SEKILAS : SEJARAH PERMASALAHAN/KEHANCURAN DUNIA “ISLAM”

Perang KhaibarIslam adalah sebuah agama yang turun digunung pasir arab abad ke 6. dengan segala kegunung pasirannya, Islam merasuki masyarakat gurun itu, merekontruksi bangunan mental  ‘gunung-pasir’ digabungkan dengan ‘semangat suci’ ke-wahyu-ilahian yang menerobos batas-batas historis. Dengannya maka Islam menjadi terarab-kan dan arab terislamkan. Tahun demi tahun kegemilangan masyarakat gurun setelah terkena sentuhan spirit qurani, menjadikan mereka bangsa yang besar dan terbesar.

Penaklukan demi penaklukan, penyebaran Islam dengan berbagai motif. Sama seperti semua peradapan umumnya dalam ‘perluasan kekuasaan’, maka 3 hal yang diemban yaitu Glory (kebanggaan dan harga diri bangsa kuat dan besar), Gold (mendapatkan tambahan kekayaan, ekonomi dan kemakmuran), serta Gospel (misi suci menyebarkan agama). Ketiganya saling tumpang tinding dengan komposisi yang tidak selalu tetap.

Pertikaian, intrik politik (dengan nuansa agama) selalu terjadi, dimulai sejak nabi Islam Muhammad saww ada, sampai meninggalnya (dimana yang terakhir ini, dielaborasi menjadi skisme pertama dalam Islam dan menghasilkan dua madzab besar Islam yaitu Syiah dan Ortodoxy-Sunnah). Katanya walau tidak diterima oleh para pemeluknya; Syi’ah adalah akhlu-sunnah wal adalah (siap mengorbankan jamaah demi keadilan), sedangkan ortodoxy atau ahlul sunnah waljamaah; adalah madzab kompromistis, siap mengorbankan keadilan demi terjaminnya jamaah.

Semangat, spirit Islam yang dibalurkan sampai kesum-sum masyarakat padang pasir, belum lama berselang, sehingga skisma itu, terhilangkan maknanya dengan perluasan, peperangan dengan daerah lain, melimpah ruahnya kesejahteraan, kebanggaan dan seterusnya.

Spirit islam, mulai terkena hempasan kuat setelah terbentuknya kerajaan-kerajaan islam, walau faktor persatuan ‘dalam’ karena kesadaran Islam, adanya musuh dan proyek luar tetap membuat Islam sebagai Agama dan nama agama tegar dan jaya. Perluasan, peperangan dan upaya mencapai ketiga hal diatas (Glory, Gold dan Gospel) makin terorganisir dengan efektif dengan administrasi dan menajemen birokrasi yang sudah mulai diupayakan, walau tampak bahwa Gold dan Glory selalu lebih menonjol dibandingkan Gospelnya (berbeda dibanding tahap-tahap awal), walau dalam hal slogan semangat perjuangan, tidak ada kobaran semangat yang melebihi dari ‘syahid’.

Seperti semua pemerintahan, manajemen yang salah urus dikarenakan antara kecepatan perluasan wilayah tidak diimbangi dengan penataan administrasi manajemen yang memadai akhirnya simpul-simpul ‘kecerobohan’ itu mulai menjalar kebagian-bagian masyarakat umum. Walau sekali lagi itu semua tetap tertutupi dengan baluran-Islam dalam masyarakat padang pasir, kekokohan dalam banyak hal peradaban baru Islam dan kekuatan baik angkatan bersenjata, ilmu pengetahuan dan tehnologi.

Seiring dengan kemajuan, kejayaan Islam, maka tumbuhlah minat-minat selain kehidupan rutin ekonomi dan agama, yaitu seni, ilmu pengetahuan, riset ilmiah, pembuatan perpustakaan, kumpulan para sarjana dst. Kepercayaan diri, minat asli manusia padang pasir dan sentuhan spirit al qur’an membuat mereka seakan keranjingan kepada progresitivitas, ilmu pengetahuan dan merasa ‘superior’ dibandingkan bangsa yang awalnya hanya didengar kemasyhurannya (Romawi dan Persi).

Disisi lain kehidupan masyarakat, maka ada kelompok yang seperti umumnya masyarakat, mencoba melakukan penataan keorganisasian masyarakat dengan berpegang pada konsep dasar bersama. Dicarilah konsep itu dalam ‘syariah’ yang arti awalnya adalah jalan menuju oase (penataan segala-galanya). Dengan syari’ah itu diharapkan keprogresifan, kemajuan dan percaya diri serta hal-hal lain tidak melenceng dan akhirnya menghukum diri sendiri dengan kehancuran. Spirit al-qur’an diupayakan untuk melingkupi semua kehidupan masyarakat. Walau kosmopolitanisme arab-islam saat itu, sulit di wadahi dengan syariah yang memang belum terbentuk secara utuh dan lengkap. Apalagi kerajaan juga setengah hati untuk mendukung itu, kecuali dilihat keuntungan buatnya sangat jelas.

Syariah dan penjelasan topangannya berupa hadist, masih dalam kondisi ‘tersebar’ tanpa kejelasan rinci superioritasnya terhadap petunjuk prilaku masyarakat saat itu.[1] Semuanya berkembang (seperti umumnya masayarakat kosmopolitan). Teologi berkembang, hadist jalan, filsafat jalan, ilmu pengetahuan (pengobatan, perbintangan, militer, administrasi) berjalan. Dengan menemui komunitasnya, investor-investornya dan semuanya dalam topangan keuangan negara yang berlimpang ruah. Walau sesekali negara ikut campur dalam perdebatan, diskusi dst, dengan tanpa kelicikan-kelicikan yang kadang dilakukan dengan mencolok mata. Mendukung satu kelompok dan menggeser kelompok lain karena kepentingannya. Walau tetap harus diakui bahwa banyak tokoh-tokoh menonjol berupaya untuk tetap konsisten dengan keilmiahannya, tak ‘tersentuh’ oleh kepentingan yang sarat (karena tidak ada ilmu tanpa kepentinngan). Sejalan demi jalan, setapak demi setapak, seperti umumnya jiwa manusia, selalu memiliki kecondongan yang berat sebelah. Dan seperti dapat dilihat, dengan bentuk legitimasi kerajaan yang ‘tidak sah’, walau mencari topangan kebenaran keulamaan, jiwa masyarakat yang bebas karena bergelimang kekayaan, kemakmuran, maka urusan bawah, imanen, duniawi lebih prioritas utama menonjol dibandingkan dengan urusan atas, transendental, akhirat. Apalagi penguasa tidak terlalu ingin ‘islami’ dalam artian kebenaran, bukan politis.

Proses dan perkembangan inilah akhirnya membuat kelompok yang soleh dan tegar, membuat pembatasan-pembatasan yang sangat ketat bahkan terkesan irasional (bila dibaca saat ini), yaitu mengupayakan ‘penutupan pintu ijtihat’[2]. Disebabkan daripada tunduk pada penguasa, memberikan respon yang irasional pada kondisi saat itu, lebih baik menyelamatkan sisa-sisa kesucian itu dengan pagar ‘beton’ yang tak tertembus (sayangnya yang awalnya sebagai upaya proteksi sampai sekarang dianggap sebuah benteng kemewahan dan kesuksesan).

Karena pondasi yang tidak tertata cukup kokoh, perimbangan semangat, keluasan wilayah kekuasaan, gelimangnya kemakmuran, ilmu dan tehnologi, dengan pondasi yang tak utuh, maka mereka berjalan tanpa kesatuan arah dan terkadang saling meng-cencel. Negara dengan semangat politiknya, syariah dengan upaya ‘kesucian’ yang anakronistik, sufi-sufian yang kurang ‘bijaksana’, filosof yang arogan serta persaingan antar kelompok dalam masing-masing kelompok itu yang tidak sehat. Perbedaan pendapat menjadi perbedaan politik, saling mengkafirkan, menyalahkan yang kesemuanya ditunjang oleh ke-akuan yang besar dibandingkan Sang-Aku yang sebenarnya.

Kelupaan, salah urus, gelimang dosa karena terlalu arogan dengan keberhasilan dan superioritas yang semu, tidak menyadari bahwa kekuatan yang sebenarnya, kekayaan yang sebenarnya dan kesuksesan yang sebenarnya hanyalah imagi belaka. Abbasiyah hanya seakan sebagai bapak dimana anak-anaknya (kerajaan-kerajaan kecil lainnya) tidak mengakuinya karena lahir bukan dari ibu-ibu kandung mereka (sekalipun dengan perkawinan yang dipaksakan). Ia diakui sebagai bapak hanya sekadar menjaga bahwa hidup dengan punya bapak lebih aman, punya saudara banyak merasa besar dan kuat padahal sekali lagi semu, hanya sebuah imagi belaka.

Akhirnya gelompang surut mulai terjadi, dimana itu merupakan sunatullah bahwa semua ummat/masyarakat/golongan/peradaban punya ajal. Gelombang serangan pesakitan terjadi, dimulai oleh perang salib (walau secara umum dianggap menang tetapi hasil akhirnya adalah kemunduran dan kekalahan), lalu diporakporandakan oleh kelompok yang sangat tidak terbayangkan baik segi intelektual/peradaban maupun kekuatannya, bangsa barbar (manusia Tar-tar). Tetapi pohon besar yang mau runtuh terkadang hanya disandari oleh anak kecil yang tidak menyangka sama sekali akan membuatnya roboh menjadi terjadi. Dan kekelaman demi kekelaman dan kesakitan demi kesakitan walau kebesaran tinggalan puing-puing masih menyisakan bekas bangunan besar yang baru runtuh. Karena pondasi sosial-politik-psikologi yang sudah tidak tertata rapi, dan gelombang duniawi memaksakan dan berkata beda, akhirnya bekas-bekas puing itu benar-benar diratakan oleh bangsa baru yang memang memiliki peradaban dengan semangat yang mirip walau beda dengan gelora Islam sebelumnya. Barat terutama Inggris dan perancis menyudahi sisa puing-puing kebesaran itu dengan penjajahan. Jantung Islam (timur tengah) diduduki oleh bergantian antara Inggris dan Prancis.

Kejadian demi kejadian itu mengharuskan walau dengan terpaksa para muslimin untuk berfikir, bergerak dengan semua konsep peradaban besar yang pernah dipunyainya (kecuali kekuasaan saat itu). Keluarlah para pemikir, politisi untuk membangkitkan Islam kembali. Ada yang mengatakan Islam seperti sekarang ini karena kita tidak bersatu, maka ukhuwah islamiyyah harus dikumandangkan (pan-islamisme, persatuan dst sebagai jargon-jargonnya). Ada yang mengatakan kita mesti kembali kepada Islam yang benar, kita seperti sekarang ini karena kita meninggalkan agama-agama kita. Barat maju karena mereka meninggalkan agamanya sedangkan kita (islam) katanya mundur karena kita meninggalkan agama kita. Sebuah pemikiran yang paradok dan berfikir hitam putih….agama mereka salah total agama kita benar total. Sedangkan kelompok lain menganjurkan kita mesti meniru barat, sehingga kita menjadi maju. Kita harus menjadi manusia-manusia barat dengan seluruh atributnya (dan terpenting pola pikirnya). Apakah pola pikir mereka salah, apakah agama mereka salah (padahal dulunya mampu menghasilkan peradaban dan kemajuan seperti itu?). Lalu timbul pemikiran lain bahwa kita seperti ini, karena faktor eksternal yaitu barat yang menghalangi kita, mereka mengusahakan bahkan mengganggu kita agar kita tidak mampu maju seperti mereka.

Lalu mana yang benar dari mereka itu? Tidak jelas dan mungkin benar semua, permasalahannya adalah mungkinkah mereka sadar bahwa ketiga cara diatas (ukhuwah, mencari Islam yang Islam dan mengadopsi kemajuan barat yang proposional) adalah sama benarnya hanya skala prioritas yang harus ‘strategis’. Tetapi siapakah yang menentukan kombinasinya itu? Inilah yang menjadi masalah saat ini dan terkadang menjadikan konflik tersendiri dan baru antar ummat.

Keluarlah disini konsep-konsep untuk menawarkan kombinasi yang pas dalam penyelesaian itu seperti Islam tradisionalis revivalisme (dengan semboyan kembali ke salaf), Islam modernisme, Islam Neo-modernisme, Islam tradisi, Islam liberal, Islam alternatif, Islam kiri, Islam post tradisionalis, dst…dst. semua memberikan tawaran komposisi porsi yang seharusnya dilakukan dalam kombinasi tiga hal itu (ukhwah, mencari islam yang Islam dan meniru progresitivitas barat).

Wallahu al a’lam….la haula wala quwwata illa billa….semua nanti akan mendapat jawabannya disana….disini hanya tempat untuk berusaha dan memaksimalkan potensi dan upaya.

Muhammad Alwi, Peminat Studi Pendidikan, Agama dan Filsafat. S3 di Manajemen Pendidikan, Universitas Negeri Malang.

 

 [1] Ahmad Hassan, 1984, terj Pintu Ijtihad Sebelum Tertutup, Jakarta, Pustaka.

[2] Sebenarnya tidak ada penutupan pintu Ijtihad. Tetapi Imam Syafii dengan batasan yang super-ketat, seakan ijtihad itu tidak mungkin diterobos. Disinilah sebenarnya awal adanya ucapan/jargon penutupan pintu ijtihad. Tujuannya sangat baik. Sebab kekuasaan, kerajaan yang sangan tidak islami dan mempermainkan hukum/syariah demi nafsunya, legitimasi kukuasaannya dll akan sangat membahayakan kehidupan beragama. Itulah maka tokoh-tokoh independen berusaha membendung kecerobohan yang sangat larut tersebut.

Iklan

Tentang pendidikan positif

Kami adalah Pendidik, Guru, Dosen dan Trainer. Alumni Pasca Sarjana Univ Brawijaya Malang, sekarang studi lanjut di Department Psychology. Kami mengembangkan Seminar, Workshop, dan berbagai Test berbasiskan psikology. Mulai dari 1. Workshop berbasiskan Multiple Intelligence, Topografi Otak, Power Personality, Performance Barrier, Succes with Understanding Personality, Otak Kanan- Otak Kiri, bagaimana mengetahui dan memanfaatkannya untuk sukses dll. Semua itu untuk pengembnagan SDM dan Human Capital. Baik untuk Guru, anak-anak (TK, SD, SMP, SMA, PT), juga untuk karyawan Industri dan Perusahaan. 2. Test test yang mendukung workshop dan seminar diatas seperti; a) Test Multiple Intelligence, b) Test Personality, c) Test Performance Barrier dll. Konsep Kami adalah......Discovering Your Royal road to learning, achievable and Personal Satisfaction. Bagaimana caranya? Caranya dengan discovering your talent, your ability (dengan pemahaman, test), the right place....maka sukses dan bahagia akan mudah didapatkan. Positif Pendidikan adalah Pendidikan yang berusahan menjadikan pebelajar (siapapun yang belajar), akan mampu untuk meraih tidak hanya sukses (achievable) tapi juga bahagia (will-being). Success and Happy.
Pos ini dipublikasikan di Filsafat dan Agama. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s