KERJA IMAN, KEYAKINAN-SPIRITUALITAS DALAM OTAK KITA (KAJIAN NEUROSCIENCE) Bagian 2

Pertanyaan Filosofis, Agama dan Kebenaran Ilmiah.

Tuhan dalam Otak Kita

Tuhan dalam Otak Kita

Sebagai seorang yang beriman, kalau seandainya kita dihadapkan pada suatu masalah, misalnya; “Ada sebuah kebenaran yang sudah dibuktikan secara Eksperimental, tetapi itu bertentangan dengan Wahyu Ilahi, Kitab Suci”. Apa yang semestinya kita ambil? Mungkin orang akan berpendapat bahwa, 1) Pengetahuan ilmiah menyimpan asumsi-asumsi yang itu belum tentu benar? Disini kita meragukan hasil pengetahuan eksperimental itu. 2) Kita mengatakan, mungkin penafsiran dari teks suci itu yang tidak benar. Disini kita tidak menyalahkan kitab sucinya, kita tidak menyalahkan wahyunya. Tapi kita menyalahkan manusia-manusia yang memahami kitab suci tersebut. 3) Kita salahkan kitab sucinya, kita menganggap kita suci itu, hanyalah kumpulan wahyu. Yang dikumpulkan oleh manusia-manusia dalam kurun waktu tertentu. Sehingga sangat mungkin mengalami kesalahan.[1]

Pertanyaan “Apakah di luar sana ada realitas atau tidak?” Atau “Akankah kita bisa mengetahui apa itu realitas?” telah membingungkan para filsuf di sepanjang sejarah. Socrates misalnya, berpendapat bahwa indra sama sama sekali tidak mampu menangkap realitas. Akan tetapi menarik melihat pendapat John Locke (1632-1704). Ia meyakini bahwa dunia “diluar sana” sebenarnya ada, tetapi manusia harus bersandar pada indranya yang terbatas untuk mengalaminya, suatu pandangan empirisis yang terus mendominasi ilmu-ilmu alam sekarang ini. Bagi Locke, benda menunjukkan kualitas (gerak, kepadatan, dll.) yang muninggalkan kesan (warna, rasa, bunyi, dll.) di pikiran kita. Namun, kesan ini tidak lebih dari sekadar ide (merah, manis, keras, dll.) dan karrena itu pengalaman kita tentang dunia barangkali hanyalah perwakilan dari dunia “di luar sana”. Dengan demikian, dia menyimpulkan, kita tidak pernah benar-benar mengetahui dengan pasti kualitas yang dipunyai objek manapun, termasuk Tuhan. Kita bisa merasa pasti hanya mengenai ide dan keyakinan kita. Pemahaman kita sekarang ini mengenai otak (dengan neurosain dan FMRI) secara umum mendukung premis Locke diatas. Walaupun sekarang disepakati bahwa, ada realitas diluar sana, dan ada realitas dalam diri saya yang subjektif. Tetapi kerja persepsi atau masuknya realitas ke otak sangat bersesuaian dengan Locke.

Karena realita itu masuk dalam diri kita, melewati cendela-cendela indra kita. Dan semua realita itu sebenarnya hanya berupa, kualitas (gerak, kepadatan), kesan (warna, rasa, bunyi) dan ide (merah, manis, keras, lembek, dst). Yang dihantarkan dalam bentuk sinar, gelombang, partikel atau lainnya. Maka jangan heran bila pengkodeannya berubah, maka kita mampu menangkap realitas tertentu lewat cendela tertentu. Seperti yang sudah dilakukan oleh Dr. Paul Bach-y-Rita dengan orang-orang tuna-netra. Dengan bantuan alat tertentu Impuls-impuls taktil dapat dirasakan lewat mulut.

Proses Kerja Otak dan Iman

Proses Kerja Otak dan Iman

Otak dengan fungsinya yang rumit, dapat mengolah rangsangan indrawi dalam banyak cara. Suatu kondisi Sinestesia bahkan memungkinkan orang melihat musik (bukan mendengar), mendengar bentuk (bukan mellihat), atau mencicipi rasa sebuah nama. Orng-orang ini bukan gila, tetapi mengolah informasi dengan cara (melewati cendela-cendela) yang unik. Mengalaman mereka tidak kalah absahnya dengan pengalaman yang lain, dengan itu semua kita mungkin akan mampu memberikan pengalaman hidup yang kaya (hal 110).

Walaupun mekanisme pengalaman (masuknya realita dalam otak, persepsi) itu terjadi seperti itu, tetapi sirkuit pengalaman otak, pengkabelan-pengkabelannya (yang terbentuk dan dibentuk dalam proses waktu dan pengalaman), seringkali memoles ulang pengalaman-pengalaman itu agar sesuai dengan preferensi pribadi kita. “Dengan pandangan menuju makna dan keberartian, bukan kearah akhir yang mempertahankan fakta itu sendiri”.[2]

V.S Ramanchandran, directur Center for Brain and Cognition di University of California, menjelaskan, “Tugas otak kiri adalah menciptakan sistem atau model keyakinan lalu memasukkan pengalaman baru kedalamnya. Jika dihadapkan pada sejumlah informasi baru yang tidak sesuai dengan model itu, ia mengandalkan mekanisme pertahanan Fruedian-nya untuk menyangkal, menekan, atau tanpa sadar mengganti fakta dengan fantasi –apapun untuk mempertahankan status quo. Sebaliknya, strategi otak kanan berperang sebagai “Devil’s Advocate” untuk mempertanyakan status quo dan mencari ketidakkonsistenan secara umum. Ketika informasi-tak lazim mencapai ambang tertentu, otak kanan memutuskan bahwa itulah waktunya untuk memaksakan revisi menyeluruh terhadap keseluruhan model dan memulai dari awal.[3] [4]

DNA, Otak dan Tuhan

DNA, Otak dan Tuhan

Tidak mudah meyakinkan orang bahwa, kebanyakan orang sulit menerima pendapat bahwa realitas yang kita rasakan bukanlah realitas yang ada “diluar sana”. Padahal pembuktin-pembuktian percobaan dan literatur-literatur yang mengulas itu semua, sangat jelas menunjukkan itu.

Sekadar contoh, saat kita melihat makn (maka kita dengan mudah mengarikan makan), saat kita melihat “orang tertabrak dan meninggal atau melihat orang di tusuk pisau dan meninggal”, kita dengan mudah melakukan penyimpulan-penyimpulan. Bukan menceritakan realita, tetapi mengisi realita yang masuk itu untuk memenuhi makna kita (dalam hidup).

Ini sangat banyak terjadi dalam ceramah-ceramah agama, saat mereka meyakinkan ummat, pendengar, masyarakat, tentang suatu kejadian atau lainnya. Penghotbah sering mengatakan, “Ini bukan saya yang berpendapat, ini bukan kata-kata saya, tetapi ini al Qur’an yang mengatakan, ini Rasul saw yang mengatakan, dst…dst”. Teks-teks itu akan mudah diterima audien (karena menyangkut emosi) dan bagi penghotbahnya, akan sulit diyakinkan bahwa itu bukan Teks al qur’an, itu bukan Hadist Rasul saw, tetapi itu adalah alqur’an yang sudah anda (penghotbah itu fahami), itu hadist Rasul saw, yang sudah dimaknai oleh penghotbah dst. Artinya masih sangat mungkin ada pemaknaan berbeda, pembacaan berbeda dan pendapat yang berbeda dari teks-teks itu. Intinya, Realita yang kita pahami (penghotbah pahami) itu bukan realita diluar sana (teks-nya), tetapi realita yang kita (penghotbah) rasakan.

Dan adanya emosi (amigdale, sistem limbik dst) seringkali menghasilkan keyakinan menjadi berubah-ubah. Saat ketika kita senang, tenang dan bersemangat, kita mungkin terlibat dalam kegiatan yang tidak memikirkan diri sendiri, bijaksana dst; tetapi ketika kita merasa marah, kita berlaku egois, dengan hanya sedikit empati atau peduli.[5]

***

Keyakinan-keyakinan kita sangat bergantung pada bagaimana kita mengolah informasi yang kita terima. Manusia secara umum cenderung tidak objektif pada dirinya (optimistik), walaupun itu salah. Tetapi evolusi atau diri kita belajar tentang itu, sebab akan lebih bermanfaat untuk kehidupan kita. Saat kita berfikir pesimis (realistis), maka ada ketegangan, ketegangan melepaskan hormon, dan horman-hormon ini sangat mempengaruhi kesehatan. Jadi tampaknya otak, dengan kearifan bawaannya (atau diperoleh dari belajar), membelokkan kita kearah keyakinan-keyakinan yang optimistik (yang mendukung apa yang sudah kita punya, cenderung menganggap salah. Membuang apa yang tidak sesuai dst).

Newberg dan Eugene d’Aquill[6] mempostulatkan dan menemukan beberapa bukti untuk proses kognitif tertentu bagi perumusan keyakinan kita sehari-hari. Proses Kognitif itu meliputi;  1) Fungsi Abstraksi. Saat kita berhubungan dengan persepsi: Mengubah rangsangan saraf menjadi berbagai kategori yang mewakili garis, kedalaman, warna, bentuk, tekstur dan lain-lain, sampai ia menyatu membentuk sebuah konsep abstrak yang kemudian kita sebut pohon (misalnya). 2) Fungsi kuantitatif. Meng-angka-kan informasi yang masuk. Bahkan angka-angka diberikan bobot emosional (angka 13 dibarat, di Cina 13 angka bagus. Dicina angka sial itu angka 4. Karena angka 4 menyiratkan kematian. Jepang tidak suka dengan angka 9. Karena pengucapannya adalah ‘ku’ yang artinya siksaan. Ada yang senang dengan angka 7 atau 12, dst).  3) Fungsi sebab-akibat. Ketika ada hal-hal yang ganjil dan aneh, maka manusia berusaha membuat masuk akal. Memberinya alasan, penyebab dll. Jika kita tidak mampu memberikan penjelasan pada sesuatu itu, maka kita cenderung mengabaikannya atau memberikan alasan, itu sihir, halusinasi, mukjizat dll.

4) Fungsi dualisme dan oposisional. Kita Vs Mereka. Manusia cenderung memberikan penataan menjadi dua kubu. Lawan-kata, nol (0) dan 1 dalam komputer, kamu dan saya, kita dan mereka dst. Begitu kita mengkubukan mereka dan kita, lawan kata dst, kita cenderung mengungkapkan kesukaan dan ketidaksukaan pada salah-satunya.[7] Penelitian dan riset sistematik yang menarik dilakukan oleh Henri Tajfel (tahun 1970an), dimuat dalam European Journal of Sicial Psychology (1: 149-178). Ia menemukan bahwa ketika individu secra acak ditempatkan dalam kelompok-kelompok berbeda, mereka akan mempunyai perasaan kuat terhadap kelompoknya sendiri dan cenderung memiliki perasaan negatif terhadap kelompok lain. Walaupun faktor-faktor seperti agama, jenis kelamin dan budaya diabaikan.

Ada sebuah penelitian (aneh) dilakukan oleh Bu Elliott, sebuah guru SD (setelah pembunuhan Martin Luther King, Jr). Bu Elliott membagi anak-anak yang berkulit putih menjadi dua kelompok : Bermata Coklat dan Bermata biru. Pada hari pertama anak-anak diberitahu bahwa yang bermata biru lebih cerdas, lebih ramah dan lebih rapi daripada anak-anak yang bermata coklat. Bu Elliott memuji kelebihan-kelebihan anak-anak yang bermata biru, dan mengistimewakannya. Dalam beberapa jam anak-anak yang bermata biru, mulai mengganggu bahkan mengintimidasi dan menyiksa anak-anak yang bermata coklat, bahkan walaupun awalnya mereka berteman. Setelah beberapa waktu, anak-anak yang dikatakan bermata coklat, kinerjanya menurun dst. Tetapi kemudian Bu Elliott menbalik informasinya, ternyata anak-anak yang bermata coklatlah yang baik, dst. lalu Bu Elliot, mendiskusikan tentang diskriminasi dan hal-hal yang berhubungan dengannya. Walaupun penelitian ini ditentang dan banyak yang marah akan kasus itu, tetapi banyak mantan muridnya memahami bagaimana rasanya didiskriminasi.

Takkala kita dihadapkan dengan keyakinan apapun yang bertentangan dengan keyakinan kita, perlu upaya dan waktu tambahan untuk mengesampingkan bias kognitif berlandaskan sifat biologis yang kita miliki. Amigdale (sistem syaraf emosional) akan bereaksi untuk pertama kalinya (reaksi rasa takut), walaupun kita juga secara naluriah akan melunakkan reaksi-reaksi itu. Otak memiliki mekanisme menekan hal-hal tersebut.

5) Fungsi Reduksionisme. Manusia senang memecah-mecah pendapat tentang realitas. Tanpa reduksionisme, maka kita tidak mampu mengembangkan sebab-akibat dan memahami dunia yang sangat komplek ini. Walaupun manusia senang dan berkecendrungan secara alamiah melakukan reduksionisme, tetapi mereka juga mengembangkan 6) Fungsi Holistik. Menggabungkan bagian-bagian, dan menganggapnya sebagai keseluruhan. Secara neurosain, neuron-neuron kita lebih cenderung dalam reduksionisme dari pada holistik. Inilah mungkin, mengapa pemikiran specialis, reduksionis sangat berkuasa dibandingkan dengan pemikiran holistik dalam budaya kita.[8]

Otak dan KomputerPengetahuan adalah pengalaman persepsi, atau informasi yang masuk, dan disimpan dalam memori, disertai dengan keyakinan akan sesuatu itu. Lalu mengapa ada sesuatu informasi yang tidak menjadi pengetahuan? Ini disebabkan karena informasi itu tidak tersimpan dengan baik dalam memori. Mengapa sesuatu itu disimpan dan sebagian tidak? Jawabnya karena itu strategi otak lewat reduksionisme dll diatas, disamping itu juga karena, apakah informasi itu dibalut dengan emosional atau tidak (berbobot atau tidak). Makin berbobot, makin emosional, maka makin tersimpan.

Memori-memori makin lama, maka disamping pengingatannya makin rendah, hilang sebagian dan seterusnya. Saat kita mengingat-ingat kembali, seringkali informasi itu kita balut dengan fansasi kita, ideal kita, dan harapan serta keinginan kita. Makanya informasi awal-awal (masa kecil kita) jarang yang akurat. Karena pikiran kita secara kognitif berupaya menyusun kembali autobiogafi kita dari sisi positif. Dengan kata lain, setiap kali kita mengingat kenangan lama, kita cenderung menekan aspek negatifnya sembari menyoroti, dan sering menghiasi , aspek positifnya.

Memori palsu karena pengingatan atau rekayasa dengan menggunakan emosional sangat mudah dilakukan. Bahkan ini dimanfaatkan untuk pemberitaan dan mendapatkan efek dari pemberitaan pada pendengarnya. Sekarang kita banyak tahu, dan beredar berita-berita Hoax (berita-berita palsu),  berita-berita yang digunakan untuk provokasi dan menghasut serta tujuan lainnya. Misalnya menjual efek tertentu dan lain sebagainya. Sehingga kita kadang sulit dan tidak tahu mana yang benar dan mana yang salah. Mengapa kita sulit tahu? Sebab pada dasarnya manusia itu bukan peneliti dalam semua hal (efek reduksionisme, holistik dan pencarian makna). Mengapa ia seperti itu? Itu adalah cara kerja otak kita (Menerima, menyeleksi, dan menyimpan sebagian dan membuang sebagian) dan cara untuk hidup lebih baik. Sehingga mereka tidak terkena skeptisme yang berlebihan.

Misalnya, seorang itu mungkin peneliti agama, hadist dst (Dengan sanad, matan, rijal hadist, asbab an Nuzul, Asbab al Wurud dst). Tetapi ia akan lalai atau tidak selektif saat mendengar berita politik, saat mendengar berita ilmu-pengetahuan dan lain sebagainya. Oleh karenanya, kita akan gampang sekali terkena berita-berita Hoax (palsu, desas desus, dst).

Bahkan Penelitian besar di AS oleh Dr. Elizabeth Lofthus, dalam Misinformation and Memory: The Creation of New Memaries, dimuat dalam Jurnal of Experience Psychology 188 (1), hal 100-104. dikatakan, Betapa mudahnya menciptakan memory palsu dengan memasok informasi yang salah kepada subjek yang bersangkutan. Lofthus mengatakan, “Beri kami selusin memori sehat, terbentuk dengan baik, dan dunia khas kami, untuk menghadapinya,  dan kami jamin dapat mengambil satu orang secara acak dan melatihnya memnjadi memori tipe apa saja yang akan kami pilih… tanpa memandang asalnya atau otak yang memuatnya.”

Otak Kita dilahirkan Untuk Beragama

Otak Kita dilahirkan Untuk Beragama

Dalam sidang di pengadilan, ini digunakan untuk mengelabui ingatan Saksi. Kita bisa bertanya pada mereka, “Seberapa cepat mobil itu melaju ketika, “Meremukkan” mobil kedua”. Kata meremukkan, kalau diganti dengan “Menabrak”, maka jawabannya akan banyak berbeda. Percobaan-percobaan ini sudah dilakukan Loftus, lebih dari 200 percobaan dengan melibatkan 200.000 orang.

Penelitian-penelitian sejenis bersekala besar, mendukung hasil itu, dimana semuanya memperlihatkan bagaimana emosi, situasi yang meragukan, dan informasi menyesatkan yang didapatkan lewat gosip, rumor dan desas desus dapat melahirkan aneka keyakinan palsu. Inilah mengapa manipulasi, gambar, berita ngawur, hoax, desas-desus, akan menemukan penerimanya sendiri-sendiri.

Seringkali memori yang palsu (fansasi, imajinasi, harapan) dan memori yang benar bercampur aduk. Karena ingatan berdasarkan memori yang tertanam, sementara tertanam atau tidak, kekuatan memori itu atau tidak tergantung nilai, emosional-kah memori itu. Maka berita-berita palsu seringkali lebih diingat dicampurkan dengan memori yang benar.

Keyakinan (Belief), menurut The Oxford English Dictionary adalah, a) Suatu perasaan bahwa sesuatu itu ada atau benar, terutama hal-hal yang tidak memiliki bukti. b) Pendapat yang dipegang Teguh, c) Yang dipercaya, d) Keimanan. Semenatar Bukti (Proof) menurut kamus Webster, adalah rangkaian langkah, pernyataan, atau demontrasi yang mengarahkan kepada kesimpulan yang sah. Walaupun penegakan, standart-standart sah tidaknya bukti, itu bisa berbeda-beda, antara satu dengan yang lainnya.

Keyakinan (apapun, tidak harus agama), cenderung berkembang dengan cara yang paparel dengan perkembangan biologi-otak sendiri serta perolehan pengetahuan dan keterampilan sosial. Jadi karena informasi yang kita dapat serta cara unik masing-masing orang dalam menafsirkan, serta menyatukan secara neurologis, maka sistem keyakinan yang kita pegang sangat Individualistik (Newbwrg, 2006).[9] Filosof-sufi, Jalaluddin Rumi pernah berkata, “Engkau Mengimani Apa yang Kau Makan”. Disinilah mengapa banyak orang yang berpindah pandangan, ada pendapat lama yang direvisi oleh pendapat baru dan seterusnya.

Perkembangan Pengetahuan, Ilmu, Moral dan Iman

PiajetPengetahuan adalah informasi yang diketahui atau disadari oleh seseorang (lewat persepsi). Pengetahuan termasuk, deskripsi, hipotesis, konsep, teori, prinsip dan prosedur, yang dianggap/dipercaya benar atau berguna. Ilmu adalah tahapan dari pengetahuan yang sudah tersusun secara sistematis. Karenanya ilmu itu berkembang dari tahapan-tahapannya dan dari pengingatan-pengingatan dalam memori.

Dalam hubungannya dengan perkembangn moral. Karena sedikit banyak dibedakan antara pengetahuan/ilmu dan moral. Tahapan perkembangan moral yang dikembangkan oleh J. Piaget, menunjukkan bahwa perkemangan itu adalah upaya untuk menyesuaiakan dengan hidup berkelompok, dan tahapan ini bersesuaian dengan tahapan pemikiran anak serta bersesuaian dengan perkembangan/pematangan otak manusia.

David Elkind (1960), lewat penelitian tentang anak dari tradisi keagamaan yang berbeda, menunjukkan bahwa pemikiran religius melalui tahapan perkembangan serupa (dengan Piaget). Kholberg (1970) memperluas teori J. Piaget menjadi 6 tahap (walaupun intinya sama, tetapi ada perluasan, dalam tahapan-tahapannya). Teori Kholberg banyak dipakai dewasa ini. Walaupun masih ada sedikit kesimpangsiuran, tetapi Newberg (2006) menyimpulkan, sistem keyakinan seorang anak (keyakinan religius dan spiritual) dengan jelas sejalan dengan perkembangan persyarafan otak. (hal 191).

Tahap 1: Bayi seakan tidak mempunyai keyakinan/amoral. Mereka belum bisa membedakan benar-salah. Pada tahap ini pengasuhan, nutrisi sangat berpengaruh terhadap kehidupan dan berkembangnya otak bayi kedepan. Bila ini bermasalah mereka rentan stress, penuaan, juga perkembangan keterampilan sosial dan penyakit psikopatologi lainnya.

Tahap 2: Mempelajari cara bermain sesuai aturan.  Tahap ini mulai menggunakan simbol, bahasa, imajinasi dst. konsep sebab-akibat mulai muncul walaupun dengan longgar. Aturan permainan yang kita berikan pada anak-anak saya, saat main ulang-tangga, dilanggar semuanya (oleh anak yang berusia dibawah 5 tahun) sehingga kakaknya merasa jengkel, tapi dia senang saat bermain dengan saya (bapak-nya), karena saya biarkan pelanggaran itu. Mereka tidak berpikir tentang menang, walaupun senang saat diberitahu kamu (Aliyah, nama anak saya yang ke empat) menang misalnya.

Di California Institute of Technology di Pasadena, John Allman dan para koleganya menemukan sep spindle, yang muncul pada usia 4 bulan dan berkembang sampai umur 3 tahun pertama. Sel ini diidentifikasi agak terkait dengan kemampuan mengembangkan pengertian moral. Sel ini akan sangat aktif saat kita tertipu, diperlakukan tidak adil dst. Mungkin inilah penjelasan mengapa anak usia dibawah 4 tahun belum bisa bermain jujur. Dan konsep benar-salah lebih sulit daripada baik-buruk. Anak-anak bisa mengerti bahwa mencuri tidak baik, kalau ditanya mengapa? Jawabnya Karena akan dihukum. Anak tahu betapa buruknya rasa dicela, tetapi ia belum tahu dampak pencurian terhadap orang lain.

Fowler Tahap Kepercayaan

Fowler Tahap Kepercayaan

Anak kecil memiliki terlalu banyak neuron, khususnya dilobus frontal[10] , area untuk kendali logika, akal dan kesadaran. Hubungan yang terlalu banyak ini dikaitkan dengan bertambahnya fantasi, sehingga menimbulkan keyakinan akan monster, peri, dan makhluk-makhluk asing lainnya. Anak-anak belum begitu mampu membedakan antara realitas, fantasi dan mimpi.

Hubungan hemisfer (belahan otak kiri dan kanan) anak-anak belum matang sepenuhnya sebelum berusia sepuluh tahun (hal 196). Dengan berlalunya waktu hubungan ini mulai terkikis saat otak menentukan, memutuskan sirkuit syaraf mana yang paling berguna untuk bertahan hidup. Selama pemangkasan ini, anak mengembangkan pandangan yang lebih realistis. Makanya, mengapa pandangan-pandangan mereka tentang tuhan seringkali sangat simbolik, disimbolkan sebagai baik, otoriter dst, tergantung bagaimana orang tua mereka menggambarkannnya. Profesor psikolog Bob Altemeyer dan Bruce Hunsberger, melakukan riset besar-besaran, dimana dikatakan, anak-anak yang tumbuh dalam keluarga fundamentalis memang cenderung mematuhi yang berwenang dan mengikuti peraturan, tetapi mereka juga cenderung merasa benar sendiri, berprasangka, dan tidak sepakat dengan orang-orang diluar kelompok mereka.[11] Mereka mempunyai mentalitas “Kita vs Mereka.

Tahap 3 : Belajar Bermain Jujur. Walaupun konsepnya bukan kejujuran, tetapi mereka mulai tahu bahwa banyak otoritas, mereka harus bersekutu, bergantian bermain. Kalau ia baik, maka yang lain juga baik. Konsep berbagi itu mulai merayap pad mereka. Konsep keadilan dalam diri mereka masih kabur. Semakin tambah usia, maka semakin logis dan kepercayaan akan keabsahan pikirannya makin kokoh, walaupun mereka belum cukup mampu menguji keakuratan pikiran mereka. Mereka masih berfikir semua atau tidak sama sekali, buruk atau baik (absolutisme moral).

Perkembangan usia, mengharuskan, mungkin lebih tepatnya menyebabkan pemangkasan-pemangkasan sirkuit syaraf (pengkabelan-pengkabelan), yang tidak berguna di hilangkan, sehingga sinyal akan langsung berjalan ditempat-tempat yang berhubungan (diinginkan), tanpa berkoneksi (hilangnya tranmisi) ke yang lain. Memang ini baik pemangkasan ini, khususnya yang berhubungan dengan logika. Tetapi karena pemangkasan ini memiliki efek dramatis terhadap keseluruhan cara berfikir orang yang bersangkutan tentang dunia (khususnya yang berhubungan dengan cara berfikir komplek, keyakinan sosial, politik, religius, dll).

Tahap 4 : Remaja, kekacauan dan Kreativitas (10 sampai 20 tahun). Mulai hilang keegoisannya, mulai berusaha menyenangkan orang lain, mencari persetujuan sosial, dan ingin menjadi bagian kelompok, sehingga mereka belajar bertindak dengan ekspektasi orang lain. Disinilah teman sebaya sangat penting dan berpengaruh. Mereka mulai mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang sangat emosional mengenai nilai personal. Tetapi kita perlu ingat bahwa apapun itu keyakinan selalu menjadi interaksi antara empat level yaitu a) Level proses syaraf, pengalaman perseptual, pengalaman kognitif, pengalaman emosi dan konsensus sosial. Menarik dilihat disini : PERSEPSI, EMOSI, kognisi, konsensus (Bayi). Persepsi, EMOSI, kognisi, KONSENSUS (Remaja). Persepsi, emosi, KOGNISI, konsensus (Pakar Fisika Quantum).

Selama anak-anak remaja, mereka menganggap ibadah itu baik dan penting, tetapi mereka kurang berminat. Tetapi ini berkebalikan saat anak usia 20 dan 30 tahun. Selama tahun-tahun ini ada peningkatan ketertarikan dan keikutsertaan dalam agama. Tetapi setelah itu menurun lagi.[12]

Tahap 5 : Kematangan Intelektual dan Penurunan Religiositas. Piaget membagi menjadi 4 tahap (tetapi Kohlberg, Fowler, Gilligan, Turiel dan Loevinger) mempunyai penjelasan lainnya. Permasalahannya adalah teori perkembangan manapun adalah bahwa behitu otak matang, tampaknya ia tidak berkembang dengan cara linier. Perkembangan syaraf secara virtual berhenti saat kita mencapai umur tiga puluh tahun. Sejak itu semua menurun. Aktivitas metabolisme dan neurotransmiter otak mulai menurun, dan terus menurun sepanjang hidup (otak pria lebih cenderung menciut lebih cepat daripada otak perempuan)[13]. Tetapi walaupun sel-sel otak kita berkurang, kita dapat melanjutkan membangun dan memperkuat jutaan sirkuit otak kita, dengan melatih sirkuit-sirkuit itu. Sebab pada dasarnya kalau dirangsang, sirkuit otak itu akan mencoba menghubungi, menghubugkan dirinya dengan neuron-neuron disekitarnya, yang mungkin awalnya kurang atau tidak berfungsi.

***

Moralitas secara umum adalah keyakinan bersama dalam berprilaku yang menguntungkan individu maupun komunitas. Moralitas adalah kombinasi dari keyakinan yang dipelajari, perkembangan neurologis dan konsensus teman sebaya serta tatanan sosial (sebagai penyangahnya, untuk mempertahankannya).[14] Moralitas manusia terdiri dari 4 prinsip yang saling berkaitan : Kecendrungan genetis untuk mempertahankan hidup, perkembangan syaraf otak, kebutuhan sosial untuk terikat pada kelompok, dan kecondongan kognitif untuk membedakan antara yang benar dan salah, serta baik dan buruk. (hal 217).

Moralitas memiliki rentang nilai yang agak abstrak antara satu orang dengan yang lain. Bahkan sampai tingkat pilihan makanan melibatkan urusan moralitas itu. Sebagian kelompok mentoleransi pembunuhan hewan kurban (Islam) sementara hindu (tidak mengizinkan sapi). Kelompok vegetarian tidak boleh membunuh hewan. Mengapa ada yang membolehkan membunuh sebagian hewan tetapi yang lain tidak boleh? Boleh membunuh tumbuhan, tetapi tidak boleh membunuh hewan? Dalai Lama pernah mengatakan bahwa dia tidak akan memakan sepiring udang disebabkan pandangan bahwa adalah terlalu menjijikkan kalau begitu banyak nyawa dikorbankan untuk satu kali makan (ini mencerminkan moralitas agama Budha, yang menganggap semua nyawa hewan itu suci). Mengapa hewan tidak boleh dibunuh dan Tumbuhan boleh? Dan mengapa mereka menyicikan barang-barang perak mereka serta mandi dengan sabun? Bukankah itu membunuh jutaan bakteri dalam proses itu? Semua orang tampaknya menarik garis acak dalam memutuskan siapa dan apa yang akan hidup, dan mengapa?[15]

Rentang moral kita, tampaknya sangat dipengaruhi oleh derajat keterhubungan yang kita rasakan terhadap (sesuatu, atau orang lain). Semakin kita merasa terhubungkan, semakin murah hati, simpati, dan adil kita dalam bertindak. Keterhubungan juga memiliki dampak positif terhadap sistem kekebalan dan kesejahteraan emosi kita (demikian sebaliknya). Ketika seseorang merasa berjarak dengan orang lain, dia dapat dengan mudah memperlakukan orang lain dengan penghargaan rendah. Keterhubungan memandu kita mewujudkan ideal moral kita. Perbedaan sosial, etnis, dan budaya juga menyumbang pada perasaan berjarak. Itulah sebabnya kita mudah melakukan tindakan tak bermoral terhadap penganut keyakinan yang berbeda dengan kita. Bahkan di Amerika (yang konon katanya menjunjung demokratis), kelompok minoritas (Muslim, perempuan, anak-anak kulit hitam, hispanik, katolik) sering menerima perlakuan-perlakuan yang diskriminatif.

Saat kita melakukan kesalahan (misalnya tidak menggunakan helm), dan ditilang polisi, lalu tindakan polisi itu melecehkan kita (atau istri kita). Kita mungkin akan marah dengan sang polisi. Bahkan kita bisa menggatakan, untuk melaporkannya kepengadilan (karena perlakuannya). Saat polisi itu menganggap perlakuannya salah (melecehkan tadi, dengan kata-kata), artinya keyakinan emosional antara kita dan polisi itu sama kuat tentang yang dianggap benar dan salah (pelecehan verbal tadi). Dalam situasi ini dua fungsi saling bersaing di dalam otak. Keberfungsian moral yang lebih tinggi ada di lobus frontal, tetapi perasaan yang kuat menekan aktivitas lobus frontal tersebut, yang memungkinkan perilaku primitif lawan atau lari dari sistem limbik lebih berjalan.

Kita mungkin merasa bersalah tidak pakai helm (moralitas di lobus frontal), tetapi pelecehan itu (emosional, di limbic), akhirnya kita marah pada polisi. Polisi melakukan penilangan (standart moral), tetapi saat mau dilaporkan karena pelecehan dan merasa bersalah, mungkin takut (di limbik). Akhirnya memaafkan dengan tidak memberikan tilang (ini menurunkan tensi limbik).

Emosi kita, yang dirangsang oleh permasalahan moral dan yang dirangsang oleh permasalahan non moral diatur dibagian otak yang berbeda. Apabila sirkuit saraf yang terlibat dalam penilaian moral cedera, kemampuan kita untuk berinteraksi secara bermoral dengan orang lain bisa rusak parah.[16]Emosi sangat penting dalam pengambilan keputusan moral dan etika (hal 228). Jika kita jijik dan merasa sesuatu binatang (seperti kecoa) itu berbahaya, menyebabkan penyakit, maka kita akan mudah membunuhnya dengan racun serangga. Tetapi bila kita peduli dengan hewan, maka mungkin kita akan sangat berhati-hati dengan obat tersebut.

Saya sendiri tidak suka dan jengkel terhadap tikus rumah, yang disamping membawa penyakit, kotor, dia juga merusak. Untuk membunuhnya kita bisa menggunakan racun tikus, tetapi karena saya kasihan kalau racun itu terkena kucing (dan ini sering terjadi), juga bisa terkena anak kecil saya, maka saya hampir tidak pernah menggunakan racun untuk membunuh tikus.[17]

***

Memang sangat sulit berbicara baik-buruk, benar-salah. Sebab disamping itu realitasnya sulit didapatkan, dikendalikan, juga banyak standart-standart yang ambigu. Bahkan kadang kebohongan itu menjadi hal yang lumrah.

Menarik percobaan yang dirancang oleh Solomon Asch. Ada sebuah pertanyaan yang jawabannya secara umum orang tahu (pertanyaannya adalah mana yang sama panjang antara a, b, c dan x). orang bila sendirian akan mengatakan (a dan x sama panjang). Tetapi saat subjek yang diteliti dimasukkan dalam satu kelompok (dimana disana ada penyamar-penyamar), yang akan mengatakan bahwa yang sama adalah b dan z. Maka berubahlah pendapat subjek uji tadi. Kalau ditanya, mengapa mereka seperti itu? Jawabnya, sebagian mengatakan a) Karena ingin menyenangkan orang lain, b) Sebagian yang lain, karena ingin masuk dalam kelompok,  c) sebagian lainnya lagi, karena ingin menghindari pengucilan sosial, bahkan ada yang e) Mereka berfikir lebih ekstrim lagi, mereka mengatakan, memang saya mungkin yang salah sebab mayoritas kemungkinan kecil untu berbuat salah. [18]

Penyamar ada satu orang, kemungkinan berubahnya pendapat hanya 3 persen, dua orang penyamar, maka perubahan pendapat menjadi 14 persen, tiga atau lebih penyamar, tingkat perunbahannya menjadi 32 prosen. Fakta yang lebih mencemaskan adalah bahwa ketika dihadapkan dengan pandangan mayoritas, banyak orang tidak hanya akan mengadaptasi pandangannya itu untuk dirinya sendiri ; mereka juga akan meyakinkan diri sendiri, dan orang lain, akan kebenarannya (hal 232 -233).[19]

Ada percobaan lainnya, yang dilakukan oleh Stanley Milgram (1963), sebuah percobaan kontroversial dalam dunia psikologi. Melibatkan puluhan orang, dimana mereka akan dikenalkan dengan Tn Wallace (penyamar yang berpura-pura menjado objek penelitian). Dalam serangkaian undian, selalu diupayakan bahwa Tn Wallace menjadi murid dan lainnya menjadi guru. Tn Wallace akan diikat di kursi, dan ditangannya ditempelkan beberapa elektroda. Lalu subjek penelitian, pergi keruang sebelah, yang berisi tombol-tombol tertuliskan 15 sampai 450 volt. Tn Wallace ditanya-tanya oleh peneliti, dan jika jawabannya salah, sang guru akan menghukumnya dengan meningkatkan kejutan listrik (yang sebenarnya tidak ada kejutan itu, hanya reaksi pura-pura Tn Wallce yang teriak-teriak dst).

Saat 75 volt murid mengeram kesakitan, saat 120 volt, dia menyumpah-nyumpah, saat 150 volt, dia memohon dibebaskan dari percobaan, saat 285 volt menjerit-jerit memilukan. Yang aneh adalah hampir semua (dua pertiga) subjek penelitian akan meneruskan sampai 450 volt (padahal ini menyebabkan sakit yang tak tertahankan, pinsan atau mati).[20] Memang sebagian subjek penelitian berkeringat saat melakukannya (menaikkan volt demi volt, terutama setelah diatas 285, dan mendengar Tn Wallace menjerit-jerik kesakitan, menggeram dan memohon-mohon agar percobaan tidak dilanjutkan, tetapi mereka meneruskan….sampai mereka mendengar tubuh Tn Wallace jatuh ke lantai, mengapa?).

Jika subjek mempertanyakan pada penguji (peneliti), atau ragu dalam memberikan kejutan listrik, satu set perintah akan diberikan, yaitu; a) Tolong lanjutkan, b) Percobaan ini menuntut anda untuk terus, c) Adalah penting sekali anda melanjutkan, d) Anda tidak punya pilihan, anda harus melanjutkan. Bila subjek penelitian menolak memberikan kejutan listrik, maka percobaan berhenti.

Pada penelitian awal, tidak ada yang menolak sampai level “kejutan tinggi”, dan 65 prosen subjek mematuhi penguji dan memberikan kejutan “hebat” sampai maksimum 450 volt. Dalam pengujian selanjutnya dengan subjek 1000 orang didapat hasil serupa. Tetapi para peneliti menemukan bahwa jika subjek sempat berkontak fisik dengan Wallace, kepatuhan menurun 22 persen.

Penelitian ini menurut saya menghasilkan sesuatu yang mengerikan, sebab percobaan Milgram ini menunjukkan, keyakinan moral dengan sendirinya, tidak cukup untuk mengatasi perintah dari yang berwenang untuk melakukan tindakan tidak bermoral. Mungkin inilah alasan-alasan kebiadaban moral dalam peperangan, dalam genoside (seperti di Ruanda, Bosnia, Myanmar, Nazi, dll), pembantaian yang dilakukan oleh ummat Islam saat PKI (di Indonesia), Kekejaman yang sedemikian rupa oleh ISIS, Jabha-Nusra, terhadap musuhnya di Syuria, Iraq dll. Bom bunuh-diri, meledakkan masjid yang dianggap musuh, terrorisme dst.[21]

Percobaan lain yang lebih mengerikan dilakukan oleh Psikolog Phillip Zimbardo dari Stanford University (1971). Dimana upaya untuk memperlihatkan apa yang terjadi kalau anda menempatkan orang ‘baik’ di situasi yang ‘jahat’. Percobaan ini membagi orang menjadi tahanan dan penjaga (semuanya orang-orang baik, tidak punya masalah kriminal, ekonomi, psikologis dan kecerdasan). Mereka dibayar $15 perhari selama dua minggu. Mereka betul-betul diperlakukan sebagai tahanan, dan penjaga diberikan kebebasan melakukan aturan semaunya untuk ketertiban dan keamanan penjara. Tahap pertama, mereka ditangkap oleh polisi beneran, Tahanan dicatat, lalu ditutup matanya dan dimasukkan dalam sel tahanan (yang sebenarnya tempat penelitian, yang disulap menjadi semacam tahanan resmi).

Kartu identitas mereka dibuang, mereka diberi pakaian penjara, ada sipir, ada yang dihukum karena melanggar peraturan dst. Karena kekacauan mereka dihukum cukup berat, saat mereka protes, maka mereka disemprot dengan gas karbondioksida dalam dosis yang menyakitkan. Para pemimpin demo atau protes ditempatkan diruang terpencil (pengucilan) dst. Pada akhir hari kedua, satu tahanan mulai kehilangan kendali dengan histeris menjerit dan menangis, tetapi semua –termasuk staf penelitian –percaya bahwa itu hanya pura-pura (sebenarnya tidak). Setelah kedua hari berikutnya, semakin banyak yang lepas kendali. Bahkan Zimbardo sendiri mulai menyadari bahwa dirinya sendiri mulai mengalami tranformasi kepribadian (gaya bicara saya, berjalan, dan bertindak seperti sosok berkuasa yang kaku) (hal 238 – 240). Dan nyaris tidak ada anggota penelitian yang mempertanyakan moralitas experiment itu. Seorang pendeta yang mengamati itu, berusaha menghubungi orang tua salah satu partisipan, yang kemudian menggunakan pengacara untuk membebaskan putranya, tetapi si pengacara malah dibujuk untuk membiarkan percobaan itu berlanjut. Akhirnya garis antara bersandiwara dan realita menjadi begitu kabur. Akhirnya eksperimen itu harus dihentikan pada hari ke enam.[22]

Percobaan seperti ini tidak diizinkan lagi, karena dapat mengakibatkan kerusakan psikologis bagi para partisipan. Tetapi sangat mungkin ini tetap dilakukan oleh pihak militer dalam tahanan-tahanan tertentu (utamanya yang tidak berhubungan dengan masyarakat mereka). Kasus tahanan Abu Ghuraib, Guantanamo dan masih banyak ditempat lain. Sangat mungkin dinegara-negara lain, dijadikan ajang untuk penelitian-penelitian yang tidak manusiawi ini.[23]

Tujuh Belas Tahap Membangun Kelompok Fundamentalis (Ekstrem).

Hasil penelitian diatas, dan faktor-faktor lain, menunjukkan bahwa ada dua faktor signifikan dalam menentukan moralitas seseorang yaitu; Persetujuan kelompok dan kekuasaan pihak berwenang untuk menyingkirkan penolakan dan keraguan pribadi. Juga kuat atau lemahnya keyakinan seseorang, makin lemah makin mudah mengikuti yang lain. Ditarik dari ratusan penelitian mengenai perilaku, ada unsur-unsur utama yang dapat digunakan oleh siapapun, kelompok apapun untuk mempengaruhi keyakinan orang lain dan menularkan perilaku yang sebenarnya tidak diinginkan oleh orang lain tersebut. Tahapan-tahapan itu adalah;

  1. Bangun serangkaian ideal dan keyakinan yang dengan licin menunjukkan kehebatan anda diatas orang lain.
  2. Sediakan pembenaran logis untuk menjalankan keyakinan-keyakinan anda.
  3. Tetapkan perilaku-perilaku yang didefinisikan dengan jelas, yang harus didukung oleh kelompok anda.
  4. Perkuat langkah 1, 2 dan 3 sesering mungkin lewat diskusi dan materi tertulis hingga semuanya menjadi keyakinan utama anda.
  5. Rekrut anggota yang secara perjanjian sepakat dengan langkah-langkah diatas –ini memperkuat rasa kewajiban terhadap kelompok dan pemimpinnya.
  6. Pilih juru bicara kharismatik untuk mempromosikan kelompok anda dan memperkuat keyakinan-keyakinan anda.
  7. Buat rentang hukum bagi mereka yang tidak patuh.
  8. Tekankan pentingnya kepatuhan dan hukuman untuk membantu anggota mendambakan ideal-ideal anda.
  9. Tegaskan bahwa setiap anggota hendaknya mencari anggota baru untuk bergabung dengan kelompok itu.
  10. Adakan hukuman berat bagi mereka yang mungkin ingin keluar dari kelompok.
  11. Batasi perspektif alternatif dan komunikasi antar anggota kelompok anda.
  12. Hindari, sebisa mungkin, hubungan dengan orang-orang diluar kelompok anda.
  13. Kenali kelompok yang bertentangan dengan keyakinan dan ideal anda.
  14. Abaikan dan remehkan mereka yang bukan anggota kelompok anda.
  15. Secara bertahap tingkatkan kebencian dan serangan terhadap orang-orang diluar kelompok.
  16. Ketika berhadapan dengan “musuh” ciptakan rasa anonimitas dengan a) Jangan menyebut nama korban anda, b) Beri julukan mengesankan untuk anggota-anggota aktif kelompok anda.
  17. Solusi terakhir, Singkirkan musuh anda.[24]

[1] Jawaban no 1, itu baik dan benar, sebab setiap pemahaman, setiap pengetahuan itu memiliki asumsi-asumsi tertentu. Bahkan termasuk matematika. Tetapi jawaban ini kurang bijak, sebab seakan kita meragukan sesuatu yang lain (ilmu pengetahuan), tetapi kita mengimani tanpa mempertanyakan asusmsinya terhadap teks kitab suci. 2) Ini jawaban yang paling bijak. Apalagi kalau memang kitab sucinya tidak mengatakan dengan pasti terhadap masalah itu. Ini bisa dicontohkan kasus, “Apakah Bumi mengitari Matahari atau sebaliknya, Matahari Mengitari Bumi?”. Jawaban Ilmiah dan experimental jelas bahwa Bumi mengitari matahari. Tetapi ada kelompok-kelompok Islam yang cenderung tekstual dan menolak filsafat serta Logika (Kelompok Wahabi-Salafi), mengatakan bahwa Matahari mengitari bumi. Dengan menggunakan ayat dan hadist. Tetapi kalau kita lihat semua ayat dan hadist itu adalah penafsiran mereka. Tidak ada Nash baik al Qur’an atau Hadist yang menyatakan secara jelas bahwa Matahari mengitari bumi. Kengototan ulama-ulama ini (Wahabi-Salafi), yang diwakili oleh Mufti Saudi Ibn Baz, Ibn Utsaimin dan Syech Salman al Khaibari. Justru akan membuat malu dan lari orang-orang terhadap agama Islam.
Mengapa mereka tidak mendiamkan atau mengikuti Ilmu Pengetahuan, dimana itu terbukti. Dan banyak ayat dan hadist lain yang secara umum tidak secara pasti mengikuti pendapat sebaliknya atau malah diartikan, justru mendukung ilmu-pengetahuan itu. Ini contohnya : Al Khaibari. http://www.skanaa.com/en/news/detail/ulama-saudi-sebut-matahari-kelilingi-bumi, Ibn Baz, dalam, https://abusalafy.wordpress.com/2007/08/14/imam-besar-wahhabi-ben-baz-mengafirkan-yang-tidak-meyakini-matahari-berjalan/, Dll.

Kalau diagama Kristen dahulu, mereka ngotot terhadap pandangan bahwa, Matahari mengitari Bumi. Itu dikarenakan. Teks Injil (Al Kitab) secara gamblang mengatakan hal tersebut. Disinilah kasus Copernikus dan Galileo terjadi.

[2] J. Bruner dan C. Feldman, 1996.

[3] V.S. Ramachandran, 1998, “Phantom in the Brain”, New-York.

[4] Bedakan dengan konsep J. Piaget tentang bagaimana Ilmu-Pengetahuan itu terbentuk dan bagaimana Equilibrium itu selalu diupayakan (dalam bab Piaget dan Terbentuknya Pengetahuan dan Keyakinan pada diri kita).

[5] Lihatlah kasus perbedaan madzab Sunnah-Syiah dan Wahabi. Saat kondisi biasa, tetang, dan saat di Timur-Tengah terjadi peperangan di Syuria atau di Yaman.

[6] Newberg, op,.cit, hal 136.

[7] Inilah mengapa kita sering saat menonton pertadingan bola. Tanpa kejelasan dan alasan yang berarti, kita memilih salah satu team. Bukan masalah team favorit atau tidak. Tetapi pilihan-pilihan itu akan membuat seru dan ada nuansa emosional dalam melihat pertandingan itu. Tanpa pilihan-pilihan itu (sentuhan emosi), maka tontonan itu kurang berarti, kurang seru buat kita. Kalau ditanya, apa alasa anda memilih team A dan bukan Team B? Jawabannya banyak yang tidak berargumentasi dengan cukup baik.

Lihat saja saat anda memilih partai A atau jalon presiden A, maka anda akan cenderung menganggap jelek, kurang baik dan seterusnya lawan-nya A, atau calon presiden lainnya. Sayangnya bias ini masuk dalam semua ranah, termasuk budaya, politik dan juga perbedaan agama dan madzab.

[8] Newberg, op cit, hal 160. Ini bisa sangat dimungkinkan disebabkan oleh karena kita akan kesulitan melakukan pemikiran holistik itu tanpa memiliki data, dari bagian-bagian. Dan mungkin juga, karena secara umum manusia lebih banyak berkecendrungan otak-kiri (berfikir bagian-bagian) dari pada otak-kanan (berfikir holistik) – Muhammad Alwi.

[9] Tanpa terjebak dengan pandangan Filsafat Solipsisme. Lihat penjelasannya pada, Brian Fay, ‘Filsafat Ilmu Sosial Kontemporer’, Penerbit Jendela, Yogyakarta, 2002, hal 3 – 35.

[10] D.A. Trauner, R. Nass, & Ballantyne, 2001, “Behavioural Profiles of Children and Adolescence”, Brain 124 (section 5) : 995-1002. Newberg, op,. cit, hal 195.

[11] B. Altemeyer and B. Hunsberger, 2005, “Fundamentalis and Authoritarianisme”. Dalam R.F. Paloutzian and C.L. Pard (ed), handbook of the Psychology of Religion and Spirituality, New York.

[12] Ibid, “Religious Development from Adolescence ti Middle Adulthood”. Disinilah mengapa saat-saat kuliah (usia 18 – 25 tahun) adalah masa-masa dimana doktrin agama, kepercayaan fundamental dll, gampang sekali dimasukkan. Dan disinilah mengapa aktivis agama, aktivis kampus sangat berkembang (khususnya dalam masalah agama, keadilan, sosial-politik, dst).

[13] Newberg, op,.cit, hal 209.

[14] Jika tatanan sosial kacau, maka bisa terkena dissonance. Lihat disini. https://pendidikanpositif.wordpress.com/2013/10/05/daya-saing-bangsa-situasi-dissonan-dan-teori-belajar/

[15] Bedakan, Newberg, op,.cit, hal 219. Sebagian mereka dipandu oleh keyakinan agama (kitab suci). Walaupun demikian banyak yang aneh. Misalnya, mengapa semut merah cenderung dibunuh sementara yang hitam tidak? Mengapa kucing dibiarkan sementara tikus tidak. Bagaimana dengan cicak, kecoa, dll.

[16] Ibid, hal 227, R. Adolphs, 2003 “Cognitive Neuroscience of Human Social Behaviour”, Nature Review, Neuroscience 4 (3) : 483 – 499. Mungkin ini yang dialami oleh Phineas Gagne, dalam penelitian Antonio Damasio, yang diabadikan dalam buku terkenalnya, “Descartes’ Error.”

[17] Pengalaman pribadi saya, melihat kucing yang terbujur kaku di aliran irigasi depan rumah saya (sangat mungkin terkena racun dari rumah-rumah tetangga saya), sampai sekarang terngiang-ngiang dalam ingatan. Bagaimana kucing sehat itu seakan diberi pengawet, untuk dijadikan hiasan.

Kadang keyakinan moral ini sering digunakan untuk menyembunyikan persoalan emosional lainnya (misalnya, rasa sayang yang sedemikian rupa pada anak-anak, sebenarnya penyebab saya tidak menggunakan racun tikus, bukan karena saya takut terkena kucing), dst.

[18] Ini menarik untuk mendiskusikan makna,  Ijmah, Jamaah dan Suara Mayoritas adalah suara Tuhan?

[19] Inilah pentingnya opini umum, opini public dan media massa. Apakah dengan hal seperti ini mereka bisa disalahkan, bila mengikuti umumnya?

[20] S. Milgram, 1983 : Obedience to Authority”, New York. Dalam, Newberg, Ibid, hal 233 – 235.

[21] Siapa otoritasnya disini, mereka adalah komandan, pemimpin, sang syeikh, agamawan, dengan dukungan-dukungan argumentasi informasi, al qur’an juga hadist, yang dikontruksi untuk mengarahkan subjek-pelaku.

[22] P. Zimbardo, “A Situationist Perspective on the Psychology of Evil”. 2004, dalam A. Miller (ed), The Social Psychology of Good and Evil, New York : Guilford.

[23] Lihat saja, bagaimana pemerintah AS, meminta maaf dan memberikan kompensasinya, saat terbongkarnya penelitian mereka di afrika (Kasus Guatemala), dan saya yakin masih banyak yang lainnya.

[24] Langkah 1 sampai 5, hampir digunakan oleh semua kelompok sosial, politik, agama atau kemasyarakatan. Makin kebawah itu ada semacam kelompok sekte-sekte sesat (minoritas). Tetapi ini semua digunakan dalam berbagai tingkatan dalam militer dan penjara di seluruh dunia. Untuk menjalankan tugas dan meraih tujuan-tujuan mereka.

Tentang pendidikan positif

Kami adalah Pendidik, Guru, Dosen dan Trainer. Alumni Pasca Sarjana Univ Brawijaya Malang, sekarang studi lanjut di Department Psychology. Kami mengembangkan Seminar, Workshop, dan berbagai Test berbasiskan psikology. Mulai dari 1. Workshop berbasiskan Multiple Intelligence, Topografi Otak, Power Personality, Performance Barrier, Succes with Understanding Personality, Otak Kanan- Otak Kiri, bagaimana mengetahui dan memanfaatkannya untuk sukses dll. Semua itu untuk pengembnagan SDM dan Human Capital. Baik untuk Guru, anak-anak (TK, SD, SMP, SMA, PT), juga untuk karyawan Industri dan Perusahaan. 2. Test test yang mendukung workshop dan seminar diatas seperti; a) Test Multiple Intelligence, b) Test Personality, c) Test Performance Barrier dll. Konsep Kami adalah......Discovering Your Royal road to learning, achievable and Personal Satisfaction. Bagaimana caranya? Caranya dengan discovering your talent, your ability (dengan pemahaman, test), the right place....maka sukses dan bahagia akan mudah didapatkan. Positif Pendidikan adalah Pendidikan yang berusahan menjadikan pebelajar (siapapun yang belajar), akan mampu untuk meraih tidak hanya sukses (achievable) tapi juga bahagia (will-being). Success and Happy.
Pos ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s