MEMBELA TERORISME

(Perspektif dan Paradigma tidak Mainstream)

laskar mawar 2PEKRTANYAAN KLASIK SOAl Terorisme masih terus mengambang belum terjawab secara tuntas: mengapa mereka melakukan teror? Meskipun gerakan perlawanan bersenjata itu tersebar dari Srilangka, Palestina, Chechnya, Spanyol, sampai dengan Irlandia, lonjakan perhatian baru terjadi sesudah kejadian 11 September 2001. Sesudah serangan teror di Amerika itu, begitu besar sumber daya dialokasikan untuk menjawab pertanyaan ini. Menurut salah satu database buku terbesar di dunia, WordCat, dalam waktu kurang dari dua tahun telah terbit lebih dari empat ribu buku tentang terorisme. Dan, tak terhitung analisis berupa artikel tentang topik yang sama. Melihat besarnya perhatian terhadap terorisme, maka menarik untuk dikaji kerangka analitis (analytical framework) yang digunakan dan implikasi penggunaan sebuah kerangka terhadap pemahaman kita tentang terorisme.

Begitu juga dalam membaca buku Army of Rose, karya Barbara Victor ini. Kita perlu memahami kerangka yang digunakan oleh Barbara Victor dan para analis dalam menganalisis perlawanan bersenjata. Pemahaman Ini akan membantu kita untuk bisa mencerna tulisan dan menempatkan buku ini dalam konteks llteratur perlawanan bersenjata.

Akar KekerasanSecaragaris besar, terorisme memiliki tiga komponen: pelaku teror (terorls), tindak teror, dan sasaran teror. Adapun sebab terjadinya teror bisa ditelusun dengan menggunakan dua kerangka analitis, yaitu kultural dan rasional. Pertama, Kerangka kultural memandang perilaku, sikap, dan perbuatan sebagai penjelmaan nilai, sistem kepercayaan, atau ideologl (Berger, 1995; Ross, 1999). Dalam konteks terorisme, kerangka kultural memfokuskan pada korelasi antara nilai/ideologi dan teroris. Kerangka ini mencari penjelasan tentang sebab teror dengan cara mengkaji ideologi dan nilai para teroris. Dengan kata lain, inti kerangka ini adalah interpretasi nilai terhadap aksi (Darnton, 1985; Taylor, 1985).

Kedua, kerangka rasional memandang perilaku, sikap, dan perbuatan sebagai fungsi pilihan-pilihan yang ada di hadapan sang aktor (North, 1981; Olson, 1965). Aktor ini bisa berupa individu ataupun kelompok (Przeworski, 1993). Kerangka rasional memandang tindakan teror sebagai bentuk interaksi dan kontlik antara teroris dan sasaran teror (Crenshaw, 1998). Oleh karena itu, kerangka rasional memfokuskan analisisnya pada kore­lasi antara teroris dan sasaran teror. Untuk tujuan analisis, pendekatan rasional ini tidak memandang sasaran teror semata-mata sebagai korban, tetapi sebagai aktor. Inti kerangka rasional adalah aktor yang berinteraksi secara kalkulatif (Levi, 1999).

Dalam serangan teror yang menyedot perhatian dunia— misalnya 9-11 di AS, Bom Bali, Serangan Bunuh Diri Palestina, dan Bom London—pelakunnya diidentifikasi sebagai Muslim dan ekstremis. Hal ini berimplikasi pada lonjakan perhatian tentang hubungan antara Islam dan terorisme. Lonjakan perhatian ini tercermin pada peningkatan luar biasa dalam penerbitan/penjualan buku dan artikel, konferensi, program TV dokumenter, dan dana penelitian untuk mengkaji Islam dan kekerasan/teror. Lonjakan perhatian terhadap agama yang dipeluk oleh pelaku teror mengindikasikan dominasi kerangka kultural dalam diskursus tentang terorisme.

Dalam kerangka kultural ini, para analis menganalisis soal terorisme dengan fokus pada nilai-nilai Islam dan umat Islam. Contoh yang menggunakan kerangka ini secara ekstrem adalah Jerry Farwell yang tegas-tegas mengatakan bahwa ajaran Islam bermuatan terorisme. Atau yang lebih moderat dan intelektual seperti Bernard Lewis dan Paul Berman di AS sekadar menyebut sebagian kecil saja, yang menganalisis soal terorisme dengan fokus pada nilai-nilai Islam dan umat Islam. Atau juga kolumnis terkemuka harian The New York Tune, Thomas Friedman, yang berkeliling dunia terutama ke negara-negara Muslim, menganalisis kompleksitas sosial-politik-religius masyarakat Muslim untuk menjelaskan mengapa pemuda Muslim sampai melakukan teror. Buku Friedman, Longilnde and Attitudes: Exploring the Wortd After September 11, dan program TV dokumenternya, Tracing the RooKt of 9/11, mencerminkan kerangka kultural ini.

Terlepas dari analisis komprehensif dan mendalam yang bisa dihasilkan, fokus analisisnya hannya mencakup dua komponen yaitu: (1) tindak teror, dan (2) pelaku teror termasuk nilai, sistem kepercayaan, serta ideologi pelaku teror tersebut.

Di satu sisi, dominasi kerangka kultural bisa me-perkaya khazanah ilmu pengetahuan. Di sisi lain, dominasi ini adalan simbol keterjebakan paradigma (paradigm entrapment). Disebut jebakan paradigma karena makin banyak analisis dan penelitian yang dilakukan dalam kerangka ini, makin sulitlah menjelaskan secara tuntas, komplet, dan objektif sebab terjadinya teror. Hal ini terjadi karena terlewatkannya komponen ketiga, yaitu sasaran teror.

Kerangka kultural memang bermanfaat untuk men­jelaskan modus teror. Tetapi, kerangka ini gagal men­jelaskan (1) mengapa sekelompok orang memilih teror?, (2) mengapa teroris menjadikan pihak tertentu scbagai sasaran teror?, dan (3) mengapa tindakan teror muncul pada waktu-waktu tertentu padahal variabel-variabel kultural yang dijelaskan ltu sudah eksis berabad-abad? Jawaban atas pcrtanyaan-pertanyaan ini memerlukan analisis tentang korelasi antara teroris dan sasaran teror. Di sinilah kerangka rasional diperlukan.

Berbeda dengan kerangka kuitural, dalam kerangka rasional fokusnya terletak pada korelasi antara teroris dan sasaran teror. Kerangka rasional ini mengeksplorasi (1) kebijakan/langkah yang dibuat baik oleh teroris maupun oleh sasaran teror dan (2) implikasi kebijakan/Iangkah ltu pada hubungan keduanya. Kerangka ini mengkaji korelasi antara teroris dan sasaran teror dalam aspek kesamaan-kepentingan, konflik-kepentingan, dan pola interaksi di antara keduanya.

Dalam kerangka rasional, teroris maupun sasaran teror dipandang sebagai aktor rasional dan strategis. Mereka bersifat rasional dalam arti tindakan mereka konsisten dengan kepentingannya dan semua tindakannya mencerminkan tujuan mereka. Mereka strategis dalam arti pilihan tindakan mereka (1) dipengaruhi oleh langkah yang sudah dan yang akan dilakukan aktor lainnnya (lawannya) dan (2) dibatasi oleh kendala (constrain) yang dimilikinya.

Di sinilah perbedaan kedua kerangka itu dalam menganalisis terorisme. Kerangka Kultural memfokuskan pada satu aktor, yaitu teroris, sedangkan kerangka rasional memfokuskan pada dua aktor, yaitu teroris dan sasaran teror. Kerangka kultural menganalisis korelasi nilai-nilai dengan tindakan teroris, sedangkan kerangka rasional menganalisis korelasi tindakan teroris dengan tindakan sasaran teror. Dengan kata lain, kerangka kuitural berasumsi bahwa nilai-nilai menghasilkan teror, sedangkan kerangka rasional berasumsi bahwa kalkulasi strategis antaraktor menghasilkan teror.

Dominasi kerangka Kultural ini berdampak pada konstruksi pemahaman yang parsial tentang terorisme. Parsial karena publik diarahkan untuk memberikan perhatian pada teroris dan tindakan teror, sementara sasaran teror dilewatkan. Pemahamanyang parsial ini cenderung mengarah pada solusi yang parsial dan temporer.

Di Eropa, misalnya, sejak 1960-an sampai 1980-an, terorisme merebak. Penculikan, pembunuhan, dan pengeboman yang dilakukan kelompok teroris semacam Red Brigades di Italia, Red Army Faction di Jerman, ETA dan GRAPO di Spanyol, atau Irish Republican Army di Inggris berhasil menggetarkan Eropa. Akan tetapi, akhirnya kelompok-kelompok itu tenggelam karena— salah satunya—kerangka analitis yang digunakan dalam menilai dan memformulasikan respons terhadap terorisme adalah kerangka rasional.

Meskipun kelompok-kelompok ini pun melakukan aksi brutal dan mematikan, pemerintah, rakyat, dan analis di Eropa tidak kemudian berkutat mengeksplorasi koreiasi antara teroris dan Marxisme di Italia, Jerman, Spanyol, atau dengan Katolikisme di Irlandia, sebab dari korelasi itu memang tidak akan ditemukan sebab terorisme. Begitu juga di Lebanon, komposisi ideologi/agama para pelaku teror adalah 71% Kristen, 21% komunis/sosialis, dan 8% Islam tetapi analis tidak membuang waktunya menganalisis koreiasi antara ajaran Kristen dan serangan-serangan bom mematikan di Lebanon (Pape, 2004). Mereka memilih mengkaji korelasi teroris dan sasaran teror. Dari korelasi antardua-aktor ini ditemukan akar persoalannya. Persoalan yang menyebabkan kelompok-kelompok memiih teror sebagai bentuk “interaksi” dengan lawan-lawannya. Pengalaman ini memberikan isyarat tentang pentingnya membebaskan diri dari jebakan paradigma ini dengan cara mengadopsi kerangka rasional.

Pengadopsian kerangka rasional memang lebih menantang daripada kerangka kultural. Kerangka rasional mengharuskan analis untuk mcngevaluasi langkah, kebijakan, dan strategi yang digunakan oleh kedua pihak: teror dan sasaran teror. Menganalisis secara kritis lang­kah dan tindakan yang dilakukan oleh teroris itu mudah dan “politically correct”. Tetapi, menganalisis secara kritis langkah dan tindakan yang telah dilakukan oleh sasaran teror bisa jadi adalah persoalan tersendiri.

Di sini, analis berhadapan dengan batas tipis antara dua anggapan, yaitu (1) dianggap sebagai analis yang objektif dan rasional, atau (2) dianggap sebagai simpatisan teroris karena menganalisis sccara kritis sasaran teror, pada saat “sasaran” sedang menjadi “korban”. Oleh karena batas yang tipis itulah, hanya sedikit analis mainsteam yang “berani”dan mau mengadopsi kerangka rasional ini dalam analisisnya.

Di sini jugalah kita tempatkan buku Army of Rose itu. Barbara Victor secara jernih dan jeli berhasil mem­bebaskan diri dan keterjebakan paradigma itu. Di satu sisi, Victor berhasil mengombinasikan pendekatan kultural dan rasional dalam sebuah narasi yang ilustratif dan informatif. Dia tidak saja menjelaskan kemunculan perlawanan kaum perempuan Palestina, tetapi menganalisis posisi strategis kaum perempuan di dalam konflik Palestina-Israel. Posisi kaum perempuan Palestina—yang sering terlewatkan dalam mengkaji penderitaan bangsa Palestina—tergambar jelas dalam buku ini. Di sisi lain, kita perlu menempatkan posisi perempuan Palestina pelaku bom bunuh diri di antara berbagai grup yang melibatkan perempuan dalam perlawanan bersenjatanya. Chicago Project on Suicide Terrorism mengompilasi data serangan bunuh diri sebagai berikut:

Laskar Mawar 3

Dari tabel ini, terlihat bahwa proporsi perempuan Palestina lebili kecil dibandingkan dengan berbagai kelompok perlawanan pendudukan seperti di Chechnya ataupun di Kurdistan (Turki) di mana lebih dari separuh serangan bunuh diri dilakukan oleh kaum perempuan.

Saat mengkaji buku ini, pembaca akan merasakan betapa kayanya buku ini dengan narasi yang detail dan partikularistik, yang menunjukkan kekuatan Barbara Victor dalam memenetrasi subjek yang dianalisisnya. Di sisi lain, pembaca bisa terlena dan kehilangan kompas untuk mencerna buku ini secara proporsional dan kontekstual. Dengan memahami konteks perjuangan perem­puan Palestina dan alat analisis yang digunakannya, maka pembaca buku Army of Rase ini akan bisa lebih mengapresiasi karya Barbara Victor ini.

Mudah-mudahan dengan semakin banyaknya penulis yang mengadopsi pendekatan kultural dan rasional, makin terbukalah mata publik internasional atas penderitaan luar biasa yang dialami bangsa Palestina. Kemunculan penulis-penulis macam ini diharapkan bisa meningkatkan tekanan publik internasional, menghasilkan alternatif solusi yang realistis dan bisa diterapkan secara permanen.

 Salt Lake City, 18 Agustus 2005

Diambil dari : Pengantar buku : Laskar Mawar, “Memetakan Konteks untuk Memahami Laskar Mawar”, Oleh, Anies Baswedan. Ph.D.

Tentang pendidikan positif

Kami adalah Pendidik, Guru, Dosen dan Trainer. Alumni Pasca Sarjana Univ Brawijaya Malang, sekarang studi lanjut di Department Psychology. Kami mengembangkan Seminar, Workshop, dan berbagai Test berbasiskan psikology. Mulai dari 1. Workshop berbasiskan Multiple Intelligence, Topografi Otak, Power Personality, Performance Barrier, Succes with Understanding Personality, Otak Kanan- Otak Kiri, bagaimana mengetahui dan memanfaatkannya untuk sukses dll. Semua itu untuk pengembnagan SDM dan Human Capital. Baik untuk Guru, anak-anak (TK, SD, SMP, SMA, PT), juga untuk karyawan Industri dan Perusahaan. 2. Test test yang mendukung workshop dan seminar diatas seperti; a) Test Multiple Intelligence, b) Test Personality, c) Test Performance Barrier dll. Konsep Kami adalah......Discovering Your Royal road to learning, achievable and Personal Satisfaction. Bagaimana caranya? Caranya dengan discovering your talent, your ability (dengan pemahaman, test), the right place....maka sukses dan bahagia akan mudah didapatkan. Positif Pendidikan adalah Pendidikan yang berusahan menjadikan pebelajar (siapapun yang belajar), akan mampu untuk meraih tidak hanya sukses (achievable) tapi juga bahagia (will-being). Success and Happy.
Pos ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.