KERJA IMAN, KEYAKINAN-SPIRITUALITAS DALAM OTAK KITA (KAJIAN NEUROSCIENCE). Bag – 1

Oleh : Muhammad Alwi, S.Psi, MM

Dan kalau Allah menghendaki niscaya Allah menjadikan mereka satu umat (saja), tetapi Dia memasukkan orang-orang yang dikehendaki-Nya ke dalam rahmat-Nya. Dan orang-orang yang zalim tidak ada bagi mereka seorang pelindungpun dan tidak pula seorang penolong. (Asyuara : 8).   Dan Sembahlah Tuhan-mu sampai datang kepadamu Keyakinan (Al Hijr : 99).  Manusia dulu satu Ummat, Kemudian mereka berselisih (Yunus : 19)

Gratitude

Positive Word

Ada sebuah cerita yang ditulis dalam Journal of Projective Technique, “Ada seorang pasien dengan tumor ganas yang harapan hidupnya kecil sekali. Kemudian dikatakan pada si Pasien bahwa ada obat yang baru diuji coba, yang sangat manjur, sampai-sampai obat itu dikatakan obat dewa. Kalau si pasien mau sedikit menunggu dan mau mencoba itu, maka kemungkinan sakitnya akan dapat disembuhkan. Si pasien sangat antusias sekali dan sangat berharap obat itu segera datang. Saat obat itu diberikan, maka si pasien berangsur sembuh, seperti ada mukjizat dari obat dewa tersebut. Anehnya tidak selang beberapa lama, dua bulan setelah itu, diberitakan oleh Food and Drug Administration (FDA), sebuah lembaga pengawasan makanan dan obat Amerika serikat, bahwa obat dewa itu, yang bernama Krebiozen terbukti tidak manjur. Si Pasien yang bernama Tn Wright, mendengar kabar itu lewat televsi. Seketika setelah mendengar kabar itu, Tumornya kembali datang dan dan dia kembali masuk rumah sakit.

Dokter perawatnya, yang bernama Dr. Klopfer, percaya bahwa kepercayaan si Pasein akan obat itulah yang menyebabkan dia sembuh, bukan efek obat itu. Akhirnya Dr. Klopfer berspekulasi dan berbohong bahwa ada produk baru dari Krebiozen, yang sudah diperbaiki dengan komposisi dan tambahan-tambahan dari kelemahan sebelumnya. Sekali lagi keyakinan Tn Wright, terhadap obat itu  cukup, dan disuntikkanlah obat itu. Ternyata betul dugaan Dr. Klopfer, bahwa pasien untuk kedua kalinya ia sembuh dari Tumornya. Sayang berita tentang Krebiozen secara umum dikatakan bahwa obat itu tidak berkhasiat. Sekali lagi Tn Wright sakit dan tidak lama meninggal dunia.

Keyakinan membuat kita jatuh cinta, tetapi juga mendorong kita dalam kebencian. Karena keyakinan kita mampu melakukan hal-hal yang hampir mustahil secara fisik dan mental, tetapi karena keyakinan pun, kadang kita mampu melakukan hal-hal buruk, diatas batas-batas wajar. Keyakinan mengendalikan nyaris semua aspek hidup kita. Keyakinan menentukan cara kita berdoa, apa yang dipilih dalam pemilu, siapa yang layak dipercaya dan siapa yang harus dihindari. Juga membentuk perilaku pribadi kita serta etika spiritual sepanjang hayat. Namun begitu keyakinan kita terbentuk, kita jarang mempertanyakan validitasnya, bahkan ketika kita berhadapan dengan bukti yang berlawanan. Karenanya, ketika kita bertemu orang yang memegang keyakinan berbeda, kita cenderung mengabaikan atau meremehkannya. Lagi pula, kita memiliki kecenderungan terburu-buru menolak orang lain yang bukan anggota kelompok kita. Bahkan, ketika sistem keyakinan mereka pada dasarnya serupa dengan keyakinan kita, kita masih merasa bahwa mereka sangat berbeda. Lihatlah agama-agama samawi, lihatlah madzab-madzab dalam agama-agama itu. (Dalam Andrew Newman & M. Robert Waldman, ‘God, Science, and the origin of Ordinary and Extraordinary Beliefs, 2006).

Otak kanan kiri

Sirkuit Otak (Kanan-Kiri)

Dalam membicarakan pentingnya keyakinan (Agama), Montgomery Watt mengatakan; Bagi orang yang memandang agama mengandung suatu makna dan bukan sekedar ketaatan terhadap namanya semata, terdapat dua point yang dapat ditegaskaskan; Pertama, gagasan keagamaannya membangun kerangka intelektual dirinya darimana dia memandang segenap aktivitasnya berlangsung. Dari keterikatan ini, aktifitasnya dalam konteks yang lebih luas memperoleh arti penting, dan pertimbangan atas keterikatannya ini dapat mempengaruhi perencanaan umum terhadap kehidupannya secara lebih khusus.

Kedua, karena agama membawa suatu kesadaran terhadap konteks aktifitasnya yang lebih luas seperti disebutkan diatas, dimana tujuan-tujuan yang mungkin bagi kehidupan manusia sudah ditentukan, maka hal itu kerap kali bisa membangkitkan motif yang melandasi aktifitas yang tentu saja tanpa motif yang diberikan oleh agama beberapa aktifitas tidak bisa dilaksanakan. (W. Montgomery Watt, “Islamic Political Thought”, 1980 : 43-44).

Kita cenderung mengabaikan kesamaan dan berfokus pada perbedaan. Tidak semua hal itu bisa ditimpakan kepada ketidaktahuan. Alasan yang lebih signifikan adalah bahwa otak kita secara naluriah condong untuk membuang informasi yang tidak bersesuaian dengan pengalaman dan pengetahuan kita sebelumnya. Singkat kata, kepercayaan lama susah hilangnya, sama seperti kebiasaan.

Apa itu Keyakinan? Menurut The Oxford English Dictionary, Belief adalah a) Suatu perasaan bahwa sesuatu itu ada atau benar, terutama hal-hal yang tidak memiliki bukti. b) Pendapat yang dipegang teguh, c) Yang dipercaya, d) Keimanan. Bicara keyakinan, maka akan tidak lepas dari proof (bukti). Bukti (Proof) menurut kamus Webster, adalah rangkaian langkah, pernyataan, atau demontrasi yang mengarahkan kepada kesimpulan yang sah. Walaupun penegakan, standart-standart sah tidaknya bukti, itu ada beda antara agama dan ilmiah.

Bagaimana sebuah keyakinan masuk dalam diri manusia? Bagaimanapun, sistem keyakinan yang akan dianut oleh seseorang adalah yang paling membawa kenyamanan dan paling masuk akal baginya (hal 61). Siapakah yang berkeyakinan itu? Jelas ini berhubungan dengan otak kita. Karena disinilah diproses sehingga sesuatu dianggap benar, salah, masuk akal atau tidak.

Secara biologi dan neuropsikologi, keyakinan dapat didefinisikan sebagai persepsi, kognisi, atau emosi apapun yang dianggap benar oleh otak, dengan sadar atau tidak sadar (hal 61).

Otak kita terdiri dari lebih 100 miliar neuron, yang masing-masing memiliki 10.000 dendrit untuk berhubungan dengan struktur neuron yang lain. Jadi sangat banyak, tak terhingga kemungkinan persyarafan itu.

Keyakinan layaknya sebuah Peta, yaitu penggambaran syaraf terhadap suatu pengalaman yang dianggap bermakna, nyata atau benar. Ini dimulai dari petunjuk awal melalui indra, dan berakhir didaerah nebula yang disebut kesadaran. Dalam proses ini miliaran proses sinaptik mengubah data syaraf kedalam kategori, konsep, emosi, memori, bahasa, pemikiran dan reaksi spontan terhadap rangsangan (mulai yang aman sampai yang paling menyakitkan). Tetapi ingatlah bahwa peta bukanlah wilayah. Boleh jadi kita tidak punya bukti langsung ikhwal keberadaannya. Tetapi kita punya peta internal yang hebat.

Otak mengambil informasi mentah, terdiri atas garis, bentuk dan kontur- yang mengaktifkan sel-sel mata dan menciptakan representasi dari ruang disekitar kita dengan kursi, meja dan pintu. Dunia tiga demensi hidup yang kita sadari diciptakan oleh rangsangan neurokimia dan neuroelektronik yang menyalin dunia “diluar” serta membuat gambarnya di dalam otak kita. Tetapi sayangnya, imajinsi, memori, dan kesadaran bukanlah mekanisme yang stabil. “Pengkabelan” sirkuit syaraf kit terus terbentuk dan berubah begitu kita mendapat pengalaman dan keyakinan baru.

4 lingkaran komponen saling berpengaruh, Persepsi, Kognisi, Emosi dan Konsensus Sosial. Dengan ini kita mengidentifikasi, menjelelajah, mengevaluasi dan membandingkan aneka ragam keyakinan (dari yang paling rendah sampai yang paling tinggi).

Misalkan, ada orang mengatatakan anda nyentrik, mungkin ini pengaruh emosionalnya rendah. Tetapi saat orang asing lain mengatakan anda, sesat, anda pelaku bid’ah, anda kafir. Tentu saja anda akan memiliki reaksi emosional. Tetapi kemampuan Kognisi anda berkata (hadist yang pernah anda baca, buku-buku agama anda, orang-orang tua anda, alim ulama yang anda hormati dst). Mungkin ini meyakinkan anda bahwa orang asing yang berkata itu adalah bohong, dusta, salah, ngawur dan seterusnya. Tetapi bila orang asing itu memberikan tambahan-tambahan bukti, menyalahkan buku-buku yang pernah anda baca, mengkritiknya), mungkin reaksi emosional anda makin kuat, walaupun keyakinan anda belum berubah. Tetapi bila konsensus mulai ada, anda bandingkan dengan yang lain, melihat sekitar, melihat yang mengatakan itu banyak, maka anda mulai percaya bahwa perbuatan itu sesat, bid’ah dst. Jadi bila kepingan persepsi, kognisi, konsensus, dan kepuasan emosional muncul bersamaan. Itulah keyakinan akan timbul (hal 63). Disinilah orang menjadi Sunnah, Syiah, Wahabi, Liberal dst…..apakah mereka salah? Bahkan bisa dipertanyakan, apa mereka layak dihukum?

Jeremy W. Hayward (ahli fisika) mengatakan, Manusia merupakan hasil dari pendefinisian mereka mengenai diri mereka sendiri. Dari kombinasi gagasan bawaan dan pengaruh kental budaya dan lingkungan tempat kita tumbuh, alhasil kita memiliki keyakinan tentang sifat dasar manusia. Keyakinan ini merasuk ketingkat yang sangat dalam pada sistem psikosomatis kita, pikiran dan otak kita, sistem syaraf, sistem endoktrin, dan bahkan darah dan otot kita. Kita bertindak, berbicara, dan berfikir menurut sistem keyakinan yang dipegang teguh ini.

Kalau seorang mendatangi anda dengan Keyakinan yang berbeda, apa yang biasa kita lakukan? Pertama-tama, kita menolaknya. Bagaimanapun, otak sudah melakukan banyak hal untuk menyusun dan membangun keyakinan itu. Membangun apa yang kita layak terima dan mana-mana yang mestinya ditolak. Sirkuit syaraf sudah disusun dan tersusun. Jika penolakan kita tidak berhasil, karena orang itu terus mendesakkan pendapatnya, dengan argumentasi dan lain sebagainya. Boleh jadi kita mendebatnya, meyakinkan pihak lain (mulai dengan argumentasi, ini yang terlibat kognisi, dengan emosi, marah-marah, menyerang secara fisik dan lain sebagainya, atau menggunakan konsensus sosial. Misalnya dengan berkata, tidak mungkin kamu benar, sebab banyak yang lain yang tidak seperti kamu, ulama-ulama, bapak saya, masyarakat lain, tidak seperti kamu dst).

***

Sejak kecil, tanpa punya kekuatan apapun kita diajar untuk mempercayai yang lain. Percaya pada pengasuh, orang tua dan seterusnya. Bahkan kita dididik untuk menerima hal-hal tertentu dan menolak hal-hal tertentu. Pembiasaan ini atau keyakinan-keyakinan ini sudah terbentuk. Dalam pengkabelan syaraf itu sudah membentuk jalur-jalur sirkuit. Sehingga saat dewasa, kita akan mudah menerima yang sama dengan sirkuit yang kita miliki dan cenderung menolak yang berbeda.

Dalam hal perilaku yang ringan, sederhana, imitasi, maka ada penemuan baru yang bernama Neuron Cermin,[1] dimana otak cenderung menyerap perilaku dan keyakinan orang lain. Dengan ikut masyarakat sekitar, kita terbantu untuk bertahan hidup. Karenanya konsensus sosial turun membantu terbentuknya keyakinan selain pengalaman perseptual, kognisi dan emosi (empat diatas).

Dan kita mesti ingat, walaupun keyakinan itu tidak sangat akurat, tetapi itu sangatlah penting. Sebab Kurt Godel, seorang pakar matematika tahun 1931, mengatakan bahwa ilmu matematika-pun memiliki keyakinan tertentu yang tidak dapat dibuktikan. Kita bisa lihat teori ketidaklengkapan Godel (Gödel’s incompleteness theorems). Douglas Hofstadter, profesor kognitif dan komputer Indiana university juga mengatakan, kita tidak bisa menyuguhkan diri kita secara penuh.

Bila kita tidak meyakini kepercayaan kita (walaupun kalau dibedah mayoritas keyakinan itu tidak valid)[2], maka kita akan kacau, sulit mendapatkan makna hidup dan mungkin bingung serta stres berkepanjangan. Kita seringkali berfikir hitam-putih, “Kebimbangan Mutlak atau Keyakinan Mutlak”. Padahal kita semestinya hidup diantara kedua ektrem itu. Disnilah sikap kritis diharuskan, agar kita tidak berkeyakinan semena-mena, tapi kita tidak boleh menjadi peragu, skeptisme. Makanya perlu dikembangkan keyakinan pribadi yang baik, sehingga hidup penuh makna, tetapi jangan mudah menyalahkan pihak lain dengan keyakinannya. Disinilah Takfiri (gampang menyesatkan, membid’ahkan, mensyirikkan orang lain, bahkan mengkafirkan orang lain), tidak mendapatkan argumentasi untuk diizinkan.

Kita percaya bahwa keyakinan kita itu memiliki kemiripan dengan realita dan kebenaran. Namun kita juga mesti mengakui bahwa keyakinan kita, paling tinggi adalah “dugaan terbaik”, dan terbuka untuk mempertimbangkan pendapat dan pandangan orang lain.

Dalam laboraturium penelitian terlihat bahwa Orang Budha Tibet dan Biarawati Perancis, memusatkan pada perenungan ayat-ayat cuci, keyakinan mereka berbeda, tetapi membangkitkan jalur pensyarafan yang sama. Jadi keyakinan sama sekali berbeda, tetapi pengalaman batinnya sama. Sama-sama merasahal suci, dari tuhan, walau rincian keyakinannya berbeda. (hal 70). Ini bukan berarti mendukung semuanya benar? Hanya disini terlihat, pengalaman batin dan argumentasi itu berbeda.

***

Antonio Damasio

Antonio Damasio

Descartes mengatakan, “Aku berfikir maka aku ada”. Dia mengatakan bahwa Pikiran dan Tubuh itu dua entitas yang berbeda, walaupun pendapat ini sebenarnya aneh, kalau kita melihat pendapat-pendapat filosof Muslim sejak dahulu, seperti Ibn Sina dan Mulla Sadra, tetapi pendapat ini banyak digandrungi dan diikuti di dunia barat. Spinoza yang cenderung ke spiritualitas dan intusi, menolak pendapat ini.

Penolakan pendapat ini dan hampir final, dilakukan oleh para peneliti Neurosain, utamanya Antonio Damasio (Profesor neurologi di University of Iowa School of Midicine, Pengarang buku terkenal Descartes Error’s). Damasio berpendapat bahwa Descartes melakukan kesalahan dengan mengasumsikan bahwa pikiran dan tubuh saling tidak bergantung satu sama lain, dan bahwa emosi dan rasionalitas manusia pada dasarnya saling bertentangan. Descartes lebih mendahulukan nalar daripada emosi, tetapi Damasio mengatakan bahwa emosi adalah landasan bagi kemampuan kita untuk mengambil keputusan dan memahami dunia, sebuah pandangan yang kini berterima luas di kalangan neurosains. (Damasio, Descartes Error : Emotion, Reason, and the Human Brain, 1994).

Damasio, seperti Plato, Socrates, dan Descartes, berusaha membedakan antara pengetahuan dan keyakinan. Mereka berpendapat bahwa pengetahuan adalah persepsi langsung terhadap informasi tentang dunia, sementara keyakinan adalah kuatifikasi yang kita berikan mengenai kepastian, keakuratan, atau kebenaran persepsi tersebut. Damasio menganggap keyakinan adalah gabungan memori dan keadaan emosi internal, suatu proses kreatif akal yang didapat dari waktu ke waktu, menggunakan, membuang, atau mengubah intulsi kita mengenai dunia.

Nilai mengacu pada arti penting atau harga yang diterakan pada suatu persepsi atau gagasan. Dan kegiatan peneraan ini dapat ditelusuri sampai ke sirkuit emosional otak di sistem limbik (hal 74). Secara umum, ketika rangsangan syaraf meningkat di daerah ini –yang meliputi Amigdala, Thalamus, dan Hippokampus –nilai yang diterakan meningkat. Disini juga berlaku, mana yang diingat mana yang dibuang, mana yang masuk ke longterm memory mana yang tidak dst. Dan tanpa aktivitas ini (Tambahan emosi pada Memori atau Memori Emosional) –termasuk pengalaman seperti, marah, sedih, bahagia, muak dan terkejut –tidak terbentuk, dan hidup kurang bermakna (hal 75).

Inilah mengapa informasi, berita, desas-desus dst, yang bermuatan emosi kuat –terutama marah, takut dan cinta – bisa secara radikal mengubah persepsi kita tentang realitas. Tetapi paradoxnya, tanpa emosi itu, sebuah persepsi atau pemikiran tidak masuk dalam kesadaran (diingat, diyakini, dengan cukup baik).

Inilah bedanya antara Keyakinan dalam artian Nilai dan Keyakinan dalam artian Kebenaran.[3] Yang satu diyakini benar, karena ada informasinya, persepsi (walaupun kalau diteliti lemah), tetapi muatan emosionalnya Tinggi.[4] Yang satu diyakini, karena ada informasinya, persepsi, tetapi unsur Nilai-nya (muatan-muatan di tiga hal diatas biasa).

Descartes Error

Buku Antonio Damasio. Descartes’ Error

Melalui pengembangan model Damasio sehubungan deng pengetahuan dan keyakinan, Howard Eichenbaum dari Bost University dan J. Alexander Bodkin dari McLean Hospital mengatakan bahwa pengetahuan lebih lentur daripada keyakinan: “Pengetahuan adalah kecondongan untuk berperilaku yang selalu mengalami modifikasi perbaikan dan diperbarui oleh pengalaman, sementara keyakinan adalah kecondongan untuk berperilaku yang kebal terhadap perbaikan oleh pengalaman.” Namun, pemikiran ini mengabaikan kekayaan kognitif yang ditunjuk oleh riset bahwa sistem keyakinan bisa juga bersifat lentur, bahwa mereka dapat berubah dengan cepat—terutama sel masa kanak-kanak dan remaja—tanpa kesadaran orang y bersangkutan bahwa asumsinya telah berubah.

Newberg berkata, Saya berpendapat bahwa keyakinan selalu berubah, dan bahwa otak manusia terus-menerus membayangkan dan menginstitusikan perspektif alternatif tentang realitas. Kelenturan ini boleh jadi berkembang agar memungkinkan otak menyesuaikan pemikirannya terhadap situasi baru dan tak lazim yang dijumpainya. Realitanya memang keyakinan selalu berubah-ubah.

Keyakinan kita merupakan kumpulan dari pengalaman perseptual, evaluasi emosional, dan abstraksi kognitif yang bercampur dengan fantasi, imajinasi, dan spekulasi intuitif. Meskipun ingatan kita hilang, logika kita tidak konsisten, kesadaran yang kita warisi tak memadai, manusia telah bertindak hebat demi bertahan hidup. Dalam suka maupun duka, kita menciptakan kembali dunia setiap hari, mencari realitas puncak yang kita sebut kebenaran, pencerahan, atau Tuhan.

[1] Neuron cermin adalah neuron yang mencerminkan gerakan orang lain. Saat kita melihat orang lain melakukan sesuati, neuron cermin berpendar seolah kita juga melakukan hal yang sama. Neuron ini memungkinkan kita menangkap pikiran orang lain melalui simulasi langsung. Neuron semacam ini dapat ditemui dalam primata dan spesies-spesies lain, termasuk burung. Dalam manusia, neuron cermin dapat ditemui di premotor cortex, supplementary motor area, primary somatosensory cortex dan inferior parietal cortex. Neuron ini pertama kali dideskripsikan pada tahun 1992.

[2] Disini dibedakan Keraguan Epistemologis (sehingga menjadi Peragu, atau Skeptisme), dan Keraguan Methode (Menggunakan Keraguan untuk menemukan keyakinan).

[3] Sebagian orang seperti Pakar Neurosain, Antonio Damasia, membedakan antara Pengetahuan dan Keyakinan. Pengetahuan itu adalah persepsi langsung terhadap informasi tentang dunia. Sementara Keyakinan adalah Kualifikasi yang kita berikan mengenai kepastian, keakuratan atau kebenaran persepsi tersebut. Dalam, Tinking about Belief, 2000. (Hal 91).

Tetapi Newberg mengatakan, bahwa sebenarnya dalam setiap tindakan mendapatkan pengetahuan (lewat persepsi), itu sudah mengubah realita dunia (Artinya sebenarnya Pengetahuan-pun sebuah keyakinan).

[4] Berita Pembakaran, Pembunuhan kelompok Islam di Rohingya. Perang di Syuria (menjadi perang Sunnah-Syiah), Perang di Yaman (menjadi Perang Syiah Zaidiyah dan Wahabi), Ini nilai emosionalnya tinggi. Disinilah isyu agama, pasti nilai emosionalnya tinggi. Sehingga isu ini dibawa kemana-mana. Contoh; Pemilihan Jokowi-Prabowo, Pemilihan Gubenur DKI (Jokowi-Akhok), dst. Berbeda dengan kasus, KPK, Korupsi, Pergantian Militer yang tidak prosedural dll.

Pembunuhan, Pemerkosaan, Korupsi, Kasus KPK, Kasus Penggantian Polri, Kasus TKI, Kasus Pengungsi Rohingnya, Kasus Pembakaran dan pembunuhan Muslim Rohingnya, Kasus Perang Syuria, Kasus pengeboman tempat Ibadah Syiah oleh ISIS, Kasus Sodomi anak-anak SD JIS (Jakarta Indonesia School) dll. Semua kasus-kasus ini punya nilai yang berbeda-beda, dan setiap orang memberikan takaran yang berbeda-beda.

Wallahu A’lam Bi al Shawab
Muhammad Alwi, S.Psi, MM
Peminat ilmu-ilmu,  Agama dan Psikologi-Filsafat, serta Manajemen dan Pendidikan.

Tentang pendidikan positif

Kami adalah Pendidik, Guru, Dosen dan Trainer. Alumni Pasca Sarjana Univ Brawijaya Malang, sekarang studi lanjut di Department Psychology. Kami mengembangkan Seminar, Workshop, dan berbagai Test berbasiskan psikology. Mulai dari 1. Workshop berbasiskan Multiple Intelligence, Topografi Otak, Power Personality, Performance Barrier, Succes with Understanding Personality, Otak Kanan- Otak Kiri, bagaimana mengetahui dan memanfaatkannya untuk sukses dll. Semua itu untuk pengembnagan SDM dan Human Capital. Baik untuk Guru, anak-anak (TK, SD, SMP, SMA, PT), juga untuk karyawan Industri dan Perusahaan. 2. Test test yang mendukung workshop dan seminar diatas seperti; a) Test Multiple Intelligence, b) Test Personality, c) Test Performance Barrier dll. Konsep Kami adalah......Discovering Your Royal road to learning, achievable and Personal Satisfaction. Bagaimana caranya? Caranya dengan discovering your talent, your ability (dengan pemahaman, test), the right place....maka sukses dan bahagia akan mudah didapatkan. Positif Pendidikan adalah Pendidikan yang berusahan menjadikan pebelajar (siapapun yang belajar), akan mampu untuk meraih tidak hanya sukses (achievable) tapi juga bahagia (will-being). Success and Happy.
Pos ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s