ANAK CERDAS BAHAGIA DI SEKOLAH YANG BAIK, DI SEKOLAH POSITIF

PSIKOLOGI SAKIT VS PSIKOLOGI SEHAT (PENDIDIKAN POSITIF) PENGALAMAN DI JEPANG DAN AUSTRALIA

Sekolah dan Pendidikan adalah Ilmu terapan. dimana kita semua tahu bahwa ilmu yang paling banyak mempengaruhi pendidikan dan sekolah adalah ilmu Psikologi. Banyak penemuan-penemuan dalam dunia psikologi yang diterapkan dalam dunia proses belajar-mengajar dan mendidik.

Cover buku Pendidikan Positif FinalPendidikan dan Sekolah Positif, diawali oleh seorang Martin Seligman –peneliti senior di University of Pennsylvania dan directur APA (Himpunan Psikolog Amerika). Sebagai seorang Psikolog konservatif (dia menyebut dirinya konservatif, karena semuanya penuh dengan eksperimentasi yang ketat). Dia bertanya dan mengatakan saat itu; Ilmu Psikologi saat ini adalah ilmu psikologi yang berkutat pada hal-hal sakit (menyembuhkan orang bermasalah) demikian juga kedokteran. Walaupun ilmu itu banyak kemajuan….tetapi kondisinya adalah menjadikan orang minus (kurang normal, kurang sehat) menjadi Netral (Sehat, Normal atau Nol).

Mengapa ilmu-ilmu itu tidak mengarah pada Psikologi-Sehat, dalam istilah Seligman adalah Psikologi Positif. Dimana dari kondisi NOL (Sehat, Normal) menjadi Positif (Plus, optimal). Pertanyaan dan diskusi akan hal ini sangat menarik, karena memang itulah realitanya?? Kita bisa melihat, Jarang orang sehat ke dokter atau psikolog agar dia lebih sehat (menjadi optimal). Rata-rata, hampir semua kita mendatangi dokter atau psikolog saat ingin disembuhkan (dari kondisi minus, sakit, kurang normal menjadi Sehat, Netral atau nol kembali).

Disinilah Dr. Seligman meneliti orang-orang Positif. Orang-orang yang sudah melampaui ke normalan-nya, kesehatannnya. Mereka adalah orang-orang yang “Optimum” (orang-orang yang mampu memaksimalkan potensinya). Dalam bahasanya Maslow orang-orang ini adalah orang-orang yang   Khirarki-Kebutuhan-nya, sudah mencapai tahap 5 (Katualisasi diri) dan 6 (Pengalaman Puncak, Peak Experience).  Sekadar contoh, orang-orang ini adalah, Einstein, Bill Gate, Khomeini, Bunda Theresa, Roosevelt, Abraham Lincoln, Soekarno, Habibie, Gandi, Dale Lama, dst..dst.

Orang-orang ini tidak sekedar pandai, cerdas, sukses dst. Tetapi mereka melampaui manusia-manusia umumnya. Pertanyaan yang diajukan Seligman adalah; Mengapa mereka bisa seperti itu??? Disinilah PSIKOLOGI POSITIF berjalan, melakukan riset, kajian dan mengarahkan pisau analisisnya.

Setelah dari sekian banyak riset, dari puluhan bahkan ratusan orang yang melakukan penelitian, lahirlah PSIKOLOGI POSITIF yang sekarang ini sudah menjadi mata-kuliah bahkan jurusan di sebagian universitas di Eropa.

Bukankah dalam Islam dikatakan bahwa tujuan Penciptaan manusia adalah untuk Kesempurnaan Manusia? Tidak sekadar menjadi manusia-manusia biasa??? Yaitu menjadi Khalifah dibumi dan mendedikasikan itu untuk mengabdi pada kesejahteraan dan kepentingan umum (Mengabdi kepada-Nya).

KARENA PENDIDIKAN ADALAH MENJADIKAN SISWA-SISWA NORMAL (Umum) menjadi OPTIMAL (MENCAPAI APA YANG DIHARAPKAN). Maka semestinya Sekolah dan Pendidikan, menggunakan PSIKOLOGI POSITIF, Psikologi sehat, sebagai akar pijakannnya, bukan menggunakan PSIKOLOGI SAKIT, Psikologi Minus. Artinya mentinya Pendidikan menjadi Pendidikan Positif.

Pendidikan Positif sudah dijalankan di AS, Eropa, Australia, Singapura dst…dst.  Bagaiamana dengan kita????? Bagaimana aplikasi-nya dilapangan???

SEKOLAH POSITIF

Sekolah yang babukuik adalah sekolah yang tidak hanya mengajarkan KECERDASAN, Kepintaran (tanpa mengabaikannya). Tetapi bagaimana sekolah itu mengajarkan mereka disamping KEPINTARAN. Disana diajarkan Rasa Syukur (Gratitude), Ketahan-Bantingan (Ressilience), Swot-analisis Diri (Tahu diri, kelebihan dan kelemahnnya, bakat-minat dan passion-nya. sehingga dengannya TIDAK timbul rasa sombong, pembohongan, ketidak jujuran dan rendah diri, minder, tidak percaya diri dst. akan tetapi menumbuhkan sikap RENDAH-HATI). Banyak pembicaraan seperti ini, tanpa riset cukup mendalam dan bagaimana implementasinya di sekolah bahkan diruang kelas.

Prof. Martin Seligman, Senior riset di University of Pennsylvania, diawali dengan dari riset ketat, “Learn Helplessness” (Ketidak berdayaan yang dipelajari), Penemu Positive Psychology, Mantan directur APA (American Psychological Association). Memberikan terobosan terbaru yang banyak menggantikan konsep-konsep sebelumnya. SEKOLAH dan PENDIDIKAN POSITIF, adalah sebuah wadah yang mengusahakan itu semua (Mengusahakan siswa tidak Hanya SUKSES, PINTAR, tetapi Juga BAHAGIA, punya rasa syukur, karakter, tahan-banting dst), dengan riset mendalam dan teruji.

CONTOH KASUS SEKOLAH POSITIF

Saat ini saya sedang menikmati buku Guru saya, Martin Seligman, “Flourish: Visionary New Understanding of Happiness and Well Being”. Sebuah buku yang mengasyikkan. Dalam buku itu dikatakan, Salah satu konsep bagaimana membuat kita Bahagia-Sejahtera adalah Engagement (Keterlibatan), Relationship (Hubungan Positif) disamping Meaning (Pencarian Makna) dan Accomplishment (Prestasi atau pencapaian).

Filsuf Sartre mengatakan, bahwa “Orang lain adalah Neraka”, dst….dst. Walaupun dia menerangkan makna itu dengan baik dan rasional, kita gampang sekali mengatakan bahwa itu tidaklah benar. Tanpa orang lain kita akan sulit mendefinisikan banyak hal, termasuk diri kita, khususnya dalam hubungannya “Meraih Kebahagaain, Well-Being). Dalam Sekolah, dalam pendidikan….pasti ada guru dan siswa…dan lain-lainnya.

Saat saya membaca buku itu dan membuka buku-buku lainnya, utamanya tulisan Sartre…….Saya membuka-buka internet, untuk mencari informasi lainnya. itu kebiasaan saya…..untuk menghubungkan buku yang saya baca saat ini (informasi saat ini) dengan hal-hal lain (sekadar asosiasi dan saling menghubungkan), sehingga mengikat makna.

Saya mendapat info ini dari FB seorang teman (Informasi itu sangat menarik…sehingga setelah minta izin copas saya kutip dengan berbagai tambahannnya).

“Seorang siswa di salah satu madrasah di Iran, telah terserang penyakit, hingga seluruh rambutnya rontok. Karena kejadian rambutnya itu, anak tersebut malu belajar di sekolah tesebut. Takut di ejek, merasa berbeda dst. Semenjak kejadian itu tidak terlihat lagi senyum diwajahnya.

Ada seorang guru yang tidak sekadar seorang guru….dia bukan hanya guru yang mengajarkan KEPINTARAN, bukan guru generasi 1 (memberi informasi…berkutat dengan lesson-plan dan strategi mengajar….tanpa mengabaikan itu), tetapi dia adalah guru yang sudah melewati tahapan-tahapan formal sebagai seorang guru. Ia guru generasi ke 3. https://pendidikanpositif.wordpress.com/2012/09/25/fungsionalitas-seorang-guru/

Untuk memberikan semangat dan mengembalikan senyum siswa tersebut maka sang guru memangkas habis rambutnya. Dan karena effek dan kualitas guru tersebut, keesokan harinya seluruh siswa kelas itu memangkas habis rambut mereka. Akhirnya senyumpun tampak lagi diwajah penyandang penyakit dan semangat hidup serta semangat belajarnya kini mengalami peningkatan.

Inilah makna….Sekolah Positif, Sekolah yang tidak hanya mengajarkan KEPINTARAN kepada siswa…..tetapi juga mengajarkan Happiness dan Well-Being. Dimana ada Engagement (Keterlibatan), Relationship disamping Accoplishment (Prestasi dan Pencapaian).

PENDIDIKAN POSITIF

Oleh-oleh dari Australia dan Jepang…..

Saya pernah bertemu dengan salah seorang wakil kepala sekolah sekolah international di Jakarta (Tapi bukan JIS, lho…he..he…). Dia mengatakan kepada saya, dengan logat campuran antara bahasa asing dengan bahasa Nasional (Walapun dia orang Indonesia). Beliau mengatakan; “Mengapa Negara ini tidak mengadopsi pendidikan-pendidikan barat? Utamanya untuk hal-hal yang berbau sain. Kan sain itu lintas budaya. Tidak ada Matematika atau Fisika Indonesia dst..dst. Sebab katanya; Dengan itu maka biaya, investasi, riset sendiri dst lebih membutuhkan waktu dan biaya yang sangat mahal serta rawan dengan kecurangan dan kecerobohan-kecerobohan lainnya.

AS, Eropa, Australia, Jepang dst, menginvestasikan lebih untuk riset dan lain-lainnya demi pendidikan anak bangsanya. Mengapa kita tidak mengadopnya (masalah-masalah yang standart umum??). Kita bisa plek-plekkan Australia, Jepang, Eropa atau kita bisa mencampurkan (mix) mereka. Usulan yang sangat menarik, menurut saya. Dan bebarapa tahun setelah itu (kira-kira 2-4 tahun), Indonesia ramai dengan SBI. Walaupaun karena kesalahan Implementasi, menyebabkan itu diputus dihentikan.

Disamping berbincang masalah itu, beliau mengatakan pada saya, Sekolah di negeri ini, terlalu banyak materi dan kurang kedalaman isi. Bahkan beliau sempat mengatakan; ‘Untuk masalah konten Sain, maka sepertinya lulusan sekolah keguruan, tidak mampu mengajar disekolah-sekolah itu’ (saya tidak terlalu memperdulikan hal itu, saat perbincangan tersebut). Sambil keliling-keling melihat-lihat hampir semua ruangan sekolah itu (di daerah Serpong), sebelum berhenti di ruang perpustakaan (yang dipenuhi buku-buku SD, SMP, SMA, standart sekolah international).

Mereka memiliki visi yang jelas, ketua sekolah itu mengatakan pada saya (kebetulan saya mengenalnya). Kami diamanati, dan menginginkan sekolah yang setara dengan Singapura dan LN lainnya. Tetapi itu ada di Indonesia. Sehingga secara keilmuan sama, tetapi akar budaya, pengawasan orang tua dll, tidak tercerabut. Seperti saat mereka harus menyekolahkan anak-anak mereka, SMP atau SMA di AS, Austaralia, Singapura, Inggris dst.

KASUS JEPANG dan AUSTRALIA

Sebelum membahas bagaimana Jepang hebat, maka kita mesti tahu bahwa Jepang memang sudah lama hebat. Tahun 1905 Jepang mengalahkan Rusia dalam Perang. Dan setelah Restorasi Meji Jepang memang mengalami peningkatan yang signifikan. Tetapi kita tidak ingin melihat sejarah Jepang, kita ingin sedikit mengurai, dengan kaca-mata “Positif”, Implementasi Pendidikan Dasar di Jepang dan Kemajuan Negara itu. Sebab kita tahu bahwa fondasi adalah hal yang sangat-sangat penting, maka Pendidikan Dasar adalah utama. Marilah Kita lihat praktek Pendidikan Jepang. (Saya tidak tahu apakah ini untuk seluruh Jepang atau hanya sebagian di daerah Jepang. Mudah-mudahan kita bisa mengambil sisi positifnya  untuk bisa kita usahakan sendiri).

# Di Jepang:

Untuk bersekolah di tingkat SD dan SMP, maka di Jepang, pendaftarannya di Kantor Balai Kota. Terus Balai Kota-lah yang akan menentukan, Si A harus sekolah di mana, dan Si-B harus sekolah dimana. Jadi tidak boleh dengan seenaknya milih sendiri. Penempatan sekolah dasar berdasarkan alamatnya.

# Nilai Positif-nya :

Dengan penempatan seperti ini, maka pemerataan sekolah akan sangat besar. Dan jebakan sekolah favorit akan sangat-sangat kecil bahkan tidak ada. Kita perlu ingat bahwa pilihan “Sekolah Favorite”, itu tidak cukup jelas. Lihat ini https://pendidikanpositif.wordpress.com/2012/09/25/tren-kemasan-dalam-pendidikan-antara-idealisme-dan-realita-proses/

Dengan seperti ini maka sekolah mahal, sekolah murah, sekolah negeri-swasta akan mendekati hilang atau hilang sama sekali. Pemerataan kualitas akan sangat-sangat dirasakan.

# Di Jepang: Anak yang bersekolah di tingkat SD dan SMP, wajib berjalan kaki (walapun orang tuanya kaya raya). Dan tetap saja tidak boleh diantar.

Nilai Positif-nya : Dengan berjalan kaki, maka sebenarnya anak-anak sedikit banyak melakukan olah-raga. Aktivitas tubuh terjaga (minimal). Dan jurang antara kaya-miskin, mobil-mobil berjajar di depan sekolah akan sangat berkurang. Disamping itu berhubungan dengan kemacetan.

# Di Jepang: Siswa berjalan ke sekolah dalam grup-grup yang sudah ditentukan. Mereka berangkat memakai topi kuning dan harus bersama sama dalam grup nya masing masing. Jika ada yang tidak masuk, ketua grup diwajibkan melapor ke sekolah.

# Nilai Positif-nya : Dengan melakukan ini, maka pembelajaran team-work, pembelajaran kepemimpinan dan tengga-rasa akan sangat terpupuk. Anak-anak yang sosialisasinya kurang (tipe Intrapersonal) tetap akan memiliki group dan tertopang oleh group. Dan team akan menjadi cukup kompak, sebab mereka dibiasakan belajar dalam team. Kooperatif learning berjalan alami, tidak sekadar belajar kelompok atau membuat kelompok dikelas saat belajar dan mengerjakan tugas (PR).

# Di Jepang:

Jam belajar anak-anak SD di Jepang, dimulai jam 08.00 sampai jam 16.00 sore. Dan yang lebih penting, Materi pelajaran-nya tidak banyak. Matematika, Bahasa Jepang, Seni, Olahraga, Life-skill.  Anak-anak sampai kelas 2, hanya diajar pipolondo alias perkalian, pembagian, penambahan dan pengurangan. Ini terus diulang ulang sampai faham.

# Nilai Positif-nya

Ilmu Matematika adalah Ilmu pemahaman, dan semua ilmu dalam matematika sebenarnya tidak keluar dari 4 hal yaitu, kalau tidak  + , – ,  x , : (Penjumlahan, pengurangan, Perkalian dan Pembagian). Artinya ke 4 komponen itu sebenarnya anak mesti memahami dengan baik. Dan pengalaman dikelas (kami adalah guru matematika). Anak-anak yang matematikanya lemah, kebanyak disebabkan saat sekolah dasar, ilmu dasarnya yaitu +, -, x dan : kurang memahami. Sehingga saat beranjak kemateri lainnya, dan ilmu ini adalah dasar semuanya. Mereka akan kesulitan.

Pelajaran Bahasa Jepang (Bahasa ibu), membaca dan menulis adalah sangat-sangat penting. Sebab ini adalah candela untuk masuk kemateri lainnya, kecuali materi matematika. Ilmu-ilmu sain, social dan humaniora, mengandalkan kemampuan membaca dan menulis. Bahasa asing memang semestinya diajarkan nanti bukan saat-saat dasar.

Olah raga sangat penting, bukan hanya olah raganya….tetapi kebugaran fisik. Fisik yang sehat anak menjadi ceria, tidak mudah sakit-sakitan dan membantu otak melaksanakan fungsinya dengan baik. Anak perlu diasah fisiknya (olah raga), tidak hanya diasah otaknya.

Mungkin banyak hal lain yang dilakukan di Jepang, tetapi itu bisa kita lakukan bisa tidak….dan mengndang diskusi yang berlebihan. Orang yang baik adalah orang yang mampu mengambil pengalaman orang lain…

 

Tambahan Pengalaman di Australia

Sekolah di Australia dibandingkan dengan di Indonesia yang mencolok adalah Jumlah mata pelajarannya dan buku-buku yang dibawa saat sekolah. Anak saya kalau di Indonesia membawa buku sangat berat, suatu saat saya membantu membawakan tasnya untuk  naik mobil. Saya berkata, “Kamu bawa apa saja, kok berat banget tas-mu”. Padahal saat itu anak saya masih duduk di kelas 3 SD. Bahkan di Australia, tiap 3 bulan ada libur sekitar 2 minggu. Karena beban-nya terlalu banyak, maka anak-anak di Indonesia gampang murung, tidak optimum dan terbebani.

Pernah ada seorang teman anaknya pindah sekolah di Australia. Dia sudah agak besar, saya berfikir dia mengalami kesulitan sekolah karena factor bahasa. Anak itu tidak mau sekolah lagi, karena malu ketinggalan sekolah. Inilah hebatnya menurut saya system disana. Orang tua anak itu dipanggil dan ditanyakan, mengapa anaknya tidak bersekolah (tidak mau sekolah). Orang tuanya mengatakan bahwa beberapa mata-pelajaran dia tidak mampu. Sang kepala sekolah mengatakan, Mana saja pelajaran yang tidak kamu minati, senangi. Kamu boleh tidak mengikuti pelajaran itu. Akhirnya anak itu mau bersekolah lagi.  Menarik ucapan Deddy Corbuzier tentang pendidikan (Walaupun kita boleh berbeda pendapat tentangnya). http://www.youtube.com/watch?v=oYmrRsvTIDo

Saya awalnya berfikir bahwa itu adalah kebijakan sang kepala sekolah saja. Ternyata tidak, itu include ada dalam system sekolah pemerintah sekolah di Australia.

SMA di Australia beda dengan di Indonesia. Dimana pelajaran-pelajaran kita yang jeblok atau tidak kita ikuti. Tidak menjadikan kita tidak naik dan terhalang masuk perguruan tinggi. Jika ada mata-pelajaran x yang tidak kita ikuti (atau jeblok nilainya), tetapi kita ingin masuk ke perguruan tinggi dengan juruan dimana pelajaran x sebagai mata-pelajaran prasyarat. Maka kita masih bisa meneruskan itu, dengan syarat kita mengambil mata-pelajaran itu di College. Untuk bahan masuk di jurusan tertentu universitas tersebut.

Dengan system-sistem ini lumrah kalau ada istilah. “Tidak ada anak tidak naik kelas,” dst..dst.  Ini berbeda dengan jargon-jargon aneh sebagian orang yang mengatakan, semestinya anak tidak boleh tinggal kelas, sementara system persekolahannya seperti di Indonesia.

Pengalaman pribadi saya saat SMA, disalah satu SMAN favorit didaerah saya. Ada sebuah mata pelajaran saat itu (muatan local atau ektrakulikuler) ‘Gambar Proyeksi’. Itu adalah pelajaran ‘Neraka’ buat saya. Sebab selalu ada tugas menggambar proyeksi dengan tinta tertentu, kertas tertentu, ketebalan tertentu dst..dst. Setiap minggu selama semester itu. Saya sangat sulit mengerjakannya, walaupun saya melungkan waktu minggu saya untuk mengerjakannya. Seharian di hari Minggu saya harus mengerjakannya dan hasilnya hanya maksimal cukup. Saya termasuk anak yang cukup pandai dikelas dengan ranking yang saya dapat. Hanya pelajaran ini yang membuat saya menderita. Saya tidak ingin menjadi arsitek, saya tidak suka menggambar. Dan setelah dewasa saya baru tahu, bahwa saya memang lemah di kecerdasan Visual-Spatial ala Gardner. Karier saya, sama sekali tidak banyak berhubungan dengan gambar, disain.

Di Indonesia, tidak ada istilah anak boleh ngambek tidak ikut mata-pelajaran tertentu (walaupun dia sukses dan baik dalam pelajaran-pelajaran lainnya). Bahkan yang sering anak tidak naik karena cekcok, tidak akomodatif dalam pelajaran-pelajaran tertentu dengan guru-guru tertentu.

Efek dari hal-hal ini adalah anak terbebani dengan hal-hal yang tidak ia sukai dan mengganggu kosentrasi, waktu, ke-enjoy-an, frustasi dll hal-hal yang semestinya dia tekuni, dalami. Inilah salah satu sebab anak-anak Indonesia kebanyakan adalah anak-anak dengan kemampuan “SEDANG”.

Muhammad Alwi. S.Psi,.MM

 

 

 

 

 

 

Tentang pendidikan positif

Kami adalah Pendidik, Guru, Dosen dan Trainer. Alumni Pasca Sarjana Univ Brawijaya Malang, sekarang studi lanjut di Department Psychology. Kami mengembangkan Seminar, Workshop, dan berbagai Test berbasiskan psikology. Mulai dari 1. Workshop berbasiskan Multiple Intelligence, Topografi Otak, Power Personality, Performance Barrier, Succes with Understanding Personality, Otak Kanan- Otak Kiri, bagaimana mengetahui dan memanfaatkannya untuk sukses dll. Semua itu untuk pengembnagan SDM dan Human Capital. Baik untuk Guru, anak-anak (TK, SD, SMP, SMA, PT), juga untuk karyawan Industri dan Perusahaan. 2. Test test yang mendukung workshop dan seminar diatas seperti; a) Test Multiple Intelligence, b) Test Personality, c) Test Performance Barrier dll. Konsep Kami adalah......Discovering Your Royal road to learning, achievable and Personal Satisfaction. Bagaimana caranya? Caranya dengan discovering your talent, your ability (dengan pemahaman, test), the right place....maka sukses dan bahagia akan mudah didapatkan. Positif Pendidikan adalah Pendidikan yang berusahan menjadikan pebelajar (siapapun yang belajar), akan mampu untuk meraih tidak hanya sukses (achievable) tapi juga bahagia (will-being). Success and Happy.
Pos ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s