Meraih Kebagaiaan (Bagian 3)

Sukses tidak sama dengan kebahagiaan. Tetapi kesalahannya orang sering untuk mengejar sukses, mereka mengorbankan segalanya termasuk syarat-syarat kebahagiaannya seperti hubungan yang baik dengan keluarga, tidak ketakutan dengan kesuksesannya dll. Betapa banyak orang sukses yang akhirnya stress karena kebingungan dengan aturan main kesuksesan itu, dan trik-trik mempertahankannya, juga hancurnya orang-orang yang paling berharga buat mereka karena keluarganya berantakan, dst.

Sukses berasal dari bahasa Latin successus, dari bentuk past participlesuccedere”, yang artinya; mengikuti dari dekat atau menyususl, atau datang sesudahnya. Sukses adalah suau yang datang sesudah kita melakukan tindakan tertentu. The Amirican Heritage Dictionary of English Language menyebutkan sukses dengan; 1) Mencapai sesuatu yang diinginkan, direncanakan, atau diusahakan. 2) a. Memperoleh kemashuran atau kemakmuran ”sukses dihitung paling manis oleh orang yang tidak pernah sukses” (Emily Dickinson). b. Tingkat perolehan tersebut. 3) orang yang sukses. 4) (kuno) hasil atau akibat. Berkaitan dengan hasil usaha atau akibat usaha untuk meraih yang diinginkan.

Bila orang sudah berhasil memenuhi keinginannya, ia merasa bahagia. Karena “bahagia” adalah memperoleh yang kita inginkan, maka dengan mudah kita menyamakan sukses dengan kebahagiaan. Sehingga ada kata-kata; jika kita ingin bahagia, kita harus sukses. Untuk mencapai sukses, kita harus berjuang keras. No gain without pain. Karena itu, ironisnya, sukses lebih dekat dengan pergulatan daripada kenikmatan. Lebih berkaitan dengan striving ketimbang thriving. Disinilah kesalahannya, sehingga banyak sukses yang toxic, bukan membawa kebahagiaan.

Ada 15 test yang dibuat dalam karya Dr. Pearsall untuk mengetahui success toxic. 1) self sightedness, berpusat pada diri. Tidak banyak peduli pada kebutuhan orang lain. Tenggelam dengan pekerjaannya atau aktivitas yang dikejarnya. 2) stress surrender, menyerah pada stress. Ia bergerak sesuai dengan system untuk mempertahankan irama demi meraih suksesnya. Kurang atau hampir tak ada berfikir reflektif untuk total kehidupan kecuali sukses. Ini banyak pada pegawai-pegawai, pebisnis yang sangat sibuk. Sehingga dibuatkan alat-alat yang mempermudah semuanya (makan tak sempat kecuali sereal, alasan diet dan hemat waktu), mendengar berita lewat radio program, mengendarai mobil dengan membaca buku lewat tape dst. 3) ups and down, naik turunnya perasaan. Kadang menggebu-ngebu kadang teller seperti tak ada tenaga. 4) Chronic cynicism, sinis kronik. Senang mengeritik dan tak ada yang betul buat dia. 5) grouchiness, kerjanya sungut-sungut, menggrutu. 6) feeling pestered, merasa terganggu atau mudah tersinggung. 7) polyphasia, multitasking, mengerjakan banyak tugas pada waktu yang sama. 8) psychological absenteeism, berfikir banyak apa-apa yang belum dikerjakan 9) weariness, kelelahan tanpa henti, pola tidur yang terganggu, dan mengantuk ketika sedang duduk. 10) chrono-Currency, memandang waktu sebagai uang dan setiap waktu yang tidak menghasilkan uang dianggap penghamburan. 11) relationship-exploitation, mengabaikan, tidak menghiraukan, melecehkan hubungan kita yang paling intim dengan sekedar menggunakannya untuk perlindungan stress, sebagai teknik mengurangi stress. 12) spiritual deficit disorder (SDD), perasaan kekosongan rohaniah dan kehilangan makna, yang sering kali diikuti dengan saat-saat kerinduan spiritual dan keinginan untuk mempertanyakan “makna semuanya”. 13) inhabited power motive (IPM), keinginan yang tinggi untuk berkukasa, frustasi karena tidak cukup kuasa dan kendali, serta menurunnya tingkat kesadaran dan pengabaian akan kebutuhan kasih sayang. 14) self health and help, perhatian pada olah raga, diet seminar-seminar untuk perbaikan diri yang instant.          15) succes sickness, sejumlah penyakit peradaban modern (asma, infeksi lambung, sampai kanker).

Supaya sukses tidak toxic kata Pearsall kita perlu 3C yaitu: 1) Contentment, Calm, Connectioan atau  3K (kepuasan, ketenangan, ketersambungan). Kepuasan artinya perasaan cukup dengan apa yang sudah kita peroleh. Kepuasan kata david Myes penulis buku The Pursuit of Happiness, “bukanlah memperoleh yang kamu inginkan tetapi menginginkan apa yang kamu peroleh”.[1] Dan ini memerlukan latihan dan pembiasaan. Hadist Nabi; “Hendaklah kamu puas dengan apa yang telah Allah bagikan untuk kamu, kamu akan menjadi manusia yang paling kaya”. Pergilah kerumah sakit saat anda sehat anda sehat, sebagai latihan bersyukur. 2) Ketenangan, yang berarti memperlambat tempo hidup. Tenang, sabar, bukan menjadi orang yang tak sabaran. 3) ketersambungan, dengan kesabaran, ketenangan kita akan memperoleh ketersambungan dengan sesame dan yang maha kuasa. Khalil Khawari, dalam Spiritual Intelegence; A Practical Guide to Personal happiness, memberikan resep LOVE yaitu L (Listen), belajar mendengar orang lain, O (observe), mengamati isyarat-isyarat tersembunyi, yang tersurat maupun yang tersitar. V (value), hargai perasaan orang lain, kekecewaannya dan kepedihannya, E (empathize), tajam kepekaan kita pada orang lain.

Orang banyak tau bahwa kebahagiaan bukan kekayaan, tetapi banyak hal baik yang harus kita miliki supaya kita bahagia. Tidak kaya belum tentu tidak bahagia, dan kaya tidak mesti bahagia. Kaya adalah salah satu komponen kebahagiaan. Tetapi banyak orang salah, mereka mengejar satu komponen itu, melupakan yang lain, bahkan kebahagiaan itu sendiri. Ini terbukti dengan success yang toxic diatas.

Pertanyaan yang bisa diajukan, apakah kebahagiaan meningkat seiring dengan kenaikan kekayaan? Kita bisa melihat dalam Negara AS, david Myesr menceritakan dalam buku, The Amirican Paradox: Spiritual Hunger in an Age of Plenty, Paradox Amerika. Disini menunjukkan makin banyak uang Negara itu makin menderita. Ed Diener, psikolog di universitas of Illinois, meneliti 100 orang AS terkaya yang dicatat dalam Forbes, mereka hanya sedikit lebih bahagia dari rata-rata. Bahkan sebagian besar menemukan uang telah membuatnya menderita. Kita dengan mudah menemukan milyarder yang hidupnya kacau balau; Howard Hughes, Christina Onassis, J.Paul Getty. Warren Buffet melaporkan penelitian terhadap orang-orang kaya dan hasilnya konsisten dengan Ed Diener. Tambahkan contoh-contoh disini; Elvis Priesley, Marilyn Monroe dll.

Robert E.Lane dan Myers dalam The loss of Happiness in market Democracies, menunjukkan penurunan kebahagiaan pada Negara-negara kaya dengan naiknya tingkat depresi.[2] Ada beberapa factor-faktor penting yang mempengaruhi kebahagiaan yaitu; kepuasan akan perkawinan, pekerjaan, uang dan tempat tinggal juga saling curiga, anomi dan pesimisme.

Mengapa pertambahan pendapatan tidak menambah kebahagiaan? Beberapa ilmuan menjelaskan; 1) ketika mereka memperoleh tambahan kekayaan, mereka juga menaikkan ekspektasi (harapan). Ketika penghasilan 2 juta, hanya ingin kredit sepeda motor. Gaji naik 5 juta, sudah ingin kredit mobil atau nyicil beli rumah dst. Juga ada teori yang namanya revolution of risisng demand, revolusi tuntutan yang semakin meningkat, sewaktu pembangunan suatu negara. Awalnya hanya ingin kenaikan pendapatan, lalu ingin tunjangan pendidikan, kesehatan, lalu menuntut kebebasan berpendapat dst. Saat pemerintah tidak mampu memenuhinya terjadi kekecewaan dan kerusuhan-kerusuhan social dst. 2) hedonic treadmil, ini dapat diterangkan dengan hukum laws of diminishing return. Kenaikan pendapatan akan memuaskan pada awalnya, setelah naik lagi, kepuasannya tak seperti awal, naik juga seperti itu. Sebab dia butuh yang lain selain pendapatan itu. Akhirnya kenaiakan pendapatan tidak sama sekali diinginkan, karena tidak membawa kepuasan buatnya. Ia lebih mencari kepuasan kerja, ketenangan dll. 3) pandangan hidup yang materialis. Ini terjadi bila orang hanya meletakkan pemilikan kekayaan sebagai tujuan hidup, maka akan membuatnya selalu tak puas. Manusia yang paling bahagia adalah orang yang meninggalkan kelezatan yang sementara untuk kelezatan yang abadi (ali bin abi Thalib Kw)

Banyak orang kaya yang senang bahwa dia memiliki, walau ia tidak menikmatinya sama sekali. Punya membuatnya ia senang seperti anak kecil (yang senang dengan banyak mainan). Ini bisa kita lihat, banyak orang-orang yang punya rumah mewah, villa, padahal itu tak ia tempati, hanya pembantunya yang ada disana. Ia sendiri mungkin satu tahun, sekali atau dua kali menikmatinya. Punya mobil mewah selusin dll. Mengapa tidak sewa saja bila mereka perlu. Kata Eric Fromm, orang seperti itu kesenangannya masih having (memiliki) bukan being (mengada).

Orang bahagia pasti senang tetapi tidak semua yang senang pasti bahagia. Apa yang membedakannya. “kesenangan” kata Norman E. Rosenthal dalam The Emotional Revolution, adalah pengalaman sekilas, yang berkaitan dengan ganjaran tertentu. Kebahagiaan adalah keadaan yang berlangsung lebih lama, yang berhubungan dengan penilaian pada kehidupan secara keseluruhan. Orang bahagia mengalami kesenangan dalam kehidupannya sehari-hari. Dalam pada itu, kesenangan tidak membawa kepada kebahagiaan bila tidak sejalan dengan atau bertentangan dengan, tujuan seseorang”. (Rahmat hal 184).

Kesenangan adalah emosi positif yang bisa diamati secara fisik pada kegiatan otak, arus neurotransmitter, atau mekanisme hormonal. Dengan merangsang dengan elektroda pada hipotalamus (bagian otak) kita, dimana dibagian tertentunya ada “pusat kesenangan” (pleasure center). Rangsangan ini akan merangsang keluarnya Dopamin[3] dengan deras. Dan ini akan menimbulkan rasa senang atau enak. Kesenangan dapat ditimbulkan dengan rangsangan elektrik pada Hipotalamus, tetapi kebahagiaan tidak. Walaupun begitu, manusia memerlukan berbagai kesenangan untuk meraih kebahagiaan. Karena manusia diberi akal, ia harus memilih kesenangan mana yang akan membawa kebahagiaan, dan kesenanngan mana yang justru akan membuatnya tidak bahagia.

Bricman dan Campbell menyebut kesenangan yang tak pernah terpuaskan sebagai hedonic treadmill. Jika kita naikkan kesenagan itu kita merasa senang, tetapi setelah kita kita menyesuaian diri atau “bosan”. Dan kembali tidak senang lagi atau butuh peningkatan pasokan/naiknya kesenangan. Ukuran kesenangan makin lama makin tinggi, karena awalnya senang, penyesuaian/bosan, lalu butuh yang lain yang lebih tinggi, dan sterusnya..[4] akhirnya timbul kejenuhan.

Kejenuhan (Acedia) dari bahasa Yunani, yang artinya acuh tak acuh atau hilang perhatian. Ini ditandai dengan kelesuan, kemalasan, kelemahan, tidak menghiraukan pekerjaan dsb. Nico Frijda peneliti emosi dari Belanda berkata, “terus menerus kesenangan akan habis juga… kesenangan selalu tergantung pada perubahan dan lenyap setelah terus menerus dipuaskan.”  Situasi lenyapnya kenikmatan menimbulkan Acedia. Yang paling berat, setelah pemuasan kesenangan timbul kesedihan.

Kita bisa menyenangkan diri kita dengan konsumsi zat aditif keras, seperti cocaine. Cocaine membanjiri sel-sel otak dengan neurotransmitter yang membuat fly (atau menyenangkan). Tetapi otak akhirnya mengurangi pasokan neurotransmitter-nya sendiri. Ketika pengaruh obat itu hilang, kita akan mengalami depresi. Sehingga untuk menyenangkannya lagi (dengan tingkat pasokan neurotransmitter yang sama), kita butuh pasokan Cocaine yang lebih banyak lagi. Fenomena ini disebut drug tolerance. Makin banyak dosis yang kita konsumsi makin berat kepedihan kita setelahnya. Richard Solomon, peneliti psikologi dari Universitas of Pensylvania, menyebut gejala ini sebagai opponent process: emosi yang akan memicu emosi yang berlawanan. Maka gunakanlah akalmu untuk memilih kesenangan kesengan yang lebih abadi dan tidak banyak terpengaruh oleh perubahan. Maka..berbahagialah orang yang mengikuti ajarannya;

Manusia yang paling bahagia adalah orang yang meninggalkan kelezatan yang sementara untuk kelezatan yang abadi (ali bin abi Thalib Kw)

 

 

 

 


[1] Secara rumusan; kepuasan adalah perbandingan antara keinginan dengan hasil, bila sama atau mendekati maka kita cenderung puas, bila melebihi maka sangat puas, bila kurang kita akan kurang puas atau tak puas. Sebagai contoh bila kita menginginkan, berprediksi untuk keuntungan 1 juta, ternyata kita untung 1,5 juta, kita sangat puas. Tetapi bila kita menginginkan atau memprediksi keuntungan 5 juta, ternyata hanya 2,5 juta, maka kita kurang atau tidak puas. Kita bisa lihat bukan masalah angka nominal yang kita dapat untuk masalah kepuasan, tetapi lebih berhubungan dengan “hope”, harapan yang kita hayalkan, inginkan atau prediksi. Inilah mungkin dalam Islam masalah ‘sabar”, “tinggi keinginan”, dan “sering lihat kebawah dalam masalah material atau jasmaniah”. (MA = Penulis)

[2] ini sangat mudah dicontohkan; orang akan puas dengan gaji/pendapatan 2 juta, bila ia tinggal didesa yang rata-rata orangnya masih banyak yang memakai sepeda, sebagian menggunakan motor dan jarang yang punya mobil. Dengan gaji ditingkatkan 2 kali, tetapi dia tinggal di kota Jakarta, maka akan kelihatan sangat miskin. Punya rumah dengan harga 200 atau 400 juta, sudah tampak mewah dan mungkin puas di kota atau pinggiran kota Malang, tetapi rumah itu akan tampak sederhana dan rendah bila sebelah sebelahnya rumahnya harganya 1 atau 2 milyar, seperti di jalan Ijen Malang (kawasan elit kota malang), dst.

[3] Zat kimia yang dikeluarkan neuron untuk menimbulkan rasa senang atau enak.

[4]  Contoh yang menarik bisa kita lihat di permainan “game”. Waktu pertama kita sangat senang level satu, setelah bisa dan faham, sudah tidak menyenangkan lagi dan butuh level lebih menarik dan menantang (level dua), asyik, tetapi setelah faham dan bisa. Sudah tidak menarik lagi dst. Akhirnya “game” itu tak menarik lagi buat kita dan kita ingin pindah bentuk “game” yang lain yang belum pernah kita bisa atau kuasai. Kembali dari awal lagi dst.

Tentang pendidikan positif

Kami adalah Pendidik, Guru, Dosen dan Trainer. Alumni Pasca Sarjana Univ Brawijaya Malang, sekarang studi lanjut di Department Psychology. Kami mengembangkan Seminar, Workshop, dan berbagai Test berbasiskan psikology. Mulai dari 1. Workshop berbasiskan Multiple Intelligence, Topografi Otak, Power Personality, Performance Barrier, Succes with Understanding Personality, Otak Kanan- Otak Kiri, bagaimana mengetahui dan memanfaatkannya untuk sukses dll. Semua itu untuk pengembnagan SDM dan Human Capital. Baik untuk Guru, anak-anak (TK, SD, SMP, SMA, PT), juga untuk karyawan Industri dan Perusahaan. 2. Test test yang mendukung workshop dan seminar diatas seperti; a) Test Multiple Intelligence, b) Test Personality, c) Test Performance Barrier dll. Konsep Kami adalah......Discovering Your Royal road to learning, achievable and Personal Satisfaction. Bagaimana caranya? Caranya dengan discovering your talent, your ability (dengan pemahaman, test), the right place....maka sukses dan bahagia akan mudah didapatkan. Positif Pendidikan adalah Pendidikan yang berusahan menjadikan pebelajar (siapapun yang belajar), akan mampu untuk meraih tidak hanya sukses (achievable) tapi juga bahagia (will-being). Success and Happy.
Pos ini dipublikasikan di Psikologi dan Pendidikan. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s