Khaneman, Psikologi-Ekonomi dan Kebahagiaan.

Kahneman

Daniel Kahneman

(Daniel Khamenan, Peraih Nobel Psikologi-Ekonomi, Dan Kritikannya pada Teori Ekonomi dan Teori Happiness).

Saya termasuk orang yang sering berbicara tentang Kebahagiaan (Happiness). Sebab katanya, bila kita sering membicarakan sesuatu, maka itu akan menjadi bagian dari diri kita, milik kita. Kata buku dan film, “The Secret”. Disamping itu Imam Ali bin Abi Thalib Kw juga mengatakan, “Maka berbahagialah kalian, agar kalian menjadi Sukses”. Jadi Bahagia yang akan membawa kita menjadi Sukses, bukan sebaliknya, setelah sukses baru kita akan bahagia. (Lihat disini secara detail).
Kegemaran saya akan kebahagiaan, itu terilhami oleh kegemaran saya akan pendidikan, dimana itu saya geluti secara formal pada tahun 1997, dengan menjadi guru Matematika, disebuah sekolah SMP dan SMA swasta. Lalu menjadi Kepala sekolah selama 10 tahun, dan terus melanjutkan sebagai guru disamping pembicara seminar dan konsultan pendidikan.

Saat menjadi guru dan kepala sekolah itulah saya berfikir keras, “Bagaimana sekolah ini tidak hanya menjadikan anak pandai, tetapi juga bahagia”. Saya mencoba mencari jawaban itu dari buku-buku pendidikan, Robert Gegne, Condition of Leraning, 9 Tahapan belajar, dll. Dari Fungsi Otak, lewat Pembelajaran berbasis Otak, Brain-Base learning and Teaching, mempelajari buku-buku motivasi populer dan motivasi pendidikan, sampai harus melahap Hand-Book, Motivasi dalam pendidikan, setebal 800an halaman.

Disamping itu, saya juga mencoba mencarinya jawaban dari buku-buku Neurosain, Howard Gardner, Multiple Intelligence, Frame of Mind, dan lain-lain. Lewat buku Emotional Question, Daniel Goleeman, saya berkenalan dengan buku-buku, Descarter Error, Antonio Damasio, Emotional Brain, Joseph LeDoux dan lain lain. Disamping itu juga, saya mulai mencari tahu tentang Otak Kanan-Kiri, Roger Sperry, yang merupakan guru dari Antonio Damasio, Ganazingga dan Josep LeDeoux. Bagaimana kecendrungan Belahan Otak ini menentukan gaya komunikasi dan bagaimana mempersepsi sesuatu.

Tidak cukup sampai disini, saya juga mencoba memahami Hipnosis dan Hipnoterapi, sebab ini juga bagian dari bagaimana pendidikan, bagaimana sukses dan bahagia didapatkan. Buku pakar Hipnosis, Adi W. Gunawan banyak membantu saya disini saat awal-awal perkenalan.

Disamping buku-buku itu, saya akhirnya berkenalan dengan Martin E. Seligman, lewat bukunya Authentic Happiness, yang dimuqaddimahi oleh Jalaluddin Rahmat, dan diterbitkan oleh Penerbit Mizan. Dari berkelana itu, saya menghasilkan sebuah buku, yang saya tulis dan saya beri judul, “Belajar Menjadi Sukses dan Bahagia” (2011). Buku ini sebenarnya buku Pendidikan, untuk para guru dan pembaca umum, yang saya berkeinginan untuk memberikan semua landasan teori yang memungkinkan anak tidak hanya sukses belajar disekolah tetapi juga bahagia.

Dari perkenalan dengan Gardner, Thomas Amstrong, dimana blog milik Amstrong sangat membantu disini. Karena alasan tertentu, dan khususnya saat ingin menanyakan validitas test Multiple Intelligence, saya menulis surat lewat email, kepada pakar Neurosain Harvard univeristy, dan penemu Multiple Intelligence, Howard Gardner. Beliau cukup sibuk, tetapi email itu tetap dijawab, yang jawabannya hanya mengarahkan pada sebuah web, tentang ‘Pertanyaan-pertanyaan yang sering ditanyakan’. Dari situlah saya mulai mengembangkan test Multiple Intelligence, dengan panduan Kuesioner seorang pakar MI di AS yang alat test nya sudah diakui oleh Gardner.

Martin E. Seligman

Martin E. Seligman, Founder Psychology Positive

Perkenalan dengan Martien E. Seligman, lebih lanjut, mengenalkan pada saya pada seorang pakar Psikologi-Ekonomi Daniel Khaneman. Dari Seligman-lah, apa yang selama ini saya cari menemukan landasannya. Bagaimana sebuah Pendidikan menjadikan anak tidak hanya sukses tetapi juga bahagia. Alhamdulillah, ternyata Martin E. Seligman mengembangkan Psychology Positive dan Pendidikan Positive. Dimana Psikologi ini mengajarkan, tidak sebagai psikologi yang menyembuhkan sakit-sakit psikologi, tetapi psikologi yang mengantarkan manusia sehat menjadi Bahagia. Perkenalan dengan Seligman dan Garner, menghasikan tulisan saya yang kedua, “Anak Cerdas dan Bahagia dengan Pendidikan Positive” (2014). Lihat disini.

Tetapi ana sebuah hal yang menarik, dari semua itu, ada yang baru dari Khaneman, dimana seakan menyentakkan semua hal diatas tentang kebahagiaan. Dan ini mengembalikan tahapan kuliah saya tentang ekonomi.

Khaneman berkata, Ketertarikan terhadap kebahagiaan sangat besar, dikalangan para peneliti. Ada banyak pembimbingan kebahagiaan. Semua orang ingin membuat orang lain lebih bahagia. Tapi meskipun begitu banyak penelitian telah dilakukan, ada beberapa jebakan nalar yang membuat hampir mustahil untuk berpikir jernih tentang kebahagian. Dia mengatakan tentang besarnya jebakan-jebakan nalar saat berfikir tentang kebahagiaan. Jebakan pertama adalah keengganan untuk mengakui kerumitan. Kenyataannya kata kebahagiaan itu tidak terlalu berarti lagi karena kita menggunakannya untuk terlalu banyak hal yang berbeda. Perangkap kedua adalah adanya kerancuan antara pengalaman dan ingatan: Pada dasarnya ini adalah soal merasa bahagia dalam hidup anda dan merasa senang tentang hidup anda atau merasa senang dengan hidup anda. Dan kedua hal itu merupakan dua konsep yang sangat berbeda, dua hal itu adalah ganjalan dalam teori kebahagiaan. Dan yang ketiga adalah ilusi yang timbul karena pemusatan perhatian, dan kenyataan pahit bahwa kita tidak mampu memikirkan apapun yang berpengaruh pada kesejahteraan tanpa membiaskan apa yang penting. Sebagai contoh menarik, tetang Planet Happy Indeks. Yang seakan mengatakan, banyak negara yang tidak seberapa sejahtera secara ekonomi tetapi happy. Jadi ini benar-benar sebuah perangkap nalar, yang tidak bisa dihindari. (Lihat secara lengkap disini)

Khaneman mencontohkan, seorang yang berkata,  “Dia bilang dia pernah mendengarkan sebuah simponi yang musiknya luar biasa indah tetapi diakhir rekaman musik itu, ada cacat suara yang sangat jelek. Dan ia menambahkan dengan sangat emosional, hal itu merusak kesan keseluruhannya.” Padahal kenytaannya tidak demikian. Apa yang rusak adalah ingatan tentang kesan itu. Ia tetap mengalami pengalaman itu.  Ia menikmati musik yang luar biasa indah selama 20 menit. Yang hilang percuma karena sebuah ingatan; ingatan yang rusak, dan hanya ingatan rusak itulah yang ia simpan.

Apa yang ditunjukkan hal itu, sebenarnya, adalah mungkin kita memikirkankan diri kita dan orang lain dalam dua sisi yang berbeda. Kita mempunyai sisi yang mengalami, yang hidup di saat ini dan menyadari saat ini, yang mampu merasakan kembali masa yang telah berlalu padahal sisi itu hanya memiliki saat ini. Kemudian ada sisi yang mengingat, sisi yang mengingat ini yang hitung-hitungan, dan yang memelihara cerita hidup kita, yang membuat seorang dokter datang dan bertanya, “Apa yang kamu rasakan akhir-akhir ini?” atau hal lain semacam itu. Keduanya adalah hal yang sangat berbeda, Sisi yang mengalami dan sisi yang mengingat. Ketidakmampuan membedakan keduanya adalah bagian dari kerancuan dalam teori kebahagiaan.

Seringkali pengalaman yang pahit, dan di akhiri dengan pengalaman manis yang berbekas, seakan mengatakan, totalitas pengalaman itu adalah manis. Demikian sebaliknya, pengalaman manis yang diakhiri oleh pengalaman pahit yang berbekas, seakan mengatakan bahwa pengalaman itu secara umum adalah pahit. Padahal sisi mengalaminya, yang pahit lebih sedikit, lebih pedek usia, jangkanya, sementara pengalaman manisnya lebih lama. Tapi sisi pengingatnya, mengingat yang berbekas yaitu pahit. Dan ini seringkali, awal atau akhir pengalamanlah yang banyak diingat oleh sisi pengingat.

Diceritakan oleh Khaneman, bagaimana pasien-pasien Kolonoskop, mengalami penderitaan, dan bagaimana ceritanya. Ternyata cerita yang lebih berbekas adalah ketika rasa sakit terasa pada puncaknya di penghujung proses. Dia menjadi cerita yang buruk.

Buku ana okeSisi yang mengalami itu hidup terus tanpa akhir dan sambung-menyambung. Apa yang terjadi dengan momen-momen itu? Jawabannya cukup jelas. Mereka hilang untuk selamanya. Keberadaan Kejiwaan adalah sepanjang 3 detik (kata Khaneman). Yang artinya dalam sebulan adalah 30 hari x 24 jam x 60 menit x 60 detik : 3 = 864.000 moment kehidupan. Hampir semua moment itu tidak meninggalkan jejak. Hampir semua moment itu terabaikan oleh sisi yang mengingat. Namun, meski begitu, kita tetap merasa sesuatu yang terjadi pada moment-moment itu adalah penting.

Jadi kita memiliki sisi yang mengingat dan sisi yang mengalami.  Dan kedua hal itu sangat berbeda satu dengan lainnya. Perbedaan terbesar antara mereka adalah dalam memaknai waktu. Misalnya, saat kita melakukan liburan, waktunya 1 atau 2 Minggu. Jelas waktu dua minggu lebih banyak dan kalau acaranya semuanya menarik, maka akan bagus. Tapi kita perlu ingat bahwa, saat kita ditanya, mana yang lebih mengesankan, mana yang lebih menyenangkan? Sisi pengingatlah yang berjalan dan berpengaruh.

Jadi kita sebenarnya tidak memilih berdasarkan pengalaman-pengalaman. Kita memilih berdasarkan ingatan dari pengalaman-pengalaman. Bahkan ketika kita berpikir tentang masa depan, kita biasanya tidak menganggap masa depan kita sebagai pengalaman. Kita menganggap masa depan kita sebagai ingatan yang kita harapkan. Dan pada dasarnya memang seperti itu tampaknya, kita dijajah oleh sisi yang mengingat, dan kalian (kata khaneman dalam satu sesi di TED, lihat diatas) bisa berpikir bahwa sisi yang mengingat seperti menyeret sisi yang mengalami kedalam pengalaman-pengalaman yang tidak dibutuhkan sisi yang mengalami.

Saat kita ingin berlibur, cobalah kita pikirkan apa yang terjadi? Alasan kita berlibur sebagian besar karena demi memuaskan sisi pengingat kita, dan ini agak kurang masuk akal. Saat saya berlibur selama 2 minggu yang sangat menyenangkan, selama 3 tahun terakhir, saya mengingat-ingat itu. Tapi ingatan itu tidak kurang dari 25 menit. Mengapa? Dan kalaupun saya mencoba mengingat lagi dengan bantuan melihat-lihat foto album, maka paling akan bertambah 1 jam lagi. Liburan 2 minggu tingga 1 jam 25 menit. Ada suatu yang aneh. Walaupun kedengarannya aneh, akan tetap muncul sebuah pertanyaan. Mengapa kita sangat menekankan ingatan dibandingkan pengalaman? Inilah kelemahan-kelemahan dan kritik penelitian dan indeks-indeks, dan apapun yang berhubungan dengan kebahagiaan.

Saat ini, kita tahu ada 2 sisi  teori kebahagiaan. Tetapi terhadap diri kita, kedua konsep kebahagiaan itu hanya bisa diterapkan salah satu dari konsep itu. Jadi anda bisa tanya tentang: Seberapa bahagia sisi yang mengalami itu ? Dan anda bisa bertanya tentang: Seberapa bahagia momen-momen dalam hidup sang sisi yang mengalami ? Dan semua itu — kebahagian dalam tiap momen adalah sebuah proses yang rumit. Emosi-emosi apa saja yang bisa diukur? Dan, ngomong-ngomong, sekarang setelah kita punya pemahaman yang lumayan bagus tentang kebahagiaan dari sisi yang mengalami sejalan dengan waktu. Bila kalian bertanya tentang kebahagiaan dalam sisi yang mengingat akan menjadi suatu hal yang sangat berbeda. Ini bukan mengenai seberapa bahagia kehidupan seseorang ini adalah mengenai seberapa puas seseorang ketika ia memikirkan tentang hidupnya. Hal yang sangat berbeda. Siapa saja yang tidak dapat membedakan hal itu, akan mengacaukan penelitian tentang kebahagiaan, dan saya adalah bagian dari peneliti kesejahteraan yang sudah lama ikut mengacaukan pelajaran mengenai kebahagiaan karena hal itu. Disinilah mungkin Martin E. Seligman dkk, kelompok Psikolog Happiness ditantang, dan mungkin ini pula yang menyebabkan buku Seligman, Beyond Authenntic Happiness ditulis. Khaneman menantang semua peneliti tentang kebahagiaan dengan pertanyaan filosofis-nya.

Kalian dapat mengetahui seberapa puas seseorang terhadap hidup mereka. tapi itu tidak memberikan pencerahan apa-apa tentang seberapa bahagia mereka dalam menjalani hidupnya, dan sebaliknya. Penelitian membutuhkan validitas dan korelasional. Dan itu didapatkan dari angka-angka jawaban pertanyaan-pertanyaan. Seandainya kita tanyakan pada seseorang; “ Bagaimana anda bertemu orang yang tingginya 1,80 cm.” Apa makna tinggi 1,80 cm, ini banyak ketidakpastian.  Sama tidak pastinya ketika saya memberitahu kalian bahwa ada orang yang memberi nilai 8 tentang hidupnya dalam skala 1 sampai 10. Ada banyak sekali ketidakpastian mengenai seberapa bahagia sisi yang mengalami dalam diri mereka. Jadi korelasinya rendah.

Buku ku....bagusKita tahu tentang sesuatu yang mengontrol kepuasan dalam kebahagiaan diri. Kita tahu bahwa uang itu sangat penting, tujuan adalah sangat penting. Kita tahu bahwa kebahagiaan pada dasarnya adalah merasa puas dengan orang-orang yang kita sukai, menghabiskan waktu dengan orang-orang yang kita sukai. Ada banyak kesenangan-kesenangan lain, namun hal itu yang mendominasi. Padahal skala-prioritas dalam menentukan sebuah kebahagiaan dan kepuasan akan mempengaruhi nilai-nilai itu, yang seringkali bukan itu.

Orang yang mengalami kecukupan-ekonomi (inipun tidak pasti), bertemu dengan keluarga, orang yang kita sukai dll. Itu memang memuaskan, tetapi sangat mungkin banyak orang yang itu bukan skore kepuasan tertingginya, yang diharapkannya. Jadi, bila kita ingin memaksimalkan kebahagiaan dalam dua diri (sisi pengingat dan sisi mengalami), kita akan berakhir melakukan dua hal yang sangat berbeda. Pada dasarnya yang saya (Khaneman) ingin katakan disini adalah “Kita seharusnya tidak usah memikirkan kebahagiaan sebagai sebuah pengganti kesejahteraan, sebab itu adalah dua hal yang berbeda.

Penelitian Gallup, sudah mulai melihat kedua sisi manusia, itu sebuah hal yang sangat baik. Ada hasil yang perlu diperhatikan;  Pendapatan dibawah 60.000 dollar pertahun, orang-orang kurang bahagia, dan makin miskin orangnya, secara progressif mereka jadi makin tidak bahagia. Diatas itu, kita mendapatkan garis yang sangat rata. Sudah jelas yang terjadi adalah uang tidak bisa membeli pengalaman bahagia, namun kurangnya uang sudah pasti membuat penderitaan, dan kita dapat mengukur penderitaan itu dengan sangat-sangat jelas. Tetapi dalan konteks diri yang lain, sisi yang mengingat kita mendapatkan cerita yang berbeda. Semakin banyak uang yang kalian hasilkan semakin kalian merasa puas. Namun hal itu tidak berlaku terhadap emosi.

Muhammad Alwi, SE, S. PSi, MM
Penulis, Pendidik, Konsultan Manajemen dan Pendidikan serta Peminat Ilmu-ilmu Ekonomi dan Psychology Of Happiness.

Tentang pendidikan positif

Kami adalah Pendidik, Guru, Dosen dan Trainer. Alumni Pasca Sarjana Univ Brawijaya Malang, sekarang studi lanjut di Department Psychology. Kami mengembangkan Seminar, Workshop, dan berbagai Test berbasiskan psikology. Mulai dari 1. Workshop berbasiskan Multiple Intelligence, Topografi Otak, Power Personality, Performance Barrier, Succes with Understanding Personality, Otak Kanan- Otak Kiri, bagaimana mengetahui dan memanfaatkannya untuk sukses dll. Semua itu untuk pengembnagan SDM dan Human Capital. Baik untuk Guru, anak-anak (TK, SD, SMP, SMA, PT), juga untuk karyawan Industri dan Perusahaan. 2. Test test yang mendukung workshop dan seminar diatas seperti; a) Test Multiple Intelligence, b) Test Personality, c) Test Performance Barrier dll. Konsep Kami adalah......Discovering Your Royal road to learning, achievable and Personal Satisfaction. Bagaimana caranya? Caranya dengan discovering your talent, your ability (dengan pemahaman, test), the right place....maka sukses dan bahagia akan mudah didapatkan. Positif Pendidikan adalah Pendidikan yang berusahan menjadikan pebelajar (siapapun yang belajar), akan mampu untuk meraih tidak hanya sukses (achievable) tapi juga bahagia (will-being). Success and Happy.
Pos ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s