dengan Pendidikan Positif” (NooraBooks, 2014).

Tentang pendidikan positif

Kami adalah Pendidik, Guru, Dosen dan Trainer. Alumni Pasca Sarjana Univ Brawijaya Malang, sekarang studi lanjut di Department Psychology. Kami mengembangkan Seminar, Workshop, dan berbagai Test berbasiskan psikology. Mulai dari 1. Workshop berbasiskan Multiple Intelligence, Topografi Otak, Power Personality, Performance Barrier, Succes with Understanding Personality, Otak Kanan- Otak Kiri, bagaimana mengetahui dan memanfaatkannya untuk sukses dll. Semua itu untuk pengembnagan SDM dan Human Capital. Baik untuk Guru, anak-anak (TK, SD, SMP, SMA, PT), juga untuk karyawan Industri dan Perusahaan. 2. Test test yang mendukung workshop dan seminar diatas seperti; a) Test Multiple Intelligence, b) Test Personality, c) Test Performance Barrier dll. Konsep Kami adalah......Discovering Your Royal road to learning, achievable and Personal Satisfaction. Bagaimana caranya? Caranya dengan discovering your talent, your ability (dengan pemahaman, test), the right place....maka sukses dan bahagia akan mudah didapatkan. Positif Pendidikan adalah Pendidikan yang berusahan menjadikan pebelajar (siapapun yang belajar), akan mampu untuk meraih tidak hanya sukses (achievable) tapi juga bahagia (will-being). Success and Happy.
Pos ini dipublikasikan di Psikologi dan Pendidikan. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s