“MELAMPAUI KEADILAN, MELAMPAUI WIN-WIN SOLUTION” (Bag 2 habis)

Ada beberapa persiapan dan syarat agar berfikir alternative ke-3 atau Sinergi dapat dilakukan, dalam banyak hal. Di Pekerjaan, di Pendidikan, di Hukum, di perbedaan Madzab dll.

SAYA MELIHAT DIRI SAYA (1)

Untuk melakukan Sinergi, Sthephen Covey memberikan tahapan-tahapan sebagai berikut; 1) saya melihat diri saya, 2) Saya melihat Anda, 3) Saya mencari anda dan 4) saya bersinergi dengan anda. Saya melihat diri saya, artinya saya sadar diri, saya sudah menjelajahi hati saya, saya mengenali motif saya, ketidakpastian saya dan prasangka saya. Saya juga menyelidiki asumsi saya sendiri. Saya siap membuka diri pada anda. Saya melihat diri anda, melihat anda sebagai diri anda, bukan men-stereotype diri anda, politik anda, madzab anda, dan bukan perwakilan kelompok anda, dst. Saya mencari anda, ini tidak akan terjadi sebelum no 1 dan 2 terselesaikan. Saya mencari anda adalah paradiqma empati[1], bukan simpati. Saya mencoba berfikir bagaimana anda berfikir dan merasakannya.[2]

Dalam hal ini kita sudah semestinya memiliki asumsi dan pemikiran, bahwa budaya kita sampai batas tertentu menentukan kecendrungan kita berpakaian, berbicara, makan, main dan berfikir. Tidak penting kita ini berprofesi apa. Filsuf Owen Flanagan mengungkapkan, “Kita lahir kedalam keluarga dan komunitas dengan citra orang-orang yang terlebih dahulu ada. Kita tidak berhak menentukan lokasi….bayangan itu mendahului kita, selama berabad-abad…begitu kita mencapai usia dimana kita punya kendali, kita bekerja berdasarkan bayangan, berdasarkan kisah yang sudah sangat terserap, sebuah alur cerita yang sudah menjadi bagian dari citra-citra kita”[3]

Sayangnya sebagian kita, dan ini sangat banyak, dimana kita hanyut dalam definisi orang lain, karena profesi kita, agenda eksternal, kelompok kita, kisah kultural kita, dst. Kita kehilangan penilaian tentang siapa diri kita, dan apa yang bisa kita lakukan dalam kehidupan.

Bila kita mampu melihat diri kita sendiri, mempertanyakan pengandaian-pengandaian kita, jeratan kultur dan citra-citra yang ditanamkan pada kita, maka kita akan mampu melihat diri kita terbatas dan tak terbatas. Terbatas karena kita lahir tanpa pilihan, dan banyak hal yang otomatis disodorkan pada kita, tapi kita juga tak terbatas…karena apapun itu, kita mampu untuk melampauinya dengan kebebasan kita. Dengan ini maka kita bisa bersikap rendah diri sekaligus percaya diri dalam waktu yang bersamaan.

Konflik dan alternative ke-3 memungkinkan dicari bila dalam konflik semua pihak mempertanyakan; a) Bagaimana kisah saya (Bagaimana kultural, sekolah, pendidikan, buku-buku, orang tua, keluarga dll, menulis kisah saya). Apakah perlu saya mengubah naskah saya? B) Apakah kelemahan-kelemahan saya, c) Bagaimana pemrograman kultural saya mempengaruhi pemikiran saya, d) Apakah motif saya yang sesungguhnya, e) Apakah asumsi saya akurat? F) Dalam hal apakah asumsi saya lengkap? G) Apakah saya berkontribusi pada sebuah hasil, yang benar-benar saya inginkan.

 

SAYA MELIHAT ANDA (2)

Kalau kita yakin bahwa kita punya keterbatasan dalam diri kita, setelah kita melihat diri saya. Maka kita akan rendah diri dan percaya diri. Rendah diri, tidak mudah menyalahkan orang, karena ada asusmsi, jangan-jangan dengan semua naskah saya, saya punya stereotype salah.

Disini akan keluar keinginan dialog terbuka, agar kita mampu memperbaiki diri kita sendiri lewat melihat orang lain (melihat anda). Saya butuh anda agar saya bisa menjadi saya, dan Anda butuh saya agar anda bisa menjadi Anda”.  Membuat stereotype, mengumumkan, generalisasi, memang membuat mudah untuk menganalisasi sesuatu, tetapi itu menghapuskan hal-hal yang menjadikan kita, manusia sebagai unique dan tunggal. Kita tidak bisa berasusmsi dengan mengatakan; lumrah dia-kan seorang kiayi, dia-kan bermadzab Wahabi, dia-kan Syiah, dia-kan Alhulsunnah. Ya…dia-kan sales, dia-kan pendukung partai x, dst. Sebab apapun kita, disamping kita adalah itu (saleh, orang Islam, guru dll), kita juga manusia, kita juga itu dan juga bukan itu (Disamping Islam, saya juga manusia umum, disamping guru saya juga orang tua, saya juga mahasiswa S3 dst). Kita politisi sekaligus orang tua, sakaligus warga Negara Indonesia, sekaligus…ini dan itu.

Dengan menggeneralisir manusia, kita membendakan manusia, kita menurunkan manusia menjadi status benda. Kita berfikir bahwa dengan membendakan mereka, kita akan lebih mudah menganalisa, kita lebih mudah mengendalikan mereka. Dengan merendahkan orang lain, dengan membuat stereotype, ini sebenarnya bermula dari rasa tidak aman dalam diri seseorang. Disinilah konflik mulai timbul. Psikolog terkenal Oscar Ybarra mengatakan, “mengapa orang punya kecendrungan melihat rendah orang lain, sebab itu akan membantunya merasa mengungguli mereka”. Bila manusia punya rasa aman terhadap dirinya sendiri, punya rasa hormat dan realistis terhadap dirinya sendiri, memori negative dan rasa ingin merendahkan orang lain akan berangsung hilang.[4]

Ini penting, Mandela menulis, “Selama bertahun-tahun panjang dan sepi, hasrat saya pada kemerdekaan rakyat saya berubah menjadi hasrat untuk membebaskan semua orang, kulit hitam atau putih. Saya tahu bahwa penindaspun harus dibebaskan, sama seperti pihak yang ditindas….pihak yang menindas dan pihak yang ditindas sama-sama telah dirampas kemanusiaannya” (Nelson Mandela, 2000: 544).

Mengapa ini tidak keluar dalam kaca-mata konflik antar madzab dalam Islam. Kasus Wahabi-Sunnah-Syiah. Mengapa mereka tidak keluar dari Islam Syiah, Islam Wahabi, Islam Ahlsunnah, Islam-KU, Islam-Mu menjadi Islam-KITA. Itu tidak akan terjadi bila kita tidak sadar, “Kita tidak melihat diri kita”, dengan tahu kelemahan-kelemahan kita, keterbatasan kita, asumsi-sumsi kita, madzab kita, sejarah penulisan buku-buku Islam, sejarah Islam, yang melatarbelakangi konflik tersebut, dst, dst. Lalu “saya melihat Anda”, tahu asumsi asumsi pihak lain, tahu argumentasi pihak lain, tahu cara-berfikir pihak lain. Membiarkan sampai selesai apa yang ingin disampaikan pihak lain, apa yang diharapkan oleh mereka, apa yang dipikirkan, difahami, diresapi oleh pihak lain. Disini kita melakukan “empati” bukan “simpati”.  Kita melihat dengan cara seperti orang lain itu melihat dirinya (Empati). Bukan simpati, yaitu melihat orang lain, sebagai mana kita biasanya melihat. Simpati itu artinya kita melihat dengan kaca-mata kita. Empati melihat dengan kaca-mata mereka.

 

SAYA MENYELIDIKI ANDA (3)

Ada pertanyaan penting disini yang mestinya itu membuka mata, hati dan pikiran kita. Bila para ulama yang kita tahu komitmenaya, integritasnya, keluasan ilmunya…berbeda pendapat, maka pasti ada sesuatu yang mesti kita selidiki. Kita bisa berkata, “Bila seseorang yang cerdas dengan kopetensi dan komitment seperti anda tidak sependapat dan berbeda pendapat dengan saya, pasti ada sesuatu ketidak setujuan anda yang tidak saya fahami, dan saya perlu memahaminya. Anda memiliki perspektif, kerangkan acuan yang perlu saya ketahui.”

Saya menyelidiki anda, harus dimulai dari sebelum-sebelumnya, saya melihat diri saya (1), dan saya melihat anda (2). Disini harus dipegang prinsip bahwa, kita punya kebenaran sepotong (perspektif kita), mereka punya kebenaran sepotong (perspektif anda). Dan kita tahu bahwa “Kebenaran tidak pernah murni dan jarang yang sederhana,” ujar Oscar Wilde.

Saya berikan contoh (dalam madzab agama Islam, terus terang saya punya kerisauan disini). Sholat dalam Islam itu 5 kali. Ini disepakati oleh semua ulama Islam, tetapi cobalah sedikit kita dalami, bagaimana tata cara Sholat 5 kali sehari itu? Akan sangat banyak ragam pendapat tentangnya. Bacaannya sangat banyak ragamnya, sedekap atau lurus tangannya. Sedekap diperut, diulu hati atau agak keatas.         5 kali dalam 5 waktu, atau 5 kali dalam 3 waktu. Ini contoh sholat yang secara mutawatir kejelasannya dimufakati bersama. Jilbab, ada yang menyepakati kewajibannya (menutup seluruh tubuh), ada yang menyepakati itu kesopanan, kepantasan. Ada yang harus menutup lengkap kecuali mata, ada yang wajahnya boleh terbuka, dst. Ini sekadar contoh kebenaran ucapan Oscar Wilde diatas, bahwa “Kebenaran tidak pernah murni dan jarang yang sederhana”.

Dalam menyelesaikan konflik, perbedaan pendapat, kita semestinya melakukan upaya empati dengan cara, siap mendengarkan dengan seksama, menyiapkan waktu, jangan cepat-cepat mengambil konklusi, konsensus dan yang lebih penting biarkan lawan kita menguraikan dengan selengkap-lengkapnya, seluas-luanya, apa maksud mereka, apa asumsi-asumsi mereka, bahkan kontruksi sejarahnya (menurut mereka). Lalu kita mengulangi pendapat lawan bicara kita, sampai lawan bicara itu, mengiyakan maksud pembicaraan kita tadi. “Ya memang begitu maksud saya.” Dengan tata-cara seperti ini, maka kita akan mampu memahami maksud teman kita itu.

Mendengarkan dengan empati tidak berarti kita setuju dengan sudut pandang orang lain. Namun, artinya adalah kita mencoba melihat sudut pandang orang lain. Kita berusaha mendengarkan isi dan emosi yang diekspresikan orang lain sehingga kita memahami posisinya dan mengetahui rasanya seperti apa.   Dan dalam upaya ini sekali lagi targetnya bukan menang-kalah, bukan menguatkan pendapat kita, dan menyanggah pendapat teman kita. Tujuannya adalah menambal kebenaran kita yang sepotong, sehingga potongan itu makin lengkap.

Melakukan atau berfikir empati sebenarnya tidak sulit, kita memiliki-nya, bahkan itu ada default pada diri kita, seperti diungkapkan oleh penelitian “neuron cermin” dalam tubuh manusia. Tetapi dalam penelitian Susan Keen, “Emphaty and the Novel”, dikatakan bahwa, hasrat akan dominasi, pemisahan dan hubungan heirarkhis, melemahkan empati. Carl Roger juga mengatakan, kecendrungan alami untuk menghakimi, mengevaluasi, menyetujui atau tidak menyetujui, melemahkan sikap empati kita.

Carl Roger dalam bukunya A Way of Being (New York, 1995; 102) menjelaskan : “Satu-satunya realitas yang saya kenali adalah dunia sebagaimana saya persepsikan… satu-satunya realitas yang mungkin Anda kenali adalah dunia sebagaimana Anda mempersepsikannya…Dan satu-satunya kepastian adalah bahwa realitas yang dipersepsikan diatas berbeda satu dengan yang lain. ‘Dunia Nyata sama banyaknya dengan jumlah orang”. [5]

John Stuard Mill, mengatakan, “Bukan konflik keras antar bagian dari kebenaran, melainkan penindasan terhadap separuhnyalah yang merupakan kejahatan yang menakutkan; ….bila mereka hanya memperhatikan satu pihak, kesalahan meruncing menjadi prasangka (prejudice), dan kebenaran sendiri tidak lagi mempunyai efek kebenaran.” (Mill, ‘On Liberty and Other Essay’, 2010; 35).

 

SAYA BERSINERGI DENGAN ANDA

Dengan pemahaman diatas, 1 (Saya tahu diri saya, kelemahan-kelemahan saya, saya tahu naskah hidup saya, saya tahu kebenaran milik saya sebenarnya adalah realita perpektif diri saya). Lalu saya melihat Anda, 2 (melihat orang lain bukan benda, bukan menstereotipe anda, melihat karena saya butuh anda untuk menjadi saya dan sebaliknya). 3, saya menyelidiki anda (melihat dengan empati, tahu kebenaran sepotong sepotong, hanya perspektif saya, kebenaran itu komplek). Maka timbul tidak hanya kebutuhan, tetapi keyakinan bahwa kita butuh melakukan dialog bersinergi. Bukan sekadar menyelesaikan konflik, bukan untuk menang-kalah. Inilah yang ke 4 (Saya bersinergi dengan Anda).

Disini kita menunjukkan bahwa Anda tidak perlu takut dengan saya. Karenanya anda tidak perlu mempertahankan diri anda karena saya tidak menyerang anda. Karenanya anda tidak perlu menolak dan anda tidak perlu membawa-bawa kekuatan anda karena sayapun tidak membawa-bawa kekuatan saya. Tidak ada kebutuhan menang-kalah disini.

4 langkah menuju Sinergi, yaitu; 1) Mempertanyakan pada Anda, apakah anda bersedia mencari solusi yang lebih baik daripada apa yang terfikirkan oleh kita sekarang?

Kita perlu tahu disini bahwa menang itu menyenangkan, tetapi hidup bukan permainan game, pertandingan. Hidup bukan zero sume game. Sehingga kalau anda menang saya kalah, kalau anda mendapatkan untung saya pasti tidak atau terkurangi jatah saya, dst. Tuhan mampu memberikan kepada kita, semua apa yang kita masing-masing diinginkan. Tanpa keyakinan ini berarti kita husnudzan (berburuk sangkan) dengan Tuhan. Dan itulah penyebab kedengkian dan iri hati.

2) Lalu marilah ditanyakan apa yang kita maksud dengan lebih baik (untuk kedua belah pihak). Disini kita perlu mendefinikan sukses masing-masing. Apa target masing-masing. Sehingga 1+1 bukan 0,7 (kompromi), tetapi menjadi 2 atau lebih. Disini kita perlu tidak sekadar menyelesaikan konflik, tetapi bagaimana kita mampu melangkah untuk mengubah paradiqma yang menyebabkan konflik. Ingatlah disini tidak hanya mengejar keadilan tapi melampauinya sehingga semua menjadi puas dan gembira.

Perlu diperhatikan disini adalah; a) Apakah semua dilibatkan dalam menetapkan kriteria sukses yang ingin dicapai? Pihak-pihak dalam konflik, b) Apa hasil sebenarnya yang diinginkan masing-masing. C) Hasil seperti apa yang bisa dikatakan merupakan “kemenangan” bagi semua pihak. D) Kita mesti menuntut untuk mencari sesuatu yang lebih baik.

Contoh kasus dalam penelitian konsumen P&G mengatakan; Konsumen menginginkan gigi yang lebih putih, tetapi mereka tidak mau membayar mahal pada dokter gigi, dan produk itu harus simpel penggunaanya. Karena kriterianya jelas, apa yang ingin di diraih, maka P&G mengundang ahli gigi, ahli pemutih, alat perekat dll. Dan team gabungan itu memasang target yaitu; Harga harus terjangkau, penggunaannya mudah, cepat menunjukkan hasil, diproduksi dengan kecepatan tinggi, kemasan bisa dipajang dalam waktu lama, dll. Dengan kriteria ini akhirnya P&G menemukan Whitership yang laris manis terjual.[6]

3) Mencari alternative-alternatif solusi, untuk mencapai target-target yang ditetapkan. Albert Szent-Gyorgi mengatakan, “Penemuan terdiri dari melihat apa yang dilihat semua orang dan memikirkan apa yang belum dipikirkan orang lain”.

4) Bagaimana kita tahu bahwa hasil sinergi itu telah tercapai. Itu terlihat bila kita tidak hanya merasa cukup adil, tetapi melampauinya, Keduanya (kita) tidak hanya puas, tetapi gembira dengan capaian hasil sinergi tadi.

 

Mudah-mudahan kita semua mampu untuk mengcobakan dalam kehidupan kita, mencoba untuk selalu mencari alternative ke-3, berusaha untuk membuat Sinergi, sehingga menghasilakn yang terbaik.

 

 

 

Muhammad Alwi, S.Psi, MM

Wallahu a’lam bi al Shawab.


[1] Filsuf Israel, Khen Lampert, mengatakan Empati terjadi ketika kita menemukan diri kita….dalam hati orang lain. Kita mengamati realitas melalui matanya, merasakan emosinya, berbagai kepedihannya. “Tradisional of Compassion”, New York, Palgrave-acmilan, 2006, p.157.

[2] Disini menarik, salah satu disertasi adik kelas saya, yang sempat memperbincangkan disertasinya dengan saya. Intinya dia ingin melihat Krontruks-Teoritis, berbagai pemikiran yang berkonflik dalam Islam dalam hubungannya dengan Fatwa MUI. Mulai dari Syiah, Ahmadiyah bahkan konflik pemikiran Muhammadiyah dan NU.
Sedang menyelesaikan doctoral di University of Singapura.

[3] Owen Flanagan, “The Problem of the Soul”. New York, Basic Books, 2002, p. 30.

[4] David J. Schneider, “the Psychology of Stereotype”, New York: Guliford Press, 2004, p.145.

[5] Diambil dari Stephen Covey, “the 3rd Alternative”, Gramedia, 2012, hl 69.

[6] Ibid, Covey, hal 89.

Tentang pendidikan positif

Kami adalah Pendidik, Guru, Dosen dan Trainer. Alumni Pasca Sarjana Univ Brawijaya Malang, sekarang studi lanjut di Department Psychology. Kami mengembangkan Seminar, Workshop, dan berbagai Test berbasiskan psikology. Mulai dari 1. Workshop berbasiskan Multiple Intelligence, Topografi Otak, Power Personality, Performance Barrier, Succes with Understanding Personality, Otak Kanan- Otak Kiri, bagaimana mengetahui dan memanfaatkannya untuk sukses dll. Semua itu untuk pengembnagan SDM dan Human Capital. Baik untuk Guru, anak-anak (TK, SD, SMP, SMA, PT), juga untuk karyawan Industri dan Perusahaan. 2. Test test yang mendukung workshop dan seminar diatas seperti; a) Test Multiple Intelligence, b) Test Personality, c) Test Performance Barrier dll. Konsep Kami adalah......Discovering Your Royal road to learning, achievable and Personal Satisfaction. Bagaimana caranya? Caranya dengan discovering your talent, your ability (dengan pemahaman, test), the right place....maka sukses dan bahagia akan mudah didapatkan. Positif Pendidikan adalah Pendidikan yang berusahan menjadikan pebelajar (siapapun yang belajar), akan mampu untuk meraih tidak hanya sukses (achievable) tapi juga bahagia (will-being). Success and Happy.
Pos ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s