COMMPASIONATE SCHOOL (SEKOLAH WELAS ASIH)

Seberapa ‘Welas Asih’ sekolah kita??

foto muhammad AlwiSaat jalan-jalan ke toko buku, bersama dua anak kami, Khadijah Shafira dan Fatimah Shalsabila. Sambil mengantarkan mereka ke bagian anak-anak (karena mereka duduk di kelas 4 SD dan 1 SD), sayapun jalan-jalan melihat-lihat buku-buku yang mungkin bisa dan perlu saya miliki. Tanpa sengaja saya melihat buku “Compassion, 12 langkah hidup Berbelas Kasih”, karya Karel Armstrong.  Saya jadi tertarik dengan buku itu, dibenak saya, bagaimana Amstrong cerita tentang Commpasion 12 (welas Asing).

Setelah saya membacanya, seperti biasa, bacaan-bacaan itu saya hubungkan, dan menghubungkan saya dengan ide-ide yang sedang saya geluti. Sejak 5 tahun terakhir ini, tema KEBAHAGIAAN dan PENDIDIKAN POSITIF dalah sesuatu yang sering menggelayuti pikiran saya. Bagaimana membuat pendidikan itu (siswanya, guru-nya dan pihak-pihak yang berkepentingan), mereka tidak hanya pandai, pinter, mampu menguasai ini dan itu, tetapi mereka memiliki kesadaran, pemahaman, sehingga membuat mereka juga Happiness (Well-Being-Bahagia). Dari menggeluti itu, sudah menghasilkan 2 buku saya, yaitu, “Belajar menjadi sukses dan bahagia” (Elexmedia, 2011) dan “Anak Cerdas Bahagia dengan Sekolah Positif” (NouraBook, 2014).

Dalam pendidikan positif diajarkan hal-hal yang ‘tidak biasa’ ditekankan dalam sekolah-sekolah tradisional. Misalnya, Emotion (Belajar Emosi Positive yang tidak sama dengan Positive-Thinking), Gratitude (Syukur, Terima Kasih), Strengths (Swot Analsis diri), Creativity, Self-efficacy, Resilience (Ketahan-bantingan), Disiplin /Penundaan Kepuasaan, Mindfulness (Kesadaran)

Cover buku Pendidikan Positif Final

Dari situ, marilah kita mencoba kita hubungkan dengan sekolah-sekolah tempat kita mengajar, tempat kita bekerja, tempat kita memimpin sekolah-sekolah itu.

Dalam salah satu tulisan dikatakan, ada seorang melakukan experiment sederhana. Dia berkunjung ke sekolah X (Sekolah yang cukup bergengsi, yang katanya berkomitmen dan menekankan pada karakter, leadeship dan entrepreneurship serta memberi pengharagaan pada keragaman agama dan budaya). Saat berkunjung pertama, orang itu datang dengan baju necis menggunakan mobil pribadi dan perlengkapan lainnya yang cukup baik. Di depan gerbang Pak Satpam langsung menyambut hangat, “Selamat datang Pak, ada yang bisa saya bantu?” Orang itu menjawab bahwa dia ingin bertemu dengan kepala sekolah, tetapi dia belum buat janji. Dengan sopan Pak Satpam berkata, “Baik, saya akan telepon pak kepala sekolah untuk memastikan apakah bisa ditemui, bapak silakan duduk, mau minum kopi atau teh?” Pelayanan yang begitu mengesankan!

Di lain waktu, Kunjungan kedua, orang yang melakukan experiment itu datang dengan penampilan yang berbeda. Baju kumal, dengan berjalan kaki. Satpam yang bertugas memberikan sambutan yang “Tak banyak beda dengan sebelumnya”, diperlihakan duduk dan diberi minuman. Saat berjalan menuju ruang kepala sekolah, satpam mengantarkan sambil berbicara tentang sekolah itu, semacam tour guide yang berpengalaman. Setelah bertemu dengan kepala sekolah tak ada birokrasi rumit dan penuh suasana kehangatan. Padahal orang yang melakukan experiment itu, bukan siapa-siapa, dan datang tanpa janjian sebelumnya.

Melatih satpam dengan jiwa, sikap ke-satpaman-nya, seperti sigap, waspada, adalah hal yang lumrah dan biasa. Tetapi menciptakan Satpam seperti itu, bukan hal yang mudah dan dapat dilakukan dalam semalam atau satu dua minggu. Disini dapat dipastikan sekolah punya komitmen besar untuk menerapkan karakter luhur bukan hanya di buku teks dan di kelas. Tapi semua wilayah sekolah, sehingga saat kita masuk ke gerbangnya, kita dapat merasakan aura itu.

Tanpa berpanjang-panjang, kita bisa mengatakan, jarang sekali kita melihat sekolah-sekolah seperti diatas, tetapi kebanyakan kita justru melihat sekolah-sekolah dengan cerita seperti ini.

Saat kita ke sekolah Y, Di halaman sekolah terpampang baliho besar bertuliskan, “The most innovative and creative elementary school” sebuah penghargaan dari media-media nasional. Dindinging-dinding sekolah dipenuhi foto-foto siswa yang menjuarai berbagai lomba. Ada dua lemari penuh dengan piala-piala. Pastilah sekolah ini sekolah luar biasa, pikir kita, dan itu kebiasaan kita dalam membayangkan, mengimajinasikan dan mempersepsikan suatu sekolah.

Saat kita berjalan menuju gerbang sekolah menemui satpam yang bertugas. Setelah kita mengutarakan tujuan kita bertemu kepala sekolah, satpam itu dengan posisi tetap duduk menunjuk posisi gerbang dengan hanya mengatakan satu kalimat, “lewat sana”.

Di tangga menuju ruangan kepala sekolah, ada seorang ibu yang bertugas menjadi front office menghadang kita dengan pertanyaan, “mau kemana?” dengan wajah tanpa senyum. Saat tiba di ruangan kepala sekolah, kebetulan saat itu mereka sedang rapat. Sehingga kita harus menunggu sekitar 45 menit. Selama kita duduk, biasanya berseliweran guru datang dan pergi tanpa ada yang menghampiri dan bertanya,” ada yang bisa saya bantu?”

Akhirnya kepala sekolah mempersilakan kami untuk masuk ke ruangannya. Baru ngobrol sebentar, tiba tiba seseorang di luar membuka pintu dan memasukkan kepalanya menanyakan sesuatu kepada kepala sekolah yang tengah mengobrol dengan kita. Tak lama dari itu tiba-tiba seorang guru masuk lagi langsung minta tanda tangan tanpa peduli bahwa kita sedang mengobrol.

Saat ditanya apa kelebihan sekolah ini (Sekolah Y)? Kita melihat Kepala sekolah terlihat berpikir keras selama beberapa menit sampai akhirnya menjawab,” Ini seperti toko serba ada, semua ada”. Dari jawaban itu, kita akan faham, pantas saja satpam sekolah ini tak punya “sense of excelent service”, sebab kepala sekolahnya saja tidak bisa menjelaskan apa “value preposition” sekolahnya.

Kemegahan bangunan, serta berbagai prestasi yang telah diraih, rasanya menjadi tak ada apa-apanya. Karena bukan itu yang membaut sekolah berkesan, melainkan atmosfir sekolah, culture-sekolah dan Compassion sekolah (dalam hubungannya dengan Sekolah Positif). Kadang kita langsung berfikir bahwa sekolah X itu sekolah hebat (pasti Satpam itu dengan gaji yang lumayan mahal). Sekolah Y (juga hebat, sekolah bonafide, mahal, tetapi mungkin gaji satpam-nya biasa-biasa saja).

Perjalanan kita perlu dilanjutkan. Ada sekolah Z, Bangunannya kecil sederhana. Pendiri sekolah ini seorang lulusan Pesantren, tetapi mengabdikan hidupnya, untuk pendidikan yang target kesuksesan katanya, bukan dari angka-angka, dari nilai-nilai, tapi dari “Hati”. Saat kita tanyakan konsep sekolahnya, dia dengan lancar dan tanpa teks-teks yang canggih, tapi benar-benar memanusiakan-manusia. (Sebagian cerita diambil dari ini, http://edukasi.kompasiana.com/2014/10/17/apakah-sekolah-anak-anda-sudah-beradab-681005.html

Sekolah itu, guru-gurunya sering berkata, saat mulai pelajaran atau bahkan ditengah pelajaran. Hari ini kita boleh meneruskan pelajaran? Atau Istirahat. Bila anak-anak mengatakan istirahat, maka guru akan mempersilahkan anak-anak istirahat. Kalau ada guru tidak menarik, saat tertentu, siswa boleh keluar kapan saja. Tak ada seragam sekolah yang pasti.

Saat kita duduk di pelataran sekolah itu sambil menyaksikan keceriaan anak-anak yang tengah bermain. Selama kami duduk, ada tiga orang guru dalam waktu yang berbeda menghampiri menyambut kami dan bertanya, “ada yang bisa yang saya bantu?” Kita bisa menangkap semangat melayani para guru-guru disana. Mereka ingin memastikan tak ada tamu yang tak dilayani dengan baik.

Saat mengamati anak-anak bermain, kita bisa melihat ada seorang anak yang jatuh dan menangis. Kita menebak bahwa guru akan segera membantu. Tetapi tebakan itu salah, ternyata dua teman sekelasnya datang menghibur dan membantunya untuk berdiri dan memapahnya ke kelas. Kita cukup terkesan, walau dengan kesederhanaan sekolah itu.

Di sekolah yang sederhana itu, kita bisa menangkap aura kebahagiaan dari siswa dan guru-gurunya. Kita tidak tahu jelas apa kurikulumnya menggunakan kurikulum 2013, KTSP, atau Cambridge Certificate. Tapi kita bisa merasakannya.  Lalu kita bisa mencoba untuk melakukan experiment, bertanya pada gurunya bagaimana ketuntasan belajarnya. Jangan bertanya kepeda guru-gurunya….tapi tanyakan, evaluasilah dengan test-test sederhana anak-anak disana.

Bukan lesson plan yang disodorkan, bukan angka-angka diatas kertas, bukan KKM (ketuntasan minimal, dan hasil remedial yang disodorkan), yang itu hanya sebuah konsep, tetapi ‘tidak-bunyi’ kata teman saya, dikelas apalagi dilapangan.

Sebuah sekolah bukanlah pabrik yang melahirkan siswa-siswa pintar. Tapi sebuah lingkungan yang membuat semua unsur di dalamnya menjadi lebih ber-adab. Untuk mengukur apakah sebuah sekolah sudah menjadi compassionate school tak serumit standar ISO. Cobalah berinteraksi dengan satpam sekolah, amatilah bagaimana guru beriteraksi, siswa bersikap. Rasakan atmosfirnya. Jika preastasi akademik bisa dilihat di selembar kertas, budi pekerti hanya bisa kita rasakan.

Saya pernah menulis tentang sebuah sekolah yang Sukses secara kemasan dan intertain, bukan sukses proses (https://pendidikanpositif.wordpress.com/2012/09/25/tren-kemasan-dalam-pendidikan-antara-idealisme-dan-realita-proses/)

Banyak sekolah yang menginvestasikan begitu banyak waktu dan pikiran untuk menyabet berbagai penghargaan. Tapi tak banyak yang serius membuat sekolah menjadi berharga dengan karakter dan budi pekerti. Banyak guru dan pelatih didatangkan untuk memberikan pembinaan tambahan pada siswa agar dapat menang lomba. Tapi sedikit sekali pelatihan service excellence untuk satpam dan karyawan.

Banyak guru yang dilatih kurikulum ini dan itu, strategi mengajar ini dan itu, tapi jarang mereka yang dilatih untuk meningkatkan harga diri anak, membuat anak memiliki resilience (ketahan-bantingan), membuat mereka senang dan bahagia.

Banyak sekolah yang dinding sekolahnya dipenuhi foto-foto siswa yang meraih juara ini juara itu, tapi jarang sekali foto sesorang siswa dipajang karena dia melakukan sebuah kebaikan yang berarti. KEHEBATAN OLAH PIKIT (KEPANDAIAN, KOGNISI) lebih dihargai secara berlebihan daripada KEBAIKAN, seperti Gratitude (rasa syukur), Ressilience, Engagement (Keterlibatan), Relationship (Hubungan Positive) – dengan ‘The Other’, Meaning (Menenukan, memberikan Makna) dan seterusnya. Tidak melulu Accomplishment (Prestasi atau Pencapaian). Prestasi lebih berharga secara berlebihan daripada budi pekerti.

Kita harus segera mengubah sistem pendidikan kita dari, 1) Dari menggunakan ilmu-ilmu Psikologi Sakit (saat lalu), menjadi berorientasi Psikologi Sehat (Psikologi positif), 2) Target sekolah,  tidak hanya success (Achievable), tapi bersamaan dengan weel-being (happiness). 3) Dari masih berorientasi pada ta’lim (mengajarkan) menjadi ta’dib (penanaman adab). Kata Naquib al attas.

Dalam konsep compassionate school (di Negara-negara barat, ini banyak dipelopori oleh sekolah-sekolah berbasis gereja), tadib harus diterapkan secara menyeluruh (wholse school approach) meliputi tiga area, pertama SDM yaitu guru, karyawan, orangtua, hingga satpam, kedua kurikulum, dan yang ketiga iklim, budaya organisasi/sekolah.

Bagaimana dengan sekolah-sekolah kita?

Tentang pendidikan positif

Kami adalah Pendidik, Guru, Dosen dan Trainer. Alumni Pasca Sarjana Univ Brawijaya Malang, sekarang studi lanjut di Department Psychology. Kami mengembangkan Seminar, Workshop, dan berbagai Test berbasiskan psikology. Mulai dari 1. Workshop berbasiskan Multiple Intelligence, Topografi Otak, Power Personality, Performance Barrier, Succes with Understanding Personality, Otak Kanan- Otak Kiri, bagaimana mengetahui dan memanfaatkannya untuk sukses dll. Semua itu untuk pengembnagan SDM dan Human Capital. Baik untuk Guru, anak-anak (TK, SD, SMP, SMA, PT), juga untuk karyawan Industri dan Perusahaan. 2. Test test yang mendukung workshop dan seminar diatas seperti; a) Test Multiple Intelligence, b) Test Personality, c) Test Performance Barrier dll. Konsep Kami adalah......Discovering Your Royal road to learning, achievable and Personal Satisfaction. Bagaimana caranya? Caranya dengan discovering your talent, your ability (dengan pemahaman, test), the right place....maka sukses dan bahagia akan mudah didapatkan. Positif Pendidikan adalah Pendidikan yang berusahan menjadikan pebelajar (siapapun yang belajar), akan mampu untuk meraih tidak hanya sukses (achievable) tapi juga bahagia (will-being). Success and Happy.
Pos ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s