ANIES BASWEDAN, DAFTAR UMR, GURU DAN SERTIFIKASI

Foto Ana GuciOptimisme Pendidikan Nasional??

Cara berfikir yang mengatakan kekayaan bangsa adalah minyak, gas, tambang adalah cara berfikir Kolonial. Kekayaan terbesar sebuah bangsa adalah manusianya (Anies Baswedan, P.hD). Saya tidak tahu teks ini diucapka oleh Anies Kapan? Tetapi wacana ini sangat penting. Kita sudah bisa melihat dengan mata kepala, bagaimana Singapura dengan tidak memiliki kekayaan alam apapun mampu sedemikian majunya. Mengapa? Jelas itu karena manusia-manusia Singapura, SDM-nya. Kenichi Ohmae dalam salah satu bukunya mengatakan, tidak ada Negara yang terselamatkan dengan hanya Sumber Daya Alam, kecuali sebagian kecil Negara Timur Tengah.

Saat Anies Baswedan diangkat menjadi mentri Pendidikan Dasar dan Menengah, beliau mewacanakan adanya UMR untuk guru-guru di Indonesia. Wacana mentri ini sangat menarik dan wajib didukung dan direalisasikan. Sebab hal itu sangat significant, tidak hanya dalam hubungan dengan kesejahteraan guru, tetapi ini dapat meningkatkan kompetensi guru dan kesejahteraan guru sekaligus.
Semua kita sering berkata bahwa Tenaga Kerja adalah penentu kesuksesan sebuah perusahaan, sekolah sering berkata guru adalah penentu keberhasilan dalam pendidikan sekolah dan dan sebuah Negara sering berkata bahwa kualitas manusianyalah penentu kebesaran sebuah bangsa. Tetapi pertanyaannya adalah apa yang sudah mereka lakukan? Bagaimana mereka mengembangkan SDM-nya? Membangun tempat-tempat pencetakan SDM unggul, mendistribusikannya, memberikan motivasi (dengan Gaji, Keterlibatan, kepuasan dst), dan bagaimana manajemen dan strategi manajemen Talenta mereka?
Disini saya tidak sedang membahas tentang Manajemen apalagi manajemen Talenta. Tetapi bicara Stategi SDM, bicara memaksimalkan Potensi, mau atau tidak mau kita mesti bicara Strategi Talenta. Strategi Manajemen Talenta adalah Startegi Tingkan Korporat tentang Manajemen yang dimulai dari perekrutan, pengembangan dan mempertahankan individu yang secara konsisten memberikan kinerja unggul.
Sertifikasi dan UMR Guru
Sejak beberapa tahu lalu, Pemerintah kita sudah memperlihatkan kepedulian yang cukup terhadap Pendidikan. Dengan mengeluarkan kebijakan BOS (Bantuan Operasional Sekolah), Tahun 2007-2008 pemerintah meluncurkan program sertifikasi guru, dst. Dengan BOS maka seluruh siswa wajib belajar 9 tahun, mereka sekolah gratis (SPP dan biaya operasional lainnya, mereka ditanggung oleh pemerintah). Guru juga ditingkatkan kesejahteraannya dengan adanya Sertifikasi.
Sertifikasi intinya adalah apabila seorang guru sudah mengantongi kredit tertentu, maka guru tersebut berhak mendapat tunjangan profesi dari pemerintah, bahkan setelah beberapa saat ada tambagan lainnya yaitu tunjangan fungsional guru. Dana sertifikasi ini cukup besar, sebab setiap orang mendpatkan Rp 1,5jt (Satu setengah juta) sampai Rp. 2,5 juta (Dua setengah juta) setiap bulannya. Dan itu masuk langsung kerekening pribadi mereka masing-masing.
Ada evaluasi dari kebijakan kebijakan itu, mulai pengumpulan pointnya, yang dulu hanya portofolio, sekarang melalui penjaringan (test). Juga ada evaluasi lainnya, misalnya seberapa signifikan guru-guru yang sudah mendapatkan sertifikasi dan yang belum dalam hal kompetensi kependidikannya (mengajar, update keilmuan dst).
Sertifikasi adalah instrument yang cukup bagus melihat komitmen pemerintah terhadap pendidikan. Tetapi ada ketimpangan yang sangat mencolok dalam penggajian guru-guru di Indonesia.
1) Guru PNS (Yang ini kesejahteraannya cukup, karena pemerintah selalu menghubungkan penggajian mereka dengan inflasi dst, serta tambahan tunjangan-tunjangan lainnya. 2) Guru Swasta sertifikasi. Walaupun mereka tidak sebaik guru PNS, tetapi tunjangan sertifikasi dan gaji mereka di sekolah, sudah cukup membantu dalam kesejahteraannya (walaupun belum bisa dikatakan layak). 3) Ini yang paling menderita dan kurang terurus (padahal jumlahnya terbanyak dinegara ini). Mereka hanya mendapatkan gaji dari sekolah yang mempekerjakannya, dan itu kekuatannya tergantung lembaga/Yayasan yang bersangkutan.
Disinyalir banyak guru TK/SD yang mengajar penuh disuatu sekolah, hanya di gaji Rp. 100.000 – 400.000/bulan (Hasil survei sebagian guru di Pasuruan, Cirebon, Pemalang, dan Madura sekitar). Bandingkan ini dengan Gaji guru PNS (Dengan kulifiaksi dan tingkat yang sama PNS) dan Tunjangan Sertifikasi guru, Yang besarannya antara Rp.1.000.000 – 2.000.000. Dengan beban, tugas dan lain-lainnya hampir sama.
Marilah kita lihat UMR Nasional. UMR NTT Rp. 1.150.000/Bln, Jakarta Rp. 2.440.000. (Ini tahun 2014 dan Rata-rata, banyak sekali yang jauh diatas itu. Di Gresik, Pasuruan, UMR-nya sudah 2,5 juta keatas per tahun 2015).

Wacana Kalkulasi UMR Gaji Guru

Anies Baswedan

Pertama, Guru yang mengajar di sekolah swasta X (sekolah standart/umum. Bukan jelek dan bukan favorit) di Pasuruan, Pemalang, Cirebon, Madura sekitar (data yang kami dapatkan, dan kurang lebihnya sama untuk daerah-daerah lain). Maka honor/haji per jam/SKS/minggu adalah Rp. 15.000 (lima belas ribu) sampai Rp. 25.000 (dua puluh lima ribu rupiah).

Maka seandainya guru tersebut mengajar 24 SKS (Seperti yang disyaratkan guru-guru Sertifikasi). Maka hasil honor/gaji guru bersangkutan adalah 24 SKS/Jam x (15rb – 25rb). Jadi hasilnya adalah Rp. 360.000 (Tiga ratus enam puluh ribu rupiah) sampai Rp. 600.000 (enam ratus ribu rupiah). Dengan jumlah jam kerja adalah 24 sks x 50 menit/sks = 1200 menit = 20 jam kerja.
Kedua, Gaji UMR daerah tersebut sekitar 1.500.000 ( Bisa diatas itu, tapi ini supaya mudah dalam penghitungannya). Dengan jam wajib 8 jam/hari, 5 hari kerja = 40 jam/minggu.
Ketiga, Bila guru bekerja dengan jam yang sama, artinya 40jam/minggu. Maka mereka akan mendapatkan Honor/Gaji Rp. 720.000 sampai 1.200.000 ( dengan hitungan 48 jam/minggu x (Rp. 15rb – 25rb).
Jelas ini sebuah ketimpangan yang sangat-sangat jauh, dan ini juga menunjukkan bahwa komitmen pemerintah terhadap tenaga pendidik/Guru, sebagai pencetak SDM bangsa kita, masih sangat-sangat rendah. Beberapa kejanggalan itu adalah;
1) Dengan beban kerja yang sama bahkan lebih berat, mendapatkan imbala, gaji, honor yang berbeda. 1,5 – 2jt pegawai Pabrik, 720rb-1,2jt Guru. 2) Pekerja pabrik tidak dituntut dengan kualifikasi tertentu apalagi Sarjana (S-1). Sementara guru SD keatas, bahkan sekarang TK/Paud, wajib sarjana (S1). 3) Pekerja pabrik dengan gaji/honor itu, adalah jam masuk-nya (bukan jam kerja riil). Sementara guru dengan 48 Sks, artinya dia wajib mengajar dikelas jam kerja riil-nya). Bukan sekedar keberadaannya di sekolah dan tidak terhitung istirahat.
4) Guru dituntut ujian, membuat persiapan mengajar, dan keadministrasian lainnya. 5) Dalam dunia “bisnis murni” sekalipun (sedikit menyederhanakan), bila ‘rejek’ itu ditoleransi, karena yang dikerjakan bukan hal yang sangat bernilai, maka nilai pekerjaan itu menjadi rendah/biasa (penggajiannya dst). Sementara kita tahu dan bias dibandingkan pekerjaan pabrik dengan pengelolaan manusia, pengelolaan SDM. Jelas sangat jauh dan timpang. 6). Dst…dst bisa ditambahkan sendiri.
Dengan gambara ini, maka pemerintah seharusnya mengkonversi UMR untuk guru ini dengan Jam/SKS. MIsalnya kalau bekerja 24 SKS, itu semestinya mendapatkan rupiah tertentu. Saya ambil contoh sederhana yang kecil saja. 40 jam kerja = 48 SKS (ini berarti beban kerja guru sama atau lebih dibandingkan kerja di Pabrik), maka seorang guru harus mendapatkan honor/gaji sebesar Rp. 2,5 juta/bulan. Maka dengan itu bisa dihitung dengan mudah, per jam/sks/minggu untu wilayah itu, seharusnya adalah Rp. 52 ribu-an.
Dengan konversi ini, maka ana kenaikan yang signifikan guru-guru swasta non sertifikasi. Sehingga seandainya dia mengajar di beberapa sekolah, tetapi totalitasnya mendapatkan 30 SKS/jam/minggu, maka gaji yang dibawa pulang sekitar 1,5juta. Ini jauh lebih besar dibandingkan sebelumnya yang hanya 450rb sampai 750rb.
Dengan system penggagajian yang lumayan besar ini, dibandingkan dengan sebelum-sebelumnya, maka;
Guru dan UMR
1) Tidak akan mudah mendirikan sekolah swasta (karena biaya guru yang besar). Operasional Cost yang besar. Disinyalir, banyak sekolah swasta sekarang yang didirikan dan bergerak secara operasional, hanya mengandalkan BOS. Sekolah-sekolah ini, “mencari untung”, dan tidak operasional.
2) Guru juga akan dituntut oleh sekolahnya, karena secara penggajian cukup lumayan. Dengan ini guru “Asal” tidak akan mendapatkan toleransi yang cukup. Asal mau mengajar, asal punya waktu, asal masuk kelas, asal punya gelar sarjana, asal ini dan itu, tidak punya tanggung jawab pengajaran, pendidikan dan keilmuan yang jelas.
3) Dengan konsep baru ini, sekolah akan diberi dua pilihan. a) Mematok SPP yang tinggi. Bila ini dilakukan, maka mereka pasti diharuskan bertindak profesioanl, memberikan layanan yang baik (bukan standart). Karena wali-murid (orang tua) akan komplain dan meminta sesuatu layanan tertentu kepada sekolah, karena SPP yang cukup tinggi. b) Jumlah murid sekolah itu harus cukup banyak, sehingga cost/unit dan overhead yang lainnya mencukupi (skala-economy-nya) dst. Sehingga mereka tidak perlu menaikkan SPP. c) Sekolah-sekolah harus siap rugi. Ini tidak mungkin dilakukan, kecuali sekolah-sekolah MISI, dimana mereka siap rugi demi pendidikan, demi kemajuan visi dan misi mereka.
4) Banyak sekolah-sekolah yang tidak layak harus tutup, atau ada sedikit barrier/hambatan untuk mendirikan sekolah yang “Asal”.
Beberapa tahun lalu ada wacana merger sekolah. Dimana sekolah-sekolah yang wala yamut wala yahya (Tidak mutu dan berjaya = tidak berkualitas dan muridnya tidak banyak). Harus digabungkan dengan sekolah lainnya yang dekat. Tapi banyak sekolah ‘asal’ tidak mau, dengan alasan nama dia (Pendiri, bahkan sekolah sekolah tertentu menggunakan nama orang), nama yayasan, ini tinggalan dari nenek-moyang mereka, ini tinggalan orang tua yang harus dipertahankan, dst. Dengan adanya UMR mereka tidak bisa mengelak, kalau ngotot, harus siap tekor/rugi.

Buku ku....bagus
Saya yakin dengan pembenahan ini, maka ada tindakan dan penataan yang serius sekolah-sekolah ASAL. Sebab sekolah-sekolah ini jumlahnya cukup banyak, dan semuanya bersandar dalam kelangsungan sekolahnya dari BOS dan lainnya. Sekolah “ASAL“, dalah sekolah yang asal berdiri, asal mengajar, asal punya waktu, mengajar dibuat sampingan pengisi waktu daripada bengong dirumah. Asal sekolah jalan, bagaimana jalannya, bagaimana ruang kelasnya, kurikulumnya, buku-bukunya, gurunya, dll tidak terurus dengan jelas. Sekolah ini adalah sekolah yang mencari “keuntungan”, tanpa profesionalisme. Lebih baik jelas-jelas sekolah-sekolah mahal, yang wali-murid akan komplain kalau sekolahnya tidak beres, karena membayar mahal. Sekolah “Asal” ini memiliki problem lingkaran setan : 1) Yayasan tidak serius (tidak mau rugi, tidak mau serius dan berbenah), tapi mengapa sekolahnya masih hidup? Jawabnya karena pendanaan masih ada, guru ada, walaupun tidak cukup menarik, tidak professional dst. Tetapi problemnya sekolah ini dalam kurun waktu tertentu tetap guru-gurunya akan tersertifikasi dan setiap bulan akan mendapatkan BOS.

2) Guru nya tidak serius, sehingga materi, RPP, absensi, keilmuwan tidak jelas. Yayasan tidak komplain dengan tegas karena gajinyapun sangat terbatas. 3) Wali murid juga tidak banyak komplain karena sekolahnya gratis, wawasan pendidikan wali murid yang biasa-biasa dst. Inilah lingkaran setan dan gambaran sekolah “asal”.
Dan mirisnya, saya melihat sangat banyak sekolah-sekolah semacam ini di Negara kita, dan lebih miris lagi, justru dominan itu ada di tingkat TK/PAUD/SD/MI. Padahal sekolah dasar TK/SD/PAUD/MI adalah awal mula pendidikan selanjutnya dan merupakan hal yang sangat penting dalam pembentukan karakter, disiplin dlsb.

Buku ana oke

 

Dengan salah satu instrument pembenahan masalah pendidikan nasional (UMR guru) diharapkan pendidikan kita akan lebih baik, dan optimism akan bergulir. Salam Revolusi Mental yang harus dimulai oleh Diri sendiri, Keluarga (para wali murid) dan lembaga pendidikan. Semoga Indonesia yang lebih baik bisa kita bayangkan, harapkan dan terealisasikan. Insya Allah. Amien3x.

Muhammad Alwi.
Guru, Mantan Kepala Sekolah, Dosen dan Konsultan Pendidikan.
Sekarang Kami mengembangkan training, Workshop Pendidikan Positif dan Integrated Multiple Intelligence serta Effective Communication for Success (Team Work, Carier, Relationship and Life).

Tentang pendidikan positif

Kami adalah Pendidik, Guru, Dosen dan Trainer. Alumni Pasca Sarjana Univ Brawijaya Malang, sekarang studi lanjut di Department Psychology. Kami mengembangkan Seminar, Workshop, dan berbagai Test berbasiskan psikology. Mulai dari 1. Workshop berbasiskan Multiple Intelligence, Topografi Otak, Power Personality, Performance Barrier, Succes with Understanding Personality, Otak Kanan- Otak Kiri, bagaimana mengetahui dan memanfaatkannya untuk sukses dll. Semua itu untuk pengembnagan SDM dan Human Capital. Baik untuk Guru, anak-anak (TK, SD, SMP, SMA, PT), juga untuk karyawan Industri dan Perusahaan. 2. Test test yang mendukung workshop dan seminar diatas seperti; a) Test Multiple Intelligence, b) Test Personality, c) Test Performance Barrier dll. Konsep Kami adalah......Discovering Your Royal road to learning, achievable and Personal Satisfaction. Bagaimana caranya? Caranya dengan discovering your talent, your ability (dengan pemahaman, test), the right place....maka sukses dan bahagia akan mudah didapatkan. Positif Pendidikan adalah Pendidikan yang berusahan menjadikan pebelajar (siapapun yang belajar), akan mampu untuk meraih tidak hanya sukses (achievable) tapi juga bahagia (will-being). Success and Happy.
Pos ini dipublikasikan di Psikologi dan Pendidikan. Tandai permalink.

16 Balasan ke ANIES BASWEDAN, DAFTAR UMR, GURU DAN SERTIFIKASI

  1. dedi berkata:

    YANG JADI MASALAH SEKARANG ADALAH KENAPA YANG SUDAH SERTIFIKASI MASIH MINTA GAJI DARI SEKOLAH ? APAKAH BOLEH ATAU TIDAK? KALO TIDAK MANA PERATURANNYA

    • Sertifikasi itu hak dosen, dan kepedulian pemerintah terhadap pendidikan. Jadi semua akan dapat bila memenuhi syarat. PNS guru juga dapat sertfikasi, Guru swasta juga dapat sertifikasi.
      Gaji guru di swata juga harus dibayarkan. Yang dimaslahkan di tulisan diatas Gaji yang sangat rendah di sekolah-sekolah swasta.

    • Opps…Sertifikasi itu adalah hak seorang guru setelah orang melampaui standart tertentu (kum diatas 850 dulu atau lulus test). Gaji mereka tetaplah gaji mereka….tidak ada yang melarang atau membatasinya.

  2. agus nafik berkata:

    Sy mengucapkan terima kasih atas perhatian dr bpk.menteri tentang perbaikan naseb honorer semoga saja ini cepat direalisasikan krn banyak temen2 guru yg ngajarnya full hanya dapat honor 250.000/bln. Terima kasih……

  3. andik berkata:

    akan lebih baik jika sertifikasi guru hanya untuk guruu non pns saja, jadi kuota yg utk guru pns diberikan utk guru non pns jd akan lebih banyak guru yg non pns bs ikut terjaring sertifikasi, dengan gaji yg cukup dn tunjangan lain yg lbh dari cukup sudah selayaknya guru pns harus mjd guru profesional tnpa hrus sertifikasi, secara jelas kita lihat tugas dn tanggung jawab antara guru pns dan non pns bisa dikatakan sama, tp jika dilihat dari kesejahteraan bagai bumi dan langit, saya melihat ada pemborosan uang negara dgn kebijakan seperti ini, mhon maaf dan terima kasih.

  4. Ria Cery berkata:

    kalau boleh tahu, kenapa sekarang guru lebih disibukkan dengan administrasi pendidikan yang bisa dibilang pada kenyataannya betul2 menyita waktu sehingga konsentrasi mengajar terkadang ga bisa 100 persen. ? mohon penjelasannya. trus sekarang ini banyak guru yang sertifikasi yang mendapat tunjangan ini itu, kualitas kinerjanya menurun. bgmn mengatasi hal ini?

    • Administrasi Pendidikan itu penting, bahkan sangat penting…apalagi kalau bicara skala luas (kabupaten/negara). RPP, sertifikasi, Dapodik dll itu mau atau tidak mau mesti dilakukan.
      Rpp Wajib ada, Dapodik/Sertfikasi wajib ada.
      Tanpa itu semua sekolah dan kita sendri akan kacau.
      Masalahnya kita jarang berfikir dan mencoba untuk menyederhanakan itu.
      Misalnya RPP mengapa harus setebal itu???
      Kalau guru sertfikasi kinerjanya belum optimal, saya bilang itu butuh waktu…sebab merubah mental tidak bisa langsung.
      Cara mengatasinya : Guru dan Kepala sekolah harus sadar tujuan administrasi itu semua, dan menyiasastinya sehingga jalannya stap by step dan intinya yang kena, bukan sekadar keadministrasiannya.

  5. decy berkata:

    Sy mengucapkan terima kasih atas perhatian dr Bpk.menteri tentang perbaikan nasib guru
    honorer semoga saja ini cepat direalisasikan dan tdk dipersulit dengan banyaknya persyaratan. Terima kasih……

  6. Sumarni berkata:

    Tunjangan fungsional tw 1 masih 250rb dbyarkan, selebihnya tidak tahu. Untuk tw 2 dan 3 bkm ditahu keberadaannya sampai sekarang

  7. Chan Cha berkata:

    kami juga menerima gaji dibawah UMR sekarang yayasan baru menambahkan RP 1000 gaji tiap bulan. kenaikan gaji belum kami terima tapi sudah ada wacana akan memotong dana sertifikasi kami guru honor. adakah hak yayasan untuk memotongnya, adakah UUnya pak?

  8. Andi berkata:

    Kami mengharapkan kepada bapak menteri,memperhatikan nasib guru honor swasta,yg sertifikasi,agar dimasukkan PNS, untuk settifikasi hanyar cair 3 bulan sekali itu pun,,,,kalau mrngajar 24 jam,,,,,,kalau tidak mengajar 24 jam,,, gajih yayasan cuma 7500,perjam,,,bayangan dengan kehidupan saat ini barang naik,sangat berat untuk guru honor swasta yang telah lama mengajar 10 sampai 15 tahun, ,,sedangkan guru honor negeri cuma 5 tahun aja mengajar masuk database diangkat CPNS,mohon ada perhatiannya,,,,

  9. anggre berkata:

    SAYA juga mengajar diyayasan dengan gaji per bulan hanya 300 rbu ini sunggu sangat tidak cukup untuk kebutuhan hidup pak..untuk ikut sertifikasi saja sangat sulit tidak semua guru bisa terjaring..harusnya ada UMR untuk guru non PNS jadi mereka bisa rata mendapatkan gaji yang layak..dengarkan keluhan kami pak mentri pak presiden tolong perhatikan nasib kami…

  10. agustin berkata:

    kenapa guru sukuan kok di tuntut cara ngajar nya harus sama dengan guru negeri sedangkan gajihnya aja gak sama

  11. lukman berkata:

    untul pak Menter wacana cukup bagus tp realisasi di lapangan msh perlu bukti.maaf kalau sy bandingkan dengan negri tetangga standart gj sukwan dan kwalitas guru Pns sangat2 jauh ketinggalan.mhn di analisa lagi kwlitasnya layak kah menyandang status guru Pns gan tersertivikasi……?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s