Man’s Search for Meaning (2-Habis)

Mencari makna hidup

Upaya manusia untuk mencari makna hidup merupakan motivator utama dalam hidup bukan “rasionalisasi skunder” yang muncul karena dorongan naluriah. Makna hidup ini merupakan suatu yang unik dan khusus, artinya dia hanya bisa dipenuhi oleh yang bersangkutan; hanya dengan cara itulah dia bisa memiliki arti yang bisa memuaskan keinginan orang tersebut untuk mencari makna hidupnya.

Beberapa penulis berpendapat bahwa makna-makna dan nilai-nilai hidup tersebut tidak lain dari mekanisme pertahanan diri, formasi reaksi (reaction formation) dan sublimasi. Kata Frankl manusia bisa hidup bahkan mati demi meraih impian dan nilai-nilai hidupnya.[3]

Frustasi Eksistensial[4]

Keinginan manusia untuk mencari makna hidup bisa saja dihambat: dalam logoterapi hambatan seperti ini dinamai “frustrasi eksistensial”. Kata eksistensial dalam hal ini memiliki tiga arti, yaitu: (1) keberadaan manusia itu sendiri, atau, cara khusus manusia dalam menjalani hidupnya; (2) makna bidup; dan (3) perjuangan manusia untuk menemukan makna yang konkrit di dalam hidupnya, dengan kata lain, keinginan seseorang untuk mencari makna hidup.

Frustrasi eksistensial bisa memicu neurosis. Logoterapi memiliki istilah khusus untuk menamam penyakit neurosis yang disebabkan oleh frustrasi eksistensial, yaitu “noögenic neuroses” (neurosis noogenik) untuk membedakannya dari neurosis yang dikenal selama ini yaitu “psychogenic neuroses” (neurosis psikogenik). Neurosis noogenik tidak diakibatkan oleb dimensi kehidupan manusia yang bersifat psikologis, melainkan dimensi “noologis” (dan kata Yuimani noos, yang berarti pikiran) dalam eksistensi atau keberadaan manusia. Neurosis noogenik adalah istilah logoterapi untuk menggaris bawahi sesuatu yang secara khusus terkait dengan dimensi humanis atau manusiawi seorang manusia.

Neurosis Noogenik

Neurosis noogenik tidak muncul akibat konflik antara dorongan dari naluri manusia, tetapi muncul karena masalah-masalah kehidupan. Salah satunya dan yang berperan cukup besar, adalab terganggunya keinginan manusia untuk mencari makna hidup. Jelas, bahwa di dalam kasus-kasus neurosis noogcnik, metode terapi yang tepat dan memadai bukan metode psikoterapi yang umum, melainkan logoterapi; artinya, terapi yang berani menyentuh dimensi manusiawi.

Frankl menolak tegas, bahwa upaya sesorang untuk mencari makna hidup, bahkan keraguan seseorang terhadap makna hidupnya dianggap penyakit. Frustasi eksistensial bukan penyakit. Frankl memberi contoh seorang pilot tinggi AS yang mengalami itu dan awalnya didiagnosa oleh psikoanalis.[5]  Contoh menarik adalah kihidupan Marlyn Monroe, dan para artis dan tokoh terkenal lainnya. Yang membedakan logoterapi dengan metode psikoanalisis adalah logoterapi menganggap manusia makhluk yang tujuan hidupnya adalah menemukan makna hidup. Dia tidak sekadar menikmati dan memuaskan keinginan dan nalurinya, atau mendamaikan konflik id, ego dan super ego. Atau sekadar beradaptasi dan menyesuaiakan diri dengan masayarakat.

Noodinamik

Tidak ada sesuatupun didunia ini yang lebih efektif membantu seorang bertahan hidup bahkan dalam kondisi terburukpun selain, kesadaran bahwa hidup memiliki makna. Ada kearifan dari kata-kata Nietzsche; He who has a why to live for can bear almost any how. “dia yang memiliki mengapa untuk hidup, akan bisa menghadapi hampir semua bagaimana”. Yang dibutuhkan manusia bukan kondisi homeostasis, tetapi suatu yang dinamakan “Noodinamik” yaitu dinamika eksistensial atau kehidupan yang terletak antara dua kutub medan ketegangan; kutub pertama mewakili makna yang harus dipenuhi manusia sedangkan yang lain mewakili orang yang harus memenuhi makna tersebut. Ini tidak hanya berlaku pada kondisi normal, kondisi neurosis sekalipun membutuhkan. Frankl memberikan analogi Arsitektur; para arsitek kalau mau membuat sebuah bangaun tua menjadi kuat, maka akan memberikan beban diatas bangunan itu. Dengan beban itulah bagian-bagian bangunan akan terikat secara lebih kuat. Jika para terapis ingin memperkuat mental pasien mereka, mereka tidak boleh ragu-ragu untuk menciptakan sejumlah ketegangan yang logis dengan mengajak si pasien untuk meninjau kembali makna hidupnya. [Bedakan dengan tahap-tahap Kepercayaan dan Moral, Fowler dan Erikson]

Dalam dunia modern manusia banyak kehilangan makna, karena beberapa tradisi yang menopang prilakunya dengan cepat menghilang. Tidak ada lagi naluri yang mengatakan apa yang harus dia lakukan, tidak ada tradisi yang mengatakan apa yang harus diperbuat; kadang-kadang bahkan sering, dia bahkan tidak tahu apa yang ingin dia lakukan. Sebaliknya dia ingin melakukan apa yang dilakukan oleh orang lain (konformisme) atau dia melakukan apapun yang diinginkan oleh orang lain dari dirinya (totalitarianisme). Otomatsasi, High Tech- High Touch kata Naisbitt, selalu berganti gantinya mode, model dll. Lihat Hand phone, laptop dst.

Banyak kompensasi yang dilakukan karena hilangnya pencarian makna (kehampaan eksistensial yang terselubung) misalnya dengan selalu mencari kekayaan, menyibukkan diri seperti robot, berkeinginan berkuasa, hanya bersenang-senang, seksualitas dan lain-lain. Disinilah mereka mengalami kehampaan eksistensial. Mereka mestinya memperlambat tempo, refleksi diri dan mundur sejenak untuk bertanya mengapa….saya harus…ini dan itu.

Makna Hidup

Frankl cukup baik memberikan sebuah contoh; “coba katakana, apa langkah catur yang paling baik didunia?” tentu saja tidak ada langkah yang terbaik, bahkan tidak ada langkah yang baik tanpa memperhitungkan situasi permainan dan kepribadian dari lawan main kita” [6]ini serupa dengan kehidupan kita. Karena setiap situasi hidup memunculkan tantangan sekaligus membawa permasalahan yang harus diatasi setiap manusia, maka pertanyaan makna hidup bisa saja dibalik. Artinya, manusia seharusnya tidak bertanya tentang makna hidupnya, melainkan sadar dialah yang ditanyai. Dengan kata lain, manusialah yang akan ditanyai hidup; dan jawaban yang bisa diberikan hanyalah dengan tanggung jawab terhadap hidupnya; kenapa hidup dia?  Hanya bisa dijawab dengan bertanggung jawab. Karena itu logoterapi menganggap sikap bertanggung jawab sebagai essensi dasar kehidupan manusia.

Doktri logoterapi yang menarik; “Hiduplah seakan-akan anda sedang menjalani hidup untuk keduakalinya dan, hiduplah seakan-akan anda sedang bersiap-siap untuk melakukan tindakan yang salah untuk pertama kalinya”.[7] Ini memiliki arti; manusia diajak untuk membayangkan bahwa masa sekarang adalah masa lalu, dan bahwa masa lalu masih bisa diubah dan diperbaiki. Ajaran ini menghadapkan manusia pada keterbatasan hidup, sekaligus memutuskan tentang tindakan yang diambil terhadap hidup dan diri sendiri.

Dengan menyatakan bahwa manusia bentanggung jawab dan harus mewujudkan berbagai potensi makna hidup, Frankl menekankan bahwa makna hidup yang sebenarnya harus ditemukan di dalam dunia dan bukan di dalam batin atau jiwa orang tersebut. Bisa diistilahkan dengan“transendensi diri dalam keberadaan manusia” (the self-transcedence of human existence).  Manusia selalu menuju dan dituntun kepada sesuatu atau seseorang di luar dirinya sendiri—bisa dalam bentuk makna yang harus ditemukan, atau manusia lain yang akan dia jumpai. Semakin besar kemampuan orang tersebut untuk melupakan dirinya—dengan berserah diri dan mengabdi pada sebuah tujuan atau dengan mencintai orang lain—semakin manusiawi orang tersebut, dan semakin besar dia mengaktualisasikan atau mewujudkan dirinya. Yang dimaksud dengan aktualisasi diri sama sekali bukan sasaran yang harus diraih; alasannya sangat sederhana, semakin besar upaya seseorang untuk meraih sasaran, semakin besar kesulitan untuk meraihnya. Dengan kata lain perwujudan diri hanya bisa diperoleh sebagai efek samping dari upaya diri untuk memahami makna kehidupan.

Menurut logoterapi ada 3 cara yang bisa ditempuh manusia untuk menemukan makna hidup; 1) Melalui pekerjaan atau perbuatan [Melalui keberhasilan dan sukses].

2) Dengan mengalami sesuatu atau melalui seseorang; ini dilakukan dengan cinta. Sebab tak ada orang yang bisa sepenuhnya menyadari esensi manusia lain tanpa cinta. Dengan cinta kita tahu kelebihan, kekurangan, bahkan merupaya mewujudkan atau menunjukkan potensi yang seharusnya dicapai oleh orang tersebut dan kita siap untuk membantunya. dan 3) Melalui cara kita menyikapi penderitaan yang tak dapat dihindarkan. Dalam penderitaan setiap manusia menjadi saksi untuk potensi unik manusia. Dimana manusia ternyata bisa mengubah tragedy menjadi kemenangan, mengubah kemalangan menjadi keberhasilan. Saat kita tak bisa mengubah situasi (misalnya penyakit mematikan, kanker, HIV dan lain-lain) kita ditantang untuk mengubah sikap diri kita sendiri. Banyangkan contoh-contoh orang yang mengidap sakit parah Muhammad Ali (Parkinson’s bisa bermakna hidupnya), kehilangan kaki dan contoh menarik sebenarnya perlu dilihat dalam kejadian Tsunami di Aceh.

Contoh menarik diberikan oleh Frankl; “ada dokter yang dirundung kesedihan karena ditinggal mati istrinya, dia tak bisa melupakan kematian istrinya dan seterusnya”. Frankl tak mengobati orang itu kecuali bertanya; “katakan dokter, apa yang akan terjadi jika anda lebih dulu mati daripada istri anda”? “oh dia pasti akan sangat sedih; betapa menderitanya dia!”, “anda lihat dokter, almarhum istri anda terbebas dari penderitaan seperti itu, dan andalah yang membebaskannya dari penderitaan seperti itu, tetapi, anda harus membayarnya dengan tetap hidup dan berkabung untuknya.”

Inilah makna kata-kata; Penderitaan tidak lagi menjadi penderitaan ketika dia sudah menemukan maknanya, misalkan makna sebuah pengorbanan. Perhatian utama manusia bukan untuk mencari kesenangan atau menghindari kesedihan, tetapi menemukan makna dalam hidupnya. Itulah sebabnya manusia bahkan siap untuk menderita, dengan syarat dia yakin bahwa penderitaan itu memiliki makna.[8] Tetapi Frankl cepat-cepat mengatakan bahwa tidak berarti penderitaan selalu diperlukan dalam upaya manusia mencari makna. Sekarang pencarian makna dan kehilangan makna hidup orang tidak lagi datang kepada ulama, kiayi, habib, pastor, pendeta, atau rabi, sekarang mereka ke psikolog untuk terapi eksistensial.

Kehidupan yang tidak kekal

Hal yang sepertinya menghapus makna hidup manusia bukan hanya penderitaan, tetapi juga kematian.Saya tidak pernah lelah mengatakan bahwa satu-satunya aspek kehidupan yang tidak kekal adalah potensi-potensi kehidupan; tetapi begitu potensi-potensi kehidupan tersebut terwujud, saat itu juga mereka berubah menjadi kenyataan; mereka disimpan dan dikirimkan kemasa lalu, ditempat dimana mereka diselamatkan dan diawetkan dari ketidakkekalan. Karena, segala sesuatu yang sudah tersimpan dimasa lalu, pasti bisa dimunculkan kembali, dia tidak hilang, melainkan tersimpan untuk selama-lamanya. [9]

Dengan ketidak kekalan manusia, tidak berarti manusia tidak bermakna[10]. Ketidak kekalan harus disikapi dengan tanggung-jawan terhadap pilihan-pilihan untuk aktualisasi potensi yang mungkin. Setiap potensi yang mungkin itu adalah kenangan kita. Tidak bisa dihancurkan, dirusak oleh siapapun. Kita bisa mengatakan bahwa pernah saya mengalami ini, itu, dan itulah kehidupan yang paling nyata.

Hidup yang pesismis adalah yang melihat kalender hidup, merobeknya dengan rasa was-was, sedangkan hidup yang optimis adalah melihat kalender, merobeknya, membuat catatan-catan dibaliknnya, menata rapi kertas-kertas robekan itu. dia sadar ia akan terus menua dan mati. Ia tak iri dengan anak-anak muda yang penuh potensi dengan segala kemungkinannya. Katanya; “saya tak memiliki kemungkinan-kemungkinan tersebut, tetapi saya memiliki kenyataan dimasa lampau, bukan saja kenyataan berupa karya yang sudah selesai, atau cinta yang saya rasakan, tetapi juga penderitaan yang saya jalani dengan berani. Bahkan, penderitaan itulah yang paling saya banggakan, karenanya mereka tidak bisa menimbulkan rasa iri”…..dan mengapa harus menjadi ini bila kita percaya bahwa; “Semuanya Dialah yang membaginya, yang menentukannya, yang mengaturnya dan akan menilainya dengan Adil”. Bila kita iri, berarti kita merasa tidak mendapat jatah secara benar dan Adil. Apakah ini benar? Sebab siapa lagi yang lebih baik, lebih pasti dan lebih Adil dari NYA bila kita sudah tidak percaya dengan pembagiannya.

Wallahu a’lam bi al Shawab

Muhammad Alwi (Alumni Pasca Univ Brawijaya Malang, sekarang Studi lanjut di Psychology Department)


[1] Makna adalah pengenalan tempat-tempat segala sesuatu didalam suatu system. Pengenalan seperti itu terjadi jika relasi sesuatu yang lain dalam system tersebut menjadi terjelaskan atau terpahamkan [lihat, Syed Muhammad Naquib al-Alatas dalam, “Konsep Pendidikan dalam Islam: Suatu Rangka Pikir Pembinaan Filsafat Pendidikan Islam (Mizan, 1984]. Spinosa dalam bukunya “Ethics” mengatakan; “Affectus, qui passio est, desinit esse passio simulatque eius claram et distinctam formamus ideam.” Emosi yang sedang menderita, tidak akan lagi menderita setelah kita membuat gambaran yang jelas dan benar dari penderitaan tersebut.

Ini memang masuk akal; tetapi banyak orang yang meninggalkan “makna” kejelasan dalam system karena kenikmatan yang didapat (lihat saja orang yang korupsi awal-awal, terjebak dalam system), biasanya orang itu akan “merasa bersalah”, kemudian meningkat menjadi “rasionalisasi” tindakan walaupun rasionalisi bisa diartikan (upaya singkronisasi system), tetapi kadang system itu terpatah-patah tetap akan dibuat. Lihat saja upaya “tidak rasional argument” karena upaya rasionalisasi kesalahan.

Contoh lain; waktu orang menginginkan sesuatu misalnya cita-cita (ingin jadi dokter, ulama dan lain-lain), lalu gagal. Maka biasanya untuk pertahanan diri atau apa ia membuat “rasionalisasi’ sehingga tindakannya yang sekarang bisa masuk system makna. Misalnya toh dengan berdagang saya bisa kaya (pengganti dokter yang akan kaya), dan tetap bisa bermanfaat untuk umat dengan shodaqoh dan lain-lain (pengganti keinginan ulama).

Logoterapi berbagai kelompok mengatakan terlalu rasional (sangat menganggap manusia itu rasional) padahal kadang dan sering manusia hanya bertindak karena instink, kesenangan. Untuk para neurosis yang intelektual sangat memungkinkan dan tepat. Dicontohkan sendir oleh Frankl dan teman-teman ilmuwannya saat di kamp Nazi.

[3] Bagaiman bila “makna” itu dicangkokkan (diajarkan, brainwashing dll)  lalu terjadi “internalisasi nilai”. Banyak orang yang siap mati dengan “Bom Sahid” karena meyakini dengan sebenarnya tujuan perjuangannya, ada yang siap mati dengan “Bom bunuh diri” karena brain washing. Lepas dari dapat dipahami atau tidak tindaan seperti itu.

[4] Viktor E. Frankl, “Man’s search For Meaning”, 2004, hal 160-161.

[5] Contoh-contoh Frankl selalu mengarah kekelompok elit, mapan secara materi, punya rasional cukup (terpelajar, ilmuwan dan seterusnya). “sekan” pancarian makna itu adalah kelompok “golongan 5” dalam khirarki Maslow. Karena biasanya meraka itulah yang gampang “dapat” diajak diskusi mengenai pencarian-makna. Bila tekanannya karena tak-bisa menyekolahkan anak, ditekan oleh orang tua, istri, suami dan seterusnya, sulit dengan logoterapi. Ini terapi kelompok “golongan ke-5” menurut saya [Muhammad Alwi].

[6] Saya [Muhammad Alwi] anggap ini contoh indah untuk menggambarkan eksistensialisme. Kebebasan, keunikan, tanggung-jawab, resiko dan makna. Berdasarkan konfigurasi dari papan-papan, dimana letak-letak mentri, gajah, bidak dan lain-lain. Seluruh konfigurasi itu jalin-menjalin. Satu langkah berubah; maka semua kemungkinan berubah bahkan sampai akhir. Itulah kata “saat” dalam bebarapa filosof eksistensial.

[7] Bedakan dengan; “Hiduplah (bekerjalah) seakan-akan kamu akan hidup selamanya dan hiduplah (beribadahlah) kamu seakan-akan kamu besok akan meninggal dunia”.

[8] Ini memang lebih baik secara konseptual. Sebab kelompok utilitarian atau hedonisme bisa juga mengatakan; toh menemukan makna juga kebahagiaan. Jawabnya “Ya”. Tetapi siap mati, puasa tidak makan, jelas tak bisa diartikan; “mencari kesenangan”, sebab secara jelas itu penderitaan. Walau dengan penghayatan (mencari makna, bukan kesenangan), itu dilakukan oleh manusia. Mirip dengan kata-kata; manusia hidup mencari kebahagiaan..bahagia adalah summum bonum (kebahagiaan diinginkan untuk dirinya sendiri tidak untuk lainnya). Jadi mencari “makna”-pun tujuannya atau dapat dikatakan ingin bahagian, mencari kesenangan juga ingin bahagia. Mencari uang untuk dihormati-orang, dihormati orang untuk apa, agar bahagia. Bahagia untuk apa ya untuk bahagia. Tetapi rumusan ini akan sulit bila melihat kejadian yang jelas-jelas penderitaan (misalnya; Menangis pada acara Asyura kelompok Syi’ah apa itu bahagia? Puasa yang jelas-jelas menahan lapar apa itu bahagia? Dan lain-lain ). Inilah masalah-masalah “apa tujuan awal manusia berbuat atau bertingkah laku”. Lihat masalah kebahagiaan sebagai summum bonum dalam, Jalaluddin Rahmat, “Meraih Kebahagiaan:, Simbiosa, Rekatama Media, Bandung, 2004.

[9] Frankl, Op cit,. hal 188. Penjelasan [MA]; bila keputusan sudah diambil, maka potensi berubah jadi kenyataan. Dan kenyataan itu akan ada terus selama-lamanya baik urusan pertanggung-jawabannya (dalam agama), maupun tanggung-jawab hasilnya (manusia itu sendiri) dan tanggungjawab bahwa realitas itu menentukan langkah-langkah selanjutnya terus dan terus. Contoh permainan catur. Bila kita melangkah satu kali, maka akan merubah konfigurasi, kemungkinan-kemungkinan dan langkah-langkah kita selanjutnya dan it uterus sampai akhirnya selesailah permainan catur itu. Dalam ala mini tak ada batas kemungkinan kombinasi, dan akhir (sekalipun mati ada pertanggung jawaban hasil). Inilah kebenaran Iqbal waktu ia mengatakan kritiknya kepada Nietzsche tentang “kembalinya segala sesuatu”. Lihat ST. Sunardi, “Nietzsche”, LKIS, Yogyakarta, 1996, hal 151-176. Seakan Nietzsche mencontohkan kombinasi-kombinasi dan kemungkinan-kemungkinan itu bisa lengkap dan terulang lagi. Memang kalau contohnya catur bisa, sebab catur dibatsi oleh 64 kotak, 32 pemain. Kalau kita kombinasikan selengkap-lengkapnya akan ketemu. Mungkin 32! (!= factorial ) x 64 ! (factorial ). 32! = 32x31x30…..x1. Ini hanya menunjukkan mungkin kembali bila seperti itu, tetapi alam tidak. Inilah kata “saat”, “pilihan” yang sering diulang-ulang oleh filosof eksistensiali (jasper, Sartre dan lain-lain ), yang menghubungkan ketidakabadian dan keabadian.

[10] Ini konsekuensi yang harus terus-menerus diyakinkan, dibangun oleh “eksistensialis-bertuhan”, sebab bila tidak mau tidak mau konsekuensi melihat itu semua (penderitaan, kecemasan, kematian) adalah ketidakbermaknaan hidup = nihilisme = absurditas = harus menang, harus senang harus spektakuler disini dan sekarang. Itulah yang dialami negara-negara Eropa-AS sekarang.

Daftar Pustaka :

Tentang pendidikan positif

Kami adalah Pendidik, Guru, Dosen dan Trainer. Alumni Pasca Sarjana Univ Brawijaya Malang, sekarang studi lanjut di Department Psychology. Kami mengembangkan Seminar, Workshop, dan berbagai Test berbasiskan psikology. Mulai dari 1. Workshop berbasiskan Multiple Intelligence, Topografi Otak, Power Personality, Performance Barrier, Succes with Understanding Personality, Otak Kanan- Otak Kiri, bagaimana mengetahui dan memanfaatkannya untuk sukses dll. Semua itu untuk pengembnagan SDM dan Human Capital. Baik untuk Guru, anak-anak (TK, SD, SMP, SMA, PT), juga untuk karyawan Industri dan Perusahaan. 2. Test test yang mendukung workshop dan seminar diatas seperti; a) Test Multiple Intelligence, b) Test Personality, c) Test Performance Barrier dll. Konsep Kami adalah......Discovering Your Royal road to learning, achievable and Personal Satisfaction. Bagaimana caranya? Caranya dengan discovering your talent, your ability (dengan pemahaman, test), the right place....maka sukses dan bahagia akan mudah didapatkan. Positif Pendidikan adalah Pendidikan yang berusahan menjadikan pebelajar (siapapun yang belajar), akan mampu untuk meraih tidak hanya sukses (achievable) tapi juga bahagia (will-being). Success and Happy.
Pos ini dipublikasikan di Psikologi dan Pendidikan. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s